Jumat, 27 Desember 2013

Filled Under:

Aleksander Agung (6)

8. Karakter

A. Keahlian militer


Aleksander memperoleh gelar "yang Agung" karena kesuksesannya yang tak tertandingi sebagai komandan militer.[70] Dia tidak pernah kalah dalam pertempuran, meskipun sering kalah jumlah dalam banyak pertempuran yang dia lakukan.[70] Kesuksesan ini karena keberhasilannya memanfaatkan keadaan medan perang, penguasaan siasat phalanx dan kavaleri, strategi yang berani, dan terutama kemampuannya untuk membangkitkan kesetiaan yang luar biasa di antara para prajuritnya.[173][174] Phalanx Makedonia, yang bersenjatakan sarissa, yaitu tombak sepanjang enam meter, telah dikembangkan dan disempurnakan oleh Filipus II melalui latihan yang keras,[174] dan Aleksander mempergunakan kecepatan dan kemampuan manuvernya untuk efek yang besar melawan pasukan Persia yang lebih banyak namun lebih terpisah.[174] Aleksander juga mampu memahami potensi perpecahan di antara pasukannya, yang memiliki bahasa dan senjata yang berebda-beda, dan dia mengatasi hal itu dengan cara terlibat secara langsung dalam pertempuran,[175] dengan tata cara sebagai raja Makedonia.[173][174]

Dalam pertempuran pertamanya di Asia, yakni di Granikos, Aleksander hanya mengerahkan sedikit pasukannya, kemungkinan 13.000 infantri dengan 5.000 kavaleri. Sementara pasukan Persia yang dihadapinya berjumlah 40.000 prajurit. Aleksander menempatkan pasukan phalanx di bagian tengah dan kavaleri serta pemanah di bagian sayap, dengan demikian barisannya menjadi sama panjang dengan barisan kavaleri Persia yang dia hadapi, yaitu sekitar 3 km (1.86 mil). Pasukan infantri Persia sendiri diposisikan di belakang kavaleri. Dengan siasat tersebut, Aleksander memastikan bahwa pasukannya tidak akan dijepit, sedangkan pasukan phalaxnya, yang bersenjatakan tombak panjang, memiliki keuntungan yang besar terhadap skimitar dan lembing pasukan Persia. Pada akhirnya, kerugian yang dialami pasukan Persia jauh lebih besar daripada kerugian pasukan Makedonia.[176]

Di Issus pada tahun 333 SM, Aleksander pertama kali berhadapan dengan Darius. Ketika itu dia menggunakan metode pemosisian yang sama, dan lagi-lagi phalanx di bagian tengah berhasil mendorong maju karena memiliki keuntungan berupa senjata tombak mereka yang panjang.[176] Ini memungkinkan Aleksander secara langsung memimpin serangan di bagian tengah barisan melawan Darius. Pada akhirnya Darius melarikan diri dan pasukan Persia mundur secara kacau.[173] Dalam pertempuran yang menentukan di Gaugamela, Darius telah melengkapi kereta perang-kereta perangnya dengan sabit pada bagian rodanya untuk memecah barisan phalanx dan kavaleri Aleksander. Menghadapi ini, Aleksander menyusun formasi phalanx ganda, dengan bagian tengahnya membentuk sudut. Ketika kereta perang Persia menyerang, barisan phalanx ini akan memisahkan diri dan kemudian mengelompok kembali. Rencana Aleksander berhasil dan bagian tengah barisan Persia berhasil ditembus. Darius kalah dan dia melarikan diri lagi.[176]

Ketika berhadapan dengan musuh yang bertempur dengan teknik yang tidak dia kenal, seperti misalnya di Asia Tengah dan India, Aleksander dengan cepat mampu menyesuaikan gaya tempur pasukannya. Jadi, di Baktria dan Sogdiana, Aleksander sukses mengerahkan para pelempar lembing dan pemanahnya untuk mencegah kepungan musuh, dan pada saat yang sama dia menumpuk kavaleri di bagian tengah barisan.[173] Di India, ketika berperang melawan korps gajah Raja Puru, pasukan Makedonia bisa menang dengan cara membuka barisan dan mengurung gajah-gajah musuh. Kemudian dengan mengarahkan tombak sarissa mereka ke arah dan menjatuhkan para penunggang gajahnya.[138]

B. Penampilan fisik

Patung tiruan Romawi dari patung asli buatan Lysippos, Museum Louvre. Plutarch merasa bahwa patung ini adalah penggambaran Aleksander yang paling jujur.

