Rabu, 05 Februari 2014

Filled Under:

Majapahit: Gajah Mada 1

Gajah Mada ialah Mahapatih Majapahit yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Gajah Mada diperkirakan lahir pada tahun 1300 di lereng pegunungan Kawi - Arjuna, daerah yang kini dikenal sebagai kota Malang (Jawa Timur). Sejak kecil, Gajah Mada sudah menunjukkan kepribadian yang baik, kuat dan tangkas. Kecerdasannya telah menarik hati seorang patih Majapahit yang kemudian mengangkatnya menjadi anak didiknya, Beranjak dewasa terus menanjak karirnya hingga menjadi Kepala (bekel) Bhayangkara (pasukan khusus pengawal raja). Karena berhasil menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328) dan mengatasi Pemberontakan Ra Kuti, ia diangkat sebagai Patih Kahuripan pada 1319. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Kediri.

Memadamkan Pembrontakan Ra Kuti
Gajah Mada adalah seorang mahapatih kerajaan Majapahit yang didaulat oleh para ahli sejarah Indonesia sebagai seorang pemimpin yang telah berhasil menyatukan nusantara. Sumber-sumber sejarah yang menjadi bukti akan hal ini banyak ditemukan diberbagai tempat. Di antaranya di Trowulan, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang dahulu pernah menjadi ibu kota kerajaan Majapahit. Kemudian di Pulau Sumbawa, di mana sebuah salinan kitab Negara Kertagama di temukan. Prasasti dan candi adalah peninggalan-peninggalan masa lalu yang menjadi bukti lain pernah jayanya kerajaan Majapahit di bawah pimpinan mahapatih Gajah Mada.
peristiwa pemberontakan yang paling berdarah pada masa pemerintahan Sri Jayanegara, raja Majapahit yang kedua. Pemberontakan yang dilakukan oleh Dharmaputra Winehsuka di bawah pimpinan Ra Kuti - rekan Gajah Mada dalam keprajuritan - sampai mampu melengserkan sang prabu Jayanegara dari singgasananya untuk sementara dan mengungsi ke pegunungan kapur utara, sebuah daerah yang diberi nama Bedander.  
Ra Kuti, Ra Tanca, Ra Banyak, Ra Wedeng, dan Ra Yuyu pada mulanya adalah prajurit-prajurit yang dianggap berjasa kepada negara. Oleh karenanya sang prabu Jayanegara memberikan gelar kehormatan berupa Dharmaputra Winehsuka kepada kelima prajurit tersebut. Entah oleh sebab apa, mereka, dipimpin oleh Ra Kuti melakukan makar mengajak pimpinan pasukan Jala Rananggana untuk melakukan pemberontakan terhadap istana. Pada waktu itu Majapahit memiliki tiga kesatuan pasukan setingkat divisi yang dinamakan Jala Yudha, Jala Pati, dan Jala Rananggana. Masing-masing kesatuan dipimpin oleh perwira yang berpangkat tumenggung.
Gajah Mada, pada waktu itu masih menjadi seorang prajurit berpangkat bekel. Pangkat bekel dalam keperajuritan pada saat itu setingkat lebih tinggi dari lurah prajurit, namun masih setingkat lebih rendah dari Senopati. Pangkat di atas senopati adalah tumenggung, yang merupakan pangkat tertinggi.  

Gajah Mada membawahi satu kesatuan pasukan setingkat kompi yang bertugas menjaga keamanan istana. Nama pasukan ini adalah Bhayangkara. Jumlahnya tidak lebih dari 100 orang, namun pasukan Bhayangkara ini adalah pasukan khusus yang memiliki kemampuan di atas rata-rata prajurit dari kesatuan mana pun.
Informasi tentang adanya pemberontakan tersebut diperoleh dari seseorang yang memberitahu Gajah Mada akan adanya bahaya yang akan datang menyerang istana pada pagi hari. Tidak dijelaskan siapa dan atas motif apa seseorang tersebut memberikan informasi tersebut kepada Gajah Mada. Satu hal yang cukup jelas bahwa orang tersebut mengetahui rencana makar dan kapan waktu dilakukan makar tersebut menandakan bahwa informan tersebut memiliki hubungan yang cukup dekat dengan pihak pemberontak. 

