Rabu, 25 Desember 2013

Filled Under:

ZAMAN TIGA KERAJAAN BESAR ISLAM (2-Habis)

C.    KERAJAAN MUGHAL DI INDIA

1.      Latar Belakang Berdirnya Kerajaan Mughol

Kerajaan Mughal patut untuk dimasukkan ke dalam salah satu kerajaan terkuat di India. Latar belakang sejarah berdirinya kerajaan Mughal berawal dari ekspansi yang dilakukan oleh Zahirudin Muhammad dikenal dengan Babur yang berarti singa, salah satu cucu dari timur lank. Kemenangan Babur atas ekspansi di wilayah Samarkand tidak lepas dari adanya dukungan dan bantuan dari kerajaan Safawi. Sehingga dalam beberapa peperangan kerajaan Mughal selalu mendapatkan kemenangan.[28]

Pada saat ayahnya Umar Shekh Mirza meninggal dunia pada Juni 1494 M Babur yang ketika itu baru berumur sebelas tahun langsung diangkat menjadi penguasa Fargana. Walaupun ia masih muda, tapi semangatnya matang, hal ini terbukti pada tahun 1496, dia berusaha menaklukkan Samarkhan walaupun belum berhasil, namun dalam serangan berikutnya pada 1497, Samarkhan dapat ditaklukkan. Pada 1525 M, Babur meneruskan perjalanannya menuju Punjab, dan dalam pertempuran tersebut Punjabpun dapat ditaklukkannya, ini merupakan kesempatan baik bagi Babur untuk mengadakan serangan ke Delhi, dimana pada waktu itu Sultan Ibrahim Lodi sedang berselisih dengan pamannya, Alam pada 21 April 1526 M, terjadilah peperangan yang dahsyat di panipat, Sultan Ibrahim dengan gigih mempertahankan negeri bersama 100.000 orang tentara dan 1000 kendaraan Gajah. Namun Babur mampu memenangkan pertempuran karena ia menggunakan senjata api nerupa Meriam, dan akhirnya Sultan Ibrahim Lodi gugur bersama 25.000 pasukannya.[29]

Dengan ditaklukkannya Sultan Ibrahim, maka ini merupakan kesempatan untuk Babur untuk mendirikan kerajaan Mughal di India. Selain itu anaknya yang bernama Humayun disuruh untuk menaklukkan kota terbesar kedua di India yaitu Agra, serta kota-kota penting lainnya, Babur juga berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan lain yang terdapat di anak benua India, termasuk juga kerajaan-kerajaan Hindu. Dibawah pimpinan Amir Mahmud beserta 100.000 pasukan Islam memporak-porandakan pasukan Hindu di Khanwa. Raja dari kerajaan Hindu yaitu Rana Sangga, mati terbunuh dalam peristiwa yang terjadi pada tahun 1527.

2.      Kesultanan Kerajaan Mughal

Setelah Babur menikmati usahanya membangun kerajaan Mughal selama lima tahun, karena ia wafat pada tahun 1530 M, kemudian pemerintahan diteruskan oleh puteranya yang bernama Humayun. Pada pemerintahannya ia terlibat dalam beberapa peperangan diantaranya pada tahun 1535 M di Baksardekat Barnasmelawan pasukan Sher Khan. Humayun kalah dalam pertempuran tersebut. Pada pertempuran kedua Humayun mengalami kekalahan yang serupa sehingga harta rampasan perang dikuasai oleh Sher Khan, sedangkan pasukan yang mati dalam pertempuran dibuang kesungai.karena kalah akhirnya Humayun melarikan diri. Dalam pelariannya ia sempat menikah dengan putrid Hamidah Banu Begumdan lahirlah puteranya yang bernama Akbar Agung pada 23 November 1542. Ia berusaha mengkonsoloidasi sisa-sisa pasukannya. Humayun menghadap Sultan Syafawiyah yang bernama Sheh Thamasp untuk meminta bantuan. Setelah disetujui, iapun mempu menaklukkan Kandahar dan Kabul.[30]

Sementara itu setelah Shekh Khan (yang berhasil mengalahkan Humayun) meninggal pada tahun 1545 M, anak-anaknya tidak dapat memlihara pusaka kerajaan yang telah diwariskan. Mereka saling berebut kekuasaan sehingga kekuatan Negara menjadi pecah. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh Humayyun untuk merebut kembali kekuasaan yang sempat terampas darinya. Oleh karena itu pada November 1555 M Lahore dapat ditaklukkan. Ia pun melanjutkan perjalanan menuju Delhi. Ditengah perjalanan ia dihadang oleh pasukan Iskandar Shah, akan tetapi Humayyun dan pasukannya dapat melumpuhkannya dan Delhipun dapat direbut kembali. Namun tidak berselang lama Humayun wafat, tepatnya pada tanggal 24 januari 1556 M.

