Rabu, 02 April 2014

Filled Under:

Prasejarah; Kapak Persegi

Nama kapak persegi berasal dari Von Heine Goldern berdasarkan penampang dari alat-alatnya yang berbentuk persegi panjang atau trapezium. Tempat penemuan kapak persegi di Indonesia adalah Sumatra, Jawa, Bali, Nusan Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi dan di Kalimantan. Pembuatan kapak-kapak ini diperkirakan terpusat di beberapa tempat, dari dari sini menyebar ke tempat-tempat lain.

Peningkatan tarap hidup manusia dalam hal memenuhi kebutuhan hidup selalu bersamaan dengan berkembangnya kemampuan dalam membuat alat-alat yang lebih maju. Peningkatan kemampaun dalam membuat peralatan ini terlihat dari hasil yang ditemukan pada masa bercocok tanam, ternyata lebih maju bila dibanding dengan masa berburu. Masa bercocok tanam di Indonesia dimulai kira-kira bersamaan dengan berkembangnya kemahiran mengupam alat-alat batu serta dikenalnya pembuatan gerabah.  Tradisi mengupam alat-alat batu telah dikenal luas di kalangan penduduk kepuauan Indonesia. Bukti-bukti peninggalan memperlihatkan tingkat kronologis serta hubungannya dengan daratan Asia Tenggara dan Asia Timur.
 
Alat-alat yang pada umumnya diasah (diupam) adalah kapak dan kapak batu, yang di beberapa tempat pengupaman juga dilakukan pada mata panah dan mata tombak. Kapak dan kapak batu ditemukan tersebar di seluruh kepulauan dan sering kali dianggap sebagai petunjuk umum tentang masa bercocok tanam di Indonesia.

Penemuan di luar Indonesia 

Di luar Indonesia alat semacam ini ditemukan juga di Malaysia, Thailand, Vietnam, Khmer, Cina, Jepang, Taiwan, Filipina, dan Polinesia. Pada umumnya kapak persegi berbentuk memanjang dengan penampang lintang persegi. Seluruh bagiannya diupam halus-halus, kecuali pada bagian pangkalnya sebagai tempat ikatan tangkai. Tajamannya dibuat dengan mengasah bagian ujung permukaan, bagian bawah landai ke arah pinggir ujung permukaan atas. Dengan cara demikian diperoleh bentuk tajaman yang miring seperti terlihat pada tajaman pahat buatan masa kini. Ukuran dan bentuknya bermacam-macam, bergantung pada penggunaannya. Yang terkecil ialah semacam pahat yang berukuran panjang kira-kira 4 cm dan terpanjang kira-kira 25 cm dipergunakan untuk mengerjakan kayu.

Di Indonesia

Nama kapak persegi itu berasal dari Von Heine Goldern, berdasarkan kepada penampang-alang dari alat-alatnya, yang berupa persegi panjang atau juga berbentuk trapezium. Yang dimaksud dengan kapak persegi itu bukan hanya kapak persegi saja, tetapi banyak lagi alat-alat lainnya dari berbagai ukuran dan berbagai keperluan; yang besar yaitu kapak atau pacul, dan yang kecil yaitu tarah, yang tentunya digunakan untuk mengerjakan kayu. Alat-alat itu semuanya sama bentuknya, agak melengkung sedikit, dan diberi tangkai yang diikat kepada tempat lengkung itu.

Kapak persegi di Indonesia ini terutama ditemukan di wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusan Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi dan di Kalimantan. Bahan yang digunakan untuk membuat kapak persegi kebanyakan menggunakan batu api dan batu Kalcedon. Pembuatan kapak-kapak ini diperkirakan terpusat di beberapa tempat, dari dari sini menyebar ke tempat-tempat lain. Hal ini berdasarkan pada tempat penemuan kapak persegi di beberapa tempat yang tidak memiliki bahan batu api, yang digunakan sebagai bahan pembuatannya, sedangkan di pusat pembuatannya banyak sekali ditemukan kapak persegi yang semunya telah diberi bentuk namun masih kasar atau belum dihaluskan. Hal ini menandakan kalau kapak persegi dihaluskan oleh pemakainya bukan pembuatnya. Adapun perkiraan pusat-pusat dari pembuatan kapak persegi antara lain di dekat Lahat (Palembang), dekat Bogor, Sukabumi, Karawang, Tasikmalaya (Jawa Barat), di daerah Pacitan (Madiun) dan lereng selatan Gunung Ijen (Jawa Timur). Di desa Pasirkuda dekat Bogor bahkan ditemukan sebagai batu asahan.

