Tampilkan postingan dengan label YAHUDI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label YAHUDI. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 April 2014

Sejarah Sionisme


Di dalam artikel-artikel 1-8 kita sudah melihat langkah demi langkah cara tanah Palestina diduduki. Dari zaman sebelum 3500 tahun lalu wilayah itu diduduki dari berbagai suku kecil, kebanyakan sebagai pengembara dan pada dasarnya masa kini suku-suku itu tidak ada lagi.

3500 tahun yang lalu Tuhan telah memberikan tanah Palestina itu ke sebuah bangsa yang ”lahir” di Mesir dari 70 orang keturunan Abraham, Ishak dan Yakub yang telah menjadi bangsa dengan tiga juta orang. Bahwa Palestina diberikan Tuhan kepada bangsa baru ini yang keluar dari Mesir dicatat dalam Alkitab (Keluaran 6:7) dan dalam Al-Qur’an (Surah Al Maidah 5:20-21).

Selama 1600 tahun berikut sampai tahun 70M wilayah Palestina adalah tanah Negara Israel dari zaman Yosua sampai penghancuran kota Yerusalem oleh tentara Roma yang dipimpin Jenderal Titus. Dari 70M itu masyarakat Israel yang masih hidup setelah pembantaian besar-besaran hanya sekitar 15% tetap tinggal di Palestina dan yang lain sudah menjadi diaspora ke pelbagai bangsa Eropa, Asia dan Timur Tengah. Kemudian mereka mengembara ke Amerika Serikat, Amerika Latin, Australia dll sampai 14 Maret 1948 pada waktu PBB telah mengakui kembali eksistensi Negara Israel di wilayah Palestina.

Apa menjadi faktor-faktor Israel lahir kembali setelah 1878 tahun tidak ada Negara Israel dan padang pasir Palestina menjadi rebutan berbagai bangsa? Untuk memahaminya kita perlu mempelajari latar belakang dan langkah-langkah kembalinya orang-orang Yahudi dan faham ”Sionisme” yang dimilikinya yang mendorong mereka kembali mendirikan negara Israel kembali.

1. Makna Sionisme
"Sionisme" mendapat namanya dari nama kota yang disebut di Alkitab sebagai "Sion". Sion dalam sejarah telah menjadi sinonim untuk kota Yerusalem bahkan seluruh Tanah Israel. Sionisme adalah sebuah ideologi yang mengungkapkan keinginan masyarakat Yahudi di seluruh dunia untuk kembali ke kampung halaman historis mereka, Israel.

Inti pemikiran Sionisme adalah konsep bahwa Tanah Israel adalah tempat lahirnya Negara Israel (di zaman Yosua) dan keyakinan bahwa kehidupan Yahudi di tempat lain adalah kehidupan dalam pengasingan.
Berabad-abad kaum diaspora Yahudi telah memelihara hubungan kuat dan unik dengan tanah asalnya, dan kerinduan untuk kembali lagi ke Sion diungkapkan melalui berbagai ritual dan literatur sbb:
  • Dalam DOA, kaum Yahudi sebagai penyembah diinstruksikan untuk menghadap ke arah timur, ke arah Israel, ke arah kota Yerusalem.
  • Dalam IBADAH PAGI, orang Yahudi berkata “Bawalah kami dengan damai dari keempat penjuru dunia dan memimpin kami dengan kebenaran ke tanah kami.”
  • Para pendoa secara harian BERDOA, “Terpujilah Engkau, ya Tuhan, yang membangun Yerusalem,” dan “Terpujilah Engkau, ya Tuhan, yang memulihkan hadirat-Nya ke Sion.”
  • DOA SETELAH MAKAN termasuk berkat yang berakhir dengan doa untuk pembangunan kembali “Yerusalem, Kota Kudus, dengan segera dibangun kembali pada generasi kami.”
  • Dalam PEMBERKATAN NIKAH, mempelai lelaki mencari agar “mengangkat Yerusalem menjadi sukacita utama kami.”
  • Waktu PENYUNATAN doa dari Mazmur 137:5 diucapkan, “Jika aku melupakan engkai, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku.”
  • Waktu akhir perjamuan PASKAH, setiap orang Yahudi selama 1900 tahun berkata, “Tahun depan di Yerusalem!
  • Pada saat BERDUKA, yang berduka dihiburkan dengan menyebut Tanah Israel: “Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Penghibur Sion dan yang membangun Yerusalem.”
  • Dalam berbagai jenis PUISI kerinduan kaum Yahudi untuk kembali ke Tanah Airnya ditulis dalam bahasa Ibrani dan dialek-dialek Yahudi lainnya, seperti Yiddish di Eropa Timur dan Ladino di Spanyol.
Inti pemikiran faham Sionisme ini dicatat dalam Deklarasi Kemerdekaan Israel (14 May 1948), yang berbunyi:

“Tanah Israel adalah tempat kelahiran bangsa Yahudi. Di sini identitasnya secara rohani dan politik dibentuk. Di sini mereka mula pertama mencapai status negara, menciptakan nilai-nilai kebudayaan dengan makna penting secara nasional dan universal bahkan tanah ini melahirkan dan telah memberikan kepada dunia Kitab segala Kitab. Setelah diusir secara paksa dari tanahnya, masyarakatnya telah memelihara imannya pada bangsanya di sepanjang pembuangannya dan tidak pernah berhenti berdoa dengan pengharapan agar kembali kepadanya dan untuk memulihkan di dalamnya kebebasan politik.”

Jadi tujuan Sionisme adalah agar kaum Yahudi memiliki tanah Palestina kembali yang di dalamnya berpenduduk mayoritas orang-orang Yahudi melalui pemulangan yang tidak terbatas dari semua kaum Yahudi dari berbagai bangsa dan agar mendirikan kembali Negara Israel.

2. Sebabnya Munculnya Sionisme
Ada beberapa sebab utama untuk meningkatnya Sionisme. Pertama adalah dorongan-dorongan nubuatan Alkitab yang menyatakan Israel akan dikumpulkan kembali dari berbagai bangsa setelah pembuangannya (Ulangan 28:64-66; 30:1-5; Lukas 21:20-24).

Kedua adalah meningkatnya berbagai bentuk anti-semitisme dalam penganiayaan di Eropa yang akhirnya menghasilkan holocaust (pembunuhan massal) di Jerman di bawah Adolf Hitler (1939-1945) dan pogrom-pogrom di Rusia (1870-1964) di bawah pimpinan para kaisar Rusia dan dilanjutkan oleh kaum Komunis di bawah Lenin dan Stalin yang menewaskan 10 juta orang Yahudi. Penganiayaan dan pembunuhan massal seperti itu sangat mendorong bahkan mendesak kaum Yahudi untuk kembali ke Palestina dan mendirikan kembali Negara Israel.

Ketiga adalah bangkitnya gerakan nasionalisme dan akhirnya zaman kolonialisme Ottoman dan Barat pada waktu Perang Dunia Pertama dan Kedua sehingga ada peluang untuk banyak gerakan nasionalis memproklamirkan kemerdekaan, a.l. Siria, Libanon, Arab Saudi, Yordan, Indonesia dan Israel.

Yang keempat adalah dampak Revolusi Perancis. Revolusi yang mengakhiri sistem aristokrasi dan lahirnya demokrasi membangkitkan Napoleon dan pembebasan bagi kaum Yahudi. Tidak lagi mereka terkurung dalam ghetto-ghetto (kampung etnis) kota-kota Eropa, dan mereka menjadi warga negara sama seperti masyarakat lainnya. Dengan peluang ini kaum Yahudi sangat maju dalam ilmu teknologi, politik, pendidikan, perbankan, perdagangan dan kekayaan. Dampaknya baik positif maupun negatif. Positifnya adalah kapasitasnya untuk bermigrasi kembali ke Israel meningkat. Tetapi negatifnya adalah kecemburuan ekonomi sehingga mereka semakin dibenci oleh masyarakat asli setempat.

Semua faktor ini mendukung munculnya Sionisme, yaitu kerinduan kembali ke Palestina dan membangun kembali Negara Israel.

3. Kaum Yahudi berangsur-angsur Kembali ke Palestina
Sejak zaman jajahan Roma dan penghancuran Yerusalem pada tahun 70M tetap ada populasi Yahudi yang tinggal di wilayah Palestina, kadang-kadang sebagai penduduk mayoritas, kadang-kadang sebagai penduduk minoritas. Mulai sekitar tahun 1700, para imigran Yahudi yang dipimpin oleh Rabi-Rabi mereka, dari Eropa dan dari berbagai bangsa lain dalam Khilafah Ottoman (Kerajaan Islam), telah mulai tiba di Palestina dengan berbagai programnya agar tinggal tetap di Palestina.

Misalnya, Rabi Yehuda Hehasid dan pengikutnya mendirikan perkampungannya di Yerusalem sekitar tahun 1700, tetapi tiba-tiba rabi itu meninggal, sehingga massa Arab yang marah karena hutang-hutang yang belum dibayar, telah membinasakan rumah doa Yahudi (sinagog) yang dibangun rombongan Yahudi itu. Kemudian semua pendatang Yahudi dari Eropa yang disebut Yahudi Ashkenazy dilarang tinggal di Yerusalem. Rabi Luzatto dan Rabi Ben-Attar juga memimpin rombangan besar ke Palestina pada tahun 1740. Kemudian ada rombongan-rombongan dan individu lainnya yang datang dari Lithuania dan Turki dan beberapa negara lainnya di Eropa Timur.

