Senin, 20 Januari 2014

Filled Under:

Tokoh dan Raja Majapahit 13

34. Patih Udara

Patih Udara atau Patih Mahodara/Maudara (versi Hikayat Banjar) atau Pate Amdura (versi Suma Oriental) adalah nama seorang patih (rakryan apatih atau hamangkubhumi) kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Dyah Ranawijaya.[1] Ia juga diketahui sebagai seorang pemegang kekuasaan terakhir sisa-sisa kerajaan tersebut (1499-1518),[2] sebelum akhirnya diambil-alih seutuhnya oleh Kesultanan Demak.

Sejarah

Menurut keterangan Babad Tanah Jawi, Patih Udara merupakan anak dari Patih Wahan, dan semula menjabat sebagai seorang adipati di Kediri.[1] Mpu Wahan adalah patih yang mendampingi raja Majapahit Dyah Ranawijaya di awal masa pemerintahannya,[3] Udara kemudian juga mendampingi Ranawijaya sebagai patih di masa akhir pemerintahannya. Pengelana Portugis Tomé Pires berkunjung ke Jawa antara tahun 1512-1515 menyebutkan dalam catatannya Suma Oriental bahwa Pate Udra (atau Pate Andura) memiliki kekuasaan yang cukup besar. Meskipun hanya sebagai patih (viso rey) dan panglima perang (capitam moor), ia sangat disegani sehingga dianggap hampir seperti raja.[4]
Masa pemerintahan Patih Udara sebagai penerus kekuasaan Dyah Ranawijaya belum dapat dipastikan secara tepat. Ranawijaya masih mengeluarkan Prasasti Jiwu I bertarikh 1486, yang menceritakan pengukuhan anugerah raja kepada pendukungnya dalam perang saudara melawan Bhre Kertabhumi. Berita dari Dinasti Ming tahun 1499 juga menyebutkan masih adanya hubungan diplomatik antara Cina dan Jawa (Majapahit).[5] Namun demikian, walikota Malaka Portugis Rui de Brito pada tahun 1514 dan penulis Portugal Duarte Barbosa pada tahun 1518 hanya menyebutkan adanya seorang "raja kafir" yang masih berkuasa di pedalaman Jawa tanpa menyebutkan nama. Sedangkan laporan Antonio Pigafetta tahun 1522 mengesankan tidak ada lagi Majapahit, serta Pati Unus lah sebagai penguasa atas bekas wilayah kerajaan tersebut antara tahun 1518-1521.[2] Maka diperkirakan Udara berkuasa atas sisa-sisa pemerintahan Majapahit pada masa antara 1499-1518.

Legenda dan fiksi

Dalam lakon wayang klithik Jawa Timur serta dalam naskah Serat Langendriya Episode Damarwulan Ngarit (no. kat. D.166) dan Serat Lampahan Damarwulan Ngarit (no. kat. G.162) koleksi Perpustakaan Reksapustaka, Pura Mangkunegaran, Surakarta, tokoh Patih Udara disebutkan sebagai ayah dari Damar Wulan. Ia adalah bekas patih Majapahit yang mengudurkan diri, yang posisinya digantikan oleh adiknya yaitu Patih Lohgender.[6]
Pada cerita fiksi Nagasasra Sabuk Inten karya pengarang SH Mintardja, terdapat tokoh raja terakhir Majapahit bernama Hudhara yang bergelar Brawijaya VII, yang disebutkan memberikan izin kepada Raden Patah untuk memindahkan pusat kerajaan Majapahit ke Demak.[7]

Referensi

  1. ^ a b W.L. Olthof, Babad Tanah Djawi, 1941, teks bahasa Jawa, hlm. 17-18.
  2. ^ a b G.P. Rouffaer, "Wanneer is Madjapahit gevallen?", BKI, 50, 1899, hlm. 144; H.J. de Graaf en Th. G. Th. Pigeaud, De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java, 1974, hlm. 47.
  3. ^ OJO,XCI, baris ke-2.
  4. ^ Armando Cortesao, The Suma Oriental of Tomé Pires, I, 1944, hlm. 175-176.
  5. ^ Groeneveldt, Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources, 1960, hlm. 36.
  6. ^ Romania (2009). "Serat Langendriya Episode Damarwulan Ngarit (Suatu Tinjauan Filologis)". Skripsi. Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta. Diakses 28 Juni. Unknown parameter |accessyear= ignored (help)
  7. ^ Februana, Ngarto (2007). "Sepak Terjang Para Pendekar". Tempo. Diakses 16 Juni. Unknown parameter |accessyear= ignored (help)