Tempat Situs Penelitian

Perhatian terhadap kapak dan kapak terupam halus di Indonesia mulai diberikan sekitar tahun 1850 oleh beberapa ahli dari Eropa. Waktu itu, bahan studi hanya berasal dari temuan lepas yang kurang jelas umur atau asalnya. Pengumpulannya diusahakan oleh sebuah perkumpulan swasta (antara 1800-1850) yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetwnschappen. Koleksi perkumpulan ini disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Hal tersebut sebenarnya diilhami oleh karangan terkenal G.E. Rumphius yang terbit pada tahun 1705 di Amsterdam, berjudul D Amboinsche Rariteitenkamer. Dalam buku tersebut terdapat bagian yang membicarakan alat-alat batu yang disangka buatan alam. Pendapat ini sama dengan anggapan orang kebanyakan pada waktu itu, dan juga sekarang di antara kalangan penduduk, yang menganggap kapak batu sebagai gigi kilat atau gigi guntur.

Setelah tulisan Rumphius itu, perhatian terhadap benda-benda prasejarah itu lenyap lagi. Berselang kira-kira satu setengah abad lamanya, barulah muncul beberapa pendapat dari C. Swaying dan W. Vrolik (1850), serta C. Leemans (1852). Buku karangan Leemans itu merupakan karya pertama yang menyajikan pemaparan yang baik terhadap alat-alat batu prasejarah di Indonesia. Pada waktu itu ia menjabat sebagai direktur museum barang kuno di Leiden. Karyanya didasarkan atas koleksi benda-benda prasejarah yang dikirimkan dari Indonesia oleh rekannya, Swaying. Hal seperti itu dilakukan juga oleh J.J. van Limburg Brouwer yang hasilnya terbit pada tahun 1872. Lima belas tahun berikutnya (1887), terbit karya C.M. Pleyte yang pada dasamya memberikan ikhtisar tentang zaman batu, terutama tentang kapak persegi dan kapak lonjong di Indonesia dan merintis pemikiran ke arah pelaksanaan klasifikasi dan distribusi jenis benda tersebut.

Dasar-dasar pemikiran inilah rupa-rupanya mengilhami karya dua orang sarjana kenamaan P.V. van Stein Callen-fels dan It von Heine Geldern dalam pembahasannya tentang distribusi dan kronologi kapak dan kapak lonjong di Indonesia yang dimulai sejak tahun 1920-an. Sangat disayangkan bahwa usaha-usaha yang berharga dari Pleyte dan para peneliti sebelumnya itu hanya didasarkan pada sumber-sumber yang diperoleh tanpa melakukan penggalian arkeologis, tapi lebih mengandalkan pada temuan-temuan yang nampak di atas permukaan tanah. Selanjutnya, berkembanglah penelitian-penelitian berupa penggalian-penggalian yang intensif berkat jasa Stein Callenfels.

Stein Callenfels mencoba menyusun kronologi alat-alat batu dari masa bercocok tanam, terutama atas dasar tipe-tipe kapak dan kapak persegi. Atas dasar tersebut tercapailah empat tingkat perkembangan. Tiap-tiap tingkat diwakili oleh bentuk-bentuk tertentu. Tingkat yang paling tua mempunyai bentuk yang paling sederhana dan tingkat-tingkat selanjutnya menunjukkan perkembangan yang lebih maju. Tingkat yang paling akhir, menurut pendapatnya, dibawa oleh orang-orang yang menggunakan bahasa Indonesia. Pendapat seperti ini, terutama pendekatan atas dasar tipologi, pada tingkat penelitian dewasa, kurang meyakinkan karena tidak disertai dengan kelengkapan data statigrafi.

