Jumat, 24 Januari 2014

Raja dan Tokoh Mangkunegara 5

Mangkunegara VII

KGPAA. Mangkunegara VII (lahir 12 November 1885 - wafat 1944) adalah pemegang tampuk pemerintahan Mangkunegaran dari tahun 1916 - 1944. Ia adalah salah seorang putera dari Mangkunegara V. Ia menggantikan pamannya, Mangkunegara VI, yang mengundurkan diri pada 11 Januari 1916.
Mangkunegara VII adalah seorang penguasa yang dianggap berpandangan modern pada jamannya. Ia berhasil meningkatkan kesejahteraan di wilayah Praja Mangkunegaran melalui usaha perkebunan (onderneming), terutama komoditas gula. Mangkunegara VII juga seorang pencinta seni dan budaya Jawa, dan terutama mendukung berkembangnya musik dan drama tradisional.

Keluarga

Mangkunegara VII terlahir dengan nama Raden Mas Soerjo Soeparto. Ia adalah anak ketujuh atau anak lelaki ketiga dari 28 bersaudara anak-anak dari Mangkunegara V.[1]
Anak putri tertua Mangkunegara VII, yaitu BRAy. Partini, menikah dengan P.A. Husein Djajadiningrat, seorang sejarawan dan ningrat dari Serang, Banten.

Biografi

Mangkunegara VII, dikenal pada zamannya sebagai bangsawan modern yang berkontribusi banyak terhadap kelangsungan kebudayaan Jawa dan gerakan kebangkitan nasional. Ia sempat mengenyam pendidikan di Universitas Leiden di Belanda selama tiga tahun, sebelum pulang ke Indonesia untuk menggantikan pamannya, Mangkunegara VI yang mengundurkan diri tahun 1916.
Semangat Mangkunegara VII untuk mencari ilmu pengetahuan sudah tampak sejak muda, ketika pamannya Mangkunegara VI melarangnya untuk masuk HBS, ia memilih untuk berkelana dan menjalani hidup di luar keraton; menjadi penerjemah bahasa Belanda-Jawa dan mantri di tingkat kabupaten. Sedangkan kecintaannya terhadap budaya Jawa ditunjukkan melalui peranannya yang aktif dalam mendirikan lembaga studi Cultuur-Wijsgeerige Studiekring (Lingkar Studi Filosofi-Budaya) dan lembaga kebudayaan Jawa Java-Instituut, tidak luput juga karya ilmiahnya tentang simbolisme wayang Over de wajang-koelit (poerwa) in het algemeen en over de daarin voorkomende symbolische en mystieke elementen (1920).
Ia juga turut menjadi tokoh di dalam organisasi pergerakan nasional Boedi Oetomo dan penasehat di organisasi pelajar Jong Java. Pada tahun 1933, ia memprakarsai didirikannya radio pribumi pertama di Indonesia yaitu SRV (Solosche Radio Vereniging) yang memancarkan program-program dalam bahasa Jawa.
Selain itu ia juga seorang perwira KNIL dengan jabatan Kolonel pada masa hidupnya, dengan jabatan ini ia juga merangkap sebagai komandan Legiun Mangkunegaran, sebuah tentara kecil yang terdiri dari prajurit Mangkunegaran.
KGPAA. Mangkunegara VII beserta permaisuri GKR. Timur.

Mangkunegara VII, menerima laporan dari korps perwira Legiun Mangkunegaran di pendopo Pura Mangkunegaran.

Referensi

  1. ^ Suwaji Bastomi (1996). Karya budaya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara I-VIII, IKIP Semarang Press.
Sumber
========================================================================

Mangkunegara VIII

Mangkunegara VIII dan GKP. Tuti

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VIII (lahir di Kartasura, 7 April 1925 – meninggal di Surakarta, 2 Agustus 1987 pada umur 62 tahun, mulai berkuasa 1944) adalah penguasa Praja Mangkunegaran terakhir yang mengalami masa kolonial Belanda dan yang pertama kali pada masa Indonesia merdeka.
Baru saja dilantik dan kemudian harus menghadapi arus perubahan politik yang besar, Mangkunegara VIII (bersama Pakubuwana XII) kesulitan memposisikan diri untuk menjaga kedaulatan wilayah. Akibatnya wilayah Daerah Istimewa Surakarta (termasuk Mangkunegaran) digabungkan ke dalam Provinsi Jawa Tengah sejak 1950.
Perjuangan Mangkunegara VIII dalam krisis keberadaan Pura Mangkunegaran dijalaninya dengan menempuh jalan yang formal seperti ketika mempersoalkan aset-aset Mangkunegaran yang diambil alih pengelolaannya oleh pemerintah tanpa pembicaraan. Meski kemudian ternyata kalah dalam pengadilan, Mangkunegara VIII tetap menjalankan roda monarki Mangkunegaran dengan berbagai upaya dan usaha.
Mangkunegara VIII dalam kancah kesenian sangat berjasa dalam menggali kembali Tari Bedaya Anglir Mendung, sebuah tarian ciptaaan Mangkunegara I yang menghilang. Pada tahun 1970 oleh Mangkunegara VIII digali kembali dan dihidupkan. Selain menggali kembali Tari Bedaya Anglir Mendung, ia juga menciptakan sebuah tarian kerakyatan yang disebut Tari Gambyong Retno Kusumo.
Mangkunegara VIII wafat tahun 1987 dan digantikan oleh putra ketiganya, GPH. Sujiwakusuma, sebagai KGPAA. Mangkunegara IX.



Sumber

Raja dan Tokoh Mangkunegara 4

Mangkunegara VI

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI (1896-1916) bernama kecil BRM. Suyitno atau KPA. Dayaningrat, adalah adik dari Mangkunegara V dan memerintah di Mangkunegaran sebelum kemudian digantikan oleh keponakannya, Mangkunegara VII. Lahir 1 Maret 1857, ayahnya adalah Mangkunegara IV dan ibundanya adalah RAy. Dunuk, putri dari Mangkunegara III.
Mangkunegara V tidak digantikan oleh putranya langsung karena puteranya belum mencapai kematangan untuk berkuasa. Menurut KPH. Gondosuputro, tampilnya Mangkunegara VI sebagai penguasa menggantikan kakaknya adalah pesan dari ayahandanya Mangkunegara IV yang disampaikan oleh ibundanya RAy. Dunuk agar Mangkunegara V penerusnya adalah yang berasal dari Mangkunegara IV.

Kontroversial Pergantian Tahta

Pergantian tahta dari Mangkunegara V ke adiknya yang kemudian bergelar Mangkunegara VI menyisakan sejumlah pertanyaan, namun jalannya pemerintahan Kadipaten tetap menjadi pertaruhan yang besar dan seakan akan mengalahkan persoalan persoalan yang menurut ukuran Jawa adalah yang prinsipial. Mangkunegara V yang menderita sakit akibat terjatuh dari kuda di hutan kutu Wonogiri berkelanjutan dengan wafatnya sang Adipati.
Sang Adipati tidak digantikan oleh puteranya tetapi oleh adiknya yang tidak memiliki hak atas tahta, justru membuat sejarah baru dalam sistem pergantian kekuasaan di Mangkunegaran. Berbagai argumen dapat diajukan untuk menjawab keganjilan tetapi konsep kekuasaan bahwa pemerintahan Praja Mangkunegaran tidak boleh kosong merupakan senjata yang paling piawai untuk meniadakan ketidakpuasan.

Tampil Sebagai Penguasa

Mangkunegara VI mulai bertahta pada tanggal 21 November 1896, dan selanjutnya tampil sebagai penguasa yang membawa pembaharuan dan perubahan. Berbeda dengan kakaknya Mangkunegara V yang mengedepankan Kesenian, Mangkunegara VI lebih mengedepankan keuangan dan ekonomi sehingga kas kerajaan yang di zaman kakaknya memerintah hampir kosong oleh Mangkunegara VI digemukkan kembali. Segala macam kebutuhan yang menghisap keuangan dan tidak terlalu utama disingkirkan untuk efisiensi. Keuangan Mangkunegaran pada masa itu sedang jatuh akibat kurang tertibnya manajemen pengelolaan dalam bisnisnya. Di samping itu, harga gula di pasaran dunia juga sedang jatuh karena mendapat pesaing baru dari Brasil. Pada masa Mangkunegara VI ini, utang kerajaan yang ditinggalkan pendahulunya dapat dilunasi.
Mangkunegara VI juga mempelopori model penampilan dengan pemotongan rambut yang pendek dengan memotong rambutnya sendiri dan semua pejabat serta kawula diwajibkan untuk tidak memelihara rambut panjang bagi laki laki. Sembah sungkem kepada atasan juga diubah tidak berkali-kali, tetapi cukup tiga kali. Ikatan dengan Kasunanan yang mewajibkan Mangkunegara harus menghadap setiap persidangan kerajaan diputus sehingga Mangkunegaran selain otonom juga menjadi pesaing semakin serius dalam memperebutkan hegemoni kebudayaan di Jawa.
Sebelum Mangkunegara VI bertahta, sistem pertemuan dengan duduk dilantai dan pada masa pemerintahannya diubah dengan sistem duduk di kursi dan hal ini adalah yang pertama kali sejak Mangkunegaran berdiri. Mangkunegara VI pulalah yang memberi izin bagi kerabat pura untuk memeluk agama Kristen.

