Rabu, 22 Januari 2014

Filled Under:

Tokoh dan Raja Mataram 2

3. Panembahan Hanyakrawati

Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati Senapati-ing-Ngalaga Mataram (lahir: Kotagede, ? - wafat: Krapyak, 1613) adalah raja kedua Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1601-1613. Ia juga sering disebut dengan gelar anumerta Panembahan Seda ing Krapyak, atau cukup Panembahan Seda Krapyak, yang bermakna "Baginda yang wafat di Krapyak". Tokoh ini merupakan ayah dari Sultan Agung, raja terbesar Mataram yang juga pahlawan nasional Indonesia.

Silsilah keluarga

Nama asli Prabu Hanyakrawati adalah Raden Mas Jolang, putra Panembahan Senapati raja pertama Kesultanan Mataram. Ibunya bernama Ratu Mas Waskitajawi, putri Ki Ageng Panjawi, penguasa Pati. Antara kedua orang tua Mas Jolang tersebut masih terjalin hubungan sepupu.
Ketika menjabat sebagai Adipati Anom (putra mahkota), Mas Jolang menikah dengan Ratu Tulungayu putri dari Ponorogo. Namun perkawinan tersebut tidak juga dikaruniai putra, padahal Mas Jolang terlanjur berjanji jika kelak dirinya menjadi raja, kedudukan Adipati Anom akan diwariskan kepada putra yang dilahirkan Ratu Tulungayu.
Mas Jolang kemudian menikah lagi dengan Dyah Banowati putri Pangeran Benawa raja Pajang. Dyah Banowati yang kemudian bergelar Ratu Mas Hadi melahirkan Raden Mas Rangsang dan Ratu Pandansari (kelak menjadi istri Pangeran Pekik).
Empat tahun setelah Mas Jolang naik takhta, ternyata Ratu Tulungayu melahirkan seorang putra bernama Raden Mas Wuryah alias Adipati Martapura. Padahal saat itu jabatan adipati anom telah dipegang oleh Mas Rangsang.

Peran awal

Mas Jolang pernah dikirim ayahnya untuk menghadapi pemberontakan pamannya dari pihak ibu, yaitu Adipati Pragola dari Pati tahun 1600.
Pemberontakan tersebut dipicu oleh perkawinan Panembahan Senapati dengan Retno Dumilah putri Madiun sebagai permaisuri kedua. Pragola marah karena khawatir kedudukan kakaknya (Ratu Mas Waskitajawi) terancam. Ia pun memberontak menyatakan Pati lepas dari Mataram.
Panembahan Senapati menugasi Mas Jolang untuk memadamkan pemberontakan Pragola. Namun ia tidak mampu mengalahkan kesaktian pamannya itu. Ia bahkan jatuh pingsan karena terluka menghadapi Pragola dan terpaksa dibawa mundur oleh pasukannya.
Pemberontakan Adipati Pragola akhirnya ditumpas langsung oleh Panembahan Senapati sendiri.

Pemberontakan Pangeran Puger

Pangeran Puger alias Raden Mas Kentol Kejuron adalah putra kedua Panembahan Senapati yang lahir dari selir bernama Nyai Adisara. Saat itu putra pertama Senapati yang bernama Raden Rangga Samudra (lahir dari Rara Semangkin) telah meninggal sejak lama. Hal ini membuat Pangeran Puger menjadi putra tertua dan merasa lebih berhak atas takhta Kesultanan Mataram daripada Mas Jolang.
Panembahan Senapati meninggal pada tahun 1601 dan digantikan oleh Mas Jolang sebagai raja Mataram selanjutnya, yang bergelar Prabu Hanyakrawati. Pengangkatan tersebut membuat Pangeran Puger sakit hati dan tidak mau menghadap ke pertemuan kenegaraan. menyadari hal itu, Hanyakrawati pun mengangkat kakaknya itu sebagai adipati Demak.
Meskipun demikian, Pangeran Puger tetap saja memberontak pada tahun 1602. Perang saudara antara Mataram dan Demak pun meletus. Akhirnya, pada tahun 1605 Pangeran Puger dapat ditangkap dan dibuang ke Kudus.
Pemberontakan selanjutnya terjadi pada tahun 1607, dilakukan oleh Pangeran Jayaraga (alias Raden Mas Barthotot), adik Hanyakrawati yang menjadi bupati Ponorogo. Pemberontakan ini dipadamkan oleh adik yang lain, yaitu Pangeran Pringgalaya (alias Raden Mas Julik putra Retno Dumilah). Jayaraga tertangkap dan dibuang ke Masjid Watu di Nusakambangan.

