Tampilkan postingan dengan label SYI'AH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SYI'AH. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Desember 2013

Syiah Pembantai Ahlus Sunnah


 Handphone penulis bergetar tidak lama setelah konflik Sunnah-Syiah kembali meletus di Sampang, Madura, Ahad, 27 Agustus 2012. Sebuah pesan dari seorang rekan datang dengan membawa fakta mengejutkan. Ia menyampaikan bahwa beberapa pengikut Syiah di Sampang secara terang-terangan memakai atribut Hizbullah. Tragedi Sampang jilid II sendiri memasuki babak baru setelah ranjau darat ditanam kelompok Syiah yang melukai umat Sunni di Sampang. Menurut para ulama inilah pemicu konlik dalam sengketa Sunni dan Syiah akhir Agustus lalu.

Beredarnya atribut Hizbullah tentu mengagetkan banyak pihak. Ia bukanlah nama asing bagi Ahlus Sunnah, umumnya di daerah Syam, khususnya di Suriah. Hizbullah adalah organisasi politik dan paramiliter Syiah yang didirikan pada tahun 1982 dengan basis di Libanon. Celakanya, selain pernah terekam melawan Israel, Hizbullah juga berkecimpung membela rezim Suriah dalam membantai pemberontak Ahlus Sunnah.
“Pergi, pergilah Bashar. Bawalah partai setan (Hizbullah) bersamamu,” teriak warga Suriah, Sabtu (1/9/2012).

Ucapan warga sipil Suriah itu adalah bentuk protes mereka kepada Hizbullah dan Iran yang selama ini berada di balik dukungan kepada Presiden Bashar Assad. Puluhan ribu mayat warga Sunni tampaknya tidak menjadi persoalan selama support kepada Assad terus mengalir. Juru bicara tentara oposisi Suriah pun secara benderang mengatakan kepada “Al-Jazeera” bahwa ketika mereka menangkap puluhan anggota Shabiha terdapat beberapa anggota milisi Hizbullah di dalamnya. Shabiha adalah kelompok berbadan besar yang memiliki jejak berdarah membantai pemberontak Suriah.

Tentu fenomena ini menjadi pertanyaan besar bagi Syiah yang selama ini mengaku terdepan melawan kezhaliman Barat. Tidak segan-segan Iran rajin mengkoleksi kata kecam kepada Israel ketika inflitrasi Yahudi  menukik di Palestina. Lewat opini itulah Iran menjual identitasnya kepada Ahlus Sunnah bahwa mereka bisa saling bergandengan tangan dalam pembebasan Palestina.

Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah dalam bukunya Pengkhianatan Syiah Sepanjang Sejarah memberikan sebuah analisa yang baik. Ia mengatakan bahwa Sejarah telah menampilkan lembaran-lembaran hitam tentang pengkhianatan-pengkhianatan Syi’ah terhadap kaum muslimin sebagai penerapan aqidah mereka terhadap kaum muslimin. Pengkhianatan-pengkhianatan Syi’ah ternyata tidak surut hingga hari ini bahkan semakin membabi buta. Maka hendaknya setiap muslim selalu waspada terhadap mereka dan tidak terperdaya dengan mulut-mulut manis mereka untuk memperdaya kaum muslimin Ahlus Sunnah dengan slogan “Persatuan Islam”.

Aqidah Syi’ah menganggap Ahlus Sunnah adalah orang-orang kafir dan najis sehingga halal harta dan nyawanya. Bahkan Yusuf al-Bahrani—seorang gembong Syi’ah—di dalam kitabnya alHadâiq an-Nâdhirah fî Ahkâm al-’Itrah ath-Thâhirah (12/323),  mengatakan, “Sesungguhnya anggapan bahwa an-Nashib (baca: Ahlus Sunnah) itu muslim, dan juga anggapan bahwa agama Islam tidak membolehkan untuk mengambil harta mereka, ini semua tidak sesuai dengan ajaran kelompok yang benar (Syi’ah, Pen.) mulai dari dahulu sampai sekarang, yang mana mereka itu mengatakan bahwa an-Nashib itu kafir dan najis serta boleh diambil hartanya bahkan dibenarkan untuk dibunuh.”

Dengan berpegangan pada teologi inilah, Syiah sangat menanamkan kebencian terhadap Ahlus Sunnah. Mereka menganggap darah kaum Sunnah halal untuk dialirkan. Bahkan Syaikh Husain bin Ali ‘Ushfur al-Dararial-Bahrani dalam kitabnya, al-Mahasin al-Nafsaniyyah fii Ajwibah al-Masaa-il al-Khurasaaniyyah, hal. 17 menyatakan bahwa orang-orang Syi’ah menggelari orang-orang Sunni atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah (al-Nashib) lebih najis daripada anjing dan lebih kufur daripada Yahudi dan Nashrani. Dia mengatakan,

بَلْ أَخْبَارُهُمْ عَلَيْهِمُ السَّلامُ تُنَادِي بِأَنَّ النَّاصِبَ هُوِ مَا يُقَالُ لَهُ عِنْدَهُمْ سُنِّياًّ

Bahkan kabar-kabar dari mereka (para imam) ‘alaihis salam menyerukan bahwa yang dimaksud al-Nashib adalah yang dikenal dikalangan mereka dengan Sunni.

Maka itu mengkaji milisi-milisi Syiah menjadi kebutuhan umat Islam. Kejadian di Suriah, Lebanon, maupun Palestina adalah bukti Syiah menyimpan pasukan yang patut diwaspadai  umat Islam. Dari zaman Hasyasyin, Hizbullah, Houti, Shabiha, milisi-milisi Syiah terus bergerak mengkhianati umat Islam. Di Irak, ikatan yang melingkar di leher warga Sunni pun menjadi pemandangan merata dalam upaya pemerintahan boneka Syiah Irak menghukum mati para pengikut Sunni.


Assassins atau Hasyasyin, begitulah sebutannya. Kata inilah yang kemudian populer saat terjadinya perang Salib, dan di Barat kata ini dibawa oleh Marco Polo, serta dipopulerkan oleh Edward Burman (1987) dan Bernard Lewis. Hasyasyin adalah kelompok pembunuh rahasia yang terkoordinir dan terlatih dengan baik. Hasyasyin dibentuk oleh Hassan Ibn Shabah yang tersingkir dalam pertarungan politik di Dinasti Fathimiyyah Mesir pada tahun 1090.

Ia bersama gerakan Hasyasyin-nya pernah menggalang kekuatan Syi’ah di Suriah untuk membunuh para tokoh dan pimpinan Sunni (Ahlus Sunah wal Jamaah), salah satunya Shalahuddin Al Ayyubi yang telah mengambil alih kekuasaan Dinasti Fathimiyyah pada tahun 1171.

Muhammad Asy Syahim dalam bukunya ‘Shalahuddin Al Ayyubi’ menjelaskan bagaimana Hasyasyin menyelinap ke kamar tidur Panglima Islam tersebut. Dengan meletakkan belati berlumuran darah di atas bantal Shalahuddin, mereka mengirim sebuah surat sebagai bentuk teror. Isi surat tersebut adalah sebagai berikut:

“Hai Sultan yang telah merampas kekuasaan, meskipun engkau telah menutup pintu-pintu istanamu, dan menempatkan penjaga yang ketat engkau tidak akan selamat dari kelompok Hasyasyin. Syekh Jabal, pemimpin Syekh Hasyasyin, selalu memperhatikanmu. Jika kami mau, niscaya malam ini kami sudah membunuhmu. Kami hanya ingin memberi peringatan kepadamu agar memperbaiki perilakumu dan mengembalikkan hak yang telah engkau rampas. Engkau tidak perlu mencari tahu siapa saya karena hal itu sangat sulit. Bisa saja aku ini adalah saudaramu, pelayanmu, penjagamu, atau istrimu yang kamu sendiri tidak tahu.”

Alhamdulillah, Shalahuddin tidak takut dengan gertakan murahan tersebut. Sebaliknya, ia malah bersikukuh untuk membasmi Hasyasyin hingga ke akar-akarnya. Maka pada tahun 572 H atau 1176 M, Shalahuddin bersama pasukannya bergerak menuju Syam dan menyerang mereka.

Ketika itu pun banyak jatuh korban dari pasukan musuh. Hasyasyin pun kemudian meminta damai dan pengampunan dari Shalahuddin. Dan Shalahuddin memenuhinya.

Hassan Ibn Sabbah juga membuat benteng-benteng Hasyasyin salah satunya di Masyaf daerah Suriah saat masa Perang Salib. Carrol Hilendbrand dalam bukunya Perang Salib: Sudut Pandang Islam menjelaskan bahwa Benteng Hasyasyin di Suriah ini memiliki dinding pertahanan konsentris ganda. Benteng itu dengan hati-hati diposisikan ke Barat Hama di Jabal Anshariyah, tempat dimana jalan tersebut berbelok ke utara menuju Lembah Orentes.

Biasanya Benteng Hasyasyin sangat terpencil dan terletak di pegunungan, maka itu benteng Hasyasyin terkenal sebagai salah satu benteng yang sangat susah ditembus. Bahkan Hilendbrand mengatakan bahwa Benteng Hasyasyin salah satu benteng terkuat dan terlindung di Iran pada periode 1100-an.
Ibnu Muyassar, seperti dikutip Hilendbrand, menceritakan bahwa setelah kematian Hasan Ibn Sabbah pada tahun 518 H/1124 M, Hasyasyin telah merebut banyak benteng pegunungan di Suriah. Mereka melakukan itu biasanya dengan cara sogokan dan tipu muslihat, yang delapan diantaranya berhasil mereka pertahankan sampai Baybars merebutnya pada 1270-1273. Mereka juga dengan hati-hati memilih kawasan dimana mereka bisa mengajak para penduduk setempat menerima ajaran Syiah Ismailiyyah. Menurut Bernard Lewis dalam bukunya The Assassins: Radical Sect In Islam, dikatakan bahwa dari segi bentuk, orang-orang Syiah Ismailiyah merupakan sebuah masyarakat rahasia, yang mempunyai sistem sumpah, inisiasi serta tingkatan-tingkatan pangkat dan pengetahuan.

