Senin, 16 Desember 2013

Kerajaan pada zaman India kuno


"Peta kerajaan-kerajaan kuno di India selama masa kisah epik"
























































Artikel ini menampilkan klasifikasi kerajaan pada zaman India kuno yang disebutkan dalam susastra Hindu, seperti misalnya Weda, Mahabharata, Ramayana, dan Purana. Kapan kerajaan-kerajaan tersebut berdiri, tidak diketahui dengan pasti dan masih diperdebatkan, sehingga tidak dicantumkan disini. Artikel ini menekankan pada klasifikasinya. Kerajaan-kerajaan tersebut tersebar di seluruh daratan India dan berdiri sendiri.

Kata pengantar

Banyak hal mengenai situasi politik dan keadaan geografi pada zaman kerajaan kuno di India yang dapat disimak dalam kitab Mahabharata. Kitab Ramayana juga dapat memberikan sedikit informasi. Sebelum adanya kitab Mahabharata, Rigveda menguraikan situasi politik dan keadaan alam pada masa India kuno. Setelah zaman Mahabharata berakhir menyusul munculnya zaman Purana, yaitu masa pemulisan kitab-kitab mitologi, yang juga memaparkan situasi politik dan geografi di sekitar India pada masa itu. Diuraikan dengan jelas.

Kapan berdirinya kerajaan-kerajaan di India pada masa lampau tidak diketahui dengan jelas dan tepat, kadangkala disebut “era mitologi”. Zaman keemasan India kuno menurut data klasik terentang selama millenium pertama. Pada zaman prasejarah India, ilmu politik dipercaya muncul bersamaan dengan ditulisnya Weda yang pertama, yaitu Rigveda (sekitar tahun 1500 SM). Kerajaan dalam Ramayana muncul sekitar tahun 500 SM dan dalam Mahabharata sekitar tahun 400 SM. Kerajaan tersebut berakhir ketika munculnya Kerajaan Maurya tahun 321 SM.

Kerajaan kuno di India

Perbatasan kerajaan

Perbatasan antar kerajaan jarang berupa pagar atau tembok dengan pos penjagaan. Yang sering dipakai perbatasan adalah wilayah alami seperti: sungai, hutan, gunung, dan lembah. Sungai sering dijadikan perbatasan bagi dua kerajaan yang berdekatan. Kadang-kadang, terdapat hutan belantara yang labih luas daripada kerajaan itu sendiri dan dijadikan suatu daerah perbatasan. Pegunungan seperti Himalaya, Windhya dan Sahya juga dijadikan perbatasan alami.

Kota dan desa

Beberapa kerajaan mendirikan pusat pemerintahan di suatu kota tertentu yang pada akhirnya menjadi suatu ibukota atau sebagai kerajaan kecilnya. Sebagai contoh, kerajaan para Pandawa adalah Indraprastha dan kerajaan para Korawa adalah Hastinapura. Ahichatra adalah ibukota Panchala Utara sementara Kampilya adalah ibukota Panchala Selatan. Kerajaan Kosala memiliki ibukota Ayodhya.

Pada suatu wilayah di kota utama atau ibukota didirikanlah suatu istana sebagai pusat pemerintahan, sementara desa-desa terhampar di sekelilingnya. Pajak dikumpulkan oleh pemungut pajak yang merupakan orang tepercaya untuk mengatur administrasi keuangan di desa tertentu. Kontribusi Raja kepada rakyatnya yang sudah membayar pajak adalah melindungi mereka dari ancaman serbuan kerajaan lain atau serangan bangsa perampok. Raja pula yang memberi keadilan dan hukuman bagi orang yang melanggar aturan.

Hubungan antar kerajaan

Tidak ada pos perbatasan antar kerajaan dan perdebatan mengenai batas wilayah jarang terjadi. Seorang Raja biasanya membuat angkatan perang (biasanya disebut Digvijaya yang berarti pemenang dari segala pemimpin) dan menaklukkan kerajaan lain dalam suatu pertempuran, berlangsung dengan cepat atau bisa juga selama berhari-hari. Raja yang kalah harus mengakui keunggulan dari Raja yang menang. Raja yang kalah kadang-kadang menyerahkan upeti kepada Raja yang menang. Upeti dikumpulkan hanya sekali, tidak secara berkala. Biasanya, Raja yang kalah bebas mengatur kerajaannya sendiri, tanpa mengadakan hubungan pemerintahan dengan Raja yang menang. Tidak ada kerajaan yang bergabung dengan kerajaan lain untuk lebur menjadi satu. Beberapa Raja biasanya membuat suatu upacara kenegaraan (contohnya Rajasuya atau Aswamedha). Raja yang kalah diundang oleh Raja yang menang dan harus mau datang sebagai teman atau sekutu.