Perekonomian Mangkunegaran

Terhitung 1 Juni 1899 semua kepengurusan perusahaan perusahaan Mangkunegaran kembali lagi ke Praja Mangkunegaran dengan pengendali langsung oleh Mangkunegara VI yang memisahkan antara keuangan perusahaan dan keuangan kerajaan. Akibat dari kebijakan penguasa Mangkunegaran ini, semua perusahaan berada dalam kontrol seorang superintenden (Wasino, 2008) dan campur tangan residen Belanda dalam keuangan perusahaan berakhir. Sektor-sektor ekonomi pedesaan tradisional diubah menjadi modern dengan jalan memperbanyak perkebunan dengan ditanami kopi, nila, tebu, atau gula di wilayah Praja (Lombard, 1996). Kondisi wilayah Mangkunegaran yang agraris difungsikan dan dikelola dengan prinsip keteraturan warisan ayahnya.
Konflik antara Residen dengan Mangkunegara VI sering terjadi dalam tarik ulur karena pihak Mangkunegaran yang memiliki otonomi pengaturan menolak campur tangan Residen. Residen Surakarta Van Wijk melakukan intervensi dengan cara pihak Mangkunegaran diwajibkan untuk konsultasi dalam melakukan anggaran keuangan kerajaan. Disamping itu Mangkunegara VI juga pernah melakukan penyitaan terhadap Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (perusahaan kereta api swasta Belanda), yang tidak mampu membayar pajak untuk tanah-tanah yang disewanya.

Politik Dan Kebijakan Pemerintahan

1. Politik Ikat Pinggang
Politik ikat pinggang menerangkan pada maksud bahwa demi menyelamatkan Mangkunegaran dari keterpurukan dan kebangkrutan sebagai suatu kadipaten, maka efisiensi penggunaan keuangan diupayakan untuk ditekan sedemikian rupa sehingga keterpurukan yang mengancam pada kebangkrutan dapat diatasi.
2. Kebijakan Praja
Kebijakan yang diterapkan sehubungan dengan target memperoleh kembali perolehan yang memadai menyebabkan sang penguasa memperoleh predikat sebagai penguasa dan pedagang (Tempo, 16 Mei 1987), hal mana yang demikian ini kemudian hari ditiru dan diikuti oleh Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Dari aktivitas penguasa yang juga berperan sebagai seorang saudagar di kalangan Jawa sering terungkap istilah ndoro Bakulan.
Semua tanah di wilayah Mangkunegaran dicabut dari tradisi dan dijadikan perkebunan-perkebunan yang menghasilkan di pasaran dunia.
3. Kebijakan Dalam Reorganisasi Legiun
Jabatan Komandan Utama Legiun Mangkunegaran secara otomatis berada di tangan Mangkunegara yang sedang bertahta dengan pangkat Kolonel. Di bawah Komandan Utama adalah Wakil Komandan yang pada waktu itu dijabat oleh KPH Gondosuputra. Perampingan organisasi untuk kesesuaian anggaran dijalankan oleh Mangkunegara VI dengan menghapus jabatan Wakil Komandan. KPH Gondosuputra, oleh Mangkunegara VI diberhentikan dengan hormat sebagai pensiunan Letnan Kolonel Wakil Komandan Legiun Mangkunegaran
4. Sewa Tanah
Sewa tanah yang dijalankan oleh penguasa Mangkunegaran yang keenam adalah sewa tanah di Banjarsari, Surakarta. Tanah ini disewakan kepada bangsa Belanda untuk digunakan sebagai pemukiman elit. Dengan tumbuhnya pemukiman elit, tanah di Banjarsari menjadi Villa park yang menghasilkan pemasukan finansial bagi praja.

Keamanan Wilayah

Para gerombolan kecu-bandit yang telah lama beroperasi di wilayah Mangkunegaran dan sekitarnya, mulai berhitung ulang dengan tampilnya raja ke enam di Mangkunegaran. Raja yang digosipkan kikir/pelit dalam keuangan ini, terhadap kelompok hitam menghadapinya dengan tangan besi. Para Polisi Praja yang bertugas dan bertanggung jawab terhadap keamanan tidak tanggung-tanggung kena sanksi oleh sang raja bila sampai kalah menghadapi para gerombolan tersebut. Kekalahan para penjaga keamanan wilayah merupakan suatu petaka yang meresahkan karena selain menjarah harta benda, para berandal-kecu-bandit juga melakukan pembunuhan dan perkosaan.
Operasi polisional bersama dengan Kasunanan di perbatasan tidak jarang berakhir dengan konfliknya Mangkunegara VI dengan Residen Surakarta karena pihak Residen yang menjadi polisional di Kasunanan tidak bersungguh hati memberantas sehingga kawanan perampok/berandal yang lari di perbatasan wilayah begitu masuk Kasunanan sudah dapat ditengarai bakal membikin kerusuhan kembali karena tidak ada tindakan menghukumnya.
Pasca perang Jawa 1830 dengan menjamurnya perluasan perkebunan, para berandal/kecu/perampok lokal yang kecewa semakin tumbuh berkembang di wilayah kerajaan dan kadipaten.Dalam masa ini dikenal jenis bandit bandit pedesaan sebagai kecu dan koyok (Suara Merdeka, 2009). Kecu adalah sebutan yang mengacu pada sekawanan orang yang beroperasi menjarah secara paksa korban dengan penyiksaan dan pembunuhan, sedangkan koyok mengacu pada pengertian kecu tetapi jumlah orangnya terbatas/sedikit (Suhartono, 1995).
Pada tahun 1872 di wilayah Mangkunegaran tercatat ada 24 peristiwa yang dilakukan oleh para kecu dan koyok (Wasino, 2008). Bila dalam setahun terjadi 24 kriminalitas maka bisa dihitung dalam rata rata setiap bulan terjadi dua kali kejadian kriminalitas kejahatan perampasan dan pembunuhan. Puncak kegeraman Mangkunegara VI terjadi ketika sekawanan kecu pada 15 November 1883, mengamuk dan membunuh istri tua seorang bekel di Desa Kretek, Sragen. Mangkunegara VI langsung tunjuk hidung bahwa polisi praja kurang bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas kerajaan (Suara Merdeka, 2009).

Kesenian Wayang Wong

 Mangkunegara VI bersama permaisuri.

