Tampilkan postingan dengan label Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teladan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Februari 2014

Mengemban Rasa Sakit

Barang siapa yang sudah menerjunkan dirinya ke medan dakwah, ia harus bersabar terhadap rasa sakit yang diemban, dan jangan sekali kali berputus asa. Karena sesungguhnya kemenangan itu ada dibelakangnya. “apakah kalian mengira bahwa kalian akan dibiarkang masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan sebagaimana halnya orang orang terdahulu sebelum kalian ?. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang orang beriman yang menyertainya “bilakah datang pertolongan Allah?, ingatlah bahwa pertolongan Allah itu dekat”. (Al Baqarah : 214)

Sumber

Senin, 27 Januari 2014

Pesan Malaikat Jibril

Di Kufah, Abu Hanifah memiliki seorang tetangga tukang sepatu. Sepanjang hari bekerja, menjelang malam ia baru pulang ke rumah. Biasanya ia membawa oleh-oleh berupa daging untuk dimasak atau seekor ikan besar untuk dibakar. Selesai makan, ia minum-minum seraya bernyanyi-nyanyi dan berhenti jauh malam setelah ia merasa mengantuk sekali, kemudian tertidur pulas.

Abu Hanifah yang telah terbiasa melaksanakan shalat sepanjang malam, tentu saja merasa terganggu oleh suara nyanyian tukang sepatu tersebut. Namun, ia diam saja. Pada suatu malam, Abu Hanifah tidak mendengar tetangganya itu bernyanyi-nyanyi seperti biasanya. Sesaat ia keluar untuk mencari kabarnya, ternyata menurut keterangan tetangga lain, ia baru saja ditangkap polisi dan ditahan.

Seusai shalat subuh, Abu Hanifah naik bighalnya menuju istana. Ia hendak menemui Amir Kufah. Kedatangan Abu Hanifah disambut dengan penuh khidmat dan hormat. Sang Amir sendiri yang berkenan menemuinya.

“Ada yang bisa aku bantu?” tanya sang Amir.

“Tetanggaku tukang sepatu kemarin ditangkap polisi. Tolong lepaskan ia dari tahanan Amir,” jawab Abu Hanifah.

“Baiklah,” kata sang Amir yang segera menyuruh seorang polisi penjara untuk melepaskan tetangga Abu Hanifah yang baru ditangkap kemarin petang.

Abu Hanifah pulang dengan naik bighalnya secara perlahan. Sementara, si tukang sepatu berjalan kaki di belakangnya. Ketika tiba di rumah, Abu Hanifah turun dan menoleh kepada tetangganya itu seraya berkata, “Bagaimana? Aku tidak mengecewakanmu kan?”

“Tidak, bahkan sebaliknya,” jawab si tukang sepatu.

“Terima kasih. Semoga Allah memberimu balasan kebajikan,” lanjut si tukang sepatu

Sejak itu ia tidak lagi mengulangi kebiasaannya, sehingga Abu Hanifah dapat merasa lebih khusyu’ dalam ibadahnya setiap malam.

Tembok Pembatas

Di era globalisasi, kini merupakan sebuah hal biasa ketika setiap kita terlihat sibuk dalam kesehariannya, bahkan terdapat sebuah ungkapan “pulang dan pergi seharian sehingga tak mampu melihat matahari terbit dan tenggelam”

Tingginya tingkat egoisme, individualisme dan hedonisme mengakibatkan terciptanya “tembok pembatas” dalam bermasyarakat. Adakalanya “tembok pembatas” dalam bermasyarakat timbul dikarenakan kurangnya intensitas bersosialisasi dalam bermasyarakat.

Padatnya aktifitas dan besarnya peranan kita dalam sebuah institusi ataupun organisasi, tak jarang menjadikan sedikitnya waktu untuk bersosialisasi dalam bermasyarakat. Dalam hal ini, Rasulullah saw telah mengingatkan umatnya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Rasulullah saw menjadikan akhlak kepada tetangga sebagai acuan penilaian kebaikan seseorang. ”Sebaik-baik kawan di sisi Allah adalah yang paling baik (budi pekertinya) terhadap kawannya, sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik kepada tetangganya.”

Dan Allahpun berfiman dalam QS. An Nisa’:36, “Berbuat baiklah kepada kedua orang, ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong dan membangga-banggakan diri”.

Letak Sebuah Kebermanfaatan

“Khairun naasi anfa’uhum linnaas”, sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain. Manusia bukan sekedar makhluk indvidu, melainkan manusia adalah makhluk social, yang mana segala yang ada dalam dirinya berpotensi membawa pengaruh terhadap lingkungan disekitarnya. Menjadi manusia bermanfaat disini tidaklah sekedar bermanfaat bagi institusinya, golongannya ataupun organisasinya, melainkan meliputi seluruh aspek kehidupan dalam bermasyarakat pada umumnya.

“Menjadi ada adalah karunia, sebab kita tak dapat mengadakan diri kita sendiri. Tapi menjadi ada saja tidaklah cukup, kita ada karena diperintahkan untuk memiliki makna,”  kata Ustadz Ahmad Zairofi.

Bagaimana kita dapat menjadi manusia yang bermanfaat jika enggan untuk bersosialisasi dalam bermasyarakat?