Jumlah pendatang pada Abad ke-18 dan awal Abad ke-19 menjadikan kaum Yahudi kelompok penduduk terbesar pada tahun 1844. Penduduk-penduduk baru ini pada awalnya mengalami banyak kesulitan secara budaya dan ekonomi karena pada tahun 1800, korupsi, perang dan pengadministrasian Khilafah Ottoman begitu merusak jalannya ekonomi Palestina sehingga populasinya turun hingga 200.000 orang.

Lalu pada tahun 1880’an, Palestina sudah mulai pulih, walaupun tetap miskin dengan banyak penyakit, populasinya berkembang menjadi 450.000. Yerusalem, pada waktu itu, hanya kota kecil yang berpenduduk 25.000 dengan 13.000 orang Yahudi dan 12.000 orang Arab dan Turki.

Usaha pertama membangun perkampungan Petah Tikva dalam tahun 1878 gagal tetapi kemudian berhasil dibangun. Waktu itu pemerintahan Ottoman tidak terlalu mentolerir pendatang-pendatang baru, khususnya mereka yang tetap mempertahankan kewarganegaraan asing, dan sewaktu-waktu pemerintah itu telah membatasi para imigran. Masalahnya ialah kalau menjadi warga negara Ottoman bisa saja disuruh ikut program wajib militer. Kependudukan waktu itu tidak terlalu stabil karena dampak penyakit, kemiskinan dan pengangguran tinggi sehingga banyak meninggal atau berangkat.

Gelombang-gelombang besar pemulangan kaum Yahudi, yang mulai pada tahun 1882, telah berlanjut di sepanjang Abad ke-20. Sebelum tahun 1890’an ada berbagai usaha untuk kaum Yahudi memperluas perkampungannya dan menduduki seluruh wilayah Palestina. Pada akhir tahun 1890’an dalam zaman Khilafah Ottoman jumlah penduduk Palestina mencapai sekitar 520.000 orang, mayoritas Arab Muslim dan Arab Kristen, namun di antaranya ada sekitar 125.000 orang Yahudi.

Pogrom-pogrom di bawah para Kaisar Rusia mendorong para filanthropis (donatur) seperti Montefiores dan keluarga Rothschild untuk mensponsori perkampungan pertanian untuk orang-orang Yahudi dari Rusia pada akhir 1870’an. Ini menjadi realita pada tahun 1882. Dalam sejarah Sionisme ini disebut sebagai Aliyah Pertama. Aliyah adalah kata bahasa Ibrani dengan arti "mendaki," yang mempunyai arti secara rohani “mendaki” atau pulang ke Tanah Kudus.

Migrasi Massal Arab ke Palestina dalam Abad ke-20
Pada awal abad ke-20, populasi Yudea dan Samaria yang kini disebut “Tepi Barat” berpenduduk kurang dari 100.000 orang, dan mayoritasnya adalah orang Yahudi. Waktu akhir perang kemerdekaan Israel pada tahun 1951, Gaza hanya memiliki 80.000 penduduk Arab dan orang Yahudinya sangat sedikit. Dalam 50 tahun sampai tahun 2001 jumlah penduduk Arab di Gaza meningkat drastis menjadi lebih dari 1 juta orang karena imigrasi besar-besaran. Di antara tahun 1948 sampai 1967 Gaza ada di tangan Mesir dan Tepi Barat ada di tangan Yordan sehingga terjadi promosi besar-besaran untuk mengisi Gaza dan Tepi Barat dengan sebanyak mungkin orang Arab dari setiap negara Arab tetapi terutama dari Mesir, Siria, Libanon, Irak dan Yordan.

Lebih dari 250 perkampungan Arab didirikan di daerah Judea and Samaria (Tepi Barat) saja. Dalam kerja sama dan dalam usaha menciptakan perdamain lewat perkembangan ekonomi pemerintah Israel telah mengizinkan 240.000 orang Arab masuk dengan izin kerja tetapi mereka telah tinggal tetap dan tidak mau kembali ke negara asal. Setelah mereka menetap lebih dari dua tahun mereka digolong oleh PBB sebagai “orang Palestina” apapun negara Arab asal mereka dan tanpa harus ada dokumentasi. Dengan demikian jumlah “orang Palestina” membludak!

Pada periode itu Arab Saudi telah mengusir lebih dari sejuta orang Arab yang kewarganegaraannya bukan Saudi dan tidak jelas asalnya dan banyak dari mereka kemudian pindah ke Gaza dan Tepi Barat.

Imigrasi massal Arab ke Palestina merupakan reaksi terhadap perkembangan Sionisme dan lahirnya kembali Negara Israel. Dulu Palestina adalah daerah padang pasir, tandus, dengan banyak penyakit, dan hampir tidak ada orang Arab yang mau tinggal di sana, tetapi setelah ada Israel dan padang pasir Palestina menjadi taman buah dan bunga, semua Arab telah menginkannya. Israel telah menjadi ancaman terhadap keadaan sosial, kebudayaan, politik, ekonomi dan agama untuk agama Islam sehingga mobilisasi massal Arab telah mulai.

Ketinggian Golan
Dalam sejarah Israel, Ketinggian Golan adalah bagian warisan suku Manasye, sejak 3500 tahun yang lalu. Pada zaman Yesus, 2000 tahun lalu, daerah itu disebut sebagai bagian Yudea wilayah jajahan Roma.
Dari tahun 1850 sampai 1920, banyak tanah di Ketinggian Golan dibeli oleh rombongan-rombangan Yahudi untuk mendirikan perkampungan-perkampungannya di situ. Tetapi pada tahun 1920 perkampungan-perkampungan itu diserang oleh gerombolan Arab sehingga banyak orang Yahudi dibunuh dan sisanya melarikan diri.

Pada tahun 1967, Israel merebut kembali Ketinggian Golan dari Siria sebagai tindakan bela diri dan sudah dikontrol Israel selama 40 tahun sejak perang itu. Pada tahun 1981 Ketinggian Golan menjadi bagian resmi Negara Israel.

Siria hanya pernah berkuasa di daerah Golan selama 26 tahun dari kemerdekaannya pada tahun 1941 sampai ke Perang Enam Hari pada tahun 1967.

Bagaimana selanjutnya? Apa nanti kesudahannya? Baca artikel berikutnya dan belajar apa sebenarnya di belakang konflik Timur Tengah.

(Dr. Jeff Hammond)




Sumber

Minggu, 06 April 2014

Israel di Zaman Byzantium-Arab (638M-1099M)

Masa kini mayoritas penduduk wilayah Palestina-Israel terdiri dari orang-orang Arab. Di dalam sejarah Timur Tengah ditemukan istilah-istilah Arab Yahudi, Arab Kristen dan Arab Muslim. Proses Arabisasi kebudayaan dan bahasa di wilayah itu telah mulai dari tahun 638M, dan berangsur-angsur terjadi selama 1360 tahun. Walaupun proses itu sering disamakan dengan proses Islamisasi hal itu tidak tentu benar. Arabisasi terutama adalah berkaitan dengan kebudayaan dan bahasa namun dampak perkembangan Islam juga merupakan suatu pengaruh yang sangat besar.

Dalam bukunya, “Arab and Jew in the Land of Canaan” dijelaskan oleh Ilene Beatty bahwa ada pelbagai suku bangsa yang datang di Kanaan dan mereka “merupakan tambahan, kelompok-kelompok yang dicangkokkan pada pohon silsilah penduduk Palestina. Para penyerbu Arab di abad ke-7M telah mengislamkan sebagian besar penduduk asli dan sejak itu telah bermukim sebagai penduduk, dan kawin-campur dengan penduduk asli sehingga semua orang di sana kemudian mengalami Arabisasi sampai kita tidak dapat menyatakan kapan peradaban Kanaan berakhir dan kapan peradaban Arab mulai.”

Orang-orang Yahudi dibagikan antara Yahudi Arab, Yahudi Eropa, Yahudi Asia dan Yahudi Afrika. Kenapa ada sekelompok yang disebut ’Yahudi Arab’? Ini terjadi karena di sepanjang sejarah Timur Tengah ada sejumlah besar orang Yahudi yang mengalami Arabisasi bahasa dan kebudayaan walaupun mayoritas orang Yahudi tidak menjadi penganut agama Islam.

Kemenangan dan Pemerintahan Arab di Israel (635M-638M)
Sesudah kematian Muhammad, Islam telah mulai berekspansi ke negara-negara yang lain dengan tujuan akhir, menggenapi seruan jihadnya untuk menghancurkan kekuasaan Kerajaan Bizantium dan Kekristenan dan merebut kota Konstantinopel. Tentara-tentara jihad telah masuk dan menguasai kota Yerusalem sekitar tahun 635-638. Namun pada masa itu kota Yerusalem lebih dikenal dengan nama Romawi, Aelia, sampai abad ke-10 ketika diberi nama bahasa Arab, al-Quds (Kota Kudus). Wilayah Yerusalem ataupun wilayah Palestina-Israel tidak pernah dipimpin bangsa-bangsa Arab sebagai sebuah ’bangsa’. Ketua Delegasi Syria di Konferensi Perdamaian Paris, Februari 1919 mengatakan: "Satu-satunya dominasi Arab sejak dikuasai pada tahun 635M hanya bertahan, pada dasarnya, 22 tahun".

Wilayah it hanya didominasi secara "politik" saja sehingga dapat dikatakan bahwa orang-orang Yahudi “kehilangan tanahnya”, karena tidak pernah mereka meninggalkannya sehingga kosong secara fisik, ataupun meninggalkan klaimnya atas wilayah itu sebagai bangsanya.

