Rabu, 25 Desember 2013

Filled Under:

ZAMAN TIGA KERAJAAN BESAR ISLAM (1)

Oleh : Mujiatun Ridawati, MSI.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.

Umat Islam disepanjang sejarah, selalu berupaya melakukan peran-peran aktif dalam kehidupan social, politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lain atas nama agama. Seperti peran nabi Muhammad di Madinah dalam pembinaan msasyarakat yang majemuk, sumbangan Bani Umayyah di Spanyol terhadap perkembangan sains di Eropa, peran Bani Abbas di Baghdad dalam menumbuhkan tradisi intelektual, dan di masa modern bangsa-bangsa Muslim berjuang melawan colonial dan musuh-musuh peradaban kemanusiaan seperti yang sekarang terjadi. Fakta historis ini membedakan ummat Islam dengan ummat agama lainnya yang cendrung membatasi agama dari keterlibatan langsung dengan permasalahan-permasalahan social, khususnya politik.[1]

Salah satu kekayaan pranata politik Islam yang belum ada tandingannya dalam sejarah umat manusia kapanpun adalah sistem kekhalifahan (Khilafah). Kaum Muslimin pernah memiliki suatu daerah kekuasaan yang sangat luas membentang dari Iran di Timur sampai Spanyol di Barat, dan dari Ethiopia di Selatan sampai Turki di Utara. Beberapa paradigma historis Islam yang turut mendukung perluasan wilayah Islam ini adalah : Spiritual, Kultural dan Land Reform. [2]

Ketiga prinsip atau pendekatan Islamisasi ini bergerak di bawah satu institusi yang menjadi kekhasan keunggulan politik Islam dan berjasa menyatukan wilayah yang demikian luas di bawah dinasti Umayyah dan Abbasiyah yaitu sistem Khilafah yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Karena keunggulannya ini, lembaga khilafah telah menjadi kebanggaan umat Islam ketika mengenang sejarah mereka pada zaman kejayaannya.[3]

Pasca runtuhnya dua kekuatan besar Islam, Daulat Abbasiyah dan Daulat Umaiyah. Islam mengalami kemunduran dalam berbagai hal sehingga Islam tumbuh secara terkotak-kotak. Hal ini di karenakan pada masa tersebut banyak muncul kerajaan-kerajaan kecil dengan sistem pemerintahan yang independent. Di sisi lain ekspansi bangsa mongolia terhadap wilayah Islam terus berlanjut dengan membawa dampak kehancuran terhadap peradaban Islam, hingga muncullah masa tiga kerajaan besar sebagai kekuatan baru Islam yaitu Kerajaan Syafawiyah di Persia, Turki Usmani di Turki dan Kerajaan Mughol di India[4]. Ketiga kerajaan ini perlu dibahas lebih lanjut untuk mengetahui perkembangan politik di dunia Islam.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang masalah diatas dapat maka dapat dirumuskan beberapa pokok masalah yang berkaitan dengan tiga kerajaan besar yaitu:
  1. Bagaimanakah latar belakang berdirinya tiga kerajaan besar tersebut yaitu Syafawiyah, Turki Usmani dan Mughol?
  2. Apa saja kontribusinya di dunia Islam?
  3. Apa yang menyebabkan keruntuhan ketiga kerajaan tersebut?

II. MASA TIGA KERAJAAN BESAR

A.    KERAJAAN SYAFAWIYAH di PERSIA

1.      Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Syafawiyah.

Daulah Syafawiyah berasal dari sebuah gerakan tarekat yang didirikan oleh Syekh Ishak Syafiuddin (1252-1334) yang berpusat di Ardabil, sebuah kota di Azerbijan. Tarekat Safawiyah ini didirikan bersamaan dengan berdirinya kerajaan Usmani di Turki.[5]

Sebagai pendiri kerajaan, Safiuddin dikenal sebagai pribadi yang agamis. Ia merupakan keturunan Musa al-Kazhim yang terkenal sebagai imam Syi’ah yang keenam. Setelah ia berguru dengan Syaikh Taj al-Din Ibrahim Zahidi dan menjadi menantunya, ia mendirikan tarekat Safawiyah pada tahun 1301 M. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawiyah ini bertujuan untuk memerangi orang-orang ingkar dan golongan Ahl al-Bid’ah Namun pada perkembangannya, gerakan tasawuf  berubah menjadi gerakan keagamaan yang mempunyai pengaruh besar.[6]

