Tampilkan postingan dengan label Sejarah Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Agama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 November 2014

Inkuisisi Spanyol

Auto-da-fe selama inkuisisi Spanyol.


Inkuisisi Spanyol, atau nama resminya Tribunal Dinas Suci Inkuisisi(bahasa SpanyolTribunal del Santo Oficio de la Inquisición), adalah institusi pengadilan gereja yang didirikan oleh pasangan Monarki KatolikRaja Ferdinand II dari Aragon dan Ratu Isabella dari Kastilia, yang bertujuan untuk memelihara ortodoksi Katolik di Spanyol, dan mengadili perkara-perkara aliran sesat pasca Reconquista (penaklukan Iberia oleh kerajaan Kristen dari Muslim Moor). Pada awalnya, Spanyol setelah Reconquistamerupakan masyarakat beragama yang relatif damai, namun selanjutnya terjadi kekerasan anti-Islam dan anti-Yahudi, sehingga banyak umat Islamdan Yahudi terpaksa pindah agama menjadi Katolik atau melarikan diri.
Inkuisisi Spanyol merupakan institusi yang melayani kerajaan Spanyol, tapi harus mengikuti prosedur yang diperintahkan Tahta Suci Paus. Kebanyakan inkuisitor menerima pendidikan hukum di universitas. Prosedur inkuisisi pengakuan seseorang bahwa ia menganut aliran sesat, dan mengadukan penganut yang lainnya. Pengaduan ini diikuti dengan penahanan, dan tertuduh diberikan dewan pembela, yang merupakan anggota pengadilan itu sendiri, hanya bertugas menasihati tertuduh dan mendesaknya untuk mengakui kebenaran. Seorang Notaris Secreto mencatat perkataan-perkataan tertuduh dengan cermat. Lengkapnya catatan ini amat sempurna dibandingkan dengan sistem pengadilan lain di zamannya. Dalam inkuisisi, penyiksaan juga sering digunakan, agar tertuduh mengakui kesalahannya. Hukuman dimulai dari denda hingga eksekusi mati, dan para terhukum harus mengikuti upacara auto de fe. Inkusisi akhirnya dihapuskan pada 15 Juli 1854.

Pemaksaan pindah agama ke Kristen selama Inkuisisi[sunting sumber]

Pada 1492 Ferdinand dan Isabella mengeluarkan Dekrit Alhambra yang memerintahkan seluruh Yahudi untuk meninggalkan Spanyol. Umat Islam di Spanyol juga mendapat perintah serupa. Banyak di antara mereka yang pindah ke agama Kristen daripada harus meninggalkan Spanyol, dan mereka ini disebut dengan istilah conversos. Para conversos ini dicurigai tidak pindah agama dengan jujur dan tulus.
Ferdinand II kemudian menekan Paus Sikstus IV agar menyetujui pembentukan sebuah Inkuisisi yang dikendalikan oleh Spanyol. Paus menyetujuinya karena Ferdinand mengancam menarik dukungan militernya kepada Sang Paus, padahal saat itu Kepausan sedang terancam oleh Turki Ottoman. Namun kemudian Sikstus IV menuduh Inkuisisi Spanyol terlalu bersemangat, dan menuduh Ferdinand dan Isabella terlalu rakus dan mengeluarkan sebuah bulla untuk menghentikannya, tapi Ferdinand mendesak Sikstus untuk menarik kembali bulla tersebut. Dalam kedua kejadian tersebut Sikstus dan Ferdinand tetap saling akur satu sama lain.[1]
Orang-orang Islam di Spanyol, Mudéjars atau yang sudah pindah ke Katolik, disebut Moriscos, tak luput dari penganiayaan yang dilakukan oleh Inkuisisi Spanyol. Menurut Perjanjian Granada (1491), umat Islam dijanjikan kebebasan beragama, namun perjanjian ini tidak berumur panjang. Pada 1502, umat Muslim diberikan ultimatum untuk masuk Kristen atau meninggalkan Spanyol. Mayoritas mereka pindah agama, namun hanya di luar saja, karena mereka masih berpakaian dan berbicara sebagaimana sebelumnya, beribadah menurut agama Islam secara sembunyi-sembunyi, dan menggunakan tulisan Aljamiado. Hal ini menyebabkan Kardinal Cisneros untuk menerapkan peraturan yang lebih keras dan memaksa, sehingga memicu sebuah pemberontakan. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan (1502), dan pihak Spanyol menggunakan pemberontakan ini sebagai alasan untuk membatalkan Perjanjian Granada. Pada 1508, pakaian bernuansa Islam dilarang. Pada 1526 dan 1527, peraturan yang lebih keras lagi dikeluarkan. Pada 1567, Raja Felipe II mengeluarkan baru yang melarang penggunaan nama berbau Islam, pakaian Islam, serta larangan berbahasa Arab. Bahkan orang-orang Islam diberitahu anak-anak mereka nantinya harus diserahkan untuk dididik para pendeta Kristen. Seluruh 300.000 moriscos akhirnya diusir dari Spanyol pada 1609-1614, oleh Raja Felipe III.
Agama Yahudi dilarang di Spanyol menurut Dekrit Alhambra (1492). Hasilnya orang-orang Yahudi memilih meninggalkan Spanyol atau pindah agama. Kaum Yahudi yang pindah ke agama Kristen disebut Marranos (berarti "babi" dalam bahasa Spanyol). Mereka adalah orang-orang Yahudi Sefardim yang terpaksa pindah ke agama Katolik Roma, sebagai akibat penganiayaan orang-orang Yahudi oleh Inkuisisi ini. Banyak di antara mereka yang masih menjalankan agama dan tradisiYahudi mereka secara sembunyi-sembunyi. Terdapat sekitar 100.000 marranos di seluruh Iberia.

Referensi[sunting sumber]







Sumber

Sejarah Berdirinya Dewan Inkuisisi Gereja

Lambang Dewan Inkuisisi Gereja


Pada tahun 1329, tokoh-tokoh Gereja Katolik mengadakan pertemuan di Chateauroux, Prancis. Pertemuan ini merupakan yang pertama sejak pengangkatan Paus Gregorius IX. Tujuannya adalah untuk menetapkan berdirinya sebuah dewan peradilan khusus untuk mengadili orang-orang yang dianggap menyimpang dari Katolik. Misalnya golongan Yahudi, Protestan, pemikir bebas, dan kaum muslimin tentu saja yang berada di Spanyol dan Portugis. Mereka hendak menghakimi siapa saja yang dianggap atheis dan bertentangan keyakinan dengan Katolik.
Paus menetapkan berdirinya dewan tersebut secara tidak terang-terangan. Tetapi pada tahun 1333, ia mengeluarkan surat perintah secara resmi kepada seluruh gereja Katolik. Surat itu memerintahkan untuk menunjuk seorang pastur yang patut diserahi pekerjaan khusus. Ini merupakan suatu teknik untuk segera dapat melaporkan secara langsung kepada dewan peradilan kepausan apabila menjumpai penyelewengan. Pastur penyelidik yang ditunjuk bisa mengangkat para asisten bagian intel untuk menunaikan tugas. Peradilan kepausan yang khas ini diberi nama Dewan Suci atau Pengusutan Suci.
Para intel yang ditunjuk, nama-namanya dirahasiakan. Mereka memperoleh hak istimewa dari Paus dengan jaminan pengampunan dosa walau yang mereka lakukan adalah kekejaman terhadap orang-orang tertuduh yang sebenarnya tak berdosa.
Para intel akan menyeret beberapa orang untuk menghadap Mahkamah. Terdakwa yang dihadapkan ke Mahkamah akan ditanya tentang keyakinan dan loyalitasnya terhadap gereja dan agama Katolik. Kalau dianggap menyimpang, mereka akan dijebloskan ke tempat penyiksaan.
Setiap Inkuisisi terdiri dari sekitar 20 petugas: penyidik agung; tiga penyidik atau hakim utama; pengawas keuangan; petugas sipil; petugas untuk menerima dan mempertanggungjawabkan uang denda; petugas yang serupa untuk harta benda yang disita; beberapa orang penilai untuk menilai harta benda; sipir penjara; konselor untuk mewawancarai dan menasihati tertuduh; pelaksana hukuman untuk melakukan penyiksaan, penahanan, dan pembakaran; dokter untuk mengawasi siksaan; ahli bedah untuk memperbaiki kerusakan tubuh yang disebabkan oleh penyiksaan; petugas untuk mencatat pelaksanaan dan pengakuan dalam bahasa Latin; penjaga pintu; dan kenalan yang menyelinap masuk untuk mendapatkan kepercayaan orang-orang yang dicurigai kemudian memberi kesaksian untuk menentang mereka. Setiap pengadilan juga memiliki saksi atau pemberi informasi yang menentang tertuduh, dan pengunjung istimewa, yang disumpah untuk menjaga rahasia prosedur serta pelaksanaan hukuman yang mereka saksikan.
Pada mulanya, Dewan Inkuisisi hanya menangani tuduhan tentang bid’ah yang ada dalam agama Katolik. Tetapi kemudian kekuasaannya segera meluas hingga mencakup tuduhan seperti tenung, alkimia, penghujatan, penyimpangan seksual, pembunuhan anak, pembacaan Alkitab dalam bahasa umum, atau pembacaan Talmud oleh kaum Yahudi atau Alquran oleh umat Muslim.
Tidak peduli apa pun tuduhannya, Dewan Inkuisisi melakukan pemeriksaan mereka dengan kekejaman yang luar biasa, tanpa memiliki belas kasihan kepada siapa pun tidak peduli berapa usia, apa jenis kelamin, suku bangsa, keturunan bangsawan, posisi atau tingkat sosial yang istimewa, atau bagaimana kondisi fisik atau mental mereka. Dan mereka terutama bersikap kejam terhadap orang-orang yang menentang doktrin dan otoritas paus, terutama orang-orang yang sebelumnya adalah penganut Gereja Roma (Katolik) dan sekarang menjadi Protestan.
Ada sebagian tokoh Gereja yang berusaha melakukan pembelaan (apologetic). Tentang upaya apologetik dalam soal Inquisisi itu, Peter de Rosa, dalam bukunya, Vicars of Christ: The dark Side of the Papacy, mencatat, bahwa sikap itu hanya menambah kemunafikan menjadi kejahatan. (it merely added hypocricy to wickedness). Yang sangat mengherankan dalam soal ini adalah penggunaan cara siksaan dan pembakaran terhadap korban. Dan itu bukan dilakukan oleh musuh-musuh Gereja, tetapi dilakukan sendiri oleh orang-orang tersuci yang bertindak atas perintah “wakil Kristus” (Vicar of Christ).
Peter de Rosa mencatat: However, the Inquisition was not only evil compared with the twentieth century, it was evil compared with the tenth and elevent when torture was outlawed andmen and women were guaranteed a fair trial. It was evil compared with the age of Diocletian, for no one was then tortured and killed in the name of Jesus crucified. (Peter deRosa, Vicars of Christ: The Dark Side of the Papacy, (London: Bantam Press, 1991), hal. 246-247).


