Senin, 16 Desember 2013

Filled Under:

Imam Kedua Belas Syiah (1)

Oleh: Ustadz Abu Minhal Lc

1. MENUNGGU KEDATANGAN IMAM KEDUA BELAS

MAHDI Muntazhar (Imam Mahdi Syiah yang ditunggu-tunggu kedatangannya) termasuk pembahasan yang sering dibicarakan dalam buku-buku referensi Syiah. Yang mereka maksud dengan sebutan itu dalam pandangan Syiah adalah imam kedua belas yang bernama Muhammad bin Hasan al-‘Askari. Menurut versi mereka, ia dilahirkan pada hari Jum’at bulan Sya’ban pada tahun 255H.

Pada usia 5 tahun, ia bersembunyi di sirdaab (goa tempat perlindungan dari terik matahari) kota Surra man Ra`a, terletak antara kota Baghdad dan Tikrit, karena akan dibunuh oleh orang-orang zhalim.
Ath-Thusi , seorang tokoh Syiah masa lalu, mengatakan, “Tidak ada alasan yang menghalangi kemunculannya selain karena ia khawatir dibunuh. Sebab jika tidak ada kekhawatiran ini, ia tidak boleh menyembunyikan diri.” (Al-Ghaibah:199)

Keyakinan mereka dengan Imam Mahdi Syiah ini, membuat mereka menunggu-nunggu kemunculannya di mulut sirdaam dengan memanggil-manggil namanya untuk segera keluar dari persembunyiannya.

2. IMAM KESEBELAS TIDAK MEMILIKI KETURUNAN

Dengan sifat hikmah-Nya, Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui, menetapkan Hasan al-Askari – imam kesebelas menurut kalangan Syiah- meninggal tanpa memiliki anak dan keturunan. Tentu, realita ini menyulitkan tokoh Syiah, bagaimana seorang imam meninggal tanpa berputra seorang pun yang akan menggantikan posisi imamahnya? Padahal keberadaan imam sangatlah penting dalam aqidah mereka, bahkan termasuk rukun Islam yang urgensinya mengalahkan shalat fardhu. (?!) Pengganti seorang imam haruslah keturunan imam sebelumnya. Setelah masa imamah Hasan Radhiyallahu anhu dan Husain Radhiyallahu anhu, seorang imam tidak boleh berasal dari saudara imam, harus dari keturunannya. Demikian keyakinan orang-orang Syiah.

Sejarah telah mencatat bahwa orang yang mereka anggap sebagai Imam Ke Sebelas, Hasan al-‘Askari , tidak memiliki anak. Penguasa khilafah ‘Abbasiyah waktu itu pun mengetahui perihal tersebut. Sebab, mereka mengikuti perkembangan Hasan al-Askari yang sedang sakit. Beberapa tabib diutus untuk memonitor kesehatannya. Penguasa menugaskan Hakim setempat untuk memilih 10 orang terpercaya untuk berada di rumah Hasan al-Askari. Mereka berada di sana sampai ajal menjemput Hasan al-‘Askari.

Setelah Hasan al-Askari wafat, utusan-utusan yang terpercaya itu memeriksa isi rumah dan kamar untuk mencari tahu apakah ia memiliki anak atau tidak. Mereka juga mendatangkan wanita-wanita yang tahu masalah kehamilan untuk memeriksa budak-budak wanita yang dimiliknya. Hasilnya, ada seorang budak perempuan yang sepertinya sedang mengandung. Maka, wanita ini pun ditempatkan di satu kamar dan dipersiapkan segala sesuatu untuk persalinannya.

Setelah Hasan dimakamkan, pihak penguasa tetap berusaha mencari-cari anak Hasan al-Askari. Harta warisan pun belum dibagikan. Namun setelah dipastikan bahwa kehamilan salah seorang budak itu kosong, maka warisan Hasan al-Askari dibagikan kepada Ibu dan saudara lelakinya Ja’far. Tidak ada seorang pun yang menentang pembagian ini.

Kejadian ini menunjukkan kebatilan keyakinan Imam Mahdi Syiah secara otomatis. Pihak Syiah pun tidak bisa mendustakan dan menghilangkan bukti sejarah ini. Menariknya, ternyata, kitab-kitab para petinggi agama Syiah menyebutkan realita ini, bahwa Hasan al-Askari memang wafat tanpa memiliki anak lelaki. Di antara mereka adalah :

1. al-Kulaini dalam al-Kâfi (1/505)
2. al-Mufîd dalam al-Irsyâd (hlm.338-339)
3. al-Majlisi dalam Jalâul ‘Ainain
4. Ibnu Shabbâgh dalam al-Fushûl al-Muhimmah fi Ma’rifati Ahwâlil Aimmah (hlm.288-289)
5. al-‘Abbas al-Qummi dalam Muntahal Amâl.

Fakta bahwa Hasan al-Askari tidak memiliki anak akan mengakibatkan keyakinan mereka hancur dengan sendirinya. Sebab, kelanjutan imamah secara otomatis berhenti. Tatkala sebagian penganut Syiah merasakan kekhawatiran aliran Syiah akan sirna karena ketiadaan imam ke dua belas, maka sejumlah orang dari mereka memikirkan cara untuk menyelamatkan aliran ini.

Akhirnya, mereka mendapatkan jalan keluar dari apa yang diyakini oleh kaum Majusi yang mempercayai mereka memiliiki manusia juru selamat yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Dari situ, seorang dari Syiah bernama Muhammad bin Nushair an-Namîri dan kawan-kawannya mendapatkan ide dengan klaim bahwa Hasan al-Askari memiliki anak yang ia sembunyikan di dalam sirdab karena khawatir akan dibunuh oleh orang-orang jahat dan zhalim. Tujuan mereka menggulirkan pernyataan ini adalah untuk mengelabui orang-orang awam Syiah sehingga para tokoh Syiah tetap bisa meminta setoran kekayaan dan zakat dari masyarakat awam atas nama Imam yang ditunggu-tunggu kedatangannya.

BERSAMBUNG

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.