Tampilkan postingan dengan label PEWAYANGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PEWAYANGAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Desember 2013

Kumbakarna



Dalam wiracarita Ramayana, Kumbakarna (Sanskerta: कुम्भकर्ण; Kumbhakarṇa) adalah saudara kandung Rahwana, raja rakshasa dari Alengka. Kumbakarna merupakan seorang rakshasa yang sangat tinggi dan berwajah mengerikan, tetapi bersifat perwira dan sering menyadarkan perbuatan kakaknya yang salah. Ia memiliki suatu kelemahan, yaitu tidur selama enam bulan, dan selama ia menjalani masa tidur, ia tidak mampu mengerahkan seluruh kekuatannya.

Arti nama

Dalam bahasa Sanskerta, secara harafiah nama Kumbhakarna berarti "bertelinga kendi".

Keluarga

Ayah Kumbakarna adalah seorang resi bernama Wisrawa, dan ibunya adalah Kekasi, puteri seorang Raja Detya bernama Sumali. Rahwana, Wibisana dan Surpanaka adalah saudara kandungnya, sementara Kubera, Kara, Dusana, Kumbini, adalah saudara tirinya. Marica adalah pamannya, putera Tataka, saudara Sumali. Kumbakarna memiliki putera bernama Kumba dan Nikumba. Kedua puteranya itu gugur dalam pertempuran di Alengka. Kumba menemui ajalnya di tangan Sugriwa, sedangkan Nikumba gugur di tangan Hanoman.

Anugerah Brahma

Saat Rahwana dan Kumbakrana mengadakan tapa, Dewa Brahma muncul karena berkenan dengan pemujaan yang mereka lakukan. Brahma memberi kesempatan bagi mereka untuk mengajukan permohonan. Saat tiba giliran Kumbakarna untuk mengajukan permohonan, Dewi Saraswati masuk ke dalam mulutnya untuk membengkokkan lidahnya, maka saat ia memohon "Indraasan" (Indrāsan – tahta Dewa Indra), ia mengucapkan "Neendrasan" (Nīndrasan – tidur abadi). Brahma mengabulkan permohonannya. Karena merasa sayang terhadap adiknya, Rahwana meminta Brahma agar membatalkan anugerah tersebut. Brahma tidak berkenan untuk membatalkan anugrahnya, namun ia meringankan anugrah tersebut agar Kumbakarna tidur selama enam bulan dan bangun selama enam bulan. Pada saat ia menjalani masa tidur, ia tidak akan mampu mengerahkan seluruh kekuatannya.

Peran di Alengka

Kumbakarna sering memberikan nasihat kepada Rahwana, menyadarkan bahwa tindakanya keliru. Ketika Rahwana kewalahan menghadapi Sri Rama, maka ia menyuruh Kumbakarna menghadapinya. Kumbakarna sebenarnya tahu bahwa kakaknya salah, tetapi demi membela Alengka tanah tumpah darahnya dia pun maju sebagai prajurit melawan serbuan Rama. Kumbakarna sering dilambangkan sebagai perwira pembela tanah tumpah darahnya, karena ia membela Alengka untuk segala kaumnya, bukan untuk Rahwana saja, dan ia berperang melawan Rama tanpa rasa permusuhan, hanya semata-mata menjalankan kewajiban.

Pertempuran dan kematian

Saat Kerajaan Alengka diserbu oleh Rama dan sekutunya, Rahwana memerintahkan pasukannya untuk membangunkan Kumbakarna yang sedang tertidur. Utusan Rahwana membangunkan Kumbakarna dengan menggiring gajah agar menginjak-injak badannya serta menusuk badannya dengan tombak, kemudian saat mata Kumbakarna mulai terbuka, utusannya segera mendekatkan makanan ke hidung Kumbakarna. Setelah menyantap makanan yang dihidangkan, Kumbakarna benar-benar terbangun dari tidurnya.