Pembelaan di depan Inkuisisi hampir tidak ada gunanya karena tuduhan yang dikenakan pada mereka sudah menjadi bukti yang cukup untuk menyatakan kesalahan, dan makin besar kekayaan tertuduh, makin besar bahaya yang ia tanggung. Sering kali seseorang dieksekusi bukan karena ia melakukan bid’ah, melainkan karena ia memiliki harta benda yang banyak. Sering kali tanah dan rumah yang luas atau bahkan provinsi atau wilayah kekuasaan dirampas oleh Gereja Katolik atau oleh penguasa yang bekerja sarna dengan Dewan Inkuisisi dalam pekerjaan mereka.
Orang-orang yang dituduh oleh Dewan Inkuisisi tidak pernah diizinkan untuk mengetahui nama penuduh mereka. Dua orang pemberi informasi sudah cukup untuk memberikan tuduhan. Setiap metode pembujukan digunakan oleh pelaku Inkuisisi untuk membuat tertuduh mengakui tuduhan itu dan karena itu membuktikan tuduhan terhadap mereka, dan meyakinkan diri mereka sendiri. Untuk melakukannya, setiap cara penyiksaan fisik yang dikenal atau yang bisa dibayangkan digunakan – seperti merentangkan kaki tangan mereka pada alat perentang; membakar mereka dengan arang panas atau logam yang dipanaskan; mematahkan jari-jari tangan dan kaki; meremukkan kaki dan tangan; mencabut gigi; meremas daging dengan penjepit; menusukkan pengait ke bagian tubuh yang lunak dan menarik pengait itu menembus dagingnya; menyayat daging mereka menjadi potongan kecil-kecil; menancapkan jarum ke dalam daging; menancapkan jarum di bawah kuku jari tangan atau kaki; mengencangkan tali pengikat di sekeliling daging sampai menembus tulang; memukuli dengan tongkat dan pentung; memelintir kaki dan tangan serta melepaskan sendi mereka. Cara yang digunakan oleh para pelaksana Inkuisisi yang kejam terlalu banyak jumlahnya, dan terlalu mengerikan untuk dicatat.
Pada awal penyidikan, yang dicatat dalam bahasa Latin oleh petugas, orang yang dicurigai dan saksi harus bersumpah bahwa mereka akan menyingkapkan segala sesuatu. jika mereka tidak mau bersumpah, hal itu ditafsirkan sebagai tanda persetujuan dengan tuduhan. Jika mereka menyangkal tuduhan tanpa bukti bahwa mereka tidak bersalah, atau jika mereka dengan bandel menyangkal untuk mengakui, atau bertahan dalam ke-bid’ah-an mereka; mereka akan diberi hukuman yang paling kejam, harta benda mereka disita dan, hampir tanpa perkecualian, mereka dihukum mati dengan cara dibakar.
Setelah Inkuisisi selesai menghakimi, upacara yang khidmat diadakan di tempat eksekusi; yang dikenal dengan ‘sermo generalis’ (khutbah umum) atau, di Spanyol disebut ‘auto-de-fe’ (tindakan iman), Acara itu dihadiri oleh pejabat lokal, para imam, dan semua masyarakat baik itu musuh atau ternan terpidana itu, yang ingin melihat hukuman atau eksekusi.
Dewan Inkuisisi mempraktekkan pekerjaannya dengan cara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi sesuai perintah raja yang mendukung. Praktek kekejaman mereka berlangsung hingga revolusi Prancis meletus pada tahun 1789. Setelah ketahuan kedok kejahatannya, Dewan tersebut dibubarkan. Rakyat dendam dan hendak membalas pada Dewan Inkuisisi. Sebagian anggota Dewan itu lolos, melarikan diri ke Spanyol dan Portugis menggabung dengan teman-temannya di sana.
Dewan Inkuisisi namanya sangat dikenal di Prancis, Italia, dan negara-negara Eropa. Hanya saja praktek kekejaman mereka tak sekejam yang di Spanyol. Korban tercatat tidak kurang sembilan juta orang muslim. Sejak tahun 1333 hingga tahun 1835, lima abad lamanya dewan suci yang lalim ini merealisir kekejian. Mereka mengadakan barisan atau kelompok secara kuat untuk menekan dan menyiksa orang-orang tak berdosa. Semua itu demi keotoriteran Katolik.
Dari semua petugas Inkuisisi di seluruh dunia, Inkuisisi di Spanyol adalah yang paling aktif dan sadis; itu merupakan contoh dari bahaya yang luar biasa dari pemberian kekuasaan yang tak terbatas atas tubuh dan kehidupan orang-orang yang tidak suci yang menyatakan dirinya suci.
Disusun oleh Tim Redaktur Muslimdaily.net  
Sumber Referensi:
Muhammad Ali Quthub. 1993. Fakta Pembantaian Muslimin di Andalusia. Solo: Pustaka Mantiq
John Foxe, Foxe’s Book of Martyrs, Kisah Para Martir tahun 35-2001, Andi, 2001.
http://www.hrionline.ac.uk/johnfoxe/intro.html 
http://www.ccel.org/f/foxe/martyrs/home.html 
Wikipedia.org





Sumber

Jumat, 11 April 2014

Sejarah Awal Agama Kristen Hingga Mengalami Penyimpangan


YESUS alias Nabi Isa as. merupakan nabi yang diturunkan Allah kepada Bani Israil. Tugasnya adalah untuk menyelamatkan Bani Israil dari kesesatan yang telah lama dilakukan kaum tersebut. Allah SWT masih menyayangi kaum Musa as. ini dan menurunkan satu nabi lagi khusus untuk mereka. Nabi Isa as. mengaku jika dirinya diutus Allah hanya untuk kaumnya saja, Bani Israil, dan bukan untuk umat manusia seluruh dunia.

Di dalam Injil sendiri ada peristiwa di mana Yesus menolak seorang wanita Kanaan (Palestina) yang meminta anaknya disembuhkan dari kemasukan setan,Yesus menolak dan mengatakan, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 15 :24). Yesus sendiri menolong perempuan itu juga, namun tidak menyuruh perempuan itu untuk ‘pindah keyakinan’. Penegasan itu juga nampak dari pesan Yesus kepada para muridnya yang mewantiwanti mereka untuk tidak menyebarkan ajarannya kepada orang selain dari Bani Israil.

