Selasa, 17 Desember 2013

Filled Under:

Syiah Pembantai Ahlus Sunnah


 Handphone penulis bergetar tidak lama setelah konflik Sunnah-Syiah kembali meletus di Sampang, Madura, Ahad, 27 Agustus 2012. Sebuah pesan dari seorang rekan datang dengan membawa fakta mengejutkan. Ia menyampaikan bahwa beberapa pengikut Syiah di Sampang secara terang-terangan memakai atribut Hizbullah. Tragedi Sampang jilid II sendiri memasuki babak baru setelah ranjau darat ditanam kelompok Syiah yang melukai umat Sunni di Sampang. Menurut para ulama inilah pemicu konlik dalam sengketa Sunni dan Syiah akhir Agustus lalu.

Beredarnya atribut Hizbullah tentu mengagetkan banyak pihak. Ia bukanlah nama asing bagi Ahlus Sunnah, umumnya di daerah Syam, khususnya di Suriah. Hizbullah adalah organisasi politik dan paramiliter Syiah yang didirikan pada tahun 1982 dengan basis di Libanon. Celakanya, selain pernah terekam melawan Israel, Hizbullah juga berkecimpung membela rezim Suriah dalam membantai pemberontak Ahlus Sunnah.
“Pergi, pergilah Bashar. Bawalah partai setan (Hizbullah) bersamamu,” teriak warga Suriah, Sabtu (1/9/2012).

Ucapan warga sipil Suriah itu adalah bentuk protes mereka kepada Hizbullah dan Iran yang selama ini berada di balik dukungan kepada Presiden Bashar Assad. Puluhan ribu mayat warga Sunni tampaknya tidak menjadi persoalan selama support kepada Assad terus mengalir. Juru bicara tentara oposisi Suriah pun secara benderang mengatakan kepada “Al-Jazeera” bahwa ketika mereka menangkap puluhan anggota Shabiha terdapat beberapa anggota milisi Hizbullah di dalamnya. Shabiha adalah kelompok berbadan besar yang memiliki jejak berdarah membantai pemberontak Suriah.

Tentu fenomena ini menjadi pertanyaan besar bagi Syiah yang selama ini mengaku terdepan melawan kezhaliman Barat. Tidak segan-segan Iran rajin mengkoleksi kata kecam kepada Israel ketika inflitrasi Yahudi  menukik di Palestina. Lewat opini itulah Iran menjual identitasnya kepada Ahlus Sunnah bahwa mereka bisa saling bergandengan tangan dalam pembebasan Palestina.

Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah dalam bukunya Pengkhianatan Syiah Sepanjang Sejarah memberikan sebuah analisa yang baik. Ia mengatakan bahwa Sejarah telah menampilkan lembaran-lembaran hitam tentang pengkhianatan-pengkhianatan Syi’ah terhadap kaum muslimin sebagai penerapan aqidah mereka terhadap kaum muslimin. Pengkhianatan-pengkhianatan Syi’ah ternyata tidak surut hingga hari ini bahkan semakin membabi buta. Maka hendaknya setiap muslim selalu waspada terhadap mereka dan tidak terperdaya dengan mulut-mulut manis mereka untuk memperdaya kaum muslimin Ahlus Sunnah dengan slogan “Persatuan Islam”.

Aqidah Syi’ah menganggap Ahlus Sunnah adalah orang-orang kafir dan najis sehingga halal harta dan nyawanya. Bahkan Yusuf al-Bahrani—seorang gembong Syi’ah—di dalam kitabnya alHadâiq an-Nâdhirah fî Ahkâm al-’Itrah ath-Thâhirah (12/323),  mengatakan, “Sesungguhnya anggapan bahwa an-Nashib (baca: Ahlus Sunnah) itu muslim, dan juga anggapan bahwa agama Islam tidak membolehkan untuk mengambil harta mereka, ini semua tidak sesuai dengan ajaran kelompok yang benar (Syi’ah, Pen.) mulai dari dahulu sampai sekarang, yang mana mereka itu mengatakan bahwa an-Nashib itu kafir dan najis serta boleh diambil hartanya bahkan dibenarkan untuk dibunuh.”

