Sabtu, 14 Desember 2013

Filled Under:

Hakikat Diri Manusia

Hakikat Diri Manusia

Manusia terdiri dari Jasmani dan Rohani

Ini susuatu yang sudah menjadi 'mafhum/pemahaman umum' yang kita 'tahu' dan pelajari dalam kelas2 mulai dari 'Sekolah Dasar hingga Sekolah Lanjut'

Akan tetapi, 'apa' kita tahu bahwa 'pemahaman ini' tidak sesuai dengan fakta manusia, terlebih jika dipandang dalam 'sudut pandang islam'...

# Bagaimana pemahaman ini bermula ??

'Pemahaman' ini timbul dari paham 'Sekulerisme' yaitu 'pemisahan agama dan politik(dunia)'..

# Mengapa mereka bisa merumuskan demikian ??

Hal itu tidak lepas daripada sejarah 'sekulerisme' dimana muncul sebagai protes terhadap 'sistem' kerajaan dan 'pengkhianatan' kaum gereja yang mendukung raja dengan fatwa/doktrin2nya,,,,

Raja memerintah dan mengambil upeti dengan didasarkan 'doktrin/fatwa' pastur2 mereka, padahal hasil upeti tersebut digunakan untuk kehidupan 'mewah' dan 'foya-foya' raja serta kaum gereja masa itu...

Sehingga memicu ide 'politik' tidak butuh 'agama', keduanya harus dipisahkan..

Faktor kedua yang mendukung lahirnya 'pemahaman tersebut' adalah menyamakan 'semua agama', sehingga mereka berpikir, 'agama' tidak mengatur kehidupan fisik/jasmani...

'Agama' hanya masalah hati/ruhiyyah/rohani saja, tidak ada hubungannya dengan fisik..

Hal itu-lah yang melahirkan konsep manusia terdiri dari 'jasmani' dan 'rohani'...

# Lantas bagaimana kenyataannya ???

Kenyataan-nya adalah hal tersebut 'betul' jika dinisbatkan kepada 'agama lain' selain 'islam'...

Tapi tidak dengan 'Islam'...

Islam adalah agama 'yang lengkap' dan 'rahmatan lil'alamin' yang mengatur segala hal mulai dari hal terkecil hingga hal terbesar...

# Apa buktinya ??

Jika kita ambil 'salah satu' kebutuhan jasmani menurut mereka, yaitu 'makan/minum'...

Kita lihat dalam Islam, ada 'aturan' makan dengan 'tangan apa', sebelum dan sesudah minum 'baca apa', makanan mana saja yang 'dihalalkan dan diharamkan', dll...

Apakah aturan dari Islam itu bukan 'aspek/kebutuhan rohani' ??

Contoh lagi dalam 'berpakaian', islam juga mengatur 'bagaimana berpakaian', 'mana yang harus ditutup', bahan apa 'yang dilarang' untuk kaum tertentu, 'bagaimana pakaian di kehidupan umum, khusus dan saat ibadah'...

Lagi-lagi, bukankah aturan Islam tersebut adalah 'aspek rohani' ??

Sehingga 'dalam setiap aspek jasmani', selalu ada 'aspek rohani'...
Yang berarti 'aspek rohani' senantiasa ada dalam setiap 'kegiatan jasmani' kita...

Jadi bagaimana mungkin 'jasmani' dan 'rohani' bisa dipisahkan, sedangkan keduanya erat berhubungan dan tak dapat dipisahkan...

Maka sungguh tiada pemisahan anatara 'jasmani' dan 'rohani', karena akan selalu ada 'aspek rohani' dalam kegiatan 'jasmani'...

Dan lagi, Islam-lah agama yang harus dikaji untuk memahami 'manusia', bukan dari agama yang lain, karena 'tiada keraguan' dalam Islam dan 'Islamlah' 'satu-satunya' agama yang 'benar'...

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” [TQS Ali ‘Imran: 19]

“Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang ada dilangit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada-Nya-lah mereka dikembalikan ?” [TQS Ali ‘Imran: 83]

“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” [TQS Ali ‘Imran: 85]


 Terdiri Dari Apakah Manusia

Telah kita ketahui bersama, bahkan dalam aspek 'jasmani' pun, tidak terlepas dari aspek 'rohani'..

Jadi jelas sudah 'jasmani' tidak terpisah dengan 'rohani', dan manusia bukan terdiri dari jasmani dan rohani..

# Lantas, terdiri dari apakah diri manusia ??

Manusia membutuhkan dua jenis potensi hidup, yaitu kebutuhan 'jasmani' (hajatul adlawiyyah) dan kebutuhan 'naluri' (gharizah)..

