Rabu, 22 Januari 2014

Filled Under:

Tokoh dan Raja Mataram 6

11. Raden Demang Melayakusuma

Raden Demang Melayakusuma atau Malayakusuma (Madura, ? - Mataram, 1647) adalah putra Pangeran Cakraningrat I (bupati Madura masa pemerintahan Sultan Agung). Malayakusuma bertugas mewakili ayahnya sebagai kepala pemerintahan Madura karena Cakraningrat I lebih sering berada di Kartasura, ibukota Kerajaan Mataram saat itu.
Sultan Agung meninggal dunia pada tahun 1645, digantikan putranya, yang bergelar Amangkurat I. Pada tahun 1647 terjadi pemberontakan Pangeran Alit adik Amangkurat I. Saat itu Malayakusuma sedang berada di Kartasura. Ia dan ayahnya ditugasi memadamkan pemberontakan itu, namun keduanya tewas di tangan Pangeran Alit. Pangeran Alit sendiri akhirnya tewas terkena pusakanya sendiri akibat keletihan.
Demang Malayakusuma memiliki bebrapa orang putra. Putranya yang sulung bernama Trunajaya melakukan pemberontakan terhadap Amangkurat I pada tahun 1676. Ia bahkan berhasil mengusir Amangkurat I dari Kartasura. Akhirnya pemberontakan Trunajaya dapat dipadamkan akhir tahun 1779 oleh Amangkurat II, putra Amangkurat I yang mendapat bantuan VOC.

Sumber
========================================================================

12. Amangkurat II

Sri Susuhunan Amangkurat II adalah pendiri sekaligus raja pertama Kasunanan Kartasura sebagai kelanjutan Kesultanan Mataram, yang memerintah tahun 1677-1703.
Ia merupakan raja Jawa pertama yang memakai pakaian dinas ala Eropa sehingga rakyat memanggilnya dengan sebutan Sunan Amral, yaitu ejaan Jawa untuk Admiral.

Silsilah Keluarga

Nama asli Amangkurat II ialah Raden Mas Rahmat, putra Amangkurat I raja Mataram yang lahir dari Ratu Kulon putri Pangeran Pekik dari Surabaya.
Amangkurat II memiliki banyak istri namun hanya satu yang melahirkan putra (kelak menjadi Amangkurat III). Konon, menurut Babad Tanah Jawi ibu Amangkurat III mengguna-guna semua madunya sehingga mandul.

Perselisihan Masa Muda

Mas Rahmat dibesarkan di Surabaya. Ia kemudian pindah ke istana Plered sebagai Adipati Anom. Namun hubungannya dengan adiknya yang bergelar Pangeran Singasari buruk. Terdengar pula kabar kalau jabatan Adipati Anom akan dipindahkan kepada Singasari.
Pada tahun 1661 Mas Rahmat memberontak didukung para tokoh yang tidak suka pada pemerintahan Amangkurat I. Pemberontakan kecil itu dapat dipadamkan. Para pendukung Mas Rahmat ditumpas semua. Namun, Amangkurat I sendiri gagal saat mencoba meracun Mas Rahmat tahun 1663. Hubungan ayah dan anak itu semakin tegang.
Pada tahun 1668 Mas Rahmat jatuh hati pada Rara Oyi, gadis Surabaya yang hendak dijadikan selir ayahnya. Pangeran Pekik nekad menculik Rara Oyi untuk dinikahkan dengan Mas Rahmat. Akibatnya, Amangkurat I murka dan membunuh Pangeran Pekik sekeluarga. Mas Rahmat sendiri diampuni setelah dipaksa membunuh Rara Oyi dengan tangannya sendiri.

