1. Kanjeng Ratu Kidul
Kanjeng Ratu Kidul , sosok yang percayai sebagai penjaga dan penguasa
“Alam Gaib” , yang mempunyai Istana di Pantai Selatan Jawa, tetapi sosok
Kanjeng Ratu ini juga dipercayai oleh sebagian masyarakat Sumatera yang
bermungkin di sepanjang pantai Samudera Hindia, Konon menurut keyakinan
sebagian masyarakat Kanjeng Ratu Kidul merupakan sosok yang baik dan
menjaga daerah pesisir pantai sepanjang Samudera Hindia dari perbuatan
Maksiat. Untuk asal usul nya sangat beragam di masyarakat, ada sebagian
masyarakat mengatakan ia merupakan seorang putri dari kerajaan Siliwangi
, tetapi masyarakat pesisir Sumatera menganggap Kanjeng Ratu Kidul (Ibu
Ratu Kidul) ini sebagai salah satu sosok makhluk Gaib beraliran putih
(baik).
2. Nenek Lampir (Mak Lampir)
Legenda Nenek Lampir atau lebih dikenal dengan sebutan Mak Lampir di
Sumatera, merupakan legenda masyarakat dari kaki Gunung Marapi atau
Berapi yang terletak di propinsi Sumatera Barat tepatnya di Kabupaten
Agam, Legenda Mak Lampir ini juga sangat berkaitan dengan Legenda 7
Manusia Harimau yang juga berasal dari Sumatera Barat , Sebagian
Propinsi Bengkulu dan Lampung.
Konon menurut cerita masyarakat sekitar “Nyi Lampir” merupakan manusia
yang mencari jalan untuk dapat hidup kekal abadi dan akhirnya bersekutu
dengan Jin dan Setan untuk mewujudkan semuanya. “Lampir” hidup hingga
ribuan tahun sehingga dijuliki “Mak Lampir”, berkelana dari Swarna Dwipa
Hingga Jawa Dwipa dan akhirnya konon juga mendirikan kerajaan Iblisnya
di Puncak Gunung Merapi Jawa. Dan untuk sosok (Datuk Panglima Kumbang),
merupakan pimpinan dari pasukan harimau, konon sebelum menjadi “Mak
Lampir” merupakan seorang putri yang mencintai sang Datuk, tetapi karena
tidak disetujui orang tua nya akhirnya sang putri dibuang dan melakukan
pertapaan di Gunung Merapi.
Datuk Panglima Kumbang sebenarnya juga mencintainya, tetapi akhirnya
dalam sebuah pertempuran Datuk meninggal, setelah itu “Lampir” dengan
segenap kekuatannya menghidupkan kembali Datuk, tetapi Tuhan berkehendak
Lain, setelah Datuk hidup kembali bukan cinta yang didapati Lampir,
Datuk berpendapat bahwa Lampir adalah Setan dan penebar teror kepada
masyarakat. itulah mula peperangan Gaib terjadi antara hitam dan putih.
untuk cerita sembara dan grandong tidak ditemukan ceritanya, banyak
masyarakat beranggapan kedua tokoh tersebut merupakan tokoh fiksi untuk
menghidupkan Legenda ini dilayar kaca.
3. Nyi Roro Kidul
Nyi Roro Kidul merupakan legenda masyarakat tentang penunggu pantai
Selatan, selalu diidentikkan dengan warna hijau sebagai warna kebesaran
dari sosok sang Nyi, rabu Siliwangi memerintah di Kerajaan Pajajaran, ia
memiliki seorang permaisuri cantik dan sejumlah 7 selir.permaisuri
melahirkan anak perempuan cantik pula, bahkan melebihi kecantikan
ibundanya. Ia dinamai Putri Lara Kadita yang berarti Putri Nan Cantik
Jelita. Tetapi para selir iri dan akhirnya menyebarkan penyakit kepada
sang Putri. Akhirnya Permaisuri dan Putri berkelana, konon ceritanya
dalam perjalanan ini sang Permaisuri meninggal, tetapi Putri tetap
melanjutkan perjalanannya, Hinga iya tertidur dan bermimpi bertemu
dengan “orang suci” yang memberi nasihat agar sang putri menyucikan diri
dengan terjun ke laut untuk mendapatkan kesembuhan, mengembalikan
kecantikannya, sekaligus memperoleh kekuatan gaib untuk membalas
penderitaan yang dia alami
Ketika terbangun, tanpa ragu Putri Lara Kadita melompat dari tebing
curam ke tengah gulungan ombak, dan tenggelam ke dasar Laut Selatan.
Mimpinya pun menjadi kenyataan. Selain sembuh dan kembali cantik, ia
juga beroleh kekuatan gaib serta keabadian. Namun, sang putri harus
tetap tinggal di Laut Selatan. Sejak itu ia disebut sebagai Nyi Loro
Kidul (yang artinya loro = derita, kidul = selatan), atau sang Ratu
Penguasa Laut Selatan. Tetapi ada juga yang beranggapan bahwa Nyi Loro
Kidul merupakan sosok jahat dari penguasa Pantai Selatan dan penyebar
malapetaka, dan ada juga yang beranggapan Nyi Loro Kidul sama dengan
Ratu Laut Kidul, dan ada pendapat lain juga bahwa Nyi Loro Kidul
merupakan pribadi yang berbeda dengan Ratu Laut Kidul.
4. Nyi Blorong
Konon kabarnya Nyi Blorong sama dengan Nyi Loro Kidul , tetapi berwujud
sebagai putri Ular, yang ditugaskan untuk menggoda manusia dan
menyesatkan manusia dengan cara-cara pesugihan, tetapi menurut sumber
lain mengatakan Nyi Blorong adalah sebutan untuk Nyimas Dewi Anggatari,
anak dari Nyimas Dewi Rangkita (yang dikenal sebagai Ratu Galuh), anak
dari Nyimas Dewi Anggista, putri bungsu dari Raja Caringin Kurung ke-XI,
Prabu Jaya Cakra. Bukan hanya itu,yang mengungkapkan secara rinci
kehidupan dari sejak kecil sampai mengapa dia kemudian dikenal sebagai
Nyi Blorong yang mampu memberikan kekayaan atau pesugihan ngipri.
Sebenarnya masih banyak tokoh-tokoh mistis Legenda di Indonesia seperti
Kuntilanak, Wewegombel, Genderuwo dan lain sebagainya, akan tetapi 4
Tokoh di atas lebih dominan dalam legenda Indonesia dan selalu dikaitkan
dengan keparcayaan leluhur kita pada masa dulu hingga sekarang. Akan
tetapi terlepas dari cerita-cerita itu semua, kita memang harus
menyakini bahwa dunia mereka berbeda dengan dunia kita, dan Yakinlah
Bahwa Allah SWT akan melindungi kita dari semua godaan dan gangguan
Setan , Iblis dan Jin asal kita hanya berlindungi kepada Nya, bukan
kepada benda kramat atau Pusaka-pusaka yang dianggap mempunyai kekuatan
Magis.
Sumber
Tampilkan postingan dengan label Makhluk Ghaib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makhluk Ghaib. Tampilkan semua postingan
Minggu, 16 Februari 2014
Rabu, 08 Januari 2014
Serafim, Kerub, Abadon, dan Buraq
Posted By:
Unknown
on 11.42
1. Serafim
Serafim (Heb. שׂרף, pl. שׂרפים Seraphim, lat. seraph[us], pl. seraphi[m]) adalah salah satu makhluk surga yang disebutkan sekali di dalam Kitab Suci Yahudi (Tanakh atau Perjanjian Lama), di dalam Yesaya. Gambaran kaum Yahudi atas makhluk ini kemudian menjadikan mereka dalam bentuk manusia, dan bentuk inilah yang kemudian mereka teruskan ke dalam tingkatan-tingkatan malaikat Kristen. Dalam hierarki malaikat Kristen, serafim mewakili tingkatan tertinggi para malaikat.
Walaupun hal ini adalah satu-satunya kejadian kata "serafim" dalam Kitab Suci Yahudi yang resmi, penggambarannya sama persis dengan Kerubim dan nantinya menjuruskan seseorang untuk menyimpulkan secara logis bahwa keduanya adalah makhluk yang sama. Sumber-sumber non-Kitab Suci bersiteguh dalam menyatakan keduanya sebagai tingkatan yang berbeda dalam tingkatan-tingkatan malaikat.
Serafim diterjemahkan sebagai "ular terbang yang berapi-api" dari Bahasa Ibrani dan adalah kata yang digunakan bagi ular-ular yang menggigit bangsa Israel di gurun. Bilangan 21:6 "Lalu Tuhan menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati."
Sumber
Kerub (jamak: Kerubim) Mahluk surgawi yang bersayap. Mereka menjaga Firdaus (Kejadian 3:24); mendukung kendaraan takhta kemuliaan Tuhan (Yehezkiel 9:3; 10:1). Di atas tutup pendamaian tabut perjanjian Allah terdapat dua kerub (Keluaran 25:18-20). Karena itu timbullah sebutan Tuhan yang bersemayam di atas para Kerub (1Samuel 4;4 dan Keluaran 25:22).
Sumber
Sumber
Serafim (Heb. שׂרף, pl. שׂרפים Seraphim, lat. seraph[us], pl. seraphi[m]) adalah salah satu makhluk surga yang disebutkan sekali di dalam Kitab Suci Yahudi (Tanakh atau Perjanjian Lama), di dalam Yesaya. Gambaran kaum Yahudi atas makhluk ini kemudian menjadikan mereka dalam bentuk manusia, dan bentuk inilah yang kemudian mereka teruskan ke dalam tingkatan-tingkatan malaikat Kristen. Dalam hierarki malaikat Kristen, serafim mewakili tingkatan tertinggi para malaikat.
Serafim dalam Kitab Yesaya
Yesaya (6:1–3) mencatat pengelihatan sang nabi terhadap Serafim:- ... aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang.
Walaupun hal ini adalah satu-satunya kejadian kata "serafim" dalam Kitab Suci Yahudi yang resmi, penggambarannya sama persis dengan Kerubim dan nantinya menjuruskan seseorang untuk menyimpulkan secara logis bahwa keduanya adalah makhluk yang sama. Sumber-sumber non-Kitab Suci bersiteguh dalam menyatakan keduanya sebagai tingkatan yang berbeda dalam tingkatan-tingkatan malaikat.
