Rabu, 05 Februari 2014

Filled Under:

Bali: Raja Penguasa Bali 10

F. Kerajaan Gelgel
1. Dalem Waturenggong (1460 – 1550)
Pada Masa Pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir telah dinobatkan putra beliau yaitu Dalem Waturenggong sebagai Raja Muda tahun caka 1380 atau tahun 1458 M. Dengan wafatnya ayah beliau pada tahun 1460 maka Dalem Waturenggonglah yang menggantikan kedudukan beliau sebagai Raja di Kerajaan Gelgel dengan kekuasaan penuh terhadap Pulau Bali.

Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong Kerajaan Bali mencapai masa keemasannya hal tersebut tercapai berkat kebijaksanaan beliau dalam mengatur pemerintahan dan penegakan hukum serta perhatian beliau terhadap kesejahteraan rakyat. Begitu juga orang orang Bali aga (asli) diberikan kedudukan dalam pemerintahan dan diperlakukan secara adil.

Dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit yang merupakan pemerintahan Pusat pada tahun 1478 maka Bali melepaskan diri dan menjadi wilayah yang merdeka. Kerajaan Gelgel kemudian memperluas wilayah kekuasaannya dengan menundukkan kerajaan Blambangan pada tahun 1512 M dan menguasai Pulau Lombok tahun 1520 M. Dalem Waturenggong adalah raja yang sangat ditakuti oleh raja Pasuruan dan Raja Mataram. Pemerintah Dalem Waturenggong pada abad XVI (sekitar tahun 1550 M) merupakan awal lepasnya ikatan dan pengaruh Majapahit terhadap kerajaan Bali seiring runtuhnya kerajaan Majapahit oleh Kerajaan Islam.

Menteri Mentri pada Jaman pemerintahan ayahnya yang sudah berusia lanjut digantikan oleh putra putranya diantaranya Ki Gusti Batan Jeruk sebagai patih Agung digantikan oleh oleh putranya yaitu Rakyan petandakan juga Ki Gusti Abian Tubuh dan Ki Gusti Pinatih telah menunjukkan rasa baktinya menuruti jejak orang tuanya masing masing kehadapan Dalem Waturenggong.

Dalem Waturenggong mewarisi keris pusaka Ki Lobar , Si tandang langlang dan Si begawan Canggu yang diberikan oleh Patih Gajahmada kepada Kakek beliau Dalem Sri Kresna Kepakisan pada saat pertama kali memegang pemerintahan di Pulau Bali yang mana keberadaan senjata sakti tersebut sangat ditakuti oleh musuh musuh beliau karena dapat mencari sasarannya sendiri atas perintah si empunya.

Pasukan inti dari Kerajaan Gelgel adalah Dulang Mangap dengan kekuatan inti sebanyak 1600 orang dipimpin oleh patih Ularan yang merupakan warga Bali Aga (Bali Asli) keturunan Ki Pasung Grigis yang merupakan patih Kerajaan Bedulu sebelum dikalahkan Majapahit.

Akibat jatuhnya Majapahit maka banyak para arya dan Brahmana dari Majapahit yang datang ke Bali diantaranya Dang Hyang Nirarta yang di Bali terkenal dengan sebutan Pedanda Sakti Wawu Rauh / Dang Hyang Dwijendra dan di Lombok terkenal dengan sebutan Sangupati dan di Pulau Sumbawa beliau disebut dengan Tuan Semeru.

Kedatangan Dang Hyang Nirarta ke Bali disambut oleh I Gusti Dauh Bale Agung. Beliau kemudian diangkat sebagai Bagawanta Kerajaan Gelgel. Peranan belaiu sebagai Bagawanta sangat besar dalam bidang keagamaan, arsitektur dan kesusatraan sehingga Kerajaan Gelgel pada abad ke 6 tersebut mencapai puncak kejayaannya. Beliau selalu memberikan petunjuk dan nasehat kepada Dalem Waturenggong dalam menjalankan pemerintahan, dan salah satu ajaran beliau yang diwarisi sampai sekarang adalah konsep TRI PURUSA (Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa yaitu :

  • Parama Siwa yaitu Sifat Tuhan sebagai Brahma yang merupakan sumber dari segala sumber di alam semesta
  • Sada Siwa yaitu sifat Tuhan sebagai Asta Iswara dan Cadu Sakti
  • Siwa yaitu Sifat Tuhan sebagai jiwa alam semesta.
Dalam wujud tempat persembahyangan dinamakan Padmasana yang memadukan ajaran Tri Murti dari Mpu Kuturan dan Konsep Tri Purusa dari Dang Hyang Nirarta yang dipergunakan hingga saat ini.

Pada Masa Pemerintahan Dalem Waturenggong wafatlah I Dewa Tegal Besung yang merupakan Paman beliau atau anak dari Dalem Kresna Kepakisan Raja Bali I setelah ekspedisi Majapahit tahun 1343 M. Beliau meninggalkan 5 orang putra yaitu :
  1. I Dewa Anggungan
  2. I Dewa Geding Artha
  3. I Dewa Nusa
  4. I Dewa Bangli
  5. I Dewa Pagedangan
Putra putra beliau senantiasa mengabdikan diri kepada Dalem Waturenggong karena masih bersepupu dengan beliau dan oleh Dalem Waturenggong ke lima saudara sepupunya masing masing diberikan tempat tinggal dan sandang pangan secukupnya.

