Jumat, 20 Desember 2013

Roma Suci

Kekaisaran Romawi Suci[1]
Imperium Romanum Sacrum
Heiliges Römisches Reich
Sacro Romano Impero


962–1806






 





 Lagu kebangsaan
(tak ada yang resmi)
"Gott erhalte Franz den Kaiser" (Lagu kekaisaran, 1797)
"Tuhan Melindungi Kaisar Francis"












Perkembangan wilayah Kekaisaran


Kekaisaran Romawi Suci (bahasa Jerman: Heiliges Römisches Reich (HRR), bahasa Latin: Imperium Romanum Sacrum (IRS)) adalah kumpulan berbagai satuan politik di Eropa Tengah yang pernah ada dari tahun 962 (ada yang menyebut sejak 843) sampai 1806. Wilayah awalnya adalah daerah Kerajaan Franka Timur, pecahan dari Kerajaan Franka setelah pembagian menurut Perjanjian Verdun (843), dan Kerajaan Lombardia (di wilayah Italia sekarang).

Kumpulan ini menyebut dirinya "kekaisaran" atau "imperium" dan pemimpinnya disebut "kaisar" (bahasa Latin: imperator). Meskipun demikian, kaisar tidak memiliki kekuasaan absolut atas anggota-anggotanya, sehingga berbeda dari model Kekaisaran Romawi atau Kerajaan Prancis yang kekuasaannya lebih absolut.
Imperium ini berlangsung delapan abad lebih, sebelum membubarkan diri pada tanggal 6 Agustus 1806 akibat Perang Napoleon. Oleh Adolf Hitler, Kekaisaran Romawi Suci dibangga-banggakan sebagai Das Erste Reich ("Imperium Pertama") bagi bangsa Jerman.

Wilayahnya luas sehingga banyak mewarnai sejarah Eropa pada Abad Pertengahan. Selain itu, banyak dongeng klasik dari Eropa yang memiliki latar belakang imperium ini.

Penamaan

Penyebutan kekaisaran ini berubah-ubah. Pada masa Franka Timur, wilayah kekuasaan dinamai Regnum Teutonicum (Deutsches Reich, "Kerajaan Jerman"). Setelah penggabungan dengan Lombardia, kerajaan disebut sebagai Imperium Romanum ("Kekaisaran Romawi") karena ada wilayah bekas pusat Kekaisaran Romawi di dalamnya. Penamaan ini resmi dipakai pada masa kekuasaan Kaisar Konrad II (1034) setelah sebagian wilayah Kerajaan Burgundia ditaklukkan. Pada perkembangan selanjutnya, imperium dinamai Sacrum Imperium ("Kekaisaran Suci") sejak Kaisar Friedrich I Barbarossa, karena mulai saat itu Kaisar tidak lagi bergantung pada Paus dan merupakan wakil Tuhan di bumi. Penyebutan lengkap Sacrum Romanum Imperium baru dimulai secara resmi sejak 1254, dan terus berlaku hingga masa pembubaran. Nama Sacrum Romanum Imperium Nationis Germaniae, "Kekaisaran Romawi Suci Bangsa Jerman", sempat dipakai setelah Perdamaian Pfalz selama sekitar 150 tahun hingga pertengahan abad ke-16, meskipun anggota-anggotanya tidak semuanya berasal dari puak-puak Germanik.

Perkembangan wilayah politik

Setelah Perjanjian Verdun (843), Ludwig si Jerman, salah satu dari tiga anak laki-laki Karel Agung, memperoleh bagian Kerajaan Franka Timur yang meliputi wilayah puak-puak Germanik timur seperti Saksonia, Frankonia, Alemania, Bavaria, serta Karinthia. Secara kasar wilayahnya adalah bagian timur Sungai Rhein. Perluasan wilayah terjadi pada masa pemerintahan Heinrich I (919-936) dan anaknya Otto I Agung (936-973). Setelah Otto I menguasai Kerajaan Langobardia di Italia, ia merasa berhak menyandang gelar "Kaisar" (Imperator) seperti pada masa Kekaisaran Romawi dulu dan dinobatkan oleh Paus pada 962.

Selanjutnya, wilayah-wilayah di barat Rhein masuk ke dalam wilayah kekaisaran, mencakup wilayah yang sekarang menjadi bagian timur Perancis, Belgia, Belanda, dan Luxemburg (Benelux), Swiss, sebagian besar Austria (kecuali Burgenland), dan sebelah utara Italia. Batas timur semula adalah Sungai Elba, namun kemudian meluas ke wilayah bangsa Slavia, seperti Avar, Salzburg, dan Bohemia (sekarang Republik Ceko). Perluasan ini terjadi melalui berbagai cara, seperti penaklukan, kristenisasi, serta pembukaan pemukiman oleh petani yang mencari lahan baru. Sejak abad ke-12 pergerakan ke timur berlanjut ke wilayah Polandia sekarang, hingga ke Prusia di pantai Baltik. Pada abad ke-13 daerah Silesia mulai dihuni, terus ke timur hingga wilayah Siebenburger di Rumania sekarang.

Pada abad ke-18 daerah negara anggota-anggotanya menjangkau wilayah negara-negara modern Jerman, Republik Ceko, Austria, Liechtenstein, Slovenia, Belgia dan Luxemburg, juga sebagian besar Polandia dan sebagian kecil Belanda. Sebelumnya malah juga menjangkau seluruh Belanda dan Swiss, dan sebagian dari Perancis dan Italia.

Bersamaan dengan perluasan ke timur, batas wilayah barat perlahan-lahan terdesak ke timur karena dicaplok oleh negara-negara tetangganya. Sejak abad ke-14 secara sistematis Kerajaan Perancis menjalankan politik "penyatuan kembali" (reunion) wilayah-wilayah di barat Rhein. Swiss memisahkan diri dari Kekaisaran sejak 1648, lewat Perdamaian Westphalia. Belanda memisahkan diri pada tahun yang sama melalui perjanjian yang sama. Wilayah Luxemburg (1794) dan Belgia (Flandria dan Wallonia) (1797) dicaplok Perancis, di bawah pemerintahan Revolusioner.

