Sabtu, 14 Desember 2013

Filled Under:

BANGSA YADAWA MUSNAH

BANGSA YADAWA MUSNAH


Ketika perang di medan Kurukshetra berakhir, dan Yudhishthira dinobatkan sebagai raja, di mana ia juga melaksanakan upacara Ashwamedha yang agung, Krishna minta diri kepada Pandawa untuk kembali pulang ke negrinya, Dwaraka. Dalam perjalanan pulang tersebut Krishna bersua dengan kawan lamanya seorang brahmana bernama Utanga di tengah jalan. Krishna berhenti, turun dari keretanya, lalu memberi salam kepada brahmana tersebut. Maka terjadilah percakapan yang agak panjang di antara kedua kawan-lama ini. Masing-masing menanyakan tentang kesehatan, keadaan sanak keluarga serta kemajuan-kemajuan yang telah mereka capai dalam perjalanan hidup ini.

Utanga juga menanyakan tentang berita keadaan Pandawa, sebab ia tahu Krishna adalah keluarga dekat mereka. Brahmana yang malang itu sama sekali tidak mendengar berita tentang peperangan yang besar yang telah berlangsung di medan Kurukshetra. Krishna merasa heran akan hal itu. Untuk beberapa saat tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Akhirnya Krishna terpaksa menceritakan panjang-lebar tentang pertempuran dahsyat antara Kaurawa dan Pandawa. Krishna juga menceritakan betapa ia telah mencoba agar perang tersebut tidak terjadi, tetapi sia-sia. “Hampir semuanya habis, tewas dalam medan pertempuran. Siapakah yang dapat mengelakkan diri dari renggutan tangan nasib? Krishna mengakhiri ceritanya.

Mendengar cerita tersebut Utanga merasa jijik, benci dan amarahnya timbul. Matanya merah, hatinya panas, lalu berkata mengutuk Krishna dan menuduh dia telah membiarkan kejadian itu berlangsung tanpa berusaha menghindarkannya. la menuduh Krishna telah menipu, dan tidak melakukan tugas kewajibannya sebagaimana mestinya, sehingga menyebabkan kemusnahan Kaurawa. “Sekarang, bersiaplah engkau menerima kutuk pastu dariku” katanya mengakhiri tuduhannya terhadap Krishna.

Krishna menyabarkan brahmana itu dengan tersenyum-senyum dan memberi nasehat kepadanya agar ia tidak mempergunakan hasil jerih-payah pertapaannya untuk yang bukan-bukan, dan meminta kepadanya agar mau mendengar kisah secermat-cermatnya sebelum mengucapkan kutuk pastunya. Setelah Krishna memberi perincian peristiwa dan kejadian sebelumnya, yang menyebabkan perang Kurukshetra itu berlangsung, dan belum juga Utanga menunjukkan pengertian akan duduknya persoalan, maka Krishna memperlihatkan dirinya dalam bentuk Wishwarupa, sebagai manifestasi Hyang Tunggal, lalu berkata : “Aku lahir dalam segala bentuk dan segala jaman untuk menyelamatkan dunia dan menegakkan kebenaran. Dalam bentuk apapun aku dilahirkan, aku harus mengikuti kodrat dari pada jasmaniku. Apabila aku dilahirkan sebagai Dewa, maka Aku bertindak sebagai Dewa. Bila aku dilahirkan sebagai yaksha atau raksasa, aku akan berbuat seperti yaksha atau raksasa. Apabila aku dilahirkan sebagai manusia, maka aku akan berbuat sebagai manusia dalam melakukan tugasku sampai kelahiran sebagai manusia selesai. Dalam hubungan ini aku telah meminta Kaurawa untuk tidak mabuk dan berkeras kepala. Tetapi mereka tidak ambil pusing akan semua itu. Mereka terus saja membuat kesalahan-kesalahan dan kejahatan-kejahatan yang menimbulkan perang, sehingga perang itu memusnahkan mereka sendiri. Brahmana yang budiman, demikianlah kisahnya. Engkau tidak mempunyai alasan untuk marah-marah”.