PEMBANGUNAN PURA-PURA

Pura-pura yang dibangun atas petunjuk Dang Hyang Dwijendra adalah :
  1. Pura Purancak di Jembrana
  2. Pura Rambut Siwi di dekat desa Yeh Embang dibangun kembali atas petunjuk beliau dan di sana disimpan potongan rambut Dang Hyang Dwijendra,
  3. Pura Pakendungan di desa Braban Tabanan, di sini disimpan keris beliau.
  4. Pura Sakti Mundeh dekat desa Kaba-kaba Tabanan
  5. Pura Petitenget di pantai laut dekat desa Kerobokan (Badung) di sini disimpan pecanangan (kotak tempat sirih)
  6. Pura Dalem Gandhamayu yang terletak di desa Kamasan (Klungkung) di tempat itu beliau menemukan bau harum sebagai isyarat dari Hyang widhi.
AKHIR MASA PEMERINTAHAN
Dalem Batur Enggong wafat tahun 1550 M beliau meninggalkan 2 orang Putra dan 1 orang Putri yaitu :
  1. Raden Pangharsa/ Dalem Bekung
  2. Raden Anom Sagening/ Dalem Sagening
  3. Seorang putri tidak diceritakan
Setelah Dalem Watur Enggong Wafat maka putra tertua yaitu Raden Pangharsa dinobatkan sebagai Raja Gelgel tahun 1560 dengan Gelar Sri Aji Pamahyun/ Dalem Bekung karena beliau tidak mempunyai keturunan.
Sumber
2. Dalem Bekung
SRI AJI PAMAHYUN BEKUNG/I DEWA PAMAHYUN (1560 M/CAKA 1482)
Raden Pangharsa yang berhak menggantikan kedudukan Dalem Batur Enggong yang telah wafat tahun 1550 M, karena usianya masih sangat muda maka dibentuklah suatu perwalian mahkota yang terdiri dari bangsawan bangsawan putra dari Dewa Tegal Besung dengan tugas menjalankan pemerintahan sehari-hari Kerajaan Gelgel sampai putra mahkota dinyatakan dapat memimpin Kerajaan Gelgel. Adapun Perwalian tersebut beranggotakan :

I Dewa Gedong Atha, I Dewa Nusa, I Dewa Pangedangan, I Dewa Anggungan, dan I Dewa Bangli. Sri
Aji Tegal Besung pada adalah putra bungsu dari Dalem Wawu Rawuh/ Sri Kresna Kepakisan (yang pertama di Bali).

Menurut catatan orang Belanda yang bernama Aernoudt lintgens yang pada bulan Pebruari 1597 mengunjugi Bali dan berkesempatan bertemu dari Raja Bali yang bernama Dalem Pambahyun Bekung mengungkapkan bahwa Bali dibawah pemerintahan Dalem Bekung berada dalam keadaan makmur dan hidup tenang dibawah pimpinan seorang Raja yang berwibawa.

Lintgens menceritakan bahwa Raja Bali pada saat dia berada di Kuta sedang mempersiapkan keberangkatan kurang lebih 20.000 pasukan menuju Blambangan Jawa Timur yang pada watu itu diduduki oleh Kerajaan Mataram. Raja Bali berkeinginan untuk merebut kembali wilayah tersebut. Raja duduk diatas pedati yang dihias atapnya dan ditarik dua ekor kerbau putih, sedangkan pengawalnya terdiri da
ri beberapa ratus orang yang mendahului kendaran Raja yang semuanya memanggul tombak yang dilapisi oleh emas sedangkan raja bersenjatakan keris yang berhulu dari parung emas dengan hiasan permata yang berkilau.

Raja dikelilingi oleh bangsawan bangsawan yang bersenjatakan keris yang bentuknya sama dengan yang dipakai Raja dan dibelakang raja berjalan lagi ratusan pengawal yang bersenjatakan bedil dan panah. Lintgens juga sempat berkunjung ke kerajaan Gelgel untuk menghadap raja diistananya. Dia menggambarkan
keadaan istana yang serba besar, megah dan mewah. Disana dia melihat lagi ratusan tombak yang berhiaskan emas, perhiasan perhiasan dan tempayan dari emas.

Namun demikian walaupun di Bali keadaan begitu aman tidak demikian dengan wilayah kekuasaan beliau di luar pulau Bali. Pada masa Pemerintahan Dalem Bekung adalah awal kesuraman kerajaan Gelgel. Karena pada masa pemerintahann
ya ini pula terjadi banyak masalah dan kesulitan. Masa keemasan Gelgel mulai memudar pada masa pemerintahan Dalem Bekung (1550--1580 M) putra sulung Dalem Waturenggong , Kerajaan -kerajaan Gelgel di luar Bali yang pernah dikuasai Dalem Waturenggong satu per satu melepaskan diri.

Raja Bali

PEMBERONTAKAN GUSTI BATAN JERUK


Ada beberapa versi yang menjelaskan mengenai pemberontakan pada masa pemerintahan Dalem Bekung

Versi Pertama

Setelah Dalem Waturenggong wafat maka putra beliau yang tertua Dewa Pamahyun/ Dalem Bekung dinobatkan sebagai Raja di Gelgel, namun pada saat itu usia beliau masih sangat muda sehingga paman paman beliau ingin mengambil kedudukan beliau sebagai Raja Gelgel.

Mengetahui hal tersebut I Gusti Agung Batan Jeruk sebagai patih agung yang merupakan orang kedua setelah raja mengambil prakarsa untuk mengamankan raja dari kemungkinan terjadinya pengambilalihan kekuasaan, karena itu I Gusti Batan Jeruk membatasi orang orang yang ingin bertemu dengan Raja.

Hal tersebut dirasakan oleh pejabat pejabat kerajaan yang lain sebagai suatu perebutan kekuasaan karena itu harus dilawan dan Raja harus diselamatkan. Oleh karena itu Kiyai Kebon Tubuh kemudin minta bantuan kepada Kiyai Manginte dari Kapal untuk mengembalikan kedudukan Dalem Bekung sebagai raja Gelgel.