Rahasia-rahasia mereka terjaga dengan baik, dan informasi mengenai mereka terpisah-pisah serta membingungkan. Orang-orang ortodoks yang suka berpolemik melukiskan orang-orang Syiah Ismailiyah sebagai gerombolan orang-orang nihilis palsu yang menipu korban-korbannya melalui tahapan-tahapan penistaan yang terus menerus, dan pada akhirnya memperlihatkan hal-hal yang amat buruk kepada orang-orang yang tidak mempercayai mereka.

Sebenarnya banyak analisa di balik motif didirikannya Hasyasyin, selain memang bertujuan melawan Sunni, para analis juga bahwa mengatakan Hasyasyin tidak lain adalah kelompok yang dibentuk untuk memenuhi misi pribadi yang dibawa oleh Hasan Ibn Sabbah setelah disingkirikan Dinasti Fathimiyyah. Hal ini pun diamini oleh Philip K. Hitti. Dalam bukunya, The History of Arabs, Hitti mendelegasikan bahwa gerakan Hasyasyin murni dilakukan untuk memuaskan ambisi pribadi, dan dari segi keagamaan sebagai alat untuk balas dendam kepada Dinasti Fathimiyyah.

Bernard Lewis juga meletakkan peran teologis (baca: Syiah Ismailiyyah/Sempalan Syiah) dalam memicu munculnya gerakan Hasyasyin. Menurutnya, Hasyasyin adalah kelompok teologis yang bergerak dalam konspirasi pembunuhan melawan agama dan masyarakat. Bagi para pengikut Syiah Ismailiyyah, mereka adalah korps elit yang berperang melawan musuh-musuh imam dalam keyakinan mereka dengan menjatuhkan para penindas dan perebut kekuasaan.

Namun berbagai kalangan juga memiliki analisa tersendiri terkait kelompok Hasyasyin. Tidak sedikit sejarawan menulis bahwa antara Hasyayin dan Kabbalah terjalin hubungan kuat. Hitti masih dalam bukunya History of Arabs mendelegasikan asal muasal gerakan Hasyasyin didirikan oleh seorang bernama Hamdan al-Qarmath. Ia dikenal sebagai warga Irak zaman dulu yang gemar pada ilmu-ilmu perbintangan dan kebatinan, mirip dengan pengikut Kabbala. Sebab kita ketahui era Irak kuno (Babilonia) di Mesopotamia memang terkenal akan warisan ilmu perbintangannya.

Gelar Qarmath diberikan karena postur dan kedua kakinya yang pendek, berasal dari Khuzastan di Ahwaz kemudian pindah ke Kufah. Alirannya kemudian membesar dan mendirikan sebuah kelompok (Qaramithah) yang menggunakan metode militer dan sangat bersifat rahasia. Mereka menampakkan diri mendukung keluarga Rasulullah saw dan mengaku bernasab kepada Muhammad bin Ismail bin Ja’far ash-Shadiq, padahal hakikat sebenarnya dari aliran ini adalah ilhad, akidah permisif, merusak moral luhur dan memadamkan daulah Islamiyah.

Dari sinilah lahir analisa bahwa Hasyasyin dan Knight Templar memiliki misi sama untuk menggulingkan Islam menemui muaranya. Banyak kalangan menilai jika Hasyasyin dan Knight Templar bagaikan dua sayap dalam satu tubuh yang sama. Hasyasyin bertugas menggembosi Islam dari dalam sedangkan Templar bertugas melucuti Kristen dengan memasukkan ideologi Kabbalahnya.

 Ratusan rakyat Suriah, puluhan di antaranya anak-anak yang tak berdosa, meregang nyawa di kota dan rumah mereka sendiri. Menurut saksi mata, pelakunya adalah tentara Suriah yang dibantu oleh kekuatan para Shabiha, atau begundal yang fanatik pada Bashar al-Ashad.

Siapa itu Shabiha? Dokter Mousab Azzawi yang memiliki klinik di Latakia, kota pelabuhan di Suriah, mengatakan para Shabiha seperti monster. Dia juga mengaku takut berhadapan dengan mereka yang memiliki perawakan tinggi besar, namun berotak udang ini.

Nama Shabiha juga diduga diambil dari kata bahasa Arab yang berarti “hantu.” Benar saja, Shabiha betul-betul menjadi “hantu” kehidupan rakyat Suriah. Tiap harinya mereka menghadapi hantu yang benar-benar menakutkan dan sangat kejam, tanpa ada tandingannya.

Kekejian Shabiha memang di luar nalar manusia. Bayangkan saja, demi menopang rezim Syiah Bashar al-Assad mereka rela melakukan apa saja. Bashar al-Assad dan ayahnya Hafez al-Assad, menggunakan Shabiha untuk memaksa warga Suriah agar tunduk pada rezim, mencuci otak para milisi Shabiha agar mempercayai bahwa mereka berjuang untuk Syiah mereka dalam melawan agresor Muslim Sunni.

Menurut sebuah laporan, gerombolan preman pembunuh ini telah disalahkan atas pembantaian di Houla di mana lebih dari 100 orang, separuh dari mereka anak-anak, tewas. Saksi mata mengatakan, Shabiha menembak dari dekat dan menusuk korbannya, tidak peduli wanita dan anak-anak.

Shabiha sendiri muncul pertama kalinya pada 1970-an sebagai “Gangster Alawiyyin” yang anggota berasal  dari daerah pesisir yang masih memiliki  hubungan kekrabatan dan keluarga al-Assad. Mereka terlibat dalam narkoba dan penyelundupan senjata dari Lebanon. Di mana mereka perlahan-lahan menguasai jaringan ekonomi Suriah, seluruh jaringan bisnis, yang menjadi nafas kehidupan di Suriah.

Tapi, kemudian mereka terus berubah, bukan hanya mendominasi ekonomi, tetapi sekarang mereka mengontrol aparat keamanan di Suriah, di mana salah seorang  saudara Bashar al-Assad, Rifat mengontrol di bidang intelijen, dan kemudian menciptakan aparat ekstra, yang digunakan melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap kelompok-kelompok  dan tokoh-tokoh Sunni, yang menjadi kekuatan oposisi Bahsar al-Assad.

Kebrutalan Shabiha bisa dibuktikan sendiri dari testimoninya salah seorang anggotanya saat di wawancara wartawan British Sunday Telegraph. Dalam kegiatan wawancara ini, sang wartawan mengaku kerap menggeleng-menggelengkan kepalanya mendengar kesaksian Shabiha yang satu ini.
Sebut saja A (bukan inisial sebenarnya), anggota Shabiha yang hari ini ditahan di Idlib, utara Suriah. Ia ditangkap sekitar seminggu yang lalu. Posturnya tinggi besar dan berotot, cukup mudah untuk mengenalinya sebagai seorang Shabiha.

Kepada wartawan British Sunday Telegraph, A mengakui bahwa pemerintah Syiah Nushairiyah Suriah memang menganjurkan dan memfasilitasi pasukannya untuk melakukan pembunuhan dan perkosaan. Shabiha menerima gaji $450 plus bonus $150 untuk setiap korban.

Yang lebih menjengkelkan, A mengaku bahwa ia menikmati kejahatannya. ”Kami setia kepada Bashar Assad karena mereka memberikan kami semua kekuatan dan kekebalan hukum. Saya bisa membunuh atau memperkosa gadis. Untuk setiap korban, pemerintah Suriah memberikan 30.000 Pound Suriah dan bonus 10.000 Pound Suriah untuk setiap korban. Saya sendiri telah memperkosa seorang gadis. Sementara komandan entah sudah berapa kali memperkosa muslimah. Tapi itu adalah hal yang biasa bagi kami,” ungkapnya mantap.

FSA (Tenbtara Pembebasan Suriah) biasa memperlakukan pasukan Assad yang tertangkap sebagai tawanan perang. Namun khusus Shabiha, biasanya langsung di eksekusi mati. Sebab, mereka terlalu biadab dan tak pernah merasa salah.

“Teman-teman saya bergabung dengan Shabiha, dan mereka mendorong saya untuk bergabung dengan mereka. Saya (awalnya) ragu-ragu, dan orang-orang di pangkalan Pasukan Angkatan Udara lokal memukuli saya hingga saya setuju. Saya diberitahu tentang orang-orang yang tidak menyukai Assad, saya menangkap mereka dan menempatkan mereka di penjara. Pemerintah memberikan saya senjata,” ungkap A.

Ia mengaku pernah memperkosa seorang mahasiswi Universitas Aleppo lalu membunuhnya. ”Suatu kali saya berpatroli dengan komandan. Gadis itu lewat di dekat mobil kami. Saya bertanya pada komandan, ’gadis ini cukup cantik bukan?’ Tanpa banyak komentar, saya dan komandan menariknya dan membawanya pergi dengan mobil kami. Ada sebuah rumah kosong yang ditinggal penghuninya. Kami berdua memperkosanya hingga puas. Karena ia mengenali wajah dan tetangga kami, maka kami membunuhnya. Orang seperti dia tak boleh dibiarkan hidup, “ kisah A.