Sebagaimana kisah Abu Hanifah yang tetap menebarkan kebaikan terhadap tetangganya dengan membantunya mendapatkan ampunan dari sang amir hingga menjadikan si tukang sepatu tersadar dan tidak mengulangi kebiasaan buruknya. Sebagaimana pula kisah khalifah umar yang begitu memperhatikan kondisi masyarakat disekitarnya, hingga rela menggendong karung gandum seorang diri guna membantu kekurangan tetangga disekitarnya.

Islam memerintahkan umatnya untuk bertetangga secara baik. Bahkan, Rasulullah saw pernah mengira tetangga termasuk dalam ahli waris, dikarenakan seringnya Jibril mewasiatkan agar bertetangga dengan baik. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

”Jibril selalu mewasiatkan kepadaku tentang tetangga sampai aku menyangka bahwa ia akan mewarisinya” (HR Bukhari-Muslim)

Namun, ternyata waris atau warisan yang dimaksud Jibril adalah agar umat Islam selalu menjaga hubungan baik dengan sesama tetangga. Bertetangga dengan baik itu, termasuk menyebarkan salam ketika bertemu, menyapa, menanyakan kabarnya, menebar senyum, dan mengirimkan hadiah. Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam; 

”Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak sayur maka perbanyaklah airnya dan bagikanlah kepada tetanggamu” (HR Muslim)

Dan dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh bukhari, terdapat seorang wanita bersusah payah melaksanakan shalat wajib, bangun malam, menahan haus dan lapar, serta mengorbankan harta untuk berinfak, namun menjadi mubazir lantaran buruk dalam bertutur sapa dengan tetangganya.

Rasulullah bersumpah terhadap orang yang berperilaku demikian, tiga kali, dengan sumpahnya, ”Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman…!”

Sahabat bertanya, ”Siapa, ya Rasulullah?”

Beliau menjawab, ”Orang yang tetangganya tidak pernah merasa aman dari keburukan perilakunya”

***

“Ya Tuhan, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami, niscaya kami termasuk orang-orang yg merugi” (QS.Al A’raf : 23)




Sumber

Samudra Pasai: Sultan Malikush Shaleh

AL MALIK ASH-SHÂLIH atau lebih dikenal Sultan Malikussaleh wafat pada tahun 696 hijriah (1297 Masehi). Nama raja besar Kerajaan Islam Sameudera Pasai ini telah banyak diabadikan untuk nama-nama lembaga pendidikan atau lainnya. Bagaimanakah sosok Al-Malik Ash-Shâlih?
Makam Al-Malik Ash-Shâlih atau Al-Malikush-shâlih berada di Gampong Beuringen, Samudera, Aceh Utara. Menurut peneliti sejarah kebudayaan Islam, Taqiyuddin Muhammad, dari sisi struktur materilnya: bahan baku, ornamen, relief, kaligrafi dan pilihan ayat-ayat Al-Qur'an yang diukir, nisan tersebut memiliki kecenderungan cita rasa seni Islam di era kesultanan Aceh Darussalam. Yaitu, seni yang memunculkan suatu asimilasi budaya masyarakat pra-Islam di utara Sumatera dengan nilai-nilai Islam yang universal.
Itu sebabnya, kata Taqiyuddin Muhammad, dapat dipastikan bahwa pada masa pemahatan nisan ini dan jauh sebelumnya, Al-Malik Ash-Shâlih adalah sosok sangat dikenal. Sejarah hidupnya dikenang dan diteladani. Semangat yang dikembangkannya menjadi inspirasi bagi generasi-generasi berikutnya.

Seperti terlihat jelas pada kepribadian Sultan 'Ali ibn Syams ibn Munawwar Al-Makhshûsh bi Mughâyati-Llâh atau lebih dikenal Sultan 'Ali Mughayat Syah (wafat 936 H/1530 M), pelopor kebangkitan Aceh Darussalam. Catatan pada nisannya di komplek Kandang XII, Keraton Kuta Raja, menunjukkan bahwa ia juga sosok yang punya kemiripan besar dengan Al-Malik Ash-Shâlih.

Menurut Taqiyuddin Muhammad, pada makam Al-Malik Ash-Shâlih, terdapat inskripsi di sisi muka nisan sebelah kaki atau selatan, yang teksnya:
"Hâdza al-qabrul al-marhûm al-maghfûr at-taqiy an-nâshih al-hasîb an-nasîb al-karîm al-'âbid al-fâtih al-mulaqqab sulthân Malik ash-Shâlih alladzî intaqala min syahr Ramadhân sanata sitt wa tis'îna wa sittumi'ah min intiqal an-nabawiyyah saqa Allâhu tsarâhu wa ja'ala al-jannata matswâhu—lâ ilâha illa-Llâhu Muhammad rasulullâh."
(Inilah kubur orang yang dirahmati lagi diampuni, orang yang bertaqwa (takut kepada murka dan azab Allah) lagi pemberi nasehat, orang yang berasal dari keluarga terhormat dan dari silsilah keturunan terkenal lagi pemurah (penyantun), orang yang kuat beribadah ('abid) lagi pembebas, orang yang digelar [dengan] Sultan [Al-]Mâlik Ash-Shalih, yang berpindah [ke rahmatullah] dari bulan Ramadhan tahun 696 dari hijrah Nabi [saw.]. Semoga Allah menyiramkan [rahmat-Nya] ke atas pusaranya serta menjadikan syurga tempat kediamannya. Tiada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah).