Kesenian wayang wong sebagai seni pertunjukkan secara tradisi dikembangkan oleh Mangkunegara I yang bertahta 1757-1795. Sebagai seni pertunjukan kraton, kesenian wayang wong secara tradisi mulai dari Mangkunegara I oleh penerusnya ditradisikan secara turun temurun menjadi suatu model pembelajaran yang bernilai pesan, pengetahuan dan juga sosial disamping hiburan.
Pada saat Mangkunegara VI memegang tampuk di Mangkunegaran, kondisi keuangan sedang krisis dan kerajaan terjerembab dalam utang kepada Belanda. Terhadap krisis yang melanda kerajaan ini, para Mangkunegara sudah belajar dari kakek moyangnya dan tidak akan mengulang untuk jatuh di jalan yang sama.
Kesenian wayang wong yang sudah menjadi tradisi seni kraton oleh sang adipati dikurangi aktivitasnya. Pengurangan ini bukan berarti mematikan karena kesenian wayang wong yang dikembangkan oleh Gan Kam tidak dihambat apalagi dilarang perkembangannya. Gan Kam adalah keturunan Cina yang memiliki hubungan kedekatan dengan dinasti Mangkunegaran. Pada zaman Mangkunegara V, Gan Kam berhasil melobi sang adipati untuk diizinkan membawa keluar kesenian wayang wong keluar tembok istana untuk dipasarkan supaya seni pertunjukan ini dapat dinikmati sebagai pertunjukan oleh masyarakat secara massal atau umum.
Antara penyelamatan tradisi seni wayang wong yang dilakukan oleh Gan Kam dengan pemerintahan Mangkunegara VI yang sedang bertahta, disini dapat dikatakan memenuhi kesepakatan untuk suatu penyelamatan. Gan Kam melakukan tindakan menyelamatkan kesenian wayang wong yang dirintis oleh Pangeran Sambernyawa, dan Mangkunegara VI melakukan tindakan penyelamatan kerajaan yang didirikan dan dirintis oleh Pangeran Sambernyawa. Kesenian wayang wong yang membutuhkan pembiayaan dengan penyelamatan itu maka dana yang seharusnya dikeluarkan menjadi bisa dialihkan untuk kepentingan kerajaan. Pada satu sisi seni tradisi itu meski tidak dibiayai oleh kerajaan masih tetap hidup dalam keberlangsungannya.
Dengan demikian sejalan dengan pembangunan kembali ekonomi Mangkunegaran tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa pada zaman Mangkunegara VI perkembangan kesenian tradisi kraton wayang wong menjadi musnah. Kesenian ini dengan keluar dari tembok keraton justru semakin mendapat tempat di hati masyarakat sebagai seni pertunjukan bergengsi.
Perkembangan wayang wong yang sudah keluar tembok Istana Mangkunegaran ini semakin mendapat dorongan pengembangannya dalam zaman pemerintahan Mangkunegara VII dan melebar sampai Kasunanan dan Kasultanan. Di Kasunanan, Sunan Pakubuwana X (1893-1939) berprakarsa menggelar pertunjukan di Balekambang, Taman Sriwedari, dan Pasar Malam di Alun-alun Surakarta. Di Kasultanan Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwana VII (1877-1921) mempergelarkan pertunjukan wayang wong untuk tontonan kerabat keraton.
Wayang wong yang bermula dari Mangkunegaran ini dalam waktu yang bersamaan dengan merosotnya keuangan Mangkunegaran justru mendapat tempat dan jalan menembus keraton lain dalam pertumbuhan dan perkembangannya.

Prestasi Kerja

Sebagai raja yang dihadapkan pada keterpurukan kerajaan yang terancam bangkrut, Mangkunegara VI telah menorehkan beberapa prestasi bagi keberlangsungan Praja Mangkunegaran yang antara lain sangat tidak berlebihan disebutkan sebagai berikut:
1. Mangkunegara VI berhasil dalam melaksanakan reformasi praja dari situasi bangkrut karena tenggelam dalam utang kepada kerajaan Belanda menjadi terlunasinya utang kerajaan bahkan mencapai nilai surplus (Suryo Danisworo, Hendri Tanjung, 2004). Stabilitas perekonomian kerajaan menjadi meningkat sehingga standar hidup masyarakat mulai membaik kembali. Imbasnya, pasar-pasar baru bermunculan disekitar perkebunan.
2. Membangun kembali kekuatan Legiun Mangkunegaran dengan pendanaan yang lebih dari cukup sehingga kekuatan korps yang sempat berkurang menjadi kuat kembali seperti sedia kala.
3. Menciptakan iklim pluralisme di Praja Mangkunegaran dengan mengizinkan para kerabat memeluk Kristen yang kemudian akan dilanjutkan dalam masa pemerintahan Mangkunegara VII.
4. Keberhasilannya memulihkan keuangan dan perekonomian Mangkunegaran tidak lepas dari prinsip prinsip manajemen Jawa yang diajarkan oleh ayahnya Mangkunegara IV yaitu adanya keteraturan dalam hidup, keteraturan berusaha dan keteraturan dalam bekerja. Dengan demikian, Mangkunegara VI berjasa dalam memperkenalkan kembali prinsip-prinsip manajemen Jawa buah karya ayahnya dan diterapkan dalam mengatasi kebangkrutan Praja.
5. Mangkunegara VI adalah penegak keuangan dinasti Mangkunegaran (Tempo, 16 Mei 1987)
6. Menciptakan kesenian wayang pada, yaitu kesenian dengan pertunjukan semalam suntuk menjadi empat jam tanpa penyimpangan isi cerita (Reksa Pustaka 1978: 7).
7. Secara resmi, Mangkunegara VI dengan tegas menentang dan melarang pemujaan di tempat-tempat keramat yang menjadi kedok tempat skandal dan prostitusi (Sartono dan Alex Sudewa, 1998).

Peninggalan Mangkunegara VI

Pada masa pemerintahannya, Mangkunegara VI memberikan peninggalan yang sampai sekarang sering dikunjungi para wisata yaitu Pemandian Sapta Tirta. Sumber air pablengan di pemandian ini memiliki tujuh macam sumber alami yang letaknya sangat berdekatan yaitu: Air Hangat, Air Dingin, Air Hidup, Air Mati, Air Soda, Air Bleng, dan Air Urus Urus.

Mengundurkan diri Sebagai Penguasa

Pemerintahannya yang tampil dengan banyak perubahan dan anti Belanda berkesudahan dengan ketegangan dan tragis. Mangkunegara VI memiliki putera dan putri: KPA. Suyono Handayaningrat dan BRAy. Suwasti Hatmosurono. Ketika Mangkunegara VI berkehendak menjadikan putranya sebagai calon pengganti beliau di-veto oleh kelompok kerabat Pangeran dan Belanda. Akhirnya Mangkunegara VI mengundurkan diri dan bermukim di Surabaya. Mangkunegara VI adalah satu-satunya raja di Mangkunegaran yang mengundurkan diri atas kehendak sendiri (Media Komunikasi Keluarga Ex-HIK Yogyakarta, 1987). Dalam kesaksian Partini dikatakan bahwa Mangkunegara VI pada bulan 11 Januari 1916 mengundurkan diri secara diam-diam dan berangkat dengan seluruh keluarganya menuju Surabaya ( Singgih, Pamoentjak, Roswitha, 1986)
Di Surabaya, putra dan menantu Mangkunegara VI yaitu KPA. Suyono Handayaningrat dan RMP. Hatmosurono aktif dalam pergerakan Budi Utomo dan bersama dengan Dr. Sutomo mendirikan partai politik bernama Parindra.
Ketika wafat Mangkunegara VI tidak disemayamkan di Astana Mangadeg atau Astana Girilayu melainkan di Astana Utoro Nayu, Surakarta. Di Mangkunegaran yang bertahta selanjutnya adalah keponakannya yaitu RMA. Suryasuparta sebagai Mangkunegara VII. Mangkunegara VI memilih Surabaya sebagai tempat tinggal di hari tuanya serta untuk mempersiapkan putra dan menantunya melanjutkan konsep tata negara yang tidak dapat dilaksanakan melalui sebuah Kadipaten.



Sumber

Raja dan Tokoh Mangkunegara 3

Mangkunegara III

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara III adalah raja yang ketiga di Praja Mangkunegaran. Nama kecilnya ialah Raden Mas Sarengat, sedangkan gelar-gelar lainnya adalah Pangeran Riyo dan Pangeran Arya Prabu Prangwadana. Ia adalah cucu dari Mangkunegara II yang dilahirkan oleh putrinya BRAy. Sayati, yang menikah dengan Pangeran Natakusuma. Pemerintahan Mangkunegara III berlangsung dari tahun 1835-1853.

Asal usul

Mangkunegara III lahir tanggal 16 Januari 1803 dengan nama Raden Mas Sarengat. Ayahnya ialah KPA. Natakusuma dan ibunya ialah BRAy. Sayati. KPA Natakusuma adalah putra dari KPA Kusumadiningrat, dan BRAy. Sayati adalah putri dari Mangkunegara II.

Kemiliteran

RM. Sarengat memasuki pendidikan Kadet Mangkunegaran saat berusia 15 tahun. Pada umur 18 tahun, ia mendapatkan gelar Kanjeng Pangeran Riyo serta pangkat Letnan Kolonel pada Legiun Mangkunegaran. Saat berusia 21, gelarnya berubah menjadi Pangeran Arya Prabu Prangwadana, yang menandakan bahwa ia sudah disiapkan sebagai calon penerus tahta kerajaan.
Pangeran Arya Prabu Prangwadana turut serta bersama kakeknya Mangkunegara II saat berlangsungnya Perang Jawa, dan ia ditempatkan di perbatasan antara Mangkunegaran dan Yogyakarta yaitu di desa Jatinom dan Kapurun. Ia mendapat penghargaan bintang militer berpangkat empat atas kontribusinya dalam perang tersebut.

Pemerintahan

Pasca peperangan Jawa, Pangeran Arya Prabu Prangwadana kemudian bertahta pada tahun 1835 sebagai adipati di Mangkunegaran menggantikan kakeknya. Ia dinobatkan dengan KGPAA. Mangkunegara III pada tanggal 16 Januari 1843 bertepatan dengan hari kelahirannya, yaitu saat usianya 40 tahun sebagai syarat untuk gelar tersebut.
Mangkunegara III memerintah dari 29 Januari 1835 sampai dengan 27 Januari 1853. Ia digantikan oleh adik sepupu yang juga menjadi menantunya, KPH. Gandakusuma, sebagai Mangkunegara IV.