Karakter Kekaisaran

Pangeran-pemilih (Kurfürst) dari Kekaisaran Romawi Suci. Dari Bildatlas der Deutschen Geschichte oleh Dr Paul Knötel (1895)
 
Kekaisaran Romawi Suci adalah sebuah institusi yang unik dalam sejarah dunia dan oleh karena itu sulit untuk dipahami. Untuk dapat memahaminya, kita mungkin perlu mengetahui bahwa Kekaisaran Romawi Suci bukan merupakan suatu nation-state seperti dalam pengertian modern. Meskipun etnis penguasanya (hampir selalu) adalah etnis Jerman, namun sejak awal banyak etnis yang membentuk Kekaisaran Romawi Suci. Banyak dari keluarga bangsawan penting dan pejabat tertunjuk datang dari luar komunitas penutur bahasa Jerman. Pada masa kejayaannya, kekaisaran ini mencakup hampir seluruh wilayah dari Jerman, Austria, Swiss, Liechtenstein, Belgia, Belanda, Luxemburg, Republik Ceko, Slovenia, dan juga timur Perancis, utara Italia dan barat Polandia sekarang ini. Oleh karena itu, bahasanya tidak hanya terdiri dari bahasa Jerman dan banyak dialek dan turunannya saja, tetapi juga banyak bahasa Slavia, dan bahasa yang menjadi bahasa Perancis dan Italia modern. Lebih jauh lagi, pembagiannya menjadi wilayah-wilayah yang diatur oleh para pangeran sipil dan gerejawi, prelate, count, ksatria kerajaan, dan kota bebas membuatnya lebih erat dari negara modern yang bermunculan di sekitarnya.

Namun, dalam masanya, dia lebih dari sebuah konfederasi. Konsep Reich tidak hanya mencakup pemerintah dari wilayah tertentu, tetapi juga memiliki konotasi keagamaan Kristen yang kuat (suci sebagai namanya). Sampai 1508, raja-raja Jerman tidak dianggap sebagai kaisar dari Reich sebelum Paus, wakil Kristus di bumi, memahkotainya secara resmi sebagai kaisar. Reich, oleh karena itu dapat dijelaskan sebagai sebuah persilangan antara negara dan konfederasi keagamaan.

Seorang kaisar haruslah seorang berumur minimal 18 tahun dengan watak yang baik. Keempat kakek-neneknya diharapkan memiliki darah bangsawan. Tak ada hukum yang mewajibkan dia harus seorang Katolik, meskipun hukum kekaisaran menganggap demikian. Dia tidak mesti harus seorang Jerman (sebagai contoh Alfonso X dari Kastilia dan Richard dari Cornwall). Memasuki abad ke-17 para kandidat umumnya memiliki wilayah kekuasaan di dalam Reich.

Adalah sangat sulit untuk menjelaskan kekaisaran ini karena ia tidak menyerupai bentuk-bentuk negara yang kita kenal saat ini. Sejarawan Samuel Pufendorf dalam penjelasannya De statu imperii Germanici, diterbitkan dengan nama alias Severinus de Monzambano pada tahun 1667, menulis dalam bahasa Latin: "Nihil ergo aliud restat, quam ut dicamus Germaniam esse irregulare aliquod corpus et monstro simile ..." ("Jadi kita kemudian hanya dapat menyebut Jerman sebagai suatu himpunan yang tidak tunduk pada satu aturan dan menyerupai monster"). Voltaire, seorang filsuf Perancis abad ke-18, di kemudian hari juga mengatakan bahwa entitas ini "bukan kekaisaran, tidak suci dan juga tidak Romawi".

Namun meskipun dikritik oleh banyak negarawan, politisi dan filsuf, struktur Uni Eropa pada zaman sekarang ini menyerupai struktur Kekaisaran Romawi Suci.




Sumber












Jalan Roma

Peta Peutinger

Sistem Jalan yang dikenal sebagai jalan Romawi pada masa Imperium Romawi menghubungkan Ibu kotanya dengan berbagai provinsinya yang tersebar luas. Sistem itu menghubungkan hutan-hutan lebat di Gaul dengan kota-kota di Yunani serta antara sungai eufrat di Mesopotamia (Irak sekarang) sampai dengan selat Inggris. Yang terutama ialah sistem jalan raya ini memungkinkanmemungkinkan hampir setiap bagian diwilayah itu dijangkau dan dikuasai oleh legiun-legiun Roma. Jalan jalan utama beraspal ini bercabang menjadi banyak jalan kecil menuju berbagai Provinsi di Imperium Romawi. Inilah asal mula peribahasa "Semua jalan menuju Roma".

Jalan-jalan sepanjang lebih dari 80.000 km ini melintasi Imperium Romawi. Pada saat sekarang ini, untuk mempelajari dan memahami serta mengetahui semua jalan dan bagaimana pengaruhnya dengan peradaban pada masa itu yakni dengan meneliti peta abad ke-13 yang dikenal sebagai Peta Peutinger.

Menurut para sejarawan, peta Peutinger adalah salinan peta yang semula dibuat saat pasukan Romawi masih melintasi jalan-jalan yang terkenal itu. Pada tahun 1508. Konrad Peutinger jurutulis kota Augsburg, Jerman bagian selatan, mewarisi salinan tangan peta tersebut yang dikenal dengan namanya. Dewasa ini salinan tersebut disimpan di Perpustakaan Nasional Austria di Wina, Austria, dengan judul berbahasa latin yaitu "Tabula Peutingeriana"

Gulungan Peta Imperium Romawi

Peta pada umumnya digunakan berupa berbentuk agak bujur sangkar yang digantung pada dinding atau dibukukan pada buku bernama Atlas. Namun, Peta Peautinger adalah berupa gulungan yang jika dibentangkan lebarnya 34 cm dan panjangnya 6,75 m. Gulungan ini mula-mula terdiri atas 12 lembar perkamen terpisah yang ujung-ujungnya direkatkan. Kini, hanya 11 lembar yang masih ada. Peta ini memperlihatkan dunia Imperium Romawi pada masa kejayaannya kemudian Persia bahkan India.

Peta Peutinger dibuat bukan untuk pada pakar geografi melainkan untuk para penjelajah pada masa itu. Peta tersebut berbentuk gulungan yang mudah digunakan di jalan. Namun agar gulungan itu bisa memuat berbagai perincian yang dibutuhkan, maka pembuat peta harus memperpendek ukuran utara-selatan dan memperpanjang beberapa kali ukuran timur-barat imperium tersebut. Hasilnya adalah peta yang tidak proporsional tetapi mudah digunakan dan dibawa. Orang dapat melihat dengan cepat melihat cara terbaik untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Bagi mereka, ini lebih penting ketimbang keterangan lain seperti bentuk negara Italia, ukuran Laut Hitam atau arah sebenarnya yang sedang dituju. Model ini digunakan pada peta peta yang ditujukan untuk orang yang bepergian pada masa kini misalnya saja peta kereta api bawah tanah yang sering tidak proporsional tetapi mudah digunakan.

Corak-corak pada peta Peautinger dibedakan oleh warna-warnanya. Jalan-jalan diwarnai dengan garis merah, gunung-gunung dengan warna cokelat dan sungai-sungai dengan warna hijau. Peta ini memuat nama ratusan kota dan letaknya ditandai dengan gambar rumah, halaman bertembok dan menara. Lambang-lambang tersebut menunjukkan berbagai fasilitas yang ada pada tiap-tiap tempat. Peta itu juga memperlihatkan jarak antarkota dan tempat-tempat persinggahan.

Beberapa peristiwa yang ditulis dalam Injil dalam Agama Kristen, letak kota Yerusalem, Gurun Sinai, Mesir, Jalan Appia juga terdapat dalam peta itu.