Selanjutnya kota Yerusalem adalah kota kudus untuk tiga agama keturunan Abraham (Yahudi, Kristen dan Islam). Waktu tentara-tentara Arab mengambil alih kota Yerusalem, mereka telah menduduki lokasi-lokasi sakral yang telah menjadi tujuan ziarah Kristen dan Yahudi. Mulai dari waktu itu sudah ditanam benih-benih konflik tentang hak milik semua lokasi sakral yang kemudian diperebutkan umat Kristiani selama Perang Salib bahkan sampai masa kini oleh kaum Yahudi, khususnya Bukit Moria, tempat Abraham mempersembahkan anaknya kepada Tuhan, yang juga adalah lokasi Bait Suci Solomo dan hari ini lokasi Quba Emas dan Mesjid Al-Aqsa.

Membangun Mesjid Umar, atau Quba Emas
Umar (kalif pertama), waktu tiba di Yerusalem meminta agar diantar ke Bukit Bait Suci, suatu pengakuan bahwa agama Islam menerima dan mengakui tradisi para nabi Ibrani. Setelah mencapai puncak Bukit itu, Kalif Umar merasa mual melihat daerah itu telah menjadi daerah pembuangan sampah oleh orang-orang Kristen sebagai penghinaannya terhadap agama orang-orang Yahudi. Umar, karena telah menghormati orang-orang Yahudi, telah memberi perintah agar lokasi itu dibersihkan. Tindakan tersebut menjadi langkah pertama untuk mempersiapkan lokasi sakral Yahudi menjadi lokasi ibadah Muslim.

Pada awal zaman Arab, mayoritas penduduk Yerusalem beragama Kristen. Konstruksi Dome of the Rock, Quba Emas itu, pada tahun 691, gedung sakral Muslim pertama di Israel, bertujuan menyaingi Gereja Makam Kudus. Baik Quba Emas, yaitu Dome of the Rock dan Gereja Makam Kudus dibangun berdasarkan gambar bentuk dan ukuran yang sama, tetapi Dome of the Rock dihiasi dengan ayat-ayat anti Ketritunggalan Allah dari Al-Qur’an. Awalnya, orang-orang Muslim seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi di Arab Saudi, telah menghadap ke Yerusalem waktu berdoa. Namun, pada waktu orang-orang Yahudi yang adalah mayoritas penduduk Medina telah menolak kerja sama secara agama dan politik dengan umat Islam bahkan menolak klaim kenabian Muhammad, maka ada pewahyuan baru yang turun dari Allah yang memerintahkannya memindahkan arah doa, kiblat, dari Yerusalem ke Mekka (John L. Esposito; Islam: the Straight Path; Oxford University Press: New York, 1991; hal.16).

Quba Emas dibangun di atas lokasi Bait Suci Herodes dan dekat dengan Tembok Ratapan, satu-satunya bagian dekat Bait Suci Solomo yang masih ada. Ajaran tradisi-tradisi Islam menunjukkan bukit batu kudus itu sebagai tempat awal kenaikan Muhammad ke Surga untuk menerima pewahyuan akhir Allah dalam bahasa Arab.

Dalam membangun Quba Emas, para pemimpin Arab di Palestina telah menyampaikan respek mereka untuk kota Yerusalem, sebagai kota para nabi dari Abraham ke Musa ke Yesus, dan berakhir dengan Muhammad, “meterai para nabi.” Quba Emas adalah monumen Islam tertua di dunia dan untuk kebanyakan orang adalah yang terhebat. Pembangunan Quba Emas telah menjadi simbol kemenangan Islam atas agama Yahudi, agama Kristen, dan rasa tidak aman umat Islam di dalam sebuah kota yang mayoritas Kristen sampai Salah al-Din mengusir para Laskar Salib dari Yerusalem pada tahun 1187. Dalam membuat Quba Emas sebagai kopian Gereja Makam Kudus yang lebih tinggi dan lebih mulia agar menjadi saksi nyata kepada semua orang Yahudi dan Kristen, tentang kuasa dan keabadian agama Islam di Kota Kudus (Idinopulos, Thomas A.; Jerusalem Blessed, Jerusalem Cursed; Ivan R. Dee: Chicago; 1991; pg. 207).

Kalif Umar juga telah memenuhi aspirasi umat Yahudi dengan menolak permintaan para pemimpin Gereja untuk menolak izin untuk orang-orang Yahudi memasuki kota Yerusalem. Kebencian umat Kristen terhadap orang Yahudi di zaman itu sangat kuat karena umat Yahudi dianggap pembunuh Mesias. Pada tahun 638, setelah hampir 500 tahun orang-orang Yahudi dilarang masuk Yerusalem, maka komunitas Yahudi diizinkan lagi masuk dan tinggal di Yerusalem. Lalu sebagian kota Yerusalem dibangun kembali oleh masyarakat Yahudi di kota Solomo dan kota Daud (Idinopulos, Thomas A.; Jerusalem Blessed, Jerusalem Cursed; Ivan R. Dee: Chicago; 1991; pg. 214).

Orang Yahudi di Palestina-Israel di sepanjang zaman
Di balik propaganda bahwa orang-orang Yahudi setelah 1900 tahun meninggalkan tanah itu dan hanya belakangan “kembali lagi” ke Palestina-Israel dan menemukan tanah itu sekarang diduduki "Arab Palestina" adalah asumsi yang tidak benar. Walaupun mayoritas orang Israel telah mengungsi dari daerah Palestina-Israel, fakta sejarah menunjukkan bahwa ada seratus ribu orang Yahudi yang tidak pernah meninggalkan daerah itu bahkan ada banyak orang Yahudi yang menjadi penduduk di bangsa-bangsa lain di kawasan itu, seperti di Syria, Arab Saudi, Mesir, Yaman, Irak, Iran, Turki dan Etiopia, selain yang mengungsi ke Eropa dan Afrika (Palestine Royal Commission Report (London, 1937), pp. 2-5, 7, 9, khususnya hal. 11, para. 23).

James Parkes, seorang ahli tentang hubungan Yahudi/non-Yahudi di Timur Tengah telah menganalisa “hak milik tanah” masyarakat Yahudi sebelum tahun 1948 dalam bukunya Whose Land? A History of the Peoples of Palestine (Harmondsworth, Middlesex, Great Britain: Penguin Books, 1970, p. 26,31,266). Diungkapkannya bahwa ternyata sejarah orang Yahudi setelah perlawanan Bar-Cochba di Masada tidak berakhir tetapi mereka telah mempertahankan eksistensi mereka di sepanjang sejarah walaupun ada banyak perlawanan terhadap kehadiran mereka secara fisik dan rohani di tanah tersebut, bahkan mereka tidak pernah menyerahkan klaim dan hak milik mereka yang dimilikinya sejak zaman eksodus (keluaran) dari Mesir dan masuknya Kanaan sekitar tahun 1500 sM.

Pada tahun 438M orang-orang Yahudi dari Galilea dengan optimis mendeklarasikan bahwa, "masa pembuangan kami sudah berakhir" ketika Ratu Eudokia mengizinkan orang Yahudi berdoa di lokasi Bait Suci, tetapi tak lama kemudian mereka dibuang kembali dari Yerusalem (Avraham Yaari, Igrot Eretz Yisrael (Tel Aviv, 1943), p. 46).

Penemuan arkeologi telah membuktikan bahwa orang-orang Yahudi telah menyambut dengan senang bahkan bergabung dengan tentara Persia pada tahun 614M dan "telah mengalahkan pasukan Byzantium, penjaga Yerusalem," dan telah menguasai kota itu selama lima tahun (A. MaIamat, H. Tadmor, M. Stern, S. Safrai, Toledot Am Yisrael Bi'mei Kedem (Tel Aviv, 1969), p. 348, dikutip oleh Katz, Battleground, p. 88). Dua dekade kemudian, tahun 635-638, waktu tentara Arab masuk ternyata orang-orang Yahudi “telah menderita intoleransi dan kekerasan rejim Kristen selama tiga abad.” (Parkes, Whose Land? p. 72.) Karena itu, harapan orang-orang Yahudi adalah mereka menjadi bebas dari dominasi rejim Kristen sehingga mereka menyambut tentara Arab sebagai tentara pemerdeka.

Tentara Arab Muslim yang masuk Yerusalem pada abad ke-7 telah menemukan masyarakat Yahudi yang sangat nyata. Pada waktu itu, "kita memiliki bukti bahwa orang-orang Yahudi telah tinggal di berbagai sudut bangsa itu dan di kedua tepi Sungai Yordan, dan bahwa mereka mendiami baik kota-kota dan desa-desa, dengan tetap melakukan perkebunan dan berbagai kerajinan tangan." Sejumlah orang Yahudi juga telah tinggal di Lydda dan Ramle.”Masyarakat besar dan penting” orang-orang Yahudi telah tinggal juga di "Askalon, Kaesaria dan lebih lagi di Gaza, yang dijadikan sejenis Ibu Kota setelah mereka diusir dari Yerusalem."( Parkes, Whose Land? P.72 dan A Mediterranean Society, 3 vols. Berkeley, Los Angeles, London, 1971, vol. 2, p. 61).