Setelah mendengar keterangan dan melihat siapa sebenarnya Krishna, amarah Utanga hilang lenyap seketika, yang menyebabkan Krishna merasa senang, lalu berkata: “Nah, sekarang apakah gerangan kehendak Brahmana yang bisa kuberikan?”

Utanga merasa sangat bersyukur telah bertemu dengan Hyang Tunggal yang menjelma dalam diri Krishna dan tidak hendak bermohon apa-apa. Tetapi terus mendesak agar dia meminta sesuatu. Akhirnya ia pun memajukan permohonan: “Kalau Engkau hendak menganugerahi aku sesuatu, baiklah Engkau beri aku mantra yang bisa menolong aku mendapatkan air bilamana dan di mana saja aku merasa dahaga”. Krishna meluluskan permintaannya tersebut.

Pada suatu hari Utanga merasa sangat haus dan tidak dapat menemui air untuk diminumnya. Ia teringat akan mantra yang diberikan oleh Krishna kepadanya. Segera setelah selesai mengucapkan mantra tersebut, seorang pria kotor tiba-tiba muncul di depannya. Pakaiannya compang-camping dan seluruh badannya kotor diliputi debu. Bau keringatnya menusuk hidung. Di tangan kanannya ia memegang alat berburu, sedangkan di pinggangnya terselip sebilah kapak. Sebuah kantong kulit berisi air tergantung di pundaknya yang diapit oleh tangan kirinya. Seekor anjing mengipas-ngipaskan ekornya di bawah kakinya. Orang kotor dan menjijikkan itu nyengir, seraya berkata: “Rupa-rupanya Brahmana sangat kehausan. Aku ada membawa air dalam kantong kulit ini. Silahkan minum” sambil mengisi cangkir bambunya untuk disuguhkan kepada Utanga.

Melihat orang kotor dan anjingnya yang memuakkan itu, Utanga berkata dengan jijik: “Ah, Aku tidak membutuhkannya, terima kasih !” sambil berpikir-pikir bahwa “hadiah” yang diberikan oleh Krishna kepadanya sebagai olok-olok belaka. Nishada, orang kotor itu, berulang-ulang menawarkan airnya kepada Utanga, sebab ia tahu brahmana itu sangat kehausan. Utanga menjadi bertambah marah karena jijiknya. Kemudian pemburu yang memuakkan itu lenyap dengan anjingnya dari pemandangan.

Tatkala pemburu itu lenyap dan ia kembali sendirian, Utanga berpikir-pikir lagi, siapa gerangan orang yang muncul dan pergi itu secara sangat aneh? Ia mulai merenungkan, bahwa orang itu tidak mungkin seorang paria, Nishada biasa. Sebagai suatu introspeksi hatinya berkata-kata: “Mungkin hanya merupakan cobaan bagiku. Ah, aku telah berbuat tolol! Kenapa aku mesti tolak airnya dengan cara yang angkuh, sedangkan aku sesungguhnya merasa sangat haus ? Sungguh tolol aku ini”

Sesaat kemudian muncullah Krishna dengan cakra dan trompet kerangnya, tersenyum di depan Utanga. Brahmana itu memprotes: “Hai, Purushottama, engkau telah mencoba aku secara terlalu kasar. Masakan engkau mencoba aku, seorang brahmana, dengan jalan memberikan air yang kotor dari orang paria yang tabu kalau kusentuh. Engkau tidak adil, dan ini kelakar yang tidak lucu”, sungutnya kepada Krishna.

Janardana tersenyum, lalu menceritakan apa yang telah dikerjakannya sewaktu Utanga mengucapkan mantranya, Krishna meminta kepada Batara Indra agar memberikan amrita, air suci, kepada Utanga sebagai air minum untuk melepaskan dahaganya. Batara Indra tidak mau memberikan amrita kepada seorang manusia, sebab air suci itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang tidak lagi menemui kematian seperti halnya manusia di dunia ini. Tetapi Krishna terus mendesak dan akhirnya Batara lndra setuju dengan catatan bahwa Ia sendiri mau memberikan Utanga amrita tersebut dalam bentuk sebagai manusia paria, Nishada. Oleh Batara Indra hal ini memang dimaksudkan sebagai cobaan bagi Utanga. Kalau Utanga memang benar-benar telah mencapai Jnana, ilmu pengetahuan yang tinggi, sudah pasti ia akan menerimanya. Tetapi Utanga yang dungu itu menolaknya, menyebabkan Krishna mendapat malu besar di hadapan Batara Indra. Mendengar cerita itu Utanga merasa sangat menyesal dan malu atas ketololannya sendiri.
* * *