Pengetahuan kita tentang masa bercocok tanam di Indonesia sebenarnya sangat terbatas karena data arkeologis belum terungkap secara lengkap. Penelitian berupa ekskavasi-ekskavasi baru dilakukan di beberapa tempat di Jawa dan Sulawesi. Dari tempat-tempat lain, bahannya hanya berupa temuan lepas yang berhasil dikumpulkan dari permukaan tanah pada waktu melakukan survei lapangan atau sebagai hasil pembelian dari penduduk. Pengolahan data menjadi sulit karena konteks asli dengan lapisan tanah yang mengandungnya ataupun hubungannya dengan tingkat budaya lain tidak dapat diikuti dengan tepat.

Penelitian di Sulawesi dilakukan di pinggir Sungai Karama di desa-desa Sikendeng, Minanga Sipakka, dan Kalumpang. Penggalian di Sikendeng (sebuah desa yang terletak beberapa kilometer dari muara) dilakukan oleh A.A. Cense dan Stein Callenfels pada tahun 1933.Hasil penggalian tersebut terdiri dari kapak-kapak persegi dan sejumlah kereweng polos (tak berhias). Selanjutnya, pada tanggal 25 September sampai dengan 17 Oktober 1933, Stein Callenfels meneruskan penelitiannva ke arah lulu Sungai Karama (93 km dari muara) di dekat Desa Kalumpang, di atas bukit kecil Kamasi. Stein Callenfels mencatat temuan berupa beberapa buah kapak persegi terupam halus, kereweng-kereweng polos dan dan ada pula yang berhias dalam jumlah cukup banyak, kapak-kapak setengah jadi (calon kapak), sebuah kapak bahu yang masih kasar, fragmen-fragmen gelang batu, mata panah yang terasah, pisau batu atau bilah-bilah pisau batu bertajaman miring yang menunjukkan persamaan dengan temuan di Tembiling (Malaysia), dan beberapa kapak perimbas.

Karena pentingnya penemuan di Kalumpang itu, HR. van Heekeren melakukan penggalian ulang di tempat yang sama pada tahun 1949 (23 Agustus-September 1949). Penggalian dilakukan pada lereng selatan bukit Kamasi, sedangkan Stein Callenfels melakukan penggaliannya di lereng timur. Dalam laporannya Heekeren mengatakan bahwa tempat tersebut telah hancur keadaannya sebagai akibat dari kegiatan pertanian yang berulang-ulang dilakukan oleh penduduk setempat. Lapisan tanah yang mengandung budaya prasejarah telah bercampur aduk dengan yang lainnya. Di sini ia menemukan tempat perpaduan tradisi kapak persegi dengan tradisi kapak lonjong, tetapi masa perkembangan tiap-tiap tradisi tersebut di Kalumpang belum dapat diketahui dengan pasti karena lapisan budaya yang mewakili kedua tradisi tersebut telah bercampur baur.” Selain jenis kapak persegi yang umum, di Kalumpang ditemukan pula jenis kapak berbentuk biola dan kapak batu sederhana. Kapak bentuk umum dibuat dari batuan rijang (chert) berwarna kelabu dan hijau, sedangkan kapak biola dari batu sabak. Ekskavasi Heekeren menghasilkan juga mata panah dan mata tombak yang diasah, calon-calon kapak, sebuah pemukul kulit kayu, dan sebuah bendy lambing phallus  dari terakota.

Heekeren juga menemukan sebuah situs lain yang cukup kaya akan penemuan prasejarah di Minanga Sipakka (1 km sebelah barat Kalumpang). Dari guguran tebing Sungai Karama di Minanga Sipakka, ia berhasil menemukan kapak-kapak lonjong, calon-calon kapak, sebuah pukul kulit kayu, dan sejumlah kereweng polos dan berhias. Penemuan ini terjadi ketika ia dalam perjalanan pulang dari Kalumpang. Heekeren menduga bahwa temuan-ternuan di Minanga Sipakka ini berasal dari masa yang lebih tua. Namun ternyata jenis kapak persegi tidak ditemukan di tempat ini.