Menyerang Surabaya

Pada tahun 1610 Hanyakrawati melanjutkan usaha ayahnya, yaitu menaklukkan Surabaya, musuh terkuat Mataram. Serangan-serangan yang dilakukannya sampai akhir pemerintahannya tahun 1613 hanya mampu memperlemah perekonomian Surabaya namun tidak mampu menjatuhkan kota tersebut.
Serangan pada tahun 1613 sempat menyebabkan pos-pos VOC di Gresik dan Jortan ikut terbakar. Sebagai permintaan maaf, Hanyakrawati mengizinkan VOC mendirikan pos dagang baru di Jepara. Ia juga mencoba menjalin hubungan dengan markas besar VOC di Ambon.

Kematian di Krapyak

Prabu Hanyakrawati meninggal dunia pada tahun 1613 karena kecelakaan sewaktu berburu kijang di Hutan Krapyak. Oleh karena itu, ia pun terkenal dengan gelar anumerta Panembahan Seda ing Krapyak. Ia dimakamkan di Pasarean Mataram.
Putra yang ditunjuk sebagai raja selanjutnya adalah Mas Rangsang. Namun, karena sebelumnyua pernah berjanji pada istri pertama (Ratu Tulungayu), maka Mas Wuryah pun lebih dahulu dijadikan raja bergelar Adipati Martopuro selama satu hari.
Setelah memerintah selama satu hari, Adipati Martopuro kemudian digantikan oleh Mas Rangsang, atau yang lebih terkenal dengan julukan Sultan Agung.

Catatan

Pangeran Puger kakak Prabu Hanyakrawati yang memberontak pada tahun 1602-1605 berbeda dengan Pangeran Puger yang bergelar Pakubuwana I. Pangeran Puger Pakubuwana I adalah cicit Hanyakrawati yang hidup pada zaman selanjutnya. Ia menjadi raja Kasunanan Kartasura pada tahun 1705-1719.

Sumber
========================================================================

4. Pangeran Pekik

 Pangeran Pekik (lahir:?-wafat: Surabaya, 1663) adalah putra pemimpin Surabaya yang ditaklukkan Sultan Agung tahun 1625. Ia kemudian dijadikan pemimpin ulama Ampel dan pernah ditugasi menaklukkan Giri Kedaton di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram tahun 1636. Pangeran Pekik akhirnya meninggal tahun 1663 dihukum mati oleh Amangkurat I.

Asal-Usul Pangeran Pekik

Pangeran Pekik merupakan keturunan raja2 mataram,ayahandanya adalah Raja Tegal Arum. Raja Tegal Arum punya empat orang anak yaitu:
1. PANGERAN PEKIK ,
2.PANGERAN TRUNOJOYO,
3.PANRGERAN INDRAJIT ,
4. PANGERAN WIRODARMO.
Pangeran Pekik punya banyak gelar diantaranya bergelar : Raja Amangkurat Agung ,pernah menjabat sebagai Adipati Surabaya ,pernah bergelar Pangeran Anom dan juga diberi gelar oleh rakyatnya Gagak Emprit(berarti orang yang punya derajat tinggi akan tetapi bisa menyatu dengan rakyatnya). Istri Pangeran Pekik adalah RATU WANDANSARI , pangeran Pekik mempunyai dua orang anak salah satunya BAGUS JOKO UMAR . Bagus Joko Umar sendiri mempunyai anak yang namanya SUROMANGGALA (ponorogo). Pangeran Pekik mempunyai salah satu gelar religi yaitu RAJA PANDHITA WALI dengan ucapannya Sabda Pandhita Ratu. Beliau mempunyai nama kecil diantaranya Raden Bagus Pekik atau Raden Muhammad Nur Pekik atau Imam Faqih. di dalam religi jawa Pangeran Pekik juga bergelar Panembahan Pekik.

Pangeran Pekik Menaklukkan Giri Kedaton

Jayalengkara meninggal dunia karena usia tua beberapa waktu setelah penaklukan Surabaya. Putranya, yaitu Pangeran Pekik oleh Sultan Agung dijadikan sebagai pemimpin ulama di Ampel.
Sekitar tahun 1630 Sultan Agung menjalin persaudaraan dengan Pangeran Pekik. Ia menikahkan adiknya yang bernama Ratu Pandansari dengan pangeran dari Surabaya tersebut.
Giri Kedaton di Gresik pada tahun 1633 mencoba lepas dari kekuasaan Mataram. Semua perwira Mataram segan menghadapi Panembahan Kawis Guwa yang merupakan keturunan Sunan Giri.
Maka, pada tahun 1636 Sultan Agung memerintahkan Pangeran Pekik, yang merupakan keturunan Sunan Ampel ([[Sunan Ampel adalah guru Sunan Giri), untuk maju menumpas pemberontakan Giri Kedaton. Panembahan Kawis Guwa dapat dikalahkan dan dibawa menghadap ke Mataram.