Al-Waqidy, ahli sejarah Arab abad ke-9 mengatakan bahwa Yerikho juga punya masyarakat Yahudi. Pada abad ke-7 ada juga bukti masyarakat Yahudi di Yerikho (Itzhak Ben-Zvi, The Exiled and the Redeemed, Philadelphia, 1961, p. 146). Al-Waqidy yang datang dari Medina, dan telah mengunjungi Khaibar tak lama setelah terjadi suatu tragedi pembantaian Yahudi di situ pada abad ke-9. Dia mengatakan bahwa masyarakat Yahudi di Khaibar adalah mereka yang telah diusir dari Medina, dan sejak waktu itu orang-orang Yahudi tidak pernah lagi diizinkan tinggal di Medina. Dasarnya adalah implementasi dekrit Muhammad oleh Kalif Omar, “Jangan mengizinkan dua agama berada di Semenanjung Arabia” (Ibid., hal. 146). Masyarakat Yahudi yang pada waktu itu bergabung dengan Islam diizinkan tinggal di Medina sampai abad ke-13 (Dikutip dari Sheikh Abd Allah Al Meshad, dalam D.F. Green, ed., Arab Theologians on Jews and Israel (Geneva, 197 1), p. 22).

Zaman Khilafah Umayyad dan Abbasid
Khilafah Umayyad, telah meluas di seluruh Timur Tengah. Spanyol, Portugal bahkan sampai ke perbatasan Perancis dan India. Memang abad ke-7 dan ke-8 telah menyaksikan kemajuan teratorial Islam yang memulai zaman emas Islam dalam berbagai bidang. Kemajuannya telah melihat Syria jatuh pada tahun 634, Yerusalem 638, Mesir 638, Persia (Iran) 640, Afrika Utara 689, Portugal dan Spanyol 711 sampai Khilafah Umayyad diganti dengan Khilafah Abbasid pada tahun 750.

Setelah Khilafah Abbasid berkuasa di wilayah Palestina-Israel, peranan kota Yeruslem menurun drastis. Damaskus yang adalah ibu kotanya Khilafah Umayyad lalu Bagdad menjadi ibu kota Khilafah Abbasid. Daerah Palestina-Israel tidak lagi menjadi perhatian besar para sejarawan sampai muncul Perang Salib yang telah mulai tanggal 27 Nopember 1099. Masa Perang Salib itu akan dibahas di dalam artikel berikut.
Akhirnya, di sepanjang sejarah, sejak Israel menduduki wilayah Palestina di bawah pimpinan Yosua pada tahun 1500sM sampai masa jaya Islam di Timur Tengah tak pernah putus ada masyarakat Yahudi yang tetap menduduki wilayah itu, telah mengklaimnya sebagai Tanah Airnya, bahkan yang mengklaim mereka adalah korban jajahan, dari zaman Asyur, Babelonia, Yunani, Romawi, Kristen Bizantin bahkan sampai ke zaman Arab.




Sumber

Jumat, 10 Januari 2014

10 Suku Israel Yang Hilang (2-Habis)


Perang pun terus berlanjut di timur tengah. Bangsa-bangsa kuat saling beradu satu sama lain memperebutkan kawasan Timur Tengah. Pada tahun 603SM, kekuasaan bangsa Assyria diganti oleh bangsa Babel (Babylonia). Di masa kekuasaan Babel, Kerajaan Selatan Yehuda jatuh, dan Jerusalem dihancurkan (597SM), dan semua penduduknya ditangkap dan diperbudak oleh bangsa Babilonia. Berlangsunglah masa pembuangan di Babel.


60 tahun kemudian, 538SM, Kerajaan Persia dibawah raja Cyrus II (Zulqornain?) merebut kekuasaan Babel. Sebagian suku Jehuda dan Benyamin yang tersisa di babilon dibebaskan dan diperkenankan oleh raja Cyrus II untuk kembali ke Yudea, dan membangun kembali kuil mereka yang kemudian dikenal dengan nama Kuil Yahudi Kedua. Namun sepuluh suku Israel lainnya, penduduk Kerajaan Isreal Utara, tidak pernah kembali sebagaimana dua suku itu. Sehingga mereka dijuluki sebagai “Sepuluh Suku Israel Yang Hilang“

 Dzulqornain artinya dua tanduk yang tafsirnya adalah kekuasaannya dari timur sampai barat

Sekitar 600 tahun kemudian sekitar 70 M, bangsa Romawi menghancurkan Kuil Yahudi Kedua, membunuh dan mencerai beraikan rakyat Yudea sehingga mereka tersebar ke penjuru dunia sampai munculnya zionisme abad ke 20.

Saat ini banyak teori yang mengaitkan suatu suku dengan suku2 israel yang hilang ini. salah satu teori mengatakan bahwa bangsa scythia, yang muncul dalam sejarah pada saat pembuangan sepuluh suku, adalah berasal dari suku israel yang hilang ini. tapi teori ini sangatlah lemah dan kurang bisa dipercaya.

Ada lagi beberapa suku di daerah2 tertentu yang mengklaim bahwa mereka adalah keturunan dari salah satu dari 10 suku israel yang hilang. Suku2 itu adalah:

Khazar, Chazar (Rusia)
Kawasan yang dihuni orang-orang Khazar terletak di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia, diapit Ukraina dan Kazakhstan. Bangsa Khazar berasal dari suku kuno Turki -Mongol (Hun, atau Hsiungnu) yang beralih memeluk Judaisme dan berhasil membentuk Khazaria, kerajaan kuat di masa Abad-7 M hingga Abad-10 M. Orang-orang Yahudi Ashkenazi (Eropa Timur) adalah keturunan orang Khazar. Keberadaan dan kemajuan orang-orang Khazar mengindikasikan akulturasi Yahudi Diaspora (yang melek huruf dan berteknologi) dengan suku Turki-Mongol yang buta huruf dan bergaya-hidup nomad.


Pathans/Pasthun (Afghanistan-Pakistan)
Pathans menganggap diri mereka sebagai anak-anak Israel, meskipun mereka beragama Islam. Bangsa Pathans memiliki kemiripan dengan kebiasaan Israel kuno. Bangsa Pathans kini tinggal di perbatasan Afghanistan-Pakistan. Mereka disebut Afghans atau Pishtus menurut bahasanya. Di Afghanistan, jumlah mereka sekitar enam juta jiwa, dan di Pakistan sekitar tujuh hingga delapan juta jiwa dan dua juta jiwa lagi hidup seperti suku Baduy. Bukti-bukti yang menarik adalah beberapa nama suku-suku yang sama dengan suku-suku Israel seperti suku Harabni yakni Reuben, suku shinwari adalah Shimeon, suku Levani - Lewi, suku Daftani - Naftali, suku Jaji - Gad, suku Ashuri - Asher, suku Yusuf Su, anak-anak Yusuf, suku Afridi - Ephraim, dan seterusnya. Pasthun atau Pathans mengaku mempunyai hubungan dengan Kerajaan Israel kuno dari suku Benjamin dan keluarga Saul. Menurut tradisi, Saul mempunyai seorang anak, bernama Jeremia yang memiliki anak bernama Afghana.

Menurut Injil 2 Raja-raja, Tawarikh 1 dan 2, sepuluh suku Israel dibuang ke Halah, Havor, sungai Gozan dan kota-kota Maday. Beberapa kemiripan Tradisi Pathans dengan Israel kuno: memiliki sunat untuk anak laki-laki pada hari kedelapan, Patrilineal (Garis Bapak), menggunakan Talith (Jubah Doa) Tsitsit, pernikahan (Hupah), kebiasaan wanita (pembasuhan di sungai), pernikahan dari pihak keluarga ibu atau bapak (Yibum), Sangat menghormati bapak, larangan memakan daging kuda dan unta, Shabbat dengan menyiapkan 12 roti Hallah, menghidupkan lilin pada saat Shabbat, hari Yom Kippur, menyembuhkan penyakit dengan bantuan kitab Mazmur (menempatkan kitab Mazmur dibawah kepala pasien, nama-nama Ibrani di desa-desa dan menyebut nama Musa, dan menggunakan symbol bintang Daud. Mereka hidup sebagai suku-suku yang terpencar dan memiliki hokum tradisi yakni Pashtunwali atau hukum Pasthun yang mirip dengan hukum Torah. Pathans bertradisi pernikahan ipar, yang mengharuskan saudara laki-laki menikahi janda saudaranya yang meninggal tanpa keturunan, sama seperti Israel kuno (Ul 25:5-6). Pathans juga bertradisi mengorbankan kambing penebusan, sama seperti masa Israel kuno yang membebankan dosa seluruh bangsa pada domba yang diusir ke gurun dan disembelih (Im16).


Kashmir (India) Di India bagian utara yakni Kashmir terdapat sekitar 5-7 juta jiwa. Terdapat nama Ibrani di lembah dan didesa-desa di Kashmir seperti Har Nevo, Beit Peor, Pisga, Heshubon. Kebanyakan peneliti berpendapat bahwa bangsa Kashmir keturunan sepuluh suku Israel yang hilang pada pembuangan pada 722 BCE. Penampilan fisik mereka berbeda dengan umumnya orang India. Tradisi mereka memang mengindikasikan perbedaan asal-usul. Orang Kashmir memiliki hari raya Pasca pada musim semi, saat dilakukan penyesuaian perbedaan penanggalan candra dan surya, dengan cara seperti yang dilakukan orang-orang Jahudi. Mereka memang menyebut diri sebagai Bene Israel, Anak-anak Israel. Orang Kashmiri menghormati Sabbath (beristirahat dari semua jenis kerja); menyunat bayi pada usia delapan bulan; tidak makan ikan yang tak bersisik dan bersirip, dan merayakan beberapa hari raya Jahudi lainnya, tetapi tidak yang berasal dari setelah kehancuran bait Allah pertama (seperti Hannukah).


