Selasa, 31 Desember 2013

Filled Under:

Nuh (9)

b. India

Matsya (Ikan dalam bahasa Sanskerta) adalah Awatara pertama dari Wisnu.

Menurut Matsyapurana dan Shatapatha Brahmana (I-8, 1-6), mantri dari raja Dravida, Satyabrata yang juga dikenal sebagai Manu sedang mencuci tangannya di sebuah sungai ketika seekor ikan kecil masuk ke tangannya dan memohon kepadanya untuk menyelamatkan nyawanya. Ia meletakkan ikan itu di sebuah bejana, yang tak lama kemudian menjadi terlalu kecil untuknya. Ia berturut-turut memindahkan ikan itu ke sebuah tangki, sungai, dan kemudian samudra. Ikan itu kemudian memperingatkannya bahwa air bah akan terjadi dalam waktu seminggu yang akan menghancurkan seluruh kehidupan. Karena itu Manu membangun sebuah kapal yang ditarik oleh ikan itu ke puncak gunung ketika air bah datang, dan dengan demikian ia selamat bersama-sama dengan sejumlah "benih kehidupan" untuk membangun kembali kehidupan di muka bumi.
 Penjelmaan Wisnu sebagai Ikan, dari sebuah teks devosional.

c. Indonesia

Dalam tradisi Batak, bumi dipikul oleh seekor ular raksasa, Naga-Padoha. Suatu hari, ular itu lelah akan bebannya dan karenanya melemparkan Bumi ke dalam laut. Namun Batara Guru menyelamatkan anak perempuannya dengan mengirimkan sebuah gunung ke laut, dan seluruh umat manusia merupakan keturunannya. Bumi kemudian diletakkan kembali di atas kepala ular itu.

Sejumlah cerita di daerah Maluku, misalnya pulau Seram, dianggap termasuk bagian catatan air bah dari suku-suku bangsa Polinesia.[8]

5). Polinesia

Ada beberapa cerita air bah yang dicatat di antara bangsa-bangsa Polinesia. Namun tak satupun yang mendekati ukuran air bah di Alkitab.

Rakyat Ra'iatea mengisahkan tentang dua orang sahabat, Te-aho-aroa dan Ro'o, yang pergi menangkap ikan dan kebetulan membangunkan dewa samudera Ruahatu dengan mata kail mereka. Dalam kemarahannya, ia bersumpah untuk menenggelamkan ke dalam laut. Te-aho-aroa dan Ro'o memohon ampun, dan Ruahatu memperingatkan mereka bahwa mereka dapat lolos hana dengan membawa keluarga mereka ke pulau kecil Toamarama. Mereka kemudian berlayar, dan di malam hari, pulau itu tenggelam ke dalam laut, dan baru muncul kembali esok paginya. Tak satupun yang selamat kecuali keluarga-keluarga ini, yang mendirikan marae (kuil-kuil) suci yang dipersembahkan kepada dewa Ruahatu.

Sebuah legenda serupa terdapat di Tahiti. Tak ada alasan yang diberikan untuk tragedy ini, tetapi seluruh pulau itu tenggelam ke dalam laut kecuali Gunung Pitohiti. Sepasang manusia berhasil melarikan diri bersama binatang-binatang mereka dan selamat.

Dalam sebuah tradisi di kalangan suku Ngāti Porou, sebuah suku Māori di pantai timur Pulau Utara Selandia Baru, Ruatapu menjadi marah ketika ayahnya Uenuku mengangkat adik tirinya Kahutia-te-rangi melewatinya. Ruatapu memikat Kahutia-te-rangi dan sejumlah besar orang muda dari keturunan bangsawan masuk ke kanonya dan membawa mereka keluar ke laut dan di sana ia menenggelamkan mereka. Ia memanggil para dewa untuk menghancurkan musuh-musuhnya dan mengancam akan kembali sebagai gelombang-gelombang besar pada awal musim panas. Sementara ia bergumul untuk memeprtahankan nyawanya, Kahutia-te-rangi membacakan mantra yang memanggil ikan paus bungkuk selatan (paikea dalam bahasa Māori) untuk membawanya ke pantai. Kaerna itu, ia diubah namanya menjadi Paikea, dan merupakan satu-satunya orang yang selamat (Reedy 1997:83-85).

Beberapa versi cerita Māori tentang Tawhaki mengandung episode di mana si pahlawan menggunakan air bah untuk menghancurkan desa dari dua saudara iparnya yang iri. Sebuah komentar dalam Polynesian Mythology karya Grey dapat memberikan kepada orang-orang Māori sesuatu yang tak pernah mereka dengar sebelumnya - sebagaimana dikatakan oleh A.W Reed, "Dalam Polynesian Mythology Grey mengatakan bahwa ketika leluhur Tawhaki melepaskan air bah dari langit, bumi tenggelam dan seluruh umat manusia musnah - dengan demikian orang Māori memperoleh versinya sendiri tentang air bah universal" (Reed 1963:165, dalam catatan kaki). Pengaruh Kristen telah menyebabkan munculnya silsilah di mana kakek Tawhaki, Hema, ditafsirkan kembali sebagai Sem, anak Nuh dari kisah air bah dalam Alkitab.
Di Hawaii, sepasang manusia, Nu'u dan Lili-noe, selamat dari sebuah banjir di puncak Mauna Kea di Big Island (Pulau Besar). Nu'u mempersembahkan kurban kepada bulan, yang disangkanya telah menyelamatkannya. Kāne, sang dewa pencipta, turun ke bumi dengan menggunakan pelangi, menjelaskan kekeliruan Nu'u, dan menerima kurbannya.[9]