Dengan berpegangan pada teologi inilah, Syiah sangat menanamkan kebencian terhadap Ahlus Sunnah. Mereka menganggap darah kaum Sunnah halal untuk dialirkan. Bahkan Syaikh Husain bin Ali ‘Ushfur al-Dararial-Bahrani dalam kitabnya, al-Mahasin al-Nafsaniyyah fii Ajwibah al-Masaa-il al-Khurasaaniyyah, hal. 17 menyatakan bahwa orang-orang Syi’ah menggelari orang-orang Sunni atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah (al-Nashib) lebih najis daripada anjing dan lebih kufur daripada Yahudi dan Nashrani. Dia mengatakan,

بَلْ أَخْبَارُهُمْ عَلَيْهِمُ السَّلامُ تُنَادِي بِأَنَّ النَّاصِبَ هُوِ مَا يُقَالُ لَهُ عِنْدَهُمْ سُنِّياًّ

Bahkan kabar-kabar dari mereka (para imam) ‘alaihis salam menyerukan bahwa yang dimaksud al-Nashib adalah yang dikenal dikalangan mereka dengan Sunni.

Maka itu mengkaji milisi-milisi Syiah menjadi kebutuhan umat Islam. Kejadian di Suriah, Lebanon, maupun Palestina adalah bukti Syiah menyimpan pasukan yang patut diwaspadai  umat Islam. Dari zaman Hasyasyin, Hizbullah, Houti, Shabiha, milisi-milisi Syiah terus bergerak mengkhianati umat Islam. Di Irak, ikatan yang melingkar di leher warga Sunni pun menjadi pemandangan merata dalam upaya pemerintahan boneka Syiah Irak menghukum mati para pengikut Sunni.


Assassins atau Hasyasyin, begitulah sebutannya. Kata inilah yang kemudian populer saat terjadinya perang Salib, dan di Barat kata ini dibawa oleh Marco Polo, serta dipopulerkan oleh Edward Burman (1987) dan Bernard Lewis. Hasyasyin adalah kelompok pembunuh rahasia yang terkoordinir dan terlatih dengan baik. Hasyasyin dibentuk oleh Hassan Ibn Shabah yang tersingkir dalam pertarungan politik di Dinasti Fathimiyyah Mesir pada tahun 1090.

Ia bersama gerakan Hasyasyin-nya pernah menggalang kekuatan Syi’ah di Suriah untuk membunuh para tokoh dan pimpinan Sunni (Ahlus Sunah wal Jamaah), salah satunya Shalahuddin Al Ayyubi yang telah mengambil alih kekuasaan Dinasti Fathimiyyah pada tahun 1171.

Muhammad Asy Syahim dalam bukunya ‘Shalahuddin Al Ayyubi’ menjelaskan bagaimana Hasyasyin menyelinap ke kamar tidur Panglima Islam tersebut. Dengan meletakkan belati berlumuran darah di atas bantal Shalahuddin, mereka mengirim sebuah surat sebagai bentuk teror. Isi surat tersebut adalah sebagai berikut:

“Hai Sultan yang telah merampas kekuasaan, meskipun engkau telah menutup pintu-pintu istanamu, dan menempatkan penjaga yang ketat engkau tidak akan selamat dari kelompok Hasyasyin. Syekh Jabal, pemimpin Syekh Hasyasyin, selalu memperhatikanmu. Jika kami mau, niscaya malam ini kami sudah membunuhmu. Kami hanya ingin memberi peringatan kepadamu agar memperbaiki perilakumu dan mengembalikkan hak yang telah engkau rampas. Engkau tidak perlu mencari tahu siapa saya karena hal itu sangat sulit. Bisa saja aku ini adalah saudaramu, pelayanmu, penjagamu, atau istrimu yang kamu sendiri tidak tahu.”

Alhamdulillah, Shalahuddin tidak takut dengan gertakan murahan tersebut. Sebaliknya, ia malah bersikukuh untuk membasmi Hasyasyin hingga ke akar-akarnya. Maka pada tahun 572 H atau 1176 M, Shalahuddin bersama pasukannya bergerak menuju Syam dan menyerang mereka.

Ketika itu pun banyak jatuh korban dari pasukan musuh. Hasyasyin pun kemudian meminta damai dan pengampunan dari Shalahuddin. Dan Shalahuddin memenuhinya.

Hassan Ibn Sabbah juga membuat benteng-benteng Hasyasyin salah satunya di Masyaf daerah Suriah saat masa Perang Salib. Carrol Hilendbrand dalam bukunya Perang Salib: Sudut Pandang Islam menjelaskan bahwa Benteng Hasyasyin di Suriah ini memiliki dinding pertahanan konsentris ganda. Benteng itu dengan hati-hati diposisikan ke Barat Hama di Jabal Anshariyah, tempat dimana jalan tersebut berbelok ke utara menuju Lembah Orentes.