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 10:5-6)

Telah jelas bahwa Yesus menegaskan dirinya hanya untuk Bani Israil. Namun para misionaris mengklaim bahwa hal itu hanya berlaku sebelum kebangkitan. Setelah dibangkitkan maka misinya untuk umat manusia seluruh dunia. Perubahan mendasar ini berangkat dari ajaran Paulus, seorang Yahudi dari Tarsus yang mengaku-aku sebagai murid Yesus.

Ajaran Paulus inilah, -ditulis pada 49 M (Galatia-, yang mempengaruhi Injil-injil yang ditulis sesudahnya yakni injil Markus (55 M), Injil Matius (60-an M), Injil Yohanes (80 M), dan Injil Lukas (60 M). Paulus, Yahudi dari Tarsus, di dalam banyak ayat Injil digambarkan sebagai seorang murid yang banyak tidak patuh pada Yesus, bahkan Yesus dalam banyak ayat memarahi dia hingga menendangnya.

Paulus inilah yang kemudian mengubah ajaran Nabi Isa as. yang berhaluan paganisme Yahudi. Namun hal ini terjadi tidak terlepas dari kondisi sosial budaya bangsa Yahudi sebelum masa Nabi Isa. Turun. Minimal ada tiga kondisi yang bisa kita telaah. Pertama, Aqidah orang-orang Yahudi telah terkontaminasi kepercayaan Paganisme Babilonia.

Sekitar 50 tahun (586-535 SM) bangsa Yahudi berada di pengasingan di Babilonia yang masyarakatnya menyembah berhala. Kedua, pada tahun 334 SM, Alexander raja Yunani menguasai bangsa Yahudi dan menyebarkan faham Filsafat yang kemudian mempengaruhi pemikiran orang-orang Yahudi. Ketiga, bangsa-bangsa yang menaklukan orang-orang Yahudi adalah penganut politeisme. Ini pun berpengaruh kepada aqidah bangsa Yahudi.

Ketika Nabi Isa as, menyampaikan ajaran Allah SWT, pengaruh kepercayaan paganisme memang sudah mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat, maka terjadilah penyimpangan pemahaman oleh Paulus terhadap ajaran yang dibawa Nabi Isa as. Paulus pun mengklaim bahwa telah bertemu Yesus (Isa) dan diangkat sebagai rasulnya. Ia kemudian mengajarkan ajaran Isa yang telah dicampur adukkan dengan filsafat Yunani dan Paganisme.

Allah SWT sudah mengingatkan hal ini dalam Surah Al Baqarah ayat 87,

“..Dan Sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah Setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?”

Tiga abad setelah peristiwa penyaliban, pengikut ajaran Nabi Isa as. berkembang dengan beragam corak pemahamannya. Terjadi bentrokan diantara mereka antara kalangan yang pro ajaran Tauhid dari Nabi Isa as. dengan yang kontra. Mereka yang kontra notabene adalah kelompok pro ajaran Paulus yang paganis. Peperangan ini sampai mengancam keutuhan kerajaan Roma.

Karenanya, atas usulan Konstantin diadakanlah Muktamar di Nicea pada tahun 325 M yang dihadiri sekitar 2048 orang dengan pendiriannya masing-masing. Terjadi perdebatan yang sengit dan tak ada titik temu. Akhirnya Konstantin yang cenderung pada paganis memanggil 318 orang yang berfaham Paulus dan menyatakan dukungannya. Setelah itu muktamar dilanjutkan, sementara itu peserta lainnya melakukan walk out. Di dalam muktamar ini banyak dipilih doktrin-doktrin dan syiar–syiar ibadah secara voting (tanggal paskah, peranan uskup, dan tentu saja tentang ketuhanan Yesus). Setelah itu diadakanlah revisi terhadap Injil. Sementara injil-injil lain yang bertentangan dimusnahkan. Dan orang yang berani membaca injil terlarang itu akan dicap sebagai heretis (berlaku bid’ah).

Perihal apakah injil yang asli masih adakah sampai saat ini? Allahua’lam. Namun hemat penulis, permasalahannya bukan pada masih ada yang aseli atau tidak, namun injil hanya berlaku bagi kaum Nabi Isa as. saja, sedangkan sekarang kita sebagai umat muslim telah memiliki kitab Suci Al Qur’an sebagai kitab yang dijaga keasliannya oleh Allah SWT hingga akhir zaman.

Kristen Pada Masa Rasulullah SAW

Tentu pada zaman Rasulullah SAW ada golongan yang beragama Nashrani. Menurut Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi, dalam Hidayatu Al-Hayara fi Ajwibati Al-Yahud wa An-Nashara, umat Nasrani pada masa Rasulullah sudah tersebar di sebagian belahan dunia. Di Syam, (hampir) semua penduduknya adalah Nasrani. Adapun di Maghrib, Mesir, Habasyah, Naubah, Jazirah, Maushil, Najran, dan lain-lain, meski tidak semuanya, namun mayoritas penduduknya adalah Nasrani.

Terhadap mereka, Rasulullah SAW senantiasa melakukan Dakwah, seperti yang pernah beliau lakukan kepada Raja Najasyi, seorang Raja Nashrani yang tinggal di Ethiopia. Rasulullah SAW pun mengirimi surat kepada Najasyi untuk bertauhid kepada Allah SWT. Berikut adalah pesan surat tersebut,

“Dari Muhammad utusan Islam untuk An-Najasyi, penguasa Abyssinia (Ethiopia). Salam bagimu, sesungguhnya aku bersyukur kepada Allah yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, dan aku bersaksi bahwa Isa putra Maryam adalah ruh dari Allah yang diciptakan dengan kalimat Nya yang disampaikan Nya kepada Maryam yang terpilih, baik dan terpelihara. Maka ia hamil kemudian diciptakan Isa dengan tiupan ruh dari-Nya sebagaimana diciptakan Adam dari tanah dengan tangan Nya. Sesungguhnya aku mengajakmu ke jalan Allah. Dan aku telah sampaikan dan menasihatimu maka terimalah nasihatku. Dan salam bagi yang mengikuti petunjuk.”

Ketika Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam menulis surat kepada Raja Najasyi untuk menjadi seorang muslim, maka Raja Najasyi mengambil surat itu, beliau lalu meletakkan ke wajahnya dan turun dari singgasana. Beliaupun masuk Islam melalui Ja’far bin Abi Tholib radiyallahu ‘anhu.

Namun Rasulullah SAW juga pernah melakukan perperangan terhadap kaum Nashrani. Hal ini bermula ketika salah satu surat beliau telah dibawa oleh Harits bin Umair ra. yang akan diberikan kepada Raja Bushra yang Nashrani. Ketika sampai di Mu’tah, maka Syarahbil Ghassani yang ketika itu menjadi salah seorang hakim kaisar telah membunuh utusan Rasulullah SAW. Membunuh utusan, menurut aturan siapa saja, adalah suatu kesalahan besar. Rasulullah SAW sangat marah atas kejadian itu.

Maka Rasulullah SAW menyiapkan pasukan sebanyak tiga ribu orang. Zaid bin Haritsah ra. telah dipilih menjadi pemimpin pasukan tersebut. Rasulullah SAW bersabda, “Jika ia mati syahid dalam peperangan, maka Ja’far bin Abi Thalib ra. menggantinya sebagai pemimpin pasukan. Jika ia juga mati syahid, maka penlimpin pasukan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah ra. Jika ia juga mati syahid, maka terserah kaum muslim untuk memilih siapa pemimpinnya”. Allahua’lam.




Sumber

Senin, 07 April 2014

Perang Salib (Kronologi) 1

Pertempuran Ager Sanguinis

Perang Salib adalah serangkaian perang yang berlangsung di Asia kecil dan Levant antara 1095 dan 1291 M, yang mana bangsa-bangsa Eropa terlibat menggunakan propaganda perang ekspedisi keagamaan. Perang Salib Pertama diserukan oleh Paus Urbanus II dengan tujuan utama memulihkan akses kaum Nasrani menuju tempat-tempat suci di dan dekat Yerusalem. Latar belakang dari Perang Salib adalah Perang Arab-Bizantium selama berabad-abad dan kekalahan telak yang belum lama sebelumnya dialami pasukan Bizantium oleh Turk Seljuk di Manzikert pada 1071 M. Penakluk Norman, Robert Guiscard, yang menaklukan sejumlah wilayah Bizantium semakin menambah permasalahan Kekaisaran Bizantium. Dalam upaya mengatasi kedua bahaya ini, Kaisar Bizantium, Alexios I, berusaha menyatukan bangsa-bangsa Kristen melawan musuh bersama, meminta bantuan barat, dan pada gilirannya urbanus II menyeru para pemimpin barat untuk merebut kembali Tanah Suci.