Versi Kedua

Versi ini menyatakan bahwa I Dewa Anggungan yang merupakan paman dari Raja Gelgel sekaligus pendamping raja yang masih muda berambisi untuk menggantikan kedudukan sebagai raja, oleh karena itu beliau bersekongkol dengan Gusti Batan Jeruk untuk menggulingkan kekuasaan raja.

Versi Ketiga

Versi ini ditulis oleh Dr. Soegianto Sastrodiwiryo (Perjalanan Danghyang Nirarta) yang menyatakan bahwa terdapat suatu keyakinan bahwa keturunan Arya Kepakisan sebagai keturunan kesatria lebih memiliki hak untuk memerintah dari pada keturunan Dalem Sri Kresna Kepakisan yang berasal dari keturunan Brahmana.

Perasaan perasaan seperti itu muncul karena adanya kemelut didalam istana Kerajaan Gelgel yang diakibatkan oleh pertentangan politik dan hubungan percintaan. Raja Gelgel dianggap kurang memperhatikan kesejahteraan rakyat dan terlibat dalam skandal skandal yang bertentangan dengan kehidupan sebagai seorang kesatriya. Maka timbullah ajakan dari para akhli waris Arya Kepakisan untuk bangkit mengatasi pergolakan dan adanya kesamaan kepentingan dari I Dewa Anggungan untuk berkuasa maka terjadilah perlawanan terhadap kekuasaan Raja.

Namun versi manapun yang dianggap benar yang jelas peristiwa perlawanan terhadap raja memang benar terjadi. I Dewa Pamahyun/ Dalem Bekung yang menduduki tahta kerajaan belum berusia dewasa sehingga belum mengerti cara cara menghadapi serangan musuh. Rupanya tindakan Gusti Batan Jeruk dilakukan tanpa memperhitungkan kekuatan lannya di luar istana Gelgel.

Tekad Kriyan Gusti Batan Jeruk bertambah besar dengan terdamparnya kapal Portugis di Bali Selatan (Bukit Pecatu) yang mana kapal tersebut mengangkut persenjataan dan meriam yang semuanya dirampas atas perintah yang berkuasa di Kerajaan Gelgel karena adanya hukum Hak Tawan Karang di Kerajaan Bali tersebut.
Dengan persenjataan yang dimiliki tersebut akan dipergunakan untuk menghadapi siapapun yang berani menghalangi tekadnya untuk merebut kekuasaan Kerajaan Gelgel.

peristiwa karamnya kapal ini menurut catatan orang Portugis Lintgenan yang mencatat bahwa kapal tersebut menhantam batu karang yang terletak di "Verkenshuk" yaitu tanah yang berbatu batu, orang Belanda menyebutnya "Tafelhoek"

Kriyan Gusti Batan Jeruk sudah dinasehati oleh pendeta Budha sebagai bagawanta di Kerajaan Gelgel agar jangan sekali kali menyamai kedudukan Dalem sebagai penguasa di Kerajaan Gelgel namun nasehat tersebut diacuhkan oleh beliau. Demikianlah akhirnya pemberontakan tersebut dilakukan dengan menyerbu kedalam istana Gelgel oleh Gusti Batan Jeruk dan Dewa Anggungan dibantu oleh Kriyan Tohjiwa dan Kriyan Pande sebab Kriyan Pande merupakan satu keluarga dengan Gusti Bantan Jeruk terhitung menekan dari sepupu putra tertua dari Kriyan Dawuh Baleagung dan cucu Pangeran Akah.

Pemberontakan tersebut berhasil menahan putra putra raja di dalam istana. Pemberontakan tersebut terjadi pada tahun 1556 M tahun caka 1478 dengan sebutan candrasangkala " Brahma Nyarita Kawahan Wani " Brahmana = angka 8, Nyarita = angka 0, Kawahan = angka 5 dan Wani angka 1.

Peristiwa tersebut menggemparkan Kerajaan Gelgel dan menyulut para pendukung yang masih setia kepada Raja untuk membebaskan kedua putra raja tersebut. Dalam peristiwa tersebut para menteri dan pejabat pejabat tinggi kerajaan hampir semuanya memihak kepada Gusti Batan Jeruk. Hanya Kyai Kebon Tubuh dan keempat pamannya yang masih setia kepada Dalem Bekung.

Tersebutlah Kriyan Dawuh Nginte yang bermukim di Kapal mendengar berita adanya pemberontakan tersebut, memohon ijin kepada ayahnya untuk membantu menyelamatkan Raja Gelgel. Setelah mendapat ijin ayahnya maka mulailah perjalanan beliau dengan pasukannya menuju Kerajaan Gelgel dengan diiringi oleh Kiyai Pedarungan Putra Kriyan Patih Tuwa.

Singkat cerita setelah Dawuh Nginte tiba di Istana Gelgel beliau kemudian membujuk para menteri yang semula berpihak kepada Gusti Batan Jeruk untuk kembali berpihak kepada raja. Usaha beliau berhasil sehingga para menteri tersebut akhirnya membatu Dawuh Nginte untuk berperang melawan Gusti Batan Jeruk.

Kriyan Dawuh Nginte tampil sebagai pimpinan pasukan diikuti oleh Kyai Panatyan, Kiyai Ngurah Tabanan, Kyai Tegeh Kori, Kyai Kaba Kaba, Kyai Buringkit, Kiyai Pering, Kiyai Cagahan, Kyai Sukahet dan Kyai Berangsinga. Ketika Kriyan Batan Jeruk sedang sibuk menyusun kekuatannya di luar istana maka Kriyan Dawuh Nginte dan yang lainnya serempak masuk keistana untuk membebaskan dua putra Raja yaitu Dalem Bekung dan Dalem Segening yang ditawan oleh pihak pemberontak.