Serafim diterjemahkan sebagai "ular terbang yang berapi-api" dari Bahasa Ibrani dan adalah kata yang digunakan bagi ular-ular yang menggigit bangsa Israel di gurun. Bilangan 21:6 "Lalu Tuhan menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati."
Serafim mengelilingti tahta ilahi dalam ilustrasi dari Petites Heures de Jean de Berry, sebuah manuskrip dengan hiasan cahaya dari abad ke-14..
Sumber
2. Kerub
Kerub atau Kerubim (Ibrani כרוב, pl. כרובים, trans kruv, pl. kruvim, dual kruvayim lat. cherub[us], pl cherubi[m]) adalah sebuah istilah yang muncul dalam Alkitab, misalnya pada Keluaran 25:18-22 dan Yehezkiel 28:12-15, yang artinya adalah kedudukan yang sangat tinggi atau diurapi dalam pemerintahan Allah (Kerajaan Surga). Kedudukannya sangat tinggi bahkan dari para Malaikat.Kerub (jamak: Kerubim) Mahluk surgawi yang bersayap. Mereka menjaga Firdaus (Kejadian 3:24); mendukung kendaraan takhta kemuliaan Tuhan (Yehezkiel 9:3; 10:1). Di atas tutup pendamaian tabut perjanjian Allah terdapat dua kerub (Keluaran 25:18-20). Karena itu timbullah sebutan Tuhan yang bersemayam di atas para Kerub (1Samuel 4;4 dan Keluaran 25:22).
Bentuk atau wujud Kerub/Kerubim
Dari penjelasan Alkitab baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, dapat dipisahkan di dalam empat rupa/bentuk/wujudnya (Yehezkiel 10 dan Wahyu 4):- Mahluk pertama sama seperti singa
- Mahluk kedua sama seperti anak lembu/atau muka kerub
- Mahluk yang ke tiga, mempunyai muka seperti muka manusia
- dan Mahluk yang ke empat sama dengan seperti burung nazar yang sedang terbang/atau muka rajawali.
Sumber
3. Abadon
Abadon berasal dari bahasa Ibrani (אֲבַדּוֹן) dan dalam bahasa Yunani adalah Apolion (Ἀπολλύων; apollyon) yang artinya ialah Malaikat Jurang Maut (Abyssos) seperti yang dicatat dalam Kitab Wahyu kepada Yohanes pasal 9:- Dan raja yang memerintah mereka ialah malaikat jurang maut; namanya dalam bahasa Ibrani ialah Abadon dan dalam bahasa Yunani ialah Apolion.[1]
Misi Salib
Abadon atau Apolion malaikat inilah yang ditundukkan oleh Mesias dalam misi kematian Yesus Kristus di kayu salib, perjalanan Yesus sebagai manusia biasa yang "menanggung dosa seluruh umat manusia" ke alam maut selama tiga hari untuk merebut kunci jurang maut (Injil). Dengan kemenangan Yesus dari upah dosa yang adalah maut merupakan misi kunci Mesias, untuk menebus umat-umat pilihan Allah, pada saat kebangkitan orang-orang mati di hari Penghakiman Yesus.Referensi
Sumber4. Buraq
Buraq (bahasa Arab: البراق , al-burāq; "cahaya atau kilat") adalah sesosok makhluk tunggangan ajaib, yang membawa Nabi Muhamad SAW dari Masjid al-Aqsa menuju Mi'raj ketika peristiwa Isra Mi'raj. Makhluk ini diciptakan Allah tebuat dari cahaya. Dilihat dalam kamus bahasa, maka kita akan menemukan istilah "buraq" yang diartikan sebagai "Binatang kendaraan Nabi Muhammad Saw", dia berbentuk kuda bersayap kiri kanan. Dalam pemakaian umum, "buraq" itu berarti burung cendrawasih, yang oleh kamus diartikan dengan burung dari sorga (bird of paradise). Sebenarnya "buraq" itu adalah istilah yang dipakai dalam Al Qur'an dengan arti "kilat" termuat pada ayat 2/19, 2/20 dan 13/2 dengan istilah aslinya "Barqu".
Buraq dari abad ke-17, lukisan dari Mughal
Sumber
Tafsir Sourate 2 (Al Baqarah) - Verset 102 sur Hârût et Mârût
Posted By:
Unknown
on 11.25
Nous trouvons régulièrement dans les traductions du Qur°ân en version française :
« Et
ils suivirent ce que les diables racontent contre le règne de
Sulaymân. Alors que Sulaymân n'a jamais été mécréant mais bien les
diables : ils enseignent aux gens la magie ainsi que ce qui est descendu
aux deux anges Hârut et Mârut, à Babylone ; mais
ceux-ci n'enseignaient rien à personne, qu'ils n'aient dit d'abord :
« Nous ne sommes rien qu'une tentation : ne soit pas mécréant » ; ils
apprennent auprès d'eux ce qui sème la
désunion entre l'homme et son épouse. Or ils ne sont capables de
nuire à personne qu'avec la permission d'Allâh. Et les gens apprennent
ce qui leur nuit et ne leur est pas profitable. Et ils
savent, très certainement, que celui qui acquiert [ce pouvoir]
n'aura aucune part dans l'au-delà. Certes, quelle détestable marchandise
pour laquelle ils ont vendu leurs âmes! Si seulement ils
savaient ! »
[Sourate 2 - Verset 102]
Une
telle traduction est cependant totalement erronée au vue de la réalité
du sens de ce verset et
de la croyance des Ahl Us Sunnah concernant les Anges, ce que nous
allons démontrer au sein de cet article si Allâh le veut. Cette mauvaise
traduction est dut au fait qu'il existe une divergence
à propos de l'interprétation de ce verset entre les exégètes et que
bon nombre d'entre eux se sont contentés de rapporter des récits
non-authentiques provenant des gens du livre afin de le
commenter, notamment des juifs, qui sont réputés pour leurs
calomnies en tout genre à propos des Prophètes et des Anges (que La Paix
d'Allâh soit sur eux tous). D'ailleurs, Al Imâm Ismâ'îl Ibn
Kathîr (qu'Allâh lui fasse miséricorde) a dit dans son Bidâyah wa An Nihâyah : « De nombreux récits furent rapportés à leur sujet (Hârut et
Mârut), dont la plupart son d'origine israélite. »
Et c'est ainsi que le Qâdî 'Iyâd Ibn Mûsâ Al Mâlikî (qu'Allâh lui fasse miséricorde) a dit dans son Kitâb Ush Shifâ° :
« La
plupart des récits rapportés sur cet épisode proviennent des
livres des juifs et de leur intervention, comme Allâh le mentionne
dans le premier verset de ce récit dans lequel ils calomnient Sulaymân
et l'accusent de mécréance. Voilà pourquoi nous allons
rapporter à ce sujet ce qui éclaire ces questions et les dévoile, si
Allâh le veut.
Tout
d'abord, il faut savoir qu'il y a eu divergence sur
la nature de Hârut et de Mârut ; Sont-ils deux Anges ou deux êtres
humains ? [Si ils sont des Anges], sont-ils les deux Anges visés [dans
ce verset] ? Doit-on lire « malakayn – deux
Anges » ou bien « malikayn – deux rois » ? Est-ce que le « mâ » dans
les deux Paroles Divines du verset 102 de la Sourate Al Baqarah :
« ce qui (mâ) est descendu aux deux anges Hârut et Mârut, à Babylone », « Cependant, ceux-ci n'enseignaient rien à personne (wa mâ yu'allimâni min ahadin... » est une particule affirmative ou bien de négation ?
La
plupart des exégètes considèrent qu'Allâh (qu'Il soit
exalté) a éprouvé les hommes par deux Anges qui auraient enseigné la
sorcellerie et l'expliquaient, car la sorcellerie est de la mécréance.
Ainsi, celui qui apprenait la sorcellerie mécroyait et
celui qui l'abandonnait croyait, car ces deux Anges disent dans le
Qur°ân : « Nous ne sommes qu'une tentation, ne soit donc pas mécréant »
[Sourate 2 – Verset 102].
Donc leur enseignement aux hommes relèveraient d'une instruction pour
les avertir, c'est-à-dire qu'ils disaient à celui qui vient pour acquérir cette sorcellerie : « Ne
la pratique pas, car elle sépare le mari de sa femme et ne recours pas à
la magie
comme une machination, car ceci est de la sorcellerie, évite donc la
mécréance ! » De cette manière, l'œuvre des deux Anges relèverait de
l'obéissance et leur attitude dans ce qui constitue
un ordre pour eux n'est pas une désobéissance. Ce serait ainsi
uniquement une tentation pour les gens.
Ibn
Wahb rapporte également sur cela qu'on a évoqué en la présence de
Khâlid Ibn Abî 'Imrân le cas de Hârut et Mârut en disant qu'ils
enseignaient la sorcellerie, il dit alors : « Nous les innocentons (les
Anges en général) d'une telle pratique. » Et
quelqu'un parmi ceux qui étaient présent lu alors le verset de cette
manière : « wa unzila 'alal malakayn – et ce qui a été révélé aux deux
Anges » en omettant la particule
« mâ », mais Khâlid corrigea en disant : « wa mâ unzila - il ne leur
a pas été révélé ».
Donc,
voici Khâlid qui, avec sa notoriété et sa science, innocente deux
Anges de pouvoir enseigner la sorcellerie bien que d'autres estiment
que ceci leur est permis à la seule condition d'expliquer aux gens que
c'est une mécréance et une épreuve de la part d'Allâh.
Mais alors, comment, dans de telles conditions, ne les
innocent-t-ils pas des péchés majeurs et de la mécréance évoqués dans
ces histoires ?!
L'expression de Khâlid : « Il ne leur a pas été révélé – wa mâ
unzila » signifie que le « mâ » est ici une particule de négation. Et ceci constitue d'ailleurs la position de Ibn 'Abbâs.
Et
de son côté, Al Makkî dit que tout ceci revient à dire : « Sulaymân n'a
pas
mécru, c'est-à-dire qu'il n'a pas mécru en pratiquant la sorcellerie
inventée par les démons, qui furent suivis en cela par les juifs, et
que cela n'a jamais été révélé à deux Anges (wa mâ unzila
'alal malakayn). »
Pour
Al Makkî, ce sont Jibrîl et Mikâ°îl que les juifs accusent d'avoir
apporté la
sorcellerie, de la même manière qu'ils accusèrent Sulaymân de cela.
