Sabtu, 14 Desember 2013

Filled Under:

Raja Dretarastra Drop Out dari SLB Hastinapura

Raja Dretarastra Drop Out dari SLB Hastinapura

(Sekedar latihanku corat-coret fiksi)
 

Suatu sore ditahun 2800 SM, tiga orang bocah bermain-main di halaman sebuah rumah mewah diawasi oleh dua orang pembantunya. Mereka bersenda gurau terkadang tertawa terbahak-bahak karena asyik dengan permainannya. Terkadang mereka berlari saling kejar mengejar di halaman rumah yang sangat luas itu. Maklumlah, istana kerajaan kuru adalah tempat paling mewah di hastina kala itu. Rumah seluas 800 meter persegi ditempati oleh dua orang ibu permaisuri yang bernama ibu Ambika dan Ambalika. Dari kedua permaisuri inilah cikal bakal keturunan bangsa bharata yang gagah perkasa.

Bocah-bocah itu tiada lain adalah Dretarastra, pandu dan widura. Dretarastra adalah putra ibu Ambika, pandu adalah putra ibu ambalika dan widura adalah saudara tiri dari keduanya dari ibu yang berbeda. Namun ketiga anak itu mempunyai ayah yang sama.

Ketika hari menjelang petang anak-anak selesai bermain. Satu persatu mereka kembali ke rumah istana. Namun Dretarastra tidak kunjung masuk rumah, ia tetap asyik mendengarkan musik keroncong pada walkman kesayangannya. Ia adalah penyandang Tuna Netra. Maklumlah Dretarastra tidak menyadari hari semakin malam dan saudara-saudara tirinya telah beranjak meninggalkannya.

“Dretarastra, anakku!” “Hari menjelang malam, lekaslah masuk!” kata ibu Ambika. Bergegaslah Dretarastra masuk rumah sembari memikirkan keadaannya yang buta itu. Dretarastra terlahir Tuna Netra akibat kesalahan ibu Ambika dalam ritual memperoleh keturunan yang dipimpin oleh Resi Byasa. Karena Ambika menutup mata selama upacara berlangsung, maka anaknya terlahir buta.

Pendidikan di Hastinapura kala itu tergolong maju. Dari pendidikan dasar, menengah sampai perguruan tinggi telah tersedia. SD, SMP, SMA bahkan Universitas kesemuanya ber-bandrol hastinapura. Tidak ketinggalan pula Sekolah Luar Biasa juga didirikan, mulai dari A, B, C dan D. Apalagi salah seorang pangeran kerajaan, Dretarastra  adalah penyandang Tuna Netra. Sudah barang tentu pembangunan SLB-A Hastinapura menjadi prioritas utama.

Sekolah Luar Biasa tipe A ini berdiri di ujung timur lapangan kuruksetra. Berdekatan dengan fasilitas-fasilitas lainnya yang memudahkan teknik orientasi dan mobilitas bagi siswa-siswanya. Guru besar Bhisma menjadi kepala sekolah luar biasa kala itu. Drona dan kripa adalah merupakan bagian dari guru-guru yang bertugas mendidik Dretarastra. Kurikulum SLB Hastinapura mencakup pengetahuan perang, strategi dan tata pemerintahan yang tidak kalah hebatnya dengan sekolah umum. Tentunya dengan harapan setelah Dretarastra tamat SLB, ia akan mampu melanjutkan ke perguruan tinggi untuk kemudian dipersiapkan menjadi Raja Hastinapura yang cukup lama kosong atau status quo.

Pandu dan Widura bersekolah di SD Hastinapura, sedangkan Dretarastra bersekolah di SLB-A Hastinapura. Mereka adalah tergolong anak-anak cerdas dalam belajar. Setiap pelajaran mereka selesaikan dengan baik. Namun, ada yang mengganjal dalam perasaan Dretarastra. Ia tidak memiliki teman di kelasnya, karena Dretarastra adalah satu-satunya siswa di SLB itu. Seperti anak-anak seusianya, Dretarastra ingin sekali mempunyai banyak teman seperti saudara tirinya, Pandu dan Widura.

Kegelisahan dan rasa malas mulai menyelimuti Dretarastra, rupanya nasihat-nasihat yang diberikan oleh guru-gurunya di SLB tidak ada yang diindahkannya. Suatu ketika, Dretarastra berusaha susah payah memanjat pagar sekolah yang setinggi orang dewasa. Namun tiap kali juga ia jatuh ke tanah, rupanya sang guru belum mengajarinya teknik memanjat yang baik. Kebetulan jam istirahat, guru bhisma sedang lewat dan menegur Dretarastra, “mengapa engkau harus memanjat pagar jika ingin pergi ke luar sekolah?” “Bukankah gerbang sekolah selalu terbuka bagimu wahai putra Ambika?”.