Taqiyuddin menyebutkan, kedua kata: al-marhûm dan al-maghfûr adalah pengakuan awal bahwa Allah-lah Yang Maha Mengetahui segalanya. Bagaimanapun tingginya seseorang dalam pandangan manusia, ia tetap hamba Allah yang tidak terlepas dari silap dan salah. Maka siapa pun hamba Allah pantas untuk didoakan semoga Allah Mengampuni dan Merahmatinya.

at-taqiy an-nâshih (orang yang takut kepada murka dan azab Allah, lagi pemberi nasehat) adalah dua kata yang berpasangan secara serasi. Kata kedua, an-nâshih, lahir dalam ingatan segera setelah kata pertama, at-taqiy. Bila ungkapan ini disederhanakan, menurut Taqiyuddin, maka lebih kurang bermakna: “ia bukan hanya orang yang baik tapi juga orang yang menginginkan kebaikan bagi orang lain”.
An-Nâshih, pemberi nasehat. Menurut Taqiyuddin, ini adalah pola pandang sekaligus metoda. Kekerasan bukanlah pilihan awal dan akhir. Arahan Nabi saw., sampaikanlah olehmu berita menggembirakan [tentang rahmat dan petunjuk Allah], dan jangan kamu menjauhkan mereka [dari rahmat dan petunjuk-Nya], senantiasa dicamkan oleh Al-Malik Ash-Shâlih. Ia memberi nasehat, mengajak, menyeru kepada menyembah Tuhan yang patut disembah dan berbuat kebaikan demi keselamatan di dunia dan akhirat.
Menurut Taqiyuddin, inskripsi pada nisan Al-Malik Ash-Shâlih juga menyebutkan bahwa ia seorang yang berasal dari keluarga terhormat dan dari silsilah keturunan terkenal, lagi penyantun (al-hasîb an-nasîb al-karîm).

“Sifat al-karîm atau penyatun lahir dengan sendirinya dalam ingatan setelah al-hasîb an-nasîb, semisal kita mengatakan, ia orang hebat tapi tidak sombong,” kata Taqiyuddin.

***

Taqiyuddin mengatakan, dalam penyelidikan tentang perkembangan Islam di nusantara atau khususnya kawasan utara Sumatera, begitu pula tentang asal usul Al-Malik Ash-Shâlih, sebenarnya perkembangan Islam di anak benua India tidak bisa diabaikan. Sebab letak geografisnya yang lebih berdekatan dibanding kawasan-kawasan Islam lainnya yang berada di Timur Tengah.
Gelombang peristiwa besar dalam sejarah Islam yang terjadi di anak benua India pada masa-masa itu dipastikan sampai juga riaknya ke utara Sumatera, yang sebelumnya telah lama disebut sebagai salah satu pulau-pulau India (al-juzûr al-hindiyah) oleh para musafir dan ahli geografi Arab-Persia. Sehingga, tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa dari sisi peristiwa sejarahnya, Sumatera merupakan patahan hanyut dari anak benua India.

Abad VI sampai permulaan abad VIII hijriah, sebelum dinasti Mogul memerintah Delhi dan sebagian besar kawasan di India, perkembangan Islam sudah sedemikian dahsyat di daratan Asia Selatan. Para sejarawan sepakat bahwa Syihâbuddîn Muhammad Al-Ghûri (wafat 602 H/1206 M) dalam masa pertengahan kedua abad VI hijriah telah melakukan perluasan wilayah Islam sedemikian besar mengikuti jejak pendahulunya Mahmûd Al-Ghaznawi (wafat 421 H/1030 M). Syihâbuddîn Al-Ghûri bermazhab Syâfi'iy dan bersahabat dekat dengan Fakhruddîn Ar-Râzî (wafat 606 H/1210 M), seorang ulama Syafi'iyyah terkemuka di dunia Islam.

Bahasan ini teramat panjang. Namun yang perlu diperhatikan, kata Taqiyuddin, adalah pada paruh terakhir abad VII hijriah (XIII masehi), Sultan Ghiyâtsuddîn Balbân atau Bâlibân, seorang Mameluk asal Turkistan, mengabdi di istana Sultan Ultumush (wafat 633 H/1235 M) yang kemudian mengawinkannya dengan puterinya, menjabat sebagai wazîr (perdana menteri) pada masa pemerintahan Nâshiruddîn Mahmûd (wafat 664 H/1266 M), putera Ultumush, dan setelah terakhir wafat, ia memegang tali kendali kesultanan Delhi.
Menurut Taqiyuddin, Sultan Ultumush, mertua Balbân, ini digelar oleh Khalîfah Al-Mustanshir bi-Llâh (wafat 640 H/1243 M)—kakek ke-4 dari Shadr Al-Akâbir Abdullah (wafat 816 H/1414 M) yang makamnya berada di Kuta Karang, Samudra, AcehUtara—dengan Nâshir al-Khalîfah (pembela Khalifah), karena mengingat bangsa Mongol (Tartar) yang mulai menjadi ancaman krusial bagi Baghdad, kota kekhalifahan pada waktu itu.

Pada 684 hijriah (1286 masehi), putera mahkota dari Sultan Ghiyâtsuddîn Balbân bernama Muhammad Khân, syahid dalam satu pertempuran melawan Mongol di Multan. Kesendihan atas meninggal putera mahkotanya mendorong Balbân untuk mewasiatkan kesultanan Delhi kepada cucunya, putera Muhammad Khân, yang bernama Kay Khusrau. Namun ketika Balbân wafat pada 685 hijriah (1287 masehi), tahta kesultanan Delhi yang diwasiatkan untuk Kay Khusrau direbut oleh saudara sepupunya, Kaiqubâd bin Baghrâ Khân (wafat 684 H/1290 M). Kay Khusrau yang masih berumur muda terpaksa keluar dari Delhi. Sampai di situ, sejarah pun menurunkan layar penutup dari kisah Kay Khusrau ini.