A juga mengaku bahwa dirinya pernah membunuh seorang pria saat demonstrasi anti-Assad di Idlib.
”Sebelum menjadi anggota Shabiha, saya tumbuh di sebuah keluarga normal, saya diajari untuk menghormati wanita. Tetapi setan mengendalikan jiwa saya pada hari-hari itu,” pungkas A.

Kini nasib Shabiha akan sangat bergantung dengan kedigdayaan Bashar al-Assad yang hampir akan jatuh. Shabiha pun mulai kewalahan berhadapan dengan mujahidin Suriah. Tanggal 19 Ramadhan 1433 H atau bertepatan dengan 8 Juli 2012 M, lewat operasi istisyhadiyyah (martyr), Front Mujahidin Al-Nusrah berhasil menewaskan 162 tentara Suriah dan Shabiha.

Lalu, Ahad (15/7/2012), dalam sebuah video di Youtube, yang dirilis oleh Brigade Al Hamzah tersebut, terlihat berulang kali pasukan mujahidin melepaskan tembakan dari tank mereka ke arah pasukan Assad yang dibalas dengan hal yang sama. Namun dengan pertolongan Allah, Brigade Al-Hamzah berhasil memenangkan pertempuran dengan menewaskan 12 tentara Assad dan melukai beberapa lainnya.
Kemudian, mereka pun berpindah ke tempat lain dan melakukan serangan terhadap markas tempat berkumpul para anggota milisi  Shabiha. Peluru meriam Brigade Al-Hamzah berkali-kali menghantam benteng tersebut dan terlihat tidak ada balasan dari pihak Shabiha, hingga akhirnya menewaskan lebih dari 30 Shabiha. Ini akhir dari drama kekejaman Shabiha selama lebih dari 40 tahun? Semoga.


Sebuah video berdurasi 38 detik muncul di Youtube. Puluhan ribu orang dikabarkan telah mengunduh video ini dan menjadi pemberitaan besar di Suriah. Padahal tidak ada satu pun gambar seseorang ditampilkan dalam video ini. Tidak ada juga wajah buronan kelas kakap yang dicari di penjuru dunia. Tayangan visual tersebut hanya menampilkan sebuah bendera bewarna kuning berkibar-kibar memecah langit Suriah.

Namun ini memang bukan sembarang bendera. Simbol yang berkibar di kota Homs itu adalah representasi dari sikap sebuah organisasi yang telah melukai perasaan muslim Suriah. Ketika ramai-ramai umat Islam bersatu melawan kekejian Rerzim Bashar Al Assad, Hizbullah justru bergabung dengan Tentara Suriah memerangi Ahlus Sunnah.

Bendera kuning yang menjadi lambang Hizbullah itu menjadi penanda bahwa milisi Syiah ini turut bermain memerangi Ahlus Sunnah di Suriah.

Hizbullah lahir pada tahun 1982. Berdirinya organisasi ini tidak terlepas dari paham Syiah, yang berkiblat ke Madrasah Ad-diniyah Najaf dan sebuah partai Syiah  yang diketuai oleh Muhammad Baqir As-Sadr di Irak. Lembaga ini telah mencetak generasi-generasi militan Syiah di Lebanon. Satu diantaranya adalah Musa As-Sadr, pendiri Harakah AMAL (Batalyon Perlawanan Lebanon) yang saat ini dipimpin oleh Nabih Berre yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Lebanon.

Media internasional Al Bayan pada 28/07/2012, menyatakan bahwa pasukan Hizbullah sebenarnya sudah lama berperan serta dalam menindas bangsa Suriah, bersama militer rezim. Mereka terlibat secara langsung di lapangan dalam upaya membungkam arus gerakan revolusi rakyat. Tapi campur tangan Hizbullah selama ini selalu ditutup-tutupi kedua belah pihak.

Berdasarkan data yang dimiliki Asosiasi Hak Asasi Manusia, Hizbullah Lebanon dan Tentara Mahdi Irak yang didukung oleh Iran telah melakukan pemerkosaan terhadap wanita Suriah di Aleppo, Suriah, hal ini diketahui dengan video yang mereka unggah di internet.

Abdul Majid Al-Halabi, seorang aktifis HAM mengatakan, “Salah satu komandan milisi meminta seorang wanita membuka semua pakaiannya untuk dia perkosa di hadapan suami dan anak-anaknya. Wanita itu mencium sepatunya sambil memohon agar dia tidak melakukannya, tapi sang komandan tidak menggubris permintaan wanita tersebut.”

Menurut Asosiasi Hak Asasi Manusia, banyak anak perempuan Suriah di bawah usia 18 tahun yang telah diperkosa dan beberapa di antara mereka hamil.” Asosiasi ini mengimbau kaum muslimin untuk bekerjasama menyelamatkan rakyat Suriah dari semua bentuk penindasan dan kekejaman rezim Assad.

Gerilyawan Hizbullah dan Tentara Mahdi, menurut Asosiasi Hak Asasi Manusia, memaksa kaum perempuan untuk mengatakan, “Tidak ada tuhan selain Bashar” dan “Matilah orang-orang Arab dan hidup Iran.”
Hal tersebut ternyata tidak hanya terjadi terhadap warga Suriah di negaranya sendiri. Di Lebanon, Hizbullah juga melakukan hal yang hampir sama. Mereka menculik lebih dari 23 pengungsi Suriah di Lebanon. Kelompok Syiah ini menjadikan mereka sebagai sandera dan alat barter bagi seorang anggota milisi Hizbullah yang ditawa oleh Tentara Kebebasan Suriah (Free Syrian Army).

Namun ada satu hal yang menjadi kekhwatiran banyak pihak. Dikabarkan Assad siap melakukan apa saja untuk mempertahankan kekuasaannya, termasuk mengirim senjata kimia kepada Hizbullah. Hal ini dikatakan oleh Mantan Jenderal Suriah yang berubah menjadi pembelot, Mayor Jenderal Adnan Sillu. Langkah itu diambil Assad sebagai pilihan terakhir.

“Kami berada dalam diskusi serius tentang penggunaan senjata kimia, termasuk bagaimana kita akan menggunakannya dan di bidang apa,” kata Jenderal Sillu.

“Kami membahas hal ini sebagai pilihan terakhir–jika rezim kehilangan kendali daerah penting seperti Aleppo,” kata Jenderal.

Mingguan Jerman Der Spiegel menyatakan bahwa Suriah akan menguji sistem pengiriman dengan cara menembakkannya dari pesawat.

“Lima atau enam peluru kosong dirancang untuk diberikan bahan kimia yang ditembakkan oleh tank dan pesawat, di sebuah wilayah yang disebut Diraiham di gurun dekat desa Khanasir, timur dari kota Aleppo,” seperti dilaporkan Der Spiegel.

Kini pasukan mujahidin terus berjuang membebaskan Suriah dari cengkraman kezaliman Assad. Dan mereka memang harus berhadapan dengan milisi Syiah Hizbullah, yang mengaku keras terhadap Israel, tapi secara nyata turut menghabisi nyawa muslim Suriah.


Sumber

Kontribusi Yahudi Untuk Iran


 YAHUDI  adalah salah satu akar sejarah masyarakat Iran. Sebab, merekalah salah satu penduduk tertua yang sudah menghuni tanah Persia sejak negeri itu masih membangun peradaban.

Seperti dikutip Iran Online, orang Yahudi masuk ke Iran sejak tahun 727 sebelum masehi. Mereka yang memasuki Iran adalah Yahudi yang terdeportasi oleh kekuasaan Raja Asiria (Babilonia), Saragon II. “Mereka terdeportasi dari Isarel setelah gagal melawan Asiria,” tulis Iran Online.

Akibat kekalahan ini, sekitar 27.290 orang Yahudi dipaksa menetap di Persia. Gelombang kedatangan Yahudi ke Persia makin besar ketika moyang bangsa Israel ini terusir oleh Raja Nebukadnezar. “Mereka (Yahudi) pelarian dari Asiria kemudian menetap di Isfahan,”

Para pelarian Yahudi di masa Babilonia inilah yang jadi bagian sejarah Persia. Mereka, terutama  imigran Yahudi di Isfahan, mampu menata peradaban.

Tidak heran, Isfahan kini menjadi kota terbesar ketiga di Iran kini. Isfahan kini dihuni lebih dari 2 juta jiwa. Beberapa di antaranya memiliki garis darah Yahudi.

Periode penting bagi kaum Yahudi di tanah Persia (sekarang Iran), terjadi ketika Koresh Agung mampu menaklukkan Babilonia di tahun 586 sebelum masehi. Inilah menjadi tonggak awal berdirinya kekaisaran persia.

Keberhasilan Koresh menaklukkan Babilonia dengan sedikit perlawanan, membuatnya terpilih sebagai penguasa baru di kawasan Persia hingga tanah Israel. Raja Persia ini pantas berterima kasih kepada masyarakat Yahudi karena sudah mendukung penuh usahanya menaklukkan Babilonia.

Di bawah kepemimpinan  Koresh, Yahudi seperti mendapatkan angin. Mereka yang telah melarikan diri semasa era Babilonioa, kini diizinkan pulang ke Jerusalem. “Sekitar 30 ribu Yahudi (Persia) kembali ke untuk membangun kuil Jerusalem,” tulis Iran Online.

Di masa awal perkembangan kerajaan Persia inilah, Yahudi mulai menancapkan gigi dari segi politik. Kebijakan Persia saat itu mendorong otonomi bagi masyarakat Yahudi mampu membangkitkan Israel dari “tidur” panjangnya.

Hal itulah yang menjadi salah satu tonggak awal kembalinya eksistensi politik Yahudi di muka bumi. Jasa Kopresh ini yang membuat orang Yahudi berhutang budi. Karena kalau bukan karena jasa Raja Persia ini, Yahudi bisa jadi lenyap dari muka bumi pada abad kelima sebelum masehi.

