Sabtu, 14 Desember 2013

Filled Under:

MAHABHARATA : COBAAN TERAKHIR BAGI YUDHISTHIRA

MAHABHARATA :

COBAAN TERAKHIR BAGI YUDHISTHIRA


Setelah Dhritarashtra, Gandhari dan Kunti terbakar dimakan api dalam hutan, pertapaan mereka, dan setelah Krishna — sekutu mereka terpercaya dari Dwaraka — beserta seluruh bangsanya musnah, maka Pandawa menobatkan Parikshit, putra Abhimanyu dengan istrinya Uttari Dewi, di atas takhta kerajaan sebagai Rajadiraja untuk memerintah di Hastinapura, sedangkan mereka bersama-sama Draupadi pergi ke Himalaya untuk mencapai kediaman Batara Indra di puncak Gunung Mahameru. Seekor anjing menyertai mereka dalam pengembaraan menuju ke gunung suci itu. Dengan mengunjungi berbagai tempat suci dan melintasi hutan belantara yang penuh dengan binatang buas, setan-jin dan berbagai makhluk ajaib, ketujuh mereka itu, Yudhishthira, Bhimasena, Arjuna, Nakula, Sahadewa, Draupadi dan anjing mereka, siang dan malam berjalan tidak henti-hentinya.

Maka tibalah mereka di kaki Gunung Himalaya, mulai mendaki dengan susah payah. Ketika mereka mendaki puncak Gunung Mahameru, satu persatu mereka jatuh ke dalam jurang dan lenyap dari bumi ini. Mula-mula jatuh Draupadi yang memiliki cinta yang sangat besar terhadap Arjuna, disusul oleh Sahadewa yang hanya percaya dan yakin akan kekuatan sendiri tidak ada taranya. Kemudian Nakula. yang sadar akan. keindahan perawakannya dan keyakinan pada kebenaran pemikirannya sendiri, disusul oleh Arjuna yang yakin pada dirinya sendiri untuk menghancurkan semua musuh-musuhnya. Demikian besar keyakinannya sehingga ketika ia jatuh, ia tidak mau menyerah begitu saja, sampai-sampai sabda dari sorga datang yang mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin selama ia masih ada di dunia. Kemudian Bhimasena yang merasa kekuatannya seperti angin topan juga jatuh, lenyap dari bumi ini.

Yudhishthira terus mendaki dengan anjingnya dengan tidak lagi membiarkan hatinya berduka. Di hadapannya terbentang nyala api kebenaran, menerangi jalan yang ditempuhnya, walaupun kanan-kirinya tebing dan jurang menganga dalam kegelapan. Makin terang baginya mana kegelapan, mana bayangan dan mana kebenaran. la berjalan terus disertai dengan anjingnya yang tidak dilepas-lepaskannya, walaupun istri dan saudara-saudaranya telah mendahului dia.

Akhirnya ia tiba pada pintu gerbang sorga, disambut oleh Batara Indra. Ia dipersilahkan naik ke dalam keretanya, tetapi Yudhishthira menolaknya sebelum ia mendapat keterangan tentang Draupadi dan saudara-saudaranya, katanya : “Sekalipun dalam sorgaMu, aku tidak akan pergi apabila mereka tidak ada di sana”. Batara Indra meyakinkan Yudhishthira bahwa Draupadi dan saudara-saudaranya telah mendahului dia, dan menjelaskan kepadanya bahwa dia terbelakang sebab memikul tanggung jawab jasmaniah terakhir, serta mempersilahkan ia naik.

Ketika Yudhishthira naik bersama-sama anjingnya ke dalam kereta kayangan Batara Indra, ia ditolak. “Tidak ada tempat bagi anjing dalam sorga”, kata Batara Indra. “Kalau demikian bagiku juga tidak ada tempat di sorga. Sebab, tidak mungkin bagiku, dalam senang dan duka, melepaskan anjingku yang setia ini”, jawab Yudhishthira lalu turun kembali dengan anjingnya dari kereta kayangan itu.