Pasukan salib terdiri atas satuan militer Kristen dari seluruh Eropa Barat, dan tidak berada di bawah komando tunggal. Rangkaian utama Perang Slib, terutama melawan Muslim di Levant, terjadi antara 1095 dan 1291 M. Para sejarawan telah menunjukkan bahwa ada banyak perang salib yang sebelumnya telah dilancarkan. Setelah beberapa kesuksesan awal, rangkaian perang salib berikutnya gagal dan pasukan salib dikalahkan serta terpaksa pulang. Beberapa ratus ribu orang menjadi tentara salib dengan mengucapkan sumpah; kepausan memberi mereka indulgensi penuh. Lambang mereka adalah salib. Banyak tentara salib berasal dari Prancis dan menyebut diri sebagai "orang Franka," yang menjadi istilah umum di kalangan Muslim. Orang Eropa sejak lama menyebut penghuni Tanah Suci sebagai Sarasen, dan terus menggunakan istilah ini dalam artian buruk selama Perang Salib dan seringkali dalam buku-buku sejarah Eropa hingga abad ke-20.

Persaingan, baik di dalam kalangan Kristiani dan Muslim sendiri, berujung pada persekutuan antara faksi keagamaan melawan musuh mereka, misalnya persekutuan Kristen bersama Kesultanan Islam Rum pada Perang Salib Kelima.

Perang Salib memberikan pengaruh politik, ekonomi, dan sosial yang besar di Eropa barat. Konflik ini mengakibatkan melemahnya Kekaisaran Kristen Bizantium, yang beberapa abad kemudian ditaklukan oleh Turk Muslim. Reconquista, periode panjang peperangan di Spanyol dan Portugal (Iberia), di mana pasukan Kristen merebut kembali semenanjung di dari Muslim, amat berkaitan dengan Perang salib.
Sumber
========================================================================

Perang Salib I

Paus Urbanus menyeru umat Kristen Eropa di Clermont
Penaklukan Yerusalem

Setelah bangsa Norman menetap di Prancis dan menaklukan Inggris, baik Prancis dan Inggris, serta Kekaisaran Romawi Suci, lebih kuat dibanding pada masa Charlemagne. Para raja dan ratu mereka mulai berpikir, seperti yang dulu pernah terpikir oleh Charlemagne,untuk menaklukan seluruh Mediterania dan mendirikan kembali Kekaisaran Romawi kuno. Secara khusus, mereka ingin merebut Yerusalem, kota Yesus Kristus, dari tangan Fatimiyah Islam yang menguasainya.

Pada 1095 M Paus Urbanus berpidato di Clermont di Prancis selatan, di mana ia menyeru orang-orang untuk mengangkat senjata dan berperang untuk membebaskan Yerusalem dari kekuasaan Fatimiyah. Orang-orang begitu bersemangat, bahkan anak-anak dan orang tua juga ingin ikut pergi.

Saking bersemangatnya, beberapa kelompok berangkat ke Yerusalem sebelum kelompok utama diorganisir. Mereka meyakini bahwa Tuhan akan meruntuhkan tembok Yerusalem begitu mereka tiba di sana, jadi mereka tidak perlu bertempur atau membawa senjata. Beberapa dari mereka bahkan tak membawa uang sedikit pun. Sebagian besar kelompok kemudian mendapati bahwa berkelana dan bertempur itu lebih sulit dari dugaan mereka, dan sebagian besar di antara mereka akhirnya meninggal dalam perjalanan. Satu kelompok memutuskan bahwa terlalu sulit untuk pergi ke Yerusalem dan memerangi Fatimiyah, dan lebih memilih untuk berhenti di Jerman untuk memerangi Yahudi. Ribuan orang Yahudi dirampok dan dibunuh oleh pasukan salib ini, hanya karena mereka bukan orang Kristen.

Pada akhirnya pada musim gugur 1096, pasukan salib utama berangkat ke Yerusalem. Mereka menggunakan rute yang berbeda-beda, sebagian pergi lewat darat dan sebagian lewat laut, menuju Konstantinopel. Di sana Kaisar Alexio cukup terkejut melihat mereka dan tidak terlalu senang. Dia sempat takut pasukan itu akan menyerang kekaisarannya, tapi akhirnya ia mengirim mereka menuju Yerusalem.
Fatimiyah tidak terlalu waspada karena mereka mengira bahwa yang datang adalah pasukan kecil Romawi dari Konstantinopel yang hanya ingin bertempur sedikit di Suriah.

Pasukan salib tiba di Yerusalem pada Mei 1098. Mereka terkejut melihat betapa beradabnya kota itu, dengan adanya masjid Kubah Batu, pemandian air panas, dan kedokteran Islam yang maju.

Pasukan salib membuat banyak kesalahan dalam peperangan mereka. Namun Fatimiyah sedang bertempur juga melawan Seljuk, sehingga mereka tak mampu mempertahankan Yerusalem dengan baik. Pasukan salib berhasil merebut Yerusalem, serta beberapa kota penting lainnya di pesisir Mediterania. Mereka menetap di sana sebagai raja-raja Yerusalem, di negara baru mereka. Banyak orang Eropa yang pergi bolak-balik Eropa-Timur Tengah, mempelajari matematika dan pengobatan dari para ilmuwan Islam, serta membawa makanan baru, seperti gula, ke Eropa. Dengan demikian, Perang Salib Pertama merupakan suatu kesuksesan bagi orang Eropa, dan kemunduran bagi Fatimiyah.
Sumber
========================================================================

Perang Salib II

Pasukan salib mengepung Damaskus

Setelah Perang Salib Pertama pada 1096 M berhasil mendirikan kerajaan-kerajaan Kristen di sepanjang pesisir Israel dan Lebanon, para khalifah Fatimiyah yang dulunya menguasai daerah itu menjadi kesal. Pada 1144 M, seorang jenderal mamluk, Imaduddin Zangi, berhasil menyatukan cukup banyak tentara Turk dan Arab dalam pasukannya untuk kemudian menyerang kerajaan-kerajaan Kristen. Zangi tidak merebut Yerusalem, namun ia merebut kota Edessa di dekatnya di Suriah.

Di Eropa, orang-orang Kristen marah ketika mengetahui bahwa Edessa telah direbut oleh Turk. Paus lalu menyuruh Bernard dari Clairvaux (di Prancis) untuk menyerukan Perang Salib Kedua untuk mengalahkan Zangi. Raja muda Prancis, Louis VII, setuju untuk berangkat, bersama dengan ratunya, Eleanor dari Aquitaine. Begitu pula Conrad III dari Jerman, Kaisar Romawi Suci. Pada masa ini, Louis berusia 23 tahun, Eleanor 22 tahun, dan Conrad 51 tahun

Dari awal hingga akhir, perang ini mengalami banyak hambatan. Sebagian besar tentara Conrad terbunuh ketika berarak melalui Turki. Ketika Louis dan Conrad tiba di Yerusalem, mereka memutuskan untu menyerang Damaskus, sebagai pembalasan atas direbutnya Edessa. Akan tetapi, serangan mereka gagal dan pasukan salib pun harus pulang tanpa membawa kemenangan.
Sumber
========================================================================

Perang Salib III

Ketika jenderal Mamluk Imaduddin Zangi meninggal, ia digantikan oleh putranya Nuruddin, yang berhasil menaklukan Damaskus. Setelah Nururddin meninggal pada 1174 M, seorang jenderal Kurdi yang kuat bernama Salahuddin berkuasa. Salahuddin merebut Mesir dari Fatimiyah, dan ia bahkan cukup kuat untuk memulai peperangan dengan kerajaan-kerajaan Kristen di Israel dan Lebanon. Pada 1187 M, Salahuddin menaklukan Yerusalem.
 Salahuddin

Sekali lagi bangsa Eropa pun marah. Paus kembali menyeru para raja Eropa untuk bersatu dan memerangi Salahuddin. Akhirnya Richard Hati Singa, raja Inggris; Philippe Auguste, raja Prancis; dan Friedrich Barbarossa, raja Jerman sekaligus Kaisar Romawi Suci, bersama-sama memimpin pasukan menuju Yerusalem. Sementara di Prancis dan Inggris ditetapkan pajak khusus untuk menghasilkan uang demi membiayai perang.