Mendapatkan informasi tersebut Gajah Mada segera melakukan koordinasi dengan segenap jajaran telik sandi yang dimiliki pasukan Bhayangkara, tidak ketinggalan terhadap telik sandi pasukan kepatihan. Saat itu mahapatih masih dijabat oleh Arya Tadah, yang memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Gajah Mada.
Gajah Mada juga melakukan langkah koordinasi kekuatan terhadap tiga kesatuan pasukan utama Majapahit dengan cara menghubungi masing-masing pimpinannya. Tidak mudah bagi seorang bekel untuk bisa melakukan hal ini karena ia harus bisa menemui para Tumenggung yang berpangkat dua tingkat di atasnya. Namun, Arya Tadah yang tanggap akan adanya bahaya, telah membekali Gajah Mada dengan lencana kepatihan, sebuah tanda bahwa Gajah Mada mewakili dirinya dalam melaksanakan tugas tersebut. 

Dua dari tiga pimpinan pasukan berhasil dihubungi. Namun keduanya menyatakan sikap yang berlainan. Pasukan Jala Yudha bersikap mendukung istana, sedangkan pasukan Jala Pati memilih bersikap netral. Pimpinan pasukan Jala Rananggana tidak berhasil ditemui karena pada saat itu kesatuan pasukan tersebut telah mempersiapkan diri di suatu tempat yang cukup jauh dari istana untuk mengadakan serangan dadakan keesokan harinya. Yang selanjutnya terjadi adalah perang besar yang melibatkan ketiga kesatuan utama pasukan Majapahit. Akhirnya peperangan tersebut dimenangkan oleh pihak pemberontak, dan memaksa sang Prabu Jayanegara mengungsi ke luar istana dilindungi oleh segenap kekuatan pasukan Bhayangkara. 

Namun, tidak seluruh anggota pasukan Bhayangkara memihak raja. Hal ini tentu menyulitkan tindakan penyelamatan sang prabu karena setiap saat di mana saja, musuh dalam selimat bisa bertindak mencelakai sang prabu. Hal ini yang mendorong Gajah Mada melakukan tindakan penyelamatan yang rumit sampai membawa sang prabu ke Bedander, sebuah daerah di pegunungan kapur utara.
Dengan kecerdikannya, memanfaatkan kekuatan dan jaringan yang dimiliki, akhirnya Gajah Mada berhasil mengembalikan sang prabu ke istana. Prabu Sri Jayanegara memang selamat dari kejaran Ra Kuti dan pengikut-pengikutnya. Namun, sembilan tahun kemudian, salah seorang Dharmaputra Winehsuka yang telah diampuni dari kesalahan akibat terlibat dalam pemberontakan tersebut, melakukan tindakan yang sama sekali tidak terduga: meracun sang prabu sampai mengakibatkan wafatnya beliau.

Memadamkan Pemberontakan Sadeng

Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Aryo Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Ia menunjuk Patih Gajah Mada dari Kediri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui. Ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu sedang melakukan pemberotakan terhadap Majapahit. Keta & Sadeng pun akhirnya takluk. Patih Gajah Mada kemudian diangkat secara resmi oleh Ratu Thribhuwana Tunggadewi sebagai Rakryan Patih Majapahit (1334).
Pada acara pelatikannya sebagai Patih Majapahit, Gajah Mada mengucapkan janji baktinya sambil mengacungkan kerisnya bernama Surya Panuluh yang sebelumnya adalah milik Dyah Kertarajasa Jayawardhana, Raja Pendiri Kerajaan Majapahit yang dikenal dengan Sumpah Palapa.
Sumpah Palapa adalah pengumuman resmi tentang program politik pemerintahan yang akan dijalankan oleh Patih Gajah Mada dibawah kepemimpinan Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi. Sumpah Palapa ini ditemukan pada teks Jawa Pertengahan Pararaton yaitu ia baru akan menikmati palapa atau rempah-rempah yang diartikan kenikmatan duniawi jika telah berhasil menaklukkan Nusantara., yang berbunyi,
Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".
Terjemahannya,
Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Beliau Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".
Dari isi naskah ini dapat diketahui bahwa pada masa diangkatnya Gajah Mada, sebagian wilayah Nusantara yang disebutkan pada sumpahnya belum dikuasai Majapahit.
Arti nama-nama tempat
  • Gurun = Nusa Penida
  • Seran = Seram
  • Tañjung Pura = Kerajaan tangjung Pura, Ketapang, Kalimantan Barat
  • Haru = Sumatra Utara (ada kemungkinan merujuk kepada Karo)
  • Pahang = Pahang di Semenanjung Melayu
  • Dompo = Kabupaten Dompu
  • Bali = Bali
  • Sunda = Kerajaan Sunda
  • Palembang = Palembang atau Sri Wijaya
  • Tumasik = Singapura
Sumpah Palapa tersebut sangat menggemparkan para undangan yang hadir dalam pelantikan Gajah Mada sebagai patih Amangku bumi. Ra Kembar mengejek Gajah Mada sambil mencaci maki, undangan yang lain turut serta mengejek, Jabung Tarewes dan Lembu Peteng tertawa terpingkal pingkal. Gajah Mada yang merasa terhina akhirnya turun dari paseban menghadap kaki sang Ratu dan berkata bahwa hatinya sangat sedih dengan penghinaan tersebut. Akhirnya setelah acara tersebut Gajah Mada kemudian menyingkirkan Ra Kembar untuk membalaskan dendamnya karena mendahului mengepung Sadeng. Sumpah Palapa tersebut diucapkan dengan kesungguhan hati oleh Gajah Mada , oleh karena itu ia sangat marah ketika ditertawakan.