Mais Allâh les a alors démentis à ce sujet. On a dit aussi que Hârut et
Mârut sont deux hommes qui apprirent la sorcellerie et
que ce sont donc les démons qui ont mécru en enseignant la magie aux
hommes que sont Hârut et Mârut de [la ville] de Babylone.
De son côté, Al Hasan [Al Basrî] a dit que Hârut et Mârut étaient deux non-Arabes parmi les habitants de Bâbil. Il a ainsi lu
: « wa mâ unzila 'alal malikayn – et ce qui a été révélé aux deux rois » au lieu de malakayn (les deux Anges).
Selon cette lecture, le « mâ » est une particule affirmative.
C'est également la lecture retenue par 'Abd Ur Rahmân
Ibn Abza sauf qu'il a identifié les deux rois comme étant ici Dâwud et
Sulaymân. Selon ce dernier avis, le « mâ » est alors ici une particule
de négation. Et As Samarqandî rapporte qu'il s'agirait plutôt de
deux rois parmi les Banî Isrâ°îl qu'Allâh avait rabaissés (et donc que
le « mâ » est une particule affirmative).
Cependant, la lecture qui retient le terme « al malikayn » est
plutôt rare.
Pour conclure, l'interprétation du verset selon ce qui a été retenu par Abû
Muhammad Al Makkî
reste la bonne car elle innocente les Anges, les débarrasse de toute
souillure et les purifie. D'autant plus qu'Allâh les a
qualifiés par les termes : « mutahharûn - purs », « kirâm -
nobles », « barakât - bénis », « qui ne désobéissent point à l'ordre
d'Allâh. ». »
Et nous refusons également catégoriquement l'interprétation faisant de ces deux
êtres des Anges. Comme l'a si bien dit l'Imâm Abû 'Abdi Llâh Muhammad Al Qurtubî Al Ansârî (qu'Allâh lui
fasse miséricorde) dans son Tafsîr intitulé Jâmi' lî
Ahkâm Il Qur°ân : « Tout
ce qui a été rapporté à ce sujet est faible et très loin de Ibn 'Umar
et
des autres. Rien de tout cela n'est authentique. C'est assurément
une parole que les fondements [de la croyance] envers les Anges, qui
sont les sincères dépositaires d'Allâh (umanâ°u Llâh) de Sa
révélation et Ses ambassadeurs (sufarâ°) envers les Messagers,
réfutent. « Ils ne désobéissent point à ce
qu'Allâh leur commande et font strictement ce qu'Il leur ordonne. » [Sourate 66 – Âyah 6]
; « Ils sont des serviteurs honorés qui ne prennent pas la parole avant Lui et n'agissent que sur Ses
ordres. » [Sourate 21 – Versets 26 et 27] ; « Ils L'exaltent nuit et jour, sans relâche. » [Sourate 20 – Verset 21]... »
Et Al Imâm Abû 'Abdi Llâh Muhammad Al
Qurtubî Al Ansârî (qu'Allâh lui fasse miséricorde) a dit aussi dans le 15ème point du commentaire
de ce verset :
« Ici, le « mâ » est négatif et non un
pronom relatif. Cela (le verset) est dut au fait que les juifs avaient dit : « Certes, Allâh a révélé la sorcellerie à Jibrîl et
Mikâ°îl », Allâh a alors nié
cela. Dans cette parole, on a avancé ce qui aurait dut être
[généralement] en retrait. Donc la phrase a le sens suivant :
« Sulaymân n'a pas mécru et cette chose (la sorcellerie) n'a pas été
révélée aux deux Anges. Ce sont plutôt les shayâtîn
qui ont mécru. Ils
enseignaient aux hommes la magie dans la ville de Bâbil, [et parmi
eux se trouvaient] Hârut et Mârut. » Hârut et Mârut sont les shayâtîn qui
sont nommés dans Sa Parole : « Ce sont plutôt les shayâtîn qui ont
mécru ».
Ceci
est la meilleure interprétation de ce verset que l'on peut trouver
et elle est la plus authentique par rapport à tout ce qui a été dit à
ce sujet. Et aucune autre interprétation ne doit faire l'objet d'une
quelconque attention.
La sorcellerie vient des shayâtîn
à cause de la finesse de leur substance et de la subtilité de leur
compréhension [dans ce domaine]. Et la plupart de ceux qui la pratique
parmi les
humains sont d'ailleurs les femmes, et particulièrement lorsque
elles ont leurs règles ; d'ailleurs, Allâh (qu'Il soit exalté) a dit : « Et contre le mal
de celles qui soufflent sur les nœuds » [Sourate 113 – Verset 4].
Et le poète a dit : « Je recherche la protection auprès de mon
Seigneur contre celles qui soufflent... ». »
Quant à l'histoire de ce verset, la voici :
Al Imâm Rabî' Ibn Anas (qu'Allâh lui fasse miséricorde) a dit : « Il
y eut une période pendant laquelle, chaque fois que les juifs
interrogeaient le Prophète sur un point de la Thora, Allâh faisait
descendre un verset qui lui
permettait de leur répliquer. Voyant cela, ils en arrivèrent à dire :
« Celui-là est plus savant que nous-mêmes sur ce qui nous a été
transmis ! ». Ils décidèrent alors de l'interroger
sur la sorcellerie et de débattre avec lui sur ce sujet. Alors,
Allâh révéla le verset : « […] et ils suivent les textes dictés par les démons
à propos du règne de Sulaymân […] ». » [Tafsîr At Tabarî].
Et l'Imâm 'Abd Ul Mâlik Ibn Jurayj (qu'Allâh lui fasse miséricorde) a dit : « Les shayâtîn enseignèrent la sorcellerie aux juifs au temps du règne de Sulaymân et c'est après ce
règne qu'ils s'adonnèrent (massivement) à cette sorcellerie. » [Tafsîr At Tabarî].
Et l'Imâm Ismâ'îl As Suddî (qu'Allâh lui fasse miséricorde) précisa :
« [A l'époque de Sulaymân], les shayâtîn
accédaient à des endroits du ciel où ils pouvaient entendre les propos
des Anges sur ce qui surviendraient plus tard sur terre […]. Ils
transmettaient
ensuite ces propos aux devins qui les révélaient ensuite aux gens.
Une fois que les devins eurent constaté que ces choses se réalisaient et
qu'ainsi leur confiance à l'égard des shayâtîn
était bien confortée, ceux-ci commencèrent à leur mentir en
introduisant des propos qu'ils n'avaient pas du tout entendus, au point
d'ajouter à chaque mot
véridique 70 mots supplémentaires. Or, les hommes consignaient ces
propos dans des écrits et le bruit se répandit parmi les Banî Isrâ°îl
que les jinns connaissaient le monde invisible (al
ghayb).
Sulaymân
envoya alors des émissaires dans le peuple afin qu'ils
réunissent tous ces récits. Lorsque cela fut terminé, il plaça ces
textes dans un coffre qu'il fit enterrer sous son trône, et aucun démon
ne pouvait alors s'en approcher sans être aussitôt
consumé. Sulaymân avertit alors que quiconque prétendrait que les
jinns connaissent le monde invisible (al ghayb) serait mis à mort.
Après
sa mort et une fois que tous les savants qui
connaissaient cette affaire moururent, satan se présenta sous
l'aspect d'un être humain à un groupe des Banî Isrâ°îl et leur dit : « Je vais vous
indiquer un trésor que vous n'épuiserez jamais ! »
Ils lui répondirent : « D'accord
! »
Il dit : « Creusez donc sous le trône [de Sulaymân]. »
Il
s'y dirigea alors avec eux, et, tout en restant à
l'écart (afin de ne pas être consumé), leur indiqua l'endroit où ils
devaient creuser. [Comme ils s'étonnaient de son attitude], ils lui
demandèrent pourquoi il ne s'approchait pas. [Il esquiva
leur question en disant] « Je suis ici entre vos mains, si vous ne trouvez rien, alors tuez moi ! »
Ils creusèrent et trouvèrent les textes en question.
Satan leur dit alors : « C'est par cette sorcellerie [consignée dans ces textes] que Sulaymân exerçait son influence sur les hommes, les diables et les
oiseaux. »
Et c'est ainsi que se répandit parmi les Banî Isrâ°îl l'opinion selon
laquelle Sulaymân aurait été un sorcier, et les Banî Isrâ°îl conservèrent ces écrits jusqu'à l'arrivée de Muhammad (que Le Salut et La Paix
d'Allâh soient sur lui) et s'en servirent pour controverser avec lui […] » [Tafsîr At Tabarî].
Telles sont donc les principales connaissances à acquérir à propos de ce verset, que nous
traduirons donc comme suit :
« Et
ils suivirent ce que les diables racontent à l'encontre du
règne de Sulaymân. Alors que Sulaymân n'a jamais été mécréant (mâ
kafara Sulaymân), ce sont plutôt les diables Hârut et Mârut qui
l'étaient : ils enseignaient la sorcellerie aux gens, et cette
dernière n'a jamais été descendue sur les deux Anges [Jibrîl et
Mikâ°îl] (wa mâ unzila 'alal malakayn) à Babylone. Cependant, ceux-ci
n'enseignaient rien à personne sans qu'ils n'aient dit
d'abord : « Nous ne sommes rien d'autre qu'une tentation : ne soit
pas mécréant » ; ils (les gens) apprenaient auprès d'eux ce qui sème la
désunion entre l'homme et son épouse. Or ils
ne sont capables de nuire à personne si ce n'est avec la permission
d'Allâh. Et les gens apprennent ce qui leur nuit et ne leur est pas
profitable. Et ils savent très certainement que celui qui
acquiert [ce pouvoir] n'aura aucune part dans l'au-delà. Quelle
détestable marchandise pour laquelle ils ont vendu leurs âmes ! Si
seulement ils savaient
! »
Et nous conclurons par cette invocation tirée du Coran :
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ
أَنتَ الْوَهَّابُ
« Rabbanâ lâ tuzigh qulubanâ ba'da idh hadaytanâ wa hab lanâ
min~ladunka rahmatan, innaka antal wahhâb – Ô notre Seigneur ! Ne détourne pas nos cœurs après nous avoir guidé, et répand Ta miséricorde sur
nous, car Tu es certes Le Dispensateur de toute grâce (Al Wahhâb) ! »
[Sourate 3 – Verset 8]
Sumber
Misteri Harut dan Marut
Posted By:
Unknown
on 11.20
Allah swt berfirman :
Artinya : “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, Tiadalah baginya Keuntungan di akhirat, dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al Baqoroh : 102)
Syeikh Athiyah Saqar menyebutkan bahwa di beberapa buku tafsir disebutkan kedua malaikat itu telah diturunkan ke bumi sebagai fitnah sehingga Allah swt mengadzab mereka berdua dengan menggantung kedua kaki mereka, perkataan para mufassir ini bukanlah hujjah (dalil) dalam hal ini, hal itu berasal dari warisan masyarakat Babilonia dan penjelasan orang-orang Yahudi serta kitab-kitab Nasrani.