Taqiyuddin menjumpai banyak petunjuk di Samudra Pasai mengarah pada kesimpulan bahwa amir atau pangeran yang berhijrah dari Delhi untuk menghindari perpecahan dan pertumpahan darah dengan saudaranya ini, ternyata telah memilih wilayah amat jauh dari Delhi sebagai tempat tujuannya, wilayah mana telah berada dalam kekuasaan kesultanan Delhi paling tidak sejak permulaan abad VII hijriah (XIII M). Wilayah ini dapat dipastikan adalah Pasai.

Itu sebabnya, menurut Taqiyuddin, dapat diyakini bahwa Al-Malik Ash-Shâlih berasal dari keturunan terhormat, karena turunan dari sultan-sultan besar Delhi sampai dengan Quthbuddîn Aibak (wafat 606 H/1210 M), pendiri dinasti Mameluk (Mamalik) Delhi yang telah membangun Mesjid Quwwatul Islam dan Qutb Minar dan sangat terkenal dalam sejarah dunia Islam.
Sekalipun berasal dari turunan terpandang dan mulia, namun Al-Malik Ash-Shâlih adalah seorang yang penyantun (al-karîm), tidak tinggi hati. Menyayangi orang-orang yang lemah dan tak berdaya. Statusnya yang tinggi tidak menyulitkan dirinya untuk merendah. Iman dan pengalaman hidupnya telah mengangkatnya untuk menjadi sosok yang dicintai oleh rakyatnya, terutama oleh golongan lemah.

Maka, kata Taqiyuddin, tidak mengherankan apabila masa pemerintahan Al-Malik Ash-Shâlih adalah masa awal Samudra Pasai muncul sebagai sebuah kesatuan politik yang kuat dan berpengaruh di nusantara, terutama dalam memperluas wilayah Islam di bumi nusantara yang amat jauh dari tempat turun wahyu. Hingga, Islam sampai hari ini masih tetap menjadi agama mayoritas di Indonesia dan semenanjung Melayu, walaupun pernah dihantam badai imperialisme yang cukup lama dan berat.

“Tak dapat tidak untuk diakui bahwa proses Islamisasi Asia Tenggara yang begitu cepat adalah peristiwa sejarah terhebat di kawasan ini. Hal tersebut sudah barang tentu dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar teguh, salah satunya ialah Al-Malik Ash-Shâlih,” kata Taqiyuddin.

Al-'âbid al-fâtih (ahli ibadah lagi pembebas). Sifat ini yang membuat Al-Malik Ash-Shâlih bukan orang terkecualikan dalam barisan tokoh-tokoh besar dan agung dalam sejarah Islam.

“Al-Malik Ash-Shâlih memang seorang ahli ibadah (Al-'âbid), tapi ia bukan petapa yang menyembunyikan dirinya di gunung-gunung. Ia seorang pembebas (al-fâtih); seorang ahli ibadah yang juga kesatria,” kata Taqiyuddin.
Al-Malik Ash-Shâlih adalah seorang pengembang da'wah Islam dan penyebar nilai-nilai kebebasan (al-hurriyah). Apabila ketertarikan ramai orang kepada Islam diawali oleh faktor sosok penyebarnya, kata Taqiyuddin, maka kepribadian Al-Malik Ash-Shâlih adalah daya tarik pertama yang mendorong orang untuk memeluk Islam.

“Jelas sekali, ia seorang yang tidak bernafsu menguasai tanah dan harta milik orang lain; ia hanya menginginkan hati mereka di dalam Islam,” kata Taqiyuddin.
Itulah pribadi orang yang digelar dengan Sultan Al-Malik Ash-Shâlih (raja yang shalih). Sebuah gelar (laqb) yang amat sepadan dengan penyandangnya, Al-Malik Ash-Shâlih.







Sumber

WASIAT SULTAN ACEH

Sebuah translaterisi manuskrip dari kerajaan Islam Aceh Bandar Darussalam telah ditemukan di perpustakaan Universiti Kebangsaan Malaysia. Manuskrip ini merupakan ‘Wasiat Sultan Aceh’ kepada pemimpin-pemimpin Aceh pada 913 Hijriah pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal hari Ahad bersamaan 23 Juli, 1507.
Isi buku tersebut ialah sebuah kunci untuk rakyat yg di simpan oleh Raja-Raja aceh terdahulu untuk generasi Aceh di masa yang akan datang, isi dalam buku tersebut hanyalah seuntaian wasiat sekaligus nasehat yg dipersembahkan kepada anak cucu generasi Aceh selanjutnya.
Apa yang dilakukan oleh Rakyat Aceh dahulu dalam keseharian mereka sehingga Aceh punya hari yang indah nan gemilang. Satu hal yang perlu dicermati bersama adalah pada saat Kerajaan Aceh Bandar Darussalam berdiri, Sultan Ali Mughayat Syah mengistiharkan “The Aceh Code” atau “Pohon Kerajaan Aceh”. “Aceh Code” ini merupakan 21 kewajiban yang harus dilakukan oleh seluruh rakyat Rakyat Aceh pada saat itu.
Beginilah transliterasi manuskrip dari Kerajaan Islam Aceh Bandar Darussalam yang bertajuk:

KEWAJIBAN RAKYAT KERAJAAN ISLAM ACEH BANDAR DARUSSALAM
Bismillahirrahmanirrahim, Amma Ba’du
Maka Inilah Pohon Kerajaan Aceh Bandar Darussalam
Mulai terdiri Kerajaan Aceh Bandar Darussalam iaitu pada tahun 913 Hijriah pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal Hari Ahad bersamaan 23 Julai, 1507…;”
Atas nama yang berbangsawan bangsa Aceh iaitu Paduka Seri Sultan Alauddin Johan Ali Ibrahim Mughayat Syah Johan Berdaulat
Maka pohon kerajaan mulai tersusun oleh yang berbangsawan tersebut hingga sampai pada kerajaan puteranya yang kuat iaitu Paduka Seri Sultan Alauddin Mahmud Al-Qahhar Ali Riayat Syah…;
Kemudian hingga sampai pada masa kerajaan cicitnya iaitu Raja yang lang-gemilang gagah perkasa yang masyhur al-mulaqaab Paduka Seri Sultan Al-Mukarram Sultan Alauddin Mahkota Alam Iskandar Muda Perkasa Alam Syah Johan Berdaulat Zilullah Fil Alam…;
Iatiu telah ijmak keputusan sabda muafakat Kerajaan Aceh Bandar Darussalam beserta alim ulamak dan hulubalang dan menteri-menteri;
Iaitu telah ditetapkan dia dan telah difaftarkan dan iaitu dengan sahih sah dan muktamad dengan memberitahu dan diperintahkan dia dengan mengikut dan menurut menjalankan dan melaksanakan oleh seluruh pegawai-pegawai Kerajaan Aceh Bandar Darussalam dan jajahan takluknya iaitu diwajib difayahkan di atas seluruh rakyat Aceh Bandar Darussalam dan jajahan takluknya...
Bahawasanya kita semuanya satu negeri bernama Aceh dan berbangsa Aceh dan berbahasa Aceh dan kerajaan Aceh dan alam Aceh;
Yakni satu negeri satu bangsa dan satu kerajaan dan satu alam dan satu agama yakni Islam dengan mengikut syariah Nabi Muhammad SAW;
Atas jalan ahlu-Sunnah wal Jamaah dengan mengambil hukum daripada Qur’an dan Hadis dan qias dan ijmak ulamak ahlu-sunnah wal jamaah;
Dengan hukum dengan adat dengan resam dengan kanun iaitu syarak Allah dan syarak Rasullulllah dan syarak kami;
“…Bernaung di bawah Alam Merah Cap Peudeung lukisan warna putih yang berlindung di bawah panji-panji Syariat Nabi Muhammad SAW…;
Dari dunia sampai ke akhirat dalam dunia ini sepanjang masa :
    1. Pertama, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh yang lelaki lagi mukaallaf dan bukan gila iaitu hendaklah membawa senjata ke mana-mana pergi berjalan siang-malam iaitu pedang atau sikin panjang atau sekurang-kurangnya rincong tiap-tiap yang bernama senjata.
    1. Kedua, tiap-tiap rakyat mendirikan rumah atau masjid atau baleeh-baleeh atau meunasah maka pada tiap-tiap tihang di atas puting di bawah bara hendaklah di pakai kain merah dan putih sedikit yakni kain putih.
    1. Ketiga, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh iaitu bertani utama lada dan barang sebagainya.
    1. Keempat, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh mengajar dan berlajar pandai emas dan pandai besi dan pandai tembaga beserta ukiran bunga-bungaan.
    1. Kelima, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh yang perempuan iaitu mengajar dan belajar membikin tepun (tenun) bikin kain sutera dan kain benang dan menjaid dan menyulam dan melukis bunga-bunga pada kain pakaian dan barang sebagainya.
    1. Keenam, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh belajar dan mengajar jual-beli dalam negeri dan luar negeri dengan bangsa asing.
    1. Ketujuh, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh belajar dan mengajar ilmu kebal.
    1. Kedelapan, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh yang laki-laki mulai taklif syarak umur lima belas tahun belajar dan mengajar main senjata dengan pendekar silek dan barang sebagainya.
    1. Kesembilan, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh dengan wajib ain belajar dan megajar ilmu agama Islam syariah Nabi Muhammad SAW atas almariq ( berpakaian ) mazhab ahlu-sunnah wal jamaah r. ah ajmain.
    1. Kesepuluh, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh menjauhkan diri daripada belajar dan mengajar ilmu kaum tujuh puluh dua yang di luar ahli sunnah wal jamaah r. ah ajmain.
    1. Kesebelas, sekalian hukum syarak yang dalam negeri Aceh diwajibkan memegang atas jalan Mazhab Imam Syafi’i r.a. di dalam sekalian hal ehwal hukum syarak syariat Nabi Muhammad SAW. Maka mazhab yang tiga itu apabila mudarat maka dibolehkan dengan cukup syartan ( syarat ). Maka dalam negeri Aceh yang sahih-sah muktamad memegang kepada Mazhab Syafi’i yang jadid.