Setelah Humayun wafat, ia digantikan oleh puteranya yang bernama Muhammad, yang diberi gelar Abu Fath Jalaluddin dan yang paling terkenal adalah Sultan Akbar Agung. Ia menjadi raja terbesar diantara raja-raja Mughal di India. Kekuasaannya melingkupi seluruh wilayah anak benua India. Pada awal pemerintahanya, ia diserang oleh sisa-sisa kerajaan Afgan yang masih berkuasa di Bihar, Ayudhiya, dan Bangla dibawah pimpinan Adil Khan. Namun akhirnya ia dapat dikalahkan oleh pasukan Akbar Agung dan mengaku tunduk padanya.[31]

Patut dicatat dalam sejarah, bahwa Sultan Akbar Agung dikenal sebagai pribadi yang Jenius, bijaksana, ahli berperang dan administrator Negara yang ulung, selain itu juga ia dikenal sebagai tokoh Ilmu Perbandingan Agama. Prestasi ini disebabkan karena pemikirannya dalam konsep Dien-e-Ilah yang mengandung berbagai anasir dari berbagai unsure agama, yaitu Hindu, Budha, Jaina, Islam, Parsi, dan Kristen. Inti dari konsep ajaran tersebut adalah, bahwa agama merupakan gejala dari rasa tunduk kepada satu zat yang Maha Kuasa. Menurut Sultan Akbar, agama-agama tersebut pada hakekatnya adlah satu. Oleh karena itu perlu dicari jalan kesatuan inti agama, dan ia membuat agama baru yang disebutnya sebagai Dien-e-Ilah (1582 M). selain itu ia juga mengajarkan ajaran yang disebut Sulh-e-Kul yang memiliki arti perdamaian universal.[32]

Setelah Sultan Akbar wafat, puteranya Sultan Salim diangkat menjadi penggantinya, yang dijuluki dengan gelar Jahanggir. Bersama kematian Sultan Akbar maka ajaran Dien-e-Ilah dihilangkan atau dilarang, karena pada prinsipnya sebagian besar ummat Islam menolak ajaran tersebut. Jahanggir merupakan raja pelukis dari para pelukis karena karya lukisannya sangat bagus dan luar biasa. Jahanggir menikah dengan putri Persia yang bernama Mahruun Nisa’, setelah menjadi permaisuri diberi gelar Nurjannah yang berarti cahaya dunia (250-251). Karena kecintaannya terhadap permaisuri, ia terlena. Sang istri mulai mencampuri urusan kenegaraan, akibatnya kewibawaan dari Sultan Salim mulai luntur. Terjadilah pemberontakan yang dilakukan oleh puteranya sendiri yang bernama Khurram. Ia dipenjarakan sampai menemui ajalnya.

Prestasi lain yang dicapainya adalah penerapan bahasa Urdu sebagai satu bahasa resmi Negara sebagai akomodasi dari berbagai bahasa termasuk Sanksekerta dan parkit sebagai bahasa masyarakat umum, bahasa Turki untuk kalangan Istana, bahasa Persi untuk pejabat kantor dan bahasa Arab untuk kalangan agamawan.