Program politik yang dijalankan oleh Gajah Mada berbeda dengan yang dijalankan oleh Prabu Kertarajasa dan Prabu Jayanagara dimana dalam masa pemerintahan ke dua tokoh tersebut para menteri kebanyakan diambil dari orang orang yang terdekat yang dianggap berjasa oleh kedua tokoh tersebut. Dan ketika orang orang kepercayaan tersebut melakukan pemberontakan maka pemerintahan tersebut hanya disibukkan oleh pembasmian pemberontakan sehingga mereka tidak berkesempatan untuk menjalankan politik untuk mengembangkan wilayah kerajaan.
Demikianlah Gajah Mada dalam menjalankan Politik Nusantaranya para pejabat – pejabat yang dahulu mengejek dan menertawakannya disingkirkan satu persatu. Ra Kembar dan Warak yang mengejeknya habis habisan kemudian disingkirkan.
Dengan adanya Sumpah Amukti Palapa, maka Gajah Mada bercita-cita mempersatukan wilayah Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Sehingga untuk mewujudkan sumpah tersebut, pasukan Majapahit yang dipimpin Gajah Mada dan dibantu oleh Adityawarman melakukan politik ekspansi/penyerangan keberbagai daerah dan berhasil. Atas jasanya Adityawarman diangkat menjadi Raja Melayu tahun 1347 untuk menanamkan pengaruh Majapahit di Sumatera. Walaupun ada sejumlah orang yang meragukan sumpahnya, Patih Gajah Mada berhasil menaklukkan Nusantara. Daerah Daerah yang dikuasai Majapahit dibawah Patih Gajah Mada antara lain :
Bedahulu (Bali) dan Lombok (1343), Palembang, Swarnabhumi (Driwijaya), Tamiang, Samudra Pasai, dan negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatra) telah ditaklukkan. Lalu Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

Dengan konsep persatuannya ini, berbuah pada meredanya pertumpahan darah antar kerajaan-kerajaan tersebut yang semula selalu saling mengintai dan berupaya saling menguasai melalui jalan peperangan yang menimbulkan banyak korban terutama terhadap rakyat masing-masing dapat dihindari dengan pengayoman Majapahit dan semboyan bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa, diantara kerajaan-kerajaan tersebut kemudian bisa menjadi lebih menekankan perhatiannya kepada upaya meningkatkan kesejahteraan dan kemajuannya sendiri maupun bersama-sama. Selain itu juga menjadi lebih kuat menghadapi ancaman penjajah asing (Tiongkok/Tartar), menggantinya menjadi hubungan kerjasama dagang dan budaya yang saling menguntungkan masing-masing pihak.
Beberapa Catatan tentang Keberhasilan Patih Gajah Mada sebagai berikut :
  1. Memadamkan pemberontakan : Ra Kuti
  2. Keberhasilannya mengawal terjadinya peralihan kekuasaan saat mangkatnya Jayanegara. Keadaan istana genting, dan para Ratu ( Tribhuaneswari, Narendraduhita, Pradnya Paramita, Dyah Dewi Gayatri dan Dara Petak ) bingung karena tidak ada lagi penerus laki-laki. Saat itu merupakan masa sulit karena penuh intrik, terutama karena ada perseteruan antara Cakradara dan Kudamerta.
  3. Memadamkan pemberontakan Sadeng pada tahun 1331, sehingga membuat Arya Tadah (Patih Majapahit) harus merelakan menyerahkan jabatannya kepada Gajah Mada. Sumpah Amukti Palapa, yang berhasil mempersatukan Nusantara sampai Philipina bagian.selatan
  4. Menerbitkan Kitab Hukum Kerajaan Majapahit.
    Selain sebagai negarawan, Gajah Mada terkenal pula sebagai ahli hukum. Kitab hukum yang ia susun sebagai dasar hukum di Majapahit adalah Kutaramanawa, berdasarkan kitab hukum Kutarasastra (lebih tua) dan kitab hukum Hindu Manawasastra, serta disesuaikan dengan hukum adat yang berlaku.
    Arca Gajah Mada