Selama periode Syafawiyah di Persia, persaingan antara Turki dan Persia semakin nyata untuk mendapatkan kekuasaan. Namun demikian Ismail merasa bahwa saingan terberat adalah Sultan Turki Utsmani, Salim 1. Penyebab ketegangan antara kedua penguasa Muslim (Salim: Sunni dan Ismail: Syi’ah) berasal dari kebencian Salim dan ajaran Syi’ah yang ada didaerah kekuasaannya. Fanatisme Salim membuatnya membunuh 40.000 orang yang dicurigai dan didakwa telah mengingkari ajaran Sunni.[7]

Ketegangan kedua penguasa ini berakhir pada peperangan Chalddiran, Tibriz (6 september 1514M). Persia dipimpin oleh Shakh Ismail menjalankan perang dengan turki, sang shakh mengadakan persahabatan dengan Portugis yang ada di India untuk menyerbu Turki dan Mesir dan akhirnya shah dapat mempertahankan Persia.[8]

2.      Kesultanan Kerajaan Syafawiyah.

Pada 1524, shah Ismail wafat. Wilayah kekuasaannya meliputi daerah utara Tranxsosiana sampai teluk Persia di wilayah selatan. Afganistan dibagian Timur hingga dibagian Barat sungai Eufrat. Setelah ituShah Tamasp putranya diangkat menjadi raja. Pada tahun 1554 M. Dia menjadi penguasa yang paling lama berkuasa di kerajaan Syafawiyah. Setelah ia meninggal dunia, terjadilah benturan antara pangeran syafawi dengan Suku Kijilbash.Tetapi yang paling dekat dengannya adalah anak ke-limanya yaitu Pangeran Haedar Mirza, kedekatan ini yang membuatnya mengumumkan dirinya menjadi pangeran, inilah yang membuat orang Kijilbash menjadi keberatan, akhirnya Haedar Mirza terbunuh.[9]

Kamudian naiklah Ismail Mirza sebagai pangeran yang terkenal sangat kejam dan rakus pada tahun 1576. Dia membunuh delapan pangeran dan lima belas keluarga kerajaan. Pada saat kematiannya rakyat merasa senang karena terbebas dari kediktatorannya. Kemudian Ia digantikan oleh Muhammad Mirza (anak sulung dari Shah Thamasp) yang dijuluki dengan Shah Muhammad Khuda Bandah. Pada periode ini tidak ada kemajuan yang berarti.

Setelah periode ini naiklah Shah Abbas yang pada saat itu berusia enam belas tahun. Ia sangat terkenal dan berhasil menarik simpati rakayatnya dan Ia berhasil menstabilkan kondisi pemerintahan. Abbas I menempuh langka yaitu:
  • Berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qizibasy atas Kerajaan Safawi dengan cara membentuk pasukan baru yang terdiri atas budak-budak.
  • Mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani.[10]
Pada periode ini kamjuan ilmu politik dan ekonomi sangat pesat. Salah satu bukti kamjuannya adalah bangunan Cahel Sultun yang terdiri atas empat puluh pilar yang kokoh, disanalah kerajaan Syafawiyah. Disisi lain puisi dan filsafat juga mendapatkan perhatian pada periode ini. Lembaga-lembaga pendidikan Syi’ah juga berkembang dengan subur. Banyak sekolah yang dibangun oleh kerajaan Syafawiyah di Isfahan, Siraj dan Mushad.[11]

Hancurnya Syafawiyah dimulai sejak wafatnya Abbas I, tetapi kehancuran total mulai terlihat ketika Khalifah Sulaiman berkuasa. Ia balas dendam karena rezim Syi’ah melakukan pemerasan dan penindasan terhadap rakyat, termasuk pemaksaan terhadap ulama dari golongan Sunni agar menerima ajaran Syi’ah. Dan puncak kehancurannya teradi saat kekuasaan Shah Sultan Husein II.[12]

Pemimpin selanjutnya adalah Karim Khan yang merupakan pimpinan koalisi kelompok kesukuan Zand di Iran Barat. Rezim ini berlangsung secara efektif dari tahun 1750-1779. Selama periode ini Iran berada dibawah dominasi ekonomi dan politik dari kekuatan Barat, khusunya Inggris dan Rusia. Campur tangan bangsa-bangsa Eropa terhadap Iran datang dalam bentuk penaklukkan dan pengukuhan pengaruh mereka melalui persaingan antar kekuatan Eropa terutama Inggris dan Rusia.