Di Seti, di Seram Utara, percaya bahwa batas-batas tanah mereka adalah batas setelah kering ke-2 (akibat dari Banjir Besar). Sementara kapata-kapata (pantun-pantun yang sudah mendarah daging dan menjadi simbol budaya setempat) berbicara tentang sesorang bernama NUHU, berlayar di pinggir suatu pulau (hasa-hasa e), melihat tanjung (tanjong e) dan sebagainya. Namun karena alasan-alasan tertentu maka beberapa kapata tersebut terpaksa jarang dituturkan di Maluku.[8]

Di Marquesas, dewa perang yang agung Tu menjadi marah ketika mendengar komentar kritis dari saudara perempuannya Hii-hia. Air matanya merobei lantai surga hingga ke dunia di bawahnya dan menciptakan hujan lebat yang menghanyutkan segala sesuatu yang dilaluinya. Hanya enam orang yang selamat.

B. Teori tentang asal-usul

Sejumlah geologiwan percaya bahwa sebuah banjir yang cukup dramatis, lebih besar daripada yang biasanya dari sejumlah sungai pada masa lalu mungkin telah memengaruhi terciptanya mitos-mitos ini. Salah satu teori yang terbaru, dan cukup kontroversial, dari teori seperti ini adalah Teori Ryan-Pitman, yang mengatakan bahwa ada sebuah air bah yang sangat dahsyat pada sekitar 5600 SM dari Laut Tengah ke dalam Laut Hitam. Banyak kejadian geologis pra-sejarah lainnya, termasuk tsunami, yang juga telah diajukan sebagai kemungkinan dasar-dasar dari mitos-mitos ini. Misalnya, sebagian orang telah menyatakan bahwa versi-versi asli dari mitos Yunani tentang air bah Deukalion kemungkinan berasal dari dampak megatsunami yang dihasilkan oleh ledakan gunung Thera di Laut Tengah pada abad ke-18 hingga ke-15 SM.[10] Yang lebih spekulatif, sebagian mengemukakan bahwa mitos-mitos air bah ini kemungkin telah muncul dari cerita-cerita rakyat tentang naiknya permukaan laut yang sangat besar yang menyertai berakhirnya Zaman Es terakhir sekitar 10.000 tahun yang lalu, yang diturunkan dari generasi ke geneasi berikutnya sebagai sejarah lisan. Sebuah teori kontroversial lainnya ialah bahwa air bah itu disebabkan oleh satu atau lebih dampak asteroid yang melepaskan sejumlah besar uap air ke atmosfer dan ruang angkasa yang rendah. Lihat Tollmann's hypothetical bolide.

Berawal dari publikasi The First Fossil Hunters karya Adrienne Mayor, diikuti dengan Fossil Legends of the First Americans, lebih banyak perhatian diberikan kepada hipotesa bahwa kisah-kisah air bah diilhami oleh observasi purba akan adanya fosil kerang dan ikan di daratan kering dan di atas gunung-gunung. Semakin banyak dokumentari muncul mendukung pandangan ini, di mana tulisan-tulisan kuno bangsa Yunani, Romawi, Cina dan Jepang memuat catatan mengenai kulit-kulit kerang dan cetakan bangkai ikan yang ditemukan jauh dari laut, bahkan di gunung-gunung. Orang-orang Yunani berteori bahwa bumi pernah tertutup air beberapa kali, dan menunjuk kepada fosil kerang dan ikan di puncak-puncak gunung sebagai bukti. Penduduk asli Amerika juga mempunyai kepercayaan serupa meskipun tidak secara tertulis sejak dahulu sebagaimana orang-orang Eropa.

Orang-orang Kristen pada abad pertengahan menggunakan catatan adanya fosil kerang di gunung-gunung sebagai bukti air bah di Alkitab. Leonardo Da Vinci termasuk yang mula-mula menolak pernyataan ini dengan menyampaikan pendapat bahwa mungkin gunung-gunung itu terbentuk dari naiknya dasar laut. Meskipun banyak arkeolog menganggap kisah air bah Nuh sebagai mitos di luar sejarah, para penganut agama Yahudi ortodoks dan Islam, serta Kristen, menganggapnya fakta sejarah. Bukti-bukti yang dikemukakan antara lain adalah adanya kisah air bah dari berbagai kebudayaan yang kemungkinan berasal dari satu peristiwa sejarah yang sama. Pendukung teori "air bah geologis" (flood geology) meyakini bahwa berbagai mitos yang berbeda dari berbagai bangsa merupakan ingatan yang terkorupsi dari satu air bah dunia yang pernah terjadi.