Wafat

Ia wafat dalam usia 50 tahun, dan makamnya terletak di Astana Mangadeg, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Minat terhadap kesenian

Mangkunegara III memiliki minat besar terhadap kesenian wayang purwa. Pada masa pemerintahannya, kitab serat Dewa Ruci diperintahkannya untuk disalin kembali. Minat terhadap kesenian tersebut kemudian dilanjutkan oleh para penguasa Mangkunegaran selanjutnya, yang terus mengembangkan kebudayaan Jawa terutama pewayangan dan pedhalangan di keraton Mangkunegaran.

Sumber
========================================================================

Mangkunegara IV


Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV (KGPAA Mangkunegara IV) lahir pada tanggal 3 Maret 1811 (Senin Pahing, 8 Sapar 1738 tahun Jawa Jumakir, Windu Sancaya) dengan nama kecil Raden Mas Sudira. Ayahnya bernama KPH Adiwijaya I sementara ibunya adalah putri KGPAA Mangkunagara II bernama Raden Ajeng Sekeli. Oleh karena KPH Adiwijaya I adalah putera Raden Mas Tumenggung Kusumadiningrat yang menjadi menantu Sri Susuhunan Pakubuwono III, sedangkan R.A Sekeli adalah puteri dari KGPAA Mangkunagara II, maka secara garis keturunan R.M. Sudira silsilahnya adalah sebagai cucu dari KGPAA Mangkunagara II dan cicit dari Sri Susuhunan Pakubuwono III. Selain itu beliau merupakan cicit dari K.P.A. Adiwijaya Kartasura yang terkenal dengan sebutan Pangeran seda ing lepen abu yang gugur ketika melawan kompeni Belanda. Masa pemerintahannya adalah sejak 1853 hingga wafatnya 1881.

Riwayat

Sejak masih anak-anak Sudira sudah dikenal kepandaian dan kecerdasannya. Dalam Babad Mangkunagara IV diceritakan bahwa begitu lahir, R.M. Sudira diminta oleh kakeknya, KGPAA Mangkunagara II untuk dijadikan putera angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan kepada selirnya yang bernama Mbok Ajeng Dayaningsih untuk diasuh. R.M. Sudira pada masa kecilnya tidak mendapatkan pendidikan formal, pendidikan diberikan secara privat. R.M. Sudira juga mendapatkan tuntunan dari orang-orang Belanda yang didatangkan oleh KGPAA Mangkunagara II, yang selain untuk menuntun Pangeran Riya yang dipersiapkan sebagai K.P. Prangwadana III, juga ditugasi mendidik R.M. Sudira terutama dalam hal pengajaran bahasa Belanda, tulisan Latin dan pengetahuan lainnya. Di antara gurunya adalah Dr. J.F.C. Gericke dan C.F. Winter.
Pada usia 10 tahun, oleh KGPAA Mangkunagara II, ia diserahkan kepada Kanjeng Pangeran Riya yang sebenarnya masih saudara sepupunya untuk diambil sebagai putera sulungnya.Selain itu Kanjeng Pangeran Riya juga ditugasi untuk melanjutkan pendidikan dan pengajaran R.M. Sudira.
Sudah menjadi tradisi para putera bangsawan tinggi Mangkunagaran, apabila telah cukup umur harus mengikuti pendidikan militer. Pada umur 15 tahun menjadi kadet di Legiun Mangkunagaran.Seperti yang ditulis oleh Letnan Kolonel H.F. Aukes bahwa ada perbedaan pendidikan kadet antara kesatuan tentara Hindia Belanda dengan kesatuan Legioen Mangkoenegaran. Para perwira pelatih di Legioen bukan instruktur, mereka hanya ditugasi membantu memberikan pendidikan pelajaran, selebihnya dilatih sendiri oleh perwira senior Legioen. Begitu lulus pendidikan selama setahun, ia ditempatkan sebagai perwira baru di kompi 5.
Baru beberapa bulan bertugas di kancah pertempuran, ia menerima kabar bahwa KPA Adiwijaya I, ayahandanya mangkat. Dengan berat hati terpaksa ia meminta izin kepada kakeknya, KGPAA Mangkunagara II yang menjadi panglimanya agar diijinkan pulang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ayahandanya. Setelah pemakaman, ia kembali ke kancah pertempuran.Pasukan Legioen berhasil mengalahkan pasukan Pangeran Dipanegara dan menangkap pimpinan pasukan yang dikenal bernama Panembahan Sungki.
Setelah mendapat gelar Pangeran namanya diubah menjadi KPH Gandakusuma. Ia menikah dengan R.Ay. Semi, dan dikaruniai 14 anak. Tidak lama setelah KGPAA Mangkunagara III meninggal tahun 1853, KPH Gandakusuma diangkat menjadi KGPAA Mangkunagara IV. Setelah kurang lebih setahun bertahta kemudian menikah dengan R.Ay. Dunuk, putri dalem Mangkunagara III.
Untuk informasi lebih lanjut, silakkan kunjungi : www.mangkunegara4.org

Peninggalan

Selama bertahta, MN IV mendirikan pabrik gula di Colomadu (sebelah barat laut kota Surakarta) dan Tasikmadu, memprakarsai berdirinya Stasiun Solo Balapan sebagai bagian pembangunan rel kereta api SoloSemarang, kanalisasi kota, serta penataan ruang kota. Ia menulis kurang lebih 42 buku, di antaranya Serat Wedhatama dan juga beberapa komposisi gamelan, salah satu karya komposisinya yang terkenal adalah Ketawang Puspawarna, yang turut dikirim ke luar angkasa melalui Piringan Emas Voyager di dalam pesawat antariksa nirawak Voyager I tahun 1977. MN IV wafat tahun 1881 dan dikebumikan di Astana Girilayu. Dapat dikatakan bahwa pada masa pemerintahannya, Mangkunagaran berada pada puncak kebesarannya.
Untuk informasi lebih lanjut, silakkan kunjungi : www.mangkunegara4.org

Sumber
=======================================================================

Mangkunegara V

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara V adalah penerus dinasti Mangkunegaran yang bertahta relatif singkat (1881-1896). Dari beberapa sumber tulisan Mangkunegara V disebutkan tidak memiliki putra mahkota, padahal ia memiliki putra dan putri tetapi masih remaja dan belum ada yang diangkat sebagai putra mahkota.
Dari putra-putranya yang potensial menggantikan kedudukannya ada dua yakni KPH.Suryakusuma sebagai putra sulung Mangkunegara V dengan nama kecil BRM Samekto dan RMA. Suryasuparta. Kedua putra Mangkunegara V pada fakta sejarah tidak menggantikan ayahnya sebagai Mangkunegara VI karena tahta kemudian jatuh kepada adik Mangkunegara V yaitu RM.Suyitno yang menggantikan kakaknya menjadi Mangkunegara VI.

Pemerintahan Mangkunegara V

Pemerintahan Mangkunegara V tergolong relatif singkat dan beberapa catatan yang dapat ditulis mengenai pemerintahannya adalah sekitar masalah meneruskan usaha bisnis Kerajaan yang telah di rintis oleh ayah dan pendahulunya yakni Mangkunegara IV.
Dalam masa pemerintahannya, pabrik gula mengalami defisit anggaran dan keberlangsungan industri gula. Mangkunegara V tahun 1885 berusaha mencari pinjaman kepada Belanda melalui Residen Surakarta tetapi ditolak. Penolakan ini didasarkan karena Mangkunegara V tidak memberi kepastian penghentian model pengurusan keuangan yang salah urus. Belanda mengusulkan soal keuangan diserahkan kepada suatu komisi yang diangkat oleh Residen setelah dirundingkan dengan Raja (Mangkunegara V. Dalam komisi ini Belanda juga mengusulkan agar asisten Residen masuk dalam komisi bersama dengan para keturunan Mangkunegara II, III, IV, dan V dalam suatu kepanitiaan.
Komisi itu dinamakan Dewan Pengawas yang mengatur urusan keuangan, tanah dan barang barang milik Mangkunegaran. Mangkunegara V menolak adanya komisi tersebut karena pada hakikatnya Belanda mencampuri urusan dan mengawasi Mangkunegaran dalam urusan keuangan. Mangkunegara V didukung oleh Patihnya Raden Tumenggung Jaya Sarosa yang sudah menjabat patih sejak Mangkunegara V. Masa pemerintahan Mangkunegara V berakhir tahun 2 Oktober 1896 karena meninggal setelah mengalami kecelakaan di Wonogiri dalam usia 41 tahun.
Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa mangkatnya Mangkunegara V tidak meninggalkan putra mahkota sehingga menurut salah satu sumber dikatakan bahwa penggantinya sebagai Mangkunegara VI adalah adiknya adalah atas persetujuan dan arahan dari ibundanya G.R.Ay. Dunuk.
Dua putra Mangkunegara V yakni KPH.Suryakusuma dan RMA. Suryasuparta secara potensial adalah generasi penerus Mangkunegara tetapi karena suatu proses politik dan kekuasaan yang terus berjalan mengharuskan kedua kakak-beradik itu dengan rela harus menerima keberadaan pamannya KPH.Dayaningrat sebagai Mangkunegara VI yang mengemban tugas menyelamatkan keuangan kerajaan yang terjebak dalam hutang kepada kerajaan Belanda.