Dan perkataan mereka yang paling dekat tentang kedua malaikat tersebut adalah bahwa masyarakat saat itu mendapatkan fitnah dengan para tukang sihir sehingga mereka mengangkat para tukang sihir itu sampai ke derajat para nabi. Kemudian Allah swt menurunkan dua malaikat untuk mengajarkan kepada manusia sihir agar mereka bisa membedakan antara sihir dengan kenabian serta memperingatkan mereka tentang fitnah terhadapnya. Atau—ada juga yang mengatakan—bahwa mereka berdua adalah dua orang yang memiliki ilmu dan akhlak mulia sehingga menjadi fitnah di masyarakat dan mereka memberikan kepada kedua orang itu nama dua malaikat. Hal ini dari aspek penyerupaan dan gaya bahasa yang sudah difahami sejak dahulu sebagaimana saat ini nama Malaak digunakan untuk seorang yang istimewa.
Didalam cerita-cerita kuno masayarakat Babilonia terdapat dua orang yang memiliki nama mirip yaitu Harut dan Marut. Masyarakat saat itu begitu kagum dengan mereka berdua sehingga memberikan kepada keduanya nama dua malaikat. Bahkan kekaguman mereka terhadap keduanya pun bertambah sehingga meyakini bahwa mereka berdua adalah Tuhan.
Kemudian orang-orang Yahudi mempelajari peninggalan dari kedua orang itu berupa hikmah dan sihir yang menjadikan mereka lebih disibukkan olehnya daripada Kitab Allah dan mereka pun membuang Kitab Allah itu dibelakang punggung mereka.
Tidak diperbolehkan bagi kita untuk merujuk kepada cerita-cerita yang dikatakan mereka itu tentang malaikat yang bertentangan dengan kemaksuman mereka. Para malaikat tidaklah maksiat kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan mereka pun melakukan apa-apa yang diperintahkan-Nya, firman Allah swt :
Artinya : “Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.” (QS. Al Anbiya : 26 – 27)
Artinya : “Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih.” (QS. Al Anbiya : 19 – 20) – (Fatawa Al Azhar juz VII hal 436)
Firman Allah swt :
Artinya : ”dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut”
Sayyid Qutb mengatakan bahwa terdapat kisah tentang keduanya yang sudah diketahui dimana orang-orang Yahudi atau para setan telah menganggap bahwa mereka berdua (Harut dan Marut) mengetahui tentang sihir dan mengajarkannya kepada manusia dan kedua malaikat itu menganggap bahwa sihir itu diturunkan kepada mereka berdua! Kemudian Al Qur’an membantah kebohongan ini, kebohongan yang menyatakan bahwa sihir diturunkan kepada kedua malaikat itu.. Selanjutnya Allah swt menjelaskan hal yang sebenarnya, bahwa kedua malaikat itu hanyalah fitnah dan menjadi cobaan bagi manusia untuk sebuah hikmah yang ghaib. Kedua malaikat itu mengatakan kepada setiap orang yang mendatangi dan meminta mereka berdua untuk mengajarinya sihir,
Artinya : “Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir".
Sekali lagi kita dapati Al Qur’an yang menyatakan bahwa mempelajari dan menggunakan sihir adalah suatu kekufuran. Hal ini disebutkan melalui lisan dua malaikat, yaitu Harut dan Marut.
Dan ada sebagian manusia yang memaksa untuk belajar sihir dari kedua malaikat itu walaupun telah diingatkan dan diberitahu. Maka pada saat itu terjadilah fitnah pada sebagian orang-orang yang yang terkena fitnah :
Artinya : “Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya”
Inilah suatu keburukan yang telah diingatkan oleh kedua malaikat itu.... Di sini Al Qur’an menyatakan sebuah kalimat wawasan islam yang mendasar yaitu tidaklah segala sesuatu terjadi di alam ini kecuali dengan izin Allah swt.
Artinya : “dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah”
Dengan izin Allah maka terjadilah sebab-sebab suatu perbuatan, memunculkan bekas-bekasnya dan terealisasi hasil-hasilnya.. Inilah kaidah suatu kalimat yang harus tampak jelas didalam hati seorang mukmin. Permisalahn yang paling dekat adalah apabila anda mengulurkan tangan anda ke api maka ia akan terbakar namun tidaklah terjadi kebakaran itu kecuali dengan izin Allah swt.
Allah lah yang menjadikan api itu membakar dan menjadikan tangan anda terbakar olehnya. Dia juga Maha Kuasa menghentikan kekhususan itu untuk tidak mengizinkan kekhususan itu terjadi, seperti apa yang terjadi terhadap Ibrahim as. Demikian pula sihir yang memisahkan antara seseorang dengan isterinya, dan terjadinya akibat itu dengan izin Allah swt dan Dia swt juga Maha Kuasa untuk menghentikan kekhususan ini untuk tidak terjadi.....
Kemudian Al Qur’an menyatakan hal sebenarnya yang mereka pelajari dan apa yang memisahkan antara mereka dari isterinya... sesungguhnya itu adalah kejahatan yang menimpa diri mereka sendiri dan bukanlah kebaikan :
Artinya : “dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat.”
Dan cukuplah kejahatan ini adalah kekufuran yang menjadi mudharat sesungguhnya yang tidak ada manfaat didalamnya.
Artinya : “Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat”
Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa apa yang mereka beli (sihir itu) tidaklah ada bagian baginya di akherat, yaitu ketika mereka memilih untuk membelinya maka hilanglah seluruh persediaan miliknya di akherat dan juga setiap bagiannya...
Maka sungguh buruklah apa yang diri mereka beli seandainya mereka mengetahui kenyataan dari transaksi tersebut :
Artinya :”dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” --(Fi Zhilalil Qur’an juz I hal 95 – 96)
Tentang pengajaran sihir yang diberikan Harut dan Marut ini, telah diriwayatkan dari Ali ra yang mengatakan bahwa kedua malaikat itu mengajarkan kepada manusia tentang peringatan terhadap sihir bukan mengajarkan untuk mengajak mereka melakukan sihir. Az Zajjaj mengatakan bahwa perkataan itu adalah juga pendapat kebanyakan ahli bahasa. Artinya bahwa pengajaran kedua malaikat itu kepada manusia adalah berupa larangan, keduanya mengatakan kepada mereka,”Janganlah kalian melakukan ini (sihir) dan janganlah kalian diperdaya dengannya sehingga kalian memisahkan seorang suami dari isterinya dan apa yang diturunkan kepada mereka berdua adalah berupa larangan.” (al Jami li Ahkamil Qur’an juz II hal 472)
Wallahu Alam
Sumber
وَاتَّبَعُواْ مَا تَتْلُواْ الشَّيَاطِينُ عَلَى
مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيْاطِينَ
كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى
الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ
أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ
فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ
وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ
وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُواْ
لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ وَلَبِئْسَ مَا
شَرَوْاْ بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ
Artinya : “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, Tiadalah baginya Keuntungan di akhirat, dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al Baqoroh : 102)
Syeikh Athiyah Saqar menyebutkan bahwa di beberapa buku tafsir disebutkan kedua malaikat itu telah diturunkan ke bumi sebagai fitnah sehingga Allah swt mengadzab mereka berdua dengan menggantung kedua kaki mereka, perkataan para mufassir ini bukanlah hujjah (dalil) dalam hal ini, hal itu berasal dari warisan masyarakat Babilonia dan penjelasan orang-orang Yahudi serta kitab-kitab Nasrani.
Dan perkataan mereka yang paling dekat tentang kedua malaikat tersebut adalah bahwa masyarakat saat itu mendapatkan fitnah dengan para tukang sihir sehingga mereka mengangkat para tukang sihir itu sampai ke derajat para nabi. Kemudian Allah swt menurunkan dua malaikat untuk mengajarkan kepada manusia sihir agar mereka bisa membedakan antara sihir dengan kenabian serta memperingatkan mereka tentang fitnah terhadapnya. Atau—ada juga yang mengatakan—bahwa mereka berdua adalah dua orang yang memiliki ilmu dan akhlak mulia sehingga menjadi fitnah di masyarakat dan mereka memberikan kepada kedua orang itu nama dua malaikat. Hal ini dari aspek penyerupaan dan gaya bahasa yang sudah difahami sejak dahulu sebagaimana saat ini nama Malaak digunakan untuk seorang yang istimewa.
Didalam cerita-cerita kuno masayarakat Babilonia terdapat dua orang yang memiliki nama mirip yaitu Harut dan Marut. Masyarakat saat itu begitu kagum dengan mereka berdua sehingga memberikan kepada keduanya nama dua malaikat. Bahkan kekaguman mereka terhadap keduanya pun bertambah sehingga meyakini bahwa mereka berdua adalah Tuhan.
Kemudian orang-orang Yahudi mempelajari peninggalan dari kedua orang itu berupa hikmah dan sihir yang menjadikan mereka lebih disibukkan olehnya daripada Kitab Allah dan mereka pun membuang Kitab Allah itu dibelakang punggung mereka.