Sumber
========================================================================

35. Adityawarman

(Adityawarman sebagai Bhairawa, koleksi Museum Nasional, Jakarta)

Pemerintahan 1347–1375 M
Nama lengkap Srīmat Srī Udayādityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Warmadewa
Tempat lahir Majapahit
Tempat wafat Batusangkar
Pendahulu Akarendrawarman
Penerus Ananggawarman
Dinasti Mauli
Ayah Adwayawarman
Ibu Dara Jingga

Adityawarman merupakan pelanjut dari Dinasti Mauli penguasa pada Kerajaan Melayu yang sebelumnya beribu kota di Dharmasraya, dan dari manuskrip pengukuhannya ia menjadi penguasa di Malayapura atau Kanakamedini pada tahun 1347 dengan gelar Maharajadiraja Srīmat Srī Udayādityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Warmadewa[1], dan di kemudian hari ibu kota dari kerajaan ini pindah ke daerah pedalaman Minangkabau.

Asal usul

Berdasarkan Prasasti Kuburajo,[2] Adityawarman adalah putra dari Adwayawarman. Akan tetapi, dalam Prasasti Bukit Gombak disebutkan bahwa Adityawarman adalah putra dari Adwayadwaja.[3] Nama ini mirip dengan nama salah seorang pejabat penting Kerajaan Singhasari (Rakryān Mahāmantri Dyah Adwayabrahma) yang pada tahun 1286 mengantar Arca Amoghapasa untuk dipahatkan di Dharmasraya sebagai hadiah dari Raja Singhasari Kertanagara kepada Raja Melayu Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa.
Adityawarman dalam Pararaton[4] dan Kidung Panji Wijayakrama disebut dengan nama Tuhan Janaka yang bergelar Mantrolot Warmadewa. Ibunya bernama Dara Jingga putri Kerajaan Melayu di Dharmasraya. Dara Jingga bersama adiknya Dara Petak ikut bersama tim Ekspedisi Pamalayu yang kembali ke Jawa pada tahun 1293. Ahli waris Kertanagara yang bernama Raden Wijaya mengambil Dara Petak sebagai permaisuri dan bahwa Dara Jingga sira alaki dewa, yaitu bersuamikan kepada seorang “dewa” (bangsawan).
Pendapat lain mengatakan bahwa Adityawarman juga merupakan anak dari Raden Wijaya, yang berarti Raden Wijaya bukan hanya memperistri Dara Petak melainkan juga Dara Jingga. Penafsiran ini mungkin karena dalam Nagarakretagama disebutkan Raden Wijaya telah memperistri keempat putri Kertanagara.[5]
Muhammad Yamin berpendapat bahwa Adityawarman lahir di Siguntur (Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat sekarang). Ketika muda ia berangkat pergi ke Majapahit, karena ayah atau ibunya mempunyai perhubungan darah dengan permaisuri raja Majapahit pertama, Kertarajasa Jayawardana. Adityawarman dianggap saudara dari Raja Jayanegara yang tidak memiliki putra. Oleh karena itu, menurut adat Adityawarmanlah yang paling dekat untuk pengganti mahkota.[6]