Panggung Kesenian

Panggung kesenian Jawa pada masa Mangkunegara V mengalami kemerosotan yang diakibatkan oleh berkurangnya pendanaan yang mengalir dari Istana ke Panggung sebagai akibat dari kemunduran karena adanya kemerosotan keuangan kerajaan sebagai akibat menurunnya produksi gula dengan munculnya komoditi gula bit di pasaran Eropa (Rick- lefs,1991). Pada masa pemerintahanya, Mangkunegara V sangat mementingkan perkembangan dalam bidang seni. Kesenian Wayang Wong gaya Surakarta yang di ciptakan oleh Pangeran Sambernyawa dan memuncak dalam zaman Mangkunegara IV sedikit menggelepar sebelum akhirnya seorang Tionghoa bernama Gam Kang dengan restu Mangkunegara V (1895) mendirikan Grup Wayang Orang profesional diluar Istana yang pertama di Surakarta dengan nama Wayang Wong Sriwedari.

Bintang Jasa Mangkunegara V

Mangkunegara V adalah pemegang bintang Singa Netherlands

Putra Putri Mangkunegara V

1. BRAj. Sutikah menikah dengan RMPj. Gondokusumo 2. KPA. Suryokusumo menikah dengan BRaj. Catharina Bertha 3. BRAj. Samekti 4. BRAj. Marwestri 5. BRAj. Sutantinah menikah dengan KPA. Kusumodiningrat 6. BRAj. Sutitah 7. KPAr. Suryosutanto 8. RM. Suparto ( KGPAA Mangkunegara VII) 9. BRM Ar. Suryosukanto 10. KPA. Suryosudarso 11. BRMA. Suryosugiyanto 12. BRM. Suryosurarto 13. BRM. Suryosubandriyo 14. BRAj. TgA. Daryosugondo 15. KPA. Suryosumarno 16. BRAj. PA. Mloyokusumo 17. BRM A. Suryosuwito 18. BRM A. Suryosumanto 19. BRA. Subastutu sedo 20. BRMA. Suryosularjo 21. BRAj. Sugiyanti sedo 22. BRM. Sukamto sedo 23. BRM Ar. Suryosubandoro 24. BRM. Suryosumasto

Referensi

  1. Cariyos Kêkesahan saking Tanah Jawi dhatêng Nagari Walandi, 1916, Suryasuparta, Seri dari: Serie uitgaven door bemiddeling der Commissie voor de Volkslectuur, Jenis: Cetakan, Bhs. Jawa, Hrf. Jawa, Bentuk: Gancaran, Jml.hal. 234, No.Rec. 530
  2. Cariyos Lêlampahanipun Ki Padmasusastra Dhatêng Nagari Nèdêrlan, 1935, Jayang Gêni, Jenis: Carik, Bhs. Jawa, Hrf. Jawa, Bentuk: Gancaran, Jml.hal. 31, No.Rec. 249
  3. http://www.persee.fr/web/revues/home/prescript/article/arch_0044-8613_1982_num_24_1_1771
  4. http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:boVPC0rBQRkJ:en.rodovid.org/wk/Person:26116+Mangkunegara+V&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id
  5. http://gondosuputran.blogspot.com/2007/03/legiun-mangkunegaran.html
  6. Wasino, Kapitalisme Bumi Putra, Perubahan Masyarakat Mangkunegaran



Sumber

Perjanjian Salatiga (Praja Mangkunegara)

Perjanjian Salatiga adalah perjanjian bersejarah yang ditandatangani pada tanggal 17 Maret 1757 di Salatiga. Perjanjian ini adalah penyelesaian dari serentetan pecahnya konflik perebutan kekuasaan yang mengakhiri Kesultanan Mataram. Dengan berat hati Hamengku Buwono I dan Paku Buwono III melepaskan beberapa wilayahnya untuk Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa). Ngawen di wilayah Yogyakarta dan sebagian Surakarta menjadi kekuasaan Pangeran Sambernyawa.
Perjanjian ini ditandatangani oleh Raden Mas Said, Sunan Paku Buwono III, VOC, dan Sultan Hamengku Buwono I di gedung VOC yang sekarang digunakan sebagai kantor Walikota Kota Salatiga.

Menuju Perjanjian

Di saat Pangeran Mangkubumi menempuh jalan perundingan damai dengan imbalan mendapat separuh bagian kekuasaan Mataram melalui Perjanjian Giyanti dan menjadi Sultan Hamengkubuwana I, Pangeran Sambernyawa (Raden Mas Said) tetap melancarkan perlawanan.Dengan keberhasilan VOC menarik Pangeran Mangkubumi kedalam kubunya maka perlawanan Pangeran Sambernyawa menjadi menghadapi Pangeran Mangkubumi,Sunan Paku Buwono III dan VOC.Pangeran Sambernyawa tidak mau menyerah kepada salah satu dari ketiganya atau semuanya.Ketika VOC menyarankan untuk menyerah kepada salah satu dari dua penguasa (Surakarta, Yogyakarta) Pangeran Sambernyawa bahkan memberi tekanan kepada ketiganya supaya Mataram dibagi menjadi tiga kekuasaan.VOC ingin keluar dari kesulitan untuk mengamankan kantong finansial dan menyelamatkan kehadirannya di Jawa, sementara peperangan tidak menghasilkan pemenang yang unggul atas empat kekuatan di Jawa.Gabungan tiga kekuatan ternyata belum mampu mengalahkan Pangeran Sambernyawa sedang sebaliknya Pangeran Sambernyawa juga belum mampu mengalahkan ketiganya bersama sama. Perjanjian Salatiga pada 17 Maret 1757 di Salatiga adalah solusi dari keadaan untuk mengakhiri peperangan di Jawa.Dengan berat hati Hamengku Buwono I dan Paku Buwono III melepaskan beberapa wilayahnya untuk Pangeran Sambernyawa.Ngawen di wilayah Yogyakarta dan sebagian Surakarta menjadi kekuasaan Pangeran Sambernyawa.
Pihak-pihak yang menandatangani perjanjian ini adalah Pangeran Sambernyawa, Kasunanan Surakarta, dan VOC, Kesultanan Yogyakarta, diwakili oleh Patih Danureja, juga terlibat. Perjanjian ini memberi Pangeran Sambernyawa separuh wilayah Surakarta (4000 karya, mencakup daerah yang sekarang adalah Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Karanganyar, eksklave di wilayah Yogyakarta i Ngawen dan menjadi penguasa Kadipaten Mangkunegaran dengan gelar Mangkunegara I. Penguasa wilayah Mangkunegaran tidak berhak menyandang gelar Sunan atau Sultan, dan hanya berhak atas gelar Pangeran Adipati.
Lokasi penandatanganan perjanjian ini sekarang digunakan sebagai kantor Walikota Kota Salatiga.