Biografer Yunani Plutarch (ca. 45–120 M) menggambarkan penampilan Aleksander sebagai berikut:
Aleksander memiliki kulit terang, rambut pirang, dan mata biru yang mampu melelehkan hati. Bau harum alami keluar dari tubuhnya, begitu kuat sampai-sampai pakainnya juga ikut wangi.
[177]
Sejarawan Yunani lainnya Arrianus (Lucius Flavius Arrianus 'Xenophon' ca. 86 - 160 M) mendeskripsikan Aleksander sebagai:
Komandan yang tampan dan kuat dengan mata yang satu sehitam malam dan mata yang satunya sebiru langit
[178]
Banyak penggambaran dan patung yang menggambarkan Aleksander dalam postur tubuh berbentuk S, dengan padangan ke arah atas. Beberapa sejarawan beranggapan bahwa ini menunjukkan Aleksander memiliki cacat fisik. Namun ini juga merupakan konsep seni tradisional Contrapposto yang sering digunakan oleh para pematung kuno dan modern untuk menunjukkan keindahan, keanggunan, dan dominasi sosial.[179][180][181][182] Para sejarawan itu berpendapat bahwa ayah Aleksander, Filipus II, dan saudaranya Filipus Arrhidaios mungkin juga menderita cacat fisik, yang memunculkan kesimpulan bahwa Aleksander menderita gangguan skoliosis bawaan (leher familial dan cacat tulang belakang).

Sebagai contoh, sejarawan Britania modern Peter Green (lahir tahun 1924) mengajukan pendapat mengenai penampilan fisik Aleksander, berdasarkan tinjauannya terhadap patung-patung dan beberapa dokumen kuno:

Secara fisik, Aleksander tidaklah menawan. Bahkan untuk standar Makedonia ia sangat pendek, walaupun gempal dan tangguh. Janggutnya sedikit, dan dia berdiri di hadapan para baron Makedonia dalam keadaan bercukur bersih. Lehernya dalam beberapa cara sedikit memutar, sehingga ia tampak sedang menatap ke arah atas. Matanya (satu biru, satu coklat) memperlihatkan kualitas yang feminin dan berembun. Dia memiliki kulit yang tinggi dan suara yang kasar.
[183]
Bahkan ada pendapat dari ahli bedah Hutan Ashrafian bahwa skoliosis yang dialami Aleksander ikut berperan dalam kematian Aleksander,[155] namun sejarawan Yunani kuno Arrianus dari Nikomedia menyatakan bahwa Aleksander meninggal dunia akibat demam.[184]

Para penulis kuno mencatat bahwa Aleksander Agung sangat sennag dengan penggambaran dirinya oleh Lysippos sehingga di membuat keputusan bahwa para pematung tidak boleh lagi membuat patung dirinya.[185] Lysippos sudah sering menggunakan skema patung Contrapposto untuk menggambarkan Aleksander dan tokoh-tokoh lainnya seperti misalnya Apoxyomenos, Hermes dan Eros.[181][186][187] Patung Lysippos yang terkenal karena naturalismenya yang seperti hidup, yang berkebalikan dengan pose statis yang kaku, dipercaya sebagai penggambaran rupa Aleksander yang paling akurat.[188]