Setelah Jahanggir wafat, kerajaan diperebutkan oleh kedua puteranya yaitu Shah Jahan dan Asaf Khan. Perselisihan tersebut akhirnya dimenangkan oleh Shah Jahan (1628 M) yang kemudian diberikan gelar Abul Muzaffar Sahabuddin Muhammad Sahib Qiran-e-Sani, sedangkan saudaranya ditangkap dan dipenjarakan, dan matanya dibutakan. Pada waktu ia menjadi raja Shah Jahan telah menikah dengan Mumtaz Mahal, dan dari pernikahannya tersebut, ia dikaruniai enam anak, yaitu 2 orang laki-laki dan 4 orang perempuan.[33]

Shah Jahan mampu menaklukkan Galkon, Bidar dan Baijapur dengan dibantu oleh puteranya. Namun akhirnya terjadi perselisihan diantara putera-puteranya untuk menggantikan kedudukannya. Aurangzeb dapat mengalahkan saudaranya, dia membujuk ayahnya agar diizinkan masuk ke istana dengan membawa bala tentaranya dan berjanji untuk tidak akan mengganggu kedudukan ayahnya, tetapi Aurangzeb mengingkari janjinya, dia melumpuhkan ayahnya dan memenjarakan ayahnya, sebagaimana Shah Jahan memenjarakan Jahanggir (156 M). pada masa pemerintahannya Shah Jahan meninggalkan hasil kebudayaan yang memiliki nilai artistic yang sangat tinggi yaitu Taj Mahal yang ia persembahkan kepada permaisurinya, disana pula akhirnya ia dimakamkan oleh puteranya. Hal ini mengingatkan akan kisah Abdurrahman III di Andalusia yang membangun Qashr Az-Zahra untuk mengabdikan cintanya kepada istrinya Fatimah Az-Zahra.[34]

Aurangzeb termasuk berhasil dalam menjalankan pemerintahan, karena dia mampu memberikan corak keislaman di tengah-tengah masyarkat Hindu. Aurangzeb mengajak rakyatnya untuk masuk Islam. Ia memerintahkan untuk menanam arca-arca Hindu dibawah jalan-jalan menuju Masjid agar orang Islam setiao harinya menginjak arca-arca tersebut. Kebijakan Aurangzeb itu banyak menuai kritik dari kalangan Hindu, diantaranya kerajaan Rajput yang pada awalnya mendukung kerajaan Mughal tapi kemudian menentanganya. Tindakannya yang sewenang-wenang itu pula yang akhirnya membawa kerajaan Mughal mengalami kemunduran.

3.      Kemajuan di Bidang Peradaban.

Kebijakan-kebijakan dalam pengembangan kebudayaan ditampakkan adanya bentuk perpaduan antara unsure Islam dan Hindu. Bentuk perpaduan ini dapat dilihat secara jelas pada arsitektur dan lukisan dan beberapa benteng Istana di Ajmer, Agra, Allahabad, Lahore dan Fathepur Sikri dan juga terlihat pada bentuk motif lonceng dan sejumlah sarana lainnya. Kubah yang lahir dari tradisi arsitektur Muslim dipakai baik untuk Masjid maupun Kuil.[35]

Perekonomian Mughal mengandalkan sector Pertanian dan industry, system pertanian dibangun, dimana petani tigkat bawah bertanggung jawab atas tanah garapan yang disebut Deh. Antara pemerintah dan petani dihubungkan dengan seorang Muqaddam. Hasil pertanian yang melimpah ruah mampu mensuplai kebutuhan bahan baku bagi pabrik-pabrik pengolahan. Kerajinan tenun berkembang menjadi pabrik tekstil di zaman Aurangzeb. Ia mengekspor tenun, rempah-rempah, opium, gula, bubuk sodium dll ke pasar Eropa.[36]

Bidang seni syair dan seni arsitektur berkembang pesat. Terdapat seorang penyair Istana terkenal yang bernama Malik Muhammad Jayazi, yang menulis karya agung yang berjudul Padmavat. Bangunan yang negah dan indah yang merupakan peninggalan Mughal yang sampai sekarang ada yaitu Istana Fathur Sikri, Lahore, Villa, Tajmahal, dan Masjid Agung Delhi. Sedangkan bahasa Urdu meningkat menjadi bahasa literature menggantikan bahasa Persi yang semula dipakai dikalangan Istana sultan-sultan di Delhi. Diantara penulis pertama dalam bahasa Urdu adalah Mazhar, Sauda, Dard dan Mir.