Tidak diperbolehkan bagi kita untuk merujuk kepada cerita-cerita yang dikatakan mereka itu tentang malaikat yang bertentangan dengan kemaksuman mereka. Para malaikat tidaklah maksiat kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan mereka pun melakukan apa-apa yang diperintahkan-Nya, firman Allah swt :
Artinya : “Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.” (QS. Al Anbiya : 26 – 27)
Artinya : “Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih.” (QS. Al Anbiya : 19 – 20) – (Fatawa Al Azhar juz VII hal 436)
Firman Allah swt :
Artinya : ”dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut”
Sayyid Qutb mengatakan bahwa terdapat kisah tentang keduanya yang sudah diketahui dimana orang-orang Yahudi atau para setan telah menganggap bahwa mereka berdua (Harut dan Marut) mengetahui tentang sihir dan mengajarkannya kepada manusia dan kedua malaikat itu menganggap bahwa sihir itu diturunkan kepada mereka berdua! Kemudian Al Qur’an membantah kebohongan ini, kebohongan yang menyatakan bahwa sihir diturunkan kepada kedua malaikat itu.. Selanjutnya Allah swt menjelaskan hal yang sebenarnya, bahwa kedua malaikat itu hanyalah fitnah dan menjadi cobaan bagi manusia untuk sebuah hikmah yang ghaib. Kedua malaikat itu mengatakan kepada setiap orang yang mendatangi dan meminta mereka berdua untuk mengajarinya sihir,
Artinya : “Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir".
Sekali lagi kita dapati Al Qur’an yang menyatakan bahwa mempelajari dan menggunakan sihir adalah suatu kekufuran. Hal ini disebutkan melalui lisan dua malaikat, yaitu Harut dan Marut.
Dan ada sebagian manusia yang memaksa untuk belajar sihir dari kedua malaikat itu walaupun telah diingatkan dan diberitahu. Maka pada saat itu terjadilah fitnah pada sebagian orang-orang yang yang terkena fitnah :
Artinya : “Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya”
Inilah suatu keburukan yang telah diingatkan oleh kedua malaikat itu.... Di sini Al Qur’an menyatakan sebuah kalimat wawasan islam yang mendasar yaitu tidaklah segala sesuatu terjadi di alam ini kecuali dengan izin Allah swt.
Artinya : “dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah”
Dengan izin Allah maka terjadilah sebab-sebab suatu perbuatan, memunculkan bekas-bekasnya dan terealisasi hasil-hasilnya.. Inilah kaidah suatu kalimat yang harus tampak jelas didalam hati seorang mukmin. Permisalahn yang paling dekat adalah apabila anda mengulurkan tangan anda ke api maka ia akan terbakar namun tidaklah terjadi kebakaran itu kecuali dengan izin Allah swt.
Allah lah yang menjadikan api itu membakar dan menjadikan tangan anda terbakar olehnya. Dia juga Maha Kuasa menghentikan kekhususan itu untuk tidak mengizinkan kekhususan itu terjadi, seperti apa yang terjadi terhadap Ibrahim as. Demikian pula sihir yang memisahkan antara seseorang dengan isterinya, dan terjadinya akibat itu dengan izin Allah swt dan Dia swt juga Maha Kuasa untuk menghentikan kekhususan ini untuk tidak terjadi.....
Kemudian Al Qur’an menyatakan hal sebenarnya yang mereka pelajari dan apa yang memisahkan antara mereka dari isterinya... sesungguhnya itu adalah kejahatan yang menimpa diri mereka sendiri dan bukanlah kebaikan :
Artinya : “dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat.”
Dan cukuplah kejahatan ini adalah kekufuran yang menjadi mudharat sesungguhnya yang tidak ada manfaat didalamnya.
Artinya : “Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat”
Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa apa yang mereka beli (sihir itu) tidaklah ada bagian baginya di akherat, yaitu ketika mereka memilih untuk membelinya maka hilanglah seluruh persediaan miliknya di akherat dan juga setiap bagiannya...
Maka sungguh buruklah apa yang diri mereka beli seandainya mereka mengetahui kenyataan dari transaksi tersebut :
Artinya :”dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” --(Fi Zhilalil Qur’an juz I hal 95 – 96)
Tentang pengajaran sihir yang diberikan Harut dan Marut ini, telah diriwayatkan dari Ali ra yang mengatakan bahwa kedua malaikat itu mengajarkan kepada manusia tentang peringatan terhadap sihir bukan mengajarkan untuk mengajak mereka melakukan sihir. Az Zajjaj mengatakan bahwa perkataan itu adalah juga pendapat kebanyakan ahli bahasa. Artinya bahwa pengajaran kedua malaikat itu kepada manusia adalah berupa larangan, keduanya mengatakan kepada mereka,”Janganlah kalian melakukan ini (sihir) dan janganlah kalian diperdaya dengannya sehingga kalian memisahkan seorang suami dari isterinya dan apa yang diturunkan kepada mereka berdua adalah berupa larangan.” (al Jami li Ahkamil Qur’an juz II hal 472)
Wallahu Alam
Sumber
Malaikat Munkar dan Nakir, dan Harut dan Marut
Posted By:
Unknown
on 11.16
1. Munkar dan Nakīr
Munkar dan Nakīr (Arab: منكر و نكير) dalam eskatologi Islam adalah dua malaikat yang menanyakan atau menguji keyakinan dari orang yang telah mati dialam barzakh.[1]
Menurut ajaran Islam, setelah kematian dari setiap jiwa akan menuju barzakh atau alam kubur, dimana si mayat akan bisa kembali bangkit dan berbicara ketika ditanya oleh kedua malaikat Munkar dan Nakir, walaupun tubuhnya telah hancur. Pertanyaan akan dimulai ketika proses penguburan telah selesai dan 70 langkah orang terakhir dari tempat dikuburnya mayat.
Munkar dan Nakir akan menanyakan beberapa hal berikut, "Siapakah Tuhan mu?", "Siapa Nabi mu?", "Apa agama mu?", jawaban bagi pertanyaan tersebut adalah Tuhan mereka adalah Allah, nabinya Muhammad dan agamanya adalah Islam, maka si mayat akan diberikan keluasan dan diterangkan kuburnya sampai hari kebangkitan. Bagi yang tidak bisa menjawabnya akan mendapatkan siksa sampai hari kebangkitan.[2]
Sedangkan ada pendapat lain ada yang mengatakan jika yang mereka datangi adalah orang mukmin yang diberi taufik, maka yang akan datang adalah para malaikat yang bernama Mubassyar dan Basyir.[3]
Sumber
Para mufassirin
berlainan pendapat tentang yang dimaksud dengan 2 orang malaikat itu.
Ada yang berpendapat, mereka betul-betul Malaikat dan ada pula yang
berpendapat orang yang dipandang saleh seperti Malaikat dan ada pula
yang berpendapat dua orang jahat yang pura-pura saleh seperti Malaikat.
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib
bahwa yang mengatakan bahwa kedua malaikat itu mengajarkan kepada
manusia tentang peringatan terhadap sihir bukan mengajarkan untuk
mengajak mereka melakukan sihir. Az Zajjaj
mengatakan bahwa perkataan itu adalah juga pendapat kebanyakan ahli
bahasa. Artinya bahwa pengajaran kedua malaikat itu kepada manusia
adalah berupa larangan, keduanya mengatakan kepada mereka, "Janganlah
kalian melakukan ini (sihir) dan janganlah kalian diperdaya dengannya
sehingga kalian memisahkan seorang suami dari isterinya dan apa yang
diturunkan kepada mereka berdua adalah berupa larangan."[1]
Al Hafidz bin Katsir berkata: "Kisah Harut dan Marut ini diriwayatkan dari beberapa tabi'in seperti Mujahid, Suddi, Hasan al Bashri, Qotadah, Abul Aliyah, Zuhri, Rabi' bin Anas, Muqotil bin Hayyan dan lain-lain dan dibawakan oleh banyak penulis tafsir dari kalangan terdahulu dan belakangan. Kesimpulan detail dari kisah Harut dan Marut ini kembali kepada kisah Israilliyat, karena riwayatnya tidak ada sama sekali dalam hadis marfu' yang bersambung sanadnya dari Nabi Muhammad.
Al Hafidz bin Hazm berkata: "Di antara bukti-bukti yang menunjukkan kebathilan kisah Harut dan Marut ada di dalam salah satu firman Allah:
Sumber
Munkar dan Nakīr (Arab: منكر و نكير) dalam eskatologi Islam adalah dua malaikat yang menanyakan atau menguji keyakinan dari orang yang telah mati dialam barzakh.[1]
Menurut ajaran Islam, setelah kematian dari setiap jiwa akan menuju barzakh atau alam kubur, dimana si mayat akan bisa kembali bangkit dan berbicara ketika ditanya oleh kedua malaikat Munkar dan Nakir, walaupun tubuhnya telah hancur. Pertanyaan akan dimulai ketika proses penguburan telah selesai dan 70 langkah orang terakhir dari tempat dikuburnya mayat.
Munkar dan Nakir akan menanyakan beberapa hal berikut, "Siapakah Tuhan mu?", "Siapa Nabi mu?", "Apa agama mu?", jawaban bagi pertanyaan tersebut adalah Tuhan mereka adalah Allah, nabinya Muhammad dan agamanya adalah Islam, maka si mayat akan diberikan keluasan dan diterangkan kuburnya sampai hari kebangkitan. Bagi yang tidak bisa menjawabnya akan mendapatkan siksa sampai hari kebangkitan.[2]
Sedangkan ada pendapat lain ada yang mengatakan jika yang mereka datangi adalah orang mukmin yang diberi taufik, maka yang akan datang adalah para malaikat yang bernama Mubassyar dan Basyir.[3]
Sumber
2. Harut dan Marut
Harut dan Marut (Bahasa Arab: هاروت وماروت, transliterasi: Hārūt dan Mārūt) adalah dua malaikat yang diutus oleh Allah ke negeri Babilonia. Nama mereka disebutkan di dalam Al Qur'an pada surat Al Baqarah ayat 102:| “ | "Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir." Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya, dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah, dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (Al Baqarah 102) | ” |
manuskrip Qur'an dari abad ke-7th Masehi, yang di tulis di atas kulit.
Bantahan kisah Harut dan Marut
Syeikh Athiyah Saqar menyebutkan bahwa di beberapa buku tafsir disebutkan kedua malaikat itu telah diturunkan ke bumi sebagai fitnah sehingga Allah mengadzab mereka berdua dengan menggantung kedua kaki mereka, perkataan para mufassir ini bukanlah sebagai salah satu hujjah (dalil) dalam hal ini, karena kisah tersebut berasal dari warisan masyarakat Babilonia dan penjelasan orang-orang Yahudi serta kitab-kitab Nasrani. Karena tidak sesuai dengan salah satu ayat di dalam Al Qur'an. Para malaikat tidaklah maksiat kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan mereka pun melakukan apa-apa yang diperintahkan-Nya, firman Allah:| “ | "Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.” (Al Anbiya 26 – 27) | ” |
| “ | "...dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih." (Al Anbiya 19 – 20) | ” |
Al Hafidz bin Katsir berkata: "Kisah Harut dan Marut ini diriwayatkan dari beberapa tabi'in seperti Mujahid, Suddi, Hasan al Bashri, Qotadah, Abul Aliyah, Zuhri, Rabi' bin Anas, Muqotil bin Hayyan dan lain-lain dan dibawakan oleh banyak penulis tafsir dari kalangan terdahulu dan belakangan. Kesimpulan detail dari kisah Harut dan Marut ini kembali kepada kisah Israilliyat, karena riwayatnya tidak ada sama sekali dalam hadis marfu' yang bersambung sanadnya dari Nabi Muhammad.