Batara Indra merasa senang akan jawaban Yudhishthira itu, sebab la telah menunjukkan kasih-sayang, kesetiaan dan loyalitas kepada kawan hidupnya, seekor anjing yang selama ini menemani dia. Batara Indra mempersilahkan Yudhishthira sekali lagi dan mengijinkan anjingnya di ajak serta. Tetapi beberapa saat saja kemudian anjing itu lenyap.

Yudhishthira tiba di sorga bersama-sama Batara Indra. Di sana ia bertemu dengan Duryodhana yang duduk di atas singgasana keemasan yang sangat indah dilingkari oleh sinar terang dan dilayani oleh bidadari-bidadari cantik, tetapi tidak seorang pun dari saudaranya dilihatnya di situ. Ia menolak untuk tinggal lebih lama di situ tanpa saudara-saudaranya. Dalam hatinya ia merasa heran, kenapa Duryodhana yang angkara-murka, tidak mempunyai pandangan yang jauh dan telah mengorbankan sanak serta kadang untuk memenuhi nafsu dan ambisinya ada di situ dengan penuh kebesarannya? Sedangkan Draupadi dan saudara-saudaranya yang hidup mematuhi dharma tidak ada di situ. la merasa sangat kecewa.

“Katakanlah kepadaku, di mana saudara-saudaraku! Aku ingin menyatukan diri dengan mereka, biarpun di mana mereka berada”, kata Yudhishthira. Batara Narada menghampiri Yudhishthira seraya menjawab : “Wahai anakku, di sorga tidak ada perbedaan. Tidak patut ada pikiran-pikiran yang buruk. Duryodhana yang gagah berani mencapai tingkat ini atas kekuatan dharma orang kesatria sebagai dia. Jangan biarkan pikiran-pikiran negatif bertakhta pada jasmani yang tidak kekal ini. Hukum sorga adalah melenyapkan segala kekacauan pikiran dan perasaan-perasaan hati yang negatif. Tinggallah engkau di sini!”

Yudhishthira menolak untuk tinggal di sorga, tanpa saudara-saudaranya. Ia ingin pergi ke tempat mereka, di mana saja mereka berada. Mendengar jawaban Yudhishthira demikian, Batara Indra menyuruh bidadari sorga mengantar dia mencari saudara-saudaranya. Perlahan-lahan badan jasmaninya meninggalkan dia. Yudhishthira kemudian memasuki tempat yang sangat gelap, licin dan membahayakan. Sebentar-sebentar kelihatan nyala yang mengerikan, bau busuk menusuk hidung dan sebentar-sebentar kedengaran suara-suara dan bunyi-bunyi yang mendirikan buluroma.

Makin jauh ia meraba-raba dalam kegelapan, makin terasa olehnya bahwa ia memasuki goa yang berlumpur busuk dalam. Bau mayat dan bangkai makin membusuk dan suara-suara makin menyeramkan kedengarannya. Tempat yang berlumpur itu penuh dengan mayat dan bangkai manusia dan binatang buas bergelimpangan. Ada tanpa kepala, ada tanpa kaki-tangan, ada dengan mata menyeringai, ada dengan isi perut keluar dan sebagainya. Yudhishthira makin jauh tenggelam dalam kancah neraka itu, sehingga akhirnya ia tidak dapat bergerak lagi. Kiri-kanannya penuh dengan bangkai dan mayat manusia yang telah membusuk. Ia tidak tahan lagi akan bau busuk dalam goa tersebut. Kepalanya pusing dan akhirnya ia bertanya : “Katakanlah dengan sebenarnya di mana Draupadi dan saudara-saudaraku berada. Berapa jauh lagi tempat mereka ? Aku tidak dapat menemukan mereka di sini”. Bidadari itu menjawab : “Kalau engkau tidak tahan lagi, engkau boleh kembali !”