Pada 1925, muncullah  Dinasti Pahlevi yang dipimpin oleh Reza Khan setelah mengusir Ahmad Ali Shah penguasa dari Dinasti Qajar. Kemudian dia secara resmi memakai mahkota Iran. Pada masa inilah Iran mengalami kemajuan yang cukup pesat di berbagai bidang, kemudian dia mengangkat puteranya yang bernama Muhammad Reza sebagai shah-e-Iran. Pada masa ini ia berhasil menasionalisasikan Anglo Iranian Oil Company menjadi milik Iran pada tahun 1951, melalui pengesahan di parlemen. Kekuasaannya lama sampai pada akhirnya muncullah revolusi Iran yang dipimpin oleh Ayatullah Khomaini.

3. Kemajuan Peradaban Islam di Persia

Kebudayaan dan peradaban memiliki arti yang hampir sama tetapi terdapat perbedaan dalam hal perwujudannya. Demikian juga dengan kemajuan peradaban Islam di Persia.[13] Keberhasilan raja Abbas I dalam merebut kembali daerah-daerah yang pernah dikuasai oleh kerajaan lain pada masa raja-raja sebelumnya menjadi tolak ukur kemajuan peradaban Islam di Persia khususnya dalam bidang politik. Selain kemajuan di bidang politik, raja Abbas I juga telah membawa peradaban Islam menuju masa keemasan di bidang yang lainnya seperti ekonomi, ilmu pengetahuan dan pembangunan.

Di bidang ekonomi, raja Abbas I berhasil mengubah pelabuhan Gumrun menjadi pusat perdagangan yang berada pada jalur penghubung antara Timur dan Barat. Sedangkan di dunia IPTEK, Persia masa itu berhasil melahirkan ilmuwan-ilmuwan handal seperti Baha al-Din al-Syaerazi, Sadar al-Din al-Syaerazi (filosof) dan Muhammad Baqir Ibn Muhammad Damad yang pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan lebah-lebah. [14]

Pada masa kejayaan ini kerajaan telah berhasil menciptakan Isfahan, ibu kota kerajaan, menjadi kota yang sangat indah. Di kota tersebut berdiri bangunan-bangunan besar lagi indah, seperti masjid-masjid, rumah sakit-rumah sakit, sekolah-sekolah, jembatan raksasa di atas Zende Rud, dan Istana Chihil Sutun. Pada pintu masjid ini terdapat lapisan perak yang membuat masjid ini terlihat begitu megah.[15]

4.  Kemunduran dan Kehancuran.

Sepeninggal Abbas I Syafawi dipimpin oleh Sultan-Sultan yang tidak mampu mempertahankan kemajuan Syafawi. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor yang antara lain sebagai berikut:
  • Ketegangan dan konflik dengan Turki Usmani yang keberadaannya jauh lebih besar dan kuat daripada Syafawi.[16]
  • Keadaan para sultan yang lemah dan tidak efektif memimpin. Abbas II adalah raja yang gemar minum-minuman keras demikian juga sultan-sultan setelahnya yang memaksakan kehendak terhadap rakyatnya sehingga banyak pemberontakan yang menyebabkan kerajaan runtuh.
  • Kelemahan para sultan ditambah dengan melemahnya semangat pasukan budak-budak yang direkrut Abbas I, membuat Syafawi semakin.
  • Dekadensi moral khusunya dilingkungan Istana juga menyebabkan merosotnya pamor Syafawi dimata rakyatnya.

B.  KERAJAAN TURKI USMANI

1.      Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Usmaniyah

Kerajaan Turki Usmani didirikan oleh suku bangsa pengembara yang berasal dari wilayah Asia Tengah yang termasuk suku kayi. Ketika bangsa Mongol menyerang dunia Islam, pimpinan suku kayi yaitu Sulaiman Syah, mengajak anggota sukunya untuk menghindari serbuan bangsa Mongol dan lari kebarat[17] Bangsa Turki sangat rajin dan pintar berperang sehingga dalam waktu yang relative singkat bangsa Turki mampu membangun sebuah kekuasaan politik yang besar.