Kiyai Kebon Tubuh berhasil menyelamatkan Putra raja tersebut dengan melewati lubang tembok pagar tembus ke rumah Kryan Dawuh Bale Agung di sebelah barat pasar kemudian keluar dari Pikandelan. Disana sudah bersiap pasukan yang masih setia kepada pemerintahan dalam jumlah besar.

Tidak berselang beberapa lama datanglah Kriyan Batan Jeruk dan Dewa Anggungan dibantu oleh Kriyan Pande dan Kriyan Tohjiwa mengamuk secara membabi buta didalam istana. Adapun adik Raja Dalem Bekung seorang putri masih berada didalam istana dibunuh tanpa perlawanan. Kriyan Pande bersama Kriyah Tohjiwa bermaksud untuk merusak pintu istana dengan kapak namun dapat dicegah oleh Kriyan Dawuh Nginte sehingga terjadi perang tanding diantara mereka. Kriyan Tohjiwa tewas dalam perang tanding tersebut dan Kriyan Pande menyerahkan diri.

Pasukan yang setia kepada pemerintahan Dalem kemudian mengepung kediaman Gusti Batan Jeruk namun sebelumnya Gusti Batan Jeruk telah meloloskan diri beserta sanak keluarganya menuju ke arah timur dengan mengenakan kain lembaran sudamala. memakai kampuh sutera lumut dan menyunting sehelai bunga kembang sepatu. Demikian pula Dewa Anggungan ikut melarikan diri kearah timur.

Namun pelarian tersebut terkejar pasukan yang setia kepada Dalem sampai di desa Jungutan Bungaya Karangasem sehingga terjadilah perang tanding yang mengakibatkan tewasnya I Gusti Batan Jeruk. I Dewa Anggungan kemudian meyerahkan diri tetapi hubungan kekeluargaanya dilepas oleh keempat saudaranya dengan menurunkan derajat kebangsawanannya menjadi Sang Anggungan dan tidak diakui lagi sebagai Dewa.

Keluarga Gusti Batan jeruk lainnya seperti Kriyan bebengan, Kriyan Abian Nangka dan Kriyan Tusan yang turut terlibat dalam pemberontakan tersebut menyelamatkan diri dari kejaran pasukan yang setia kepada Raja bersembunyi di dibawah tumbuh tumbuhan jawa yang diatasnya bertengger burung perkutut yang sedang berkicau. Karena terhindar dari bahaya tersebut maka maka keturunannya pantang makan jawa dan burung perkutut.

Setelah Gusti Batan Jeruk tewas maka sanak keluarganya tidak berani lagi tinggal di Gelgel mereka berpencar ke segala arah serta menyembunyikan indentitas dirinya (Nyineb Wangsa). Adalah Kiyai Agung Petandakan putra pertama pangeran Nyuhaya yang ikut melarikan diri kearah timur. Adapun janda Gusti Batan Jeruk dan anak angkatnya I Gusti Oka dapat meloloskan diri dan tinggal di desa Budakeling (Persraman Danghyang Astapaka).

Setelah sekian lama janda Gusti Batan Jeruk yang bernama Ni Gusti Ayu Singarsa dijadikan istri oleh I Dewa Karangamla yang merupakan penguasa daerah Karangasem, namun dengan syarat dikemudian hari anak angkatnya atau keturunannya diangkat sebagai penguasa di wilayah Karangasem
. Syarat tersebut disetujui maka setelah dewasa I Gusti Oka menikah dan mempunyai 6 orang putra diantaranya Gusti Nyoman Karang yang setelah dewasa menikah dengan keturunan I Gusti Tusan melahirkan seorang putra bernama I Gusti Anglurah Ketut Karang ditetapkan sebagai Raja Karangasem. Pada tahun 1661 M beliau membangun Puri Amlapura yang terletak di Puri Kelodan sekarang, beliaulah yang menurunkan Raja Raja Karangasem dan Lombok.

Setelah pemberontakan Gusti Batan Jeruk dapat dipadamkan maka keamanan dan ketentraman Istana Gelgel segera puluh kembali. Untuk mengantikan Kriyan Batan Jeruk ditetapkan Kriyan Dawuh Nginte sebagai patih Agung merupakan keturunan Arya Kepakisan anak dari Pangeran Asak. Beliau juga diberi julukan Ki Gusti Dawuh.

Setelah beberapa tahun Raden Pangharsa/ Kiyai Pamahyun sudah meningkat dewasa kemudian dinobatkan sebagai Raja Gelgel ke III
dan Dalem Seganing adik Dalem Bekung ditetapkan sebagai " Iwa Raja " yang artinya raja muda. Baginda Raja Pahmahyun setelah bertahta ternyata kurang cakap memimpin kerajaan, syukurlah adiknya Anom Sagenin pandai memikat hati rakyat sehingga pemerintahan Kerajaan Gelgel tetap berdiri tegak.

Sesudah berselang beberapa lama dikisahkan Kriyan Pande menghadap Dalem Pamahyun untuk mohon ampun atas perbuatannya ikut serta dalam pemberontakan Gusti Batan Jeruk atas prakarsa Kyiyan Dawuh Manginte dan Kriyan Dawuh Baleagung ayah Kriyan Pande.