Walaupun usianya terbilang muda untuk menggantikan posisi sebagai Majapahit, namun tidak seorang pun yang meragukan pengabdian dan kesetiaan Gajah Mada terhadap raja dan negaranya. Dimulai dari tindakan heroiknya menyelamatkan sang prabu dari kejaran para pengikut pemberontak Ra Kuti, kemudian membalikkan keadaan dan mengembalikan sang prabu ke singgasananya. Atas kepemimpinan Gajah Mada pula, persaingan politik perebutan takhta antara dua satria pendamping para putri kedaton bisa diredam, sehingga pergantian kekuasaan setelah mangkatnya prabu Sri Jayanegara bisa berlangsung mulus.
Mengenai Keta dan Sadeng, diceritakan bahwa kedua wilayah bagian Majapahit tersebut berniat memisahkan diri dari kerajaan Majapahit dan melakukan persiapan serius. Diantaranya adalah melakukan perekrutan besar-besaran terhadap warga sipil untuk dididik keprajuritan di tengah hutan Alas Larang. Tujuannya adalah memperkuat angkatan perang kedua wilayah tersebut, yang pada akhirnya akan dibenturkan terhadap kekuatan perang Majapahit. Gajah Mada berpendapat bahwa sebisa mungkin perang dengan Keta-Sadeng diselesaikan secara psikologis dengan mengadakan provokasi dan adu domba antar kekuatan internal Keta-Sadeng. Bahkan kalau perlu melakukan penculikan terhadap para pemimpin yang menggerakkan perang tersebut. Tujuan akhirnya adalah menyelesaikan konflik Keta-Sadeng dengan biaya kecil-kecilnya.
Dilihat dari kekuatan gelar pasukan, kekuatan Keta-Sadeng bukanlah apa-apa dibanding dengan kekuatan pasukan Majapahit. Namun, dibalik kekuatan fisik pasukan segelar sepapan yang belum sebanding dengan pasukan Gajah Mada, Keta-Sadeng dilindungi oleh kesatria mumpuni yang sakti mandraguna. Ksatria ini adalah mantan pelindung Raden Wijaya, raja Majapahit yang pertama. Nama ksatria tersebut adalah Wirota Wiragati, terkenal dengan kesaktiannya memiliki ajian sirep, ajian panglimunan, dan kekuatan untuk mendatangkan kabut yang bisa menyulitkan daya penglihatan pasukan mana pun. Namun, dengan kecerdikan Gajah Mada yang disalurkan ke setiap elemen pasukan Bhayangkara yang disusupkan sebagai telik sandi ke wilayah Keta dan Sadeng, akhirnya tujuan Gajah Mada untuk mengakhiri perang Keta-Sadeng dengan biaya minimal akhirnya tercapai.
Setelah menuntaskan tugas pemadaman pemberontakan Keta-Sadeng, akhirnya Gajah Mada siap untuk didaulat menjadi mahapatih menggantikan Arya Tadah. Dalam sidang penunjukkannya sebagai mahapatih itulah Gajah Mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal: Hamukti Palapa. Pada saat itu, Majapahit juga menjalin hubungan dengan kerajaan Swarnabhumi, di pulau Sumatra. Kedatangan raja Swarnabhumi – Adityawarman - ke Majapahit digambarkan menggunakan kapal perang berukuran besar yang belum ada tandingannya dari kesatuan pasukan laut Majapahit.
Adityawarman sendiri adalah saudara sepupu mendiang prabu Sri Jayanegara, sekaligus sahabat yang cukup dekat dengan Gajah Mada. Penggambaran besarnya ukuran kapal perang dari Swarnabhumi agaknya dimaksudkan sebagai cikal bakal adopsi teknologi yang menjadikan besarnya armada laut Majapahit kelak ketika penyatuan nusantara dimulai.
(Bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.