Shin-lung atau Bene Menashe (di sekitar perbatasan India-Myanmar) Di kawasan pegunungan di kedua sisi perbatasan India-Myanmar, bermukim sekitar 2 juta orang Shinlung. Mereka memiliki tradisi penyembelihan binatang korban seperti suku-suku Israel kuno pada umumnya, dan menyebut diri anak Menashe atau Bene Menashe. Kata Menashe banyak bermunculan dalam puisi dan doa (mereka menyeru “Oh God of Menashe”). Mereka memiliki tradisi cerita yang mengatakan bahwa mereka dibuang ke suatu tempat yang berada di sebelah barat tempat asal mereka, lalu bermigrasi ke timur dan mulai menjadi penggembala dan penyembah dewa. Migrasi mereka berlanjut ke timur, mencapai perbatasan Tibet-Cina, lalu mengikuti aliran Sungai Wei, hingga masuk dan bermukim di Cina Tengah sekitar tahun 230SM. Orang Cina menjadikan mereka sebagai budak, sehingga beberapa diantara mereka melarikan diri dan tinggal di gua-gua kawasan pegunungan Shinlung, dan hidup miskin selama dua generasi. Mereka juga disebut orang gua atau orang gunung dan tetap menyimpan kitab suci mereka. Akhirnya mereka mulai berasimilasi dengan orang Cina dan terpengaruh budaya Cina, hingga akhirnya mereka meninggalkan gua-gua pegunungan dan pergi ke barat, melalui Thailand, menuju Myanmar. Setelah itu mereka berkelana tanpa kitab suci, dan membangun tradisi lisan, hingga sampai di Sungai Mandaley, dan menuju Pegunungan Chin. Pada abad-18 sebagian dari mereka bermigrasi ke Manipur dan Mizoram, India Timurlaut.

Mereka sadar bahwa mereka bukan orang Cina meskipun menggunakan bahasa Cina dialek lokal, dan menyebut diri Lusi yang berarti Sepuluh Suku (”Lu” berarti suku, dan “si” berarti sepuluh). Tradisi Menashe antara lain adalah sunat (kini sudah ditinggalkan), upacara pemberkatan anak pada usia 8 hari, hari raya keagamaan yang mirip dengan hari raya keagamaan Jahudi, praktek pernikahan ipar demi kelangsungan nama marga, menyebut nama Tuhan sebagai “Y’wa”, dan memelihara puisi yang mirip dengan kisah penyeberangan Kitab Keluaran ketika bangsa Israel menyeberang Laut Merah. Di setiap kampung ada pendeta atau imam yang selalu bernama Harun (Aaron, saudara Musa dan Imam Pertama Jahudi) dengan pewarisan turun-temurun. Salah satu tugas mereka adalah mengawasi kampung, berdoa dan mempersembahkan korban, dengan jubah berst-‘breaplate’, ikatpinggang dan mahkota, dan selalu membuka doa dengan menyebut nama Menashe. Dalam kasus terdapat orang jatuh sakit, para imam dipanggil untuk memberkati pesakit dan mempersembahkan korban. Imam akan menyembelih domba atau kambing dan mengoleskan darahnya di telinga, punggung dan kaki pesakit sambil mengucapkan mantra yang mirip dengan Im14:14. Pada kasus penyakit khusus, diselenggarakan upacara khusus. Semacam upacara penebusan yang dilakukan dengan memotong sayap burung dan menebar bulunya ke udara. Pada kasus penyakit lepra, para imam menyembelih burung di lapangan terbuka. Untuk penebusan dosa, dilakukan pengorbanan domba di altar seperti dilakukan di Bait Allah (seperti disaksikan seorang penulis di hutan Myanmar sekitar tahun 1963-1964). Darah sembelihan ditorehkan di ujung altar, dagingnya dimakan. Yom Kippur dirayakan sebagai hari penebusan, sekali setahun seperti tradisi Jahudi. Kendaraan imam tidak boleh dibuat dari logam, namun dari tanah liat, kain, atau kayu. Melakukan praktek pemujaan berhala dan mempercayai klenik sehubungan dengan roh dan setan. Percaya reinkarnasi tapi percaya Tuhan di sorga akan membantu dalam kesusahan.


Ch’iang-min (Cina) Orang-orang Ch’iang atau Ch’iang-min (sekitar 250 ribu orang, 1920) bermukim di Propinsi Sechuan, Cina bagian barat, di daerah pegunungan sebelah barat Sungai Min, dekat perbatasan Tibet [Thomas Torrance “The History, Customs and Religion of the Ch’iang People of West China” (1920) dan “China’s First Missionaries: Ancient Israelites” (1937)]. Mereka menganggap diri sebagai imigran dari barat yang datang ke tempat tersebut setelah berjalan selama tiga tahun tiga bulan. Orang Cina menganggap mereka sebagai barbar, dan mereka menilai orang Cina sebagai penyembah berhala (Ch’iang-min percaya hanya pada satu tuhan dan menyebutnya ‘Yawei’ ketika berada dalam kesulitan). Ch’iang-min mempraktekkan persembahan korban yang dilakukan imam, jabatan yang hanya bisa dijabat oleh pria yang sudah menikah (Im 21:7,13) dan diwariskan turun-temurun. Para imam mengenakan jubah putih bersih dan bersurban khusus. Mezbah dibuat dari batu yang tidak dipotong dengan alat logam (Kel20:25), dan tidak boleh didekati oleh orang asing dan “cacat” (Im21:17-23). Para imam Ch’iang-min menggunakan tali pengikat jubah, dan sebatang tongkat berbentuk seperti ular (kisah Musa di gurun). Setelah berdoa, para imam membakar bagian dalam dan daging korban sembelihan, dan mengambil bagian pundak, dada, kaki dan kulit, sementara dagingnya dibagikan kepada pemberi persembahan. Saat persembahan, mereka mengibarkan 12 bendera di sekitar altar untuk menjaga tradisi bahwa mereka berasal dari satu bapak yang memiliki 12 anak. (Mereka bertradisi sebagai keturunan Abraham dan berleluhur seorang bapak dengan 12 anak). Di antara orang Ch’iang, terdapat tradisi mengoleskan darah pada ambang pintu demi keselamatan dan keamanan rumah, pernikahan ipar, tudung kepala bagi wanita, memberi nama anak pada usia 7 hari hingga menjelang malam ke-40.

PERLU DICATAT tidak satupun teori pun yang mengatakan salah satu suku israel yang hilang berada di INDONESIA. jadi kalau ada orang indonesia yang mengaku-aku kalau dia israel, sungguh sangat memalukan.

BENARKAH SUKU-SUKU INI ADALAH KETURUNAN DARI 10 SUKU ISRAEL YANG HILANG? atau hanya kebetulan saja mereka punya tradisi dan nama2 yang mirip dengan bangsa israel? Menurut penulis, 10 suku israel ini benar2 sudah hilang dan mungkin hanya tinggal adat dan kebiasan mereka saja yang tersisa. Karena sangat sulit membayangkan suku2 israel ini berbaur dan bercampur dengan bangsa lain secara massif. Terbukti dalam sejarah bangsa israel, mereka selalu berselisih dengan bangsa lain dimanapun mereka berada, kecuali sedikit dari mereka yang benar2 baik dan bisa diterima.
Wallahualam

(Tamat)


Sumber

10 Suku Israel Yang Hilang (1)

Tahukah anda bahwa bani Israel sebenarnya ada 12 suku, dan kini yang tersisa hanyalah 2 suku saja, yaitu suku Yehuda/Judah dan Benjamin? kemanakah kesepuluh suku yang lain? pertanyaan ini menjadi topik menarik dari kalangan sejarawan. perlu dicatat bahwa bangsa israel yang sekarang ada, berbeda pendapat mengenai suku2 teman mereka yang hilang tersebut. Dan yang lebih menarik lagi, adalah pernah seorang khalifah ottoman menghubungkan 10 suku israel yang hilang ini dengan YA'JUJ MA'JUJ ...

Keturunan dan Kaum Para Nabi dan Kaum Yang Tak Putus Dirundung Malang

Menurut kitab suci Ibrani, Yakub mempunyai 12 anak laki-laki dari empat orang istri dan dibawah ini adalah daftar nama-nama mereka berdasarkan urutan kelahiran dan ibu mereka:
Reuben (born to Leah)
Simeon (born to Leah)
Levi (born to Leah)
Judah (born to Leah)
Dan (born to Bilhah)
Naphtali (born to Bilhah)
Gad (born to Zilpah)
Asher (born to Zilpah)
Issachar (born to Leah)
Zebulun (born to Leah)
Joseph (born to Rachel)
Benjamin (born to Rachel)


12 anak laki2 inilah cikal bakal dari 12 suku israel setelah mereka hidup dan beranak pinak di Mesir karena Joseph/Yusuf as. menjadi pembesar disana. Namun kehidupan mereka di mesir lama kelamaan mulai dirasakan mengganggu oleh penduduk asli mesir dan mereka mulai tidak disukai, akhirnya generasi mereka berikutnya ditindas dan diperbudak oleh bangsa Mesir. Puncaknya pada masa Ramses II (Firaun).