Kebutuhan 'jasmani' adalah kebutuhan yang 'jika tidak dipenuhi' dapat menyebabkab kematian..

Sedangkan 'naluri', jika tidak dipenuhi 'tidak menyebabkan kematian', hanya akan menimbulkan 'rasa tidak tenang/tidak tentram' dalam hatinya..

Makan, minum, tidur, dst, itu merupakan kebutuhan 'jasmani', yang mana pemuasan akan kebutuhan ini bersifat 'mutlak'..

Sedangkan seperti menyembah sesuatu, melestarikan jenis, mempertahankan diri, ini adalah naluri, yang pemuasannya 'tidak bersifat mutlak', tapi jika tidak dipenuhi akan muncul 'kegelisahan/ketidaktentraman'..

# Lalu dimana peran aspek 'rohani' ??

Sebagaimana dijelasakn sebelumnya 'jasmani' senantiasa diiringi oeh aspek 'rohani'. Begitu juga dengan 'naluri'..

Jika dalam memenuhi 'kebutuhan jasmani' dan 'naluri' berdasarkan 'aturan agama', maka selain 'pemuasan', ia akan mendapatkan ganjaran berupa 'pahala'..

Jika pemuasan 'jasmani' dan 'naluri' tidak berdasarkan 'aturan agama' maka 'bisa jadi' yang kita dapatkan adalah 'dosa'..

Contoh dalam 'makan', disyariatkan 'makan makanan yang halal', jika tidak (makan yang haram), maka ia telah melanggar syariat dan mendapatkan dosa...

Begitu pula dalam 'melestarikan jenis', disyariatkan dengan 'taaruf' dan 'menikah' bukan dengan 'pacaran' dan / atau 'zina'...

Dan lagi 'islam' adalah agama yang 'memanusiakan manusia'..
Ia agama yang memang khusus 'didesain' untuk manusia dan seluruh potensinya..

Maka agama ini berisi peraturan yang lengkap mulai dari hal terkecil hingga terbesar..

Dan aturan/syariat yang ada di dalamnya tujuan 'tak lain' dan 'tak bukan' adalah untuk membimbing manusia ke 'jalan yang benar' dan memenuhi 'seluruh kebutuhan' manusia...

Islam-lah agama yang memamahi kodrat 'manusia' sehingga ia agama-nya yag paling paham bagaimana 'mengatur manusia' sekaligus 'memenuhi kebutuhannya'..

# Kok tahu, apa buktinya ??

Sebagai contoh islam memahami manusia saling membutuhkan, antara pria dan wanita dan rasa cinta diantaranya..
Dengan syariat 'taaruf' dan 'menikah'-lah islam mengatur dan memenuhi kebutuhan itu..

Bandingkan dengan agama lain, jika ingin 'dekat pada Tuhan' / menjadi pemuka agama, ia dilarang untuk 'menikah' / atau harus dikebiri, akibat yang terjadi adalah 'perzinaan', 'pacaran', kelainan perilaku seks, dll..

Contoh lain adalah dalam berpakaian, islam mengatur bagaimana 'berpakaian'..

Wanita muslim dianjurkan 'berhijab' dan dilarang 'tabarruj'..
Akibat 'pelanggaran syariat ini', banyak sekali terjadi pelecehan, perzinaan, yang diawali dari 'melihat aurat lawan jenis'..

Islam paham betul 'fitrah' lelaki dan juga 'wanita', 'lelaki' mudah tertarik pada 'wanita yg tidak berhijab', apalagi seksi..

Begitu pula 'wanita', yang begitu senang dipuji oleh 'lelaki', walau hanya 'gombalan belaka'..

Itulah Islam, agama yang 'memanusiakan manusia', 'yang paling paham fitrah manusia', sehingga menjadi 'tuntunan utama, terbaik dan satu-satunya' bagi manusia'...

”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (TQS Ar Rum:30)

"... yaitu pada beberapa hari yang ditentukan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda." (TQS. al-Baqarah: 185)

"Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada menge-tahui." [TQS. Saba’ : 28]

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (TQS. Al Anbiya: 107)

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (TQS al-Baqarah: 216).

“Agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam” (TQS. Al Imran: 19)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (TQS. Al Imran: 85)



3 Jenis Naluri

Naluri (Gharizah), sebagaimana yang telah disebutkan, merupakan salah satu potensi diri manusia, yang memang sudah ada secara / fitrah manusia...

'Naluri', menuntut pemenuhan, akan tetapi bila tidak terpenuhi 'tidak akan menyebabkan kematian', hanya rasa 'tidak tentram/tidak tenang' dalam hati...

Sebagai contoh dalam 'bertuhan', ada manusia yang menganggap 'tuhan tidak ada', ia tidak memenuhi naluri 'menuhankan sesuatu', dan dia masih hidup, tidak mati..

