Minggu, 23 Maret 2014

Ritual Pengorbanan Anak di Chili


Sekelompok ilmuwan yang dipimpin Haagen Klaus, antropolog Utah Valley University, menemukan kerangka puluhan anak yang menjadi korban dalam upacara ritual suku Muchik di utara Peru.

Menurut Klaus, ini adalah bukti pertama tentang ritual sejenis yang melibatkan proses mutilasi anak di wilayah pegunungan Andes, Amerika Selatan.

Bersama kerangka itu, mereka juga menemukan Nectandra, sejenis tanaman halusinogen yang berfungsi melumpuhkan sistem tubuh dan mencegah pembekuan darah. Ini menunjukkan anak-anak itu terlebih dahulu dibius sebelum tenggorokan mereka digorok dan dada mereka dibelah.

Pisau perunggu yang tajam digunakan dalam ritual tersebut. Salah satu kerangka menunjukkan bekas 25 potongan. Beberapa kerangka menunjukkan tangan dan kaki mereka terlebih dulu diikat dengan tali.

“Ini melebihi tindakan yang sesungguhnya dibutuhkan untuk membunuh manusia. Benar-benar mengerikan,” ujar Klaus kepada National Geographic News. “Tapi kita harus memahami ini dalam konteks waktu itu, bukan saat ini.”

Sejak 2003, sebanyak 82 kerangka suku Muchik, termasuk 32 kerangka yang masih utuh, ditemukan di situs Cerro Cerrillos di Lembah Lambayeque, wilayah pantai utara Peru yang tandus.

Tak jelas mengapa dada korban harus dipotong. Namun, menurut Klaus, mungkin tindakan itu dilakukan untuk mengeluarkan jantung mereka.

“Masyarakat suku Muchik menawarkan darah (keturunan) mereka sendiri… Mereka memberikan persembahan untuk arwah nenek moyang mereka dan gunung-gunung,” ujar Klaus yang temuannya diterbitkan dalam jurnal arkeologi Antiquity edisi Desember 2010.

Klaus menambahkan, dalam budaya masyarakat di pegunungan Andes, anak-anak mungkin dianggap sebagai perantara untuk berkomunikasi dengan dunia supranatural. Selain itu, dalam kosmologi masyarakat Muchik, anak-anak belum dianggap sebagai manusia.

“Ketika suku Muchik mengorbankan anak-anak, dalam pandangan mereka, mereka tak mengorbankan manusia. Kedengarannya memang aneh,” tulis Klaus dalam sebuah email.

Setelah upacara persembahan, jasad anak-anak itu dibiarkan menjadi mumi secara alami oleh udara gurun setidaknya selama satu bulan. Pupa lalat ditemukan di antara tulang-belulang, yang menunjukkan belatung memakan daging mereka selama proses pembusukan. Dalam kepercayaan purba, lalat dipercaya membawa jiwa anak dan melambangkan proses pemakaman yang terhormat.

Sisa tubuh llama juga ditemukan bersama kerangka itu. Menurut Klaus, ini menunjukkan bahwa pemakaman jasad korban dilakukan dalam sebuah upacara perayaan “khidmat dan serius” dengan (hidangan) daging llama. Kepala dan kaki llama dipersembahkan kepada yang mati –mungkin sebagai bekal mereka di alam arwah.

Lebih dari 80 ritual pengorbanan darah dari tahun 900 M hingga 1100 dilakukan masyarakat Muchik, yang menempati pantai utara Peru setelah kejatuhan suku Moche.

Suku Moche sebuah masyarakat agraris yang bebas dan terlebih dulu bermukim di sana tahun 100 M hingga 800. Ideologi politik dan religius suku Moche mulai runtuh sekira 550 M akibat bencana El Nino yang mengubah iklim wilayah itu secara dramatis.

Namun beberapa budaya Moche bertahan dalam masyarakat Muchik, termasuk ritual pengorbanan manusia. Ritual pembunuhan terhadap tawanan perang menjadi ritual penting dalam masyarakat Moche untuk menyenangkan arwah nenek moyang dan alam. Suku Muchik tampaknya mengembangkan ritual itu dengan mengorbankan anak-anak, ujar Klaus.

Sejak 900 M, masyarakat Muchik dikuasai suku Sicán yang berasal dari etnis berbeda, namun ini tak mencegah mereka untuk mengembangkan dan melaksanakan ritual mereka sendiri. Suku Sicán juga punya ritual serupa, namun metode dan tatacaranya berbeda dengan Muchik.

Masyarakat Sicán yang kemungkinan besar punya kaitan dengan wilayah yang kini menjadi Ekuador selatan, ”datang di tengah kekosongan kekuasaan saat disintegrasi masyarakat Moche mencapai puncaknya. Dan dalam waktu seratus tahun mereka membangun ekonomi yang kuat, setara dengan ekonomi masyarakat Inca 400 tahun kemudian,” ujar Klaus.