Al Hafidz bin Hazm berkata: "Di antara bukti-bukti yang menunjukkan kebathilan kisah Harut dan Marut ada di dalam salah satu firman Allah:
| “ | "Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan benar (untuk membawa azab) dan tiadalah mereka ketika itu diberi tangguh. (Al Hijr 8) | ” |
Catatan kaki
- ^ Al Jami li Ahkamil Qur’an juz II hal 472.
Sumber
Selasa, 07 Januari 2014
Mikhael (Malaikat Mika'il) (2-Habis)
Posted By:
Unknown
on 03.12
Islam
Mikail (Arab: ميكائيل) adalah malaikat yang mengatur air, menurunkan hujan/petir, membagikan rezeki pada manusia, tumbuh-tumbuhan juga hewan-hewan dan lain-lain di muka bumi ini. Dikatakan setiap satu makhluk yang memerlukan rezeki untuk hidup di dunia ini akan diselia rezekinya oleh satu malaikat Karubiyyuun.Malaikat Mikail adalah salah satu di antara Pembesar Malaikat yang empat. Ia dicipta oleh Allah selepas malaikat Israfil dengan selisih kira-kira lima ratus tahun.jumlah keseluruhan malaikat yg wajib dipercayai oleh orang islam itu ada sepuluh berserta tugas nya
Dalam Islam Mikhael dikenal sebagai malaikat Mikail, satu dari malaikat utama Allah setelah Jibril. Menurut salah satu sumber, dalam tradisi Islam Mikail dikatakan memakai jubah berwarna hijau jamrud, memenuhi bentangan langit. Tiap helai rambutnya berisi ribuan wajah yang mengagungkan nama Allah. Menurut sumber lain dikatakan sejak neraka diciptakan Allah, Mikail tidak pernah lagi bisa tertawa.
Wujud Mikail
Dari kepala malaikat Mikail hingga kedua telapak kakinya berbulu Za'faron. Jika seluruh air di lautan dan sungai di muka bumi ini disiramkan di atas kepalanya, nescaya tidak setitikpun akan jatuh melimpah. Di atas setiap bulu-bulunya, terdapat sebanyak satu juta muka.Setiap muka malaikat Mikail ini pula mempunyai satu juta mulut dan setiap mulut mempunyai satu juta lidah manakala setiap lidah-lidahnya boleh berbicara satu juta bahasa atau lisan. Setiap satu juta lisan tersebut adalah membaca istighfar pada Allah bagi orang-orang mukmin yang berdosa.
Setiap satu juta muka atau wajahnya mempunyai satu juta mata. Tiap-tiap matanya sentiasa menangis kerana memohon rahmat bagi orang-orang mukmin yang berdosa. Tiap-tiap matanya yang menangis itu mengeluarkan tujuh ribu titisan air mata dan setiap titisan air mata itu Allah ciptakan satu malaikat Karubiyyuun yang serupa dengan kejadian malaikat Mikail Setiap malaikat-malaikat ini ditugaskan untuk bertasbih pada Allah sehingga hari kiamat.
Imam Ahmad dengan sanadnya, dari Anas bin Malik, ketika Rasulullah Mikraj ke langit baginda ada bertanya pada malaikat Jibril: "Mengapa aku tidak pernah melihat malaikat Mikail tertawa?" Malaikat Jibril menjawab: "Malaikat Mikail tidak pernah tertawa semenjak neraka diciptakan"
Mikail dalam Angelologi dan Okultisme
Para okultis modern menghubungkan Mikail dengan warna merah, arah selatan dan unsur api.Dalam bentuk-bentuk okultisme lainnya, Mikail disebut sebagai roh planet Merkurius. Dia adalah penguasa hari Minggu dan Kamis. Ia adalah campuran dari movitasi, keaktifan dan keberhasilan. Konon ia adalah pembawa karunia kesabaran, dan malaikat karier, keberanian, keberhasilan, ambisi, motivasi, dan tugas-tugas kehidupan. Warna lilin Mikail adalah oranye, putih dan emas. Energi warnanya adalah oranye, ungu, putih, kristal, emas, dan coklat.
Dalam Kitab Urantia, Yesus dan Mikail dianggap sama, seperti yang diyakini oleh Saksi Yehuwa.
Budaya populer
Paradise Lost karya Milton
Dalam puisi epik bahasa Inggris Paradise Lost oleh John Milton, Mikail memimpin pasukan malaikats yang setia kepada Allah dalam melawan kekuatan pemberontak yang dipimpin Setan. Dengan bersenjatakan pedang dari perlengkapan senjata Allah, Mikail mengalahkan Setan dalam suatu perkelahian pribadi, dan melukai pinggangnya.Peranan dalam The Exorcist
Menurut sebuah buku harian yang ditulis oleh Rm.Raymond Bishop, seorang pastur Yesuit di Universitas St. Louis, sekadar menyebut nama St. Mikail menyebabkan seorang anak laki-laki berumur 13 tahun mengalami parut-parut pada tubuhnya pada suatu eksorsisme (pengusiran setan). Menjelang akhir eksorsisme itu, anak tersebut mendapat penglihatan tentang Iblis dan sepuluh penolongnya yang terlibat dalam suatu pertempuran sengit melawan St. Mikail. Pada suatu saat, ketika bermimpi, malaikat itu tersenyum kepada anak itu dan berkata "Dominus” (Tuhan). Tak lama kemudian, anak itu berseru, "Setan! Setan! Aku adalah St. Mikail, dan aku perintahkan engkau Setan, dan roh-roh jahat lainnya untuk meninggalkan tubuh ini dalam nama Dominus, Segera. Sekarang! SEKARANG! SEKARANG JUGA!"Buku harian Rm. Bishop digunakan oleh William Peter Blatty sebagai dasar untuk bukunya, The Exorcist, dan belakangan, oleh Thomas B. Allen, dalam bukunya 1993 Possessed: The True Story of an Exorcism.
Film "Michael"
Mikail sang Penghulu Malaikat merupakan tokoh utama, yang diperankan oleh John Travolta, dalam sebuah film 1996 Michael. Film ini adalah sebuah komedi tentang seorang "malaikat yang tidak lazim" yang ditemukan hidup di Bumi.Komik DC Lucifer Michael
Michael Demiurgos adalah seorang tokoh terkemuka dalam komik Lucifer yang ditulis oleh Mike Carey. Di dalam cerita ini, ia adalah saudara dari Lucifer Bintang Fajar dan digambarkan sebagai kekuatan Allah karena ia menguasai demiurgos di dalam tubuhnya yang digunakan oleh Allah dalam penciptaan alam semesta. Lucifer melepaskan kekuatan batin ini di dalam Mikail yang terluka, sehingga melahirkan kosmosnya sendiri dalam rangkaian kisah ini.
Penghulu malaikat Mikail Menginjak-injak Iblis dengan Kakinya (1676), oleh Simon Ushakov.
St. Mikail berjuang melawan naga, oleh Jean Fouquet
Sumber
Mikhael (Malaikat Mika'il) (1)
Posted By:
Unknown
on 03.07
Malaikat Mikail (bahasa Ibrani מיכאל Micha'el atau Mîkhā’ēl, bahasa Latin Michael atau Míchaël) adalah penghulu malaikat atau pemimpin bala tentara surga yang disebut dalam Kitab Wahyu 12:7. Dalam Alkitab Ibrani Mikail hanya disebutkan namanya dalam konteks Persia dari Kitab Daniel pasca-pembuangan. Hanya dalam Daniel sajalah Mikail muncul— sebagai "salah seorang pangeran kepala" yang dalam penglihatan Daniel datang untuk menolong malaikat Gabriel dalam pergumulannya melawan malaikat Persia. Ia juga digambarkan sebagai pembela Israel (10:21, 12:1). Tradisi Talmud menerangkan bahwa namanya berarti dia "yang seperti El (Allah)" (tetapi secara harafiah berarti "Serupa dengan El") (bandingkan dengan Mikha, salah satu nabi yang belakangan), namun menurut Rabi Simeon ben Lakish
(230-270 M), semua nama yang spesifik dari para malaikat dibawa kembali
oleh orang-orang Yahudi dari Babel. Banyak penafsir modern yang setuju
dengan pernyataan ini.
Mikail adalah salah satu malaikat utama dalam tradisi Abrahamik. Namanya konon adalah seruan peperangan para malaikat dalam pertempuran yang mereka lakukan di sorga dalam melawan Setan dan para pengikutnya.
Tokoh Mikail diduga berasal dari Khaldea sebagai dewa atau roh pelindung. Ia diterima oleh orang-orang Yahudi dan kemudian muncul sebagai malaikat penting dalam cerita rakyat Yahudi sehingga ia dihormati sebagai malaikat pelindung bangsa-bangsa (dari 70 atau 72 negara menurut sumber-sumber lain). Ia tidak kehilangan kehormatannya. Biasnya sepenuhnya dipahami karena ia merupakan favorit bangsa pilihan Allah.
Banyak cerita yang lebih terinci dari Midrash yang belakangan tentang Mikail masuk ke dalam mitologi Kristen melalui Kitab Henokh dan dari situ diterima dan dikembangkan lebih jauh. Dalam Kekristenan Abad Pertengahan akhir, Mikail bersama-sama dengan St George menjadi pelindung kaum ksatria, dan pelindung dari first ordo ksatria pertama dari Prancis, Ordo Santo Mikail pada 1469. Dalam sistem kehormatan Britania, sebuah kelas ksatria dibentuk pada 1818 dan juga dinamai mengikuti kedua santo ini, Order of St Michael and St George.
Umat Katolik dan Kristen Ortodoks menyebutnya sebagai St. Mikail Penghulu Malaikat dan juga dalam bentuk yang lebih singkat sebagai Santo Mikail.