Sesudah Perjanjian Salatiga

Sunan Paku Buwono III wafat pada tahun 1788 dan penggantinya adalah Sunan Paku Buwono IV, yang cakap dalam politik dan piawai dalam intrik dan intimidasi. Dua tahun setelah wafatnya Paku Buwono III, awal tahun 1790 Sunan Paku Buwono IV melancarkan strategi politik yang agresif dengan memulai memberi nama untuk saudaranya Arya mataram. Oleh Sunan Paku Buwono IV Arya Mataram dianugerahi nama Pangeran Mangkubumi.
Pemberian nama "Mangkubumi" menimbulkan protes Sultan Hamengku Buwono I yang merasa kebakaran jenggot karena hak nama Mangkubumi adalah miliknya sampai meninggal dunia.Sultan mengajukan protes kepada Kompeni yang ternyata tidak membuahkan hasil karena Sunan tetap pada pendirian tidak bakalan mencabut Nama Mangkubumi untuk saudaranya.
Jurus politik pertama Paku Buwono IV di lanjutkan dengan jurus keduanya yaitu menolak hak suksesi Putra Mahkota Kasultanan Yogyakarta.Suhu politik yang sudah memanas itu bertambah lagi dengan tuntutan Mangkunegara I yang melihat suatu peluang ada didepannya. Mangkunegara I menulis surat kepada Gubernur di Semarang Yan Greeve pada bulan Mei 1790 yang isinya Mangkunegara I Menagih janji Residen Surakarta Frederick Christoffeel van Straaldorf yang menjanjikan bahwa Jika Pangeran Mangkubumi yang menjadi Sultan Hamengku Buwono I wafat maka Mangkunegara I berhak menduduki tahta Kasultanan Yogyakarta.
VOC yang tidak ingin terseret kembali dalam pertikaian bersenjata menjadi panik dan mulai memeriksa situasi lapangan militernya dan ke tiga Kerajaan.Kompeni yang di wakili Yan Greeve menemui dengan perasaan kecewa ketika dilapangan menemukan fakta bahwa Mangkunegoro I memiliki 1.400 orang pasukan bersenjata yang siaga.Dalam waktu yang yang singkat kekuatan 1.400 orang bersenjata dapat dilipatkan dengan memanggil pengikutnya menjadi 4.000 orang pasukan bersenjata.
Tuntutan Mangkunegoro I juga diikuti dengan tuntutan berikutnya yaitu dikembalikannya GKR Bendoro isterinya kepada Mangkunegara I.Jika tuntutan ini tidak dipenuhi sebagai gantinya Mangkunegara I menuntut 4.000 cacah dari Yogyakarta. Mangkunegara I mulai memobilisasi pasukannya dan pertempuran pertempuran kecil mulai terjadi. Wilayah Gunung Kidul menjadi medan pertempuran.dalam mobilisasi dan pertempuran ini G.R.M. Sulomo (calon Mangkunegara II sudah terlibat dan aktif dalam pertempuran.
7 Oktober 1790 Yan greeve mengintimidasi Sultan Hamengku Buwono I untuk memberikan 4.000 cacah tetapi Sultan menolak. Awal November 1790 tuntutan 4.000 cacah diganti dengan upeti Belanda kepada Mangkunegaran sebesar 4.000 real.

Mangkunegaran Penyambung Roh Mataram

Perjanjian Salatiga secara hakikat menandai berdirinya praja atau negeri Mangkunegaran dengan Raden Mas Said sebagai Pangeran otonom yang menguasai sebuah wilayah yang otonom pula. Mangkunegaran yang didirikan oleh Pangeran Sambernyawa adalah penyambung dari Mataram yang telah hilang akibat perjanjian Giyanti 1755. Mataram yang telah bubar dengan traktat Giyanti di bangun kembali melalui Negeri Mangkunegaran. Politik dan kebudayaan Mataram serta unsur unsur keprajuritan dipertahankan dan dihidupkan dari generasi ke generasi.

Abad baru Tahun 1800 an (Prolog)

Sunan Paku Buwono III wafat tahun 1788, Sultan Hamengku Buwono I wafat tahun 1792 dan Pangeran Mangkunegara I wafat tahun 1795. Paku Buwono III di ganti Paku Buwono IV, Sultan Hamengku Buwono I diganti Sultan Hamengu Buwono II dan Mangkunegara Idi ganti Mangkunegara II. Pembubaran VOC pada tahun 1800 awal bulan menandai perubahan baru di bekas Mataram.Kewenangan VOC diambil alih oleh Pemerintah Belanda. Pada masa generasi ini Sunan Paku Buwono IV menjadi aktor Politik yang sangat piawai sekaligus berbahaya bagi Belanda.Jurus jurus politik yang ditampilkan begitu terampilnya dan tidak gentar dengan gertak peperangan.
Kedatangan Daendels dan Raffles dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga segala perjudian politik pada tahun 1800 an ini seakan akan merupakan pematangan situasi untuk munculnya perang Diponegoro.
Paku Buwono IV berhasil memprovokasi Sultan Hamengku Buwono II sehingga berkonfrontasi dengan Daendels dan Raffles di kemudian hari.Di samping itu faktor Secadiningrat seorang Kapiten Cina di Yogyakarta yang menjadi penasehat putera mahkota (Calon Hamengku Buwono III) juga turut andil dalam merunyamkan pemerintahan Hamengku Buwono II. Secadiningrat membocorkan rencana rencana Sultan kepada pihak asing terutama Inggris bahwa Kasultanan mempersenjatai diri untuk kekuatan perang.
Yogyakarta di datangi Daendels dengan beribu pasukan.Sultan Hamengku Buwono II diturunkan tahta dan di ganti Sultan Raja (Hamengku Buwono III). Kasultan Yogyakarta sepeninggal Hamengku Buwono Imengalami kesuraman yang tiada tara.Dari Hamengku Buwono II sampai Hamengku Buwono VI Kasultanan mengalami instabilitas serius.

Generasi Ke 2 Pasca Pembagian Mataram

Generasi ke dua para petinggi kerajaan paska pembagian Mataram memperlihatkan kepada khalayak tentang persiapan generasi pertama dalam mewariskan pemerintahan dan penyiapkan para penggantinya.Pada generasi ke dua ini Kasultanan Yogyakarta yang bertahta adalah Sultan Hamengku Buwono II, Mangkunegaran yang bertahta adalah Pangeran Mangkunegara II dan Kasunanan Surakarta yang bertahta adalah Paku Buwono IV.
Hamengku Buwono II merupakan putera Hamengku Buwono I setelah saudaranya RM.Entho yang menjadi Putera Mahkota meninggal dunia.Paku Buwono IV adalah putera Paku Buwono III sedang Mangkunegara II adalah cucu Mangkunegara I. Pada pemerintahan generasi ke dua ini Yogyakarta dibawah Hamengku Buwono II mengalami kemerosotan yang serius. Sultan ke dua Yogyakarta ini mengalami naik turun tahta selama pergantian kekuasaan kolonial di Nusantara ini.



Sumber

Raja dan Tokoh Mangkunegara 2

Mangkunegara II

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara II (disingkat K.G.P.A.A. Mangkunegara II atau Mangkunegara II saja) adalah raja yang kedua di Negeri Mangkunegaran. Nama kecilnya ialah Raden Mas Sulomo, sedangkan gelar-gelar lainnya adalah Pangeran Surya Mataram, Pangeran Surya Mangkubumi, dan Pangeran Adipati Prangwadana. Ia adalah cucu sekaligus penerus tahta pendahulunya, Mangkunegara I. Ayahnya ialah Pangeran Arya Prabuwijaya, putra dari Mangkunegara I yang meninggal dalam usia muda, sedangkan ibunya ialah Ratu Alit, cucu dari Paku Buwono III. Pemerintahan Mangkunegara II berlangsung selama kurang-lebih 40 tahun (1796-1835).

Asal usul

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara II berasal dari keluarga Pangeran Arya Prabuwijaya yang lahir dari Ratu Alit.Dalam diri Mangkunegara II mengalir darah Paku Buwono III dan Mangkunegara I. Tampil sebagai raja di Negeri Mangkunegaran menggantikan kakeknya yang wafat tahun 1795.Tampilnya Mangkunegara II menggantikan Kakeknya merupakan catatan yang menarik berhubung suksesi di Istana Pangeran Sambernyawa berbeda dengan dua Kerajaan lainnya. Perbedaan ini segera tampak dalam sistem pergantian dan masa pemerintahannya.
Kanjeng gusti pangeran Adipati Arya Mangkunegara II berasal dari Dinasti pejuang yang kental sekali dengan warna kemiliteran sehingga dalam hal suksesi pergantian pimpinan Istana, selain telah dipersiapkan seorang calon juga mewarisi tradisi cita cita dari pendahulunya untuk diwujudkan dalam masa masa pemerintahan penerusnya. Tradisi dan adat Jawa yang tidak membedakan laki laki dan wanita dalam mengurus negara terbukti dengan keberadaan pasukan tempur wanita sejak perjuangan pendahulunya Pangeran Sambernyawa.Dalam masa pemerintahannya pula calon penerus sudah tampak dipersiapkan dan jalur wanita bukan persoalan yang menghambat.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara II merupakan seorang penguasa di wilayah Kadipaten Mangkunegaran yang selama masa pemerintahannya disibukan oleh perang dan perluasan wilayah sehingga dibandingkan dengan Mangkunegara yang lainnya penguasa kedua di Negeri Mangkunegaran ini bisa dikatakan tidak menghasilkan karya seni dibidang seni tari.
Pada masa muda dalam asuhan kakeknya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I persiapan untuk menjadi pengganti kakeknya telah dialihkan dari ayahnya Pangeran Arya Prabuwijaya kepada dirinya dalam suasana situasi antar kekuasaan di Jawa sedang dalam ketidak ramahan.penentuan tapal batas wilayaj kekuasaan dengan tetangga tidak jarang menimbulkan ketegangan ketegangan baru yang berujung pada perang terbuka.Mulai dari pengalaman pengalaman masa mudanya dalam asuhan langsung kakeknya ini, Mangkunegara II selanjutnya tumbuh menjadi seorang pemimpin yang dalam kepemimpinannya mengikuti jejak kakeknya yang legendaris Pangeran Sambernyawa.
Rivalitas antar kekuasaan yang sering dikipas kipas oleh Belanda demi mempertahankan neraca keseimbangan perpolitikan antar kerajaan pada masa masa sebelum pembubaran VOC sering dipertahankan karena Belanda sedang menyadari bahwa kekuatan pemaksa militernya adalah lemah.
Belanda yang dalam kondisi lemah militer tidak jarang terjebak dalam situasi rumit dengan pematangan intrik dan desas desus yang memanaskan situasi sehingga dalam keadaan semacam ini adalah merupakan suatu keadaan super ideal bagi Mangkunegara untuk bermain di air yang keruh.