Sejak periode 500 an sebelum masehi hingga kini, Yahudi pun tetap bercokol. Bahkan di abad ke 21, Yahudi dengan negaranya Israel mampu tampil sebagai salah satu kekuatan utama dunia.

Sejak paham Syiah dianut di abad 16, kehidupan Yahudi dan Iran ibarat naik turun. Yahudi sempat jadi korban diskriminasi. Beberapa kali, Yahudi, kristen, dan umat agama lain, menerima tindakan berbeda dari pemerintah Iran.

Namun, di abad ke 19, Yahudi kembali bangkit di Iran. Saat itu, Kebijakan Iran adalah memberi Yahudi posisi hidup setara dengan masyarakat Iran lain yang mengantut syiah.

Bahkan seorang pemimpin Iran, Reza Shah Pahlevi sangat menghormati Yahudi. Dalam sebuah kunjungannya ke komunitas Yahudi di Isfahan, Reza sempat berdoa dan membungkuk kepada Yahudi.

“Reza Pahlevi menjadi pemimpin Iran yang paling dihormati Yahudi setelah Koresh Agung,” ujar Iran Online. Apa yang disebut laman Iran itu tidak terlepas membaiknya hubungan Iran Yahudi di masa itu.

Persahabatan Yahudi dengan Iran makin terasa di tahun 1970-an. saat itu, komunitas Yahudi mengibarkan bendera kebangsaan Iran saat negara itu bertanding sepak bola melawan tim nasional Israel. “Walau begitu beberapa orang Iran ini sempat dipukuli penonton Iran lain,” tulis Iran Online.

Sekalipun makin terpinggir selepas tahun 1970-an, kontribusi Yahudi untuk Iran tetap besar. Masyarakat Yahudilah yang berperan dalam menjaga kesenian kuno Iran. Sebab, Yahudi adalah salah satu peletak dasar budaya Iran sejak abad kelima sebelum masehi. “Yahudilah yang berjasa melestarikan musik Iran kuno, terutama saat pemerintah Iran membatasi musik,” tulis Iran Online.

Hingga saat inipun, ritual kebudayaan Iran kuno masih tetap dipelihara oleh orang Yahudi. Bahkan kkubudayaan Iran kuno dirayakan masyarakat Yahudi dengan sebuah festifal bernama Illanout.
Sejak revolusi Islam Iran tahun 1979, Yahudi mendapat kesempatan untuk mengirim seorang perwakilannya di parlemen. Yahudi Iran juga tetap memiliki kesempatan untuk menempuh kegiatan di Universitas utama di Iran.

Kendati saat ini sang presiden Mahmud Ahmadinejad berseberangan dari segi politik dengan Israel, namun hal itu tidak menghapus fakta bahwa Yahudi dan Iran tetap terkoneksi. Koneksi Yahudi Iran tercermin lewat sejarah, budaya, hingga masyarakatnya.

Sumber

Senin, 16 Desember 2013

Imam Kedua Belas Syiah (2-Habis)







Anggap saja al-Mahdi pernah dilahirkan, maka tidak ada manfaatnya ia bersembunyi sekian lama di dalam gua. Orang-orang Syiah jika ditanya hikmah persembunyian al-Mahdi di dalam gua dan tidak menampakkan diri di hadapan khalayak, mereka akan beralasan karena ia mengkhawatirkan dirinya terbunuh. Itu saja. (!)
Alasan yang dikemukakan ath-Thusi ini dan orang-orang yang serupa dengannya jelas sangat lemah sekali. Kebatilan alasan mereka tampak pada beberapa point berikut:
1. Telah disebutkan dalam kitab-kitab referensi utama mereka bahwa al-Mahdi insan yang ditolong dan dibantu Allah, ia akan menguasai belahan bumi barat dan timur. Jika al-Mahdi akan ditolong dan dimenangkan oleh Allah, mengapa ia harus menyembunyikan diri dan tidak muncul di hadapan khalayak?!. Menghilangnya al-Mahdi dengan bersembunyi di sirdaab dalam jangka tempo yang sangat lama menyisakan dan memunculkan pertanyaan mengapa harus sembunyi? Bila al-Mahdi meyakini berita-berita kemenangannya terhadap musuh-musuhnya, mengapa ia harus takut?
2. Keyakinan Syiah bahwa Imam Mahdi Syiah khawatir akan terbunuh sehingga menyembunyikan diri, berkonsekuensi gugurnya imamahnya. Sebab, menurut Syiah, seorang imam haruslah manusia yang paling berani. Disebutkan dalam referensi mereka, “Seorang imam memiliki beberapa tanda: ia adalah orang yang paling alim, paling bijak, paling bertakwa dan paling berani”. (Al-Anwâr an-Nu’mâniyyah 1/34 , Ni’matullâh al-Jazâiri)
Sementara orang yang khawatir dirinya akan dibunuh sehingga menghilang dan menyembunyikan diri bukanlah manusia pemberani.
3. Keyakinan aneh tersebut juga berarti bahwa al-Mahdi tidak akan pernah muncul sampai negara-negara zhalim dan perusak lenyap, sehingga ia baru bisa merasa aman dari ancaman bunuh. Karena kezhaliman akan tetap ada berarti kemunculannya tidak dibutuhkan.
4. Sejarah mencatat, Syiah telah memiliki kekuasaan dan pemerintahan, seperti Iran sebagai contoh nyata. Negara itu tentu pasti akan berusaha melindungi al-Mahdi kalau mau memunculkan diri, akan tetapi kenapa tidak muncul-muncul juga?
5. Orang yang tidak bisa membela diri dan melindungi dirinya dari ancaman pembunuhan maka jelas tidak akan sanggup melindungi orang lain. Apakah masuk akal, orang-orang Syiah menunggu kedatangan orang yang katanya akan memberangus musuh-musuh mereka dengan gemilang?
Dengan demikian, alasan mereka untuk menutupi keanehan menghilang dan sembunyi Imam Mahdi mereka gugur dan selanjutnya hal ini menunjukkan bahwa keberadaan Imam Mahdi mereka pada hakekatnya memang tidak ada dan tidak pernah ada.
KETIKA BERSEMBUNYI, UMAT TIDAK MENDAPATKAN MANFAAT APA-APA
Petunjuk lain yang menandakan kebatilan aqidah sembunyinya Imam Mahdi Syiah, bahwa tidak ada satu maslahat dan manfaat secuil pun yang didapatkan umat manusia termasuk kaum Muslimin, dan para penganut Syiah, baik berhubungan dengan maslahat duniawi atau agama yang didapatkan dari persembunyiaan Imam Mahdi Syiah itu.
Bisa dihitung sampai sekarang, Imam Mahdi Syi’ah sudah bersembunyi tidak kurang dari 1173 tahun lamanya (?!), karena menurut mereka ia memasuki gua pada tahun 260H saat berusia 5 tahun. Apakah manfaat dari keberadaannya yang bersembunyi kalau memang ia benar-benar ada dan masih hidup? Bagaimana bila ia sebenarnya tidak pernah ada. Bagi siapa saja yang meyakini dengan imam ke-12 ini, manfaat apakah yang ia dapatkan untuk agama dan dunianya. Maka, hanya ada dua kondisi, imam itu hilang atau memang tidak pernah ada. Dalam dua kondisi ini, tidak ada manfaat untuk agama atau dunia seseorang.
Berdasarkan pandangan Syiah yang menganggap imamah sebagai rukun agama, maka ketidakmunculan Imam Mahdi Syiah ini – bila dianggap ada – mengakibatkan lumpuhnya pelaksanaan syariat dan kemaslahatan agama lainnya. Pantas saja, shalat Jum’at dan jamaah tidak dilakukan di kantong-kantong Syiah, dengan alasan ketiadaan imam. (?!)
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa kisah fiktif (khurofat) Imam Mahdi Syiah digulirkan untuk menutupi kekeliruan aqidah mereka yang memang sudah rusak sebelumnya dari asasnya. Walillâhil hamdi wal minnah ‘alal Islâm wal hidâyah.
KETIKA AKAL SEHAT HILANG, YANG PALING ANEH SEKALIPUN DIBENARKAN
Setelah secara yakin dapat disimpulkan bahwa Imam Mahdi Syiah memang tidak ada, dan keyakinan tentang itu lebih tepat masuk kategori cerita khurofat, ada baiknya kita simak komentar beberapa Ulama Islam tentang keyakinan rusak ini.
Usai mengungkap sifat-sifat Imam Mahdi Ahli Sunnah yang diterangkan oleh Rasûlullâh Muhammad dalam hadits-hadits shahihnya, Imam Ibnu Katsîr rahimahulla , seorang pakar tafsir, sejarah dan fikih, (wafat tahun H) menyimpulkan tentang Imam Mahdi Syiah yang telah bersembunyi lebih dari 100 tahun dalam gua dengan berkata, “Sesungguhnya (wujud Imam Mahdi Syiah) itu tidak ada hakekatnya, tidak ada mata yang pernah menyaksikannya juga tidak ada bukti yang menjelaskannya”. (al-Fitan wal Malâhim 1/23-24)
Di tempat lain beliau menyatakan, “Sesungguhnya keyakinan tersebut termasuk hadzayân (igauan belaka), bukti sangat jauh dari hidayah, sangat kuat kedekatannya dengan setan. Sebab, tidak ada dalil dan petunjuk (yang membenarkannya) baik dari al-Qur`an, Hadits (shahih), akal sehat dan istihsaan”. (al-Fitan wal Malâhim 1/29)
Sementara ‘Allamah Syaikh as-Safârîni rahimahullah juga menyebut keyakinan itu sebagai igauan belaka yang tidak ada hakekatnya. (Lawâmi’ul Anwâr 2/71)
Demikian pula, Syaikh Khâlid Muhammad ‘Ali al-Hâjj menyatakan, “Ringkasnya, klaim Syiah (bahwa Imam Dua Belas mereka bersembunyi) itu tidak ada dasarnya sama sekali. Tidak ada satu orang ulama besar (Ahli Sunnah) yang meriwayatkannya. Tidak ada unsur kebenarannya sedikit pun. Akan tetapi, bila akal (sehat) telah hilang, maka segala sesuatu (yang aneh) pun mungkin terjadi”. (al-Kasysyâful Farîdi ‘an Ma’âwil Hadmi wa Naqâidhi at-Tauhîd 1/123-124)
PENUTUP
Aqidah Imam Mahdi ala Syiah ini memperlihatkan dengan jelas sekali betapa merupakan aqidah yang rapuh, ganjil sekaligus aneh, tidak sepantasnya orang yang berakal meyakininya. Orang yang berakal sehat dan mencintai al-haq akan menolaknya mentah-mentah.
Kebenaran haqiqi sangat jelas, dan tidak kabur bagi orang yang mengetahuinya, sebagaimana seorang ahli emas tidak akan sulit membedakan antara emas murni dan emas palsu. Sementara bagi orang yang bodoh, buta, atau kurang tahu, bisa saja menganggap kesesatan, kemungkaran, dan penyimpangan sebagai al-haq yang harus diyakini, diamalkan dan dibela mati-matian.
Inilah yang mengakibatkan sebagian orang terjerumus dalam penyimpangan dan kesesatan yang terkadang tampak jelas tidak bisa diterima oleh akal sehat. Oleh karena itu, kebatilan akan mudah menyebar dan laku di tengah orang-orang yang tidak berilmu, bodoh dan buta terhadap ilmu syar’i dan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , serta pengamalan Islam oleh para Sahabat.
Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa menetapkan hidayahNya pada kita dan mewafatkan kita di atas Sunnah. Wallâhu a’lam. []
MARAJI.
1. Badzlul Majhûdi fî Itsbâti Musyâbahati Râfidhati lil Yahûdi, ‘Abdullâh al-Jumaili, Maktabah al-‘Ghurâbâ al-Atsariyyah Madinah
2. Muqaddimah tahqîq kitab al-Imâmah fir raddi ‘alâ Râfidhah al-Hâfizh Abu Nu’aim al-Asfahâni oleh DR. ‘Ali Muhammad Nâshir al-Faqîhi
3. Ash-Shawârifu ‘anil haqqi, Hamd al-‘Utsmân Cet. II Th1426H