Demikian Krishna kembali ke negrinya dan memerintah selama tigapuluh enam tahun sesudah perang besar Kurukshetra. Selama ia memegang tampuk pemerintahan rakyat merasa bahagia. Suku-suku Wrishni dan Bhoja yang merupakan cabang bangsa Yadawa, di mana Krishna termasuk di dalamnya, terkenal sebagai suku-suku yang suka bersenang-senang dan bergembira.

Sejak Krishna memerintah mereka jadi makmur, dan kemakmuran mereka ini menyebabkan mereka suka pada barang-barang mewah, makan makanan yang serba lezat dan minum-minuman keras. Lambat laun mereka menjadi bangsa yang sembrono, angkuh, liar tidak berdisiplin, suka mabuk dan melampiaskan hawa nafsu. Pejabat pemerintahan korup, para pedagang main suap, wanita jalang, pemuda-pemuda suka pesiar dan remaja banyak morfinis.

Pada suatu hari seorang resi dari negri asing datang berkunjung ke Dwaraka. Ia dipermainkan oleh segerombolan orang kota. Mereka memperolok-olokkan dan mengejek resi itu dengan suatu lelucon yang tidak lucu. Salah seorang di antara mereka laki-laki muda diberi pakaian perempuan hamil yang perutnya besar, diganjal dengan bantal, lalu dihadapkan di muka brahmana itu. Mereka. bersorak-sorak, tertawa kegirangan dengan olok-olok mereka, di mana “perempuan” bunting itu dengan genit menari-nari di depan brahmana, seraya bertanya kepadanya : “Wahai Resi yang Mahabijaksana, ceritakanlah kepada kami, apakah perempuan ini akan punya anak lakl-laki atau perempuan”. Sang brahmana merasa tersinggung hatinya dan dengan kutuk pastunya menjawab: “Orang ini akan melahirkan sebuah gada, bukan seorang laki-Iaki atau perempuan. Gada itu adalah Batara Yama, yang akan memusnahkan bangsamu ini, termasuk engkau sekalian”.

Mereka yang hadir di situ merasa kaget mendengar jawaban Resi itu. Mereka menyesal dan banyak di antara mereka yang .mendengar kutuk pastu sang brahmana merasa ketakutan, yang mulanya hanya mengharapkan sesuatu yang menyenangkan dari hasil olok-olok mereka.

Benarlah hari-hari berikutnya, pemuda Samba yang diberi pakaian perempuan bunting oleh teman-temannya itu, merasa sakit pada perutnya seperti orang hendak melahirkan. Alangkah paniknya mereka ketika benar-benar melihat pemuda Samba melahirkan sebuah gada, alat perang yang kuat perkasa, dan bukan bayi laki-Iaki atau perempuan. Kejadian itu menimbulkan teror dalam jiwa mereka, sebab seperti yang diramalkan oleh Resi yang misterius itu, bangsa mereka akan musnah, termasuk mereka sendiri.

Beramai-ramai mereka hancurkan gada itu sehingga menjadi abu.

Mereka semufakat untuk membuang abu itu jauh-jauh. Abu, hancuran gada ajaib itu, dihamburkan di laut secara terpisah-pisah, ditebarkan dimana-mana. Setelah itu mereka lupalah akan lelucon mereka. Pemuda Samba hidup sebagai seorang laki-Iaki biasa lagi. Tahun berganti tahun, musim panen berganti musim kering, rakyat hidup makmur dan bahagia. Di tempat di mana abu gada ditebarkan, lambat-laun tumbuh rumput raksasa dengan sangat rimbunnya, dengan batangnya sebesar-besar batang bambu.