Pangeran Adipati Prangwadana

Sebelum menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara (II), RM Sulomo adalah Pangeran Prangwadana yang menjabat sebagai Komandan Legiun Mangkunegaran dengan pangkat Kolonel. Sistem asing disini telah menggantikan sistem kepangkatan yang telah lama dipergunakan oleh para militer di Jawa.
Pada zaman Daendels sebelum Raffles kedudukan Mangkunegara sebagai Pangeran Miji ditingkatkan menjadi Pangeran pinisepuh/yang dituakan. Mangkunegaran menjadi satu-satunya Kraton di jawa yang tidak dilucuti kekuatan militernya.

Pemerintahan

Mangkunegara II adalah sebutan untuk Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara II Raja di Praja Mangkunegaran. Dalam penulisan sejarah sering hanya disebut dengan nama Mangkunegara II tetapi secara jelas tetap menunjukan sebagai yang dimaksud Raja Mangkunegaran.Semasa mudanya bernama RM.Sulomo kemudian dewasa bergelar Pangeran Surya Mataram dan Pangeran Surya Mangkubumi. Mangkunegara II lahir dari pasangan Ratu Alit dan Pangeran Arya Prabuwijaya.Dari pihak ibu adalah cucu dari Paku Buwono III sedang dari pihak ayahnya adalah cucu dari Mangkunegara I yang terkenal dengan gelar Pangeran Sambernyawa. Ratu Alit adalah putri Paku Buwono III sedang Pangeran Hario Prabuwijaya adalah putra Mangkunegara I. Pemerintahan Mangkunegara II berlangsung dari tahun 1796 sampai 1835.
Nama Pangeran Surya Mataram sempat membuat panik Belanda disebabkan nama itu memuat unsur keagungan yang dapat memancing kekeruhan stabilitas tiga kerajaan; Kasultanan-Kasunanan-Mangkunegaran.Pergantian nama dan gelar Pangeran Surya Mataram menjadi Pangeran Surya Mangkubumi membuat peralihan dari kepanikan Belanda menjadi mengundang kemarahan Sultan Hamengku Buwono I. Belanda perlu khawatir karena nama Pangeran Surya Mataram belum pernah ada waktu itu dan terasa betul unsur unsur keagungan nya yang bakal mengundang rasa curiga bagi pihak Keraton/Kerajaan yang lain.Rasa curiga bagi pihak lain mengundang ancaman perselisihan dan perang terbuka yang akan menyeret kembali Belanda kedalam peperangan.Belanda tidak ingin mengulang kembali keterlibatannya dalam perselisihan dan perang yang berlarut larut.Sultan Hamengku Buwono I mengajukan protes lewat patihnya karena nama Mangkubumi adalah nama untuk dirinya sebagai anggota tertua yang masih hidup dalam dinasti Mataram.
Pada masa Mangkunegara I penggunaan nama selalu mengundang faktor kecurigaan dan sensitif yang tinggi karena nama memuat sejumlah harapan dan cita cita yang dapat menjadi claim bagi hegemoni dan pelebaran kekuasaan.Pemerintahan Mangkunegara II sarat dengan percaturan kekuasaan dan Mangkunegaran cenderung aktif dan ekspansif keluar Istana.Pemerintahannya yang berakhir sampai 1835 mengindikasikan bahwa Mangkunegara II terampil dan lihay dalam memainkan peran Kerajaan berhadapan dengan kekuasaan Kolonial dan Kekuasaan dua Kerajaan yang lain di Jawa ini. Mangkunegaran telah berhasil membaca tanda tanda zaman.Tiga Serangkai Penguasa kelajutan Dinasti Mataram teruji oleh zaman dalam mempertahankan dan mengembangkan eksistensi Kerajaannya.

Perluasan wilayah kerajaan

Dalam pemerintahan Mangkunegara II, daerah Mangkunegaran mengalami perluasan wilayah. Penambahan pertama terjadi pada tahun 1813 semasa Raffles menjabat Letnan Gubernur Jawa, yaitu sebanyak 240 jung[1] atau 1.000 karya, sehingga luas wilayah menjadi menjadi 5.000 karya atau 3.500 hektar.[2] Penambahan ini sebagai balasan atas dukungan Mangkunegara II saat Inggris memerangi Sultan Sepuh dari Yogyakarta dan Pakubuwana IV dari Surakarta.[2] Wilayah tambahan tersebut yaitu di Keduwang (72 jung), Sembuyan (12 jung), Sukawati bagian timur (95,5 jung), Sukawati bagian barat (18,5 jung), serta lereng bagian timur Gunung Merapi (29,5 jung).[2]
Penambahan kedua terjadi pada tahun 1830 sebanyak 120 jung atau 500 karya di Sukawati bagian utara, sehingga luas keseluruhan daerah Mangkunegaran menjadi 5.500 karya atau 3.850 hektar.[2] Penambahan semasa Gubernur Jenderal Van den Bosch ini sebagai balasan atas dukungan Mangkunegara II saat Belanda memerangi Diponegoro.[2]

Komandan Legiun Mangkunegaran

Mangkunegara II adalah komandan dan penguasa pertama Mangkunegaran dalam sejarah Legiun Mangkunegaran. Kolonel adalah pangkat tertinggi di Korps militer bergengsi keprajuritan Mangkunegaran.
Sebelum menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara (II), RM Sulomo adalah Pangeran Prangwedana yang menjabat sebagai komandan Legiun Pasukan Mangkunegaran dengan pangkat Kolonel. Sistem asing disini telah menggantikan sistem kepangkatan yang telah lama dipergunakan oleh para militer di Jawa.Secara historis keberadaan Legiun Mangkunegaran dengan Komandannya merupakan warisan dan kelanjutan dari kakeknya dan formasi pasukan-pasukan pilihan sebelumnya. Kakeknya dalam kepangkatan militer bisa meraih jenjang Jenderal sedangkan Mangkunegara II dan para penggantinya hanya mencapai jenjang Kolonel.

Konflik di Yogyakarta

Situasi Kekuasaan Jawa Permulaan Tahun 1800 M

Pemerintahan Mangkunegara II mengalami kesuksesan dalam meredam konflik di Yogyakarta serta membentuk pemerintahan baru di Yogyakarta yakni Kadipaten Paku Alaman dengan wilayah yang diambil dari Kasultanan. Sebagai Adipati yang pertama di Kadipaten yang baru ini Pangeran Natakusuma diangkat sebagai Paku Alam I dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya. Tanggal 13 Maret 1813 merupakan awal dan hari jadi Kadipaten.
Pada masa Mangkunegara II, di Yogyakarta yang bertahta adalah Hamengku Buwono II. Sultan Yogyakarta ke dua ini dalam pemerintahannya mengalami intrik dan rongrongan kekuasaan dari kerabat dan saudaranya sehingga jalannya pemerintahan Kasultanan mengalami pasang surut dan penuh dengan ketegangan dan muatan konflik yang berakibat melemahnya pemerintahan. Yogyakarta kurang siap dalam membaca perubahan abad yang menyangkut kekuatan asing/Eropa di Pulau Jawa yang berbeda dengan VOC-Belanda. Terhadap penguasa penguasa Jawa penampilan Belanda mampu memainkan peran sebagai kekuatan taklukan yang berkuasa. Belanda melayani penguasa penguasa Jawa sebagai suatu strategi tujuan untuk mendapatkan yang diinginkan.
Tahun 1807 Daendels datang ke Jawa dan membenahi admnistratif Jawa dan Nusantara dengan aturan aturan baru semacam protokoler kepada penguasa penguasa setempat termasuk para raja di Jawa. Paku Buwono IV dari Surakarta yang tadinya menolak cepat membaca situasi dan menerimanya.Mangkunegaran yang terampil dan cepat membaca perubahan zaman dengan segera merespon dan menjalin kemitraan dengan pembentukan Angkatan Bersenjata Kerajaan. Yogyakarta agak terlambat dalam membaca perubahan sehingga menerima risiko kemerosotan Kerajaan.