Peran di Majapahit

Menurut sebagian sejarahwan Adityawarman dilahirkan dan dibesarkan di Majapahit[7][8] pada masa pemerintahan Raden Wijaya (1294–1309). Menurut Pararaton, raja kedua Majapahit, yaitu Jayanagara, adalah putra Raden Wijaya yang lahir dari Dara Petak. Dengan demikian, hubungan antara Adityawarman dengan Jayanagara adalah saudara sepupu sesama cucu raja Melayu dari Kerajaan Dharmasraya. Dari versi lain, mereka disebutkan juga saudara seayah sesama anak Raden Wijaya alias Kertarajasa Jayawardana[9].
Dengan hubungan kekeluargaan yang begitu dekat, maka ketika Jayanagara menjadi raja, Adityawarman dikirim sebagai duta besar Majapahit untuk Cina selama dua kali yaitu pada tahun 1325 dan 1332. Dalam kronik Dinasti Yuan ia disebut dengan nama Sengk'ia-lie-yu-lan[8]. Pengiriman utusan ini menunjukkan adanya usaha perdamaian antara Majapahit dengan bangsa Mongol, setelah terjadinya perselisihan dan peperangan pada masa Singhasari dan zaman Raden Wijaya.
Pada masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi (adik Jayanagara), Adityawarman diangkat sebagai Wreddhamantri, atau perdana menteri. Hal ini tersebut pada Prasasti Manjusri tahun 1343 yang menyatakan bahwa, Adityawarman selaku wreddhamantri menempatkan arca Mañjuçrī (salah satu sosok bodhisattva) di tempat pendarmaan Jina (Buddha) dan membangun candi Buddha (Candi Jago) di bhumi jawa untuk menghormati orang tua dan para kerabatnya[10][11][12]. Dan sebelumnya namanya juga tercatat dalam prasasti Blitar yang bertarikh 1330 sebagai Sang Arya Dewaraja Mpu Aditya. Dari Piagam Bendasari terdapat istilah tanda rakryan makabehan yang menyatakan urutan jabatan di Majapahit setelah raja, dimana disebutkan secara berurutan dimulai dengan jabatan wreddamantri sang aryya dewaraja empu Aditya, sang aryya dhiraraja empu Narayana, rake mapatih ring Majapahit empu Gajah Mada, dan seterusnya[13]. Jadi dengan demikian jelas terlihat kedudukan Adityawarman begitu sangat tinggi di Majapahit melebihi kedudukan dari Gajah Mada pada waktu itu.

(Prasasti Kuburajo)

Kontroversi mengenai Adityawarman

Identifikasi dengan Arya Damar

Arya Damar adalah tokoh dalam Kidung Pamacangah dan Babad Arya Tabanan, yaitu sebagai bupati Palembang yang berjasa membantu Gajah Mada menaklukkan Bali pada tahun 1343. Di dalam Babad Arya Tabanan diceritakan bahwa Arya Damar adalah keturunan bangsawan (wangsa ksatria, bahasa Bali: arya) yang berasal dari Kediri.[14] Sejarawan Prof. C.C. Berg menganggapnya identik dengan Adityawarman.[9]

Identifikasi dengan Akarendrawarman

Berdasarkan analisis sumber primer seperti Desawarnana, Pararaton, dan prasasti-prasasti di Jawa Timur maupun di Sumatera Barat, Profesor Uli Kozok[15][16] meragukan kalau Adityawarman putra langsung Dara Jingga. Dalam Desawarnana dikatakan bahwa Dara Jingga melahirkan anak yang di kemudian hari menjadi raja di Malayu. Dara Jingga tiba di Jawa pada tahun 1292, dan prasasti Adityawarman pertama bertarikh 1347. Menurut Kozok putra Dara Jingga bukan Adityawarman melainkan pendahulunya, barangkali Akarendrawarman.
(Prasasti Bukit Gombak)

Hubungan dengan Kerajaan Pagaruyung

Dari beberapa prasasti peninggalan Adityawarman, memang belum ada ditemukan kata-kata Pagaruyung, begitu juga tambo yang ada pada masyarakat juga tidak secara jelas menyebutkan nama dari raja mereka, dalam hal ini nama Adityawarman itu sendiri. Namun yang pasti Adityawarman memang menjadi raja di wilayah Pagaruyung, dari salah satu prasastinya menyebutkan bahwa ia sebagai Suravasawan atau Tuan Surawasa. Surawasa berubah tutur menjadi Suruaso, sebuah nagari yang bersempadanan dengan nagari Pagaruyung sekarang.