Persekutuan dengan Trunajaya

Mas Rahmat diampuni ayahnya namun juga dipecat dari jabatan Adipati Anom. Jabatan putra mahkota Mataram kemudian diberikan kepada putra yang lain, yaitu Pangeran Puger.
Pada tahun 1670 Mas Rahmat meminta bantuan Panembahan Rama, seorang guru spiritual dari keluarga Kajoran. Panembahan Rama memperkenalkan bekas menantunya, bernama Trunajaya dari Madura sebagai alat pemberontakan Mas Rahmat.
Pada tahun 1674 datang kaum pelarian dari Makasar yang ditolak Amangkurat I saat meminta sebidang tanah di Mataram. Diam-diam Mas Rahmat memberi mereka tanah di desa Demung, dekat Besuki. Mereka kemudian bergabung dalam pemberontakan Trunajaya.
Kekuatan Trunajaya semakin besar dan sulit dikendalikan. Mas Rahmat merasa bimbang dan memilih berada di pihak ayahnya. Ia kembali menjadi putra mahkota, karena Pangeran Puger sendiri berasal dari keluarga Kajoran (pendukung pemberontak).
Akhirnya, pada tanggal 2 Juli 1677 Trunajaya menyerbu istana Plered. Amangkurat I dan Mas Rahmat melarikan diri ke barat, sedangkan istana dipertahankan oleh Pangeran Puger sebagai bukti kalau tidak semua kaum Kajoran mendukung Trunajaya. Namun Pangeran Puger sendiri akhirnya terusir ke desa Kajenar.

Persekutuan dengan VOC

Amangkurat I meninggal dalam perjalanan pada 13 Juli 1677. Menurut Babad Tanah Jawi, minumannya telah diracun oleh Mas Rahmat. Meskipun demikian, Mas Rahmat tetap ditunjuk sebagai raja selanjutnya, tapi disertai kutukan bahwa keturunannya tidak ada yang menjadi raja kecuali satu orang dan itu pun hanya sebentar.
Mas Rahmat disambut baik oleh Martalaya bupati Tegal. Ia sendiri memilih pergi haji daripada menghadapi Trunajaya. Tiba-tiba keinginannya tersebut batal, konon karena wahyu keprabon berpindah padanya. Mas Rahmat pun menjalankan wasiat ayahnya supaya bekerja sama dengan VOC.
Pada bulan September 1677 diadakanlah perjanjian di Jepara. Pihak VOC diwakili Cornelis Speelman. Daerah-daerah pesisir utara Jawa mulai Kerawang sampai ujung timur digadaikan pada VOC sebagai jaminan pembayaran biaya perang Trunajaya.
Mas Rahmat pun diangkat sebagai Amangkurat II, seorang raja tanpa istana. Dengan bantuan VOC, ia berhasil mengakhiri pemberontakan Trunajaya tanggal 26 Desember 1679. Amangkurat II bahkan menghukum mati Trunajaya dengan tangannya sendiri pada 2 Januari 1680.

Membangun Istana Kartasura

Pada bulan September 1680 Amangkurat II membangun istana baru di hutan Wanakerta karena istana Plered diduduki adiknya, yaitu Pangeran Puger. Istana baru tersebut bernama Kartasura.
Pangeran Puger yang semula menetap di Kajenar pindah ke Plered setelah kota itu ditinggalkan Trunajaya. Ia menolak bergabung dengan Amangkurat II karena mendengar berita bahwa Amangkurat II bukan Mas Rahmat (kakaknya) melainkan anak Cornelis Speelman yang menyamar.
Perang antara Plered dan Kartasura meletus pada bulan November 1680. Babad Tanah Jawi menyebutnya sebagai perang antara Mataram melawan Kartasura. Akhirnya setahun kemudian, yaitu 28 November 1681 Pangeran Puger menyerah kalah.
Babad Tanah Jawi menyebut Mataram runtuh tahun 1677, sedangkan Kartasura adalah kerajaan baru sebagai penerusnya.