Keterangan gambar untuk Yerusalem menyertakan nama yang berbeda untuk kota tersebut yakni Aelia Capitolina yang diambil dari nama Publius Aelius Hadrianus, yang dikenal sebagai Hadrian. Pada abad ke dua Masehi, kaisar Romawi ini menamai kota itu menurut namanya sendiri. Istilah nama Latin untuk Gunung Zaitun juga muncul.

Semua Jalan Menuju Roma

Beberapa jalan menuju ke Aquileia, sebuah kota yang terletak di Italia bagian timur laut. Pada peta, Aquileia memiliki tembok tembok dan menara yang kokoh. karena kota itu mendominasi beberapa persimpangan jalan utama dan memiliki pelabuhan yang bagus. Aquielia merupakan salah satu kota terpenting di Imperium Romawi.

Via Egnatia, atau jalan Egnatia melintasi semenanjung Balkan dari pesisir Laut Adriatik menuju Konstantinopel yang kini dikenal sebagai Istambul. Peta Peautinger menandai kota itu dnegan seorang dewi yang duduk di takhtatetapi siap berperang. beberapa jalan menuju Antiokhia Siria yang kini adalah kota Antakya di Turki. Antiokhia adalah kota terbesar ketiga di Imperium Romawi, setelah Roma dan Alexandria. Di peta itu, Antiokhia digambarkan dengan lambang seorang dewi yang sedang duduk dan mengenakan lingkaran cahaya (halo).

Di Peta Peautinger ada 12 jalan menuju Roma., diantaranya adalah Jalan Appia atau Via Appia. Kota Roma digambarkan dengan kaisar wanita perkasa yang berjubah ungu yang duduk diatas takhta. Bola bumi dan tongkat yang ada di tangannya mengartikan bahwa kuasa dunia berpusat di Ibu kota Imperium tersebut.
Peta Peautinger menunjukkan bagaimana jalan raya itu memperluas jangkauan kekuasaan Imperium Romawi selama hampir 500 tahun


Sumber

Pembagian diocletian

Pada abad ke-3, ada suatu periode ketika Kekaisaran Romawi diguncang berbagai masalah. Periode ini kemudian disebut dengan Krisis abad ke-3. Diocletian, seorang Kaisar Romawi, berhasil tampil sebagai pemecah-masalah di tengah kekalutan yang terjadi. Salah satu masalah yang berhasil dipecahkannya adalah : Koordinasi yang lemah antar-wilayah Romawi, akibat terlalu luasnya daerah Kekaisaran.

Diocletian melihat bahwa Kekaisaran Romawi tidak akan bisa bertahan jika dipimpin oleh satu pemerintahan saja, maka ia pun membagi Kekaisaran menjadi dua, dengan memotongnya di daerah sekitar timur Italia dan sebelah barat Mesir, dan menyebut pemimpinnya dengan sebutan Augustus. Berikut peta serta pembagian wilayah yang diciptakan oleh Diocletian.

Kekaisaran Romawi
Kekaisaran Romawi
Provinsi Daerah
TIMUR
Oriens Libya, Mesir, Palestina, Syria, and Cilicia
Pontus Cappadocia, Armenia Minor, Galatia, Bithynia
Asia (Asiana) Asia, Phrygia, Pisidia, Lycia, Lydia, Caria
Thrace Moesiae Moesia Inferior, Thrace
Moesia Moesia Superior, Dacia, Epirus, Macedonia, Thessaly, Achaea, Dardania
BARAT
Afrika Africa Proconsularis, Byzacena, Tripolitana, Numidia, part of Mauretania
Hispania Mauretania Tingitana, Baetica, Lusitania, Tarraconensis
Prov. Viennensis Narbonensis, Aquitania, Viennensis, Alpes Maritimae
Gallia Lugdunensis, Germania Superior, Germania Inferior, Belgica
Britannia Britannia, Caesariensis
Italia annonaria
capital Mediolanum
Venetia et Histria, Aemilia et Liguria, Flaminia et Picenum, Raetia, Alpes Cottiae
Italia suburbicaria
capital Rome
Tuscia et Umbria, Valeria, Campania et Samnium, Apulia et Calabria, Sicilia, Sardinia et Corsica
Pannonia Pannonia Inferior, Pannonia Superior, Noricum, Dalmatia

Sumber






Para Kaisar Romawi (2)

Arcadius
Masa kekuasaan Januari 383 – 395 (Augustus pada masa pemerintahan ayahnya);
395 – 1 Mei 408 (kaisar Romawi Timur, sementara saudaranya Honorius memerintah di barat)
Nama lengkap Flavius Arcadius Augustus
Lahir 377/8
Tempat lahir Spanyol
Wafat 1 Mei 408 (usia 30 atau 31)
Pendahulu Theodosius I
Pengganti Theodosius II
Pasangan dari Aelia Eudoxia
Anak Theodosius II
Pulcheria
Dinasti Dinasti Theodosianus
Ayah Theodosius I
Ibu Aelia Flaccilla

Arcadius (bahasa Latin: Flavius Arcadius Augustus; bahasa Yunani: Ἀρκάδιος; 377/378 – 1 Mei 408) adalah Kaisar Romawi Timur yang berkuasa dari tahun 395 hingga kematiannya pada tahun 408. Ia merupakan putra sulung dari pasangan Theodosius I dan istri pertamanya Aelia Flaccilla, dan juga saudara kandung dari Kaisar Romawi Barat Honorius. Ia merupakan penguasa yang lemah dan kekuasaannya didominasi oleh menteri-menteri yang kuat dan istrinya, Aelia Eudoxia.

Sumber
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Theodosius II

Masa kekuasaan 1 Mei 408 – 28 Juli 450
(Saudaranya menjadi wali dari tahun 408 hingga 416)
(42 tahun, 88 hari)
Nama lengkap Flavius Theodosius
Pendahulu Arcadius
Pengganti Marcian
Istri Aelia Eudocia
Anak Licinia Eudoxia
Ayah Arcadius
Ibu Aelia Eudoxia

Theodosius II (bahasa Latin: Flavius Theodosius Junior; 10 April 401 – 28 Juli 450) adalah Kaisar Romawi Timur dari tahun 408 hingga 450. Ia dikenang karena mengumumkan undang-undang hukum Theodosius, dan karena pembangunan tembok Theodosius di Konstantinopel. Ia juga mengawasi kontroversi antara dua pandangan kristologi, yaitu Nestorianisme dan Eutychianisme.

