Jumat, 03 Januari 2014

Filled Under:

Kalender (11)

8. Kalender Saka

Kalender Saka adalah sebuah kalender yang berasal dari India. Kalender ini merupakan sebuah penanggalan syamsiah-kamariah (candra-surya) atau kalender luni-solar. Era Saka dimulai pada tahun 78 Masehi.

Nama bulan

Sebuah tahun Saka dibagi menjadi dua belas bulan. Berikut nama bulan-bulan tersebut:
No Penanggalan Jawa Awal Akhir
1 Srawanamasa Juli Agustus
2 Bhadrawadamasa Agustus September
3 Asujimasa September Oktober
4 Kartikamasa Oktober November
5 Margasiramasa November Desember
6 Posyamasa Desember Januari
7 Maghamasa Januari Februari
8 Phalgunamasa Februari Maret
9 Cetramasa Maret April
10 Wesakhamasa April Mei
11 Jyesthamasa Mei Juni
12 Asadhamasa Juni Juli

Nama musim

Di India satu tahun dibagi menjadi enam musim, atau dengan kata lain setiap musim berlangsung dua bulan. Berikut nama-nama musim
  1. Warsa, musim hujan bertepatan dengan Srawana dan Bhadrawada.
  2. Sarat, musim rontok, dan seterusnya.
  3. Hemanta, musim dingin
  4. Sisira, musim sejuk kabut
  5. Basanta, musim semi
  6. Grisma, musim panas

Tahun Lunisolar

Berhubung bulan-bulan dalam kalender Saka hanya terdiri dari 30 hari, maka tahun baru harus disesuaikan setiap tahunnya untuk mengiringi daur perputaran matahari.

Sejarah Kalender Saka

Kalender Saka berawal pada tahun 78 Masehi dan juga disebut sebagai penanggalan Saliwahana (Sâlivâhana). Kala itu Saliwahana yang adalah seorang raja ternama dari India bagian selatan, mengalahkan kaum Saka. Tetapi sumber lain menyebutkan bahwa mereka dikalahkan oleh Wikramaditya (Vikramâditya). Wikramaditya adalah seorang musuh atau saingan Saliwahana, beliau berasal dari India bagian utara.
Mengenai kaum Saka ada yang menyebut bahwa mereka termasuk sukabangsa Turki atau Tatar. Namun ada pula yang menyebut bahwa mereka termasuk kaum Arya dari suku Scythia. Sumber lain lagi menyebut bahwa mereka sebenarnya orang Yunani (dalam bahasa Sanskerta disebut Yavana yang berkuasa di Baktria (sekarang Afganistan).

Kalender Saka di Indonesia

Sebelum masuknya agama Islam, para sukubangsa di Nusantara bagian barat yang terkena pengaruh agama Hindu, menggunakan kalender Saka. Namun kalender Saka yang dipergunakan dimodifikasi oleh beberapa sukubangsa, terutama suku Jawa dan Bali. Di Jawa dan Bali kalender Saka ditambahi dengan cara penanggalan lokal. Setelah agama Islam masuk, di Mataram, oleh Sultan Agung diperkenalkan kalender Jawa Islam yang merupakan perpaduan antara kalender Islam dan kalender Saka. Di Bali kalender Saka yang telah ditambahi dengan unsur-unsur lokal dipakai sampai sekarang, begitu pula di beberapa daerah di Jawa, seperti di Tengger yang banyak penganut agama Hindu.

Sumber

9. Kalender Korea

Kalender tradisional Korea adalah kalender lunisolar yang digunakan di Korea, dan secara langsung mengikuti kalender Tionghoa karena hingga akhir abad ke-19, Korea masih berupa kerajaan pembayar upeti ke Tiongkok. Sebagai penghormatan terhadap Kekaisaran Tiongkok, setiap tahunnya penguasa Korea akan menerima secara hormat kalender Tionghoa yang baru dari Kaisar Tiongkok. Walaupun demikian, Korea memiliki perayaan tradisional tersendiri yang tanggal perayaannya dihitung berdasarkan garis lintang dan garis bujur Korea.
Perhitungan tahun kalender tradisional Korea dimulai dari tahun 2333 SM yang merupakan tahun pendirian kerajaan Gojoseon oleh Dangun. Kalender Korea memiliki:
  • 12 Shio sebagai 12 cabang bumi
  • 10 Unsur: 甲, 乙, 丙, 丁, 戊, 己, 庚, 辛, 壬, 癸 (kayu, api, tanah, logam, air) yang bila digabung dengan 12 shio menjadi satu siklus dengan lama 60 tahun.
  • 24 Posisi matahari (jeolgi 節氣 절기) dalam setahun
Korea mulai menggunakan kalender Gregorian sejak 1 Januari 1896 akibat pengaruh Jepang. Kalender lunar sekarang sudah jarang digunakan di Korea kecuali untuk menentukan hari-hari perayaan tradisional Korea dan hari ulang tahun orang yang sudah tua.[1]

Perayaan

Kalender lunar masih dipakai di Korea untuk menetapkan perayaan tradisional seperti Tahun Baru, Chuseok, dan Ulang Tahun Buddha. Selain itu, kalender lunar dipakai untuk menentukan upacara peringatan kematian (jesa), dan peringatan ulang tahun bagi orang yang sudah tua.