Setelah bangun, Kumbakarna menghadap Rahwana. Ia mencoba menasihati Rahwana agar mengembalikan Sita dan menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan kakaknya itu adalah salah. Rahwana sedih mendengar nasihat tersebut sehingga membuat Kumbakarna tersentuh. Tanpa sikap bermusuhan dengan Rama, Kumbakarna maju ke medan perang untuk menunaikan kewajiban sebagai pembela negara. Sebelum bertarung Kumbakarna berbincang-bincang dengan Wibisana, adiknya, setelah itu ia berperang dengan pasukan wanara.

Dalam peperangan, Kumbakarna banyak membunuh pasukan wanara dan banyak melukai prajurit pilihan seperti Anggada, Sugriwa, Hanoman, Nila, dan lain-lain. Dengan panah saktinya, Rama memutuskan kedua tangan Kumbakarna. Namun dengan kakinya, Kumbakarna masih bisa menginjak-injak pasukan wanara. Kemudian Rama memotong kedua kaki Kumbakarna dengan panahnya. Tanpa tangan dan kaki, Kumbakarna mengguling-gulingkan badannya dan melindas pasukan wanara. Melihat keperkasaan Kumbakarna, Rama merasa terkesan dan kagum. Namun ia tidak ingin Kumbakarna tersiksa terlalu lama. Akhirnya Rama melepaskan panahnya yang terakhir. Panah tersebut memisahkan kepala Kumbakarna dari badannya dan membawanya terbang, lalu jatuh di pusat kota Alengka.


Sumber

Rahwana

Dalam mitologi Hindu, Rahwana (Devanagari: रावण, IAST Rāvaṇa; kadangkala dialihaksarakan sebagai Raavana dan Ravan atau Revana) adalah tokoh utama yang bertentangan terhadap Rama dalam Sastra Hindu, Ramayana. Dalam kisah, ia merupakan Raja Alengka, sekaligus Rakshasa atau iblis, ribuan tahun yang lalu.

Rawana dilukiskan dalam kesenian dengan sepuluh kepala, menunjukkan bahwa ia memiliki pengetahuan dalam Weda dan sastra. Karena punya sepuluh kepala ia diberi nama "Dasamukha" (दशमुख, bermuka sepuluh), "Dasagriva" (दशग्रीव, berleher sepuluh) dan "Dasakanta" (दशकण्ठ, berkerongkongan sepuluh). Ia juga memiliki dua puluh tangan, menunjukkan kesombongan dan kemauan yang tak terbatas. Ia juga dikatakan sebagai ksatria besar.


Asal-usul

Ibu Rahwana bernama Kaikesi, seorang puteri Raja Detya bernama Sumali. Sumali memperoleh anugerah dari Brahma sehingga ia mampu menaklukkan para raja dunia. Sumali berpesan kepada Kekasi agar ia menikah dengan orang yang istimewa di dunia. Di antara para resi, Kekasi memilih Wisrawa sebagai pasangannya. Wisrawa memperingati Kekasi bahwa bercinta di waktu yang tak tepat akan membuat anak mereka menjadi jahat, namun Kekasi menerimanya meskipun diperingatkan demikian. Akhirnya, Rahwana lahir dengan kepribadian setengah brahmana, setengah rakshasa. Saat lahir, Rahwana diberi nama "Dasanana" atau "Dasagriwa", dan konon ia memiliki sepuluh kepala. Beberapa alasan menjelaskan bahwa sepuluh kepala tersebut adalah pantulan dari permata pada kalung yang diberikan ayahnya sewaktu lahir, atau ada yang menjelaskan bahwa sepuluh kepala tersebut adalah simbol bahwa Rahwana memiliki kekuatan sepuluh tokoh tertentu.

Tapa kepada Brahma

Saat masih muda, Rahwana mengadakan tapa memuja Dewa selama bertahun-tahun. Karena berkenan dengan pemujaannya, brahma muncul dan mempersilakan Rahwana mengajukan permohonan. Mendapat kesempatan tersebut, Rahwana memohon agar ia hidup abadi, namun permohonan tersebut ditolak oleh Brahma. Sebagai gantinya, Rahwana memohon agar ia kebal terhadap segala serangan dan selalu unggul di antara para dewa, makhluk surgawi, rakshasa, detya, danawa, segala naga dan makhluk buas. Karena menganggap remeh manusia, ia tidak memohon agar unggul terhadap mereka. Mendengar permohonan tersebut, Brahma mengabulkannya, dan menambahkan kepandaian menggunakan senjata dewa dan ilmu sihir.