Kerajaan baru

Kerajaan baru terbentuk apabila ada Maharaja dari suatu Wangsa atau Dinasti memiliki keturunan yang banyak. Keturunan Wangsa Kuru dan Ikshwaku telah berhasil mendirikan berbagai kerajaan di wilayah India utara. Sementara itu, keturunan Wangsa Yadawa mendirikan banyak kerajaan di wilayah India tengah.

Perbedaan budaya di setiap kerajaan

Kerajaan di India bagian barat didominasi oleh suku bangsa yang kebudayaannya berbeda dengan kebudayaan Weda, tidak seperti kerajaan India lainnya. Kerajaan tersebut mendapat pengaruh kebudayaan timur tangah. Begitu pula kerajaan di bagian Selatan, kebudyaan berbeda dengan kerajaan para Kuru dan Panchala, namun perbedaannya tidak terlalu mencolok. Kemungkinan perbedaan tersebut terjadi karena pengaruh budaya Dravida. Suku bangsa yang berbeda-beda diklasifikasi oleh Weda dengan istilah Mlechha. Kerajaan di India Utara, di bawah pegunungan Himalaya, jarang muncul dalam sastra India kuno. China muncul sebagai kerajaan dan dikenal dengan nama “Chin”, dikelompokkan sebagai kerajaan “Mlechcha” (suku bangsa yang budayanya lain dengan budaya India pada masa itu). Dalam sastra India kuno, disebutkan bahwa kerajaan di India Utara dipenuhi oleh berbagai kerajaan dengan suku bangsa yang penuh misteri. Kerajaan yang terkemuka di antara mereka adalah Kuru Utara atau Uttara Kuru. Beberapa sastra menyebutkan bahwa wilayah tersebut merupakan daerah para Dewa. Kadang-kadang kerajaan tersebut muncul selayaknya seperti kerajaan lain, kadang-kadang disebut negeri tanpa Raja, kadang-kadang sebagai Republik. Kata “Kuru” yang sama, membuatnya dihubungkan dengan “Dinasti Kuru” di India (Korawa dan Pandawa). Beberapa sejarawan menganggap mereka merupakan leluhur bangsa Kuru di seluruh India, dan pada mulanya berada di India Utara (diidentifikasikan sebagai Kirgistan dan Tajikistan) kemudian menyebar di daratan India, mendirikan kerajaannya di wilayah negara bagian Haryana dan Uttar Pradesh di India.

Klasifikasi kerajaan

Kerajaan utama Wangsa Paurawa

Wangsa Paurawa merupakan keturunan para Raja yang tergabung dalam Dinasti Bulan atau Wangsa Chandra. Leluhur dinasti ini adalah Puru, putra Yayati, buyut dari Pururawa Aila, raja pertama Dinasti Bulan/Dinasti Chandra.
Kerajaan Kuru Kerajaan Panchala Kerajaan Watsa

Kerajaan utama Wangsa Ikshwaku

Wangsa Ikshwaku atau Wangsa Surya (Dinasti Surya) merupakan keturunan Raja Ikshwaku, putra Manu.
Kerajaan Kosala Kerajaan Kasi Kerajaan Wideha Kerajaan Dakshina Kosala Kerajaan Malla

Kerajaan Wangsa Yadawa

Kerajaan Wangsa Yadawa atau Dinasti Yadu diperintah oleh keturunan Yadu, kakak dari Puru.
Kerajaan Surasena Kerajaan Dwaraka Kerajaan Anarta Kerajaan Saurashtra Kerajaan Heheya
Kerajaan Nishadha Kerajaan Gurjara Kerajaan Karusha Kerajaan Chedi Kerajaan Dasarna
Kerajaan Kunti Kerajaan Awanti Kerajaan Malawa