Akan tetapi dalam hatinya yang paling dalam, ia akan 'merasa tidak tenang/tidak tentram'.. Terlebih jika ia berada dalam keadaan 'berbahaya' atau 'terancam' jiwanya, ia akan mencoba mencari sesuatu yang dapat 'melindungi atau menolong dirinya'..

Ia akan mencoba mencari 'sesuatu/seseorang' yang dapat ia jadikan pelindung / penolong / ia dambakan / kultuskan...

Itulah dorongan dari 'naluri', selalu ingin adanya 'pemenuhan', terlepas apakah ia 'memenuhi-nya' dengan cara dan sesuatu yang benar atau tidak..

# Lalu ada berapa macam/jenis-kah naluri itu ??

Orang-orang Orientalis mengatakan 'naluri' itu ada banyak, ada 'naluri seks', 'naluri cinta', 'naluri sayang', 'naluri bersahabat, naluri bekerjasama' dll..

Padahal 'seks', 'rasa cinta', 'sayang', 'benci', itu bukanlah naluri, tapi penampakan dari hasil/usaha pemenuhan 'naluri'...

Naluri hanya ada 3 jenis : 'naluri beragama/menuhankan sesuatu' (gharizatun tadayyun), 'naluri mempertahankan diri' (gharizatun baqa') dan 'naluri melestarikan jenisnya' (gharizatun nau')..

'Naluri beragama/menuhankan sesuatu' (gharizatun tadayyun), merupakan naluri manusia dimana ia ingin menuhankan / mengkultuskan sesuatu/seseorang..

Penampakan dari 'gharizatun tadayyun' adalah 'manusia beribadah', 'manusia menyembah sesuatu', dll. Penampakan tersebut akan terlihat dikala manusia berusaha memenuhi 'naluri ini'..

'Naluri mempertahankan diri' (gharizatun baqa'), adalah naluri yang muncul untuk mempertahankan eksistensi dirinya di tengah masyarakat..

Penampakan dari 'gharizatun baqa' adalah 'rasa cinta pada harta', 'bersahabat dg orang lain', 'bekerja sama dengan orang lain', 'cinta pada kedudukan', ingin 'berprestasi', ingin 'mendapat jabatan', dll. Penampakan-penamapakan itu terlihat dikala manusia berusaha memenuhi naluri ini.

Yang terakhir adalah 'naluri melestarikan jenisnya' (gharizatun nau'), yaitu naluri untuk melestarikan 'jenis-nya', yaitu jenis manusia ..

Penampakan dari 'gharizatun nau', adalah 'rasa sayang pada keluarga', 'rasa cinta pada lawan jenis', 'sikap tolong menolong', 'rela berkorban'...

# Kenapa 'rasa cinta', 'benci', dst disebut penampakan ??

Karena 'rasa cinta', 'tolong-menolong', 'ingin berprestasi' dll 'hanya' akan muncul jika ada usaha memenuhi 'naluri'... Jika tidak ada usaha memenuhi naluri, maka 'penampakan tersebut (rasa dan sikap tsb)' tidak akan muncul..

Dan lagi 'penampakan' itu bisa saling menggantikan. 'Naluri beragama' dapat ditunjukkan dengan aktifitas beribadah pada Tuhan 'atau' menyembah patung 'atau' mengkultuskan seorang tokoh/manusia. Ketiganya sama2 memenuhi naluri tersebut, hanya saja cara dan penampakan pemenuhan naluri tersebut ternyata bisa berbeda-beda...

Contoh lagi dalam memenuhi 'Naluri mempertahankan diri', ia bisa 'berprestasi setinggi mungkin' atau 'mengumpulkan harta sebanyak mungkin'. Keduanya memenuhi 'naluri ini', akan tetapi cara dan penampakannya berbeda.. Itulah maka sifat dari 'penampakan' itu bisa saling menggantikan..

# Lantas bagaimana seharusnya memenuhi naluri ??

Sebagaimana yang telah disampaikan bahwa naluri pun tidak lepas dari aspek 'rohani', maka sudah sepantasnya dalam memenuhi naluri, perlu diperhatikannya 'aturan2/syariat agama'..

Contoh dalam 'memperkaya diri', ditentukan tidak boleh dengan cara yang dhalim, fasik dan haram.. Dalam melestarikan jenis, tidak dibolehkan adanya ikhtilat, apalagi zina, dst...

Itulah mengapa cara terbaik memenuhinya adalah dengan sesuai 'syariat agama'. Dan hanya Islam yang memiliki 'syariat terlengkap' dan 'paling benar' untuk mengatur cara-cara dan media pemenuhan semua naluri manusia...!!

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.