Sumber
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Marcianus

Masa kekuasaan 450–457
Dinobatkan 25 Agustus 450
Nama lengkap Flavius Marcianus
Pemakaman Gereja Rasul Suci, Konstantinopel
Pendahulu Theodosius II
Pengganti Leo I
Istri Pulcheria
Anak Marcia Euphemia
Dinasti Dinasti Theodosius

Flavius Marcianus (392 – 27 Januari 457)[1] adalah Kaisar Romawi Timur yang berkuasa dari tahun 450 hingga 457. Pada masa kekuasaannya, Romawi Timur mengalami pemulihan. Kaisar berhasil melindunginya dari serangan luar, serta melancarkan reformasi ekonomi dan finansial. Di sisi lain, kebijakan Marcianus yang isolasionis mengabaikan Kekaisaran Romawi Barat yang sedang diserang oleh suku-suku barbar.

Catatan kaki

  1. ^ Theodorus Lector, 367. Theophanes AM 5949 gives April 30.
Sumber
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Zeno (kaisar)

Flavius Zeno (425–491), nama asli Tarasicodissa atau Trascalissaeus, Kaisar Romawi Timur (9 Februari 474 - 9 April 491) adalah seorang kaisar Bizantium. Revolusi domestik dan dan pertikaian agama mewarnai pemerintahannya. Ia mengetuai akhir dari kekaisaran Romawi di barat di bawah Julius Nepos dan Romulus Augustus, sementar apada waktu yang sama lebih menstabilkan kekaisaran di timur.


Sumber
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Anastasius I (kaisar)

Masa kekuasaan 11 April 491 – 9 Juli 518
Nama lengkap Flavius Anastasius
Gelar Konsul Kekaisaran Romawi
Pendahulu Zeno
Pengganti Yustinus I
Ratu Ariadne
Dinasti Dinasti Leo

Anastasius I (bahasa Latin: Flavius Anastasius; bahasa Yunani: Φλάβιος Ἀναστάσιος; c. 430 – Juli 518) adalah Kaisar Romawi Timur (Bizantium) dari tahun 491 hingga 518.
Perang-perang utama yang meletus pada masanya adalah Perang Isauria dan Perang melawan Persia.



Sumber




Para Kaisar Romawi (1)

Konstantinus I

 Kepala dari patung Konstantinus yang raksasa di Musei Capitolini

Gaius Flavius Valerius Aurelius Constantinus[1] (lahir 27 Februari 272 – meninggal 22 Mei 337 pada umur 65 tahun), yang lazim dikenal sebagai Konstantinus I, Konstantinus Agung, atau (di antara orang-orang Kristen Ortodoks Timur dan Katolik Timur)[2]Santo Konstantin, adalah seorang Kaisar Romawi, yang dinyatakan sebagai Augustus oleh pasukan-pasukannya pada 25 Juli 306 dan yang memerintah atas bagian Kekaisaran Romawi yang terus-menerus berkembang hingga kematiannya.
Konstantinus paling diingat pada masa kini untuk Edik Milano pada 313, yang sepenuhnya melegalisir agama Kristen di seluruh Kekaisaran, untuk pertama kalinya, dan untuk Konsili Nicea pada 325. Tindakan-tindakannya ini dianggap sebagai faktor-faktor penting dalam penyebaran agama Kristen. Reputasinya sebagai "Kaisar Kristen pertama" telah dikemukakan oleh sejarahwan dari Lactantius dan Eusebius dari Kaisaria hingga pada masa kini, meskipun telah muncul perdebatan tentang kebenaran imannya karena ia terus mendukung dewa-dewa kafir dan dibaptiskan hanya beberapa saat menjelang kematiannya.[3] 

Catatan

  1. ^ Dalam (bahasa Latin gelar resmi kekaisaran Konstantine adalah IMPERATOR CAESAR FLAVIVS CONSTANTINVS PIVS FELIX INVICTVS AVGVSTVS, Imperator Caesar Flavius Constantine Augustus, yang saleh, yang beruntung, yang tidak terkalahkan. Setelah 312, ia menambahkan MAXIMVS ("yang terbesar"), dan setelah 325 menggantikan invictus ("yang tidak terkalahkan") dengan VICTOR, karena invictus mengingatkan kepada Sol Invictus, Dewa Matahari.
  2. ^ Gereja Katolik Timur ritus Bizantium menganggap Konstantinus seorang santo, namun ia tidak termasuk dalam Martirologi Roma dari Gereja Latin.
  3. ^ Lihat artikel tentang Pergeseran Konstantin.
Sumber
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Konstantius II

Memerintah 324 (13 November) – 337 (22 Mei): Caesar dibawah ayahnya
337 – 340: co-Augustus (menguasai provinsi-provinsi Asia & Mesir) dengan Konstans dan Konstantinus II
340 – 350: co-Augustus (menguasai provinsi-provinsi Asia & Mesir) dengan Konstans
350361 (3 November): Kaisar seluruh Romawi
Pendahulu Konstantinus I
Pengganti Julianus
Nama lengkap
Flavius Iulius Konstantius
Ayah Konstantinus I
Ibu Fausta
Lahir 7 Agustus 317
Sirmium (Sremska Mitrovica, Serbia)
Meninggal 3 November 361 (umur 44)
Mopsuestia di Sisilia

Flavius Julius Konstantius (7 Agustus 317 – 3 November 361), umumnya dikenal sebagai Konstantius II, adalah Kaisar Romawi dari tahun 337 hingga 361. Ia adalah putra dari Konstantinus I dan Fausta. Konstantius naik takhta dengan saudaranya Konstantinus I dan Konstans saat kematian ayahnya. Pada tahun 340, saudara-saudara Konstantius memperebutkan kekuasaan atas provinsi-provinsi barat kekaisaran. Konstans mengalahkan saudaranya dan menguasai barat selama satu dasawarsa lebih hingga Magnentius memberontak tahun 350. Konstans dibunuh, menjadikan Konstantius sebagai satu-satunya putra Konstantinus yang masih hidup. Setelah mengalahkan Magnentius dalam Pertempuran Mursa Major dan Mons Seleucus, Magnentius bunuh diri, sehingga Konstantius menjadi penguasa tunggal kekaisaran. Ia berhasil memenangkan peperangan melawan Alamanni tahun 354, dan melancarkan serangan terhadap Quadi dan Sarmatia di sepanjang sungai Donau tahun 357. Di timur, ia berperang melawan Sassaniyah selama dua dasawarsa. Konstantius mengangkat keponakannya Julianus sebagai co-kaisar tahun 355. Pada musim semi tahun 361, kedua kaisar berselisih. Akan tetapi, Konstantius wafat sebelum keduanya berperang, sehingga menjadikan Julianus sebagai penerus.