Kerajaan Matsya

Kerajaan Matsya

Kerajaan di wilayah barat

Kerajaan Trigarta Kerajaan Salwa Kerajaan Madra Kerajaan Sindhu Kerajaan Sauwira
Kerajaan Siwi Kerajaan Kekeya Kerajaan Gandhara Kerajaan Youdheya Kerajaan Pahlawa

Kerajaan di wilayah barat laut

Kerajaan Bahlika Kerajaan Parama Kamboja Kerajaan Uttara Madra Kerajaan Uttara Kuru
Kerajaan Yawana Kerajaan Khasa Kerajaan Saka

Kerajaan di wilayah utara

Kerajaan Kasmira Kerajaan Kamboja Kerajaan Darada Kerajaan Parada Kerajaan Parasika
Kerajaan Tushara Kerajaan Huna Kerajaan Hara Huna Kerajaan Rishika Kerajaan China
Kerajaan Parama China

Kerajaan di wilayah timur

Kerajaan Magadha Kerajaan Kikata Kerajaan Anga Kerajaan Pragjyotisha Kerajaan Sonita
Kerajaan Lauhitya Kerajaan Pundra Kerajaan Suhma Kerajaan Wanga Kerajaan Odra
Kerajaan Utkala

Kerajaan di jajaran Windhya Selatan

Kerajaan Widarbha Kerajaan Anupa Kerajaan Surparaka Kerajaan Nasikya
Kerajaan Konkana Kerajaan Asmaka Kerajaan Danda Kerajaan Kalinga

Kerajaan di ujung selatan

Kerajaan Telinga Kerajaan Andhra Kerajaan Kiskindha Kerajaan Gomanta Kerajaan Karnata
Kerajaan Dravida Kerajaan Kanchi Kerajaan Chola Kerajaan Pandya Kerajaan Mahisha
Kerajaan Tulu Kerajaan Mushika Kerajaan Satyaputra Kerajaan Kerala Kerajaan Sinhala
Kerajaan Alengka

Kerajaan di lembah Sungai Saraswati

Kerajaan Saraswata Kerajaan Abhira Kerajaan Sudra Kerajaan Nishada

Kerajaan di wilayah Himalaya

Kerajaan di wilayah pegunungan Himalaya dalam daftar di bawah ini merupakan kerajaan yang terpencil dan sulit dijangkau oleh orang yang tinggal di kerajaan lembah sungai-sungai suci. Menurut sastra Hindu, penghuni di sana jarang berinteraksi dengan dunia luar. Berbagai suku bangsa yang eksotis dan makhluk legendaris tinggal di sana.
Kerajaan Kimpurusha Kerajaan Pisacha Kerajaan Naga Kerajaan Kinnara Kerajaan Yaksha
Kerajaan Gandharwa Kerajaan Kirata Kerajaan Himalaya Kerajaan Parwata Kerajaan Nepa

Kerajaan lain

Kerajaan Jaffna

Sumber

Kerajaan Kosalal

Kerajaan Kosala


Kerajaan Kosala adalah nama sebuah kerajaan kuna di India yang namanya tercatat dalam kisah wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Kerajaan ini beribu kota di Ayodhya, dan merupakan tempat kelahiran Sri Rama, seorang awatara Wisnu.
Dalam pewayangan Jawa, Kerajaan Kosala lebih sering disebut dengan nama Kerajaan Ayodya.