Para pemimpin masyarakat Sicán fokus pada perdagangan dan ahli dalam bidang metalurgi, perikanan, pertanian, serta peternakan llama. Menurut Klaus, fokus pada ekonomi inilah yang memberikan peluang pada suku Muchik untuk mengembangkan ritual mereka sendiri.

Kolinialisme yang dijalankan Sicán sama sekali berbeda dengan apa yang dijalankan dalam sistem Barat, ujar Klaus.

Edward Swenson, arkeolog Universitas Toronto, Kanada, yang mempelajari suku Moche punya anggapan sedikit berbeda. Meski argumen Klaus dan timnya bahwa pengorbanan suku Muchik berakar pada ritual Moche amatlah menarik, Swenson mempertanyakan argumen bahwa ritual mengerikan itu murni sebuah evolusi dari ideologi Moche saat Sicán berkuasa.

“Arkeolog punya kecenderungan mengecilkan makna ritual menjadi… kontrol politik atau perlawanan,” tulisnya dalam sebuah email.

“Padahal jelas sekali, agama punya banyak sisi, bukan sekadar sebuah ideologi politik.





Sumber

Pengertian Perang ARMAGEDDON


Armageddon, berasal dari bahasa Ibrani Ar-Ma-Ged-Don, yang artinya “Puncak dari Megido”. Sedang arti Megido adalah “Tempat Pemusatan Bala Tentara”. Jadi, arti Armageddon adalah “Puncak dari Pemusatan Bala Tentara”. Berarti, Armageddon punya tiga arti yang saling berkaitan.

Pertama, berbicara tentang tempat atau lokasi, yatu di Megido. Kedua, Armageddon juga berarti situasi kondisi (sikon). Ketiga, yang mirip dan berkaitan dengan yang kedua tadi, yaitu peristiwa, yang dinubuatkan akan terjadi di ujung Akhir Zaman.

Jadi, dengan kata lain, arti yang tersirat di balik nama Armageddon adalah : Perang besar-besaran yang akan terjadi di Ujung Akhir Zaman, yang melibatkan banyak negara / bangsa dalam rangka menghabisi Israel, di mana pemusatan pasukan itu akan terjadi di Megido.


Pemusatan Bala Tentara dari banyak negara dan bangsa merupakan suatu peristiwa yang luar biasa dan menimbulkan situasi-kondisi (sikon) yang menegangkan, khususnya / terutama bagi bangsa Israel.

SEJARAH DAN LETAK MEGIDO.

Dulu kala, Megido adalah sebuah kerajaan kecil di tanah Kanaan. Nama Megido adalah nama raja / kerajaan dan juga nama kota, bukit, serta lembah.

Ketika bangsa Israel di bawah pimpinan Yosua memasuki Tanah Perjanjian, mereka menaklukkan 31 raja / kerajaan. Salah satunya adalah Megido. Dalam pembagian wilayah dari suku-suku Israel, Megido akhirnya menjadi milik bani Manasye, dari suku / keturunan Yusuf.

Sejarah terus berjalan. Orang Megido akhirnya dijadikan pekerja rodi oleh suku Manasye.

Thothmes III adalah seorang peneliti kerajaan-kerajaan kuno. Ia berkata : “Megido adalah seharga ribuan kota.” Lembah Megido juga disebut lembah Yosafat.

Secara harfiah, arti Yosafat adalah : yang dihukum oleh Yehova ! Secara geografis, Megido terletak (±) 10 km di selatan gunung Karmel, 15 km di sebelah timur Laut Tengah dan 50 km di utara kota Yerusalem. Sisa-sisa / reruntuhan kota Megido masih ada sampai hari ini, walau sudah ribuan tahun berlalu ! 

AWAL BENCANA.

Di ujung Akhir Zaman, kita tahu kapan tepatnya akan terjadi, mungkin di awal atau bulan muda tahun 2014, para pemimpin Israel akan dipaksa untuk mau duduk di meja perundingan dengan Palestina. Hampir semua butir-butir keputusan dari Perjanjian Damai itu lebih menguntungkan pihak Palestina.


Masalah Israel dengan Palestina yang terutama adalah batas wilayah negara. Palestina misalnya, menuntut bahwa Yerusalem timur menjadi ibukota mereka. Lalu batas kekuasaan atas laut di tepi barat negara. Juga penguasaan sumber air, seperti danau Galilea dan sungai Yordan. Kemudian bahan mineral yang terdapat dalam kandungan air asin dari (danau) Laut Mati, yang kini dikelola secara damai antara Israel di sisi barat dan Yordania di sisi timur. Berikutnya adalah Kota Tua Yerusalem dan Dataran Tinggi Golan, dll.

Menurut hasil survey atau jajak pendapat, 52% rakyat Israel lebih condong taat kepada Obama. Hanya 47% masih mau dengar PM mereka, Benyamin “Bibi” Netanyahu. Sedang 1%nya abstain.