Sumber
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Valentinianus I


Masa kekuasaan 26 Februari - 28 Maret 364 (sendiri);
26 Maret 364 - 17 November 375 (kaisar Romawi Barat)
Nama lengkap Flavius Valentinianus
Flavius Valentinianus Augustus (sebagai kaisar)
Pendahulu Iovianus
Pengganti Valens, Gratianus dan Valentinianus II
Pasangan dari 1) Marina Severa
2) Justina
Anak Gratianus
Valentinian II
Galla
Grata
Justa
Dinasti Valentinianus
Ayah Gratianus yang Tua

Flavius Valentinianus (321 - 17 November 375) adalah Kaisar Romawi bersama saudaranya Valens dari tahun 364 hinnga kematiannya. Ia adalah kaisar terakhir yang memiliki kekuasaan de facto terhadap seluruh Romawi. Kekuasaannya banyak dihabiskan dalam pertempuran melawan suku-suku Jermanik, mengalahkan Alamanni dan Frank dalam beberapa peristiwa. Ia membangun kembali dan meningkatkan perlindungan di front depan, bahkan membangun benteng baru di wilayah musuh. Karena keberhasilan dalam kekuasaannya, Valentinianus digelari sebagai "kaisar agung terakhir".[1] Ia mendirikan Dinasti Valentinianus, dengan putranya Gratianus dan Valentinianus II menggantikannya dalam kekaisaran yang terpecah.

Referensi

  1. ^ Diana Bowder, ed., "Valentinian I," Who was Who in the Roman World (New York: Simon & Schuster, 1984), p. 555. Bibl. J. F. Matthews, Western Aristocracies.
Sumber
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Theodosius I

Masa kekuasaan 19 Januari 379 – 15 Mei 392 (kaisar di Timur;
15 Mei 392 – 17 Januari 395 (seluruh kekaisaran)
Nama lengkap Flavius Theodosius (dari lahir sampai bertahta);
Flavius Theodosius Augustus (sebagai kaisar)
Lahir 11 Januari 347
Tempat lahir Cauca atau Italica, dekat Sevilla, Spanyol
Wafat 17 Januari 395 (umur 48)
Tempat wafat Milan
Pemakaman Konstantinopel, saat ini Istanbul
Pendahulu Valens di Timur
Gratian di Barat
Valentinianus II di Barat
Pengganti Arcadius di Timur;
Honorius di Barat
Pasangan dari 1) Aelia Flaccilla (?-385)
2) Galla (?-394)
Anak Arcadius
Honorius
Pulcheria
Galla Placidia
Dinasti Theodosius
Ayah Theodosius Senior
Ibu Thermantia
Agama Kekristenan Nicene

Flavius Theodosius (11 Januari 347 – 17 Januari 395), juga dijuluki Theodosius I dan Theodosius yang Agung (Yunani: Θεοδόσιος Α΄ dan Θεοδόσιος ο Μέγας), adalah Kaisar Romawi dari tahun 379 hingga 395. Ia menyatukan kembali bagian barat dan timur kekaisaran, dan juga merupakan kaisar terakhir dari Kekaisaran Romawi Timur dan Kekaisaran Romawi Barat. Setelah kematiannya, dua kekaisaran itu terpisah secara permanen. Ia juga menjadikan Kekristenan Nicene sebagai agama resmi Kekaisaran Romawi.



Sumber




Konstantinopel

Konstantinopel (bahasa Yunani: Κωνσταντινούπολις Ko̱nstantinoúpolis, bahasa Latin: Constantinopolis, bahasa Turki Utsmaniyah: قسطنطینیه, bahasa Turki: Kostantiniyye atau İstanbul) adalah ibu kota Kekaisaran Romawi, Kekaisaran Romawi Timur, Kekaisaran Latin, dan Kesultanan Utsmaniyah. Hampir selama Abad Pertengahan, Konstantinopel merupakan kota terbesar dan termakmur di Eropa.[1]
Sekurang-kurangnya sejak abad ke-10, kota ini umum disebut Istanbul yang berasal dari kata Yunani Istimbolin, artinya "dalam kota" atau "ke kota". Setelah ditaklukkan oleh kaum Utsmaniyah pada 1453, nama resmi Konstantinopel dipertahankan dalam dokumen-dokumen resmi dan cetakan mata uang logam. Ketika Republik Turki didirikan, pemerintah Turki secara resmi berkeberatan atas penggunaan nama itu, dan meminta agar diganti dengan nama yang lebih umum, yakni Istanbul.[2][3][4] Penggantian nama tersebut diatur dalam Undang-Undang Pelayanan Pos Turki, sebagai bagian dari reformasi nasional Atatürk.[5][6] Istanbul berasal dari kata Stambol, yakni sebutan untuk Konstantinopel yang digunakan kaum Yunani dan Slavia dalam percakapan sehari-hari (Untuk penjelasan lebih lanjut, lihat Nama-nama Istanbul).

 Peta Konstantinopel Bizantin

 Konstantinopel dilihat dari udara

1. Sejarah

A. Bizantium

Konstantinopel didirikan oleh Kaisar Romawi Konstantinus I di atas situs sebuah kota yang sudah ada sebelumnya, Bizantium, yang didirikan pada permulaan masa ekspansi kolonial Yunani, kemungkinan besar sekitar 671-662 SM. Situs ini terletak di jalur darat dari Eropa ke Asia, dan jalur laut dari Laut Hitam ke Laut Mediterania, serta memiliki sebuah pelabuhan yang besar dan masyhur di Tanduk Emas.

306–337

 Kaisar Konstantinus I mempersembahkan kota Konstantinopel kepada Maria dan Kanak-Kanak Yesus dalam sebuah mosaik Gereja Hagia Sophia, sekitar tahun 1000

Koin yang dikeluarkan Konstantinus I untuk memperingati pendirian Konstantinopel

Konstantinus memiliki rencana-rencana besar dalam segala bidang. Setelah memulihkan kesatuan kekaisaran, dan karena sedang melakukan reformasi besar dalam pemerintahan serta mensponsori konsolidasi masyarakat Kristen, dia sungguh-sungguh sadar akan keterbatasan Roma sebagai sebuah ibu kota. Roma terlalu jauh dari garis-garis perbatasan, dan oleh karena itu jauh pula dari angkatan bersenjata dan dewan kekaisaran. Roma tidak diminati sebagai lahan bermain bagi para politisi yang berseberangan dengan pemerintah. Tetapi Roma telah menjadi ibu kota negara selama seribu tahun, dan tampak tak terpikirkan untuk memindahkan ibu kota ke tempat lain. Meskipun demikian, Konstantinus melihat Bizantium sebagi lokasi yang tepat: tempat seorang kaisar dapat bertahta, memiliki pertahanan yang matang, dan memiliki kemudahan akses ke perbatasan Danube maupun Efrat, dewan kekaisaran memperoleh suplai dari kebun-kebun yang subur dan bengkel-bengkel yang canggih di Asia, perbendaharaannya diisi oleh provinsi-provinsi termakmur dalam kekaisaran.