Sikap Amangkurat II terhadap VOC

Amangkurat II dikisahkan sebagai raja berhati lemah yang mudah dipengaruhi. Pangeran Puger adiknya, jauh lebih berperan dalam pemerintahan. Ia naik takhta atas bantuan VOC dengan hutang atas biaya perang sebesar 2,5 juta gulden. Tokoh anti VOC bernama Patih Nerangkusuma berhasil menghasutnya agar lepas dari jeratan hutang tersebut.
Pada tahun 1683 terjadi pemberontakan Wanakusuma, seorang keturunan Kajoran. Pemberontakan yang berpusat di Gunung Kidul ini berhasil dipadamkan.
Pada tahun 1685 Amangkurat II menampung buronan VOC bernama Untung Suropati yang tinggal di rumah Patih Nerangkusuma. Untung Suropati diberinya tempat tinggal di desa Babirong untuk menyusun kekuatan.
Bulan Februari 1686 Kapten François Tack tiba di Kartasura untuk menangkap Untung Suropati. Amangkurat II pura-pura membantu VOC. Pertempuran terjadi. Pasukan Untung Suropati menumpas habis pasukan Kapten Tack. Sang kapten sendiri mati dibunuh oleh pasukan Untung Suropati
Amangkurat II kemudian merestui Untung Suropati dan Nerangkusuma untuk merebut Pasuruan. Anggajaya bupati Pasuruan yang semula diangkat Amangkurat II terpaksa menjadi korban. Ia melarikan diri ke Surabaya bergabung dengan adiknya yang bernama Anggawangsa alias Adipati Jangrana.

Akhir Kehidupan Amangkurat II

Sikap Amangkurat II yang mendua akhirnya terbongkar. Pihak VOC menemukan surat-surat Amangkurat II kepada Cirebon, Johor, Palembang, dan bangsa Inggris yang isinya ajakan untuk memerangi Belanda. Amangkurat II juga mendukung pemberontakan Kapitan Jonker tahun 1689.
Pihak VOC menekan Kartasura untuk segera melunasi biaya perang Trunajaya sebesar 2,5 juta gulden. Amangkurat II sendiri berusaha memperbaiki hubungan dengan pura-pura menyerang Untung Suropati di Pasuruan.
Amangkurat II akhirnya meninggal dunia tahun 1703. Sepeninggalnya, terjadi perebutan takhta Kartasura antara putranya, yaitu Amangkurat III melawan adiknya, yaitu Pangeran Puger.

Sumber
========================================================================

13. Jangrana II

Kyai Adipati Jayengrana II, atau disingkat Jangrana II, adalah bupati legendaris dari Surabaya yang dihukum mati Pakubuwana I tahun 1709.

Asal-Usul Jangrana

Nama asli Jangrana adalah Anggawangsa (dibaca: Onggowongso). Ia adalah putra Ki Joko Brondong alias Lanang Dangiran. Sejak muda ia mengabdi pada Pangeran Pekik di Surabaya.
Menurut Babad Tanah Jawi, tokoh Jangrana alias Anggawangsa adalah sama dengan yang Jangrana yang dihukum mati di Kartasura tahun 1709. Sedangkan menurut Sedjarah Regent Soerabaja, Jangrana alias Panembahan Panatagama yang dihukum mati adalah putra Jangrana Anggawangsa. Dengan kata lain, Anggawangsa adalah Jangrana I, sedang Panatagama adalah Jangrana II.

Peran Awal Jangrana

Pada tahun 1677 Anggawangsa dan kakaknya, Anggajaya, bergabung membantu Amangkurat II (cucu Pangeran Pekik dari pihak ibu) dalam perang melawan pemberontakan Trunajaya. Anggawangsa berhasil merebut meriam pusaka Nyai Setomi dari tangan pemberontak di Gresik. Ketika para pemberontak berhasil diusir pula dari Surabaya, Anggawangsa pun diangkat sebagai bupati di sana bergelar Tumenggung Jangrana.
Jangrana juga berhasil membebaskan Cakraningrat II bupati Madura yang dibuang Trunajaya di Hutan Lodaya (dekat Blitar).
Setelah Trunajaya kalah, Jangrana ditugasi memadamkan pemberontakan Tawangalun di Blambangan. Namun ia berperang setengah-setengah karena dalam hati memihak Tawangalun.
Jangrana juga dikenal memiliki harga diri tinggi. Sepulang menumpas pemberontakan Wanakusuma di Gunung Kidul, ia pulang dengan meminta residen Surabaya menyambut kedatangannya menggunakan tembakan salvo.