Guna memperoleh keterangan tentang umur temuan-temuan di Kalumpang, W.F. van Beers telah melakukan penelitian geologi. Atas dasar hasil penelitian itu umur Kalumpang ditaksir amat muda, yaitu 1.000 tahun yang lalu. Heekeren menempatkan kira-kira paling sedikit 600 tahun yang lalu dan dianggap sebagai contoh retardasi budaya sebagai akibat dari sikap sosial yang terisolasi rapat dari dunia luar.

Penggalian di Jawa dilakukan oleh Heekeren terhadap sebuah situs Kendenglembu (Banyuwangi) pada tahun 1941. Tempat ini mula-mula ditemukan oleh W. van Wijland dan J. Buurman dalam tahun 1936. Karena hasil penggalian Heekeren serta catatan-catatannya telah lenyap akibat keadaan kacau ketika perang Dunia II, diputuskan untuk melakukan penggalian pada tahun 1969. Penggalian ulang tersebut dilakukan oleh Lembaga Purbakala dan peninggalan Nasional di bawah pimpinan RP. Soejono.”

Penggalian tersebut menghasilkan dua lapisan budaya yang batasnya agak jelas. Lapisan pertama (paling atas) mengandung lapisan historis yang temuannya antara lain terdiri dari uang kepeng, fragmen keramik, gerabah-gerabah berhias (dari masa Majapahit), dan pecahan bata. Lapisan kedua (di bawah lapisan pertama) mengandung kapak persegi, kereweng-kereweng polos berwama merah, sejumlah kapak setengah jadi, batu-batu asahan berhias, dan serpih-serpih batu yang pada urnumnya tidak dapat ditemukan sebagai alat. Benda-benda temuan dari lapisan kedua tersebut memberikan petunjuk tentang perbengkelan dan tempat tinggal masyarakat bercocok tanam.

Penyelidikan selanjutnya berupa penelitian lapangan di beberapa daerah penemuan serta penggalian percobaan. Penggalian percobaan pernah dilakukan di Leles (Kabupaten Garth, Jawa Barat) pada tahun 1968, dan di Kelapadua (Cimanggis, Kabupetan Bogor) pada tahun 1971. Leles tidak banyak menghasilkan kapak. Kapak dari Leles hampir semuanya berasal dari temuan-temuan lepas yang ditemukan pada waktu survei. Umur yang lebih menonjol berupa alat-alat obsidian yang menunjukkan banyak persamaan dengan alat-alat obsidian dari Bandung.

Lokasi temuan kapak persegi di DKI Jaya antara lain: di Kampung Kramat, Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati; yang diteliti oleh tim Teguh Asmar, Dirman Surachmat, dan Made Sutavasa, pada tahun 1968. Penelitian ini kemudian dilakukan lagi pada tahun 1971, 1977, 1979, 1980, dan 1982. Temuan berupa kereweng, fragmen, kapak, serpih, batu asap, dan kapak persegi berjumlah 4 buah. Situs pejaten, Kelurahan Pejaten Kecamatan Pasar Minggu. Situs ini digali oleh Dinas Museum DKI pada tahun 1973 dan 1974. Hasil temuan berupa kereweng, fragmen dan kapak persegi utuh, fragmen cetakan kapak dari tanah liat yang dibakar, gelang dan cincin perunggu, fragmen alat besi, terak besi, dan bulatan dari tanah liat, fragmen cawan berkaki, batu asahan, dan serpih.

Situs Condet, Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, diteliti oleh Dinas Museum DKI tahun 1976, 1977, 1979, dan 1980. Temuan berupa kereweng, batu asahan, serpih, fragmen kapak persegi, fragmen logam,dan bulatan tanah. Tanning Barat, Kelurahan Tanjung Barat, Kecamatan Jagakarsa, diteliti tahun 1983 oleh Dinas Museum DKI. Flash temuan berupa kereweng, serpih batu asahan, cetakan dari tanah liat, terak besi, moluska, dan sisa tulang binatang. Pondok Cina, Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Depok. Penelitian dilakukan oleh Dinas Museum tahun 1984. Hasil temuan berupa serpih, dari penduduk diperoleh 5 buah kapak persegi.