Raja Alengka

Setelah memperoleh anugerah Brahma, Rahwana mencari kakeknya, Sumali, dan memintanya kuasa untuk memimpin tentaranya. Kemudian ia melancarkan serangannya menuju Alengka. Alengka merupakan kota yang permai, diciptakan oleh seorang arsitek para dewa bernama Wiswakarma untuk Kubera, Dewa kekayaan. Kubera juga merupakan putera Wisrawa, dan bermurah hati untuk membagi segala miliknya kepada anak-anak Kekasi. Namun Rahwana menuntut agar seluruh Alengka menjadi miliknya, dan mengancam akan merebutnya dengan kekerasan. Wisrawa menasihati Kubera agar memberikannya, sebab sekarang Rahwana tak tertandingi.

Ketika Rahwana merampas Alengka untuk memulai pemerintahannya, ia dipandang sebagai pemimpin yang sukses dan murah hati. Alengka berkembang di bawah pemerintahannya. Konon rumah yang paling miskin sekalipun memiliki kendaraan dari emas dan tidak ada kelaparan di kerajaan tersebut.


 Bakti kepada Siwa
 Setelah keberhasilannya di Alengka, Rahwana mendatangi Dewa Siwa di kediamannya di gunung Kailasha. Tanpa disadari, Rahwana mencoba mencabut gunung tersebut dan memindahkannya sambil main-main. Siwa yang merasa kesal dengan kesombongan Rahwana, menekan Kailasha dengan jari kakinya, sehingga Rahwana tertindih pada waktu itu juga. Kemudian Gana datang untuk memberitahu Rahwana, pada siapa ia harus bertobat. Lalu Rahwana menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Siwa, dan konon ia melakukannya selama bertahun-tahun, sampai Siwa membebaskannya dari hukuman. Terkesan dengan keberanian dan kesetiaannya, Siwa memberinya kekuatan tambahan, khususnya pemberian hadiah berupa Chandrahasa (pedang-bulan), pedang yang tak terkira kuatnya. Selanjutnya Rahwana menjadi pemuja Siwa seumur hidup. Rahwana terkenal dengan tarian pemujaannya kepada Siwa yang bernama "Shiva Tandava Stotra". Semenjak peristiwa tersebut ia memperoleh nama 'Rahwana', berarti "(Ia) Yang raungannya dahsyat", diberikan kepadanya oleh Siwa – konon bumi sempat berguncang saat Rahwana menangis kesakitan karena ditindih gunung.



Raja di tiga dunia

Dengan kekuatan yang diperolehnya, Rahwana melakukan penyerangan untuk menaklukkan ras manusia, makhluk jahat (asurarakshasadetyadanawa), dan makhluk surgawi. Setelah menaklukkan Patala (dunia bawah tanah), ia mengangkat Ahirawan sebagai raja. Rahwana sendiri menguasai ras asura di tiga dunia. Karena tidak mampu mengalahkan Wangsa Niwatakawaca dan Kalakeya, ia menjalin persahabatan dengan mereka. Setelah menaklukkan para raja dunia, ia mengadakan upacara yang layak dan dirinya diangkat sebagai Maharaja.
Oleh karena Kubera telah menghina tindakan Rahwana yang kejam dan tamak, Rahwana mengerahkan pasukannya menyerbu kediaman para dewa, dan menaklukkan banyak dewa. Lalu ia mencari Kubera dan menyiksanya secara khusus. Dengan kekuatannya, ia menaklukkan banyak dewa, makhluk surgawi, dan bangsa naga.