Selayang pandang

Dalam kisah Ramayana, pusat Kerajaan Kosala terletak di Ayodhya. Kerajaan ini diperintah oleh seorang raja bijaksana bernama Dasarata dari Dinasti Surya. Ia memiliki empat orang putra bernama Rama, Bharata, Laksmana, dan Satrughna.
Setelah Dasarata meninggal, kerajaan ini diperintah oleh Bharata karena Rama menjalani hukuman pembuangan di hutan. Namun Bharata bersikeras menyusul dan memohon agar Rama kembali. Rama menolak dan tetap menunjuk Bharata sebagai raja. Akhirnya Bharata bersedia namun hanya sebagai wakil saja. Ia membawa sepasang terompah Rama untuk dijadikan simbol di atas takhta.
Setelah masa pembuangan Rama berakhir, Bharata menyerahkan takhta Kosala kepada kakak sulungnya itu. Rama pun menjadi raja Kosala sedangkan Bharata bertakhta di Kerajaan Gandhara, yang beribu kota di Takshasila. Kerajaan ini dekat dengan Kerajaan Kekaya tempat leluhur Bharata dari pihak ibu. Sementara itu, dua adik Rama lainnya, yaitu Laksmana dan Satrughna juga memerintah di negeri masing-masing. Laksmana bertakhta di Kerajaan Wangga yang beribu kota di Candrakanta, sedangkan Satrughna membuka Hutan Madhu dan mendirikan Kerajaan Surasena yang beribu kota di Mathura.
Sepeninggal Sri Rama, Kerajaan Kosala dibelah menjadi dua bagian untuk kedua putranya. Mereka adalah Lawa yang memerintah Kosala Utara yang beribu kota di Srawasti, serta Kusa yang memerintah Kosala Selatan dengan ibu kota bernama Kusawati.
Koloni para raja Kosala terletak di Madhya Pradesh, disebut pula dengan nama Dakshina Kosala. Kerajaan Kosala memiliki hubungan yang dekat dengan negeri para penghuni hutan atau bangsa wanara, yakni Kerajaan Kiskindha, terutama pada masa pemerintahan Sri Rama.
Kerajaan Kosala juga dijumpai dalam naskah Mahabharata. Dikisahkan seorang raja Kosala bernama Brihadbala ikut bertempur di pihak Korawa dalam perang di Kurukshetra atau Baratayuda. Ia gugur pada hari ke-13 di tangan Abimanyu putra Arjuna dari keluarga Pandawa.

Versi pewayangan Jawa

Dalam pewayangan Jawa, Kerajaan Kosala yang beribu kota di Ayodhya lebih sering disebut dengan nama Kerajaan Ayodya. Kerajaan ini didirikan oleh seorang raja bernama Banapati, yang kemudian diwarisi putranya yang bernama Banaputra.
Rahwana raja Kerajaan Alengka pada suatu hari menyerang Ayodya dan menewaskan Banaputra. Ia berusaha memperistri putri Banaputra yang bernama Sukasalya (dalam Ramayana disebut Kausalya). Dalam peristiwa itu Sukasalya ditolong oleh sepupu ayahnya yang bernama Dasarata.
Dasarata kemudian menciptakan Sukasalya palsu dari sekuntum bunga untuk diserahkan kepada Rahwana ketika raja raksasa itu tiba. Rahwana sangat senang dan memberikan Ayodya kepada Dasarata karena tujuannya bukan untuk menjajah negeri itu, tetapi hanya sekadar merebut Sukasalya.
Dasarata kemudian menikahi Sukasalya yang asli dan menjadi raja Ayodya. Kisah selanjutnya tidak berbeda dengan versi aslinya, yaitu pengangkatan Barata sebagai raja mewakili Rama yang menjalani pembuangan ke hutan.
Akan tetapi, setelah masa pembuangan berakhir, Rama tidak berkenan menjadi raja Ayodya dan mengizinkan Barata untuk menjadi raja yang sepenuhnya. Rama sendiri membangun kerajaan baru di tengah Hutan Dandaka tempat ia menjalani pembuangan. Negeri baru tersebut bernama Kerajaan Pancawati.

Ayodhya

Ayodhya


Ayodhya
India-locator-map-blank.svg
Red pog.svg
Ayodhya
Negara Bagian
 - Distrik
Uttar Pradesh
 - Faizabad
Koordinat Script errorInvalid arguments have been passed to the {{#coordinates:}} function
Luas
 - Ketinggian
10.24 km²
 - 93 m
Zona waktu IST (UTC+5:30)
Populasi (2001)
 - Kepadatan
49650
 - 
Kode
 - Pos
 - Telepon
 - Kendaraan

 - 224123
 - +05278
 - UP-42
Ayodhya (Hindi: अयोध्या, Urdu: ایودھیا ; Ayodhyā Tentang suara ini dengarkan ) adalah kota kuno di India, dulu ibukota Awadh, di distrik Faizabad di Uttar Pradesh. Dalam susastra Hindu seperti Purana dan Itihasa (Ramayana dan Mahabharata), Ayodhya merupakan kota suci bagi umat Hindu.

