Rabu, 22 Januari 2014

Filled Under:
,

Tokoh, Lokasi, dan Sultan Banten 4 (Habis)

11. Sultan Haji (Abu Nashar Abdul Qahar)

Sultan Abu Nashar Abdul Qahar atau dikenal dengan Sultan Haji merupakan seorang sultan pada Kesultanan Banten, berkuasa di Banten dalam rentang waktu 1683 - 1687.

Biografi

Sultan Haji merupakan salah seorang putera dari Sultan Abu al-Fath Abdul Fattah atau Sultan Ageng Tirtayasa. Ia naik tahta mengantikan ayahnya setelah terjadi pertikaian di antara mereka dan mengakibatkan perang saudara di Banten.
Sultan Haji juga sempat mengirimkan 2 orang utusannya, menemui Raja Inggris di London tahun 1682 untuk mendapatkan dukungan serta bantuan persenjataan.[1]

Rujukan

  1. ^ Titik Pudjiastuti, (2007), Perang, dagang, persahabatan: surat-surat Sultan Banten, Yayasan Obor Indonesia, ISBN 979-461-650-8
Sumber
========================================================================

12. Pangeran Purbaya dari Banten

Pangeran Purbaya yang kedua adalah putra Sultan Ageng Tirtayasa raja Banten (1651-1683). Ia mendukung perjuangan ayahnya dalam perang melawan VOC tahun 1656.
Pangeran Purbaya juga diangkat menjadi putra mahkota baru karena Sultan Haji (putra mahkota sebelumnya) memihak VOC. Setelah berperang sekian lama, Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya tertangkap bulan Maret 1683, dan Banten pun jatuh ke tangan VOC. Pangeran Purbaya dan istrinya yang anti VOC bernama Raden Ayu Gusik Kusuma lalu melarikan diri ke Gunung Gede. Penderitaan Purbaya membuat dirinya memutuskan untuk menyerah. Namun, ia hanya mau dijemput oleh perwira VOC yang berdarah pribumi.
Saat itu VOC sedang sibuk menghadapi gerombolan Untung Suropati. Kapten Ruys pemimpin benteng Tanjungpura berhasil membujuk Untung Suropati agar bergabung dengan VOC daripada hidup sebagai buronan. Untung Suropati bersedia. Ia pun dilatih ketentaraan dan diberi pangkat Letnan. Untung Suropati kemudian ditugasi menjemput Pangeran Purbaya di tempat persembunyiannya. Namun datang pula pasukan VOC lain yang dipimpin Vaandrig Kuffeler, yang memperlakukan Purbaya dengan tidak sopan. Sebagai seorang pribumi, Untung Suropati tersinggung dan menyatakan diri keluar dari ketentaraan. Ia bahkan berbalik menghancurkan pasukan Kuffeler.
Pangeran Purbaya yang semakin menderita memutuskan tetap menyerah kepada Kapten Ruys di benteng Tanjungpura. Sebelum menjalani pembuangan oleh Belanda pada April 1716, Pangeran Purbaya memberikan surat wasiat yang isinya menghibahkan beberapa rumah dan sejumlah kerbau di Condet kepada anak-anak dan istrinya yang ditinggalkan.[1] Sedangkan istrinya Gusik Kusuma konon pulang ke negeri asalnya di Kartasura dengan diantar Untung Suropati.

Referensi

  1. ^ Shahab, Alwi, Kisah-kisah dari Condet, dimuat di Republika, 4 Nopember 2007. Diakses 8 Mei 2011.
Sumber 
========================================================================

