Jumat, 10 Januari 2014

Filled Under:
,

Firaunnya Musa (3)

FIRAUN SEBAGAI DEWA UTAMA MESIR KUNO

Salah satu tema utama yang muncul dalam Al Qur'an dalam kisah Musa adalah Firaun mengklaim dirinya sebagai dewa utama. Apakah Ramesses II sesuai dengan deskripsi Firaun yang mengaku sebagai dewa utama Mesir? Mari kita selidiki.

Ketika Musa menghimbau Firaun untuk menyembah satu Tuhan yang sejati, himbauan ini ditolak. Sebaliknya Firaun mengumpulkan anak buahnya dan menyatakan bahwa ia adalah Tuhan mereka, yang paling tinggi.

Sudah sampaikah kepadamu kisah Musa? Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Thuwa. "Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas". dan katakanlah (kepada Fir'aun): "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)." Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?" Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir´aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata:"Akulah tuhanmu yang paling tinggi." [Qur'an 79:15-24]

Selanjutnya, ketika Musa memperlihatkan kepada Firaun tanda-tanda yang jelas, Firaun menolaknya dan mengatakan itu tanda-tanda "palsu" atau sihir. Firaun kemudian mengumpulkan para pembesarnya dan mengatakan bahwa ia tidak mengenal Tuhan bagi mereka kecuali dia.

Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku! ... [Qur'an 28:38]!

Pernyataan terakhir ini sehubungan dengan kemenangan Nabi Musa. Karena setting dari kisah Musa dan Firaun dalam Al-Qur'an adalah pada periode New Kingdom, maka marilah kita lihat bahwa salah satu ciri dalam periode ini adalah pendewaan Firaun dan bagaimana pendewaan tersebut mulai menjadi norma.

Pada awal New Kingdom, pendewaan raja hidup telah menjadi praktik yang mapan, dan raja hidup bisa dirinya disembah dan dimohon bantuannya sebagai dewa. [ D. P. Silverman,"Divinities And Deities In Ancient Egypt"]

Selama masa Ramses II, pendewaan Firaun mencapai puncaknya sebagaimana dibuktikan dalam berbagai patung kultus serta didukung oleh hieroglif-hieroglif dan papirus-papirus. Mari kita lihat tiga hieroglif dari zaman Ramses II (yang memiliki prenomen Usermaatre-setepenre dan Nomen Ramses meryamun).

Stela no. 410 dari museum Hildesheim menunjukkan dua orang, satu berdiri mengenakan mahkota ganda dengan uraeus, rok pendek, kalung dan memegang apa yang disebut sapu tangan atau segel di satu tangan [Gambar 5 (a)]. Ia disebut: "Raja Mesir Hulu dan Hilir, Tuhan Dua Wilayah 'Ramses-meryamun, Sang Tuhan".


  Gambar 5
Stela no. (a) 410, (b) 1079 dari Museum Hildesheim. (c) ini adalah inskripsi penting yang mengatakan "Ramses-meryamun, Sang Tuhan". inskripsi ini ditandai dalam kotak merah di kedua gambar stela (a) dan (b) diatas.

Pada stela no. 1079 (b)] dari museum Hildesheim seorang pria digambarkan mengenakan pakaian panjang diikat di pinggang, menawarkan dua bunga dengan tangan kanannya. Di depannya adalah meja sarat dengan berbagai macam persembahan. Di seberangnya ada dua patung, masing-masing mengenakan rok pendek, jenggot buatan dan mahkota Mesir Hulu, dengan uraeus di depan. Di atas dua patung adalah kata-kata: "Tuhan dari dua wilayah 'Usermaatre-setpenre' Monthu di dua wilayah" dan "Raja bermahkota 'Ramses-meryamun', Sang Tuhan".