Pada saat bangsa Mongol (sebelum Islam) dan orang Kristen, ingin menghapus Islam dari muka bumi, orang Turki Usmani muncul sebagai pembela dan pelindung Islam, bahkan mereka membawa panji-panji Islam sampai ke daratan Eropa. Saat Mongol menyerang Sultan Alaudin di Anggara (sekarang Angkara), al-Tugril membantunya mengusir Mongol, dan sebagai balas jasanya Alaudin memberikan daerah Iski Shahr dan sekitarnya kepada al-Tugril. [18]

Al-Tugril mendirikan Ibu Kota yang bernama Sugut. Disanalah lahir puteranya yang pertama bernama Usman pada tahun 1258 M. kemudian al-Tugril meninggal dunia pada tahun 1288 M. sejak itulah Usman mendeklarasikan dirinya sebagai Sultan dan berdirilah Dinasti Turki Usmani. Usman memindahkan ibu kota ke Yeniy. Pada 1300 M sultan Alaudin meninggal, maka Usman mengumumkan dirinya sebagai pemimpin yang berkuasa penuh.

2.      Kesultanan Turki Usmani.

Raja-raja Turki Usmani bergelar Sultan dan khalifah sekaligus. Mereka mendapatkan kekuasaan secara turun-temurun walaupun tidak harus putra pertama yang menjadi pengganti sultan terdahulu.[19]

Setelah Usman meninggal pada tahun 1326 M, kemudian Ia digantikan oleh puteranya yang bernama Orkhan (Urkhan). Pada periode ini tentara Islam pertama kali masuk ke Eropa karena Orkhan berhasil membentuk tiga pasukan utama tentaranya yang terdiri dari: Sipahi (tentara regular), Hazab (terntara ireguler) yang digaji pada saat mendapatkan harta rampasan perang (Mal Al-Ganimah). Ketiga yaitu tentara Jenisari yang direkrut pada saat berumur dua belas. Karena tentara tersebut menyalah gunakan kekuatan mereka, sehinga pada masa Sultan Mahmud II berkuasa tentara ini dibubarkan (1969: 117).

Setelah itu Sultan Mahmud digantikan oleh puteranya yang bernama Murad I yang berhasil menaklukkan banyak daerah seperti Adrionopol, Masedonia, Bulgaria, Serbia dan Asia Kecil. Namun yang paling monumental adalah penaklukkan di Kosovo (1389 M) sehingga daerah tersebut selama lima ratus tahun dikuasai oleh pemerintahan Turki Usmani. Walaupun banyak menghadapi peperangan Sultan Murad I tidak pernah terkalahkan, sehingga ia dijuluki Alexander pada Abad pertengahan.[20]

Setelah itu Murad digantikan oleh puteranya yang bernama Bayazid yang terkenal dengan julukan Ildrim/Eldream (kilat). Bayazid dengan cepat menaklukkan daerah-daerah sekitar dan memperluas wilayahnya sampai ke Eropa. Sepeninggal Bayazid Turki Usmani mulai mengalami kemunduran. Selanjutnya Turki Usmani dipimpin oleh Muhammad yang berhasil mengmbalikan Turki Usmani seperti sedia kala, dia berhasil menstabilkan Turki Usmani dan atas keberhasilannya ini para sejarawan mensejajarkannya dengan Umar II dari dinasti Umayyah.[21]

Setelah Muhammad meninggal, ia digantikan oleh Murad II yang berhasil mengembalikan citra Murad I, yaitu dengan kembali merebut daerah-daerah kekuasaan di Eropa (Kosovo) yang sempat lepas setelah Bayazid meninggal. Dia juga seorang penguasa yang saleh dan dicintai oleh rakyatnya, juga seorang yang sabar, cerdas dan berjiwa besar dan ahli ketatanegaraan.