Tempat penemuan di Klapadua yang terletak di tepi sungai Ciliwung ternyata telah hancur karena erosi dan akibat kegiatan pertanian oleh penduduk. Sisa-sisanya hanya sedikit yang ditemukan dalam ekskavasi. Sebagian besar benda temuan berasal dari permukaan tanah. Walaupun demikian, dapatlah dipastikan bahwa Klapadua pernah didiami manusia. Pecahan kapak ditemukan berserakan di permukaan tanah. Batu-batu asahan dan pecahan gerabah tak berthas ditemukan di permukaan tanah sampai ke tepi sungai. Tempat ini diduga sebagai perbengkelan dan tempat tinggal yang menghasilkan kapak-kapak. Ini yang terjadi di tempat¬-tempat lain di Jawa Barat, seperti di Purwakarta, Tasikmalaya, dan di sekitar Bogor.

Daerah pantai utara Jawa Barat, yang memanjang dari Tangerang hingga Rengasdengklok juga menghasilkan banyak kapak persegi. Koleksi dari daerah ini umumnya merupakan basil pembelian dari penduduk yang melakukan penggalian liar atau menemukan secara kebetulan ketika mengerjakan sawah, jalan desa, atau kebun.Tempat-tempat temuan di pantai Rengasdengklok terletak di sepanjang daerah aliran sungai Bekasi, Citarum, Ciherang, dan Ciparage. Unsur-unsur dari masa yang lebih muda lebih banyak memperlihatkan pengaruhnya di tempat-tempat tersebut dan kemudian mempengaruhi daerah pedalaman melalui keempat sungai tersebut.

Situs Pasir Angin, Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulan, Kabupaten Bogor diteliti sejak tahun 1971-1975, dan 1991-1995 oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Temuan beragam berupa artefak logam, artefak batu, manik-manik, dan kapak persegi, fauna, arang, dan sebagainya.”

Situs Panumbangan, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, tahun 1954 Erdbrink pernah melakukan penelitian di wilayah ini dan menemukan panah, serpih, dan bor. Pada tahun 2000 dan 2003 tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional melakukan penelitian di wilayah ini. Hasil temuan berupa serpih, colon kapak persegi, oleh penduduk ditemukan beberapa kapak persegi. Situs Cipari, Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, diteliti oleh T. Asmar tahun 1972-1978.Hasil temuannya berupa peti kubur batu, artefak logam, gerabah, gelang batu, dan kapak persegi. Situs Limbasari, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, diteliti oleh Balai Arkeologi Yogyakarta pada tahun 1981-1983. Hasil temuannya berupa kapak persegi, calon kapak persegi, alat serpih, batu pukul, dan batu asah.

Tipar Ponjen, Kelurahan Ponjen, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, diteliti tahun 1984. Hasilnya berupa bahan gelang batu, fragmen gelang batu, fragmen calon kapak persegi, kapak persegi, batu asah, tatal batu, dan batuan.” Situs Ngerijangan, Desa Sooka, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, sejak awal abad ke-19 telah diteliti oleh para ahli, antara lain, Koeningswald, Marks, Flathe dan Pfeiffer, Verstappen, Balasz, Sartono, Soejono, Tweedie, Movius, Heekeren, dan Barstra. Penelitian terutama dilakukan di situs Padangan, Ngerijang, Sengon, dan Ngerijangan. Ratusan pecahan rijang sebagai produk buangan pembuatan kapak persegi dan mata panah ditemukan tersebar. Temuan utama dari situs ini adalah kapak persegi, calon kapak, mata panah, calon mata panah, dan serpih.

Bentuk dan jenis
Berbicara mengenai sebuah peralatan, tentunya kita tidak akan terlepas dari yang namanya sebuah bentuk dasar, ada beberapa variasi yang kita kenal dari kapak persegi. Variasi yang paling umum ialah “belincung”, yaitu kapak punggung tinggi, karena bentuk punggung tersebut penampang lintang berbentuk segitiga, segi lima, atau setengah lingkaran. Belincung dan kapak pada umumnya dibuat dari jenis batuan setengah permata dan tergolong benda yang terindah dalam perbendaharaan kapak-kapak batu di dunia. Variasi ini biasanya ditemukan di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Bali. Belincung ditemukan pula di Semenanjung Malaya dan istilah yang digunakan untuk jenis benda ini ialah kapak paruh. Jenis kapak yang berpenampang lintang setengah lingkaran dengan garis dasar lebih kurang cekung itu oleh Heekeren digolongkan sebagai jenis “kapak perisai”, karena bentuknya menyerupai perisai lonjong. Jenis kapak ini terutama ditemukan di Jawa dan luar Indonesia. Bentuk semacam ini juga terdapat pula di Polinesia Timur. Variasi-variasi lain telah ditemukan di kepulauan Indonesia sebagai temuan-temuan lepas dan jumlahnya tidak begitu banyak.