Daftar isi

Ayodhya dalam Susastra Hindu

Ayodhya juga muncul dalam kisah epik Ramayana sebagai ibukota Kerajaan Kosala yang dilindungi oleh angkatan perang yang kuat. Kata Ayodhyā dalam Bahasa Sanskerta berarti "yang tidak akan kalah dalam peperangan"[1]. Menurut Susastra Hindu, Kerajaan Kosala terletak di sebelah utara Sungai Gangga [1]. Kerajaan tersebut merupakan kerajaan milik keturunan Ikswaku dari Dinasti Surya, putera Maharaja Manu, seorang Maharaja yang konon mendirikan kerajaan tersebut dan mewarisinya kepada keturunannya.

Deskripsi dari Kakawin Ramayana

Kutipan Terjemahan
Hana rājya tulya kèndran, kakwèhan sang mahārddhika suçila, ringayodhyā subbhagêng rāt, yeka kadhatwannirang nṛpati Ada sebuah istana bagaikan surga, dipenuhi oleh orang-orang bijak serta luhur perbuatan, di Ayodhya-lah yang cukup terkenal di dunia, itulah istana Sri Baginda Prabu Dasarata
Hayuning swargga tuwi masor, deningayodhyāpurā tiçaya, suka nityakāla menak, ring ṛēngṛēng towi ring lahru Keindahan surga benar-benar terkalahkan, oleh puri Ayodhya yang tiada bandingannya, di sana selalu dalam keadaan aman sentosa, pada waktu musim hujan maupun pada musim kemarau
Sakwèhning mūlya kabèh, kanaka rajata lèn maṇik hanangkāna, yāngkēn untunya maputih, gumuyu-guyung swarga sor dénya Berbagai batu-batuan mulia, emas perak beserta permata terdapat di sana, itu laksana gigi keraton Ayodhya yang putih, seolah-olah tersenyum, surga dapat dikalahkannya
Hana ta umah kanaka maṇik, kinulilinganikang taman rāmya, wara kanyakā mamēngamēng, surāpsari tulya ring meru Ada sebuah balai yang bertahtakan permata, dikelilingi oleh taman yang sangat menakjubkan, tempat para gadis-gadis bercengkerama, bagai bidadari di gunung Mahameru (Himalaya)
Sphaṭika maṇik ta malahalah, sateja munggwungumah paniñjoan, kadi Ganggā saka Himawān, rūpanya katon sutejā çri Permata manik-manik tak terbilang banyaknya, semua berkilauan terletak pada balai peninjauan, seperti sungai Gangga dari gunung Himawan, kelihatan berkilauan dan sungguh menakjubkan

Lihat pula

Catatan kaki

  1. ^ a b ”Ramayana” . Oleh: I Gusti Made Widia

Referensi

  • “Ramayana”. Oleh: I Gusti Made Widia
  • Kakawin Ramayana

Ramayana

Ramayana


Lukisan bergaya Thailand yang menggambarkan suasana pertempuran antara Rama dengan Rawana
 
































Ramayana (dari bahasa Sanskerta: रामायण, Rāmâyaṇa; yang berasal dari kata Rāma dan Ayaṇa yang berarti "Perjalanan Rama") adalah sebuah cerita epos dari India yang digubah oleh Walmiki (Valmiki) atau Balmiki. Cerita epos lainnya adalah Mahabharata.
Ramayana terdapat pula dalam khazanah sastra Jawa dalam bentuk kakawin Ramayana, dan gubahan-gubahannya dalam bahasa Jawa Baru yang tidak semua berdasarkan kakawin ini.

Dalam bahasa Melayu didapati pula Hikayat Seri Rama yang isinya berbeda dengan kakawin Ramayana dalam bahasa Jawa kuna.
Di India dalam bahasa Sanskerta, Ramayana dibagi menjadi tujuh kitab atau kanda sebagai berikut:
  1. Balakanda
  2. Ayodhyakanda
  3. Aranyakanda
  4. Kiskindhakanda
  5. Sundarakanda
  6. Yuddhakanda
  7. Uttarakanda
Banyak yang berpendapat bahwa kanda pertama dan ketujuh merupakan sisipan baru. Dalam bahasa Jawa Kuna, Uttarakanda didapati pula. 

Pengaruh dalam budaya

Beberapa babak maupun adegan dalam Ramayana dituangkan ke dalam bentuk lukisan maupun pahatan dalam arsitektur bernuansa Hindu. Wiracarita Ramayana juga diangkat ke dalam budaya pewayangan di Nusantara, seperti misalnya di Jawa dan Bali. Selain itu di beberapa negara (seperti misalnya Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, Philipina, dan lain-lain), Wiracarita Ramayana diangkat sebagai pertunjukan kesenian.