3. Perluasan Wilayah dan Puncak Kekuasaan

Penaklukkan Konstantinopel oleh Kesultanan Utsmaniyah pada 29 Mei tahun 1453 saat dipimpin oleh Muhammad II atau yang dalam sejarah lebih dikenal dengan nama Muhammad al-Fatih mengukuhkan status kesultanan tersebut sebagai kekuatan besar di Eropa Tenggara dan Mediterania Timur.[22]

Pada masa ini Kesultanan Utsmaniyah memasuki periode penaklukkan dan perluasan wilayah, memperluas wilayahnya sampai ke Eropa dan Afrika Utara di bidang kelautan, angkatan laut Utsmaniyah mengukuhkan kesultanan sebagai kekuatan dagang yang kuat. Perekonomian kesultanan juga mengalami kemajuan berkat kontrol wilayah jalur perdagangan antara Eropa dan Asia. Pada saat itulah kehancuran bagi Bizantium yang sudah berkuasa sebelum masa Nabi. Sultan Muhammad al-Fatih  juga berhasil menaklukkan Venish, Italy, Rhodos dan Cremia yang terkenal dengan Konstantinopel II.[23]

Al-Fatih juga menetapkan undang-undang baru dalam Islam yang disahkan dalam Qanun Namah yaitu membunuh saudara kandung, termasuk keponakan, paman dan keluarga dekat yang dianggap bersaing dalam perebutan kekuasaan- adalah Halal, dengan alasan untuk tetap menjaga keutuhan Negara dan wilayahnya tidak terpecah-pecah. Fatwa tersebut disahkan oleh Syaikh al-Islam. Setelah Fatih meninggal, ia digantikan oleh puteranya yang bernama Bayazid II, kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Salim I, ia terkenal sebagai penguasa yang sangat kejam. Dalam sejarah Eropa, ia dikenal sebagai Salim The Grim. Sebelum menjadi Sultan ia melawan ayahnya dan melakukan pembunuhan terhadap saudaranya yang bersaing merebut tahta dan kekuasaan. Ia menaklukkan Asia Kecil, Persia, Kaldrin dan Mesir dan juga berhasil menaklukkan Sultan Mamluk (1517 M). Ia juga memindahkan Khalifah Bani Abbas ke Konstantinopel dan merebut gelar saklar dengan cara paksa. Dengan pemindahan jabatan sacral dari Kairo ke Konstantinopel, maka sejak itu nama kota tersebut berubah menjadi Istambul.

Sejak saat itu dalam sejarah Islam terdapat dua jabatan penting yang dukuasai oleh seorang penguasa, yaitu sebagai Sultan untuk kekuasaan Turki dan sebagai khalifah bagi seluruh dunia Islam. Sepeninggal Salim I, ia digantikan Sulaiman Agung 1520-1566 M, ia merupakan penguasa Usmani yang berhasil membawa kejayaan Islam. Ia dijuluki sebagai Sulaiman Al-Qanuni. Sulaiman merupakan pemimpin yang paling terkenal di kalangan Turki Usmani dan pada awal abad ke-16 ia adalah kepala Negara yang paling terkenal di dunia. Sulaiman juga berhasil menerjemahkan Al-Qur’an dalam bahasa Turki.[24]

Bahkan pada saat terjadi pertentangan antara protestan dan katolik di Eropa, sebagian diantara mereka meminta suaka politik kepada Khalifah Sulaiman. Setelah Sulaiman, kerajaan Turki Usmani mengalami kemunduran.[25]

4.      Runtuhnya Khilafah Turki Utsmani.

Sejak tahun 1920, Mustafa Kemal Pasha menjadikan Ankara sebagai pusat aktivitas politiknya. Setelah menguasai Istambul, Inggris menciptakan kevakuman politik, dengan menawan banyak pejabat negara dan menutup kantor-kantor dengan paksa sehingga bantuan kholifah dan pemerintahannya mandeg. Instabilitas terjadi di dalam negeri, sementara opini umum menyudutkan kholifah dan memihak kaum nasionalis. Situasi ini dimanfaatkan Mustafa Kemal Pasha untuk membentuk Dewan Perwakilan Nasional, dan ia menobatkan diri sebagai ketuanya. Sehingga ada 2 pemerintahan; pemerintahan khilafah di Istambul dan pemerintahan Dewan Perwakilan Nasional di Ankara.[26]

Setelah resmi dipilih jadi ketua parlemen, Pasha mengumumkan kebijakannya, yaitu mengubah sistem khilafah dengan republik yang dipimpin seorang presiden yang dipilih lewat Pemilu. Tanggal 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki. Kemal mengeluarkan ancaman bahwa penentang sistem republik ialah pengkhianat bangsa dan ia melakukan teror untuk mempertahankan sistem pemerintahannya. Kholifah digambarkan sebagai sekutu asing yang harus dienyahkan.[27]
(Bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.