4.      Kemunduran dan Kehancuran.

Setelah Aurangzeb wafat, raja-raja berikutnya mulai lemah. Kerajaan Mughal dan rajanya tidak lebih hanya sebagai symbol dan lambing belaka, bahkan raja digaji oleh colonial Inggris yang datang dan tinggal didalam Istana. Akhirnya raja terakhir Bahadur Shah memimpin pemberotakan melawan Inggris namun gagal, bahkan ia tertangkap dan disiksa secara keji, lalu dibuang ke Rangon (Myanmar) pada tahun 1862. Dengan demikian maka tamatlah riwayat Kerajaan Islam Mughal di India, setelah beraba-abad lamanya mengalami kejayaan. Peninggalannya yang paling berharga adalah bangunan Istana Taj Mahal dan Masjid yang indah. Mereka juga membantu penyebaran ajaran agama Islam di anak benua India.[37]

Banyak factor penyebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Mughol antara lain adalah:
Pertama, perebutan kekuasaan antara keluarga. Hampi semua keturunan Babur umumya mempunyai watak yang keras da ambisius. Semua berebut kekuasaan sehingga terjadi perang saudara.
Kedua, pemberontakan oleh Ummat Hindu yang pada saat itu mayoritas, sedangkan Islam merupakan minoritas karena penguasa yang terakhir memimpin melakukan pendekatan masuknya Islam lebih kepada jalur politik bukan pada jalur dakwah cultural. Sehingga membuat sebagian garis keras orang-orang Hindu tidak senang dan berontak. Sehingga pemberontakan demi pemberontakan tidak dapat dielakkan lagi.[38]
Ketiga, Serangan dari pihak atau kekuatan luar. Serangan dari luar semula dilakukan oleh kerajaan Syafawi di Persia, kemudian dilanjutkan dengan serangan dari Afganishtan. Pangkal perselisihan antara Mughal dan Syafawi adalah karena rebutan daerah Kandahar.
Keempat, kelemahan ekonomi. Kemunduran politik Mughal sangat menguntungkan bangsa-bangsa barat untuk menguasai jalur perdagangan.


Catatan Kaki

[1] Muhammad Nurhakim, Sejarah dan Peradaban Islam, (Malang: Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang, 2003), hal. 1.
[2] Moeflich Hasbullah, Dari Romantisme Historis ke Realitas Kontemporer,
http://www.geocities.com/arsip_nasional/agama/agama1.htm/accessed tanggal 8 Juli 2008.
[3] Ibid.
[4] Sisca Ainun Jariyah, Imperium Islam di India, http://www.mail-archive.com/assunnah_2@yahoogroups.com/msg00190.html/accessed tanggal 8 Juli 2008.
[5] Mansur,  Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah ,(Yogyakarta: Global   Pustaka Utama, 2004), hal. 62.
[7] Abdul Karim M, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), hal. 306.
[8] Ibid.
[9] Ibid., hal. 307.
[10] Kerajaan Safawi di Persia,…
[11] Abdul Karim M, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam…, hal, 308.
[12] Ibid.
[13]  Kerajaan Safawi di Persia,…
[15] Kerajaan Safawi di Persia,…
[16] Muhammad Nurhakim, Sejarah dan Peradaban Islam…,hal. 144.
[17] Syafiq A.Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam di Turki (Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1997), hal. 51.
[18]  Abdul Karim M, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam…, hal, 310.
[19]  Syafiq A.Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam di Turki…, hal. 53.
[20]  Ibid., hal. 312.
[21]  Ibid.
[22] Kerajaan Turki Usmani, file:///D:/DOCUMEN/INTERNET/3%20Kerajaan/Turki%20usmani.htm/accessed tnggal 5 juli 2008.
[23]  Abdul Karim M, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam…, hal, 312.
[24] Ibid., hal. 313.
[25]  Ibid., hal. 314.
[26] Kesultanan Usmaniah, http://wapedia.mobi/id/Kesultanan_Utsmaniyah?t=3./accessed tanggal 8 Juli 2008
[27] Ibid.
[29]  Abdul Karim M, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam…, hal, 315.
[30] Ibid. hal. 316.
[31] Ibid., hal. 317.
[32] Ibid.
[33] Ibid.
[34] Ibid., hal. 318.
[35] Muhammad Nurhakim, Sejarah dan Peradaban Islam…,hal. 149.
[36] Ibid., hal. 150.
[37] Abdul Karim M, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam…, hal, 318.
[38] Muhammad Nurhakim, Sejarah dan Peradaban Islam…,hal. 151.



Sumber

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.