    1. Keduabelas, sekalian zakat dan fitrah di dalam negeri Aceh tidak boleh pindah dan tidak diambil untuk buat bikin masjid-masjid dan balee-balee dan meunasah-meunasah maka zakat dan fitrah itu hendaklah dibahagi lapan bahagian ada yang mustahak menerimanya masing-masing daerah pada tiap-tiap kampung maka janganlah sekali-kali tuan-tuan zalim merampas zakat dan fitrah hak milik yang mustahak dibahagi lapan.
    1. Ketigabelas, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh membantu kerajaan berupa apa pun apabila fardhu sampai waktu datang meminta bantu.
    1. Keempatbelas, diwajibkan diatas sekalian rakyat Aceh belajar dan mengajar mengukir kayu-kayu dengan tulisan dan bunga-bungaan dan mencetak batu-batu dengan berapa banyak pasir dan tanah liat dan kapur dan air kulit dan tanah bata yang ditumbok serta batu-batu karang dihancur semuanya dan tanah diayak itulah adanya.
    1. Kelimabelas, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh belajar dan mengajar Indang Mas di mana-mana tempatnya dalam negeri.
    1. Keenambelas, diwajibkan di atass sekalian rakyat Aceh memelihara ternakan seperti kerbau dan sapi dan kambing dan itik dan ayam tiap-tiap yang halal dalam syarak agama Islam yang ada memberi manfaaf pada umat manusia diambil ubat.
    1. Ketujuhbelas, diwajibkan ke atas sekalian rakyat Aceh mengerjakan khanduri Maulud akan Nabi SAW, tiga bulan sepuluh hari waktunya supaya dapat menyambung silaturrahmi kampung dengan kampung datang mendatangi kunjung mengunjung ganti-berganti makan khanduri maulut.
    1. Kedelapanbelas, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh bahawa hendaklah pada tiap-tiap tahun mengadakan Khaduri Laut iaitu di bawah perintah Amirul Bah yakni Panglima Laot.
    1. Kesembilanbelas, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh mengerjakan Khanduri Blang pada tiap-tiap kampung dan mukim masing-masing di bawah perintah Penglima Meugoe dengan Kejrun Blang pada tiap-tiap tempat mereka itu.
    1. Keduapuluh, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh bahawa tiap-tiap pakaian kain sutera atau benang atau payung dan barang sebagainya yang berupa warna kuning atau warna hijau tidak boleh memakainya kecuali yang boleh memakainya iaitu Kaum Bani Hasyim dan Bani Muthalib yakni sekalian syarif-syarif dan sayed-sayed yang turun menurun silsilahnya daripada Saidina Hasan dan Saidina Husin keduanya anak Saidatina Fatima Zahra Nisa’ Al-Alamin alaihassalam binti Saidina Rasulullah Nabi Muhammad SAW; dan warna kuning dan warna hijau yang tersebut yang dibolehkan memakainya iaitu sekalian kaum keluarga ahli waris Kerajaan Aceh Sultan yang raja-raja dan kepada yang telah diberi izin oleh kerajaan dibolehkan memakainya; kepada siapapun.
    1. Keduapuluhsatu, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh bahawa jangan sekali-kali memakai perkataan yang hak kerajaan: Pertama titah kedua sabda ketiga Karunia keempat Nugerahi kelima Murka keenam Daulat ketujuh Seri Pada ( Paduka ) kedelapan Harap Mulia kesembilan Paduka Seri kesepuluh Singgahsana kesebelas Takhta keduabelas Duli Hadrat ketigabelas Syah Alam keempatbelas Seri Baginda kelimabesar Permaisuri keenambelas Ta.
Maka demikianlah sabda muafakat yang sahih-sah muktamad daripada Kerajaan Aceh Bandar Darussalam adanya.
Maka hendaklah menyampaikan sabda muafakat keputusan kerajaan kami oleh Hulubalang Menteri kami kepada sekalian rakyat kami ke seluruh Aceh iaitu daerah-daerah dan mukim-mukim dan kampung-kampung dan dusun-dusun timur dan barat tunong dan baruh kepada sekalian imam-imam dan kejrun-kejrun dan datuk-datuk dan kechik-kechik dan wakil-wakil dan sekalian orang yang tuha-tuha dan muda-muda dan sekalian orang yang ada jabatan masing-masing besar dan kecil menurut kadarnya dan ilmunya;
Iaitu mudah-mudahan insya Allah ta’ala dapat selamat bahagia sekalian umat manusia dalam negeri Aceh Bandar Darussalam khasnya dan Aceh jajahan takluk amnya iaitu siapa menjadi manusia yang baik dan berkelakuan yang baik serta tertib sopan majlis dan hormat mulia yang sempurna dengan berkat syafaat Nabi SAW supaya terpeliharalah bangsa kami Aceh dan negeri kami Aceh daripada mara dan bahaya dengan selamat sejahtera bahagia sepanjang masa dan jauh daripada lembah kehinaan dan kesusahan sepanjang hidup;