Gambar 6
Relief di Kuil Agung Abu Simbel menunjukkan Ramses II memuja Ramses II 

Contoh terakhir kita tentang pendewaan Firaun di Mesir kuno berasal dari Kuil Agung di Abu Simbel [Gambar 6]. Sebuah relief menarik di kuil agung Abu Simbel menunjukkan "Tuhan dua daerah 'Usermare-setpenre'" (= Ramses II) menyembah "Ramses-meryamun" (= Ramses II). Jelas, Ramses II sedang menyembah Ramses II di sini. Namun, kita juga dapat melihat bahwa penyembah dan salah satu yang disembah memiliki dua nama yang berbeda dan nama-nama ini adalah pronomen Ramses II dan Nomen Ramses II. Dengan melihat lebih seksama pada ikonografi mengungkapkan bahwa penyembah dan yang disembah tidak identik. Yang disembah, dihiasi dengan disk-matahari dan memiliki tanduk melengkung di sekitar telinganya, menggambarkan ke-'tuhanan'nya. Oleh karena itu, Ramses II tidak hanya menyembah dirinya sendiri, tetapi menganggap dirinya sendiri tuhan. [A. H. Gardiner, "The Delta Residence Of The Ramessides", Journal Of Egyptian Archaeology].
Mengenai Firaun, Al-Qur'an juga menyebutkan bahwa sewenang-wenang dan mengagung-agungkan dirinya di muka bumi dengan sangat berlebihan..


Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu mengagung-agungkan dirinya di muka bumi [Arabic: firʿawn la-ʿālin fi-al-ardh]. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. [Qur'an 10:83]

Kita telah melihat bagaimana Ramses II mengangkat/meninggikan atau menganggap dirinya sebagai dewa utama Mesir. Yang lebih menarik mengenai pendewaan dan peninggian posisi Ramses II ini adalah yang tertulis di Papyrus Anastasi II bertanggal kembali pada masa Merneptah, pengganti Ramses II. Papyrus Anastasi II dimulai dengan "Praise of the Delta Residence" raja-raja Ramses. Isi tekstual bagian ini mirip dengan Papyrus Anastasi IV, (6,1-6,10). Yang menarik dalam papirus ini adalah penyebutan posisi Ramses II yang ditinggikan.

(1,1) Beginning of the Recital of the Victories of the Lord of Egypt. His Majesty (l.p.h) has built himself a castle whose name is Great-of-Victories. (1,2) It lies between Djahy and To-meri, and is full of food and victuals. It is after the fashion of On of Upper Egypt, and its duration is like (1,3) that of He-Ka-Ptah. The sun arises in its horizon and sets within it. Everyone has foresaken his (1,4) (own) town and settled in its neighbourhood. Its western part is the House of Amun, its southern part the House of Seth. Astarte is (1,5) in its Levant, and Edjo in its northern part. (1,6) Ramesse-miamum (l.h) is in it as god, Mont-in-the-Two-Lands as herald, Sun-of-Rulers as vizier, Joy-of-Egypt (2,1) Beloved-of-Atum as mayor. The country has gone to its proper place. [Sumber: A. H. Gardiner, Late-Egyptian Miscellanies, 1937]

Di sini kita melihat Ramses II meninggikan dirinya dalam empat aspek yang berbeda, yaitu, sebagai tuhan, herald, vizier dan mayor. Hal ini seolah-olah untuk menunjukkan bahwa ia adalah segalanya bagi negri, dan memerintah semuanya.


Gambar 7:
Penggambaran Ramses II sebagai dewa yang tinggal di Kuil Agung Abu Simbel.

Bagaimana Ramesses II berlebih-lebihan? Kata Arab musrifīn ini berasal dari akar Sarafa yang berarti "melampaui semua batas, menjadi tidak moderat, menjadi boros ...; menyia-nyiakan, berfoya-foya, menghabiskan" Dalam rangka mempromosikan dirinya sebagai dewa yang hidup di bumi, Ramses II membangun monumen-monumen kolosal di seluruh Mesir, yang dilengkapi dengan berbagai gambar dirinya sendiri dalam skala besar. Mungkin contoh terbaik dari cara mewah untuk mempromosikan ketuhanannya terlihat pada Kuil Agung di Abu Simbel dimana Ramesses II digambarkan sebagai tuhan/dewa, dan dewa Re-Horakhty digambarkan dengan skala kecil di tengah empat patung kolosal raja [Gambar 7]. Di kuil ini pengkultusan dipraktekkan. Dengan demikian, Ramses II tampaknya cocok dengan penggambaran firaun yang disebut Al-Qur'an yang meninggikan dirinya dan melampaui batas dalam cara untuk menggambarkan dirinya sebagai seorang dewa. Masalah Ramses II membangun struktur kolosal membawa kita ke hal penting lainnya yang disebut dalam Al-Qur'an tentang Firaun - ia disebut Firaun awtād.

(Bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.