Istri dan wanita

 Selain terkenal sebagai penakluk tiga dunia, Rahwana juga terkenal akan petualangannya menaklukkan para wanita. Rahwana memiliki banyak istri, yang paling terkenal adalah Mandodari, putera Mayasura dengan seorang bidadari bernama Hema. Ramayana mendeskripsikan bahwa istana Rahwana dipenuhi oleh para wanita cantik yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Dalam Ramayana juga dideskripsikan bahwa di Alengka, semua wanita merasa beruntung apabila Rahwana menikahinya. Dua legenda terkenal menceritakan kisah pertemuan Rahwana dengan wanita istimewa.

Wanita istimewa pertama adalah Wedawati, seorang pertapa wanita. Wedawati mengadakan pemujaan ke hadapan Wisnu agar ia diterima menjadi istrinya. Ketika Rahwana melihat kecantikan Wedawati, hatinya terpikat dan ingin menikahinya. Ia meminta Wedawati untuk menghentikan pemujaannya dan ia merayu Wedawati agar bersedia untuk menikahinya. Karena Wedawati menolak, Rahwana mencoba untuk melarikannya. Kemudian Wedawati bersumpah bahwa ia akan lahir kembali sebagai penyebab kematian Rahwana. Setelah berkata demikian, Wedawati membuat api unggun dan menceburkan diri ke dalamnya. Bertahun-tahun kemudian ia bereinkarnasi sebagai Sita, yang diculik oleh Rahwana sehingga Rama turun tangan dan membunuh Rahwana.

 Penculikan Sita
Setelah pos jaga para raksasa di Yanasthana dihancurkan oleh Rama dan Laksmana, berita tersebut disampaikan kepada Rahwana. Menteri Rahwana yang bernama Akampana menyarankan agar Rahwana mau menculik Sita, namun niat tersebut ditolak oleh Marica. Setelah adik perempuan Rahwana yang bernama Surpanaka mengadu bahwa dua orang kesatria telah melukainya, Rahwana marah besar. Ia segera menuju ke kediaman Marica untuk meminta bantuan, tanpa memedulikan nasihat baik dari Marica. Setelah rencana disusun, Marica menyamar menjadi kijang kencana untuk mengalihkan perhatian Rama, sedangkan Rahwana menyamar menjadi seorang brahmana tua yang lemah. Ketika Rama dan Laksmana berada jauh, Rahwana segera menjangkau Sita, dan setelah itu Sita dibawa kabur. Sita disekap di taman Asoka, letaknya di dalam lingkungan istana Rahwana di kerajaan Alengka. Di sana, Rahwana berkali-kali mencoba merayu Sita namun tidak pernah berhasil.

Pertempuran dan kematian

Tindakan Rahwana mengundang kemarahan Rama. Dengan bantuan dari raja wanara bernama Sugriwa, Rama menggempur Alengka. Untuk mengantisipasi serangan Rama, Rahwana mengirimkan pasukan terbaiknya yang dipimpin oleh raksasa-raksasa kuat. Serangan pertama dilakukan oleh Hanoman pada saat ia datang ke Alengka sebagai mata-mata untuk menemui Sita. Dalam pertempuran tersebut, putera Rahwana yang bernama Aksayakumara gugur. Dalam pertempuran selanjutnya, para menteri dan kerabat Rahwana gugur satu persatu, termasuk Indrajit putera Rahwana dan Kumbakarna adik Rahwana.

Pada hari pertempuran terakhir, Rahwana maju ke medan perang sendirian dengan menaiki kereta kencana yang ditarik delapan ekor kuda terpilih. Ketika ia keluar dari Alengka, langit menjadi gelap oleh gerhana matahari yang tak terduga. Beberapa orang berkata bahwa itu merupakan pertanda buruk bagi Rahwana yang tidak menghiraukannya sama sekali. Pertempuran terakhir antara Rama dengan Rahwana berlangsung dengan sengit. Pada pertempuran itu, Rama menaiki kereta Indra dari sorga, yang dikemudikan oleh Matali. Setiap Rama mengirimkan senjatanya untuk menghancurkan Rahwana, raksasa tersebut selalu dapat bangkit kembali sehingga membuat Rama kewalahan. Untuk mengakhiri riwayat Rahwana, Rama menggunakan senjata Brahmastra yang tidak biasa. Senjata tersebut menembus dada Rahwana dan merenggut nyawanya seketika.