Supaya terpeliharalah negeri kami Aceh dan alam kami Aceh dan bangsa kami Aceh dengan usaha yang banyak supaya dapat mesra kesenangan bersama-sama iaitu antara rakyat dengan kerajaan dengan bersatu seperti nyawa dengan jasaad serta dengan taqwa dan tawakkal kepada Allah ta’alaa dengan menahan sabar daripada kepayahan maka tentu akhirnya insya Allah ta’ala dapat jadi kebajikan bersama-sama dengan saudara-saudara-saudara Islam yang dalam negeri Aceh dengan berkasih-kasihan dengan mengikut Syarak Allah dan Syarak Rasul dan Syarak Kerajaan.
Sanah 1272 Hijriah ( 1855 Masehi )
=========================================================================
Inilah Pesan Wasiat Raja Ajeh di masa silam untuk rakyat aceh dan generasi selanjutnya, sedangkan dalam buku tersebut masih sangat banyak nasehat-nasehat lain dan hikayat atjeh dimasa silam sebagai mana seorang ulama yg disebutkan dalam buku tsb, telah menulis sebuah hikayat yg intinya dalam hikayat tsb ulama itu memprediksi akan kondisi atjeh di masa akan datang akhir dari hikayat ulama tsb mengatakan yg intinya “ACEH AKAN KEMBALI MAJU PADA SUATU MASA, PADA MASA ITU JIKA LAMIT AKAN KEMBALI KEPADA LAMIET DAN YG HAK AKAN KEMBALI KEPADA MEREKA YG BERHAK MENERIMANYA”.
Dari 21 pesan2 raja di atas secara detail dapat disimpulkan bahwa dalam nasehat2 itu mengandung 5 nilai hidup utama yang Islami yg menjadi falsafah dan prinsip yaitu :
1. AMANAH (Amanah direpresentasikan dalam pasal 17, 18 dan 19.)
2. BERANI (Berani terangkum dalam pasal 1, 7 dan 8)
3. DISIPLIN (Disiplin terkandung dalam pasal 2, 9, 10, 11, 12 dan 13.)
4. RAJIN ( Rajin ditemukan dalam pasal 3, 4, 5, 6, 14, 15 dan 16. )
5. SETIA (Setia pula dapat kita lihat pada pasal 20 dan 21.)
Dari kelima pesan inilah terlukiskan seberapa sayangnya raja-raja dan ulama-ulama atjeh di masa silam dalam menjaga Hak tanah yg suci yg sudah lama mereka perjuangkan dan sebagai rasa cintanya kepada generasi selanjutnya mereka mempersembahkan untaian nasehat yg sangat bermanfaat dan yang tak ternilai harganya.
Maka sesudah habis mendengar khabar maka ulamak telah bertanya apakah padahnya jika wasiat itu diabaikan. Maka menangislah Seri Baginda Sultan sebab kerana sayangnya kepada umat manusia pada masa akan datang serta Seri Baginda dalam tangisannya mengucap sabda dengan kata syair yang amat dalam maksudnya lagi nasihat yang sangat baik tujuannya dan amat luas maknanya, iaitu inilah bunyinya syair nazamnya:
Bismillahirrahmanirrahim
Jituka alim dengan jahil;
Jituka adee dengan inaya
Jituka murah dengan bakhil;
Cita akan zahir bak raja-raja
Jituka taat dengan maksiat;
Jiboh aniek mit keu ureung tuha
Jituka yang la jimita yang mit;
Tamsee aneuk mit yang tuha-tuha
Jituka iman jitung murtad;
Asai na pangkaat megah ngon kaya
Jituka yang trang jitung yang seupot;
Jitem meureubot tuwo keu desya
Jituka makmu jitem tung deuk troe;
Ureng yang bako tekala wala
Jituka senang jitem tung susah;
Peuget fitnah meuseunoh kadar
Jituka megah jitung hinaan;
Inong ngon agam male jih hana
Jituka luwah jitem tung picek;
Tanda mubaligh keurajeun raja
Jituka qanaah jitem lubha;
Alamat tanda akai tan lisik
Jituka sihat jitung peunyaket;
Jitem meusaket dengan hareuta
Jituka aman jitem tung kacho;
Nibak bala pebala dengan saudara
Ouh akhee nanggroe lee that ban macam;
Saboh yang asai saboh yang hana
Dalam syuruga hideh yang asai;
Penolong Tuhan keu mukmin dumna
Yang dalam donya sinoe tan asai;
Meunajih badan meu ubah rupa
Sejarah telah membuktikan tatkala Aceh Code diimplementasikan secara terus menerus, ia membawa kegemilangan bagi Aceh. Manakala Aceh Code diabaikan, sedikit demi sedikit Aceh mengalami kemunduran sampai pada titik nadir. Melihat situasi di Aceh sekarang, saya merasa sudah waktunya Aceh Code sebagai warisan endatu kita yang sangat berharga untuk kembali disosialisasikan dan diaplikasikan –tentunya setelah dimodifikasi dan disesuaikan dengan kondisi terkini- dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat Aceh. Bila hal ini dilakukan, Insya Allah kegemilangan yang telah dicapai Aceh dalam bidang politik, ekonomi, agama dan budaya di masa lampau akan kembali terulang