C. Kepribadian

Beberapa sifat Aleksander terbentuk sebagai respon terhadap orang tuanya.[183] Ibunya memiliki ambisi yang besar untuk Aleksander, dan mendorongnya untuk percaya bahwa adalah takdinya untuk menaklukkan Kekaisaran Persia.[183] Dan memang, Olyympias mungkin telah bertindak sampai sejauh meracuni Filipus Arrhidaios dengan tujuan membuatnya cacat, dan mencegahnya menjadi saingan Aleksander.[55] Pengaruh Olympias menanamkan ambisi yang besar dan perasaan akan takdir dalam diri Aleksander,[189] dan Plutarch menceritakan bahwa ambisi Aleksander "menjaga semangatnya tetap serius dan tinggi seiring usianya bertambah".[190] Hubungan Aleksander dengan ayahnya menghasilkan sisi kompetitif dalam kepribadiannya; dia mesti melampaui ayahnya, karena itu kadang-kadang dia bersikap nekat dalam pertempuran.[183] Sementara Aleksander merasa cemas bahwa ayahnya tidak akan mewariskan padanya "pencapaian hebat dan brilian untuk diperlihatkan pada dunia",[13] ia masih berusaha untuk mengecilkan prestasi ayahnya di depan rekan-rekannya.[183]
Patung kepala Aleksander Agung buatan Lysippos, dari Pella, Yunani, abad ke-3 SM.

Sifat Aleksander yang paling jelas adalah sikap pemarah, kasar, dan impulsif,[190][191] yang tak diragukan lagi ikut berpengaruh terhadap beberapa keputusan dalam hidupnya.[183] Plutarch berpendapat bahwa sifat ini yang menjadikan Aleksander kecanduan terhadap alkohol.[190] Meskipun Aleksander keras kepala dan tidak menanggapi dengan baik perintah ayahnya, namun dia mudah dibujuk melalui alasa-alasan yang jelas.[20] Dan memang, di samping memiliki temperamen yang berapi-api, ada juga sisi tenang dalam diri Aleksander. Dia itu cerdik, logis, dan memperhitungkan segala kemungkinan. Dia memiliki hasrat yang besar terhadap pengetahuan, dia cinta filsafat, dan dia adalah pembaca yang setia.[25] Sifat-sifat itu tak diragukan berasal dari masa bimbingannya oleh Aristoteles, yang membuat Aleksander menjadi orang yang cerdas dan cepat belajar.[20][183] Kisah bahwa dia berhasil "menyelesaikan" Simpul Emas menunjukkan kepintarannya. Sisi intelejen dan rasional Aleksander dapat kita lihat dari kemampuan dan keberhasilannya sebagai seorang jenderal.[191] Dia mampu menahan hasratnya untuk memperoleh kenikmatan tubuh, misalnya hubungan seksual, namun dia kurang mampu mengendalikan diri terhadap alkohol.[190][192]

Aleksander tidak diragukan lagi merupakan orang yang terpelajar, dan sangat menyukai seni maupun ilmu pengetahuan.[25][190] Akan tetapi dia kurang tertarik pada olahraga, atau Olimpiade, tak seperti ayahnya. Aleksander hanya mencari kejayaan dan ketenaran berdasarkan gagasan-gagasan Homeros.[189][190] Dia memiliki kharisma yang besar dan kepribadian yang kuat, semua karakteristik itu menjadikannya sebagai pemimpin yang hebat.[169][191] Ini semakin diperkuat dengan ketidakmampuan para jenderalnya untuk menyatukan Makedonia dan mempertahankan kekaisaran setelah kematiannya. Hanya Aleksander yang memiliki kepribadian dan kemampuan untuk melakukan hal tersebut.[169]

D. Megalomania

Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, dan terutama setelah kematian Hephaistion, Aleksander mulai menunjukkan gejala-gejala megalomania dan paranoia.[150] Pencapaiannya yang luar biasa, ditambah dengan perasaannya yang tak terlukiskan mengenai takdir serta sanjungan rekan-rekannya, mungkin merupakan penyebabnya.[193] Khayalannya tentang keagungan dapat dilihat dari wasiat-wasiat yang dia suruh Krateros untuk dilaksanakan, juga dapat kita lihat dari hasratnya untuk menaklukkan dunia yang dikenal.[150]
Aleksander tampaknya percaya bahwa dia adalah dewa atau setidaknya ingin dirinya didewakan.[150] Olympias selalu menanamkan dalam dirinya bahwa dia adalah putra Zeus.[2] Aleksander juga semakin merasa sebagai keturunan dewa berkat pernyataan dari orakel Amun di Siwa.[92] Sejak itu dia memandang dirinya sendiri sebagai putra Zeus-Ammon.[92] Aleksander mengadopsi beberapa unsur pakaian dan adat Persia di istananya, yang paling terkenal adalah adat proskynesis, suatu praktik yang tidak disetujui oleh anak buah Makedonianya, yang tidak mau melakukannya.[111][112] Perilaku tersebut membuat Aleksander kehilangan banyak simpati dari para anak buahnya.[112]