Sejumlah pakar percaya bahwa kisah air bah di Kitab Kejadian sebenarnya merupakan versi yang kemudian dari beberapa kisah mitos sebelumnya dari Mesopotamia (termasuk Epos Ziusudra, Epos Atrahasis, dan Epos Gilgames). Ada pakar yang mengemukakan bahwa mitos Kitab Kejadian mempunyai ciri-ciri yang lebih tua dari versi Babilon. Sebaliknya ada pakar yang melihat ciri-ciri umum yang sama dengan berbagai kisah sebelumnya. Menurut pakar Alkitab, Campbell dan O'Brien, baik bagian J dan P dari kisah air bah di Kitab Kejadian ditulis dalam masa pembuangan ke Babel atau sesudahnya (setelah tahun 539 SM) dan berasal dari sumber Babilonia.[11]

C. Teori banjir lokal

Daripada berusaha mencari air bah kataklismik yang meliputi wilayah luas, sejumlah sejarawan menunjukkan bahwa budaya kuno yang diam di sepanjang tepi sungai yang subur, seperti sungai Nil di Mesir dan Tigris-Efrat di Mesopotamia (sekarang Irak). Tidaklah aneh jika orang-orang itu memiliki ingatan mendalam tentang air bah dan mungkin saja mengembangkan mitologi sekitar air bah untuk menjelaskan dan menanggung bencana banjir sebagai bagian integral hidup mereka. Bagi budaya-budaya ini, air bah yang menutupi dunia yang mereka kenal dapat dianggap sebagai banjir lokal di masa sekarang, tetapi merupakan air bah universal dalam pandangan mereka. Para pakar itu mengamati bahwa sebagian besar budaya yang hidup di daerah yang jarang tertimpa banjir tidak memiliki mitos air bah. Pengamatan ini, ditambah dengan tendensi manusia untuk membuat suatu kisah lebih dramatis dari aslinya, membuat banyak pakar mitologi merasa inilah asal mulanya mitos air bah seluruh dunia berkembang.

Sebuah teori yang mendapatkan dukungan dari arkelolog Max Mallowan dan Leonard Woolley adalah teori banjir lokal yang menghubungkan mitos air bah Timur Dekat Kuno kepada sebuah banjir sungai spesifik dari Sungai Efrat yang telah ditetapkan tanggalnya dengan radio-karbon pada sekitar tahun 2900 SM pada akhir Periode Jemdet Nasr. Prasasti iii,iv, baris 6-9 dari Epos Atrahasis, dengan jelas menyebutkan banjir itu sebagai banjir sungai lokal: "Bagaikan capung mereka [mayat-mayat] memenuhi sungai. Bagaikan rakit mereka telah pindah ke tepi [perahu]. Bagaikan rakit mereka telah pindah ke tepi sungai." Daftar raja Sumeria WB-444 menyebutkan air bah itu terjadi setelah pemerintahan Ziusudra, sang pahlawan banjir dalam Epos Ziusudra yang mempunyai banyak paralel dengan cerita-cerita banjir lainnya. Menurut arkelolog Max Mallowan banjir dalam Kitab Kejadian "didasarkan pada sebuah kejadian sungguhnya yang mungkin telah terjadi sekitar tahun 2900 SM ... pada awal periode Dinastik Awal."[12]

Referensi

  1. ^ Overview of Mesopotamian flood myths
  2. ^ Kejadian 1:6-7
  3. ^ Kejadian 6, Kejadian 7, Kejadian 8, Kejadian 9
  4. ^ Matius 24:36-39; 1 Petrus 3:18-22; Ibrani 11:7; 2 Petrus 3:5-7
  5. ^ Gaster, Theodor H. Myth, Legend, and Custom in the Old Testament, Harper & Row, New York, 1969. [1]
  6. ^ Bangsa Indian Kanada – Mitos Penciptaan Bangsa Indian
  7. ^ Lihat: Shujing, Bagian 1 Dokumen Tang, Kanon Yao; terjemahan James Legges.
  8. ^ a b Catatan: Pulau Seram adalah bagian dari Maluku dan dipercaya sebagai NUSA INA, yaitu Pulau Ibu, asal muasal manusia di Maluku dan mungkin juga buat Hawaii. Beberapa nama yang ada di Maluku juga ada di Hawaii seperti nama kota: Wahaii, Sawaii dan sebagainya, Waitatiri (itu nama-nama di Pulau Seram).
  9. ^ Cerita ini mempunyai banyak ciri bahwa ini adalah sebuah tradisi yang telah dikristenkan, yang sangat dipengaruhi oleh pengetahuan tentang kisah Alkitab mengenai Nuh. Agaknya tidak mungkin bahwa cerita ini benar-benar mewakili sebuah tradisi Hawaii yang asli.
  10. ^ http://www.mystae.com/restricted/streams/thera/thera.html
  11. ^ Antony F. Campbell and Mark A. O'Brien, Sources of the Pentateuch, (1993) pp. 2-11, and note 24.
  12. ^ M.E.L.Mallowan, "Noah's Flood Reconsidered", Iraq, 26 (1964), hlm. 62-82.


Sumber

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.