Di antara bangsa Yadawa, selain Krishna sendiri dan bala tentaranya yang ikut mengambil bagian dalam perang di medan Kurukshetra, juga Kritawarma bersama pasukannya bertempur di pihak Kaurawa, sedangkan Satyaki dengan pasukannya pula di pihak Pandawa. Sewaktu kembali dari Kurukshetra, Krishna membuat peraturan untuk melarang bangsanya minum minuman keras. Tetapi peraturan itu kemudian diubah sedikit, di mana pada hari-hari tertentu mereka diijinkan minum minuman keras.

Sebagai bangsa yang periang dan gemar bersuka ria, pada suatu hari mereka mengadakan darmawisata ke tepi pantai tempat tumbuhnya rumput raksasa yang lebat itu. Mereka bersenang-senang, makan-makan dan minum-minuman keras, sehingga mabuk-mabuk. Dalam keadaan mabuk-mabuk itu terjadilah pertengkaran mulut, yang tumbuh menjadi perkelahian yang hebat. Mula-mula baku-tinju, tetapi kemudian, dengan batang-batang rumput raksasa yang diruncingi, mereka baku-tusuk.

Pangkal mula pertengkaran, yang kemudian menjadi pertempuran itu, adalah disebabkan oleh percekcokan mulut antara Kritawarma dan Satyaki, yang sama-sama dalam keadaan mabuk. Satyaki berkata: “Apakah seorang kesatria sejati akan mau menyerang dan membunuh musuhnya yang sedang tidur nyenyak? Engkau Kritawarma, telah membawa malu kepada bangsa kita buat selama-lamanya“ dengan mengejek, yang diikuti oleh kawan-kawannya yang lain. Kritawarma tidak tahan akan ejekan itu, membalas dengan pedas: “Engkau seperti tukang potong sapi saja, telah membunuh Bhurisrawas yang dalam keadaan duduk bersila dengan samadinya. Engkau Satyaki, pengecut, masih juga berlagak kesatria”, dan kawan-kawannya tidak ketinggalan membakari semangat Kritawarma.

Perkelahian mulut ini ternyata tidak bisa dibatasi di situ saja. Ia menjadi sungguh-sungguh dan kemudian pertempuran yang sengit antara dua pihak meledak: pro Kritawarma atau Satyaki. Putra Krishna, Pardyumna juga ada di situ bermaksud menolong, menyelamatkan Satyaki, terlibat dalam pertempuran itu sehingga ia menemui ajalnya: kutuk pastu resi yang pernah mereka hinakan rupa-rupanya mulai membuahkan hasilnya. Batang rumput yang diruncingi ujungnya, merupakan senjata utama dalam pertempuran ini. Demikianlah kedua belah pihak mati di ujung senjata tajam itu, tidak terkecuali, laki dan perempuan, tua dan muda, kesatria dan bukan pahlawan atau pengecut, sehingga bangsa Yadawa musnah seluruhnya.

Balarama, yang menyaksikan peristiwa ini merasa sangat malu, meninggalkan tempat itu, pergi menghabiskan hidupnya dengan yoga di bawah pohon kayu besar hingga saat-saat terakhirnya. Krishna juga menyaksikan bagaimana bangsanya memusnahkan diri mereka sendiri. Dan setelah ia mengetahui abangnya, Balarama, sudah meninggalkan dunia mayapada ini, ia sendiri pergi mengembara ke dalam hutan. Di tengah-tengah hutan belantara ia merebahkan dirinya sambil berkata : “Kini telah tiba waktunya bagiku untuk pergi buat selama-lamanya meninggalkan dunia ini”.

Seorang pemburu bernama Jaras kebetulan liwat di dekat-dekat tempat Krishna merebahkan dirinya. Jaras melepaskan anak panahnya yang tepat menembus kaki dan tubuh Krishna yang disangkanya seekor rusa sedang beristirahat. Pada saat itu juga Wasudewa menghembuskan nafasnya yang penghabisan untuk meninggalkan dunia manusia ini. Arjuna datang ke Dwaraka untuk melakukan upacara pembakaran jenazah Krishna. Beberapa hari kemudian, seluruh negri Dwaraka dilanda banjir dan ombak samudra yang dahsyat, sehingga akhirnya tenggelam ke dasar laut.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.