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XV/1433H/2012. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196/Sumber:Almanhaj.or.id]
HABIS

Imam Kedua Belas Syiah (1)

Oleh: Ustadz Abu Minhal Lc

1. MENUNGGU KEDATANGAN IMAM KEDUA BELAS

MAHDI Muntazhar (Imam Mahdi Syiah yang ditunggu-tunggu kedatangannya) termasuk pembahasan yang sering dibicarakan dalam buku-buku referensi Syiah. Yang mereka maksud dengan sebutan itu dalam pandangan Syiah adalah imam kedua belas yang bernama Muhammad bin Hasan al-‘Askari. Menurut versi mereka, ia dilahirkan pada hari Jum’at bulan Sya’ban pada tahun 255H.

Pada usia 5 tahun, ia bersembunyi di sirdaab (goa tempat perlindungan dari terik matahari) kota Surra man Ra`a, terletak antara kota Baghdad dan Tikrit, karena akan dibunuh oleh orang-orang zhalim.
Ath-Thusi , seorang tokoh Syiah masa lalu, mengatakan, “Tidak ada alasan yang menghalangi kemunculannya selain karena ia khawatir dibunuh. Sebab jika tidak ada kekhawatiran ini, ia tidak boleh menyembunyikan diri.” (Al-Ghaibah:199)

Keyakinan mereka dengan Imam Mahdi Syiah ini, membuat mereka menunggu-nunggu kemunculannya di mulut sirdaam dengan memanggil-manggil namanya untuk segera keluar dari persembunyiannya.

2. IMAM KESEBELAS TIDAK MEMILIKI KETURUNAN

Dengan sifat hikmah-Nya, Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui, menetapkan Hasan al-Askari – imam kesebelas menurut kalangan Syiah- meninggal tanpa memiliki anak dan keturunan. Tentu, realita ini menyulitkan tokoh Syiah, bagaimana seorang imam meninggal tanpa berputra seorang pun yang akan menggantikan posisi imamahnya? Padahal keberadaan imam sangatlah penting dalam aqidah mereka, bahkan termasuk rukun Islam yang urgensinya mengalahkan shalat fardhu. (?!) Pengganti seorang imam haruslah keturunan imam sebelumnya. Setelah masa imamah Hasan Radhiyallahu anhu dan Husain Radhiyallahu anhu, seorang imam tidak boleh berasal dari saudara imam, harus dari keturunannya. Demikian keyakinan orang-orang Syiah.

Sejarah telah mencatat bahwa orang yang mereka anggap sebagai Imam Ke Sebelas, Hasan al-‘Askari , tidak memiliki anak. Penguasa khilafah ‘Abbasiyah waktu itu pun mengetahui perihal tersebut. Sebab, mereka mengikuti perkembangan Hasan al-Askari yang sedang sakit. Beberapa tabib diutus untuk memonitor kesehatannya. Penguasa menugaskan Hakim setempat untuk memilih 10 orang terpercaya untuk berada di rumah Hasan al-Askari. Mereka berada di sana sampai ajal menjemput Hasan al-‘Askari.

Setelah Hasan al-Askari wafat, utusan-utusan yang terpercaya itu memeriksa isi rumah dan kamar untuk mencari tahu apakah ia memiliki anak atau tidak. Mereka juga mendatangkan wanita-wanita yang tahu masalah kehamilan untuk memeriksa budak-budak wanita yang dimiliknya. Hasilnya, ada seorang budak perempuan yang sepertinya sedang mengandung. Maka, wanita ini pun ditempatkan di satu kamar dan dipersiapkan segala sesuatu untuk persalinannya.

Setelah Hasan dimakamkan, pihak penguasa tetap berusaha mencari-cari anak Hasan al-Askari. Harta warisan pun belum dibagikan. Namun setelah dipastikan bahwa kehamilan salah seorang budak itu kosong, maka warisan Hasan al-Askari dibagikan kepada Ibu dan saudara lelakinya Ja’far. Tidak ada seorang pun yang menentang pembagian ini.

Kejadian ini menunjukkan kebatilan keyakinan Imam Mahdi Syiah secara otomatis. Pihak Syiah pun tidak bisa mendustakan dan menghilangkan bukti sejarah ini. Menariknya, ternyata, kitab-kitab para petinggi agama Syiah menyebutkan realita ini, bahwa Hasan al-Askari memang wafat tanpa memiliki anak lelaki. Di antara mereka adalah :

1. al-Kulaini dalam al-Kâfi (1/505)
2. al-Mufîd dalam al-Irsyâd (hlm.338-339)
3. al-Majlisi dalam Jalâul ‘Ainain
4. Ibnu Shabbâgh dalam al-Fushûl al-Muhimmah fi Ma’rifati Ahwâlil Aimmah (hlm.288-289)
5. al-‘Abbas al-Qummi dalam Muntahal Amâl.

Fakta bahwa Hasan al-Askari tidak memiliki anak akan mengakibatkan keyakinan mereka hancur dengan sendirinya. Sebab, kelanjutan imamah secara otomatis berhenti. Tatkala sebagian penganut Syiah merasakan kekhawatiran aliran Syiah akan sirna karena ketiadaan imam ke dua belas, maka sejumlah orang dari mereka memikirkan cara untuk menyelamatkan aliran ini.

Akhirnya, mereka mendapatkan jalan keluar dari apa yang diyakini oleh kaum Majusi yang mempercayai mereka memiliiki manusia juru selamat yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Dari situ, seorang dari Syiah bernama Muhammad bin Nushair an-Namîri dan kawan-kawannya mendapatkan ide dengan klaim bahwa Hasan al-Askari memiliki anak yang ia sembunyikan di dalam sirdab karena khawatir akan dibunuh oleh orang-orang jahat dan zhalim. Tujuan mereka menggulirkan pernyataan ini adalah untuk mengelabui orang-orang awam Syiah sehingga para tokoh Syiah tetap bisa meminta setoran kekayaan dan zakat dari masyarakat awam atas nama Imam yang ditunggu-tunggu kedatangannya.

BERSAMBUNG

Selasa, 10 Desember 2013

Kesesatan Syiah




SYIAH bukan Islam. Bahkan sama sekali tidak serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri -terutama dari sisi aqidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak mungkin disatukan.

Apa Itu Syi’ah?
Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Al-Awaji)

Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm)

Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma’iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya. (Al-Milal Wan Nihal, hal. 147, karya Asy-Syihristani)

Dan tampaknya yang terpenting untuk diangkat pada edisi kali ini adalah sekte Imamiyyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara, kelompok sempalan ini terus menerus menebarkan berbagai macam kesesatannya. Terlebih lagi kini didukung dengan negara Iran-nya.

Rafidhah , diambil dari yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna , meninggalkan (Al-Qamus Al-Muhith, hal. 829).