Dalem Bekung menyambut baik menyerahan diri tersebut dan memberikan pengampunan terhadap Kriyan Pande mengingat Jasa Kriyan Nginte yang telah meyelamatan kedudukan Raja Gelgel. Dan untuk menguji kesetiaan Kriyan Pande maka Dalem Pamahyun kemudian menugaskan Kriyan Pande ke Sumbawa untuk memadamkan pemberontakan yang dilakukan dengan tujuan membebaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Gelgel. Berkat keberanian dan ketangkasan Kriyan Pande maka pemberontakan tersebut dapat dipadamkan dan sepulangnya beliau ke Gelgel diberikan penghargaan atas jasa nya.

Pada tahun 1587 terjadilah pendaratan besar besaran di Pantai Tuban (Bali Selatan) yang dilakukan oleh Kerajaan Pasuruan dan Mataram dengan tujuan menundukkan Pulau Bali. Kriyan Pande yang telah memiliki pengalaman bertempur kemudian ditugaskan kembali membendung serangan dari pulau Jawa tersebut. Dengan gagah berani beliau memimpin laskar Bali sampai kriyan pande tertembak giginya hingga rontok dan peluru musuh tersebut disemburkan dari mulutnya.

Beliau lalu mengangkat senjata sambil berteriak " mudah mudahan peluru ini mengenai musuh " dan Ki Gusti Nginte menimpali " mudah mudahan berhasil dan saya akan mohonkan hadiah daerah sebelah timur sungai Unda ". Peperangan ini berhasil dengan Gemilang penyerangan dari Pulau Jawa dapat dipukul mundur, dan atas permohonan Kriyan Nginte, Dalem Pamahyun Bekung kemudian menganugrahkan daerah sebelah Timur sungai Unda kepada Kriyan Pande. Dengan anugrah tersebut Kriyan Pande diberikan hak untuk menentukan nasib penduduk penduduk desa yang bermukim di daerah tersebut.

Pada Jaman pemerintahan Dalem Pamahyun Bekung pola pikir beliau mengalami perubahan dengan tidak mau lagi menerima saran dan usul dari keempat pamannya yaitu I Dewa Geding Artha, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli dan I Dewa Pagedangan karena masih bersaudara dengan Sang Anggungan yang melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Dalem Bekung. Beliau memerintahkan keempat pamannya untuk keluar dari Istana Gelgel dan masing masing diberikan tempat pemukiman yang baru :
  • I Dewa Gedong Arta bersama keluarga pergi menuju Desa Manggis
  • I Dewa Nusa bersama keluarga menuju Desa Sibang
  • I Dewa Bangli pergi menuju Desa Bangli
  • I Dewa Pagedangan menuju desa Tohpati.
Dalem Pamahyun Bekung kemudian menyuting seorang putri bernama Sri Dewi Pamahyun dan tidak berselang beberapa lama beliau menyunting seorang putri lagi yang bernama I Gusti Ayu Samwantiga.


HURU HARA DI KERAJAAN GELGEL

Suasana di kerajaan Gelgel tampak mulai keruh semenjak Dalem Pamahyun naik tahta di kerajaan Gelgel. Perbuatan yang melanggar norma norma kesusilaan kerap terjadi yang dilakukan oleh Pejabat pejabat tinggi kerajaan maupun yang melibatkan beliau sendiri.

Diceritakan salah seorang abdi Kriyan Pande mempunyai seorang istri yang sangat cantik menjalin hubungan gelap dengan salah seorang pejabat kerajaan yang bernama Kiyai Telabah. Hubungan gelap tersebut akhirnya diketahui oleh suaminya dan karena sakit hati maka suaminya memutuskan untuk bunuh diri.

Maka sesuai hukum adat yang berlaku pada saat itu maka janda abdi tersebut menjadi milik Kriyan Pande sebagai majikannya. Janda muda tersebut ternyata tidak mampu melepaskan diri dari hubungan percitaannya dengan Kiyai Telabah. Dalam pertemuannya, janda tersebut diberikan nasi sisa oleh Kiyai Telabah yang mana hal tersebut diketahui oleh Kryan Pande sehingga menimbukan kemarahan beliau kepada Kyai Telabah.

Untuk melampiaskan kemarahannya maka dicarilah suatu cara untuk menyingkirkan Kyai Telabah. Beliau teringat bahwa Kiyai Telabah pernah diketahui menjalin hubungan gelap dengan selir Raja yang bernama Ni Gusti Samwantiga dan Kiyai Telabah diberikan sebentuk cincin mirah yang tiada bandingannya.

Kriyan Pande sesuai dengan namanya beliau terkenal ahli membuat barang barang perhiasan dari emas dan perak. Pada suatu ketika Kriyan Pande datang menghadap ke istana, dengan sengaja beliau memakai perhiasan yang baru selesai dibuatnya kehadapan Raja Gelgel.

Perhiasan kalung tersebut begitu indah sehingga Raja terkagum kagum memandangnya dan atas pertanyaan raja maka Kriyan Pande menerangkan bahwa perhiasan tersebut dibuat sendiri olehnya dan jika Raja berkeinginan memiliki maka maka dengan senang hati Kriyan Pande akan mempersembahkan kepada Raja. Namun Raja menyatakan keengganannya menerima persembahan barang yang sudah pernah dipakai oleh orang lain.

Raja berkeinginan untuk dibuatkan yang baru dengan permata yang tidak ada bandingnya dan untuk itu beliau menugaskan Kriyan Pande untuk mencarikan permata dimaksud. Maka sesuai rencana, Kriyan Pande kemudian memberitahu Raja bahwa ia pernah melihat permata yang begitu indah tiada bandingnya dipakai oleh Kiyai Telabah yang mana mungkin berkenan di hati Raja.