Berita dari Cina

Catatan Dinasti Ming (1368-1644) menyebut di San-fo-tsi (Sumatera) terdapat tiga orang raja.[8] Mereka adalah Sengk'ia-li-yu-lan (alias Adityawarman), Ma-ha-na-po-lin-pang (Maharaja Palembang), dan Ma-na-cha-wu-li (Maharaja Dharmasraya). Sebelumnya pada masa Dinasti Yuan (1271-1368), Adityawarman juga pernah dikirim oleh Jayanegara sebanyak dua kali sebagai duta ke Cina. Nama yang sama pada masa Dinasti Ming masih merujuk kepada Adityawarman, yang kemudian kembali mengirimkan utusan sebanyak 6 kali pada rentang tahun 1371 sampai 1377[17]. Berita ini dapat dikaitkan dengan penemuan Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah di Kerinci yang diperkirakan berasal dari zaman Adityawarman. Naskah tersebut menyebutkan tentang adanya Maharaja Dharmasraya. Jika dikaitkan dengan piagam yang dipahat pada bahagian belakang Arca Amoghapasa, Adityawarman bergelar Maharajadiraja dan membawahi Dharmasraya dan Palembang.[18] Melihat gelar yang disandang oleh Adityawarman, terlihat ia menggabungan beberapa nama yang pernah dikenal sebelumnya, Mauli merujuk garis keturunannya kepada Dinasti Mauli penguasa Dharmasraya dan gelar Sri Udayadityavarman pernah disandang oleh salah seorang raja Sriwijaya serta menambahkah Rajendra nama penakluk Sriwijaya, raja Chola dari Koromandel. Hal ini dilakukannya untuk mempersatukan seluruh keluarga penguasa yang ada di bhumi malayu, sesuai dengan manuskrip pengukuhannya sebagai Maharajadiraja, bahwa Adityawarman menyebutkan dirinya sebagai pelindung persatuan dan menentang perpecahan dalam kerajaannya.