Sudah dikatakan bahwa variasi yang paling umum dari kapak persegi adalah kapak yang ditemukan di Jawa, Sumatra, dan Bali. Selain itu, ada pula variasi-variasi lain seperti kapak bahu, kapak tangga, kapak atap, kapak bentuk biola, dan kapak penarah. Bentuk-bentuk variasi ini ditemukan di beberapa daerah saja dan jumlahnya pun sangat terbatas. Tempat-tempat penemuannya terutama di daerah utara dan daerah timur kepulauan Indonesia. Variasi-variasi kapak persegi merupakan instruksi dari luar dan bentuk-bentuknya menunjukkan persamaan dengan bentuk-bentuk di daerah luar Indonesia yang menyebar dari Cina melalui kepulauan-kepulauan di utara Indonesia ke arah Polinesia Timur. Variasi-variasi yang khas tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

Kapak bahu sederhana. Jenis ini khusus ditemukan di Kalumpang. Tangkainya dipersiapkan secara kasar dan tidak rapi, serta tidak sesimetris seperti pada tangkai kapak bahu yang umum tersebar di daratan Asia. Pengupaman dilakukan pada sebagian permukaan alat, terutama pada bagian tajaman. Jenis kapak sederhana ini juga ditemukan di Cina (Sechwan, Kwantung), Jepang, Taiwan, dan Filipina (Botel Tobago).

Kapak tangga hanya beberapa buah ditemukan di Sulawesi, tetapi di luar Indonesia jenis ini tersebar di Cina Selatan, pantai timur daratan Asia Tenggara, Taiwan, dan Filipina. Bagian pangkal pada permukaan alas alat dibuat lebih rendah, seakan-akan merupakan tangga turun setingkat, guna memperkukuh ikatan pada tangkai. Sebuah bentuk lain yang sangat jarang dan juga ditemukan di Sulawesi adalah kapak gigir. Sebuah gigir yang sejajar dengan garis lebar pangkal kapak dibuat di permukaan atas dengan cara memukul-mukul batu sampai tercapai bentuk gigiran tersebut. Variasi semacam ini telah ditemukan di pulau-pulau Taiwan, Hoifu (Hong Kong), Luzon, dan Selandia Baru.

Kapak atap tersebar di Jawa Timur, Bali, dan kepulauan Maluku. Di luar Indonesia jenisnya dijumpai di Polinesia Timur. Alat ini tebal dengan kedua sisi sampingnya miring ke arah permukaan bawah sehingga membentuk penampang lintang berbentuk trapesium.

Kapak biola ditemukan hanya di Kalumpang bersama-sama dengan kapak batu sederhana. Kedua sisi sampingnya cekung sehingga alatnya menyerupai biola. Bentuk penampang lintangnya agak lonjong. Pengupaman dilakukan sekadarnya pada permukaan alat, khususnya pada tajaman. Jenis alat ini terdapat juga di Jepang, Taiwan, dan Botel Tobago.

Kapak penarah. Bentuk alat ini panjang dengan penampang lintang persegi empat yang sisi-sisinya cembung atau penampang lintangnya hampir bundar, tajamannya cekung di bawah. Jenis kapak ini umumnya berukuran besar dan hanya beberapa berukuran kecil. Yang berukuran besar mungkin digunakan untuk menarah batang pohon guna membuat sampan. Alat ini ditemukan di Jawa Timur dan Bali. Jenis alat ini terdapat pula di Selandia Baru dan di Polinesia Timur.