Setelah mohon diri kehadapan Raja, Kriyan Pande kemudian pergi kerumah Kyai Telabah untuk menjelaskan maksud kedatangannya atas perintah Raja untuk meminjam cincin yang dikenakan oleh Kiyai Telabah. Mengetahui rahasianya akan segera terbongkar maka Kiyai Telabah kemudian menyerahkan cincin tersebut kepada Kriyan Pande dan dengan tergesa gesa meninggalkan Wilayah Gelgel menuju Desa Kuta Badung.

Tersebutlah Kriyan Pande setelah menghadap Raja dan memperlihatkan cincin tersebut, Raja menjadi sangat terkejut dan merasa yakin bahwa cincin tersebut adalah kepunyaan beliau yang diberikan kepada selirnya Ni Gusti Samwantiga. Beliau menduga bahwa jatuhnya cincin tersebut ketangan Kiyai Telabah pastilah karena terjadinya hubungan yang tidak senonoh diantara keduanya. Bangkit kemarahan Raja dan memberikan perintah kepada Kriyan Pande untuk mencari jalan untuk melenyapkan Kiyai Telabah yang telah berani mencemarkan kehormatan istana Kerajaan Gelgel.

Oleh karena hal ini merupakan aib yang bila diketahui oleh khalayak umum akan meruntuhkan kewibawaan Kerajaan Gelgel maka Raja memerintahkan agar hal tersebut dilakukan secara rahasia mengingat keluarga Kiyai Telabah banyak yang menjadi pemuka pemuka masyarakat. Kriyan Pande menyatakan kesanggupannya untuk menjalankan titah raja asalkan Raja bersedia melindungi dirinya apabila rahasia pembunuhan tersebut terbongkar nantinya. Dan sebagai pengikat atas janji mereka berdua maka Raja dan Kriyan Pande pergi ke Pura Warapsari untuk mengucapkan sumpah bersama.

Raja mengucapkan sumpah sebagai berikut "Ya Dewa yang maha pengasih di gunung Agung jika Kriyan Pande berhasil membunuh Kyai telabah dan kalau patik mengingkari sumpah/ janji agar Dewa Yang Maha Kuasa mengetahui melipatgandakan kesalahan patik dan patik bersedia menanggung segala duka nestapa dan derita masyarakat dibumi ini "

Kemudian disambung oleh Kriyan Pande "Ya Paduka Dewa Yang Maha Adil di Gunung Agung jika usaha patik untuk membunuh Kiyai Telabah tidak berhasil maka patik bersedia menanggung segala duka nestapa dan derita rakyat Bali "

Demikianlah sumpah yang diucapkan bersama oleh Raja dan Kriyan Pande dan setelah itu dilanjutkan dengan sembahyang bersama.

Setelah sampai dirumah Kriyan Pande kemudian memikirkan segala cara untuk melenyapkan Kyai Telabah dengan ilmu kamandaka. Setelah beberapa lama memikirkannya maka ditemukanlah suatu cara yang licik untuk melenyapkan kiyai Telabah. Adalah seorang abdi setia setia Kriyan Pande yang bernama Ki Capung yang akan diberikan tugas untuk melaksanakan pembunuhan tersebut. Untuk melaksankan tugas tersebut Ki Capung dibekali dengan sebilah keris yang sangat ampuh yang bernama "Kapal Angsoka".

Ki Capung segera berangkat ke Kuta untuk melaksanakan perintah tersebut dan sesampainya disana ia menyamar sebagai seorang perempuan. Dahulu ada seorang pelaut yang hukum dan disiksa oleh kiyai Telabah walaupun tidak sebanding dengan kesalahan yang telah dilakukannya. Pelaut inilah yang menuntun Ki Capung menuju kediaman Kiyai Telabah.

Ketika hari mulai senja Kiyai Telabah baru sekali pulang dari laut dan ketika melangkahkan kakinya memasuki gerbang rumahnya tiba tiba diserang oleh 2 orang bersenjata. Beliau sempat membalas serangan tersebut dengan menikam salah seorang penyerangnya yaitu pelaut itu dengan kerisnya "Ki Tinjak Lesung" yang menyebabkan penyerangnya tersebut tewas seketika, akan tetapi Kiyai Telabahpun tak luput terkena tikaman keris pula yang dilakukan oleh Ki Capung sehingga Kiyai Telabah tewas seketika itu juga.

Ki Capung segera menyingkir dari tempat tersebut dan membiarkan mayat pelaut tersebut dan Kiyai Telabah tergeletak di tempat tersebut. Sesaat kemudian barulah orang berdatangan ketempat itu dan menyangka bahwa Kitai Telabah telah tewas karena perang tanding dengan pelaut tersebut dan tidak mengira adanya orang ketiga dibalik peristiwa tersebut.

Tersebutlah Ki Capung setelah berhasil melaksanakan misinya tersebut kemudian melapor hasilnya kepada majikannya yaitu Kriyan Pande dan segera melaporkannya kehadapan Raja. Raja sangat bersuka cita dan yakin bahwa pembunuhan tersebut akan tetap gelap selama lamanya. Atas jasanya tersebut Ki Capung kemudian diberikan hadiah yang istimewa dari Raja.

Suasana di Kota Gelgel tetap tenang setelah kejadian tersebut , keluarganya sama sekali tidak menduga bahwa pembunuhan tersebut melibatkan pihak ketiga. Setelah beberapa bulan lamanya terjadilah suatu peristiwa yang mengemparkan kota Gelgel dimana peristiwa tersebut bermula dari tewasnya Ki Capung ditombak oleh peronda yang memergokinya sedang memanjat rumah Kriyan Pande pada malam hari.