Konstantinopel dibangun selama enam tahun, dan diresmikan pada 11 Mei 330.[7] Konstantinus membagi kota yang diperluas itu, seperti Roma, menjadi 14 kawasan, dan mendandaninya dengan fasilitas-fasilitas umum yang layak bagi sebuah metropolis kekaisaran.[8] Akan tetapi, mula-mula, Roma baru Konstantinus tidak memiliki semua kemuliaan Roma lama. Kota ini memiliki seorang proconsul, bukannya seorang prefek urban. Tidak memiliki praetor, tribun, ataupun quaestor. Meskipun memiliki senator-senator, mereka hanya begelar clarus, bukan clarissimus, seperti di Roma. Konstantinopel juga tidak memiliki jajaran administratif yang mengatur suplai pangan, polisi, patung-patung, kuil-kuil, saluran-saluran pembuangan, saluran-saluran air bersih, atau fasilitas-fasilitas umum lainnya. Program baru pembangunan diselenggarakan dengan tergesa-gesa: Pilar-pilar, pualam-pualam, daun-daun pintu, dan ubin-ubin dipindahkan dari kuil-kuil kekaisaran ke kota baru itu. Dengan cara yang sama, banyak karya seni yunani dan Romawi segera terlihat di alun-alun dan jalan-jalan. Kaisar mendorong pendirian bangunan-bangunan pribadi dengan cara menjanjikan kepada para pemilik bangunan hadiah lahan dari tanah negara di Asiana dan Pontica, dan pada 18 Mei 332 dia mengumumkan bahwa, sebagaimana halnya di Roma, bahan pangan akan disalurkan secara cuma-cuma kepada warga kota. Konon saat itu jumlahnya mencapai 80.000 ransum sehari, disalurkan dari 117 titik distribusi di seluruh kota.[9]

Konstantinus membuka alun-alun baru di pusat kota tua Bizantium, menamakannya Augustaeum. Dewan senat (atau Curia) yang baru ditempatkan di sebuah basilika di sebelah timur alun-alun. Di sebelah selatannya berdiri istana agung kaisar dengan gerbangnya yang megah, Chalke, dan aula upacaranya yang dikenal sebagai Istana Daphne. Tak jauh dari situ terdapat Hippodromos, tempat pacuan kuda yang mampu menampung 80.000 penonton, dan pemandian Zeuxippus yang terkenal. Di sisi barat Augustaeum berdiri Milion, sebuah monumen berlengkung, titik awal untuk mengukur jarak ke seluruh Kekaisaran Romawi Timur.

Dari Augustaeum terbentang sebuah jalan raya, Mese (bahasa Yunani: Μέση [Οδός], secara harfiah berarti "[Jalan] Tengah"), dipagari jajaran pilar. Karena membentang turun dari bukit pertama dan naik ke bukit kedua, jalan ini melintasi sisi kiri Praetorium atau Gedung Kehakiman. Kemudian melintasi Forum Konstantinus yang berbentuk oval tempat dewan senat kedua dan sebuah pilar tinggi yang dipuncaknya tegak sebuah arca Konstantinus dalam rupa Helios, bermahkota sebuah lingkaran suci dengan tujuh berkas sinar dan menghadap ke arah matahari terbit. Dari sana Mese melintasi Forum Taurus, kemudian Forum Bous, dan akhirnya naik ke bukit ketujuh (atau Xerolophus) melewati Gapura Kencana di Tembok Konstantinus. Setelah pendirian Tembok Theodosius pada abad ke-5, Mese diperpanjang sampai ke Gapura Kencana yang baru. Panjang keseluruhannya mencapai tujuh Mil Romawi.[10]

395–527

 Theodosius I adalah Kaisar Romawi terakhir yang memerintah Keaisaran Romawi yang utuh (detail dari Obelisk di Hippodromos Konstantinopel


Prefek Kota Konstantinopel pertama yang diketahui adalah Honoratus, yang menjabat sejak 11 Desember 359 sampai 361. Kaisar Valens membangun Istana Hebdomon di tepian Propontis dekat Gapura Kencana, kemungkinan besar untuk digunakan pada saat pemeriksaan pasukan. Semua kaisar sampai dengan Zeno dan Basiliscus dinobatkan dan diumumkan di Hebdomon. Theodosius I membangun Gereja Yohanes Pembaptis sebagai tempat penyimpanan tengkorak orang suci itu (sekarang disimpan di Istana Topkapı di Istanbul, Turki), mendirikan sebuah tugu peringatan atas dirinya di Forum Taurus, dan merombak reruntuhan kuil Aphrodite untuk dijadikan sebuah gudang kereta Prefek Pretoria; Arcadius membangun sebuah Forum baru yang dinamakan menurut namanya sendiri di Mese, dekat tembok-tembok Konstantinus.

Pengaruh Konstantinopel lambat-laun meredup. Setelah diguncang oleh Pertempuran Adrianopel pada 378, di mana Kaisar Valens beserta pasukan-pasukan Romawi terbaik dihancurkan oleh kaum Visigoth hanya dalam beberapa hari saja, Konstantinopel mulai memperhatikan pertahanannya, dan Theodosius II membangun Tiga Lapis Tembok Pertahanan setinggi 18 Meter (60 Kaki) pada 413-414, yang tak dapat ditembus sampai munculnya bubuk mesiu. Theodosius juga membangun sebuah Universitas dekat Forum Taurus, pada 27 Februari 425.

Sekitar periode ini, Uldin, seorang pemimpin kaum Hun, muncul di Danube dan bergerak maju ke Thrace, namun dia dikhianati oleh banyak pengikutnya, yang menyeberang ke pihak Romawi dan memukul mundur raja mereka kembali ke utara sungai itu. Karena kejadian ini, tembok-tembok baru didirikan untuk mempertahankan Konstantinopel, dan armada di Danube ditingkatkan.

Sementara itu, kaum Barbar menguasai Kekaisaran Romawi Barat: Kaisarnya lari ke Ravenna, dan kerajaannya binasa. Setelah peristiwa ini, Konstantinopel benar-benar menjadi kota terbesar di Kekaisaran Romawi sekaligus di dunia. Kaisar-kaisar tidak lagi mondar-mandir dari satu ibu kota dan istana ke ibu kota dan istana lainnya. Mereka berdiam di istananya dalam kota besar itu, dan mengutus jenderal-jenderal untuk memimpin bala tentara mereka. Kemakmuran Mediterania Timur dan Asia Barat mengalir masuk ke Konstantinopel.