Salah satu versi Ramayana menceritakan bahwa Rahwana tidak mampu dibunuh meski badannya dihancurkan sekalipun, sebab ia menguasai ajian Rawarontek serta Pancasona. Untuk mengakhiri riwayat Rahwana, Rama menggunakan senjata sakti yang dapat berbicara bernama Kyai Dangu. Senjata tersebut mengikuti kemana pun Rahwana pergi untuk menyayat kulitnya. Setelah Rahwana tersiksa oleh serangan Kyai Dangu, ia memutuskan untuk bersembunyi di antara dua gunung kembar. Saat ia bersembunyi, perlahan-lahan kedua gunung itu menghimpit badan Rahwana sehingga raja raksasa itu tidak berkutik. Menurut cerita, kedua gunung tersebut adalah kepala dari Sondara dan Sondari, yaitu putera kembar Rahwana yang dibunuh untuk mengelabui Sita. Versi ini ditampilkan oleh R. A. Kosasih dalam komik Ramayana karyanya.



 Keluarga

Rahwana memiliki banyak kerabat dan saudara yang disebutkan dalam Ramayana. Karena sulit menemukan data-data mengenai mereka selain Ramayana, tidak banyak yang diketahui tentang mereka. Menurut Ramayana, ibu Rahwana adalah puteri seorang Detya bernama Kekasi, menikahi seorang pertapa bernama Wisrawa. Rahwana memiliki kakek bernama Pulastya, putera Brahma. Dari pihak ibunya, Rahwana memiliki kakek bernama Sumali, dan ia memiliki paman bernama Marica, putera Tataka, saudara Malyawan. Rahwana memiliki tiga istri, dan tujuh putera.

Putera

Tujuh putera Rahwana yaitu:
  1. Indrajit alias Megananda
  2. Prahasta
  3. Atikaya
  4. Aksa alias Aksayakumara
  5. Dewantaka
  6. Narantaka
  7. Trisirah

Saudara

Selain itu, Rahwana memiliki enam saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. Saudara-saudaranya tersebut terdiri dari tiga saudara kandung dan lima saudara tiri. Saudara-saudara Rahwana yaitu:
  1. Kubera, kakak tiri Rahwana, lain ibu namun satu ayah. Raja Alengka sebelum Rahwana. Ia merupakan dewa penjaga arah utara, sekaligus dewa kekayaan.
  2. Kumbakarna, adik kandung Rahwana. Rakshasa yang tidur selama enam bulan dan bangun selama enam bulan karena anugerah Brahma.
  3. Wibisana, adik kandung Rahwana. Penasihat di Kerajaan Alengka.
  4. Kara, adik tiri Rahwana. Raja dan pelindung perbatasan Alengka yang bernama Janasthan atau Yanasthana di Chitrakuta.
  5. Dusana, adik tiri Rahwana. Patih di Yanasthana.
  6. Ahirawana, adik tiri Rahwana. Raja di Patala.
  7. Kumbini, adik tiri Rahwana. Istri rakshasa Madhu, ibu dari Lawanasura.
  8. Surpanaka, adik kandung Rahwana. Rakshasi yang tinggal di Yanasthana, dilukai oleh Laksmana. Ia mengadu kepada Kara dan Rahwana, dan merupakan biang keladi yang menyebabkan permusuhan antara Rama dan Rahwana.