Yudhishthira tidak tahan lagi dengan pemandangan dan bau yang mendirikan buluroma itu. Ia ingin kembali. Tetapi kemudian, tiba-iba terdengar olehnya suara-suara duka mengerang dan rintih kesakitan. Suara-suara yang ia kenal : “Dharmaputra, janganlah engkau kembali. Kehadiranmu di tempat ini, hati kami jadi terobat dan kedukaan kami lenyap semuanya. Janganlah engkau kembali. Marilah kita hadapi siksaan ini, sehingga akhirnya kita akan menemui kedamaian yang langgeng !”

Walaupun ia merasa hampir jatuh pingsan, masih sempat juga Yudhishthira bertanya : “Siapakah gerangan kalian yang berkata demikian dalam gelap di tempat neraka ini ? Kenapa kalian ada di sini ?”. Satu demi satu suara itu menjawab : “Raja Yang Bijaksana, Aku Karna”, jawab suara pertama, yang disusul dengan suara kedua : “Aku Bhima”, selanjutnya suara ketiga : “Aku Arjuna, saudaramu” dan berturut-turut suara yang lainnya “Draupadi”, “Aku Nakula” dan “Aku Sahadewa”.

Suara yang lain berkata : “Kami adalah putra-putra Draupadi”, yang diikuti oleh suara-suara lainnya yang bergema dalam goa gelap yang mendirikan buluroma itu. Mendengar suara-suara yang ia kenal semuanya itu, hati Yudhishthira merasa sangat kecewa. Yaah, apa yang diduga semula adalah sebaliknya ! Semua saudara, sanak-kadang dan sekutunya yang telah menjalankan dharma dalam hidup mereka, kini berada di negri yang paling di bawah, di neraka !, sedangkan orang seperti Duryodhana dan saudara-saudaranya duduk-duduk, bersenang-senang di sorga. Kepada bidadari yang mengantarkan itu, Yudhishthira menyampaikan terima kasih dan meminta ia kembali, serta membiarkan dia sendiri tinggal di tempat itu : “Katakanlah kepada Batara indra bahwa aku memilih untuk tinggal di sini bersama mereka. Aku memilih neraka dengan mereka dari pada sorga dengan Duryodhana”. Bidadari itu meninggalkan Dharmaputra lalu menyampaikan pesannya kepada Batara Indra.

Yudhishthira telah memasuki dunia maya, dunia ilusi. Tigabelas hari lamanya Yudhishthira tengelam dalam dunia maya itu. Kemudian Batara Indra dan Batara Yama muncul. Suasana gelap, bau busuk dan pemandangan yang mengerikan itu perlahan-lahan menghilang, dan sinar terang muncul dengan indahnya. Bau harum semerbak menyusupi hidung ketika kedua Batara ini muncul di hadapannya.

“Wahai orang yang bijaksana, ini adalah buat ketiga kalinya aku mencoba keteguhan jiwamu. Engkau telah memilih untuk tetap tinggal di neraka demi saudara-saudaramu, menolak untuk tinggal di sorga bersama-sama Duryodhana dan tetap setia kepada anjingmu sebagai teman hidupmu yang merupakan dharma. Adalah suatu keharusan bagi raja-raja dan mereka yang memerintah untuk tinggal di neraka sementara waktu. Engkau telah merelakan dirimu untuk tinggal menderita di neraka. Hari ini adalah hari ketigabelas untuk mengakhiri penderitaan itu. Tidak seorang pun sebenarnya ada di neraka. Tidak Krishna, tidak Karna, tidak Draupadi dan tidak yang lain-lainnya. Semua itu adalah maya, hanya ilusi. Tempat ini bukan neraka, melainkan sorga” kata Batara Yama.

Setelah mengalami cobaan-cobaan dan pengadilan yang terakhir, Yudhishthira menemui kedamaian yang abadi, terlepas dari segala pikiran dan perasaan yang mengikat manusia dengan segala sesuatu keduniawian, bersemayam bersama-sama Batara Indra, Hyang Tunggal, di sorgaloka. ***

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.