Beberapa variasi lain yang menarik adalah kapak batu yang berbentuk khusus dan kapak persegi yang menerima pengaruh dari bentuk kapak perunggu. Kapak bahu yang berbentuk khusus itu mempunyai gagang yang panjang, bahu cekung, mata kapak yang pendek, dan tajaman yang berpinggiran cembung serta miring. Sebuah dari variasi ini ditemukan di daerah Bogor (Jawa Barat), yang berwarna cokelat kekuningan dan sebuah lain lagi ditemukan di Kalumpang, yang berwarna kehitaman. Kapak yang menerima pengaruh bentuk kapak perunggu memperlihatkan tajaman yang melebar, melebihi ukuran leher kapaknya sendiri. Variasi ini ditemukan terbatas di Jawa Barat (sekitar Tangerang dan Jakarta) dan di Jawa Tengah (Gunung Kidul).

Dari temuan-temuan lepas dapat diketahui persebaran kapak persegi, termasuk bentuk-bentuk variasinya di Sumatra (Bengkulu, Palembang, Lampung), Jawa (Banten, Bogor, Cibadak, Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, Pekalongan, Banyumas, Semarang, Kedu, Yogyakarta, Wonogiri, Punung, Surabaya, Madura, Malang, Besuki), Kalimantan, Sulawesi, Bali, Solor, Adonara, Ternate, Maluku, dan Sangihe Talaud. Di antara tempat-tempat tersebut ada yang dapat diperkirakan sebagai bengkel-bengkel kapak persegi seperti di desa Bungamas, Palembang (antara Lahat-Tebing Tinggi), di Karangnunggal (Tasikmalaya), di desa Pasir Kuda (Bogor), di daerah pegunungan Karangbolong dekat Karanganyar (Jawa Tengah), dan di Punung dekat Pacitan (Jawa Timur).

Kalau kita ikuti daerah penemuan kapak-kapak tersebut, dapat dikatakan bahwa jenis-jenis kapak persegi berkembang luas di Kepulauan Indonesia, terutama di daerah kepulauan bagian barat. Suatu hal yang harus kita ingat ialah bahwa kapak-kapak persegi telah dibuat sendiri di beberapa tempat yang daerahnya menyediakan bahan mentah. Punggung kapak pada umumnya memperlihatkan perimping-perimping dan patahan-patahan pada tajaman yang membuktikan penggunaan secara intensif. Kapak-kapak yang ditemukan dalam keadaan utuh diduga mempunyai fungsi magis atau digunakan sebagai benda tukar dalam sistem perdagangan sederhana.

Pemasangan pada tangkai

Apabila pada zaman paleolitikum penggunaan kapak dari batu ini langsung dipenggang dengan menggunakan tangan, tampa menggunakan alat lain. Lain halnya dengan zaman neolitikum, mereka pada masa itu sudah mengenal tangkai sebagai bahan yang digunakan untuk mengikat kapak dan digunakan sebagai pegangan. Cara memasangkan mata kapak pada tangkai ialah dengan memasukkan bendanya langsung dalam lubang yang khusus dibuat pada ujung tangkai atau memasangkan mata kapak pada gagang tambahan yang kemudian diikatkan menyiku pada gagang pokoknya. Pada kedua cara ini, mata kapak dipasangkan vertikal.

Penambahan alat dalam menggunakan kapak dari batu ini merupakan sebuah inovasi yang mampu dikembangkan oleh manusia pada zaman prasejarah. Mereka terus berinovasi untuk menghasilkan yang lebih baik dan efisien, termasuk kenyamanan dalam menggunakannya. Tangkai kapak atau gagang kemungkinan berbahan dasar dari kayu dan sejenisnya. Kayu-kayu tersebut mereka bentuk sedemikian rupa sehingga mudah untuk memasang mata kapak atau kapak persegi dan mudah dalam memegangnya.

Sumber Rujukan:
Bellwood, Peter, (2000). Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Driwantoro, Dubel, dkk, (2003). Potensi Tinggalan-Tinggalan Arkeologi di Pulau Nias, Prov. Sumatera Utara. Jakarta: Puslit Arkenas dan IRD (tidak diterbitkan).
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. (2008). Sejarah Nasional Indonesia jilid I (Zaman Prasejarah di Indonesia). Jakarta: Balai Pustaka.
Soekmono. (1990). “Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 1. Kanisius
Soejono, R.P. (ed.), (1990). Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.




Sumber

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.