Sumber


dinasti candra 2

Garis keturunan Pururawa


Pururawa menikah dengan seorang apsari (bidadari) dan melahirkan Ayu. Ayu memiliki putra bernama Nahusa yang terkenal. Nahusa menikah dengan Priyambada dan berputra Yayati. Yayati memiliki lima putra, yaitu: Yadu, Turwasu, Anu, Druhyu, Puru. Di antara kelima orang tersebut, Puru-lah yang menurunkan keluarga Bharata, yaitu keluarga besar Pandawa dan Korawa. Puru menikahi Kausalya (Kosalya), kemudian menurunkan Janamejaya-1. Janamejaya-1 menikahi Ananta, kemudian menurunkan Pracinwan (Pracinwata). Pracinwata menikahi Asmaki, kemudian menurunkan Sanyati. Sanyati menikahi Warangi, kemudian menurunkan Ahayanti. Ahayanti menikahi Banumati, kemudian menurunkan Sarwaboma. Sarwaboma menikahi Sunanda-1, kemudian menurunkan Jayatsena, yang kemudian menikahi Susrawa, putri Raja Widarbha, dan menurunkan Awacina. Awacina juga menikahi putri dari Kerajaan Widarbha, bernama Maryada-1. Kemudian ia menurunkan Arihan-1. Arihan-1 menikahi Anggi kemudian menurunkan Mahaboma.
Mahaboma menikahi Suyadnya, putri Prasenajit. Darinya lahirlah Ayutanayi. Ayutanayi menikahi Kama, putri Pertusrawa. Darinya lahirlah Akrodana. Akrodana kemudian menikahi Karamba, putri dari Kerajaan Kalinga. Mereka memiliki putra bernama Dewatiti, dan Dewatiti menikahi Maryada-2, putri Kerajaan Wideha. Dewatiti menurunkan Arihan-2. Arihan-2 menikahi Sudewa, putri dari Kerajaan Anga, dan darinya lahirlah Reksa. Reksa menikahi Jwala, putri dari Naga Taksaka, dan menurunkan putra bernama Matinara. Matinara menikahi seorang putri dari lembah Sungai Saraswati, kemudian menurunkan putra bernama Tansu. Tansu menikahi putri dari Kerajaan Kalinga, dan memiliki putra bernama Ilina. Ilina menikahi Rathantari, dan memiliki lima putra, yang tertua bernama Duswanta. Duswanta menikahi Sakuntala, kemudian menurunkan Bharata.

Keluarga besar Bharata

Bharata menikahi Sunanda-2, putri Sarwasena, raja dari Kerajaan Kasi, dan menurunkan putra bernama Bumanyu. Bumanyu menikahi Wijaya, putri Dasarha, kemudian menurunkan putra bernama Suhotra (kitab Shrimadbhagawatam menyebutkan bahwa putra Bumanyu adalah Wrehadkesatra. Wrehadkesatra memiliki putra bernama Hasti). Suhotra menikahi Suwarna, putri Ikswaku. Suhotra menurunkan Hasti, pendiri Hastinapura. Hasti menikahi Yasodara, putri dari Kerajaan Trigarta. Hasti menurunkan Wikuntana. Wikuntana menikahi Sudewa, putri dari Kerajaan Dasarha. Wikunthana menurunkan Ajamida. Ajamida memiliki empat istri, yaitu: Kaikeyi, Gandhari, Wisala dan Riksa. Mereka melahirkan banyak putra, namun yang paling terkemuka bernama Sambarana. Sambarana menikahi Tapati, putra Wiwaswat (Dewa Surya).

Dinasti Kuru

Sambarana menurunkan Sang Kuru. Kuru menikahi Yamadi (versi lain menyebut Subanggi), putri dari Kerajaan Dasarha, kemudian ia menurunkan putra bernama Widurata. Widurata menikahi Supriya, putri dari Kerajaan Madhawa. Darinya lahirlah putra bernama Anaswan. Anaswan menikahi Amerta, putri dari Kerajaan Madhawa. Darinya lahirlah putra bernama Parikesit-1. Parikesit-1 menikahi Suwasa, kemudian menurunkan Bimasena. Bimasena menikahi Kumari, putri dari Kerajaan Kekaya, dan menurunkan Pratisrawa. Pratisrawa menurunkan Pratipa. Pratipa menikahi Sunanda, putri dari Kerajaan Siwi, kemudian menurunkan tiga putra. Di antara ketiga putra tersebut, Santanu menjadi Raja.