Pindah ke Bhumi Malayu

Pada tahun 1339 Adityawarman dikirim sebagai uparaja atau raja bawahan Majapahit untuk wilayah Swarnnabhumi nama lain pulau Sumatera dan selanjutnya, Adityawarman pun menjalankan beberapa misi penaklukkan.[8]. Namun dari prasasti-prasasti yang ditinggalkan oleh Adityawarman, belum ada satu pun yang menyebutkan hubungannya dengan bhumi jawa.[17].
Kemudian pada tahun 1347, Adityawarman mendirikan kerajaan baru bernama Malayapura sebagai kelanjutan kerajaan Melayu sebelumnya, sebagaimana seperti yang terpahat pada bagian belakang Arca Amoghapasa[1]. Dari prasasti Kuburajo di Limo Kaum yang menggunakan aksara Dewanagari juga menyebutkan bahwa Adityawarman menjadi raja di Kanakamedini (Swarnnadwipa).
Dari prasasti Suruaso yang beraksara Melayu menyebutkan Adityawarman menyelesaikan pembangunan selokan untuk mengairi taman Nandana Sri Surawasa yang senantiasa kaya akan padi[19], yang sebelumnya dibuat oleh pamannya yaitu Akarendrawarman yang menjadi raja sebelumnya, sehingga dapat dipastikan sesuai dengan adat Minangkabau, pewarisan dari mamak (paman) kepada kamananakan (keponakan) telah terjadi pada masa tersebut[18]. Selain itu juga terlihat kepedulian Adityawarman untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakatnya dengan tidak bergantung kepada hasil hutan dan tambang saja.
Ada pendapat yang mengatakan kenapa Adityawarman tidak bertahta di Dharmasraya karena dia tidak memiliki hak atas kerajaan Dharmasraya tidak dapat dibuktikan, karena dari sisi ibunya Dara Jingga adalah salah seorang putri dari Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa raja Melayu sebagaimana yang disebut pada Pararaton, dan lagi pula dari manuskrip pada bagian belakang Arca Amoghapasa, Adityawarman jelas menyatakan dirinya sebagai raja dari bangsa Mauli serta memulihkan keadaan sebelumnya[20], Arca Amoghapasa ini sebelumnya merupakan hadiah dari Kertanagara dan ditempatkan di Dharmasraya, sebagaimana tersebut dalam prasasti Padang Roco[21].
Kemungkinan yang menyebabkan Adityawarman untuk memindahkan pusat kerajaannya lebih ke dalam yaitu daerah pedalaman (Pagaruyung atau Suruaso) adalah sebagai salah satu strategi untuk menghindari konfrontasi langsung dengan kerajaan Majapahit, yang pada masa itu lagi gencarnya melakukan penaklukan perluasan wilayah dibawah Mahapatih Gajah Mada, karena dari gelar yang disandang oleh Adityawarman jelas menunjukan kesetaraan gelar dengan gelar raja di Majapahit, sehingga hal ini dapat menunjukan bahwa Adityawarman memang melepaskan diri dari pengaruh kerajaan Majapahit. Namun ada juga pendapat lain berasumsi bahwa Adityawarman pindah ke daerah pedalaman untuk dapat langsung mengontrol sumber emas yang terdapat pada kawasan Bukit Barisan tersebut[22].
Walaupun memerintah dari kawasan pedalaman namun hubungan perdagangan dengan pihak luar tetap terjaga, hal ini terlihat dari catatan Cina yang menyebutkan, Adityawarman pernah mengirimkan utusan sebanyak 6 kali. Selain itu salah satu dari prasasti yang ditemukan di Suruaso juga terdapat prasasti yang beraksara Nagari (Tamil), jadi pengaruh India selatan pun telah sampai ke ranah Minang.
Setelah Adityawarman meninggal dunia, ia digantikan oleh putranya yang bernama Ananggawarman, sebagaimana tersebut dalam Prasasti Batusangkar yang bertarikh 1375, yang menyebutkan Adiytawarman dan putranya Ananggawarman melakukan upacara hewajra, dalam ritual tersebut Adityawarman diibaratkan telah menuju kepada tingkat ksetrajna.
Hayam Wuruk sebagai raja Majapahit waktu itu membiarkan saja pemberontakan tersebut, namun begitu Wikramawardhana naik tahta sebagai penganti Hayam Wuruk, mulai mengirimkan pasukan untuk menumpas pemberontakan tersebut pada tahun 1409[8] dan 1411, pertempuran kedua pasukan terjadi di Padang Sibusuk, (hulu sungai Batang Hari), dimana kedua-dua serangan pasukan kerajayaan Majapahit dapat dipukul mundur. Namun akibat dari serangan tersebut, pengaruh kerajaan ini terhadap daerah jajahannya melemah, dimana daerah-daerah jajahan seperti Siak, Kampar dan Indragiri melepaskan diri dan kemudian daerah-daerah ini ditaklukkan oleh Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh [23], dan kemudian hari menjadi negara-negara merdeka.
Arca Amoghapasa, pada bagian belakangnya terpahat prasasti Amoghapasa sedangkan bagian alas (lapik) disebut dengan prasasti Padang Roco