Akan tetapi, Perang Salib Ketiga, seperti yang kedua, menemui banyak permasalahan. Friedrich meninggal dalam perjalanan ke Yerusalem. Ia tenggelam ketika sedang mandi di sebuah sungai. Akibatnya sebagian besar tentaranya memilih untuk pulang.

 Frederich Barbarossa

Richard dan Philippe melanjutkan perjalanan ke Yerusalem melalui laut. Richard berhasil menaklukan pulau Siprus dalam perjalanannya, namun ia merebutnya dari kerabat Kaisar Bizantium, sehingga sejak itu Bizantium memusuhi Richard. Pasukan Prancis dan Inggris kemudian melanjutkan perang dengan mengepung Akre, pelabuhan utama di kawasan tersebut. Setelah mengepung selama hampir dua tahun, mereka baru berhasil menaklukannya. Richard membunuh 2700 tawanan di Akre karena tebusan mereka tidak dibayar hingga batas waktu yang ia tetapkan.

Setelah menang di Akre, Philippe tak mau lagi melanjutkan perang. Ia memilih untuk pulang ke Prancis, di mana kemudian ia sibuk menyerang wilayah-wilayah milik Richard di Prancis. Dengan demikian hanya Richard dan pasukan Inggrisnya yang masih bertahan untuk melanjutkan perang. Dalam keadaan seperti itu, Richard tak mampu mengalahkan Salahuddin sehingga akhirnya pada 1192 M, ia dan Salahuddin menyepakati kesepakatan damai. Isi kesepakatan itu adalah bahwa peziarah Kristen diperbolehkan keluar-masuk Yerusalem secara bebas, dan Salauddin tidak menyerang sisa-sisa kerajaan Kristen selama bertahun-tahun tahun ke depan. Dengan disepakatinya perjanjian itu, Richard pun pulang ke Inggris.

Philippe Auguste

Namun ketika melintasi Jerman, Richard ditangkap oleh kaisar baru Jerman, Heinrich VI. Heinrich tak menyukai Richard karena Richard pernah berjanji akan membantu Raja Tancred dari Sisilia untuk melawan Heinrich. Heinrich memenjarakan Richard dan mengirim pesan kepada saudara Richard, John, yang isinya meminta tebusan untuk ditukarkan dengan Rihcard. Tebusan yang diminta Heinrich amat besar, bahkan pada akhirnya John harus membayar uang sejumlah tiga kali pendapatan tahunan Inggris. Untuk memeroleh uang tebusan, John menyuruh rakyat membayar pajak tambahan. Richard akhirnya berhasil pulang ke Inggris pada 1194 M.
Richard Hati Singa


Sumber

Bersambung

Minggu, 06 April 2014

Israel di Zaman Byzantium-Arab (638M-1099M)

Masa kini mayoritas penduduk wilayah Palestina-Israel terdiri dari orang-orang Arab. Di dalam sejarah Timur Tengah ditemukan istilah-istilah Arab Yahudi, Arab Kristen dan Arab Muslim. Proses Arabisasi kebudayaan dan bahasa di wilayah itu telah mulai dari tahun 638M, dan berangsur-angsur terjadi selama 1360 tahun. Walaupun proses itu sering disamakan dengan proses Islamisasi hal itu tidak tentu benar. Arabisasi terutama adalah berkaitan dengan kebudayaan dan bahasa namun dampak perkembangan Islam juga merupakan suatu pengaruh yang sangat besar.

Dalam bukunya, “Arab and Jew in the Land of Canaan” dijelaskan oleh Ilene Beatty bahwa ada pelbagai suku bangsa yang datang di Kanaan dan mereka “merupakan tambahan, kelompok-kelompok yang dicangkokkan pada pohon silsilah penduduk Palestina. Para penyerbu Arab di abad ke-7M telah mengislamkan sebagian besar penduduk asli dan sejak itu telah bermukim sebagai penduduk, dan kawin-campur dengan penduduk asli sehingga semua orang di sana kemudian mengalami Arabisasi sampai kita tidak dapat menyatakan kapan peradaban Kanaan berakhir dan kapan peradaban Arab mulai.”

Orang-orang Yahudi dibagikan antara Yahudi Arab, Yahudi Eropa, Yahudi Asia dan Yahudi Afrika. Kenapa ada sekelompok yang disebut ’Yahudi Arab’? Ini terjadi karena di sepanjang sejarah Timur Tengah ada sejumlah besar orang Yahudi yang mengalami Arabisasi bahasa dan kebudayaan walaupun mayoritas orang Yahudi tidak menjadi penganut agama Islam.

Kemenangan dan Pemerintahan Arab di Israel (635M-638M)
Sesudah kematian Muhammad, Islam telah mulai berekspansi ke negara-negara yang lain dengan tujuan akhir, menggenapi seruan jihadnya untuk menghancurkan kekuasaan Kerajaan Bizantium dan Kekristenan dan merebut kota Konstantinopel. Tentara-tentara jihad telah masuk dan menguasai kota Yerusalem sekitar tahun 635-638. Namun pada masa itu kota Yerusalem lebih dikenal dengan nama Romawi, Aelia, sampai abad ke-10 ketika diberi nama bahasa Arab, al-Quds (Kota Kudus). Wilayah Yerusalem ataupun wilayah Palestina-Israel tidak pernah dipimpin bangsa-bangsa Arab sebagai sebuah ’bangsa’. Ketua Delegasi Syria di Konferensi Perdamaian Paris, Februari 1919 mengatakan: "Satu-satunya dominasi Arab sejak dikuasai pada tahun 635M hanya bertahan, pada dasarnya, 22 tahun".

Wilayah it hanya didominasi secara "politik" saja sehingga dapat dikatakan bahwa orang-orang Yahudi “kehilangan tanahnya”, karena tidak pernah mereka meninggalkannya sehingga kosong secara fisik, ataupun meninggalkan klaimnya atas wilayah itu sebagai bangsanya.

Selanjutnya kota Yerusalem adalah kota kudus untuk tiga agama keturunan Abraham (Yahudi, Kristen dan Islam). Waktu tentara-tentara Arab mengambil alih kota Yerusalem, mereka telah menduduki lokasi-lokasi sakral yang telah menjadi tujuan ziarah Kristen dan Yahudi. Mulai dari waktu itu sudah ditanam benih-benih konflik tentang hak milik semua lokasi sakral yang kemudian diperebutkan umat Kristiani selama Perang Salib bahkan sampai masa kini oleh kaum Yahudi, khususnya Bukit Moria, tempat Abraham mempersembahkan anaknya kepada Tuhan, yang juga adalah lokasi Bait Suci Solomo dan hari ini lokasi Quba Emas dan Mesjid Al-Aqsa.

Membangun Mesjid Umar, atau Quba Emas
Umar (kalif pertama), waktu tiba di Yerusalem meminta agar diantar ke Bukit Bait Suci, suatu pengakuan bahwa agama Islam menerima dan mengakui tradisi para nabi Ibrani. Setelah mencapai puncak Bukit itu, Kalif Umar merasa mual melihat daerah itu telah menjadi daerah pembuangan sampah oleh orang-orang Kristen sebagai penghinaannya terhadap agama orang-orang Yahudi. Umar, karena telah menghormati orang-orang Yahudi, telah memberi perintah agar lokasi itu dibersihkan. Tindakan tersebut menjadi langkah pertama untuk mempersiapkan lokasi sakral Yahudi menjadi lokasi ibadah Muslim.

Pada awal zaman Arab, mayoritas penduduk Yerusalem beragama Kristen. Konstruksi Dome of the Rock, Quba Emas itu, pada tahun 691, gedung sakral Muslim pertama di Israel, bertujuan menyaingi Gereja Makam Kudus. Baik Quba Emas, yaitu Dome of the Rock dan Gereja Makam Kudus dibangun berdasarkan gambar bentuk dan ukuran yang sama, tetapi Dome of the Rock dihiasi dengan ayat-ayat anti Ketritunggalan Allah dari Al-Qur’an. Awalnya, orang-orang Muslim seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi di Arab Saudi, telah menghadap ke Yerusalem waktu berdoa. Namun, pada waktu orang-orang Yahudi yang adalah mayoritas penduduk Medina telah menolak kerja sama secara agama dan politik dengan umat Islam bahkan menolak klaim kenabian Muhammad, maka ada pewahyuan baru yang turun dari Allah yang memerintahkannya memindahkan arah doa, kiblat, dari Yerusalem ke Mekka (John L. Esposito; Islam: the Straight Path; Oxford University Press: New York, 1991; hal.16).