Keturunan Prabu Santanu

Santanu menikahi Dewi Gangga, yang kemudian memberinya seorang putra bernama Dewabrata, namun di kemudian hari berganti nama menjadi Bisma. Lalu Santanu menikah dengan Satyawati, alias Durgandini atau Gandhakali atau Gandhawati. Sebelumnya Satyawati pernah menikah dengan Parasara, yang memberinya seorang putera bernama Kresna Dwaipayana Wyasa atau Resi Byasa. Dengan Satyawati, Santanu memiliki dua orang putra bernama Citrānggada dan Wicitrawirya. Setelah Citrānggada wafat di usia muda, Wicitrawirya menikahi dua orang putri dari Kerajaan Kasi, bernama Ambika dan Ambalika. Ambika melahirkan Dretarastra, dan Ambalika melahirkan Pandu, sedangkan Widura lahir dari seorang dayang.
Dretarastra menikah dengan Gandari dan memiliki seratus putra atas pertolongan dari Resi Byasa. Di antara seratus putra Drestarastra, hanya empat yang terkemuka. Mereka adalah Duryodana, Dursasana, Wikarna, dan Citrasena. Pandu memiliki dua orag istri, bernama Kunti (yang juga disebut Parta) dan Madri. Dari kedua istrinya, Pandu memiliki lima putra bernama Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Kelima pangeran tersebut dikenal dengan sebutan Pandawa.

Keturunan para Pandawa

Yudistira berputra Pratiwindya, Bima berputra Sutasoma, Arjuna berputera Srutakerti, Nakula berputra Satanika, dan Sadewa berputra Srutakarma. Di samping itu, Yudistira menikahi Dewika, putri dari Gowasana dari suku Saibya, dan memiliki putera bernama Yodeya. Bima menikahi Walandara, putri dari Kerajaan Kasi, dan memiliki putra bernama Sarwaga. Arjuna menikahi Subadra, adik Kresna dari Dwarawati, dan memiliki putra bernama Abimanyu. Nakula menikahi Karenumati, putri dari Kerajaan Chedi, dan memiliki seorang putra bernama Niramitra. Sadewa menikahi Wijaya, puteri Dyutimana, raja di Kerajaan Madra, dan memiliki seorang putra bernama Suhotra. Di Kerajaan Rakshasa, Bima menikahi Hidimbi dan memiliki putra bernama Gatotkaca. Arjuna juga memiliki putra bernama Irawan dari Ulupi dan putera yang lain bernama Babruwahana dari Citrānggadā, putri dari Manipura.
Di antara mereka semua, Abimanyu menjadi penerus keluarganya. Ia menikahi Utara, putri Wirata dari Kerajaan Matsya, dan memiliki seorang putra bernama Parikesit (Parikesit-2). Parikesit menikahi Madrawati atau Irawati, dan memiliki seorang putra bernama Janamejaya (Janamejaya-2). Janamejaya menikahi Wapustama, dan memiliki dua putra bernama Satanika dan Sankukarna. Satanika menikahi putri dari Kerajaan Wideha dan memiliki seorang putra bernama Aswamedadata.

Catatan

  • Silsilah di atas diringkas sehingga beberapa nama tokoh tidak dicantumkan.
  • Nama tokoh yang dicetak tebal mengindikasikan bahwa tokoh tersebut pendiri suatu dinasti yang terkenal dalam Mahabharata.
  • Pada garis keturunan tokoh-tokoh dalam silsilah di atas, yang namanya dicantumkan paling kiri biasanya yang sulung, sedangkan yang paling kanan adalah yang bungsu.
  • Versi Mahabharata memiliki sedikit perbedaan dengan versi Bhagawatapurana.
  • Ada beberapa tokoh yang memiliki nama lain dan memiliki nama yang sama. Pada zaman India Kuno, ada banyak raja yang memiliki nama sama dengan raja lainnya, seperti nama Dretarastra, Pandu, Bahlika, Arjuna, Parikesit, Janamejaya, dan lain-lain. Dalam penjelasan yang dipaparkan di atas, nama yang sama maksimal muncul dua kali, padahal ada banyak lagi tokoh yang menggunakan nama sama, seperti misalnya ada empat tokoh terkenal bernama Janamejaya, namun tidak ditampilkan di atas.