Kemudian ke duabelas suku ini diselamatkan Tuhan melalui Musa dan Harun. mereka keluar dari mesir dan diperintahkan oleh Tuhan untuk merebut daerah yang dijanjikan untuk mereka dengan berperang. Namun mereka tidak berani/malas untuk berperang dan daerah tersebut diharamkan oleh Tuhan utk mereka selama 40 masa.

Setelah lontang lantung mengembara selama 40 masa di daerah padang pasir tak bertuan (sekarang sekitar Yordania), kemudian akhirnya mereka bisa masuk ke daerah yang dijanjikan (palestina) dibawah pimpinan Tholut (dibantu seorang anak muda Daud) dan mereka mendirikan kerajaan Israel (kuno) disana dengan rajanya adalah Tholut yang kemudian digantikan oleh Daud.


Daud inilah yang memperluas kerajaan Israel kuno hingga menguasai daerah dari Sungai Efrat sampai perbatasan Mesir. Kemudian daerah tersebut dibagi-bagi kepada dua belas suku israel yang ada.

Salah satu suku yang memiliki daerah di pesisir Yaitu kota Eliah yang terletak di pantai laut Merah antara kota Mad-yan dan bukit Thur, melanggar ketentuan hari Sabbath dan jadilah mereka kera yang hina


Setelah pemerintahan Raja Sulaiman, yaitu pemerintahan raja Rehabeam sekitar 931 SM, kerajaan terbagi menjadi dua karena 10 suku menolak aturan membayar pajak warisan Sulaiman yang tinggi (menurut mereka) yang dikenakan kepada mereka, lalu mereka memberontak dan mendirikan kerajaan baru di utara dan Jereboam I sebagai raja mereka.

Jadi disebelah selatan adalah kerajaan Judah/Yudea beribukota di Jerusalem dengan rajanya adalah Rehabeam beranggotakan 2 suku yaitu suku Judea dan Benyamin, sedangkan di utara adalah kerajaan Israel utara beribu kota di Samaria dengan 10 suku.

Pada tahun 721 SM, Samaria sebagai ibukota Kerajaan Israel Utara, diserbu oleh pasukan Asyur (Assyria) yang dipimpin oleh Shalmaneser V dan dilanjutkan oleh Sargon II. Dan satu tahun kemudian Samaria takluk dan dihancurkan. Akhirnya, penduduk Kerajaan Israel Utara yang merupakan 10 suku israel dibunuh, ditahan, diperbudak, diasingkan dan dibuang ke Khorason, yang sekarang merupakan bagian dari Iran Timur dan Afghanistan Barat. Riwayat suku-suku ini kemudian tidak pernah terdengar lagi dan dipercaya oleh bangsa Yahudi saat ini telah hilang dari sejarah.



(Bersambung)

Minggu, 05 Januari 2014

Eleazar Avaran

Eleazar Avaran, juga dikenal sebagai Eleazar Makabi, Eleazar Hachorani/Choran(atau Horani) (lahir. ???SM - meninggal. 162 SM; bahasa Ibrani: אלעזר המכבי, אלעזר החורני, Eleazar HaMakabi) adalah putra keempat Mattathias dan saudara termuda Yudas Makabi. Dia terbunuh dalam Pertempuran Beth-Zakaria pada Pemberontakan Makabim.[1]
Sangat sedikit yang diketahui mengenai dirinya, selain kisah kematiannya yang heroik. Menurut gulungan Antikhos, ayahnya menganggapnya sebagai seorang Zelot di antara para zelot, seperti halnya Pinhas. Dalam buku 2 Makkabi diceritakan bahwa Eleazar membaca tanakh di hadapan orang-orang sebelum pergi ke pertempuran terakhirnya.
Ilustrasi pada naskah Speculum Humanae Salvationis.

Kematian

Berdasarkan 1 Makkabi, dalam Pertempuran Beth-Zakaria, Eleazar berusaha menyerang seekor gajah perang yang menurutnya mengangkut raja Seleukid Antiokhos V. Eleazar berpikir seperti itu karena gajah tersebut memakai baju perang yang yang berb3da dari gajah-gajah lainnya. Eleazar mendekati gajah tersebut dan menusuk bagian bawah perutnya dengan tombak. Gajah tersebut mati dan tubunnya ambruk menindih Eleazar sampai mati.[2] Meskipun telah melakukan tindakan yang heroik, pasukan Yahudi, yang lebih kecil, tetap dikalahkan. Josephus menulis bahwa Eleazar, walaupun membunuh banyak musuh, tidak memberikan banyak perngaruh selain namanya yang menjadi terkenal. Versi lainnya mengenai cerita ini muncul dalam gulungan Antiokhos, yang menceritakan bahwa Eleazar diinjak oleh serombongan gajah.

Avaran

Semua anggota keluarga Mattathias punya nama selain selain nama lahir mereka,[3] misalnya Yudas Makkabi punya nama 'ha'Makabi', bermakna 'palu'. Eleazar sendiri punya nama 'Avaran', yang bermakna 'penusuk' (berdasarkan caranya mati) atau 'memutih' (berdasarkan warna kulitnya).[4]

Ukiran oleh Bernard Picart.

Peninggalan

Kematian Eleazar merupakan subjek seni yang populer pada Abad Pertengahan, dan itu diberikan makna tipologis sebagai pertanda pengorbanan Kristus diri bagi umat manusia.[5] Para seniman juga banyak yang menggambarkan gajahnya, meskipun sebagian besar justru tidak pernah melihat hewan gajah. Hasilnya kadang menjadi aneh.
Pemukiman Israel Elazar di Gush Etzion, dekat loksai Pertempuran Beth-Zakaria, dinamai dari namanya. Selain itu ada jalan di Yerusalem dan Tel Aviv yang dinamai dari namanya.

Catatan kaki

  1. ^ 1 Makkabi. 6:43-46
  2. ^ Scullard, H.H The Elephant in the Greek and Roman World Thames and Hudson. 1974 hlm 186
  3. ^ 1 Makkabi 2
  4. ^ http://net.bible.org/dictionary.php?word=avaran
  5. ^ Speculum & commentary.


Sumber

Pertempuran Beth Zakaria

Pertempuran Beth Zakaria adalah pertempuran antara Yahudi Makabi dan pasukan Yunani selama pemberontakan Makabi yang menentang Kekaisaran Seleukid.

Latar belakang

Pada 164 SM, Yudas Makabi mengalahkan pasukan Yunani, yang jumlahnya lebih banyak, yang dipimpin oleh Lisias pada Pertempuran Beth Zur dan memugar kembali kuil di Yerusalem. Namun pasukan Seleukid masih mengendalikan Akra, sebuah benteng kuat di dalam kota yang menghadap ke Al-Haram asy-Syarif dan berfungsi untuk mengingatkan kaum Yahudi bahwa tanah mereka masih diduduki. Lisias sendiri memiliki persaingan dengan pengganti kaisar, Filipos, dan Yudas mencoba mengambil keuntungan dari keadaan ini. Yudas mengepung benteng itu pada 162 SM. Tetapi, secara tak terduga Lisias meninggalkan persainganya di Antiokhia dan berangkat membawa pasukan untuk memerangi pasukan Makabi.
Dengan pasukan sekitar 50,000 infantri dan tiga puluh gajah perang, bersama dengan kavaleri dan kereta perang, Lisias mendatangi Yerusalem dari selatan dan mengepung Beth-zur, berjarak delapan belas mil dari kota. Yudas menghentikan pengepungannya di Akra dan memimpin pasukannya ke selatan menuju Beth Zakaria. Pasukan Yahudi berkekuatan sekitar 20,000 prajurit dan memosisikan diri di dataran tinggi di seberang jalan menuju Yerusalem — tepat di tengah-tengah jalur yang akan dilewati oleh pasukan Suriah-Seleukid.

Pertempuran

Setelah menaklukan Beth-Zur, pasukan Lisias bergerak menuju Beth Zakaria, dengan gajah perang dan infantri ringan sebagai penyerang utama dan kavaleri berat di bagian sayap, yang berada di dataran tinggi. Di bagian belakang tengah, ada pasukan pengejut-infantri berat-dalam formasi phalanx. Yudas tidak menggunakan siasat gerilya karena dia merasa bahwa kemenangannya dahulu akan membuat pasukan Suriah mempersiapkan diri untuk pertahanan non-tradisional. Yudas pun menggunakan siasat perang tradisional dan memerangi pasukan Suriah dengan gaya perang mereka. Hasilnya adalah pasukan Yahudi dikalahkan.
Gajah perang membuat pasukan Yudas ketakutan. Ketika pasukan Yudas mulai memecah barisan musuh sampai ke bagian belakang, adik Yudas, Eleazar Makabi, berusaha menunjukkan pada kawan-kawannya bahwa gajah perang bisa dikalahkan. Eleazar melihat seekor gajah yang membawa segel kerajaan dan mengira gajah tersebut mengangkut Antiokhos V, raja Seleukid. Eleazar bergerak ke bagian bawah gajah tersebut dan menusuk perutnya dengan pedang (atau tombak). Gajah tersebut tewas dan tubuhnya menindih Eleazar sampai mati. Tindakan heroik ini tidak mampu mengubah nasib pasukan Yahudi, yang dikalahkan oleh tekanan keras dari pasukan phalanx Yunani.
Setelah menang di Beth Zakaria, Lisias terus bergerak menuju Yerusalem dan mengepung pasukan pemberontak di sana. Tetapi, sebelum benar-benar menguasai Yerusalem, Lisias harus kembali ke Antiokhia untuk melawan musuhnya, Filipos, dalam hal perebutan kendali kekaisaran. Sebelum pergi, Lisias melakukan perjanjian dengan kaum Yahudi dan memperbolehkan mereka menjalanakn agama dan adat kebiasaan mereka.
Tindakan Eleazar dikenang pada koin Hanukkah yang diedarkan oleh Bank Israel pada 1961.