Para rabi menyatakan bahwa Mikail mulai menjadi pembela sejak masa para leluhur di Alkitab. Jadi, menurut Rabi Eliezer ben Jacob, Mikail-lah yang membebaskan Abraham dari api ketika ia dibuang ke dalamnya oleh Nimrod (Midrash Genesis Rabbah xliv. 16). Mikail pulalah, yang merupakan "seorang pelarian " (Kejadian 14:13), yang memberitahukan kepada Abraham bahwa Lot telah ditawan (Midrash Pirke R. El.), dan yang melindungi Sarah dari pencemaran yang akan dilakukan oleh Abimelekh. Ia mengumumkan kepada Sarah bahwa ia akan melahirkan seorang anak laki-laki dan ia melepaskan Lot dari kehancuran Sodom (Talmud B. M. 86b).
Dikatakan pula bahwa Mikail-lah yang menghalangi Abraham dari mengorbankan Ishak dengan menggantikannya dengan seekor domba jantan, dan menyelamatkan Yakub, ketika ia masih berada di rahim ibunya, sehingga ia tidak dibunuh oleh Samael (Midr. Abkir, in Yalḳ., Gen. 110). Belakangan Mikail mencegah Laban melukai Yakub (Pirke R. El. xxxvi.). Menurut sebuah sumber, Mikail pulalah yang bergumul dengan Yakub, dan yang belakangan memberkatinya (Targum pseudo-Jonathan to Genesis 32:25; Pirke R. El. xxxvii.).
Midrash Exodus Rabbah mengatakan bahwa Mikail melakukan fungsinya sebagai pembela Israel pada masa pembebasan dari Mesir juga, ketika Satan (sebagai lawan) menuduh bangsa Israel melakukan penyembahan berhala dan menyatakan bahwa dengan demikian mereka layak mati dengan tenggelam di Laut Merah (Ex. R. xviii. 5). Tetapi menurut Midr. Abkir, ketika Uzza, malaikat pelindung Mesir, memanggil Mikail untuk memohon di hadapan Allah, Mikail tetap membungkam, dan Allah sendirilah yang membela Israel.
Legenda menjadikan Mikail sebagai guru Musa; sehingga bangsa Israel berutang kepada pembela mereka untuk Torah yang sangat baik. Gagasan ini dirujuk dalam Midrash Deuteronomy Rabbah xi. 6 dalam pernyataan bahwa Mikail menolak untuk mengantarkan jiwa Musa kepada Allah dengan alasan bahwa ia adalah guru Musa.
Mikail dikatakan telah menghancurkan bala tentara Sankherib (Midrash Exodus Rabbah xviii. 5), suatu perbuatan yang biasanya dikatakan telah dilakukan oleh malaikat yang tidak disebutkan namanya tetapi mungkin hal ini dilakukan oleh Uriel, Gabriel, atau lain-lainnya. Ia juga dikatakan sebagai malaikat yang berbicara kepada Musa di belukar yang terbakar (kehormatan ini biasanya diberikan kepada Zagzagel). Ia diterima dalam dongeng-dongeng rakyat pula sebagai pelindung khusus Adam. Konon dialah malaikat pertama di seluruh sorga yang sujud menyembah di hadapan umat manusia. Mikail kemudian tetap menjaga keluarga pertama, tetap waspada memelihara mereka bahkan setelah kejatuhan Adam dan Hawa dan setelah mereka dikeluarkan dari Taman Eden. Dalam Kitab Adam dan Hawa yang apokrif, Mikail mengajarkan Adam bagaimana caranya bercocok tanam. Penghulu Malaikat belakangan membawa Adam ke sorga dengan sebuah kereta berapi, dan mengantarkannya meninjau tempat kediaman kudus itu.
Setelah kematian Adam, Mikail menolong meyakinkan Tuhan untuk mengizinkan agar jiwa Adam dibawa masuk ke sorga dan dibersihkan dari dosa-dosanya yang besar. Legenda Yahudi juga menyatakan bahwa Mikail adalah salah satu dari tiga “orang” yang mengunjungi Abraham. Dikatakan bahwa dialah yang berusaha melindungi Israel dari pembuangan oleh Nebukadnezar dan menyelamatkan Bait Allah dari kehancuran, tetapi dosa-dosa umat Israel begitu besarnya sehingga ia tidak berdaya untuk melaksanakan maksudnya itu.
Ada sebuah legenda yang tampaknya aslinya adalah Yahudi, dan yang diambil oleh orang-orang Koptik, sehingga akibatnya Mikail menjadi orang pertama yang diutus Allah untuk membawa Nebukadnezar untuk melawan Yerusalem, dan bahwa Mikail setelah itu sangat aktif dalam membebaskan bangsanya dari Pembuangan di Babel (Amélineau, "Contes et Romans de l'Egypte Chrétienne," ii. 142 et seq.). Menurut sebuah midrash, Mikail menyelamatkan Hananya dan rekan-rekannya dari tungku api (Midrash Genesis Rabbah xliv. 16). Mikail juga aktif pada masa Ester: "Semakin Haman menuduh Israel di muka bumi, semakin kuat Mikail membela Israel di sorga" (Midrash Esther Rabbah iii. 8). Mikail pulalah yang mengingatkan Ahasveros bahwa ia berutang kepada Mordekhai (Targum to Esther vi. 1). Ada sebuah legenda bahwa Mikail menampakkan diri kepada imam agung Yohanes Hirkanus, dan menjanjikan bantuan kepadanya (bdk. Josephus, "Ant." xiii. 10, § 3).
Legenda tentang Mikail dengan naga yang terkenal itu muncul dari pergumulan Mikail melawan Samael (dengan iblis, menurut Assumptio Mosis, x.). Legenda ini tidak ditemukan dalam sumber-sumber Yahudi kecuali sejauh Samael atau Setan disebut dalam Kaballah "si ular tua itu".
Gagasan bahwa Mikail adalah pembela orang-orang Yahudi menjadi begitu meluas sehingga meskipun terdapat larangan para rabi agar umat tidak memohon kepadapara malaikat sebagai perantaraan antara Allah dan umat-nya, Mikail belakangan menduduki suatu tempat tertentu dalam liturgi Yahudi. Ada dua doa yang ditulis yang berisi permohonan kepadanya sebagai pangeran belas kasih agar menjadi perantara untuk membela Israel: yang satu dikarang oleh Eliezer ha-Kalir, dan yang lainnya oleh Judah b. Samuel he-Hasid. Tetapi permohonan kepada Mikail tampaknya jauh lebih umum pada masa-masa kuno. Jadi Yeremia dikatakan (Baruch Apoc. Ethiopic, ix. 5) pernah berdoa kepadanya. "Ketika seseorang sangat membutuhkan, ia harus berdoa secara langsung kepada Allah, dan bukan kepada Mikail ataupun Gabriel" (Yer. Ber. ix. 13a).
Sehubungan dengan sifat persembahan yang dibawa oleh Mikail ke mezbah, salah satu pandangan mengatakan bahwa persembahan itu berupa jiwa-jiwa orang-orang yang benar, sementara menurut yang lainnya, persembahan itu berupa domba-domba yang berapi. Pandangan pertama, yang meluas dalam tulisan-tulisan mistik Yahudi, menjelaskan kedudukan penting yang diduduki oleh Mikail eskatologi Yahudi. Gagasan bahwa Mikail adalah Kharon dari masing-masing jiwa, yang lazim ditemukan di antara orang Kristen, tidak terdapat dalam sumber-sumber Yahudi, tetapi bahwa ia bertanggung jawab atas jiwa-jiwa orang yang benar muncul dalam banyak tulisan Yahudi.
Mikail dikatakan pernah berdiskusi dengan Samael mengenai jiwa Musa (Midrash Deut. Rabbah xi. 6.) Menurut Zohar, Mikail mendampingi jiwa-jiwa orang yang saleh dan menolong mereka memasuki pintu gerbang sorgawi Yerusalem. Dikatakan bahwa Mikail dan bala tentaranya ditempatkan di pintu-pintu gerbang sorgawi Yerusalem dan mengizinkan masuk kepada jiwa orang-orang yang benar. Fungsi Mikail adalah membuka pintu-pintu gerbang, juga termasuk pintu gerbang keadilan bagi mereka yang adil. Juga dikatakan bahwa pada hari kebangkitan Gabriel akan meniup trompet dan kubur-kubur akan terbuka dan orang-orang mati akan bangkit.
(Bersambung)
Mikail adalah salah satu malaikat utama dalam tradisi Abrahamik. Namanya konon adalah seruan peperangan para malaikat dalam pertempuran yang mereka lakukan di sorga dalam melawan Setan dan para pengikutnya.
Tokoh Mikail diduga berasal dari Khaldea sebagai dewa atau roh pelindung. Ia diterima oleh orang-orang Yahudi dan kemudian muncul sebagai malaikat penting dalam cerita rakyat Yahudi sehingga ia dihormati sebagai malaikat pelindung bangsa-bangsa (dari 70 atau 72 negara menurut sumber-sumber lain). Ia tidak kehilangan kehormatannya. Biasnya sepenuhnya dipahami karena ia merupakan favorit bangsa pilihan Allah.
Banyak cerita yang lebih terinci dari Midrash yang belakangan tentang Mikail masuk ke dalam mitologi Kristen melalui Kitab Henokh dan dari situ diterima dan dikembangkan lebih jauh. Dalam Kekristenan Abad Pertengahan akhir, Mikail bersama-sama dengan St George menjadi pelindung kaum ksatria, dan pelindung dari first ordo ksatria pertama dari Prancis, Ordo Santo Mikail pada 1469. Dalam sistem kehormatan Britania, sebuah kelas ksatria dibentuk pada 1818 dan juga dinamai mengikuti kedua santo ini, Order of St Michael and St George.
Umat Katolik dan Kristen Ortodoks menyebutnya sebagai St. Mikail Penghulu Malaikat dan juga dalam bentuk yang lebih singkat sebagai Santo Mikail.
Gambaran Guido Reni mengenai Michael sang malaikat pemanah (dalam Gereja
Capuchin di Sta. Maria della Concezione, Rome) yang sedang menginjak
Setan (Satan), merupakan suatu vitur yang dikenal dari Paus Innocent X.