527–565

 Peta Konstantinopel (1422) karya Kartografer asal Firenze Cristoforo Buondelmonti[11] adalah peta Konstantinopel tertua yang masih ada, dan satu-satunya peta yang berasal dari masa sebelum kota itu ditaklukkan bangsa Turki pada 1453

Kaisar Yustinianus I (527–565) termasyur berkat kemenangan-kemenangannya dalam peperangan, reformasi-reformasi hukumnya, dan karya-karya pembangunannya. Dari Konstantinopellah armada ekspedisinya bertolak untuk merebut kembali bekas Keuskupan Afrika pada atau sekitar 21 Juni 533. Sebelum bertolak, kapal Komandan Belisarius berlabuh di depan istana kekaisaran, dan Patriark memimpin doa demi keberhasilan armada. Setelah memenangkan pertempuran pada 534, harta-benda Bait Allah Yerusalem yang dijarah pasukan Romawi pada 70 Masehi dan yang kemudian dibawa ke Kartago oleh kaum Vandal setelah menjarah Roma pada 455, dibawa kembali ke Konstantinopel dan disimpan di sana selama beberapa waktu, mungkin saja di dalam Gereja St. Polyeuctus, sebelum akhirnya dikembalikan kepada Yerusalem di Gereja Kebangkitan atau Gereja Baru.[12]

Lomba balap kereta sangat digemari di Roma selama berabad-abad. Di Konstantinopel, hippodromos makin lama makin meningkat reputasinya sebagai tempat berpolitik. Di sanalah (sebagai bayangan yang silam dari pemilihan umum di Roma lama) rakyat secara aklamasi menunjukkan persetujuan mereka atas seorang kaisar baru, dan di sana pula mereka terang-terangan mengkritik pemerintah, atau menyerukan penggantian menteri-menteri yang tidak disukai masyarakat. Pada masa pemerintahan Yustinianus, ketertiban umum di Konstantinopel menjadi isu politik yang penting.

Selama periode akhir Romawi dan awal Bizantin, Agama Kristen menuntaskan permasalahan-permasalahan mendasar akan identitasnya, dan perselisihan antara kubu Ortodoks dan Monofisit menimbulkan kekacauan yang serius. Kekacauan ini diekspresikan melalui keikutsertaan dalam keanggotaan pendukung tim biru dan hijau pada balapan kereta. Para pendukung tim biru dan tim hijau konon[13] memelihara kumis dan janggut, mencukur rambut di bagian depan dan memanjangkan rambut di bagian belakang kepala, mengenakan jubah berlengan lebar dan berikat pinggang; dan membentuk kelompok-kelompok yang meraung-raung dan melakukan kejahatan di jalanan pada malam hari. Pada akhirnya kekacauan-kekacauan ini memuncak pada sebuah pemberontakan besar pada 532, yang dikenal sebagai kerusuhan "Nika" (dari pekik-perang "Kemenangan!" yang diteriakkan para pemberontak).

Kebakaran yang disulut para pemberontak Nika menghanguskan basilika St. Sophia yang dibangun Konstantinus, yakni gedung Gereja utama Konstantinopel, yang berdiri di utara Augustaeum. Yustinianus menugaskan Anthemius dari Tralles dan Isidorus dari Miletus untuk menggantikannya dengan gedung Gereja St. Sophia yang baru dan yang tiada duanya. Gedung ini adalah katedral agung Gereja Ortodoks, yang kubahnya konon bertahan di ketinggian atas kehendak Tuhan semata, dan yang terhubung langsung dengan istana sehingga keluarga kerajaan dapat pergi ke Gereja tanpa perlu melalui jalanan.[14] Peresmiannya digelar pada 26 Desember 537 dan dihadiri kaisar, yang berseru, "Wahai Salomo, aku telah menyaingimu!"[15] Pengurusan St. Sophia ditangani oleh 600 orang termasuk 80 imam, dan menghabiskan biaya pembangunan sebesar 20.000 pon emas.[16]

Yustinianus juga menugaskan Anthemius dan Isidorus untuk meruntuhkan bangunan asli Gereja Para Rasul Kudus yang dibangun Konstantinus dan menggantikannya dengan sebuah gedung gereja baru dengan nama yang sama. Gereja ini dirancang dalam bentuk salib sama-sisi dengan lima kubah, dan dihiasi mosaik-mosaik indah. Gereja ini terus menjadi tempat pemakaman para kaisar mulai dari Konstantinus sendiri sampai abad ke-11. Ketika Konstantinopel jatuh ke tangan Turki pada 1453, Gereja ini diruntuhkan untuk menyediakan tempat bagi makam Mehmed II Sang Penakluk. Yustinianus juga memperhatikan aspek-aspek lain dari lingkungan pembangunan kota. Dia menetapkan larangan mendirikan bangunan di tepi laut, dengan maksud untuk menjaga keindahan pemandangan.[17]

Selama masa pemerintahan Yustinianus I, populasi Konstantinopel mencapai 500.000 jiwa.[18] Namun jumlah populasi juga menurun akibat menyebarnya Wabah Yustinianus antara 541–542 Masehi. Wabah ini membunuh sekitar 40% warga kota.[19]

Bertahan hidup, 565–717

 

 Bagian yang telah direstorasi dari benteng pertahanan yang melindungi Konstantinopel selama Abad Pertengahan

Di awal abad ke-7, Bangsa Avar dan kemudian Bangsa Bulgar menduduki sebagian besar wilayah Balkan sehingga menjadi ancaman dari Barat bagi Konstantinopel. Di saat yang sama, Kekaisaran Sassaniyah di Persia menduduki Prefektur Timur, dan menerobos maju ke Anatolia. Heraclius, putera eksark Afrika, berlayar ke Konstantinopel dan dinobatkan sebagai kaisar. Karena situasi militer sangat mengkhawatirkan, dia sempat mempertimbangkan pemindahan ibu kota kekaisaran ke Kartago, namun diurungkannya setelah warga Konstantinopel memohon-mohon padanya untuk tetap tinggal. Konstantinopel kehilangan haknya atas gandum gratis pada 618, setelah Heraclius sadar bahwa kota itu tak lagi dapat memperoleh pasokan dari Mesir akibat peperangan dengan Persia. Populasi Konstantinopel menurun drastis karenanya, dari 500.000 menjadi 40.000-70.000 jiwa saja.[20]

Smentara kota besar itu dikepung musuh, Heraclius memimpin bala tentaranya memasuki wilayah Persia dan dalam waktu singkat berhasil memulihkan status quo pada 628, setelah Persia melepaskan seluruh wilayah taklukan mereka. Meskipun demikian, kekaisaran terus melemah karena gempuran-gempuran Bangsa Arab sehingga kehilangan provinsi-provinsinya di Afrika dan Tenggara Mediterania untuk selamanya. Pengepungan pertama Konstantinopel oleh Kaum Muslim berlangsung dari tahun 674 sampai 678, dan pengepungan kedua berlangsung dari tahun 717 sampai 718. Sementara Tembok-tembok Theodosius tak dapat ditembus oleh serangan darat, sebuah penemuan baru yang dikenal dengan julukan "Api Yunani" memampukan Angkatan Laut Bizantin menghancurkan armada Arab dan memungkinkan pasokan makanan tetap mengalir ke dalam kota. Pada pengepungan kedua, pertolongan yang sangat menentukan diulurkan oleh Bangsa Bulgar. Kegagalan pengepungan ini sangat merugikan Kekhalifahan Umayyah, serta memulihkan perimbangan kekuatan antara Bizantin dan Arab.