Quba Emas dibangun di atas lokasi Bait Suci Herodes dan dekat dengan Tembok Ratapan, satu-satunya bagian dekat Bait Suci Solomo yang masih ada. Ajaran tradisi-tradisi Islam menunjukkan bukit batu kudus itu sebagai tempat awal kenaikan Muhammad ke Surga untuk menerima pewahyuan akhir Allah dalam bahasa Arab.

Dalam membangun Quba Emas, para pemimpin Arab di Palestina telah menyampaikan respek mereka untuk kota Yerusalem, sebagai kota para nabi dari Abraham ke Musa ke Yesus, dan berakhir dengan Muhammad, “meterai para nabi.” Quba Emas adalah monumen Islam tertua di dunia dan untuk kebanyakan orang adalah yang terhebat. Pembangunan Quba Emas telah menjadi simbol kemenangan Islam atas agama Yahudi, agama Kristen, dan rasa tidak aman umat Islam di dalam sebuah kota yang mayoritas Kristen sampai Salah al-Din mengusir para Laskar Salib dari Yerusalem pada tahun 1187. Dalam membuat Quba Emas sebagai kopian Gereja Makam Kudus yang lebih tinggi dan lebih mulia agar menjadi saksi nyata kepada semua orang Yahudi dan Kristen, tentang kuasa dan keabadian agama Islam di Kota Kudus (Idinopulos, Thomas A.; Jerusalem Blessed, Jerusalem Cursed; Ivan R. Dee: Chicago; 1991; pg. 207).

Kalif Umar juga telah memenuhi aspirasi umat Yahudi dengan menolak permintaan para pemimpin Gereja untuk menolak izin untuk orang-orang Yahudi memasuki kota Yerusalem. Kebencian umat Kristen terhadap orang Yahudi di zaman itu sangat kuat karena umat Yahudi dianggap pembunuh Mesias. Pada tahun 638, setelah hampir 500 tahun orang-orang Yahudi dilarang masuk Yerusalem, maka komunitas Yahudi diizinkan lagi masuk dan tinggal di Yerusalem. Lalu sebagian kota Yerusalem dibangun kembali oleh masyarakat Yahudi di kota Solomo dan kota Daud (Idinopulos, Thomas A.; Jerusalem Blessed, Jerusalem Cursed; Ivan R. Dee: Chicago; 1991; pg. 214).

Orang Yahudi di Palestina-Israel di sepanjang zaman
Di balik propaganda bahwa orang-orang Yahudi setelah 1900 tahun meninggalkan tanah itu dan hanya belakangan “kembali lagi” ke Palestina-Israel dan menemukan tanah itu sekarang diduduki "Arab Palestina" adalah asumsi yang tidak benar. Walaupun mayoritas orang Israel telah mengungsi dari daerah Palestina-Israel, fakta sejarah menunjukkan bahwa ada seratus ribu orang Yahudi yang tidak pernah meninggalkan daerah itu bahkan ada banyak orang Yahudi yang menjadi penduduk di bangsa-bangsa lain di kawasan itu, seperti di Syria, Arab Saudi, Mesir, Yaman, Irak, Iran, Turki dan Etiopia, selain yang mengungsi ke Eropa dan Afrika (Palestine Royal Commission Report (London, 1937), pp. 2-5, 7, 9, khususnya hal. 11, para. 23).

James Parkes, seorang ahli tentang hubungan Yahudi/non-Yahudi di Timur Tengah telah menganalisa “hak milik tanah” masyarakat Yahudi sebelum tahun 1948 dalam bukunya Whose Land? A History of the Peoples of Palestine (Harmondsworth, Middlesex, Great Britain: Penguin Books, 1970, p. 26,31,266). Diungkapkannya bahwa ternyata sejarah orang Yahudi setelah perlawanan Bar-Cochba di Masada tidak berakhir tetapi mereka telah mempertahankan eksistensi mereka di sepanjang sejarah walaupun ada banyak perlawanan terhadap kehadiran mereka secara fisik dan rohani di tanah tersebut, bahkan mereka tidak pernah menyerahkan klaim dan hak milik mereka yang dimilikinya sejak zaman eksodus (keluaran) dari Mesir dan masuknya Kanaan sekitar tahun 1500 sM.

Pada tahun 438M orang-orang Yahudi dari Galilea dengan optimis mendeklarasikan bahwa, "masa pembuangan kami sudah berakhir" ketika Ratu Eudokia mengizinkan orang Yahudi berdoa di lokasi Bait Suci, tetapi tak lama kemudian mereka dibuang kembali dari Yerusalem (Avraham Yaari, Igrot Eretz Yisrael (Tel Aviv, 1943), p. 46).

Penemuan arkeologi telah membuktikan bahwa orang-orang Yahudi telah menyambut dengan senang bahkan bergabung dengan tentara Persia pada tahun 614M dan "telah mengalahkan pasukan Byzantium, penjaga Yerusalem," dan telah menguasai kota itu selama lima tahun (A. MaIamat, H. Tadmor, M. Stern, S. Safrai, Toledot Am Yisrael Bi'mei Kedem (Tel Aviv, 1969), p. 348, dikutip oleh Katz, Battleground, p. 88). Dua dekade kemudian, tahun 635-638, waktu tentara Arab masuk ternyata orang-orang Yahudi “telah menderita intoleransi dan kekerasan rejim Kristen selama tiga abad.” (Parkes, Whose Land? p. 72.) Karena itu, harapan orang-orang Yahudi adalah mereka menjadi bebas dari dominasi rejim Kristen sehingga mereka menyambut tentara Arab sebagai tentara pemerdeka.

Tentara Arab Muslim yang masuk Yerusalem pada abad ke-7 telah menemukan masyarakat Yahudi yang sangat nyata. Pada waktu itu, "kita memiliki bukti bahwa orang-orang Yahudi telah tinggal di berbagai sudut bangsa itu dan di kedua tepi Sungai Yordan, dan bahwa mereka mendiami baik kota-kota dan desa-desa, dengan tetap melakukan perkebunan dan berbagai kerajinan tangan." Sejumlah orang Yahudi juga telah tinggal di Lydda dan Ramle.”Masyarakat besar dan penting” orang-orang Yahudi telah tinggal juga di "Askalon, Kaesaria dan lebih lagi di Gaza, yang dijadikan sejenis Ibu Kota setelah mereka diusir dari Yerusalem."( Parkes, Whose Land? P.72 dan A Mediterranean Society, 3 vols. Berkeley, Los Angeles, London, 1971, vol. 2, p. 61).

Al-Waqidy, ahli sejarah Arab abad ke-9 mengatakan bahwa Yerikho juga punya masyarakat Yahudi. Pada abad ke-7 ada juga bukti masyarakat Yahudi di Yerikho (Itzhak Ben-Zvi, The Exiled and the Redeemed, Philadelphia, 1961, p. 146). Al-Waqidy yang datang dari Medina, dan telah mengunjungi Khaibar tak lama setelah terjadi suatu tragedi pembantaian Yahudi di situ pada abad ke-9. Dia mengatakan bahwa masyarakat Yahudi di Khaibar adalah mereka yang telah diusir dari Medina, dan sejak waktu itu orang-orang Yahudi tidak pernah lagi diizinkan tinggal di Medina. Dasarnya adalah implementasi dekrit Muhammad oleh Kalif Omar, “Jangan mengizinkan dua agama berada di Semenanjung Arabia” (Ibid., hal. 146). Masyarakat Yahudi yang pada waktu itu bergabung dengan Islam diizinkan tinggal di Medina sampai abad ke-13 (Dikutip dari Sheikh Abd Allah Al Meshad, dalam D.F. Green, ed., Arab Theologians on Jews and Israel (Geneva, 197 1), p. 22).

Zaman Khilafah Umayyad dan Abbasid
Khilafah Umayyad, telah meluas di seluruh Timur Tengah. Spanyol, Portugal bahkan sampai ke perbatasan Perancis dan India. Memang abad ke-7 dan ke-8 telah menyaksikan kemajuan teratorial Islam yang memulai zaman emas Islam dalam berbagai bidang. Kemajuannya telah melihat Syria jatuh pada tahun 634, Yerusalem 638, Mesir 638, Persia (Iran) 640, Afrika Utara 689, Portugal dan Spanyol 711 sampai Khilafah Umayyad diganti dengan Khilafah Abbasid pada tahun 750.