Kematian Pangeran Pekik

Sejak 1645 Sultan Agung digantikan putranya yang bergelar Amangkurat I sebagai raja Mataram selanjutnya. Raja baru ini cenderung kurang suka terhadap Pangeran Pekik, yang merupakan mertuanya sendiri.
Dikisahkan dalam naskah-naskah babad, Amangkurat I memiliki calon selir seorang gadis Surabaya bernama Rara Oyi putri Ki Mangun-jaya. Karena masih kecil, Rara Oyi pun dititipkan pada Ki Wirareja. Setelah dewasa, kecantikan Rara Oyi menarik hati Raden Mas Rahmat, putra Amangkurat I yang lahir dari permaisuri putri Pekik. Peristiwa ini terjadi tahun 1663.

Referensi tambahan : yang bekerjasama dengan VOC adalah Amangkurat Mas yang keratonnya berada di Surakarta , sedangkan keraton yang tidak bekerjasama dengan VOC oleh Pangeran Pekik dipindahkan ke Kertasura. Revisi tambahan : Banyak yang tidak mengetahui makam asli dari Pangeran Pekik, banyak versi yang melatarbelakangi sejarah ini, akan tetapi untuk makam asli dari beliau adalah di desa Banaran kecamatan Kandangan kab. Kediri Jawa Timur. Beliau meninggal dalam keadaan bertapa pada malam jumat pahing.

Sumber
========================================================================

5. Adipati Martapura

Pangeran Adipati Martapura (Bahasa Jawa: Pangeran Adipati Martopuro, lahir: Kota Gede, Kesultanan Mataram,1605 - wafat: Magelang, Kesultanan Mataram, 1688) adalah raja urutan ke-tiga Kesultanan Mataram yang memerintah hanya satu hari pada tahun 1613. Dia umumnya tidak dianggap Sultan Mataram yang ke-tiga yang resmi karena hanya memerintah sehari sebelum digantikan oleh adiknya, Raden Mas Rangsang.

Silsilah

Nama aslinya adalah Raden Mas Wuryah, putra Mas Jolang dari istri bernama Ratu Tulungayu putri Ponorogo. Ia dilahirkan tahun 1605 di Kotagede ibu kota Kesultanan Mataram.
Mas Jolang menjabat sebagai Adipati Anom dalam pemerintahan ayahnya, yaitu Panembahan Senopati. Sebagai seorang calon raja, ia pernah berjanji pada istrinya jika kelak dirinya menjadi raja, maka putra mereka yang akan dijadikan sebagai Adipati Anom.
Perkawinan Mas Jolang dengan Ratu Tulungayu tidak juga dikaruniai anak. Mas Jolang memutuskan menikah lagi dengan Dyah Banowati putri Pangeran Benawa raja Pajang. Dari perkawinan itu lahir Mas Rangsang tahun 1593.

Pemerintahan

Ketika Mas Jolang sudah naik takhta bergelar Prabu Hanyokrowati, barulah Ratu Tulungayu melahirkan Mas Wuryah tahun 1605. Namun Mas Wuryah tumbuh menjadi penderita tuna grahita karena perkembangan syarafnya kurang baik.
Prabu Hanyokrowati meninggal dunia tahun 1613. Ia sempat berwasiat supaya takhta Mataram diserahkan kepada Mas Rangsang. Namun, karena pernah berjanji pada Ratu Tulungayu, maka Mas Wuryah harus dijadikan raja selama satu hari terlebih dahulu, sebagai sekadar pemenuhan janji.
Mas Wuryah pun naik takhta Kesultanan Mataram dan memerintah hanya satu hari bergelar Adipati Martapura. Esoknya, takhta pun berpindah kepada Mas Rangsang alias Sultan Agung.




Sumber

1 komentar:

  1. "IMAM FAQIH" atau lebih di kenal dengan nama PANGERAN PEKIK/M.MOKHAMAD FAQIH NUR SALEH/DJOKO BAGUS UMAR(SUNAN PEKIK). Beliau memiliki beberapa gelar semasa hidupnya diantaranya :

    Raja Amangkurat Agung Kartosuro
    Sunan Lamongan Kedua
    Adipati Surabaya Pertama
    Pangeran Anom

    sukai fp kami: fb.com/sunanpekik

    BalasHapus

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.