13. François Tack

Lukisan yang menggambarkan pembunuhan Kapten Tack di Kartasura

Kapten François Tack adalah seorang perwira Belanda dari VOC yang ikut dalam kampanye bersama antara raja Amangkurat II dari Mataram dan pasukan VOC yang dipimpin Anthonio Hurdt untuk menyerang pangeran Trunajaya (1649-1680) dari Madura di kubunya di Kediri.
Tack sempat, bersama Isaac de Saint-Martin, memimpin suatu pasukan laut untuk menyerang Banten tahun 1682. Tack membela putera mahkota, yang melawan ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan dikepung dalam istananya oleh pendukung Sultan Ageng. Putera mahkota diselamatkan VOC dan diakui sebagai sultan baru dengan gelar Sultan Haji.
Tahun 1686 Tack diutus VOC ke Mataram sebagai duta. Tack dibunuh di kraton Kartasura atas perintah Amangkurat II. Tack sempat menemukan suatu benda yang disebut "Mahkota Mas Majapahit" saat memasuki Kediri tahun 1678 dan menawarkannya kepada Amangkurat dengan harga 1 000 real (uang perak Spanyol yang diakui sebagai mata uang resmi di Jawa saat itu). Amangkurat tidak pernah melupakan penghinaan ini dan akhirnya membalas dendam.

Sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Francois_Tack
========================================================================Sultan 14. Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya
15. Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin
16. Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin
17. Ratu Syarifah Fatimah
18. Sultan Arif Zainul Asyiqin al-Qadiri

19. Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin
 
Paduka Sri Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin atau Sultan Aliuddin dilahirkan di Kota Intan pada 2 Juli 1752 adalah Sultan Banten yang memerintah pada tahun 1773-1799.

Biografi

Sultan Aliuddin merupakan putra dari Sultan Arif Zainul Asyiqin al-Qadiri dan Ratu Sultan Gusti. Ia naik tahta setelah ayahnya meninggal dunia tahun 1773.[1]

Rujukan

  1. ^ Titik Pudjiastuti, (2007), Perang, dagang, persahabatan: surat-surat Sultan Banten, Yayasan Obor Indonesia, ISBN 979-461-650-8.
Sumber
========================================================================
20. Sultan Abul Fath Muhammad Muhyiddin Zainussalihin

21. Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin

Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin merupakan seorang sultan pada Kesultanan Banten. Ia juga dikenal dengan nama Sultan Ishaq dan berkuasa di Banten dalam rentang waktu 1803 - 1808.

Biografi

Sultan Ishaq naik tahta menggantikan Sultan Muhammad Muhyiddin Zainussalihin.[1]
Pada masa pemerintahannya terjadi pertikaian dengan Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-1810, dan ia ditangkap kemudian diasingkan ke Batavia. Selanjutnya pada 22 November 1808, Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Kesultanan Banten telah diserap ke dalam wilayah Hindia Belanda.

Rujukan

  1. ^ Titik Pudjiastuti, (2007), Perang, dagang, persahabatan: surat-surat Sultan Banten, Yayasan Obor Indonesia, ISBN 979-461-650-8
Sumber
=========================================================================

22. Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin

Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin merupakan seorang sultan pada Kesultanan Banten. Ia juga dikenal dengan nama Sultan Muhammad Syafiuddin dan berkuasa di Banten dalam rentang waktu 1809 - 1813.

Biografi

Sultan Muhammad Syafiuddin merupakan salah seorang putera dari Sultan Muhammad Muhyiddin Zainussalihin.[1] Ia naik tahta mengantikan Sultan Ishaq yang menjadi raja sebelumnya, telah ditangkap oleh Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-1810, dan diasingkan ke Batavia.
Pada masa kekuasaannya Kesultanan Banten telah begitu lemah, akibat tekanan dari beberapa kekuatan global yang silih berganti memengaruhi Kesultanan Banten. Sebelumnya pada 22 November 1808, Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Kesultanan Banten telah diserap ke dalam wilayah Hindia Belanda.
Kemudian pada masa pemerintah kolonial Inggris, sekitar tahun 1813, Sultan Muhammad Syafiuddin dilucuti dan dipaksa turun tahta oleh Thomas Stamford Raffles,[2] sekaligus mengakhiri riwayat Kesultanan Banten.

Rujukan

  1. ^ Titik Pudjiastuti, (2007), Perang, dagang, persahabatan: surat-surat Sultan Banten, Yayasan Obor Indonesia, ISBN 979-461-650-8
  2. ^ R. B. Cribb, A. Kahin, (2004), Historical dictionary of Indonesia, Scarecrow Press, ISBN 0810849356


Sumber

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.