Pemerintahan Malayapura

Setelah memindahkan pusat pemerintahan ke daerah pedalaman Minang, Adityawarman menyusun sistem pemerintahannya mirip dengan sistem pemerintahan yang ada di Majapahit[24] pada masa itu dan menyesuaikannya dengan karakter dan struktur kekuasaan kerajaan Dharmasraya dan Sriwijaya yang pernah ada pada masyarakat setempat. Dimana ibukota diperintah secara langsung oleh Raja, sementara daerah pendukung tetap diperintah oleh Datuk setempat[25].
Perbandingan sistem pemerintahan di Majapahit dengan sistem pemerintahan Adityawarman:
Sistem Pemerintahan Majapahit Sistem Pemerintahan Malayapura
Mahamantri Katrini (Tiga Mahamentri)
  1. Mahamantri Hino
  2. Mahamantri Sirikan
  3. Mahamantri Halu
Rajo Tigo Selo (Tiga Raja Bersama)
  1. Rajo Alam
  2. Rajo Adat
  3. Rajo Ibadat
Catur Rakryan (Empat Penguasa)
  1. Rakryan Demung
  2. Rakryan Kanuruhun
  3. Rakryan Rangga
  4. Rakryan Temenggung
Basa Ampek Balai (Empat Menteri Utama)
  1. Bandaro
  2. Makhudum
  3. Indomo
  4. Tuan Gadang
Dua Dharmadhyaksa Tujuh Upapati Tujuh Upapati:
  1. Pamegat Tirwan
  2. Pamegat Manghuri
  3. Pamegat Kandamuhi
  4. Pamegat Pamwatan
  5. Pamegat Jambi
  6. Pamegat Kandangan Tuha
  7. Pamegat Kandangan Rare
Rajo Duo Selo Langgam nan Tujuah Langgam nan Tujuah
  1. Pamuncak Koto Piliang
  2. Perdamaian Koto Piliang
  3. Pasak Kungkuang Koto Piliang
  4. Harimau Campo Koto Piliang
  5. Camin Taruih Koto Piliang
  6. Cumati Koto Piliang
  7. Gajah Tongga Koto Piliang
Panca ri Wilatikta (Lima orang kepercayaan)
  1. Rakryan Mapatih (Gajah Mada)
  2. Rakryan Demung
  3. Rakryan Kanuruhun
  4. Rakryan Rangga
  5. Rakryan Temenggung
Basa Ampek Balai + Tuan Kadhi (?)
Mancanagara Rantau

Agama

Adityawarman diperkirakan penganut yang taat dari Vajrayana yang merupakan suatu aliran agama Buddha dan juga mengikuti Ajaran Siwa-Buddha, sebagaimana yang banyak dianut oleh para bangsawan Singhasari dan Majapahit. Adityawarman juga memperlambangkan dirinya dalam arca Amoghapasa. Dari prasasti Bukit Gombak disebutkan bahwa ia juga telah membangun sebuah vihara di Swarnabhumi.
Selama masa pemerintahannya di pedalaman Minangkabau, Adityawarman banyak meninggalkan prasasti-prasasti namun belum semuanya dapat diterjemahkan, selain itu beberapa pengaruh Adityawarman yang sampai sekarang masih dapat ditelusuri diantaranya penamaan biaro (bahasa Minang, artinya biara atau vihara) sampai sekarang masih menjadi nama sebuah nagari yaitu Biaro Gadang di kabupaten Agam dan selain itu nama Parhyangan (semacam tempat pemujaan), yang kemudian berubah tutur menjadi nama nagari Pariangan di kabupaten Tanah Datar.

Penghormatan

Sebagai salah seorang tokoh utama dalam sejarah Melayu, nama Adityawarman sangat dikenal bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Salah satu bentuk penghormatan untuknya ialah dengan mengabadikan namanya pada sebuah museum yang bernama Museum Adityawarman di Kota Padang, Sumatera Barat.[26] Selain itu, di beberapa daerah namanya juga diabadikan sebagai nama jalan.

Silsilah Adityawarman

Di bawah ini adalah silsilah Adityawarman.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Tribhuwanaraja
Maharaja Dharmasraya
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


 
 
 
 
 
 
 
Raden Wijaya
Pendiri
Majapahit
 
 
 
 
 
Dara Petak
 
Akarendrawarman
 
Dara Jingga
 
 
 
 
 
Adwayawarman
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Jayanagara
Raja ke-2
Majapahit
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Adityawarman
Maharajadiraja
Malayapura
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Ananggawarman
Raja ke-2
Malayapura
 
 
 
 
 
 
 