Eleazar menusuk gajah perang Seleukid
Tanggal 162 SM
Lokasi Beth-Zakaria, dekat Alon Shvut modern
Hasil Kemenangan Seleukid
Pihak yang terlibat
pasukan Makabi Kekaisaran Seleukid
Komandan
Yudas Makabi
Eleazar Horan -
Lisias
Kekuatan
20,000 infantri (perkiraan) 50,000 infantri, 30 gajah perang (perkiraan)


Sumber

Sabtu, 04 Januari 2014

Suku Zebulon

Suku Zebulon (bahasa Ibrani: שבט זְבוּלֻן Shevet Zvulun, Šḗḇeṭ Zəḇûlūn; bahasa Inggris: Tribe of Zebulun; alternatif nama: Zabulon, Zabulin, Zabulun, Zebulon) adalah salah satu dari suku-suku Israel menurut Alkitab Ibrani, keturunan dari Zebulon, putra Yakub.

Sketsa Portugis untuk Suku Zebulon.

Wilayah

Suku Zebulon menerima daerah kepunyaan mereka menurut undian yang ke-3 pada zaman Yosua. Batas milik pusaka mereka sampai ke Sarid. Ke sebelah barat batas mereka itu naik ke Marala, menyinggung Dabeset, kemudian menyinggung sungai yang mengalir lewat Yokneam. Dari Sarid batas itu berbalik ke timur, ke arah matahari terbit, melalui daerah Kislot-Tabor, menuju Dobrat, naik ke Yafia; dari sana terus ke timur, ke arah matahari terbit, ke Gat-Hefer, ke Et-Kazin, menuju ke Rimon, dan melengkung ke Nea. Kemudian batas itu membelok mengelilinginya di sebelah utara Hanaton, dan berakhir di lembah Yiftah-El. Lagi Katat, Nahalal, Simron, Yidala dan Betlehem; dua belas kota dengan desa-desanya[1].

Wasiat Yakub

Kejadian 49:13: "Zebulon akan diam di tepi pantai laut, ia akan menjadi pangkalan kapal, dan batasnya akan bersisi dengan Sidon."

Berkat Musa

Ulangan 33:18-19: Tentang Zebulon ia berkata: "Bersukacitalah, hai Zebulon, atas perjalanan-perjalananmu, dan engkaupun, hai Isakhar, atas kemah-kemahmu. Bangsa-bangsa akan dipanggil mereka datang ke gunung; di sanalah mereka akan mempersembahkan korban sembelihan yang benar, sebab mereka akan mengisap kelimpahan laut dan harta yang terpendam di dalam pasir."

Sejarah

Dalam Nyanyian Debora, suku Zebulon, bersama suku Naftali, dipuji keberaniannya dalam perang melawan Sisera[2].
Orang-orang dari suku Zebulon termasuk yang datang memenuhi panggilan Gideon untuk berperang melawan Midian[3].
Ketika Kerajaan Israel pecah pada zaman raja Rehabeam, suku Zebulon bergabung dengan Kerajaan Israel Utara bersama 9 suku lain. Sewaktu kerajaan utara dikalahkan oleh Asyur pada tahun 722 SM dan semua penduduknya dibuang ke tempat lain, suku ini ikut tersebar dan terhitung sebagai 10 suku terhilang dari Israel.

Tradisi Kristen

  • Matius 4:13-17 mencatat pekerjaan Yesus memberitakan kabar baik dimulai dari daerah suku Zebulon dan suku Naftali, menggenapi nubuat nabi Yesaya: "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, --bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang."[4]

Referensi




Sumber

Suku Naftali

Suku Naftali (bahasa Ibrani: שבט נַפְתָּלִי Shevet Naftali, Šḗḇeṭ Nap̄tālî; bahasa Inggris: Tribe of Naphtali) adalah salah satu dari suku-suku Israel menurut Alkitab Ibrani, keturunan dari Naftali, anak Yakub.

Wilayah

Suku Naftali menerima daerah kepunyaan mereka menurut undian yang keenam pada zaman Yosua. Daerah mereka mulai dari Helef, dari pohon tarbantin di Zaananim, Adami-Nekeb dan Yabneel, sampai ke Lakum, dan berakhir di sungai Yordan. Kemudian batas itu berbalik ke barat ke Aznot-Tabor, dari sana menuju ke Hukok, menyinggung daerah Zebulon di sebelah selatan, menyinggung daerah Asyer di sebelah barat dan daerah Yehuda pada sungai Yordan, di sebelah matahari terbit. Kota-kota yang berkubu ialah Zidim, Zer, Hamat, Rakat, Kineret, Adama, Rama, Hazor, Kedesh, Edrei, En-Hazor, Yiron, Migdal-El, Horem, Bet-Anat dan Bet-Semes; 19 kota dengan desa-desanya.[1].

Wasiat Yakub

Kejadian 49:21: "Naftali adalah seperti rusa betina yang terlepas; ia akan melahirkan anak-anak indah."

Berkat Musa

Ulangan 33:23: Tentang Naftali ia berkata: "Naftali kenyang dengan perkenanan dan penuh dengan berkat TUHAN; milikilah tasik dan wilayah sebelah selatan."

Sejarah

Dalam Nyanyian Debora, suku Naftali, bersaama suku Zebulon, dipuji keberaniannya dalam perang melawan Sisera[2]. Barak, pemimpin tentara dalam perang itu berasal dari suku Naftali[3].
Orang-orang dari suku Naftali termasuk yang datang memenuhi panggilan Gideon untuk berperang melawan Midian[4].
Ketika Kerajaan Israel pecah pada zaman raja Rehabeam, suku Naftali bergabung dengan Kerajaan Israel Utara bersama 9 suku lain. Sewaktu kerajaan utara dikalahkan oleh Asyur pada tahun 722 SM dan semua penduduknya dibuang ke tempat lain, suku ini ikut tersebar dan terhitung sebagai 10 suku terhilang dari Israel.

Orang-orang terkenal dari suku ini

Tradisi Kristen

  • Matius 4:13-17 mencatat pekerjaan Yesus memberitakan kabar baik dimulai dari daerah suku Zebulon dan suku Naftali, menggenapi nubuat nabi Yesaya: "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, --bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang."[5]
 Sketsa Portugis untuk Naftali.

Pembagian tanah suku-suku Israel

Referensi



Sumber

Barak

Barak (pengucapan bahasa Inggris: [ˈbɛəræk] or /ˈbɛərək/[1]; Ibrani: בָּרָק, Ibrani Tiberias: Bārāq, "Lightning; Shine", bahasa Arab: البُراق al-Burāq, "lightning") anak Abinoam dari kota Kedesh di tanah suku Naftali, seorang jenderal tentara dalam Kitab Hakim-hakim di Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama dalam Alkitab Kristen, pada masa jabatan Debora sebagai Hakim Israel kuno. Barak dan Debora memimpin bangsa Israel mengalahkan tentara raja Hazor (Kanaan), Yabin, dan panglimanya, Sisera, yang menindas Israel selama 20 tahun (Hakim-hakim 4:3).
Dengan mengerahkan sepuluh ribu orang bani Naftali dan bani Zebulon, Barak dan Debora bergerak menuju gunung Tabor, di daerah Kedesh, tempat asal Barak. Mereka memerangi Sisera dan tentaranya, yang mempunyai 900 kereta besi, di sungai Kison. Tentara Israel membunuh semua tentara Sisera. Sisera dengan berjalan kaki melarikan diri ke kemah Yael, isteri Heber, orang Keni, seorang teman baik Yabin, raja Hazor. Yael mempersilakan Sisera bersembunyi dalam kemahnya. Ketika Sisera tertidur, Yael mengambil patok kemah dan palu, mendekatinya diam-diam, lalu dilantaknyalah patok itu masuk ke dalam pelipisnya sampai tembus ke tanah, maka matilah Sisera (Hakim-hakim 4:10,12-21).
Sisera dibunuh oleh seorang perempuan, bukan di tangan Barak, ini sesuai dengan nubuat Debora, karena Barak meminta Debora untuk maju berperang bersama-sama dengannya (Hakim-hakim 4:8-9).

Yael menunjukkan mayat Sisera kepada Barak, lukisan Albert Joseph Moore.