Setelah Khilafah Abbasid berkuasa di wilayah Palestina-Israel, peranan kota Yeruslem menurun drastis. Damaskus yang adalah ibu kotanya Khilafah Umayyad lalu Bagdad menjadi ibu kota Khilafah Abbasid. Daerah Palestina-Israel tidak lagi menjadi perhatian besar para sejarawan sampai muncul Perang Salib yang telah mulai tanggal 27 Nopember 1099. Masa Perang Salib itu akan dibahas di dalam artikel berikut.
Akhirnya, di sepanjang sejarah, sejak Israel menduduki wilayah Palestina di bawah pimpinan Yosua pada tahun 1500sM sampai masa jaya Islam di Timur Tengah tak pernah putus ada masyarakat Yahudi yang tetap menduduki wilayah itu, telah mengklaimnya sebagai Tanah Airnya, bahkan yang mengklaim mereka adalah korban jajahan, dari zaman Asyur, Babelonia, Yunani, Romawi, Kristen Bizantin bahkan sampai ke zaman Arab.




Sumber

Israel di Zaman Perang Salib (1095 - 1291 M)

Banyak orang yang percaya bahwa Perang Salib adalah serangan biadab oleh Umat Kristen terhadap Umat Islam tanpa alasan. Apakah hal itu benar?

Apa Penyebab Perang Salib?
Awal mula Perang Salib adalah perang defensif bukan ofensif. Selama lima abad lamanya, Timur Tengah merupakan bagian dari Israel-Palestina, Yordan, Mesir, Lebanon dan Syria yang adalah wilayah Kristen. Hal itu terjadi karena pemberitaan Injil yang menyebabkan pertobatan penduduk dan para penguasa. Oleh karena itu, setelah Kaisar Konstantin menjadi Kristen, maka agama Kristen berubah menjadi kekuatan politik, sehingga makin lama semakin kehilangan kuasa rohaninya. Ke dalam situasi seperti ini, maka tentara jihad dari Arab Saudi mengubah peta politik dan agama utama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk di daerah Timur Tengah dan Afrika Utara. Perubahan ini terjadi melalui penumpahan darah dan pembantaian terhadap banyak sekali orang Kristen.

Alasan pertama Perang Salib adalah untuk membela dan membebaskan orang-orang Kristen yang dijajah oleh orang-orang Islam. Sebagaimana sudah kita selidiki dan ketahui bahwa dalam waktu kurang dari satu abad Islam berhasil merebut dua pertiga dari dunia Kristen: Palestina, Syria, Mesir, Turki, Spanyol, Portugal dll. Di bawah Khalifah Fatimid Kalif al-Hakim, dua ribu gereja dihancurkan termasuk Gereja Makam Kudus pada tahun 1009. Jadi, Paus Innocent III menulis: “Apakah kamu tidak tahu bahwa ribuan orang Kristen diperbudak dan ditawan oleh orang Islam, disiksa dengan siksaan yang tak dapat terhitung?” Itulah sebabnya, Perang Salib dianggap sebagai kewajiban umat Kristen untuk mengungkapkan kasih mereka kepada saudara-saudaranya yang menderita dan untuk mengungkapkan kasih kepada Kristus. Pada waktu itu, Islam dipandang sebagai musuh Kristus dan Gereja. Tujuan dari Perang Salib adalah untuk mengalahkan Islam dan membebaskan umat Kristen dari jajahannya. Berdasarkan pada pandangan itu, maka Gereja membuat sumpah kudus sehingga banyak orang yang rela berangkat ke Israel untuk memerdekakan Tanah Kudus dari tangan orang Islam.

Sebab kedua terjadi Perang Salib, adalah supaya umat Kristen merebut kembali Yerusalem, kota kudus, dari tangan dan kuasa orang Islam. Sejak Konstantin, banyak orang Kristen berziarah ke Tanah Suci. Walaupun daerah itu dikuasai oleh Islam sejak tahun 638, mereka masih bisa mengunjunginya. Tetapi pada abad kesebelas, orang Seljuk dari Turki menguasi Yerusalem dan melarang kunjungan Umat Kristen ke sana.

Jadi, pada tahun 1095, Paus Urban II menyerukan adanya Perang Salib untuk menghentikan serangan Islam terhadap wilayah-wilayah Kristen. Dalam pidatonya di Musyawarah Clermont di Perancis pada November 27, 1095, ia memanggil orang Kristen dari semua Negara Kristen untuk berziarah ke Tanah Suci dan mengadakan Perang Salib.

Tujuh Perang Salib
I. Yang pertama, 1095-1099, dicanangkan oleh Paus Urban II
II. Yang kedua: 1147-1149, dipimpin oleh Raja Louis VII yang gagal, dan yang mengakibatkan kehilangan salah satu dari empat Kerajaan Latin, yaitu, Edessa.
III. Yang ketiga: 1188-1192, dicanangkan oleh Paus Gregory VIII sesudah kegagalan perang salib yang kedua. Dipimpin oleh Emperor Frederick Barbarossa, Raja Philip Augustus dari Perancis dan Raja Richard "Coeur-de-Lion" dari Inggris.
IV. Yang keempat: di mana Konstantinopel dihancurkan, 1202-1204
V. Yang kelima: termasuk yang direbutnya Damietta, 1217-1221.
VI. Yang keenam: di mana Frederick II ikut berperang (1228-1229); juga Thibaud de Champagne dan Richard dari Cornwall (1239).
VII. Yang ketujuh: dipimpin oleh St. Louis (Raja Louis IX dari Perancis), 1248-1250.

Kerajaan Perang Salib (1099 sampai 1187)
Pada tahun 1099, Yerusalem diduduki oleh para Laskar Salib. Banyak orang Yahudi yang dibunuh dan hampir semua diusir. Ada empat “Kerajaan Krusader” yang didirikan di Israel pada waktu itu. Salah satu Kerajaan Krusader didirikan di Yerusalem dan Baldwin I diangkat sebagai Raja Yerusalem. Selama adanya kerajaan itu, banyak sekali perubahan yang terjadi di Yerusalem dan sekitarnya. Orang-orang Yahudi diusir, sehingga mayoritas penduduk Yerusalem menjadi orang Kristen. Yerusalem menjadi kota besar, ibu kota kerajaan, bahkan menjadi kota penting bagi orang Kristen. Jadi, terjadilah perubahan besar dari yang sebelumnya hanya merupakan sebuah kota kecil di pedalaman.

Banyak pembangunan terjadi pada masa itu yang menghasilkan gedung-gedung besar dan membentuk tata kota yang masih bertahan bentuknya sampai sekarang. Yang paling utama dibangun adalah gereja, biara dan asrama bagi peziarah. Dome of the Rock diubah fungsinya dari mesjid menjadi gereja, mesjid al-Aqsa, diberi nama baru, Bait Salomo, dan menjadi tempat tinggal raja. Harus diakui bahwa walaupun awalnya Perang Salib bersifat defensif, makin lama semakin jahatlah perbuatan yang dilakukan oleh Tentara Salib, termasuk pembunuhan atas banyak orang Yahudi dan Muslim. Karena itu, tanggapan umum yang terjadi di hampir semua kalangan terhadap Perang Salib sampai masa kini adalah sangat negatif.

Dampaknya atas orang Yahudi
Walaupun banyak orang Yahudi yang dibunuh dan diusir dari Yerusalem, tetapi masih ada yang tetap tinggal di daerah Palestina dan sekitarnya. Pada 1165, Benjamin dari Tudela, seorang Spanyol yang terkenal, melaporkan bahwa "Akademi Yerusalem" sudah didirikan di Damsyik. Meskipun banyak orang Yahudi yang diusir dari Jerusalem, Acre, Kaisaria dan Haifa, tetapi masih ada yang tetap tinggal di desa-desa di Galilea.
Pada abad ketigabelas, Acre juga memiliki suatu akademi Yahudi. Dilaporkan bahwa selama abad keduabelas dan ketigabelas, masih ada orang-orang Yahudi yang tetap masuk daerah Palestina dari daerah Islam lain, khususnya dari Afrika Utara.

1187 -1291 Zaman Islam di bawah Khalifah Ayyoubite
Pada tahun 1187, Salah al-Din (Saladin) seorang Kurdi, sesudah mendirikan pemerintahan Abbasid atas Fatimid Mesir, ia merebut kota Yerusalem dalam Perang Hattin. Tentaranya mengalahkan tentara Kristen dan kota-kota Kristen lain pun mulai menyerah. Benteng Krusader terakhir, yakni Acre pun jatuh pada tahun 1291. Pada waktu itu, tidak ada lagi sisa-sisa kerajaan dari Perang Salib karena semuanya dibunuh atau pun diusir. Walaupun ada berbagai usaha dan rencana lagi, namun orang Kristen tidak pernah lagi berkuasa di daerah itu sampai abad kesembilanbelas.