Referensi

  1. ^ a b Kern, J.H.C., (1907), De wij-inscriptie op het Amoghapāça-beeld van Padang Candi(Batang Hari-districten); 1269 Çaka, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-, en Volkenkunde.
  2. ^ Kern, J.H.C., (1913), Grafsteenopschrift van Koeboer Radja, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlands-Indië, p. 401–404.
  3. ^ Djafar, Hasan, (1992), Prasasti-Prasasti Masa Kerajaan Melayu Kuno dan Permasalahannya, Seminar Sejarah Melayu Kuno, Jambi, 7-8 Desember 1992. Jambi: Pemerintah Daerah Tingkat I Jambi bekerjasama dengan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jambi.
  4. ^ Mangkudimedja, R.M., (1979), Serat Pararaton. Alih aksara dan alih bahasa Hardjana HP. Jakarta, Departemen P dan K, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.
  5. ^ Muljana, Slamet, (2006), Tafsir Sejarah Nagarakretagama, Yogyakarta: LKIS, ISBN 979-25-5254-5.
  6. ^ Yamin, Muhammad. Gajah Mada, Pahlawan Persatuan Nusantara. Djakarta: Balai Pustaka. hlm. 39.
  7. ^ Hardjowardojo, R. Pitono, (1966), Adityawarman, Sebuah Studi tentang Tokoh Nasional dari Abad XIV, Djakarta: Bhratara.
  8. ^ a b c d e Slamet Muljana, (2005), Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, Yogyakarta: LKiS, ISBN 979-98451-16-3
  9. ^ a b Berg, C.C., (1985), Penulisan Sejarah Jawa, (terj.), Jakarta: Bhratara.
  10. ^ Brandes, J.L.A., (1904), Beschrijving van de ruïne bij de desa Toempang, genaamd Tjandi Djago in de Residentie Pasoeroean. 's-Gravenhage-Batavia, Nijhoff/Albrecht.
  11. ^ Bosch, F.D.K., (1921), De inscriptie op het Mansjuri-beeld van 1265 Caka, Bijdragen tot de Taal-, Land en Volkenkunde. 77: 194-201.
  12. ^ Kozok, Uli, Reijn, Eric van, Adityawarman: three incriptions of the Sumatran king of all supreme kings, Indonesia and the Malay World, Vol. 38, Issue 110 March 2010, pp 135 - 158, ISSN: 1469-8382 (electronic) 1363-9811 (paper), doi: 10.1080/13639811003665488 (Jurnal berbayar)
  13. ^ Al-Fayyadl, Muhammad, & Muljana, Slamet, (2005), Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit, Yogyakarta: LKIS, ISBN 979-8451-35-X.
  14. ^ Darta, A.A. Gde, A.A. Gde Geriya, A.A. Gde Alit Geria, (1996), Babad Arya Tabanan dan Ratu Tabanan, Denpasar: Upada Sastra.
  15. ^ www.mediaindonesia.com Asal Usul Raja Adityawarman (diakses pada 11 Juli 2010)
  16. ^ us.detiknews.com Sejarah Adityawarman (diakses pada 11 Juli 2010)
  17. ^ a b Casparis, J. G. de., (1992), Kerajaan Malayu dan Adityawarman, Seminar Sejarah Malayu Kuno, Jambi, 7-8 Desember 1992. Jambi: Pemerintah Daerah Tingkat I Jambi bekerjasama dengan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jambi, hlm. 235-256.
  18. ^ a b Kozok, Uli, (2006), Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah: Naskah Melayu yang Tertua, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, ISBN 979-461-603-6.
  19. ^ Casparis, J.G., (1990), An ancient garden in West Sumatra, Kalpataru, 40-49.
  20. ^ Kern, J.H.C., (1907), De wij-inscriptie op het Amoghapāça-beeld van Padang Candi(Batang Hari-districten); 1269 Çaka, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-, en Volkenkunde.
  21. ^ Muljana, Slamet, (1981), Kuntala, Sriwijaya Dan Suwarnabhumi, Jakarta: Yayasan Idayu.
  22. ^ Miksic, John., (1985), Traditional Sumatran Trade, Bulletin de l'Ecole française d'Extrême-Orient.
  23. ^ Cheah Boon Kheng, Abdul Rahman Haji Ismail, (1998), Sejarah Melayu, the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society.
  24. ^ A Dt. Batuah & A Dt. Madjoindo, (1959), Tambo Minangkabau dan Adatnya, Jakarta: Balai Pustaka.
  25. ^ Muljana, Slamet, (2006), Sriwijaya, Yogyakarta: LKIS, ISBN 979-8451-62-7.
  26. ^ wisatamelayu.com Museum Adityawarman (diakses pada 11 Juli 2010)

Sumber

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.