Biasanya Benteng Hasyasyin sangat terpencil dan terletak di pegunungan, maka itu benteng Hasyasyin terkenal sebagai salah satu benteng yang sangat susah ditembus. Bahkan Hilendbrand mengatakan bahwa Benteng Hasyasyin salah satu benteng terkuat dan terlindung di Iran pada periode 1100-an.
Ibnu Muyassar, seperti dikutip Hilendbrand, menceritakan bahwa setelah kematian Hasan Ibn Sabbah pada tahun 518 H/1124 M, Hasyasyin telah merebut banyak benteng pegunungan di Suriah. Mereka melakukan itu biasanya dengan cara sogokan dan tipu muslihat, yang delapan diantaranya berhasil mereka pertahankan sampai Baybars merebutnya pada 1270-1273. Mereka juga dengan hati-hati memilih kawasan dimana mereka bisa mengajak para penduduk setempat menerima ajaran Syiah Ismailiyyah. Menurut Bernard Lewis dalam bukunya The Assassins: Radical Sect In Islam, dikatakan bahwa dari segi bentuk, orang-orang Syiah Ismailiyah merupakan sebuah masyarakat rahasia, yang mempunyai sistem sumpah, inisiasi serta tingkatan-tingkatan pangkat dan pengetahuan.

Rahasia-rahasia mereka terjaga dengan baik, dan informasi mengenai mereka terpisah-pisah serta membingungkan. Orang-orang ortodoks yang suka berpolemik melukiskan orang-orang Syiah Ismailiyah sebagai gerombolan orang-orang nihilis palsu yang menipu korban-korbannya melalui tahapan-tahapan penistaan yang terus menerus, dan pada akhirnya memperlihatkan hal-hal yang amat buruk kepada orang-orang yang tidak mempercayai mereka.

Sebenarnya banyak analisa di balik motif didirikannya Hasyasyin, selain memang bertujuan melawan Sunni, para analis juga bahwa mengatakan Hasyasyin tidak lain adalah kelompok yang dibentuk untuk memenuhi misi pribadi yang dibawa oleh Hasan Ibn Sabbah setelah disingkirikan Dinasti Fathimiyyah. Hal ini pun diamini oleh Philip K. Hitti. Dalam bukunya, The History of Arabs, Hitti mendelegasikan bahwa gerakan Hasyasyin murni dilakukan untuk memuaskan ambisi pribadi, dan dari segi keagamaan sebagai alat untuk balas dendam kepada Dinasti Fathimiyyah.

Bernard Lewis juga meletakkan peran teologis (baca: Syiah Ismailiyyah/Sempalan Syiah) dalam memicu munculnya gerakan Hasyasyin. Menurutnya, Hasyasyin adalah kelompok teologis yang bergerak dalam konspirasi pembunuhan melawan agama dan masyarakat. Bagi para pengikut Syiah Ismailiyyah, mereka adalah korps elit yang berperang melawan musuh-musuh imam dalam keyakinan mereka dengan menjatuhkan para penindas dan perebut kekuasaan.

Namun berbagai kalangan juga memiliki analisa tersendiri terkait kelompok Hasyasyin. Tidak sedikit sejarawan menulis bahwa antara Hasyayin dan Kabbalah terjalin hubungan kuat. Hitti masih dalam bukunya History of Arabs mendelegasikan asal muasal gerakan Hasyasyin didirikan oleh seorang bernama Hamdan al-Qarmath. Ia dikenal sebagai warga Irak zaman dulu yang gemar pada ilmu-ilmu perbintangan dan kebatinan, mirip dengan pengikut Kabbala. Sebab kita ketahui era Irak kuno (Babilonia) di Mesopotamia memang terkenal akan warisan ilmu perbintangannya.

Gelar Qarmath diberikan karena postur dan kedua kakinya yang pendek, berasal dari Khuzastan di Ahwaz kemudian pindah ke Kufah. Alirannya kemudian membesar dan mendirikan sebuah kelompok (Qaramithah) yang menggunakan metode militer dan sangat bersifat rahasia. Mereka menampakkan diri mendukung keluarga Rasulullah saw dan mengaku bernasab kepada Muhammad bin Ismail bin Ja’far ash-Shadiq, padahal hakikat sebenarnya dari aliran ini adalah ilhad, akidah permisif, merusak moral luhur dan memadamkan daulah Islamiyah.