Hari raya tradisional

Tanggal perayaan
(kalender lunar)
Perayaan Arti Tradisi Makanan istimewa
Tanggal 1 bulan 1 Seol-nal Imlek Upacara penghormatan bagi leluhur dan sanak keluarga yang sudah meninggal diadakan di depan makam. Anggota keluarga, saudara, dan tetangga saling mengucapkan selamat tahun baru. Orang yang lebih muda harus membungkukkan badan memberi salam kepada orang yang lebih tua (sebae). Yutnori adalah permainan tradisional di hari tahun baru. sup berisi mochi (tteokguk) dan yakwa (kue manis dengan madu)
Tanggal 15 bulan 1 Daeboreum Bulan purnama pertama Penghormatan bagi bulan (dalmaji), menerbangkan layang-layang, pembakaran jimat untuk mengusir arwah jahat (aengmagi taeugi), api unggun (daljip taegi) nasi yang ditanak dengan 5 jenis palawija (ogokbap), memakan kacang (bureom), meminum anggur (gwibalgisul)
Tanggal 1 bulan 2 Meoseumnal Festival untuk pembantu Membersihkan rumah, upacara kedewasaan, upacara bagi nelayan (yeongdeunggut) kue songpyeon
Tanggal 3 bulan 3 Samjinnal Kembalinya burung walet yang bermigrasi (pertanda musim semi) meramal nasib Anggur bunga (dugyonju), panekuk (dungyeon hwajeon)
Hari ke-105 setelah hari titik balik musim dingin Hansik Awal musim bercocok tanam Membersihkan makam keluarga dan berdoa (Cheng Beng) makanan dingin: kue ssuktteok, ssukdanja, dan sup ssuktang
Tanggal 8 bulan 4 Chopail Ulang tahun Buddha Festival lentera (Yeondeunghoe) kue jjinddeok dan hwajeon
Tanggal 5 bulan 5 Dano Perayaan musim panas Mencuci rambut dengan air bunga bakung, ssireum, saling memberi hadiah berupa kipas mochi beraroma rempah-rempah (surichitteok), sup ikan junchiguk
Tanggal 15 bulan 6 Yudu Penghormatan terhadap air Mencuci rambut untuk membuang sial Mi lima warna (yudumyeon), kue sudan
Tanggal 7 bulan 7 Chilseok Hari bertemunya Gyeonwoo dan Jiknyeo menurut cerita rakyat Korea Menenun kain panekuk gandum (milijeonbyeong), mochi dengan selai kacang merah(sirutteok)
Tanggal 15 bulan 7 Baekjung Berdoa kepada Buddha Berdoa kepada Buddha mochi yang disebut seoktanbyeong
Tanggal 15 bulan 8 Chuseok Festival musim panen Mengunjungi makam keluarga dan leluhur, ssireum, mempersembahkan hasil panen padi yang pertama (olbyeosinmi), tari ganggang suwollae Kue songpyeon dan sup talas torantang
Tanggal 9 bulan 9 Jungyangjeol Keberangkatan burung migran Perayaan musim gugur dengan berpuisi dan melukis, serta menikmati keindahan alam. Lihat juga Festival Chung Yeung panenuk dengan aroma bunga seruni (gukhwajeon), telur ikan (eoran), teh yuzu (yujacheong)
Sekitar tanggal 22 Desember menurut kalender solar Dongji Hari titik balik musim dingin Upacara untuk mengusir arwah jahat sup selai kacang merah berisi mochi (patjuk)
Hari terakhir bulan 12 Seotdal Geumeum Malam tahun baru Tidak tidur semalam suntuk. Pintu-pintu rumah dibiarkan terbuka agar arwah leluhur bisa datang berkunjung bibimbap, kue injeolmi, biskuit tradisional hangwa

Referensi

  1. ^ (Inggris)Korean holidays, lifeinkorea. Diakses pada 20 Agustus 2010.


Sumber

1 komentar:

  1. Infonya Bermanfaat Gan, Terimakasih banyak Lain Kali saya kunjungi ke sini.

    BalasHapus

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.