“Maafkan kesalahan hamba guru!” jawab Dretarastra dengan rasa bersalah. “Hamba tidak kuat belajar sendirian di sekolah, tanpa teman yang hamba ajak bermain setiap waktu istirahat” lanjut Dretarastra.
Mendengar jawaban muridnya, guru Bhisma termenung sembari membenarkan dalam hati apa yang dirasakan Dretarastra. Kenyataan bahwa hanya Dretarastra-lah yang menjadi murid tunggal di sekolah itu. Tidak mungkin baginya untuk merekrut siswa SLB jika di Provinsi Hastina memang benar-benar tidak ada lagi anak-anak tuna netra. “Mungkin saat ini semua orang mendapatkan karma baik dari perbuatannya dahulu” pikir Bhisma dalam hati.

Sarana bermain bagi siswa dan Laboratorium internet memang sudah diusulkannya, namun anggaran belum turun juga. Tanda Bintang yang dibubuhkan Dewan Rakyat Hastinapura pada program tersebut belum juga dicabut. Alhasil proyek pengembangan SLB belum bisa terealisasi.

Adapula program pendidikan inklusi yang digembar-gemborkan Menteri Pendidikan Hastina masih sebatas wacana saja. Pendidikan inklusi adalah suatu model pendidikan yang diselenggarakan di sekolah inklusi, dimana semua anak baik anak normal maupun yang berkebutuhan khusus mendapatkan pelayanan pendidikan yang sama dalam suatu sekolah (education for all). Sehingga dalam hal ini Dretarastra, Pandu dan Widura akan bisa duduk dan belajar dalam kelas  dan sekolah yang sama.

“Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi jika Dretarastra ingin minggat atau berhenti sekolah” pikir guru Bhisma sembari bergegas untuk menemui ibu Ambika guna melaporkan keadaan Dretarastra di sekolah.

Setelah menerima laporan Bhisma dan mengetahui keadaan putranya, ibu Ambika dengan berat hati akhirnya mengijinkan Dretarastra berhenti sekolah alias Drop Out. Ia sangat mengasihi Dretarastra, putra tunggalnya yang tuna netra. Sambil tersenyum ia berkata, “Anakku, Ibu menyekolahkanmu di SLB adalah dengan tujuan mulia. Setelah tamat nanti, engkau dapat melanjutkan ke perguruan tinggi yang mencetak calon-calon raja besar. Kebutaan yang membelenggu dirimu tidak lagi menjadi penghalang engkau menjadi raja Hastina!”

“Jika engkau membuang kesempatan ini, maka Pandu-lah yang akan menggantikan posisimu sebagai raja Hastina!” terang ibu Ambika yang ditimpali dengan anggukan kepala Dretarastra pertanda ia tidak lagi merubah keputusannya untuk berhenti sekolah.

Demikian semenjak saat itu, putra-putra Kuru ini tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Mereka tumbuh dewasa menjadi pangeran-pangeran perkasa negeri Hastinapura. Pandu telah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Tinggi Pendidikan Dalam Negeri (STPDN). Widura pula telah diwisuda dari Sekolah Tinggi Jurnalistik yang membentuk dirinya menjadi Jurnalis dan Reporter Hebat kala itu. Hanya Dretarastra saja yang gagal mengenyam pendidikan dibandingkan saudara-saudaranya yang lain karena keinginannya sendiri.

“Aku sangat menyesalkan keputusanku 85 tahun yang silam” gumam Dretarastra pada istrinya Dewi Gandhari di tempat pertapaannya di tengah hutan. Dretarastra dan istrinya mengasingkan diri kedalam hutan setelah meletusnya perang BharataYuda dan 40 tahun menjadi raja Hastina.

“Tekadku untuk kabur dari Sekolah Luar Biasa membuat aku sangat bodoh dan tolol menjadi raja menggantikan adikku Pandu yang telah tiada”. “Aku bersalah membiarkan anak-anakku musnah dalam pertempuran dengan Pandawa”, Ucapnya terbata-bata.

“Seandainya aku menguasai tehnik orientasi dan mobilitas tuna netra, tentu aku dapat berjalan sendiri ke medan Kurukshetra dan melerai pertumpahan darah itu”. “Dokumen-dokumen kerajaanpun aku tidak bisa mengetahuinya karena aku tidak bisa baca dan tulis huruf Braille”, jelas Dretarastra sambil menundukkan kepalanya penuh penyesalan. Butiran air matanya pecah membasahi pipi keriput sang raja Hastina.

Perang Bharatayuda sebagai sebuah simbul kehancuran dan musnahnya keluarga besar Bharata telah terjadi. Peperangan menimbulkan korban jiwa dan materi yang tak terhitung jumlahnya. Raja Dretarastra tidak berkutik mencegah timbulnya peperangan karena keterbatasannya sebagai tuna netra yang minim pendidikan. Keterbatasan yang seharusnya bukan menjadi penghalang baginya untuk memimpin Negeri Hastinapura jikalau saja ia tidak drop out dari SLB Hastinapura.

Sekian.

(Tulisan ini adalah karangan cerita fiksi semata, tanpa bermaksud merubah ataupun menghilangkan cerita yang sudah ada. Coretan-coretan diatas hanyalah hiburan sekaligus refreshing pada main-set kita akan pentingnya pendidikan untuk semua orang “education for all ”).

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.