Sedangkan dalam terminologi syariat bermakna: Mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakr dan ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, berlepas diri dari keduanya, dan mencela lagi menghina para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, 1/85, karya Abdullah Al-Jumaili)

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata:
“Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar’.” (Ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hal. 567, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)

Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)

Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ari berkata:
“Zaid bin ‘Ali adalah seorang yang melebihkan ‘Ali bin Abu Thalib atas seluruh shahabat Rasulullah, mencintai Abu Bakr dan ‘Umar, dan memandang bolehnya memberontak1 terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka:

“Kalian tinggalkan aku?” Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1/137). Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (13/36).

Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah.

Rafidhah ini terpecah menjadi beberapa cabang, namun yang lebih ditonjolkan dalam pembahasan kali ini adalah Al-Itsna ‘Asyariyyah.

Siapakah Pencetusnya?
Pencetus pertama bagi faham Syi’ah Rafidhah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ Al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan.2

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
“Asal Ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, pen). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba’ Az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrim di dalam memuliakan ‘Ali, dengan suatu slogan bahwa ‘Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa, pen).” (Majmu’ Fatawa, 4/435)

Sesatkah Syi’ah Rafidhah ?
Berikut ini akan dipaparkan prinsip (aqidah) mereka dari kitab-kitab mereka yang ternama, untuk kemudian para pembaca bisa menilai sejauh mana kesesatan mereka.

a. Tentang Al Qur’an
Di dalam kitab Al-Kaafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih Al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdullah (Ja’far Ash-Shadiq), ia berkata : “Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (ada) 17.000 ayat.”

Di dalam Juz 1, hal 239-240, dari Abu Abdillah ia berkata: “…Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata: ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata: ‘Mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al Qur’an kalian…’.”
(Dinukil dari kitab Asy-Syi’ah Wal Qur’an, hal. 31-32, karya Ihsan Ilahi Dzahir)

Bahkan salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma’shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.

b. Tentang shahabat Rasulullah
Diriwayatkan oleh Imam Al-Jarh Wat Ta’dil mereka (Al-Kisysyi) di dalam kitabnya Rijalul Kisysyi (hal. 12-13) dari Abu Ja’far (Muhammad Al-Baqir) bahwa ia berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata: “Siapa tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi…” kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari Asy-Syi’ah Al-Imamiyyah Al-Itsna ‘Asyariyyah Fi Mizanil Islam, hal. 89)

Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.” (Al-Kafi, 8/248, dinukil dari Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 45, karya Ihsan Ilahi Dzahir)
Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir Al-Husaini Al-Majlisi di dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3/640. (Lihat kitab Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 46)

Adapun shahabat Abu Bakr dan ‘Umar, dua manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan do’a mereka (Miftahul Jinan, hal. 114), wirid laknat untuk keduanya:

Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…(yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Hafshah)
(Dinukil dari kitab Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18, karya As-Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib)

Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ Al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Dan hari kematian ‘Umar dijadikan sebagai hari “Iedul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan dan kesucian, hari barakah, serta hari suka ria. (Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18)

Adapun ‘Aisyah dan para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya, mereka yakini sebagai pelacur -na’udzu billah min dzalik-. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hal. 57-60) karya Ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) perkataan shahabat Abdullah bin ‘Abbas terhadap ‘Aisyah: “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah…” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin Al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hal. 11, karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)

Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu, Al-Imam Malik bin Anas berkata: “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menghabisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para shahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) adalah seorang yang jahat, karena kalau memang ia orang shalih, niscaya para shahabatnya adalah orang-orang shalih.” (Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul, hal. 580)

c. Tentang Imamah (Kepemimpinan Umat)
Imamah menurut mereka merupakan rukun Islam yang paling utama3. Diriwayatkan dari Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (2/18) dari Zurarah dari Abu Ja’far, ia berkata: “Islam dibangun di atas lima perkara:… shalat, zakat, haji, shaum dan wilayah (imamah)…” Zurarah berkata: “Aku katakan, mana yang paling utama?” Ia berkata: “Yang paling utama adalah wilayah.” (Dinukil dari Badzlul Majhud, 1/174)

Imamah ini (menurut mereka -red) adalah hak ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu dan keturunannya sesuai dengan nash wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun selain mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin dari Abu Bakr, ‘Umar dan yang sesudah mereka hingga hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta memperluas dunia Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah para perampas (kekuasaan). (Lihat Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 16-17)

Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ini ma’shum (terjaga dari segala dosa) dan mengetahui hal-hal yang ghaib. Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai ‘Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia Al-Imam Al-Mahdi, sang penguasa zaman -baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam- yang dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/192)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Minhajus Sunnah, benar-benar secara rinci membantah satu persatu kesesatan-kesesatan mereka, terkhusus masalah imamah yang selalu mereka tonjolkan ini.
d. Tentang Taqiyyah
Taqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka nifaq, dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu’ashirah, 1/195 dan Asy-Syi’ah Al-Itsna ‘Asyariyyah, hal. 80)
Mereka berkeyakinan bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Bahkan sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kaafi (2/175) dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar Al-A’jami: “Wahai Abu ‘Umar, sesungguhnya sembilan per sepuluh dari agama ini adalah taqiyyah, dan tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyyah.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/196)

Oleh karena itu Al-Imam Malik ketika ditanya tentang mereka beliau berkata:
“Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.”

Demikian pula Al-Imam Asy-Syafi’i berkata:
“Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam Adz-Dzahabi)

e. Tentang Raj’ah
Raj’ah adalah keyakinan hidupnya kembali orang yang telah meninggal. ‘Ahli tafsir’ mereka, Al-Qummi ketika menafsirkan surat An-Nahl ayat 85, berkata: “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah raj’ah, kemudian menukil dari Husain bin ‘Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini: ‘Nabi kalian dan Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) serta para imam ‘alaihimus salam akan kembali kepada kalian’.” (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu’ ‘Alar Riwayatit Tarikhiyyah, hal. 32, karya Dr. Abdul ‘Aziz Nurwali)

f. Tentang Al-Bada’
Al-Bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka berkeyakinan bahwa Al-Bada’ ini terjadi pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan mereka berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (1/111), meriwayatkan dari Abu Abdullah (ia berkata): “Tidak ada pengagungan kepada Allah yang melebihi Al-Bada’.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/252). Suatu keyakinan kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi4.

Demikianlah beberapa dari sekian banyak prinsip Syi’ah Rafidhah, yang darinya saja sudah sangat jelas kesesatan dan penyimpangannya. Namun sayang, tanpa rasa malu Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen) di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan lebih utama dari masyarakat Kufah dan Iraq di masa Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 16, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 192)
Perkataan Ulama tentang Syi’ah Rafidhah

Asy-Syaikh Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili di dalam kitabnya Al-Intishar Lish Shahbi Wal Aal (hal. 100-153) menukilkan sekian banyak perkataan para ulama tentang mereka. Namun dikarenakan sangat sempitnya ruang rubrik ini, maka hanya bisa ternukil sebagiannya saja.

1. Al-Imam ‘Amir Asy-Sya’bi berkata:
“Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (As-Sunnah, 2/549, karya Abdullah bin Al-Imam Ahmad)

2. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar, beliau berkata:
“Ia telah kafir kepada Allah.” Kemudian ditanya: “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata: “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7/253)

3. Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i, telah disebut di atas.

4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
“Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah) itu orang Islam.” (As-Sunnah, 1/493, karya Al-Khallal)

5. Al-Imam Al-Bukhari berkata:
“Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh -red). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125)

6. Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata:
“Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita haq, dan Al Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah adalah para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh mereka mencela para saksi kita (para shahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (Al-Kifayah, hal. 49, karya Al-Khathib Al-Baghdadi)

Demikianlah selayang pandang tentang Syi’ah Rafidhah, mudah-mudahan bisa menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran.
[islampos/shirotolmustaqiem/asysyariah]

Kejahatan Syiah Dalam Sejarah



DENGAN bekal akidah yang rusak dan absurd, Syi’ah kerap menebar kekejian dan kebiadaban kepada kaum muslimin. Sejarah mencatat lembaran demi lembaran kelam kejahatan mereka dan tidak ada seorang pun yang dapat mengingkarinya. Berikut adalah diantara sebagian ‘kecil’ catatan sejarah kejahatan mereka yang digoreskan oleh para ahli sejarah Islam.

Jatuhnya Kota Bagdad
Pada tahun 656 H, Hulagu Khan, Raja Tatar berhasil menguasai kota Baghdad yang saat itu menjadi pusat peradaban Islam di bawah kekuasaan Bani Abbasiyyah. Keberhasilan invansi Tatar ini tidak lepas dari peran dua orang Syi’ah. Yang pertama adalah seorang menteri pengkhianat khalifah Muktashim yang bernama Mu`yyiduddin Muhammad Ibnul Alqamy. Dan yang kedua adalah seorang ahli nujum Nashirudin Ath Thusi penasehat Hulagu.

Pada akhir kepemimpinan khalifah Mustanshir, jumlah pasukan Bani Abbasiyyah mencapai seratus ribu pasukan. Sepeninggal Mustanshir dan tampuk kepemimpinan dipegang oleh Muktashim, Ibnul Alqamy membuat usulan-usulan kepada khalifah untuk mengurangi jumlah pasukan dengan alasan untuk menghemat biaya. Hal itu pun diikuti oleh khalifah. Padahal itu merupakan taktik untuk melemahkan kekuatan pasukan. Hingga akhirnya jumlah pasukan hanya sepuluh ribu saja.

Pada saat yang sama, Ibnul Alqami menjalin hubungan gelap dengan Hulagu. Ia sering menulis surat kepada Hulagu dan memberinya motivasi untuk mengusai Baghdad serta berjanji akan membantunya sambil menggambarkan kondisi pertahanan Bagdad ketika itu yang semakin melemah. Itu semua ia lakukan demi memberantas sunnah, menampakkan bid’ah rafidhah dan mengganti kekuasaan dari Bani Abbasiyyah kepada Alawiyyah.