Dari sinilah lahir analisa bahwa Hasyasyin dan Knight Templar memiliki misi sama untuk menggulingkan Islam menemui muaranya. Banyak kalangan menilai jika Hasyasyin dan Knight Templar bagaikan dua sayap dalam satu tubuh yang sama. Hasyasyin bertugas menggembosi Islam dari dalam sedangkan Templar bertugas melucuti Kristen dengan memasukkan ideologi Kabbalahnya.

 Ratusan rakyat Suriah, puluhan di antaranya anak-anak yang tak berdosa, meregang nyawa di kota dan rumah mereka sendiri. Menurut saksi mata, pelakunya adalah tentara Suriah yang dibantu oleh kekuatan para Shabiha, atau begundal yang fanatik pada Bashar al-Ashad.

Siapa itu Shabiha? Dokter Mousab Azzawi yang memiliki klinik di Latakia, kota pelabuhan di Suriah, mengatakan para Shabiha seperti monster. Dia juga mengaku takut berhadapan dengan mereka yang memiliki perawakan tinggi besar, namun berotak udang ini.

Nama Shabiha juga diduga diambil dari kata bahasa Arab yang berarti “hantu.” Benar saja, Shabiha betul-betul menjadi “hantu” kehidupan rakyat Suriah. Tiap harinya mereka menghadapi hantu yang benar-benar menakutkan dan sangat kejam, tanpa ada tandingannya.

Kekejian Shabiha memang di luar nalar manusia. Bayangkan saja, demi menopang rezim Syiah Bashar al-Assad mereka rela melakukan apa saja. Bashar al-Assad dan ayahnya Hafez al-Assad, menggunakan Shabiha untuk memaksa warga Suriah agar tunduk pada rezim, mencuci otak para milisi Shabiha agar mempercayai bahwa mereka berjuang untuk Syiah mereka dalam melawan agresor Muslim Sunni.

Menurut sebuah laporan, gerombolan preman pembunuh ini telah disalahkan atas pembantaian di Houla di mana lebih dari 100 orang, separuh dari mereka anak-anak, tewas. Saksi mata mengatakan, Shabiha menembak dari dekat dan menusuk korbannya, tidak peduli wanita dan anak-anak.

Shabiha sendiri muncul pertama kalinya pada 1970-an sebagai “Gangster Alawiyyin” yang anggota berasal  dari daerah pesisir yang masih memiliki  hubungan kekrabatan dan keluarga al-Assad. Mereka terlibat dalam narkoba dan penyelundupan senjata dari Lebanon. Di mana mereka perlahan-lahan menguasai jaringan ekonomi Suriah, seluruh jaringan bisnis, yang menjadi nafas kehidupan di Suriah.

Tapi, kemudian mereka terus berubah, bukan hanya mendominasi ekonomi, tetapi sekarang mereka mengontrol aparat keamanan di Suriah, di mana salah seorang  saudara Bashar al-Assad, Rifat mengontrol di bidang intelijen, dan kemudian menciptakan aparat ekstra, yang digunakan melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap kelompok-kelompok  dan tokoh-tokoh Sunni, yang menjadi kekuatan oposisi Bahsar al-Assad.

Kebrutalan Shabiha bisa dibuktikan sendiri dari testimoninya salah seorang anggotanya saat di wawancara wartawan British Sunday Telegraph. Dalam kegiatan wawancara ini, sang wartawan mengaku kerap menggeleng-menggelengkan kepalanya mendengar kesaksian Shabiha yang satu ini.
Sebut saja A (bukan inisial sebenarnya), anggota Shabiha yang hari ini ditahan di Idlib, utara Suriah. Ia ditangkap sekitar seminggu yang lalu. Posturnya tinggi besar dan berotot, cukup mudah untuk mengenalinya sebagai seorang Shabiha.

Kepada wartawan British Sunday Telegraph, A mengakui bahwa pemerintah Syiah Nushairiyah Suriah memang menganjurkan dan memfasilitasi pasukannya untuk melakukan pembunuhan dan perkosaan. Shabiha menerima gaji $450 plus bonus $150 untuk setiap korban.