Catatan Sejarah

  • Kota Hazor, di mana raja Yabin memerintah Kanaan, sekarang adalah Tell el-Qedah, kira-kira 3 mil (4.8 km) barat daya Hula Basin.
  • Kota Haroset-Hagoyim, tempat tinggal panglima Sisera, sekarang diperkirakan adalah Tell el-'Amr, kira-kira 12 mil (19 km) barat laut Tel Megiddo.
Makam dekat Tel Kadesh yang diduga milik Barak atau Debora



Sumber

Debora

Debora atau Dvora (bahasa Ibrani: דְּבוֹרָה, Standar Dəvora Tiberias Dəḇôrāh, artinya "lebah") adalah seorang nabiah dan hakim perempuan satu-satunya dari zaman pra-kerajaan Israel di dalam Perjanjian Lama (Tanakh). Kisahnya diceritakan dalam dua pasal pada Kitab Hakim-hakim, yakni pasal 4 dan 5. Kisah pertama berbentuk prosa, yang menceritakan kemenangan pasukan Israel yang dipimpin oleh Jenderal Barak, yang dipanggil Debora namun ia bernubuat bahwa ia sendiri tidak akan menang melawan Jenderal Sisera, orang Kanaan. Kehormatan itu jatuh ke tangan Yael, istri Heber, seorang tukang tenda suku Keni. Yael membunuh Sisra dengan memakukan paku tenda di kepala Sisera ketika ia tidur.
Hakim-hakim 5 mengisahkan cerita yang sama dalam bentuk puisi. Bagian ini diduga disusun pada paruhan kedua dari abad ke-12 SM, tak lama setelah kejadian yang digambarkan tersebut. Bila demikian halnya, maka nas ini, yang sering disebut sebagai Nyanyian Debora, adalah bagian tertua di dalam Alkitab dan contoh yang paling awal yang masih tertinggal dari puisi Ibrani. Puisi ini juga penting karena ini adalah salah satu -- kalau bukan malah satu-satunya -- dari nas yang menggambarkan peranan perempuan bukan hanya sebagai korban atau sebagai penjahat. Puisi ini mungkin termasuk dalam Kitab Peperangan Tuhan yang disebutkan dalam Kitab Bilangan 21:14.
Tak banyak yang diketahui tentang kehidupan pribadi Debora. Ia tampaknya menikah dengan seorang lelaki yang bernama Lapidot (yang berarti "obor"), tetapi nama ini tidak ditemukan di luar Kitab Hakim-hakim, dan mungkin hanya menunjukkan bahwa Debora sendiri memiliki semangat yang "berapi-api". Debora adalah seorang penyair dan ia menyampaikan penghakimannya di bawah pohon kurma di Efraim. Sebagian orang menyebutnya sebagai ibu dari Israel. Setelah kemenangannya atas Sisera dan pasukan-pasukan Kanaan, seluruh negeri aman selama 40 tahun.

Interpretasi Gustave Dore tentang nabiah Debora
Peperangan Israel pada zaman Debora melawan Kanaan




Sumber

Gideon

Gideon (bahasa Ibrani: גִּדְעוֹן, Standar Gidʻon Tiberias Giḏʻôn), juga dikenal sebagai Yerubaal, adalah seorang hakim yang muncul dalam Kitab Hakim-hakim, di dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Kisahnya terdapat dalam Hakim-hakim 6-8. Ia juga disebutkan dalam Surat Ibrani sebagai contoh orang beriman. Gideon adalah anak Yoas, dari bani Abiezer dari suku Manasye. Nama Gideon berarti "Si Penghancur", "Pahlawan perkasa" atau "Penebang (pohon)".

Allah memilih Gideon

Seperti halnya pola di dalam Kitab Hakim-hakim, bangsa Israel kembali berpaling dari Allah setelah masa damai selama 40 tahun yang dihasilkan oleh kemenangan Debora atas Kanaan dan dibiarkan diserang oleh suku bangsa Midian dan Amalek yang tinggal di sekitarnya. Allah memilih Gideon, seorang pemuda dari sebuah keluarga yang tidak dikenal dari suku Manasye, untuk membebaskan rakyat Israel dan mengutuk penyembahan berhala mereka. Gideon sendiri tidak yakin akan dirinya dan perintah Allah, karena itu ia meminta bukti tentang kehendak Allah lewat sebuah mujizat:
36Kemudian berkatalah Gideon kepada Allah: "Jika Engkau mau menyelamatkan orang Israel dengan perantaraanku, seperti yang Kaufirmankan itu, 37maka aku membentangkan guntingan bulu domba di tempat pengirikan; apabila hanya di atas guntingan bulu itu ada embun, tetapi seluruh tanah di situ tinggal kering, maka tahulah aku, bahwa Engkau mau menyelamatkan orang Israel dengan perantaraanku, seperti yang Kaufirmankan." 38Dan demikianlah terjadi; sebab keesokan harinya pagi-pagi ia bangun, dipulasnya guntingan bulu itu dan diperasnya air embun dari guntingan bulu itu, secawan penuh air. 39Lalu berkatalah Gideon kepada Allah: "Janganlah kiranya murka-Mu bangkit terhadap aku, apabila aku berkata lagi, sekali ini saja; biarkanlah aku satu kali lagi saja mengambil percobaan dengan guntingan bulu itu: sekiranya yang kering hanya guntingan bulu itu, dan di atas seluruh tanah itu ada embun." 40 Dan demikianlah diperbuat Allah pada malam itu, sebab hanya guntingan bulu itu yang kering, dan di atas seluruh tanah itu ada embun.[1]

Perang melawan Midian

Atas perintah Allah, Gideon menghancurkan altar kota yang dipersembahkan kepada dewa asing Baal dan lambang dewi Asyera di sampingnya. Ia kemudian mengirimkan utusan-utusan untuk mengumpulkan orang-orang dari suku-suku Asyer, Zebulon, dan Naftali, serta dari sukunya sendiri Manasye untuk melawan pasukan-pasukan bangsa Midian dan Amalek yang telah menyeberangi Sungai Yordan dan yang saat itu sedang berkemah di Lembah Yizreel.
Allah berkata kepada Gideon bahwa orang-orang yang dikumpulkannya terlalu banyak. Dengan orang yang begitu banyak, pasukan Gideon dapat mengklaim bahwa kemenangan mereka tercapai karena kekuatan mereka, dan bukan karena Allah. Karena itu Allah menyuruh Gideon memulangkan orang-orang yang takut. Dari seluruh pasukannya, 22.000 orang pulang ke rumah dan yang tersisa hanya 10.000 orang:
4Tetapi TUHAN berfirman kepada Gideon: "Masih terlalu banyak rakyat; suruhlah mereka turun minum air, maka Aku akan menyaring mereka bagimu di sana. Siapa yang Kufirmankan kepadamu: Inilah orang yang akan pergi bersama-sama dengan engkau, dialah yang akan pergi bersama-sama dengan engkau, tetapi barangsiapa yang Kufirmankan kepadamu: Inilah orang yang tidak akan pergi bersama-sama dengan engkau, dialah yang tidak akan pergi." 5Lalu Gideon menyuruh rakyat itu turun minum air, dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: "Barangsiapa yang menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat, haruslah kaukumpulkan tersendiri, demikian juga semua orang yang berlutut untuk minum." 6Jumlah orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya berlutut minum air. 7 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: "Dengan ketiga ratus orang yang menghirup itu akan Kuselamatkan kamu: Aku akan menyerahkan orang Midian ke dalam tanganmu; tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya boleh pergi, masing-masing ke tempat kediamannya." [2]
Allah menunggu hingga malam turun sebelum Ia memberi perintah kepada Gideon untuk menyerang kubu bangsa Midian. Gideon memberikan masing-masing tentaranya sebuah terompet, obor, dan kendi dari tanah liat. Dengan diam-diam mereka mengepung perkemahan lawan, masing-masing obor disembunyikan di dalam sebuah kendi. Begitu Gideon memberikan tanda, setiap orang meniup terompetnya dan memecahkan kendinya. Allah membuat bangsa Midian kebingungan, sehingga mereka saling membunuh. Mereka yang selamat dan bingung melarikan diri dan terus mundur ke luar perbatasan Israel.
Meskipun Allah tidak menyuruhnya, Gideon kemudian mengumpulkan sejumlah besar orang untuk mengejar orang-orang Midian dan menghadang mereka. Akhirnya ia berhasil menangkap mereka dan kemudian membunuh Zebah dan Salmuna, dua raja Midian, untuk membalas dendam saudara-sudaranya yang terbunuh dalam pertempuran.
Bangsa Israel memohon kepada Gideon agar menjadi raja mereka, namun ia menolaknya. Katanya, Allah sajalah pemimpin mereka satu-satunya. Namun, yang menarik ialah bahwa ia tetap membuat "efod" dari emas yang dimenangkannya dalam pertempuran, yang membuat seluruh bangsa Israel kembali berpailng dari Allah.

Keturunan

Gideon mempunyai 70 putra dari istri-istrinya. Ia menikahi banyak perempuan, namun tidak disebutkan jumlahnya. Ia juga mempunyai seorang selir yang melahirkan seorang anak lelaki yang dinamainya Abimelekh (yang artinya "ayahku adalah raja"). Selama 40 tahun masa hidup Gideon, bangsa Israel hidup dalam damai. Setelah Gideon meninggal, Abimelekh, putra Gideon dari gundiknya, menyuruh bunuh semua tujuh puluh putra Gideon. Tetapi Yotam, putra bungsu Gideon, tinggal hidup, karena ia menyembunyikan diri.[3] Setelah seluruh warga kota Sikhem dan seluruh Bet-Milo menobatkan Abimelekh menjadi raja dekat pohon tarbantin di tugu peringatan yang di Sikhem, pergilah Yotam ke gunung Gerizim, berdiri di atasnya, lalu menyampaikan sebuah perumpamaan yang bersifat nubuat (dikenal sebagai "Perumpamaan Yotam" atau "Perumpamaan tentang pohon-pohon"; bahasa Inggris: Jotham's Parable atau Parable of the Trees; bahasa Ibrani: משל יותם) untuk mengecam perbuatan itu.[4] Nubuat yang disampaikannya terlaksana 3 tahun sesudahnya, dimana Abimelekh membunuhi penduduk kota Sikhem[5] dan dibunuh sendiri ketika menyerang kota yang dulu merupakan sekutunya.[6]

Referensi



Sumber

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.