Daftar kitab

Wiracarita Ramayana terdiri dari tujuh kitab yang disebut Saptakanda. Urutan kitab menunjukkan kronologi peristiwa yang terjadi dalam

Wiracarita Ramayana. Lihat di bawah ini :

Nama kitab Keterangan
Balakanda Kitab Balakanda merupakan awal dari kisah Ramayana. Kitab Balakanda menceritakan Prabu Dasarata yang memiliki tiga permaisuri, yaitu: Kosalya, Kekayi, dan Sumitra. Prabu Dasarata berputra empat orang, yaitu: Rama, Bharata, Lakshmana dan Satrughna. Kitab Balakanda juga menceritakan kisah Sang Rama yang berhasil memenangkan sayembara dan memperistri Sita, puteri Prabu Janaka.
Ayodhyakanda Kitab Ayodhyakanda berisi kisah dibuangnya Rama ke hutan bersama Dewi Sita dan Lakshmana karena permohonan Dewi Kekayi. Setelah itu, Prabu Dasarata yang sudah tua wafat. Bharata tidak ingin dinobatkan menjadi Raja, kemudian ia menyusul Rama. Rama menolak untuk kembali ke kerajaan. Akhirnya Bharata memerintah kerajaan atas nama Sang Rama.
Aranyakanda Kitab Aranyakakanda menceritakan kisah Rama, Sita, dan Lakshmana di tengah hutan selama masa pengasingan. Di tengah hutan, Rama sering membantu para pertapa yang diganggu oleh para rakshasa. Kitab Aranyakakanda juga menceritakan kisah Sita diculik Rawana dan pertarungan antara Jatayu dengan Rawana.
Kiskindhakanda Kitab Kiskindhakanda menceritakan kisah pertemuan Sang Rama dengan Raja kera Sugriwa. Sang Rama membantu Sugriwa merebut kerajaannya dari Subali, kakaknya. Dalam pertempuran, Subali terbunuh. Sugriwa menjadi Raja di Kiskindha. Kemudian Sang Rama dan Sugriwa bersekutu untuk menggempur Kerajaan Alengka.
Sundarakanda Kitab Sundarakanda menceritakan kisah tentara Kiskindha yang membangun jembatan Situbanda yang menghubungkan India dengan Alengka. Hanuman yang menjadi duta Sang Rama pergi ke Alengka dan menghadap Dewi Sita. Di sana ia ditangkap namun dapat meloloskan diri dan membakar ibukota Alengka.
Yuddhakanda Kitab Yuddhakanda menceritakan kisah pertempuran antara laskar kera Sang Rama dengan pasukan rakshasa Sang Rawana. Cerita diawali dengan usaha pasukan Sang Rama yang berhasil menyeberangi lautan dan mencapai Alengka. Sementara itu Wibisana diusir oleh Rawana karena terlalu banyak memberi nasihat. Dalam pertempuran, Rawana gugur di tangan Rama oleh senjata panah sakti. Sang Rama pulang dengan selamat ke Ayodhya bersama Dewi Sita.
Uttarakanda Kitab Uttarakanda menceritakan kisah pembuangan Dewi Sita karena Sang Rama mendengar desas-desus dari rakyat yang sangsi dengan kesucian Dewi Sita. Kemudian Dewi Sita tinggal di pertapaan Rsi Walmiki dan melahirkan Kusa dan Lawa. Kusa dan Lawa datang ke istana Sang Rama pada saat upacara Aswamedha. Pada saat itulah mereka menyanyikan Ramayana yang digubah oleh Rsi Walmiki.

Ringkasan Cerita

Rama mematahkan busur Dewa Siwa saat sayembara memperebutkan Dewi Sita

Prabu Dasarata dari Ayodhya

Wiracarita Ramayana menceritakan kisah Sang Rama yang memerintah di Kerajaan Kosala, di sebelah utara Sungai Gangga, ibukotanya Ayodhya. Sebelumnya diawali dengan kisah Prabu Dasarata yang memiliki tiga permaisuri, yaitu: Kosalya, Kekayi, dan Sumitra. Dari Dewi Kosalya, lahirlah Sang Rama. Dari Dewi Kekayi, lahirlah Sang Bharata. Dari Dewi Sumitra, lahirlah putera kembar, bernama Lakshmana dan Satrugna. Keempat pangeran tersebut sangat gagah dan mahir bersenjata.