Krisis Ikonoklasme, 726-845

Leo III yang berhasil memukul mudur serangan bangsa Arab baik dari daratan maupun lautan memulai pemerintahannya dengan kontroversi religius terbesar dalam sejarah Byzantium; Ikonoklasme. Dimulai 726 ia memerintahkan pasukan kekaisarannya untuk melepaskan lukisan Kristus yang menggantung di gerbang Chalke, yang merupakan lukisan religius paling penting di kota. Dia meyakini bahwa pemujaan lukisan-lukisan ini adalah bentuk penyembahan berhala. Kaum Ikonodul, mereka yang memuja patung suci, mencoba mencegahnya dan membuat pimpinan pasukan kekaisaran terbunuh. Prajurit pun mengejar kaum Ikonodul dan membunuh pimpinannya putri Theodosia. Akhirnya Theodosia dikanonisasi sebagai pelindung para Ikonodul.

Kebijakan Ikonoklasme Leo ini diteruskan oleh Konstantin V yang memperbarui kampanye menentang penyembahan berhala pada tahun 754 dengan lebih ketat dibanding sebelumnya. Konstantin V meninggal pada 14 September 775, ia digantikan oleh putranya Leo yang juga meneruskan kebijakan Ikonoklasme ayahnya. Ia memiliki istri bernama Eiren yang berasal dari Athena, yang merupakan penganut Ikonodul yang taat namun merahasiakannya dari suaminya. Leo IV meninggal pada 8 September 780, digantikan putranya Konstantin yang belum berusia sepuluh tahun, dan ibunya, Eiren ditunjuk sebagai wali. Eiren langsung mengembalikan ikon-ikon dan memecat pendukung Ikonoklasme di pemerintahan yang digantikan dengan para Ikonodul. Pada 24 September 787 di Nicea diselenggarakan Konsili Ekumenis Ketujuh. Setelah mengadakan pertemuan selama satu bulan, dewan mengeluarkan keputusan untuk memulihkan ikon-ikon dengan penegasan boleh dimuliakan dan tak boleh disembah. Setelah Konstantin VI beranjak dewasa, ia berkuasa sendiri tanpa lagi perwakilan Eirene yang turun takhta. Namun, Eiren memutuskan merebut kekuasaanya, dan pada 15 Agustus 797 ia perintahkan pengawal pribadinya menangkap Konstantin dan memenjarakannya. Konstantin dihari yang sama dibutakan matanya dan dikirim ke sebuah biara di pulau Prinkip, dan tak lama meninggal dunia di sana. Eirene kemudian digulingkan dalam sebuah kudeta, dan pada 31 Oktober 802 Nicephorus menduduki singgasana, lalu Eirene diasingkan dari Konstantinopel dan tak pernah kembali. Necephorus terbunuh dalam perang dan digantikan putranya, Stauracius, yang meninggal pada 11 Januari 812 dan digantikan oleh Michael Rhangabe kaka iparnya. Michael mencoba mengembalikan perdamaian agama dan membuat murka para penganut Ikonoklasme. Michael I hanya berkuasa selama dua puluh bulan, dan pada 813 kaisar baru dinobatkan di Aya Sofya sebagai Leo V. Leo adalah penganut Ikonoklasme dan kembali memperbarui pelarangan lukisan suci. Dengan memimpin sebuah sinode pada tahun 815 di Aya Sofya; hal ini mencabut keputusan Konsili Ekumenis Ketujuh pada 787 dan mengonfirmasi sinode Ikonoklasme pada tahun 754. Leo yang terbunuh pada 820 digantikan oleh Michael, dan meninggal pada 2 Oktober 829. Michael II digantikan putranya Theopilus yang juga menganut Ikonoklasme namun cukup toleran seperti ayahnya. Theopilus yang meninggal pada 20 Januari 842 digantikan putranya, Michael III, yang baru berusia dua tahun dan diwakilkan oleh ibunya, Theodora.

Pada 845 mereka memimpin sebuah konsili yang mencabut keputusan sinode Ikonoklasme pada tahun 754 dan mengonfirmasi Konsili Ekumenis Ketujuh pada tahun 787. Dengan begitu, berakhirlah Krisis Ikonolasme.

Catatan kaki

  1. ^ Pounds, Norman John Greville. An Historical Geography of Europe, 1500-1840, hal. 124. CUP Archive, 1979. ISBN 0-521-22379-2.
  2. ^ Tom Burham, The Dictionary of Misinformation, Ballantine, 1977.
  3. ^ BBC - Timeline: Turkey.
  4. ^ Room, Adrian, (1993), Place Name changes 1900-1991, Metuchen, N.J., & London:The Scarecrow Press, Inc., ISBN 0-8108-2600-3 hal. 46, 86.
  5. ^ Britannica, Istanbul.
  6. ^ Lexicorient, Istanbul.
  7. ^ Koin-koin peringatan yang dikeluarkan pada era 330-an sudah menyebut kota itu Konstantinopolis (lihat, mis., Michael Grant, The climax of Rome (London 1968), hal. 133), atau "Kota Konstantinus". Menurut Reallexikon für Antike und Christentum, Jilid 164 (Stuttgart 2005), kolom 442, tidak ada bukti untuk tradisi bahwa Konstantinus secara resmi menjuluki kota ini "Roma baru" (Nova Roma). Mungkin saja sang kaisar menyebut kota ini "Roma kedua" (bahasa Yunani: Δευτέρα Ῥώμη, Deutéra Rhōmē) dengan dekrit resmi, seperti yang dicatat oleh sejarawan Gereja abad ke-5 Socrates dari Konstantinopel: Lihat Nama-nama Konstantinopel.
  8. ^ Sebuah deskripsi terdapat dalam Notitia urbis Constantinopolitanae.
  9. ^ Socrates II.13, dikutip oleh J B Bury, History of the Later Roman Empire, hal. 74.
  10. ^ J B Bury, History of the Later Roman Empire, hal. 75. et seqq.
  11. ^ Liber insularum Archipelagi, Bibliothèque nationale de France, Paris.
  12. ^ Margaret Barker, Times Literary Supplement 4 Mei 2007 hal. 26.
  13. ^ Procopius' Secret History: lihat P Neville-Ure, Justinian and his Age, 1951.
  14. ^ St. Sophia dialihfungsikan menjadi mesjid setelah Konstantinopel ditaklukkan Utsmaniyah, dan kini berfungsi sebagai museum.
  15. ^ Sumber kutipan: Scriptores originum Constantinopolitanarum, ed T Preger I 105 (Lihat A. A. Vasiliev, History of the Byzantine Empire, 1952, jilid I hal. 188).
  16. ^ T. Madden, Crusades: The Illustrated History, 114.
  17. ^ Justinian, Novellae 63 dan 165.
  18. ^ Early Medieval and Byzantine Civilization: Constantine to Crusades, Dr. Kenneth W. Harl.
  19. ^ Past pandemics that ravaged Europe, BBC News, November 7, 2005.
  20. ^ The Inheritance of Rome, Chris Wickham, Penguin Books Ltd. 2009, ISBN 978-0-670-02098-0 (halaman 260)




Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.