Kekuatan Eropa di Jawa

Berbeda dengan Belanda, kekuatan Eropa yang datang pada tahun 1800-an itu memiliki militer sebagai kekuatan pemaksa terhadap pembangkangan.Sama sama dari Eropa, kekuatan Eropa yang datang adalah kekuatan Revolusioner yang selalu siap berlaga-tempur.Di Kraton Yogyakarta situasinya terpecah pecah dalam kelompok kekuatan yang saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya.Ada kelompok Natakusuma dengan anaknya Natadiningrat di samping juga kelompok Putra Mahkota (calon Hamengku Buwono III) dengan Kapiten Cina wilayah Yogyakarta yakni Tan Jiem Sing (kelak bergelar Tumenggung Secadiningrat). Satu lagi adalah kelompok Patih Danurejo yang karena jabatannya merupakan kompromi antara Sultan dengan Gubernur Belanda maka mengharuskan seorang patih melayani dua kepentingan penguasa; yaitu Kasultanan dan Gubernur Belanda.
Konflik antar kelompok itu mengundang pemerintah di Batavia turun ke daerah dengan bala tentara nya.

Intervensi Eropa di Jawa

Dalam dua periode Gubernur Jenderal (Daendels dan Raffles), Yogyakarta ditekan dengan kekuatan militer untuk memaksa Hamengku Buwono II turun tahta. Di bulan Desember tahun 1810 Daendels dengan pasukan 4.200 tentara menyerbu Yogyakarta. Daendels menurunkan Hamengku Buwono II kemudian mengangkat putera Mahkota Yogyakarta sebagai Hamengku Buwono III dan kembali ke Batavia dengan membawa Pangeran Natakusuma sebagai tawanan. Pada bulan Juli 1812 gantian Raffles dengan 2.000 tentara menyerbu Yogyakarta.Dalam waktu yang bersamaan Tentara Gurkha-Sepehi yang datang ke Jawa bersama Inggris terlibat rencana pemberontakan terhadap kekuasaan Inggris karena beredar desas desus bahwa mereka akan dijual ke Belanda dan ditinggalkan Inggris sehingga untuk memperbesar jumlah pasukan menekan Yogyakarta maka Raffles mengkontak Pangeran Prangwadana dari Mangkunegaran untuk mengerahkan Legiun Mangkunegaran mendukung pasukan Natakusuma.
Kekuatan Eropa yang datang ke Jawa adalah kekuatan yang memiliki kemampuan untuk memaksa karena dilengkapi dengan pasukan tempur yang sangat memadai.Terhadap yang mementang maka kekuatan ini tidak segan-segan untuk bertindak keras bahkan kalau perlu membubarkan kekuasaan dan penguasa tradisional di Jawa. Korban pertama dengan datangnya Daendels ke Jawa adalah Banten. Oleh Daendels Kasultanan Banten dibubarkan.

Destabilisasi Kraton Yogyakarta

Pada masa Raffles memerintah Jawa menggantikan Jansens, Kasultanan Yogyakarta terancam dibubarkan.Campur tangan Mangkunegaran dengan Legiun Mangkunegaran berhasil mencegah pembubaran Kasultanan dengan penyelesaian berdirinya Kadipaten Paku Alaman. Solusi berdirinya Kadipaten di Yogyakarta ini adalah kompromi untuk mencegah munculnya satu kerajaan dengan dua penguasa.
Kompromi adalah solusi yang tepat karena tidak ada ketepatan untuk menyingkirkan Hamengku Buwono III dan menggantinya dengan Pangeran Natakusuma dan juga tidak ada ketepatan mempertahankan Hamengku Buwono III dengan menyingkirkan Pangeran Natakusuma. Contoh dari masa lalu yang berhasil untuk meredakan konflik yang berlarut adalah pembagian kekuasaan. 17 Maret 1813 Yogyakarta dibelah menjadi dua kekuasaan. Bersamaan dengan pembelahan itu (masih zaman Raffles Mangkunegaran mendapat tambahan wilayah masuk dalam kekuasaannya.

Kompromi Kekuasaan di Yogyakarta

Konflik kekuasaan di Yogyakarta berakhir dengan dilantiknya Pangeran Natakusuma sebagai Paku Alam yang dihadiri oleh Mangkunegara II yang dalam pelantikan mewakili Surakarta. Peran Paku Alaman dalam peta konflik di Yogyakarta menemukan bentuk baru dalam kedudukannya sebagai Pangeran merdeka. Purna sudah pembagian Mataram kedalam dua keraton dan dua kadipaten.

Menyikapi Perang Jawa 1825-1830

Dalam tahun 1825 sampai tahun 1830 di Jawa dilanda perang yang menghadapkan Belanda pada Pasukan Pasukan Dipanegara. Dalam perang ini Mangkunegara II mengambil sikap netral dan berjaga jaga diperbatasan wilayah Kasultanan dan Mangkunegaran.Sikap berjaga jaga ini sebagai upaya untuk membendung Perang Dipanegara tidak menjalar ke wilayah Mangkunegaran serta menutup kemungkinan kemungkinan para pelarian perang memasuki wilayah praja sehingga menyeretnya masuk dalam kancah perang.
Mangkunegara II baru terlibat dalam perang jawa ini ketika Sultan Hamengkubuwana V terjebak dalam kepungan pasukan Dipanegara dan Mangkunegaran dimintai bantuan untuk mengusir pasukan pasukan pengepung. Kasultanan Yogyakarta yang dalam perang Jawa terdesak oleh pasukan pasukan Dipanegara dengan Sultan Hamengkubuwana V terkepung, meminta bantuan pasukan yang disampaikan melalui Belanda untuk membantu menghalau pasukan pasukan Pangeran Dipanegara.
Mangkunegaran sebagai Kadipaten sosok pemimpinnya disebut sebagai Adipati yaitu Raja muda karena asal muasal Mendirikan Mangkunegaran adalah untuk membangkitkan kembali Sosok Putra Mahkota Mataram yang tergusur yaitu Pangeran Adipati Arya Mangkunegara Kartasura.Nama dari Mangkunegara yang tergusur di kartasura adalah orang tua dari pendiri Mangkunegaran yang terkenal dengan nama Pangeran Sambernyawa.
Di bawah pemerintahan Mangkunegara II Kekuatan milter atau Legiun Mangkunegaran akhirnya tidak bisa bersikap netral kembali sehubungan dengan keselamatan Sultan Hamengkubuwana V berada dalam posisi terkepung oleh Pasukan lawan.Kolonel Wiranegara komandan pasukan Kasultanan mengajukan bantuan pasukan untuk menerobos kepungan kepada pemerintah Hindia Belanda yang selanjutnya menyampaikan kepada pihak Mangkunegaran untuk memenuhinya.
Sultan Hamengkubuwana V dengan dibantu oleh pasukan dari Kasultanan, Kasunanan, Paku Alaman dan Mangkunegaran akhirnya dapat diselamatkan dari kepungan dan penangkapan.

Konfigurasi Kekuasaan Setelah Perang Jawa

Bertambahnya satu pusat kekuasaan di Paku Alaman menambah peta Politik tradisional di jawa bahwa Mataram yang terbagi dalam dinasti tetap membawa corak asli yang dipadu dengan "yang baru". Mangkunegaran sebagai satu dari kekuatan tradisional mengambil langkah dan membawa corak yang memberikan nuansa baru bagi pergantian suatu tahta. Paska perang Jawa Mangkunegara II masih memegang tampuk pemerintahan sampai wafatnya 1935.Selanjutnya Mangkunegara II dimakamkan di Astana Mangadeg di wilayah Matesih Karang Anyar satu komplek dengan kakeknya Pangeran Sambernyawa.

Catatan kaki

  1. ^ Satu jung sama dengan 28.386 m2 atau 4 bahu.
  2. ^ a b c d e Warsino (2008). Kapitalisme Bumi Putra: Perubahan Masyarakat Mangkunegaran. Yogyakarta: LKiS. hlm. 14. ISBN 979-1283-11-7. Diakses 21 Juli 2011.



Sumber

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.