Keesokan harinya datanglah istrinya menangisi jasad suaminya yang malang sambil mencerca Kriyan pande yang dikatakan tidak tahu membalas budi. Rahasia pembunuhan atas Kiyai Telabah tersebut keluar dari mulutnya sehingga didengar oleh Kyai Byasama yang merupakan anak dari Kriyan Pande. Kriyan Pande mengancam Istri Ki Capung untuk tutup mulut namun tidak dihiraukan olehnya. Tangisnya malah semakin menjadi jadi dan rahasia pembunuhan tersebut terus menerus keluar dari mulutnya.

Karena hilang kesabaran Istri Ki Capung kemudian diseret oleh Kiyai Byasama ke tengah pasar dengan maksud untuk membuat malu istri Ki Capung di lihat orang banyak. Namun hal tersebut malah membuat Istri Ki Capung semakin menjadi jadi sambil berteriak-teriak ia membongkar rencana pembunuhan tersebut yang dilakukan oleh suaminya atas perintah Kriyan Pande.

Untuk menghindari semakin banyaknya rahasia tersebut terbongkar maka Kyai Bysama kemudian menikam Istri Ki Capung dengan sebilah keris yang menyebabkan Istri ki Capung tewas seketika. Namun apa yang telah dikatakan oleh Istri Ki Capung telah didengar oleh orang banyak sehingga menimbulkan kegemparan di Kota Gelgel.

Adalah Kiyai Anglurah Kanca salah seorang kerabat dekat Kiyai Telabah segera menghadap Raja Gelgel menuntut agar Kriyan Pande dijatuhi hukuman atas perbuatannya membunuh Kiyai Telabah. Mengingat Keluarga kiyai Telabah sangat banyak jumlahnya maka Raja mengabulkan tuntutan tersebut dan memerintahkan agar dilakukan " sumpah Cor Pangrerata " apabilan Kriyan Pande mangkir dari tuduhan tersebut.

Keputusan Raja diterima dengan baik oleh Kiyai Anglurah Kanca berserta keluarganya dan mereka akhirnya membubarkan diri sambil menungu kelanjutan dari tuntutan mereka tersebut. Tersebutlah Kriyan Pande amat gelisah mendengar keputusan yang diambil atas dirinya oleh Raja tersebut sehingga dengan segera Kriyan Pande pergi Menghadap ke istana untuk menanyakan kebenaran hal tersebut dan Raja menyarankan kepada Kriyan Pande untuk mengangkat sumpah saja untuk memperpendek urusan tersebut.

Jawaban Raja tersebut menimbulkan kekecewaan didalam hati Kriyan Pande dan segera meninggalkan raja tanpa mohon diri terlebih dahulu. Ia yakin Raja sengaja cuci tangan terhadap permasalahan tersebut dan raja telah mengingkari sumpahnya dulu untuk melindungi dirinya apabila rahasia pembunuhan tersebut terbongkar.

Demi kehormatan keluarganya Kriyan Pande bertekat akan menghadapi resiko yang akan terjadi. Untuk itulah sebelum sesuatu yang tidak baik akan menimpanya beliau mengarang syair yang berjudul "Nathamartha" yang menggambarkan kebahagian seorang kesatria kelak di alam baka apabila mati didalam medan pertempuran. Setelah itu beliau kemudian memanggil seluruh keluarganya akan kebulatan tekadnya untuk menghadapi apapun yang akan terjadi dan keluarganya serempak menjawab bahwa mereka mendukung keputusan yang diambil oleh Kriyan Pande dan bersedia mati untuk membela kehormatan keluarga.

Pada hari yang ditentukan untuk melaksanakan sumpah Cor tersebut ternyata Kriyan Pande tidak datang dan oleh pemerintah Kriyan Pande dinyatakan telah berani melawan perintah Raja dan oleh karenanya Kriyan Pande patut mendapat hukuman yang setimpal.

Pasukan bersenjata segera dikerahkan untuk mengepung rumah Kriyan Pande. Dengan pengikutnya sebanyak 400 orang kriyan Pande dan ketiga anaknya yaitu Kiyai Agra Byasama, Kiyai Plampung dan Kiyai Jalengkong keluar dari rumahnya menghadapi pasukan Gelgel. Nasib kerajaan Gelgel tertolong oleh Banjirnya Sungai Unda sehingga pendukung terbesar Kriyan Pande disebelah Timur sungai Unda tidak dapat menolong majikannya dalam menghadapi musuh. Ikut serta Kiyai Anyar Rame yang berupakan adik Kriyan Pande bergabung dengan kakaknya untuk menghadapi pasukan Gelgel.

Akhirnyan pertumpahan darah tidak bisa dihindari lagi yang menimbulkan korban yang sangat banyak dikedua belah pihak. Pasukan Gelgel dibawah pimpinan Kiyai Bedahulu dapat dipukul oleh laskar Kriyan Pande sampai kesebelah selatan kota. Disana Pasukan Gelgel menyusun kekuatannya kembali sambil bertahan. Dalam pertempuran tersebut tewas Kyai Nyam Rame yang merupakan adik Kriyan Pande.

Kematian pamannya membangkitkan kemarahan Kiyai Bysama yang segera menggantikan memimpin pasukannya menerjang Pasukan Gelgel. Serangan yang membabi buta tersebut menyebabkan Pasukan Gelgel kucar kacir dan berhasil dipukul mundur dan pimpinan pasukannya kiyai Bedahulu lari menyelamatkan diri untuk bergabung dengan induk pasukannya dibawah pimpinan kiyai Pinatih dan Kiyai Kebon Tubuh.