Pasukan Hulagu pun kemudian bergerak menuju Bagdad. Pasukan Khalifah baru menyadari bahwa Tatar telah bergerak masuk. Upaya penghadangan Tatar yang dilakukan oleh khalifah gagal hingga akhirnya Tatar berhasil menguasai sebagian wilayah Bagdad. Dalam kondisi itu, Ibnul Alqami mendatangi Hulagu dan membuat perencanaan dengannya kemudian kembali kepada khalifah Muktashim dan mengusulkan kepadanya untuk melakukan perdamaian seraya berkata bahwa Hulagu akan tetap memberinya kekuasaan sebagaimana yang Hulagu lakukan terhadap penguasa Romawi. Ia pun berkeinginan menikahkan putrinya dengan anak laki-laki kahlifah yang bernama Abu Bakar. Ia terus mengusulkan agar penawaran itu disetujui oleh khalifah. Maka khalifah pun berangkat dengan membawa para pembesar pemerintahannya dalam jumlah yang sangat banyak (dikatakan sekitar 1200 orang)

Khalifah menempatkan rombongannya di sebuah tenda. Lalu menteri Ibnul Alqami mengundang para ahli fikih dan tokoh untuk menyaksiakan akad pernikahan. Maka berkumpulah para tokoh dan guru Bagdad yang diantaranya adalah Muhyiddin Ibnul Jauzi beserta anak-anaknya untuk mendatangi Hulagu. Sesampainya di tempat Tatar, pasukan Tatar malah membunuhi mereka semua. Begitulah setiap kelompok dari rombongan khalifah datang dan dibantai habis semuanya. Tidak cukup sampai disitu, pembantaian berlanjut kepada seluruh penduduk Bagdad. Tidak ada yang tersisa dari penduduk kota Bagdad kecuali yang bersembunyi. Hulagu juga membunuh khalifah dengan cara mencekiknya atas nasehat Ibnul Alqami.
Pembantaian Tatar terhadap penduduk Bagdad berlangsung selama empat puluh hari. Satu juta korban lebih tewas dalam pambantaian ini. Kota Bagdad hancur berdarah-darah, rumah-rumah porak-poranda, buku-buku peninggalan para ulama dibakar habis dan Bagdad pun jatuh kepada penguasa kafir Hulagu Khan.

Selain peran Ibnul Alqami, peristiwa ini juga tidak lepas dari peran seorang Syi’ah lainnya bernama Nashirudin At Thushi, penasehat Hulagu yang dari jauh-jauh hari telah mempengaruhi Hulagu untuk menguasai kota Bagdad. [Lihat Al Bidayah wa Al Nihayah, vol. 13, hal. 192, 234 – 237, Al-Nujuum Al Zaahirah fii Muluuk Mishr wa Al Qahirah, vol. 2, hal. 259 – 260]

Konspirasi Syi’ah Ubaidiyyah dan Pasukan Salib
Ketika kerajaan Islam Saljuqi sedang dalam pengintaian pasukan salib, orang-orang Syi’ah Ubaidiyyah yang menamakan diri mereka sebagai Fathimiyyah memanfaatkan keadaan. Ketika pasukan salib sedang mengepung Antakia, mereka mengirim utusan kepada pasukan salib untuk melakukan kerjasama dalam memerangi kerajaan Islam Saljuqi serta membuat perjanjian untuk membagi wilayah selatan (syiria) untuk pasukan salib dan wilayah utara (palestina) untuk mereka. Pasukan salib pun menyambut tawaran itu.
Maka, terjadilah pertempuran antara pasukan salib dan pasukan Saljuqi. Saat terjadi peperangan antara pasukan Saljuqi dengan pasukan salib, orang-orang Syi’ah Ubaidiyyah sibuk untuk memperluas kekuasaan mereka di Pelestina yang saat itu berada di bawah kekuasaan Saljuqi.

Akan tetapi kemudian pasukan salib mengkhianati perjanjian mereka dan merangsek masuk ke wilayah Palestina pada musim semi tahun 492 H dengan kekuatan seribu pasukan berkuda dan lima ribu invanteri saja. Pasukan Ubaidiyyah melawan mereka namun demi tanah dan diri mereka saja, bukan untuk jihad. Hingga satu per satu dari daerah Palestina jatuh ke tangan pasukan salib dan mereka pun membantai kaum muslimin. Mereka membunuhnya di depan Masjid Al Aqsha. Lebih dari tujuh puluh ribu orang tewas dalam peristiwa berdarah itu, termasuk para ulama. [Lihat Tarikh Islam, Mahmud Syakir, vol. 6, hal. 256-257, Tarikh Al Fathimiyyin, hal. 437]

Syi’ah Qaramithah
Al Hafidz Ibnu Katsir dalam (Al Bidayah wa Al Nihayah, vol. 11, hal. 149) menceritakan, di antara peristiwa pada tahun 312 H bulan Muharram, Abu Thahir Al Husain bin Abu Sa’id Al Janabi –semoga Allah melaknatnya- menyerang para jemaah haji yang tengah dalam perjalanan pulang dari baitullah dan telah menunaikan kewajiban haji. Mereka merampok dan membunuh mereka. Korban pun berjatuhan dengan jumlah yang sangat banyak –hanya Allah yang mengetahuinya. Mereka juga menawan para wanita dan anak-anak mereka sekehendaknya dan merampas harta mereka yang mereka inginkan.

Ibnu Katsir juga menceritakan pada tahun 317 H, orang-orang Syi’ah Qaramithah telah mencuri hajar aswad dari baitullah. Dalam tahun itu, rombongan dari Iraq yang dipimpin orang Manshur Ad Daimamy datang ke Makkah dengan damai. Kemudian pada hari tarwiyah, orang-orang Qaramithah menyerang mereka, merampas harta dan membantainya di masjidil haram, di depan Kabah. Para jemaah haji berhamburan. Diantara mereka ada yang berpegangan dengan kain penutup Kabah. Akan tetapi itu tidak bermanfaat bagi mereka. Orang-orang Qaramithah terus membunuhi orang-orang. Setelah selesai, orang-orang Qaramithah membuang para korban di sumur zamzam dan tempat-tempat di masjidil haram.

Qubbah zamzam dihancurkan, pintu kabah dicopot dan kiswahnya dilepaskan kemudian dirobek-robek. Mereka pun mengambil hajar aswad dan membawanya pergi ke negara mereka. Selama dua puluh dua tahun hajar aswad beserta mereka hingga akhirnya mereka kembalikan pada tahun 339 H.

Daulah Shafawiyyah (Cikal Bakal Syi’ah di Iran)
Dahulu, hampir sembilan pulun persen penduduk Iran menganut akidah ahli sunnah bermadzhab Syafi’i. Hingga pada abad ke sepuluh hijriyah tegaklah daulah Shafawiyyah dibawah kepamimpinan Isma’il Ash-Shafawi. Ia pun kemudian mengumumkan bahwa ideologi negera adalah Syi’ah Imamiyyah Itsna Asyriyyah, serta memaksa para warga untuk juga menganutnya.

Ia sangat terkenal sebagai pemimpin yang bengis dan kejam. Ia membunuh para ulama kaum muslimin beserta orang-orang awamnya. Sejarah mencatat, ia telah membunuh sekitar satu juta muslim sunni, merampas harta, menodai kehormatan, memperbudak wanita mereka dan memaksa para khatib ahli sunnah untuk mencela para khalifah rasyidin yang tiga (Abu Bakar, Umar dan Ustman –semoga Allah meridhai mereka) serta untuk mengkultuskan para imam dua belas.

Tidak hanya itu, ia juga memerintahkan untuk membongkar kuburan ulama kaum muslimin dari kalangan ahli sunnah dan membakar tulang belulangnya.

Daulah Shafawiyyah berhasil memperluas kekuasaannya hingga semua penjuru daerah Iran dan wilayah yang ada di dekatnya. Ismail Shafawi berhasil menaklukkan daulah Turkimaniyyah berakidah ahli sunnah di Iran, kemudian Faris, Kirman dan Arbastan serta yang lainnya. Dan setiap peristiwa penaklukan itu, ia membunuh puluhan ribu ahli sunnah. Hingga ia pun berhasil menyerang Bagdad dan menguasainya. Ia pun melakukan perbuatan kejinya kepada ahli sunnah disana. (dinukil dari Tuhfatul Azhar wa Zallaatu al Anhar, Ibnu Syaqdim As-Syi’i via al Masyru’ al Irani al Shafawi al Farisi, hal. 20 -21).
[islampos/muslim.or.id/berbagaisumber]

Kejahatan Syiah Dalam Sejarah



DENGAN bekal akidah yang rusak dan absurd, Syi’ah kerap menebar kekejian dan kebiadaban kepada kaum muslimin. Sejarah mencatat lembaran demi lembaran kelam kejahatan mereka dan tidak ada seorang pun yang dapat mengingkarinya. Berikut adalah diantara sebagian ‘kecil’ catatan sejarah kejahatan mereka yang digoreskan oleh para ahli sejarah Islam.

Jatuhnya Kota Bagdad
Pada tahun 656 H, Hulagu Khan, Raja Tatar berhasil menguasai kota Baghdad yang saat itu menjadi pusat peradaban Islam di bawah kekuasaan Bani Abbasiyyah. Keberhasilan invansi Tatar ini tidak lepas dari peran dua orang Syi’ah. Yang pertama adalah seorang menteri pengkhianat khalifah Muktashim yang bernama Mu`yyiduddin Muhammad Ibnul Alqamy. Dan yang kedua adalah seorang ahli nujum Nashirudin Ath Thusi penasehat Hulagu.