Sumber

Senin, 16 Desember 2013

Imam Syafi’i dan Putra Khalifah

Imam Syafi’i dan Putra Khalifah


226983 161238430695926 139610332 n 268x300 Pelajaran Pertama Imam Syafii Kepada Putra Khalifah DIKISAHKAN bahwa Khalifah Harun Al-Rasyid mengirimkan anaknya kepada Imam Syafii untuk belajar dengannya.

Imam Syafii lantas mempersilahkan sang putra khalifah tersebut dan kemudian beliau bertanya,
“Apakah engkau putra khalifah Harun Arrasyid?”

“Ya,” jawab sang pemuda.

“Plaaaaak..” seketika itu juga Imam Syafi’i menempeleng tepat di wajah sang pemuda tersebut.

Sang Putra khalifah merasa bingung atas tindakan yang dilakukan oleh Imam Syafi’i sehingga beliaupun pulang dan menceritakan apa yang terjadi kepada ayahnya.

“Apakah engkau yakin tidak melakukan apa-apa dan lantas Imam Syafi’i memukulmu tanpa sebab?

“Ya,” jawab anaknya.

Sang Khalifah pun lantas pergi menuju Imam Syafii. “Apakah anakku melakukan kesalahan?” tanya Khalifah kepada Imam.

“Tidak,” jawab Imam.

“Saya tahu bahwa engkau memukulnya bukan tanpa sebab, dan saya tahu bahwa kau ingin memberikan pelajaran di balik semua itu, maka katakanlah supaya aku mengetahuinya.”

“Anakmu tidak bisa baca tulis dan saat dia besar nanti akan menjadi seorang khalifah. Adapun mengapa aku memukulnya, agar ia mengetahui arti ketidakadilan dan kedzaliman, sehingga ketika dewasa, ia tidak akan melakukan kedzaliman dan ini lah pelajaran pertama dariku untuknya.”
[dedih mulyadi/islampos]

Senin, 09 Desember 2013

Kebiasaan Nabi dan Orang Sholih di Pagi Hari


pagi hari keberkahan islampos 268x300 Kebiasaan Nabi dan Orang Sholih di Pagi Hari“Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seorangpun yang membebani dirinya di luar kemampuannya kecuali dia akan dikalahkan. Hendaklah kalian melakukan amal dengan sempurna (tanpa berlebihan dan menganggap remeh). Jika tidak mampu berbuat yang sempurna (ideal) maka lakukanlah yang mendekatinya. Perhatikanlah ada pahala di balik amal yang selalu kontinu. Lakukanlah ibadah (secara kontinu) di waktu pagi dan waktu setelah matahari tergelincir serta beberapa waktu di akhir malam.” (HR. Bukhari no. 39. Lihat penjelasan hadits ini di Fathul Bari). Al Jauhari mengatakan bahwa yang dimaksud ‘al ghodwah’ adalah waktu antara shalat fajar hingga terbitnya matahari. (Lihat Fathul Bari 1/62, Maktabah Syamilah).
Jelas sudah bahwa dalam ajaran Islam, waktu pagi menempati  sesuatu yang sangat penting dalam perjalanan hidup sepanjang hari. Ibaratnya, pagi adalah jenderal. Berikut adalah kebiasaan Nabi Muhammad SAW dan orang-orang shalih setiap pagi.
Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
An Nawawi dalam Shohih Muslim membawakan bab dengan judul ‘Keutamaan Tidak Beranjak Dari Tempat Shalat Setelah Shalat Shubuh Dan Keutamaan Masjid’. Dalam bab tersebut terdapat suatu riwayat dari seorang tabi’in, Simak bin Harb. Beliau rahimahullah mengatakan bahwa dia bertanya kepada Jabir bin Samuroh : “Apakah engkau sering menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk?”. Jabir menjawab : “Iya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak beranjak dari tempat duduknya setelah shalat shubuh hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri (meninggalkan tempat shalat). Dulu para sahabat biasa berbincang-bincang (guyon) mengenai perkara jahiliyah, lalu mereka tertawa. Sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum saja.” (HR. Muslim no. 670).
Al Qadhi mengatakan bahwa inilah sunnah yang biasa dilakukan oleh salaf dan para ulama. Mereka biasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdzikir dan berdo’a hingga terbit matahari.” (Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/29, Maktabah Syamilah).
Kebiasaan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :
Dari Abu Wa’il, dia berkata, “Pada suatu pagi kami mendatangi Abdullah bin Mas’ud selepas kami melaksanakan shalat shubuh. Kemudian kami mengucapkan salam di depan pintu. Lalu kami diizinkan untuk masuk. Akan tetapi kami berhenti sejenak di depan pintu. Lalu keluarlah budaknya sembari berkata, “Mari silakan masuk.” Kemudian kami masuk sedangkan Ibnu Mas’ud sedang duduk sambil berdzikir.
Ibnu Mas’ud lantas berkata, “Apa yang menghalangi kalian padahal aku telah mengizinkan kalian untuk masuk?”
Lalu kami menjawab, “Tidak, kami mengira bahwa sebagian anggota keluargamu sedang tidur.”
Ibnu Mas’ud lantas bekata, “Apakah kalian mengira bahwa keluargaku telah lalai?”. Kemudian Ibnu Mas’ud kembali berdzikir hingga dia mengira bahwa matahari telah terbit. Lantas beliau memanggil budaknya, “Wahai budakku, lihatlah apakah matahari telah terbit.” Si budak tadi kemudian melihat ke luar. Jika matahari belum terbit, beliau kembali melanjutkan dzikirnya. Hingga beliau mengira lagi bahwa matahari telah terbit, beliau kembali memanggil budaknya sembari berkata, “Lihatlah apakah matahari telah terbit.” Kemudian budak tadi melihat ke luar. Jika matahari telah terbit, beliau mengatakan : “Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami berdzikir pada pagi hari ini.” (HR. Muslim no. 822)
Keadaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :
Ketika menjelaskan faedah dzikir bahwa dzikir dapat menguatkan hati dan ruh, Ibnul Qayim mengatakan, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah suatu saat shalat shubuh. Kemudian (setelah shalat shubuh) beliau duduk sambil berdzikir kepada Allah Ta’ala hingga pertengahan siang. Kemudian berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-.” (Al Wabilush Shoyib min Kalamith Thoyib, hal.63, Maktabah Syamilah). [azwariskandar]

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.