Yang lebih menjengkelkan, A mengaku bahwa ia menikmati kejahatannya. ”Kami setia kepada Bashar Assad karena mereka memberikan kami semua kekuatan dan kekebalan hukum. Saya bisa membunuh atau memperkosa gadis. Untuk setiap korban, pemerintah Suriah memberikan 30.000 Pound Suriah dan bonus 10.000 Pound Suriah untuk setiap korban. Saya sendiri telah memperkosa seorang gadis. Sementara komandan entah sudah berapa kali memperkosa muslimah. Tapi itu adalah hal yang biasa bagi kami,” ungkapnya mantap.

FSA (Tenbtara Pembebasan Suriah) biasa memperlakukan pasukan Assad yang tertangkap sebagai tawanan perang. Namun khusus Shabiha, biasanya langsung di eksekusi mati. Sebab, mereka terlalu biadab dan tak pernah merasa salah.

“Teman-teman saya bergabung dengan Shabiha, dan mereka mendorong saya untuk bergabung dengan mereka. Saya (awalnya) ragu-ragu, dan orang-orang di pangkalan Pasukan Angkatan Udara lokal memukuli saya hingga saya setuju. Saya diberitahu tentang orang-orang yang tidak menyukai Assad, saya menangkap mereka dan menempatkan mereka di penjara. Pemerintah memberikan saya senjata,” ungkap A.

Ia mengaku pernah memperkosa seorang mahasiswi Universitas Aleppo lalu membunuhnya. ”Suatu kali saya berpatroli dengan komandan. Gadis itu lewat di dekat mobil kami. Saya bertanya pada komandan, ’gadis ini cukup cantik bukan?’ Tanpa banyak komentar, saya dan komandan menariknya dan membawanya pergi dengan mobil kami. Ada sebuah rumah kosong yang ditinggal penghuninya. Kami berdua memperkosanya hingga puas. Karena ia mengenali wajah dan tetangga kami, maka kami membunuhnya. Orang seperti dia tak boleh dibiarkan hidup, “ kisah A.

A juga mengaku bahwa dirinya pernah membunuh seorang pria saat demonstrasi anti-Assad di Idlib.
”Sebelum menjadi anggota Shabiha, saya tumbuh di sebuah keluarga normal, saya diajari untuk menghormati wanita. Tetapi setan mengendalikan jiwa saya pada hari-hari itu,” pungkas A.

Kini nasib Shabiha akan sangat bergantung dengan kedigdayaan Bashar al-Assad yang hampir akan jatuh. Shabiha pun mulai kewalahan berhadapan dengan mujahidin Suriah. Tanggal 19 Ramadhan 1433 H atau bertepatan dengan 8 Juli 2012 M, lewat operasi istisyhadiyyah (martyr), Front Mujahidin Al-Nusrah berhasil menewaskan 162 tentara Suriah dan Shabiha.

Lalu, Ahad (15/7/2012), dalam sebuah video di Youtube, yang dirilis oleh Brigade Al Hamzah tersebut, terlihat berulang kali pasukan mujahidin melepaskan tembakan dari tank mereka ke arah pasukan Assad yang dibalas dengan hal yang sama. Namun dengan pertolongan Allah, Brigade Al-Hamzah berhasil memenangkan pertempuran dengan menewaskan 12 tentara Assad dan melukai beberapa lainnya.
Kemudian, mereka pun berpindah ke tempat lain dan melakukan serangan terhadap markas tempat berkumpul para anggota milisi  Shabiha. Peluru meriam Brigade Al-Hamzah berkali-kali menghantam benteng tersebut dan terlihat tidak ada balasan dari pihak Shabiha, hingga akhirnya menewaskan lebih dari 30 Shabiha. Ini akhir dari drama kekejaman Shabiha selama lebih dari 40 tahun? Semoga.


Sebuah video berdurasi 38 detik muncul di Youtube. Puluhan ribu orang dikabarkan telah mengunduh video ini dan menjadi pemberitaan besar di Suriah. Padahal tidak ada satu pun gambar seseorang ditampilkan dalam video ini. Tidak ada juga wajah buronan kelas kakap yang dicari di penjuru dunia. Tayangan visual tersebut hanya menampilkan sebuah bendera bewarna kuning berkibar-kibar memecah langit Suriah.

Namun ini memang bukan sembarang bendera. Simbol yang berkibar di kota Homs itu adalah representasi dari sikap sebuah organisasi yang telah melukai perasaan muslim Suriah. Ketika ramai-ramai umat Islam bersatu melawan kekejian Rerzim Bashar Al Assad, Hizbullah justru bergabung dengan Tentara Suriah memerangi Ahlus Sunnah.