Pada akhir kepemimpinan khalifah Mustanshir, jumlah pasukan Bani Abbasiyyah mencapai seratus ribu pasukan. Sepeninggal Mustanshir dan tampuk kepemimpinan dipegang oleh Muktashim, Ibnul Alqamy membuat usulan-usulan kepada khalifah untuk mengurangi jumlah pasukan dengan alasan untuk menghemat biaya. Hal itu pun diikuti oleh khalifah. Padahal itu merupakan taktik untuk melemahkan kekuatan pasukan. Hingga akhirnya jumlah pasukan hanya sepuluh ribu saja.

Pada saat yang sama, Ibnul Alqami menjalin hubungan gelap dengan Hulagu. Ia sering menulis surat kepada Hulagu dan memberinya motivasi untuk mengusai Baghdad serta berjanji akan membantunya sambil menggambarkan kondisi pertahanan Bagdad ketika itu yang semakin melemah. Itu semua ia lakukan demi memberantas sunnah, menampakkan bid’ah rafidhah dan mengganti kekuasaan dari Bani Abbasiyyah kepada Alawiyyah.

Pasukan Hulagu pun kemudian bergerak menuju Bagdad. Pasukan Khalifah baru menyadari bahwa Tatar telah bergerak masuk. Upaya penghadangan Tatar yang dilakukan oleh khalifah gagal hingga akhirnya Tatar berhasil menguasai sebagian wilayah Bagdad. Dalam kondisi itu, Ibnul Alqami mendatangi Hulagu dan membuat perencanaan dengannya kemudian kembali kepada khalifah Muktashim dan mengusulkan kepadanya untuk melakukan perdamaian seraya berkata bahwa Hulagu akan tetap memberinya kekuasaan sebagaimana yang Hulagu lakukan terhadap penguasa Romawi. Ia pun berkeinginan menikahkan putrinya dengan anak laki-laki kahlifah yang bernama Abu Bakar. Ia terus mengusulkan agar penawaran itu disetujui oleh khalifah. Maka khalifah pun berangkat dengan membawa para pembesar pemerintahannya dalam jumlah yang sangat banyak (dikatakan sekitar 1200 orang)

Khalifah menempatkan rombongannya di sebuah tenda. Lalu menteri Ibnul Alqami mengundang para ahli fikih dan tokoh untuk menyaksiakan akad pernikahan. Maka berkumpulah para tokoh dan guru Bagdad yang diantaranya adalah Muhyiddin Ibnul Jauzi beserta anak-anaknya untuk mendatangi Hulagu. Sesampainya di tempat Tatar, pasukan Tatar malah membunuhi mereka semua. Begitulah setiap kelompok dari rombongan khalifah datang dan dibantai habis semuanya. Tidak cukup sampai disitu, pembantaian berlanjut kepada seluruh penduduk Bagdad. Tidak ada yang tersisa dari penduduk kota Bagdad kecuali yang bersembunyi. Hulagu juga membunuh khalifah dengan cara mencekiknya atas nasehat Ibnul Alqami.
Pembantaian Tatar terhadap penduduk Bagdad berlangsung selama empat puluh hari. Satu juta korban lebih tewas dalam pambantaian ini. Kota Bagdad hancur berdarah-darah, rumah-rumah porak-poranda, buku-buku peninggalan para ulama dibakar habis dan Bagdad pun jatuh kepada penguasa kafir Hulagu Khan.

Selain peran Ibnul Alqami, peristiwa ini juga tidak lepas dari peran seorang Syi’ah lainnya bernama Nashirudin At Thushi, penasehat Hulagu yang dari jauh-jauh hari telah mempengaruhi Hulagu untuk menguasai kota Bagdad. [Lihat Al Bidayah wa Al Nihayah, vol. 13, hal. 192, 234 – 237, Al-Nujuum Al Zaahirah fii Muluuk Mishr wa Al Qahirah, vol. 2, hal. 259 – 260]

Konspirasi Syi’ah Ubaidiyyah dan Pasukan Salib
Ketika kerajaan Islam Saljuqi sedang dalam pengintaian pasukan salib, orang-orang Syi’ah Ubaidiyyah yang menamakan diri mereka sebagai Fathimiyyah memanfaatkan keadaan. Ketika pasukan salib sedang mengepung Antakia, mereka mengirim utusan kepada pasukan salib untuk melakukan kerjasama dalam memerangi kerajaan Islam Saljuqi serta membuat perjanjian untuk membagi wilayah selatan (syiria) untuk pasukan salib dan wilayah utara (palestina) untuk mereka. Pasukan salib pun menyambut tawaran itu.
Maka, terjadilah pertempuran antara pasukan salib dan pasukan Saljuqi. Saat terjadi peperangan antara pasukan Saljuqi dengan pasukan salib, orang-orang Syi’ah Ubaidiyyah sibuk untuk memperluas kekuasaan mereka di Pelestina yang saat itu berada di bawah kekuasaan Saljuqi.

Akan tetapi kemudian pasukan salib mengkhianati perjanjian mereka dan merangsek masuk ke wilayah Palestina pada musim semi tahun 492 H dengan kekuatan seribu pasukan berkuda dan lima ribu invanteri saja. Pasukan Ubaidiyyah melawan mereka namun demi tanah dan diri mereka saja, bukan untuk jihad. Hingga satu per satu dari daerah Palestina jatuh ke tangan pasukan salib dan mereka pun membantai kaum muslimin. Mereka membunuhnya di depan Masjid Al Aqsha. Lebih dari tujuh puluh ribu orang tewas dalam peristiwa berdarah itu, termasuk para ulama. [Lihat Tarikh Islam, Mahmud Syakir, vol. 6, hal. 256-257, Tarikh Al Fathimiyyin, hal. 437]

Syi’ah Qaramithah
Al Hafidz Ibnu Katsir dalam (Al Bidayah wa Al Nihayah, vol. 11, hal. 149) menceritakan, di antara peristiwa pada tahun 312 H bulan Muharram, Abu Thahir Al Husain bin Abu Sa’id Al Janabi –semoga Allah melaknatnya- menyerang para jemaah haji yang tengah dalam perjalanan pulang dari baitullah dan telah menunaikan kewajiban haji. Mereka merampok dan membunuh mereka. Korban pun berjatuhan dengan jumlah yang sangat banyak –hanya Allah yang mengetahuinya. Mereka juga menawan para wanita dan anak-anak mereka sekehendaknya dan merampas harta mereka yang mereka inginkan.

Ibnu Katsir juga menceritakan pada tahun 317 H, orang-orang Syi’ah Qaramithah telah mencuri hajar aswad dari baitullah. Dalam tahun itu, rombongan dari Iraq yang dipimpin orang Manshur Ad Daimamy datang ke Makkah dengan damai. Kemudian pada hari tarwiyah, orang-orang Qaramithah menyerang mereka, merampas harta dan membantainya di masjidil haram, di depan Kabah. Para jemaah haji berhamburan. Diantara mereka ada yang berpegangan dengan kain penutup Kabah. Akan tetapi itu tidak bermanfaat bagi mereka. Orang-orang Qaramithah terus membunuhi orang-orang. Setelah selesai, orang-orang Qaramithah membuang para korban di sumur zamzam dan tempat-tempat di masjidil haram.

Qubbah zamzam dihancurkan, pintu kabah dicopot dan kiswahnya dilepaskan kemudian dirobek-robek. Mereka pun mengambil hajar aswad dan membawanya pergi ke negara mereka. Selama dua puluh dua tahun hajar aswad beserta mereka hingga akhirnya mereka kembalikan pada tahun 339 H.

Daulah Shafawiyyah (Cikal Bakal Syi’ah di Iran)
Dahulu, hampir sembilan pulun persen penduduk Iran menganut akidah ahli sunnah bermadzhab Syafi’i. Hingga pada abad ke sepuluh hijriyah tegaklah daulah Shafawiyyah dibawah kepamimpinan Isma’il Ash-Shafawi. Ia pun kemudian mengumumkan bahwa ideologi negera adalah Syi’ah Imamiyyah Itsna Asyriyyah, serta memaksa para warga untuk juga menganutnya.

Ia sangat terkenal sebagai pemimpin yang bengis dan kejam. Ia membunuh para ulama kaum muslimin beserta orang-orang awamnya. Sejarah mencatat, ia telah membunuh sekitar satu juta muslim sunni, merampas harta, menodai kehormatan, memperbudak wanita mereka dan memaksa para khatib ahli sunnah untuk mencela para khalifah rasyidin yang tiga (Abu Bakar, Umar dan Ustman –semoga Allah meridhai mereka) serta untuk mengkultuskan para imam dua belas.

Tidak hanya itu, ia juga memerintahkan untuk membongkar kuburan ulama kaum muslimin dari kalangan ahli sunnah dan membakar tulang belulangnya.

Daulah Shafawiyyah berhasil memperluas kekuasaannya hingga semua penjuru daerah Iran dan wilayah yang ada di dekatnya. Ismail Shafawi berhasil menaklukkan daulah Turkimaniyyah berakidah ahli sunnah di Iran, kemudian Faris, Kirman dan Arbastan serta yang lainnya. Dan setiap peristiwa penaklukan itu, ia membunuh puluhan ribu ahli sunnah. Hingga ia pun berhasil menyerang Bagdad dan menguasainya. Ia pun melakukan perbuatan kejinya kepada ahli sunnah disana. (dinukil dari Tuhfatul Azhar wa Zallaatu al Anhar, Ibnu Syaqdim As-Syi’i via al Masyru’ al Irani al Shafawi al Farisi, hal. 20 -21).
[islampos/muslim.or.id/berbagaisumber]

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.