E. Hubungan pribadi

Lukisan dinding di Pompeii, menggambarkan pernikahan Aleksander dengan Barsine (Stateira) pada tahun 324 SM. Pasangan ini berpakaian sebagai Ares dan Afrodit.

Hubungan emosional terbesar Aleksander sepanjang hidupnya adalah dengan sahabat, jenderal, sekaligus pengawalnya Hephaistion, putra seorang bangsawan Makedonia.[140][183][194] Kematian Hephaistion sangat menghancurkan mental Aleksander, dan membuat Aleksander amat berduka cita.[140][195] Kejadian itu juga ikut berpengaruh pada penurunan kesehatan Aleksander, dan keadaan mental yang melemah pada bulan-bulan terakhir dari masa hidupnya.[150][154] Aleksander menikah dua kali, pertama dengan Roxane, putra bangsawan Baktria Oxyartes, karena cinta,[196] dan yang kedua dengan Stateira II, seorang putri Persia dan anak perempuan Darius III, alasannya lebih bersifat politis.[197] Aleksander memiliki dua orang putra, Aleksander IV dari Makedonia, dari Roxane, dan kemungkinan Herakles dari Makedonia dari Stateira. Aleksander kehilangan satu orang anak ketika Roxane mengalami keguguran di Babilonia.[198][199]
Seksualitas Aleksander telah menjadi subjek spekulasi dan kontroversi.[200] Tidak disebutkan dalam naskah kuno manapun bahwa Aleksander punya hubungan homoseksual, atau bahwa hubungan Aleksander dengan Hephaistion merupakan hubungan seksual. Akan tetapi, Aelianus, menulis bahwa Aleksander pernah mengunjungi Troya. Di sana Aleksander menaruh karangan bunga di makam Akhilles sedangkan Hephaistion menaruh karangan bunga di makam Patroklos. Ini memunculkan dugaan bahwa mereka adalah sepasang kekasih, seperti halnya Akhilles dan Patroklos.[201] Perlu diingat bahwa kata eromenos (yang tercinta) tidak selalu memiliki makna seksual, Aleksander bisa jadi merupakan seorang biseksual, yang pada masanya tidaklah aneh.[202][203]

Green berpendapat bahwa hanya ada sedikit bukti dalam naskah kuno yang menceritakan bahwa Aleksander memiliki ketertarikan pada perempuan, selain itu Aleksander baru memiliki anak pada akhir msa hidupnya.[183] Namun, Aleksander masih relatif muda ketika meninggal dunia, dan Ogden berpendapat bahwa catatan pernikahan Aleksander lebih mengesankan daripada ayahnya pada usia yang sama.[204] Selain istri, Aleksander juga memiliki banyak selir. Aleksander mengumpulkan harem dengan gaya raja-raja Persia namun dia tidak terlalu sering menikmati haremnya;[205] yang dengan demikian menunjukkan bahwa Aleksander mampu mengendalikan hasrat seksualnya.[192] Ada kemungkinan bahwa Aleksander adalah orang yang tidak terlalu menyukai hubungan seks. Namun demikian, Plutarch menggambarkan bahwa Aleksander tergila-gila pada Roxane sambil memuju dirinya sendiri karena berhasil membatasi nafsunya pada Roxane.[206] Green mengajukan pendapat bahwa, dalam dalam konteks pada masa itu, Aleksander banyak berhubungan dekat dengan sejumlah perempuan, termasuk Ada dari Karia, yang mengadopsi Aleksander, dan bahkan ibu Darius, Sisygambis, yang diduga meninggal akibat berduka cita setelah Aleksander wafat.[183]
(Bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.