Bendera kuning yang menjadi lambang Hizbullah itu menjadi penanda bahwa milisi Syiah ini turut bermain memerangi Ahlus Sunnah di Suriah.

Hizbullah lahir pada tahun 1982. Berdirinya organisasi ini tidak terlepas dari paham Syiah, yang berkiblat ke Madrasah Ad-diniyah Najaf dan sebuah partai Syiah  yang diketuai oleh Muhammad Baqir As-Sadr di Irak. Lembaga ini telah mencetak generasi-generasi militan Syiah di Lebanon. Satu diantaranya adalah Musa As-Sadr, pendiri Harakah AMAL (Batalyon Perlawanan Lebanon) yang saat ini dipimpin oleh Nabih Berre yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Lebanon.

Media internasional Al Bayan pada 28/07/2012, menyatakan bahwa pasukan Hizbullah sebenarnya sudah lama berperan serta dalam menindas bangsa Suriah, bersama militer rezim. Mereka terlibat secara langsung di lapangan dalam upaya membungkam arus gerakan revolusi rakyat. Tapi campur tangan Hizbullah selama ini selalu ditutup-tutupi kedua belah pihak.

Berdasarkan data yang dimiliki Asosiasi Hak Asasi Manusia, Hizbullah Lebanon dan Tentara Mahdi Irak yang didukung oleh Iran telah melakukan pemerkosaan terhadap wanita Suriah di Aleppo, Suriah, hal ini diketahui dengan video yang mereka unggah di internet.

Abdul Majid Al-Halabi, seorang aktifis HAM mengatakan, “Salah satu komandan milisi meminta seorang wanita membuka semua pakaiannya untuk dia perkosa di hadapan suami dan anak-anaknya. Wanita itu mencium sepatunya sambil memohon agar dia tidak melakukannya, tapi sang komandan tidak menggubris permintaan wanita tersebut.”

Menurut Asosiasi Hak Asasi Manusia, banyak anak perempuan Suriah di bawah usia 18 tahun yang telah diperkosa dan beberapa di antara mereka hamil.” Asosiasi ini mengimbau kaum muslimin untuk bekerjasama menyelamatkan rakyat Suriah dari semua bentuk penindasan dan kekejaman rezim Assad.

Gerilyawan Hizbullah dan Tentara Mahdi, menurut Asosiasi Hak Asasi Manusia, memaksa kaum perempuan untuk mengatakan, “Tidak ada tuhan selain Bashar” dan “Matilah orang-orang Arab dan hidup Iran.”
Hal tersebut ternyata tidak hanya terjadi terhadap warga Suriah di negaranya sendiri. Di Lebanon, Hizbullah juga melakukan hal yang hampir sama. Mereka menculik lebih dari 23 pengungsi Suriah di Lebanon. Kelompok Syiah ini menjadikan mereka sebagai sandera dan alat barter bagi seorang anggota milisi Hizbullah yang ditawa oleh Tentara Kebebasan Suriah (Free Syrian Army).

Namun ada satu hal yang menjadi kekhwatiran banyak pihak. Dikabarkan Assad siap melakukan apa saja untuk mempertahankan kekuasaannya, termasuk mengirim senjata kimia kepada Hizbullah. Hal ini dikatakan oleh Mantan Jenderal Suriah yang berubah menjadi pembelot, Mayor Jenderal Adnan Sillu. Langkah itu diambil Assad sebagai pilihan terakhir.

“Kami berada dalam diskusi serius tentang penggunaan senjata kimia, termasuk bagaimana kita akan menggunakannya dan di bidang apa,” kata Jenderal Sillu.

“Kami membahas hal ini sebagai pilihan terakhir–jika rezim kehilangan kendali daerah penting seperti Aleppo,” kata Jenderal.

Mingguan Jerman Der Spiegel menyatakan bahwa Suriah akan menguji sistem pengiriman dengan cara menembakkannya dari pesawat.

“Lima atau enam peluru kosong dirancang untuk diberikan bahan kimia yang ditembakkan oleh tank dan pesawat, di sebuah wilayah yang disebut Diraiham di gurun dekat desa Khanasir, timur dari kota Aleppo,” seperti dilaporkan Der Spiegel.

Kini pasukan mujahidin terus berjuang membebaskan Suriah dari cengkraman kezaliman Assad. Dan mereka memang harus berhadapan dengan milisi Syiah Hizbullah, yang mengaku keras terhadap Israel, tapi secara nyata turut menghabisi nyawa muslim Suriah.


Sumber

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.