sumber

Senin, 16 Desember 2013

Dinasti Candra (1)

Dinasti Candra adalah salah satu dinasti terkenal dalam legenda India dan mitologi Hindu, yang konon diturunkan oleh Candra, dewa bulan. Dinasti ini sekerabat dengan Dinasti Surya, yang konon diturunkan oleh Dewa Surya. Silsilah Dinasti Candra di bawah ini diringkas, namun diberi penjelasan yang lebih detail. Penjelasan lebih ditekankan kepada Dinasti Candra keturunan Puru, sebab keturunan Yadu tidak mewarisi kerajaan leluhurnya. Keturunan Yadu disebut Yadawa, merupakan cabang Dinasti Candra, dan mereka mendirikan dinasti mereka sendiri.

Silsilah


Surya
Saranya




Candra
Taraka
W. Manu




Budha
Ila
Ikswaku
putra-putra



Urwasi
Pururawa


Dinasti
Surya
Para Raja Kosala










Dinasti
Candra

Nahusa
Asokasundari
Kesatrawerda
Ramba
Raji
Anena



Yati
Dewayani
Yayati
Sarmista
4 putra
500 putra


Yadu
Turwasu
Druhyu
Anu
Puru
Kosalya



Krosta
3 putra
Janamejaya
Madawi

Para Raja Gandhara
Para Raja Angga


Pracinwan
Aswanti

Dinasti
Yadu
Para Raja Pundra
Para Raja Kalingga
Para Raja Wangga
Para Raja Suhma


12-generasi

Para Raja
Surasena
Para Raja
Kunti
Para Raja
Chedi


Sasabindu
Sakuntala
Duswanta



Wresni
3 putra
Andaka
Mahabhoja
Barata
Sunanda

Dinasti
Bhoja


Sumitra
Yudajit
Kukura
3 putra
Bharadwaja
Bumanyu
Puskarini

(adopsi)

Sini
7 generasi
2 generasi


Dinasti
Barata


Satyaka
Punarbasu
Yasoda
Hasti

Wangsa
Andaka



Yuyudana
Wresni
Dumini
Nili
Ajamida
Kesini



Swapalka
Citrarata
Ahuka
Ahuki
Reksa
Wimala



Akrura
putra-putri
Widurata
putra-putra
Tapati
Sambarana



2 putra
4 generasi
Dewaka
Ugrasena
Padmawati
Kuru
Yamadi



Herdika
Kangsa
8 putra
5 putri
Parikesit
Sudanu
putra-putra




Dewamida
Satadanwa
Kertawarma
10 generasi


Dinasti
Kuru
Para Raja
Magadha

Surasena
4 putra
Dewaki
6 putri
Sunanda
Pratipa



Basudewa
9 putra
4 putri
Dewapi
Gangga
Santanu
Satyawati
Bahlika
Parasara



Subadra
Kresna
putra-putra
Bisma
Citrānggada
Wicitrawirya



pelayan
Ambika

putra-putra
Raja Madra
Widura
Ambalika
Byasa

Subala

Surya
Kunti
Salya
Madri
Pandu
Somadata
Dretarastra

Gandari
_Sangkuni_

Karna
Buri
Burisrawa
Sala

Uluka

Yudistira
Bima
Arjuna
Nakula
Sadewa
pelayan




Pratiwindya
Satanika
Srutakama
Wirata
Yuyutsu
Duryodana
Dursasana
98 putra




Gatotkaca
Sutasoma
Srutakerti
Sweta
Utara
Wratsangka
Dursala


Barbarika
Abimanyu
Babruwahana
Irawan
Utari




Parikesit
Irawati



Janamejaya
Srutasena
Ugrasena
Bimasena





26 generasi


(akhir Dinasti
Candra)



Keterangan:
  • Kotak ungu: nama sebuah dinasti atau wangsa.
  • Kotak hijau tanpa garis pinggir: para raja/suku yang diturunkan.
  • Garis putus-putus: menjalin hubungan pernikahan/melakukan perkawinan.
(Bersambung)

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.