Pada suatu hari, Resi Wiswamitra meminta bantuan Sang Rama untuk melindungi pertapaan di tengah hutan dari gangguan para rakshasa. Setelah berunding dengan Prabu Dasarata, Resi Wiswamitra dan Sang Rama berangkat ke tengah hutan diiringi Sang Lakshmana. Selama perjalanannya, Sang Rama dan Lakshmana diberi ilmu kerohanian dari Resi Wiswamitra. Mereka juga tak henti-hentinya membunuh para raksasa yang mengganggu upacara para Resi. Ketika mereka melewati Mithila, Sang Rama mengikuti sayembara yang diadakan Prabu Janaka. Ia berhasil memenangkan sayembara dan berhak meminang Dewi Sinta, puteri Prabu Janaka. Dengan membawa Dewi Sinta, Rama dan Lakshmana kembali pulang ke Ayodhya.
Prabu Dasarata yang sudah tua, ingin menyerahkan tahta kepada Rama. Atas permohonan Dewi Kekayi, Sang Prabu dengan berat hati menyerahkan tahta kepada Bharata sedangkan Rama harus meninggalkan kerajaan selama 14 tahun. Bharata menginginkan Rama sebagai penerus tahta, namun Rama menolak dan menginginkan hidup di hutan bersama istrinya dan Lakshmana. Akhirnya Bharata memerintah Kerajaan Kosala atas nama Sang Rama.

Rama hidup di hutan

Dalam masa pengasingannya di hutan, Rama dan Lakshmana bertemu dengan berbagai raksasa, termasuk Surpanaka. Karena Surpanaka bernafsu dengan Rama dan Lakshmana, hidungnya terluka oleh pedang Lakshmana. Surpanaka mengadu kepada Rawana bahwa ia dianiyaya. Rawana menjadi marah dan berniat membalas dendam. Ia menuju ke tempat Rama dan Lakshmana kemudian dengan tipu muslihat, ia menculik Sinta, istri Sang Rama. Dalam usaha penculikannya, Jatayu berusaha menolong namun tidak berhasil sehingga ia gugur.



Rama yang mengetahui istrinya diculik mencari Rawana ke Kerajaan Alengka atas petunjuk Jatayu. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan Sugriwa, Sang Raja Kiskindha. Atas bantuan Sang Rama, Sugriwa berhasil merebut kerajaan dari kekuasaan kakaknya, Subali. Untuk membalas jasa, Sugriwa bersekutu dengan Sang Rama untuk menggempur Alengka. Dengan dibantu Hanuman dan ribuan wanara, mereka menyeberangi lautan dan menggempur Alengka.

Rama menggempur Rawana

Rawana yang tahu kerajaannya diserbu, mengutus para sekutunya termasuk puteranya – Indrajit – untuk menggempur Rama. Nasihat Wibisana (adiknya) diabaikan dan ia malah diusir. Akhirnya Wibisana memihak Rama. Indrajit melepas senjata nagapasa dan memperoleh kemenangan, namun tidak lama. Ia gugur di tangan Lakshmana. Setelah sekutu dan para patihnya gugur satu persatu, Rawana tampil ke muka dan pertarungan berlangsung sengit. Dengan senjata panah Brahmāstra yang sakti, Rawana gugur sebagai ksatria.
Setelah Rawana gugur, tahta Kerajaan Alengka diserahkan kepada Wibisana. Sinta kembali ke pangkuan Rama setelah kesuciannya diuji. Rama, Sinta, dan Lakshmana pulang ke Ayodhya dengan selamat. Hanuman menyerahkan dirinya bulat-bulat untuk mengabdi kepada Rama. Ketika sampai di Ayodhya, Bharata menyambut mereka dengan takzim dan menyerahkan tahta kepada Rama.