Tradisi Yahudi dan Kitab Suci Ibrani
Kitab Daniel
Nabi Daniel mendapatkan suatu penglihatan setelah berpuasa selama beberapa waktu lamanya. Dalam penglihatan itu, seorang malaikat yang disebut Mikail sebagai pelindung Israel (10:13, 21). Belakangan dalam penglihatan itu (12:1), kepada Daniel diberitahukan bahwa Mikail akan membela Israel pada masa kesengsaraan yang akan datang. Setelah itu Mikail tidak disebut-sebut lagi dalam Kitab Suci Ibrani.Kitab Yosua
"Panglima bala tentara Tuhan" yang dijumpai oleh Yosua pada tahap-tahap awal peperangannya di Tanah Perjanjian (Yosua 5: 13-15) mempunyai cirri-ciri Mikail Penghulu Malaikat, sebagai utusan sorgawi yang tidak disebutkan namanya, yang bersifat adikodrati dan kudus, dan kemungkinan diutus oleh Allah:- Ketika Yosua dekat Yerikho, ia melayangkan pandangnya, dilihatnya seorang laki-laki berdiri di depannya dengan pedang terhunus di tangannya. Yosua mendekatinya dan bertanya kepadanya: "Kawankah engkau atau lawan?" Jawabnya: "Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang." Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya: "Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?" Dan Panglima Balatentara TUHAN itu berkata kepada Yosua: "Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat engkau berdiri itu kudus." Dan Yosua berbuat demikian. (Yosua 5: 13-15 TB )
Tradisi rabinik
Menurut tradisi rabinik Yahudi, Mikail bertindak sebagai pembela Israel, dan kadang-kadang harus berperang melawan raja-raja bangsa-bangsa lain (bdk. Dan. 10:13) dan khususnya dengan malaikat Samael, penuduh Israel. Permusuhan Mikail dengan Samael berasal dari masa ketika ia dibuang dari sorga. Samael memegang sayap Mikail, yang ingin dibawanya bersamanya dalam kejatuhannya, namun Mikail diselamatkan oleh Allah (Midrash Pirke R. El. xxvi.).Para rabi menyatakan bahwa Mikail mulai menjadi pembela sejak masa para leluhur di Alkitab. Jadi, menurut Rabi Eliezer ben Jacob, Mikail-lah yang membebaskan Abraham dari api ketika ia dibuang ke dalamnya oleh Nimrod (Midrash Genesis Rabbah xliv. 16). Mikail pulalah, yang merupakan "seorang pelarian " (Kejadian 14:13), yang memberitahukan kepada Abraham bahwa Lot telah ditawan (Midrash Pirke R. El.), dan yang melindungi Sarah dari pencemaran yang akan dilakukan oleh Abimelekh. Ia mengumumkan kepada Sarah bahwa ia akan melahirkan seorang anak laki-laki dan ia melepaskan Lot dari kehancuran Sodom (Talmud B. M. 86b).
Dikatakan pula bahwa Mikail-lah yang menghalangi Abraham dari mengorbankan Ishak dengan menggantikannya dengan seekor domba jantan, dan menyelamatkan Yakub, ketika ia masih berada di rahim ibunya, sehingga ia tidak dibunuh oleh Samael (Midr. Abkir, in Yalḳ., Gen. 110). Belakangan Mikail mencegah Laban melukai Yakub (Pirke R. El. xxxvi.). Menurut sebuah sumber, Mikail pulalah yang bergumul dengan Yakub, dan yang belakangan memberkatinya (Targum pseudo-Jonathan to Genesis 32:25; Pirke R. El. xxxvii.).
Midrash Exodus Rabbah mengatakan bahwa Mikail melakukan fungsinya sebagai pembela Israel pada masa pembebasan dari Mesir juga, ketika Satan (sebagai lawan) menuduh bangsa Israel melakukan penyembahan berhala dan menyatakan bahwa dengan demikian mereka layak mati dengan tenggelam di Laut Merah (Ex. R. xviii. 5). Tetapi menurut Midr. Abkir, ketika Uzza, malaikat pelindung Mesir, memanggil Mikail untuk memohon di hadapan Allah, Mikail tetap membungkam, dan Allah sendirilah yang membela Israel.
Legenda menjadikan Mikail sebagai guru Musa; sehingga bangsa Israel berutang kepada pembela mereka untuk Torah yang sangat baik. Gagasan ini dirujuk dalam Midrash Deuteronomy Rabbah xi. 6 dalam pernyataan bahwa Mikail menolak untuk mengantarkan jiwa Musa kepada Allah dengan alasan bahwa ia adalah guru Musa.
Mikail dikatakan telah menghancurkan bala tentara Sankherib (Midrash Exodus Rabbah xviii. 5), suatu perbuatan yang biasanya dikatakan telah dilakukan oleh malaikat yang tidak disebutkan namanya tetapi mungkin hal ini dilakukan oleh Uriel, Gabriel, atau lain-lainnya. Ia juga dikatakan sebagai malaikat yang berbicara kepada Musa di belukar yang terbakar (kehormatan ini biasanya diberikan kepada Zagzagel). Ia diterima dalam dongeng-dongeng rakyat pula sebagai pelindung khusus Adam. Konon dialah malaikat pertama di seluruh sorga yang sujud menyembah di hadapan umat manusia. Mikail kemudian tetap menjaga keluarga pertama, tetap waspada memelihara mereka bahkan setelah kejatuhan Adam dan Hawa dan setelah mereka dikeluarkan dari Taman Eden. Dalam Kitab Adam dan Hawa yang apokrif, Mikail mengajarkan Adam bagaimana caranya bercocok tanam. Penghulu Malaikat belakangan membawa Adam ke sorga dengan sebuah kereta berapi, dan mengantarkannya meninjau tempat kediaman kudus itu.
Setelah kematian Adam, Mikail menolong meyakinkan Tuhan untuk mengizinkan agar jiwa Adam dibawa masuk ke sorga dan dibersihkan dari dosa-dosanya yang besar. Legenda Yahudi juga menyatakan bahwa Mikail adalah salah satu dari tiga “orang” yang mengunjungi Abraham. Dikatakan bahwa dialah yang berusaha melindungi Israel dari pembuangan oleh Nebukadnezar dan menyelamatkan Bait Allah dari kehancuran, tetapi dosa-dosa umat Israel begitu besarnya sehingga ia tidak berdaya untuk melaksanakan maksudnya itu.
Ada sebuah legenda yang tampaknya aslinya adalah Yahudi, dan yang diambil oleh orang-orang Koptik, sehingga akibatnya Mikail menjadi orang pertama yang diutus Allah untuk membawa Nebukadnezar untuk melawan Yerusalem, dan bahwa Mikail setelah itu sangat aktif dalam membebaskan bangsanya dari Pembuangan di Babel (Amélineau, "Contes et Romans de l'Egypte Chrétienne," ii. 142 et seq.). Menurut sebuah midrash, Mikail menyelamatkan Hananya dan rekan-rekannya dari tungku api (Midrash Genesis Rabbah xliv. 16). Mikail juga aktif pada masa Ester: "Semakin Haman menuduh Israel di muka bumi, semakin kuat Mikail membela Israel di sorga" (Midrash Esther Rabbah iii. 8). Mikail pulalah yang mengingatkan Ahasveros bahwa ia berutang kepada Mordekhai (Targum to Esther vi. 1). Ada sebuah legenda bahwa Mikail menampakkan diri kepada imam agung Yohanes Hirkanus, dan menjanjikan bantuan kepadanya (bdk. Josephus, "Ant." xiii. 10, § 3).
Legenda tentang Mikail dengan naga yang terkenal itu muncul dari pergumulan Mikail melawan Samael (dengan iblis, menurut Assumptio Mosis, x.). Legenda ini tidak ditemukan dalam sumber-sumber Yahudi kecuali sejauh Samael atau Setan disebut dalam Kaballah "si ular tua itu".
Gagasan bahwa Mikail adalah pembela orang-orang Yahudi menjadi begitu meluas sehingga meskipun terdapat larangan para rabi agar umat tidak memohon kepadapara malaikat sebagai perantaraan antara Allah dan umat-nya, Mikail belakangan menduduki suatu tempat tertentu dalam liturgi Yahudi. Ada dua doa yang ditulis yang berisi permohonan kepadanya sebagai pangeran belas kasih agar menjadi perantara untuk membela Israel: yang satu dikarang oleh Eliezer ha-Kalir, dan yang lainnya oleh Judah b. Samuel he-Hasid. Tetapi permohonan kepada Mikail tampaknya jauh lebih umum pada masa-masa kuno. Jadi Yeremia dikatakan (Baruch Apoc. Ethiopic, ix. 5) pernah berdoa kepadanya. "Ketika seseorang sangat membutuhkan, ia harus berdoa secara langsung kepada Allah, dan bukan kepada Mikail ataupun Gabriel" (Yer. Ber. ix. 13a).
Sehubungan dengan sifat persembahan yang dibawa oleh Mikail ke mezbah, salah satu pandangan mengatakan bahwa persembahan itu berupa jiwa-jiwa orang-orang yang benar, sementara menurut yang lainnya, persembahan itu berupa domba-domba yang berapi. Pandangan pertama, yang meluas dalam tulisan-tulisan mistik Yahudi, menjelaskan kedudukan penting yang diduduki oleh Mikail eskatologi Yahudi. Gagasan bahwa Mikail adalah Kharon dari masing-masing jiwa, yang lazim ditemukan di antara orang Kristen, tidak terdapat dalam sumber-sumber Yahudi, tetapi bahwa ia bertanggung jawab atas jiwa-jiwa orang yang benar muncul dalam banyak tulisan Yahudi.
Mikail dikatakan pernah berdiskusi dengan Samael mengenai jiwa Musa (Midrash Deut. Rabbah xi. 6.) Menurut Zohar, Mikail mendampingi jiwa-jiwa orang yang saleh dan menolong mereka memasuki pintu gerbang sorgawi Yerusalem. Dikatakan bahwa Mikail dan bala tentaranya ditempatkan di pintu-pintu gerbang sorgawi Yerusalem dan mengizinkan masuk kepada jiwa orang-orang yang benar. Fungsi Mikail adalah membuka pintu-pintu gerbang, juga termasuk pintu gerbang keadilan bagi mereka yang adil. Juga dikatakan bahwa pada hari kebangkitan Gabriel akan meniup trompet dan kubur-kubur akan terbuka dan orang-orang mati akan bangkit.
(Bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)