Pertahanan Pasukan Gelgel disebelah selatan dan Barat telah berhasil dipukul mundur oleh Kriyan Pande selanjutnya pasukannya diarahkan ke arah utara kota. Disana telah menanti pasukan dalam jumlah besar dibawah pimpinan Kiyai Tabanan, kiyai Kaba Kaba, Kiyai Buringkit dan Kiyai Tegeh Kori. Terjadi pertempuran yang sangat dahsyat disana sehingga menewaskan 300 laskar Kriyan Pande namun pertahanan pasukan Gelgel dapat ditembus sehingga dengan sisa pasukannya Kriyan Pande melanjutkan serangan kearah timur langsung ke istana Raja.

Istana Raja dikawal oleh ki Pendarungan yang telah siap sedia menunggu kedatangan Kriyan Pande. Kriyan Pande masih merupakan anak keponakan di sepupu oleh Ki Pendarungan karena Rakyan Pendarungan adalah putera Kriyan Kapal. Kriyan Pande mengutarakan maksudnya untuk menghadap Raja namun Kriyan Pendarungan tidak mengijinkan selama beliau masih hidup. Maka terjadilah perang tanding diantara keduanya yang mengakibatkan beliau sama sama tewas dalam perang tanding tersebut.

Adapun Kyai Bysama dapat meloloskan diri dan berhasil menerobos kedalam pagar istana namun beliau berhadapan dengan I Gusti Lurah Sidemen yang yang merupakan mertuanya sendiri. I Gusti Ngurah Sidemen telah menasehati menantunya untuk mengurungkan niatnya dan beliau berjanji akan memohonkan ampun untuk Kiyai Bysama kehadapan Raja bila mau menuruti nasehatnya. Namun hal tersebut tidak digubris oleh Kyai Bysama, pasukan yang melakukan pengawalan tersebut seketika diterjang olehnya dan karena kalah banyak Kiyai Bysama akhirnya tewas direbut oleh pengawal pengawal istana.

Melihat menantunya tewas dengan cara menyedihkan I Gusti Ngurah Sidemen pingsan dan segera ditandu ketempat yang aman. Sementara anak Kriyan pande yang lain yaitu Kyai Plampung dan Kiyai Jalengkong berhasil masuk ke istana melalui selokan pembuangan air namun sebelum dapat berbuat apa mereka keburu disergap oleh pengawal istana dan mereka tewas seketika.

Hancurlah putera dan cucu Ki Gusti Dawuh Baleagung, Riuh ratap tangis rakyat yang telah menunggu disebelah timur kali Unda, hasrat mereka membantu tidak tercapai karena terhalang oleh banjir besar. Jika tidak terhalang banjir besar mungkin kerajaan Gelgel akan menderita kehancuran dan banyak pejabat pejabat Kerajaan akan menjadi korban karena Kriyan Pande sangat disegani oleh rakyatnya karena beliau sangat menyayangi dan mengayomi dan tidak pernah ingkar janji kepada rakyatnya.

Setelah peristiwa huru hara tersebut ibu kota kerajaan Gelgel terasa sangat sunyi karena banyaknya rakyat dan pejabat pejabat pemerintah yang gugur dalam peristiwa tersebut, hanya I Gusti Manginte dan Ki Gusti Kanca yang luput dari peristiwa tersebut karena beliau tinggal disebalah timur laut istana.

Adapun Kiyai Dawuh Baleagung yang merupakan ayah dari Kriyan Pande setelah peristiwa itu sempat mengarang sebuah nyanyian yang bernama Arjuna Pralaba dan beliau sering menghadap ke istana untuk mohon pekerjaan tulis menulis karena beliau adalah seorang juru tulis yang telah berhasil menyelesaikan beberapa karya tulis ilmu kerohnian yang utama. Kedatangannya ditolak oleh raja sehingga beliau kembali pulang dengan perasaan pilu dan sedih dan beliau merasa hidupnya sudah hampa karena ditinggal oleh anak dan cucunya yang menyebabkan beliau akhirnya jatuh sakit dan tidak berapa lama beliau akhirnya meninggal dunia.

Setelah peristiwa yang menimbulkan perang saudara tersebut Raja Pamahyun sudah dianggap tidak berwibawa lagi, Beliau seperti tersadar akan keiklafannya sehingga timbulnya peristiwa hebat tersebut. Baginda selalu terkenang dengan kehancuran kota Gelgel tersebut. Setelah memikirnya secara masak masak beliau akhirnya memutuskan meletakkan mahkota sebagai Raja Gelgel dan pergi dari istananya menuju ke daerah sebelah Barat istana yang bernama Jero kapal. Disinalah beliau tinggal mengasingkan diri dari keramaian dan semenjak itu beliau mendapat sebutan " Sang Ing Bedauh " yang artinya yang dipetuan di Barat dan oleh karena beliau tidak mempunyai keturunan maka beliau diberi julukan Dalem Bekung.

Setelah Dalem Bekung meletakkan jabatannya maka berdasarkan hasil rapat antara Pejabat pejabat Kerajaan memutuskan Ida I dewa Anom Sagening diangkat sebagai raja Gelgel ke IV pada tahun 1580 M atau tahun caka 1502.

Oleh karena Dalem Bekung selama memerintah kerajaan Gelgel dianggap tiada berjasa maka roh beliau tidak dibuatkan tempat pemujaan di pura Besakih tidak seperti Raja raja pendahulu beliau. Demikianlah kisah pemerintahan Dalem Singharsa/ Dalem Pamahyun / Dalem Bekung yang menjadi Raja di Gelgel tahun 1560 s/d 1580 M.


0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.