Hubungan dengan Untung Surapati

Untung Surapati adalah buronan VOC yang diam-diam dilindungi Amangkurat II. Pada tahun 1686 Untung Surapati direstui Amangkurat II untuk merebut Pasuruan yang saat itu dipimpin Anggajaya.
Dalam perang di Pasuruan, Anggajaya kalah dan melarikan diri ke Surabaya. Namun Jangrana alias Anggawangsa tidak membalas kekalahan kakaknya itu karena ia sendiri juga anti VOC.
Pada tahun 1690 Jangrana dan Cakraningrat II (bupati Madura) ditugasi Amangkurat II merebut Pasuruan dari tangan Untung Surapati. Perang ini hanya perang sandiwara untuk mengelabui VOC seolah-olah Amangkurat II masih setia pada bangsa Belanda.
Sepeninggal Amangkurat II tahun 1703, terjadi perebutan takhta di Kartasura. Dalam hal ini Jangrana memihak Pakubuwana I menghadapi Amangkurat III. Pada tahun 1705 Pakubuwana I merebut istana Kartasura dan mengusir Amangkurat III ke Jawa Timur.
Pada tahun 1706 gabungan pasukan VOC, Kartasura, Madura, dan Surabaya bergerak menyerang Pasuruan karena Amangkurat III dilindungi Untung Surapati. Dalam perang tersebut Jangrana melakukan sabotase yang merugikan Belanda, karena ia sendiri adalah sahabat Untung Surapati.

Kematian Jangrana

Setelah kematian Untung Surapati tahun 1706 dan tertangkapnya Amangkurat III tahun 1708, pihak VOC ganti melaporkan pengkhianatan Jangrana kepada Pakubuwana I pada tahun 1709.
Jangrana terbukti telah merugikan VOC dalam perang tahun 1706. Ia sebagai pemandu perjalanan dalam penyerbuan ke Pasuruan sengaja memilih jalur yang sulit, antara lain melewati rawa-rawa, sehingga banyak tentara Belanda yang jatuh sakit dan mati. Jangrana sendiri juga dinilai bertempur setengah hati, terbukti prajurit Surabaya tidak ada yang gugur melawan Pasuruan.
Atas desakan VOC tersebut, Pakubuwana I terpaksa memanggil Jangrana untuk dihukum mati. Jangrana bersedia asalkan rakyat Surabaya tidak dilibatkan. Maka, Jangrana pun tewas ditusuki keris oleh petugas Kartasura.
Menurut Sedjarah Regent Soerabadja, yang dihukum mati tahun 1709 adalah Jangrana II yang baru menjabat bupati sejak 1705, putra dari Jangrana Anggawangsa.

Pemberontakan Surabaya Pasca Kematian Jangrana

Menurut Sedjarah Regent Soerbadja, sepeninggal Jangrana II tahun 1709, Surabaya dipecah menjadi dua, sama-sama dipimpin adik Jangrana, yaitu Jayapuspita memimpin kadipaten Kasepuhan, dan Jangrana III memimpin kadipaten Kanoman. Keduanya sama-sama memberontak tahun 1718.
Babad Tanah Jawi memberitakan kisah pemberontakan Arya Jayapuspita panjang lebar. Jayapuspita disebut sebagai pewaris sifat-sifat Jangrana, kakaknya, yaitu gagah berani, mencintai rakyat, dan taat beragama.
Pada tahun 1714 Jayapuspita menolak menghadap ke Kartasura. Ia menyusun pemberontakan sebagai pembalasan atas kematian Jangrana. Daerah-daerah pesisir seperti Gresik, Tuban, dan Lamongan jatuh ke tangannya.
Pada tahun 1717 gabungan pasukan VOC dan Kartasura berangkat menyerbu Surabaya. Mereka bermarkas di desa Sepanjang. Perang besar terjadi. Jayapuspita mendapat bantuan dari Bali. Dalam perang tahun 1718 adik Jayapuspita, yaitu Ngabehi Jangrana (alias Jangrana III) gugur. Jayapuspita akhirnya menyingkir ke desa Japan (dekat Mojokerto) bersama kedua adiknya yang masih hidup, yaitu Surengrana dan Kartayuda.
Jayapuspita kemudian mendukung pemberontakan Pangeran Blitar terhadap Amangkurat IV (pengganti Pakubuwana I) tahun 1719. Ia sendiri meninggal dunia tahun 1723 karena sakit.



Sumber

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.