Akhirnya, orang-orang Yahudi dan orang-orang Islam diizinkan untuk kembali tinggal di Yerusalem. Pada tahun 1192, Richard “the Lion Heart” berusaha merebut kembali Yerusalem, namun tetap gagal. Jadi, diadakanlah perjanjian dengan Salah al-Din (Saladin) yang mengizinkan orang Kristen mengunjungi dan beribadah di tempat-tempat kudus mereka. Sesudah Yerusalem direbut kembali, Salah al-Din tidak mau membunuh penduduknya dan juga tidak menghancurkan gedung-gedungnya. Ada usaha besar dari orang Kristen selama Perang Salib untuk menghapuskan tanda penguasaan Islam di sana, tetapi tidak bisa. Di dalam pemerintahan baru Islam, gedung seperti Dome of the Rock, dijadikan mesjid lagi dan banyak gedung lain dijadikan sebagai institusi Islam.

Ketika Salah al-Din diancam dengan Perang Salib ketiga, ia membangun kembali tembok Yerusalem. Namun pada tahun 1219, al-Malik al Mu’azzam ‘Isa, memerintahkan agar tembok tersebut dihancurkan kembali. Pada waktu itulah hampir semua penduduk Yerusalem meninggalkan kota tersebut. Sampai zaman Ottoman, 320 tahun kemudian, kota Yerusalem tetap tidak memiliki tembok.

1244, Orang Turki Khawariz merebut Yerusalem.
Waktu orang Turki Khawariz merebut Yerusalem, sekitar 7.000 orang Kristen yang tinggal di Yerusalem dibunuh selain 300 orang yang lari ke Yafa. Bukan hanya itu, serentetan serangan di seluruh daerah itu dari orang Mongol yang menyebabkan banyak penduduk mengungsi untuk mencari ke tempat yang aman. Pada tahun 1260, orang-orang Mamluk mengalahkan orang-orang Mongol pada Perang Ein Jalut di Lembah Yizril di depan Lembah Harmagedon. Setelah terjadinya serangan Khawariz dan Mongol, maka kota Yerusalem hampir kosong dan tidak berpenduduk. Hanya sesudah orang Mamluk menetapkan pemerintahan, maka kota itu dapat diduduki lagi. Tapi, karena pemerintahan Mamluk tidak mengembangkan ekonomi Yerusalem, maka kota itu tidak berkembang. Ia hanya membangun institusi agamawi, seperti mesjid, madrasah, zawia (biara), khanakah (pusat mistik Sufi) dan rumah sakit.

Setelah semua peristiwa itu terjadi, maka Yerusalem bukan lagi menjadi ibu kota kerajaan. Karena itulah, Yerusalem kembali menjadi kota kecil di pedalaman yang tanpa tembok dengan penduduknya sangat sedikit. Keadaan seperti inilah yang terus-menerus terjadi di Yerusalem sampai awal abad ke-20.



Sumber

Rabu, 12 Februari 2014

Misteri Valentine’s Day 2

Valentine’s Day konon berasal dari kisah hidup seorang Santo (orang suci dalam Katolik) yang rela menyerahkan nyawanya demi cinta orang lain. Nama orang suci itu Santo Valentinus. Namun sejarah Gereja sendiri tidak menemukan kata sepakat tentang siapa sesungguhnya sosok Santo Valentinus sendiri. Bahkan banyak yang kemudian mengakui bahwa sesungguhnya, kisah mengenai Santo Valentinus sama sekali tidak memiliki dasar yang kuat dan diyakini hanya merupakan mitos atau dongeng, sebuah eufismisme dari ‘kedustaan’. Sebab itu, Gereja sebenarnya telah mengeluarkan surat larangan bagi pengikutnya untuk ikut-ikutan merayakan ritual yang tidak berdasar ini.
Saat ini ada banyak cerita tentang Santo Valentinus. Sekurangnya ada tiga nama Valentine yang diyakini meninggal pada 14 Februari (The Catholic Encyclopedia Vol. XV, sub judul St.Valentine). Seorang di antaranya dilukiskan sebagai orang yang mati pada masa kekuasaan Kaisar Romawi. Namun ini pun tidak pernah ada penjelasan yang detil siapa sesungguhnya tokoh “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda. Tiga nama Santo yang menjadi martir tersebut yakni seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna (modern Terni), dan seorang martir di provinsi Romawi Afrika. Koneksi antara ketiga martir ini dengan Hari Valentine juga tidak jelas.

VERSI PERTAMA
Versi pertama menceritakan bahwa Santo Valentinus merupakan seorang Katolik yang dengan berani mengatakan di hadapan Kaisar Cladius II yang berkuasa di Roma bahwa Yesus adalah satu-satunya tuhan dan menolak menyembah para dewa dan dewi orang Romawi. Kaisar Claudius II sangat marah dan memerintahkan agar Valentinus dimasukkan ke dalam penjara. Orang-orang yang bersimpati pada Santo Valentinus diam-diam menulis surat dukungan dan meletakkannya di depan jeruji penjara. Ini saja versi pertama, tidak ada kisah tentang cinta dan kasih sayang.

VERSI KEDUA
Kisah kedua juga masih menceritakan tentang Kaisar Claudius II. Hanya saja kali ini soal ambisi dan keyakinan Sang Kaisar bahwa Kerajaan Romawi harus terus jaya dan sebab itu membutuhkan bala-tentara yang kuat, terampil, dan kokoh tak terkalahkan. Super tentara ini menurut Kaisar Claudius II hanya bisa dipenuhi oleh para pemuda yang masih suci, yang belum pernah menyentuh wanita. Maka Kaisar Claudius pun mengeluarkan larangan kepada semua pemuda di Roma untuk tidak menjalin hubungan dengan wanita.
Keputusan Sang Kaisar di mana setiap titahnya merupakan hukum yang sama sekali tidak boleh ditawar-tawar menggegerkan rakyatnya. Banyak yang sesungguhnya menolak hal ini, namun mereka tidak berani untuk menentangnya secara terang-terangan. Karena setiap yang melanggar titah Sang Paduka taruhannya teramat mahal: nyawanya sendiri.
Namun di luar kelaziman pada zaman itu, dua tokoh Gereja—Santo Valentinus dan Santo Marius—diam-diam menentang keputusan Kaisar Claudius dan menyebutnya sebagai hal yang menyalahi kecenderungan alamiah manusia. Namun tidak disinggung mengapa pula kedua tokoh Gereja ini tidak memprotes aturan Gereja sendiri yang mengharuskan para Pastor dan Biarawati hidup selibat. Bahkan diduga kuat, kedua orang ini juga menerapkan hidup selibat. Sayangnya, tidak ada petunjuk tentang hal ini.
Secara diam-diam, kedua tokoh Gereja ini tetap menikahkan pasangan muda yang ingin menikah dan menjadi konselor atau penasihat bagi kaum muda yang mengalami kendala dalam berhubungan dengan pasangannya.
Suatu waktu Kaisar Claudius mendengar berita tersebut dan langsung memerintahkan penangkapan atas keduanya. Santo Valentinus dan Santo Marius pun dijebloskan ke dalam penjara. Vonis mati pun dengan cepat dijatuhkan.
Dalam versi ini, di dalam penjara Santo Valentinus jatuh hari pada anak seorang sipir. Cintanya mendapat sambutan hangat. Anak gadis sang sipir atau penjaga penjara ini pun jatuh hati padanya. Sang gadis sering mengunjungi Valentinus hingga kekasihnya dihukum mati.
Cerita ini menjadi salah satu mitos yang paling dikenang hingga pada 14 Februari 496 M, Paus Gelasius meresmikan hari itu sebagai hari untuk memperingati Santo Valentinus (The World Book Encyclopedia 1998). Walau demikian, Paus Gelasius sendiri mengakui bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui secara pasti mengenai martir-martir ini. Walau demikian, Gelasius II tetap menyatakan tanggal 14 Februari tiap tahun sebagai hari raya peringatan Santo Valentinus. Ada yang mengatakan, Paus Gelasius II sengaja menetapkan hal ini untuk menandingi hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.
Hari Valentine yang oleh Paus Gelasisu II dimasukkan dalam kalender perayaan Gereja, pada tahun 1969 dihapus dari kalender gereja dan dinyatakan sama sekali tidak memiliki asal-muasal yang jelas. Sebab itu Gereja melarang Valentine’s Day dirayakan oleh umatnya. Walau demikian, larangan ini tidak ampuh dan V-Day masih saja diperingati oleh banyak orang di dunia.



Sumber

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.