Kutipan dari Kakawin Ramayana

Kutipan Terjemahan
Hana sira Ratu dibya rēngőn, praçāsta ring rāt, musuhnira praṇata, jaya paṇdhita, ringaji kabèh, Sang Daçaratha, nāma tā moli Ada seorang Raja besar, dengarkanlah. Terkenal di dunia, musuh baginda semua tunduk. Cukup mahir akan segala filsafat agama, Prabu Dasarata gelar Sri Baginda, tiada bandingannya
Sira ta Triwikrama pita, pinaka bapa, Bhaṭāra Wiṣḥnu mangjanma inakaning bhuwana kabèh, yatra dōnira nimittaning janma Beliau ayah Sang Triwikrama, maksudnya ayah Bhatara Wisnu yang sedang menjelma akan menyelamatkan dunia seluruhnya. Demikian tujuan Sang Hyang Wisnu menjelma menjadi manusia.
Hana rājya tulya kèndran, kakwèhan sang mahārddhika suçila, ringayodhyā subbhagêng rāt, yeka kadhatwannirang nṛpati Ada sebuah istana bagaikan surga, dipenuhi oleh orang-orang bijak serta luhur perbuatan, di Ayodhya-lah yang cukup terkenal di dunia, itulah istana Sri Baginda Prabu Dasarata
Malawas sirār papangguh, masneha lawan mahādewī, suraseng sanggama rinasan, alinggana cumabanā dinya Sudah lama Sri Baginda menikah, saling mencintai dengan para permaisurinya, kenikmatan rasa pertemuan itu telah dapat dirasakan, bercumbu rayu dan sejenisnya
Mahyun ta sira maputra, mānaka wetnyar waṛēg rikang wiçaya, malawas tan pānakatah, mahyun ta sirā gawe yajña Timbullah niat Sri Baginda agar berputra, agar berputra karena sudah puas bercinta, namun lama nian beliau tidak berputra, lalu beliau berniat mengadakan ritual
Sakalī kāraṇa ginawe, āwāhana len pratiṣṭa ānnidhya, Parameçwara hinangēnangēn, umungu ring kuṇḍa bahni maya Semua perlengkapan upacara sudah dikerjakan, alat upacara pengundang serta tempat para Dewa sudah tersedia, Bhatara Çiwa yang dipuja-Pūja, agar berstana pd api suci itu
Çeṣa mahārsī mamūjā, pūrnāhuti dibya pathya gandharasa, yata pinangan kinabehan, denira Dewi maharāja Sisa sesaji yang dihaturkan oleh Sang Maha Pendeta, sesajen yang sempurna, santapan yang nikmat rasa serta baunya, itulah yang disantap oleh beliau, permaisuri Sri Baginda Raja
Ndata tīta kāla lunghā, mānak tā Sang Daçarathā sih, Sang Rāma nak matuha, i sira mahādewī Kauçalya Demikianlah tidak diceritakan lagi selang waktu itu, para permaisuri kesayangan Prabu Dasarata melahirkan putera, Sang Rama putera yang sulung, dari permaisuri Dewi Kosalya
Sang Kekayi makānak, Sang Bharatya kyāti çakti dibya guṇa, Dewi sirang Sumitrā, Laksmaṇa Çatrughna putranira Adapun putera Dewi Kekayi, Sang Bharata yang terkenal sakti mandraguna, sedangkan Dewi Sumitra, berputra Sang Lakshmana dan Sang Satrugna
Sang Rāma sira winarahan, ringastra de Sang Wasiṣṭa tar malawas, kalawan nantēnira tiga, prajñeng widya kabeh wihikan Sang Rama diberi pelajaran tentang panah memanah oleh Bagawan Wasista dalam waktu tidak lama, beserta ketiga adik-adiknya, semuanya pintar cekatan tentang ilmu memanah

Referensi

  • Milner Rabb, Kate, National Epics, 1896 - See eText Project Gutenburg
  • Raghunathan, N. (Trans), Srimad Valmiki Ramayanam, Vighneswara Publishing House, Madras (1981)
  • A different Song - Article from "The Hindu" August 12, 2005 - [1]
  • Dr. Gauri Mahulikar Effect Of Ramayana On Various Cultures And Civilisations, Ramayan Institute
  • Goldman, Robert P., The Ramayana of Valmiki: An Epic of Ancient India Princeton University Press, 1999 ISBN 0-691-01485-X
  • S. S. N. Murthy, A note on the Ramayana, Jawaharlal Nehru University, New Delhi [2]
  • Arya, Ravi Prakash (ed.). Ramayana of Valmiki: Sanskrit Text and English Translation. (English translation according to M. N. Dutt, introduction by Dr. Ramashraya Sharma, 4-volume set) Parimal Publications: Delhi, 1998 ISBN 81-7110-156-9

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.