Di samping itu, satu-satunya pendukung Israel, yaitu Amerika Serikat, sudah berbalik arah. Sedangkan Eropa dan Uni Eropa (27 Negara) sudah lebih dahulu telah menyatakan, bahwa mereka tidak mendukung Israel.

Artinya, Israel di masa itu hanya berdiri seorang diri. Just alone ! Dengan kata lain, tekanan politik bagi para pemimpin Israel amat berat. Akhirnya, mereka “terpaksa” menutupi dengan dusta, atau yang sering disebut dengan pembohongan publik.

Itulah awal dari bencana. Karena tidak bersandar pada perlindungan Allah, tapi lebih memilih berlindung di balik Perjanjian Damai.

Namun suatu hari nanti, Israel akan dikhianati ! Perjanjian Damai yang sudah cukup memberatkan bangsa Israel itu dilanggar secara sepihak dan semena-mena.

Kita tidak tahu apa sebenarnya yang telah dirundingkan di balik layar, atau di kantor / ruang tertutup antara Antikris dengan pihak pemimpin Palestina. Namun yang tampil di permukaan, Perjanjian Damai itu dilanggar.

Akibatnya, Israel marah besar ! Israel mengamuk ! Israel lalu mengadakan serangan balasan secara lebih besar dan dengan kekuatan senjata mutakhir. Hal ini membuat banyak bangsa di dunia marah.

Hingga dengan mudah Antikris berhasil mengkoordinir banyak negara untuk mengepung dan “menghukum” Israel



Sumber

Perubahan Cuaca di Athena Menurut Naskah Drama Yunani Kuno


Studi baru yang diungkapkan Dr Christina Chronopoulou dari University of Athens menggambarkan keadaan iklim Mediterania dari naskah drama Yunani kuno. Menggunakan pengamatan sejarah dari karya seni dan drama, peneliti menyelidiki fenomena meteorologi yang dikenal sebagai Halcyon Days, dimana pada waktu itu para penikmat teater terbuka Dionysus di Athena menyaksikannya ditengah musim dingin.

Bagaimana kondisi cuaca Athena dimasa lalu? Perubahan cuaca pernah terjadi di Yunani, dimana para filsuf kuno mengungkap kondisi cuaca yang tertuang dalam naskah drama Yunani kuno. Kondisi cuaca memungkinkan orang-orang Athena di era klasik menonton pertunjukan teater terbuka selama pertengahan musim dingin. Para peneliti bertujuan mengumpulkan dan menafsirkan fenomena yang terjadi di abad ke-5 dan ke-4 SM.

Naskah Drama Yunani Kuno Ungkap Perubahan Iklim Athena

Dalam sejarah dunia, kota Athena memiliki teater terbuka Dionysus di selatan Acropolis dan mungkin penduduk kota menonton drama Yunani kuno ditengah musim dingin antara 15 Januari dan 15 Februari. Ilmuwan beralih meneliti naskah 43 drama, diantaranya 7 naskah dari Aeschylus, 7 dari Sophocles, 18 dari Euripides dan 11 naskah dari Aristhopanes. Dalam naskah drama Yunani kuno, ilmuwan menemukan referensi yang mengungkap keadaan cuaca Athena.


Menurut Dr Chronopoulou, drama Arsitophanes sering memohon datangnya hari-hari tenang. Fakta ini ditemukan dalam naskah yang tertulis diantaranya dalam naskah drama Lenaian Acharnian sekitar tahun 425 SM, Arstophanes menuliskan:

"Dan apa yang saya katakan akan mengejutkan, tapi benar. Kali ini Cleon tidak akan menuduh saya memfitnah kota dihadapan orang asing, karena diri kita sendiri, melainkan kompetisi Lenean, dan tidak ada orang asing disini, tidak ada upeti maupun tentara yang tiba dari kota-kota sekutu. Kali ini, diri kita sendiri. Aku menghitung orang asing sebagai dedak dari rakyat kami."

 Orang-orang Yunani menggunakan ramalan dengan tampilan tanda-tanda Diosimies, fenomena yang disebabkan oleh Zeus. Kalender meteorologi disebut Parapigmata yang pada waktu itu beredar di Agora (tempat pengumpulan dan pasar) sejak abad ke-5 SM. Para filsuf saat itu mengamati cuaca pegunungan seperti Mithimna, Idi dan Lycabettus, Menggabungkan astronomi dengan pengetahuan empiris dari meteorologi lokal untuk menyusun Parapigmata, semacam laporan perkiraan empiris di Agamemnon. Seperti yang terlihat pada naskah Aeschylus di Agamemnon pada tahun 458 SM menuliskan:


"Saya telah menghabiskan malam di atap Atreides beristirahat seperti anjing, dan mengetahui secara menyeluruh kerumunan bintang malam, dan juga penguasa terang, mencolok dalam langit, yang membawa musim dingin dan musim panas untuk umat manusia, beberapa set dan lain-lain meningkat." 

Dalam menikmati Halcyon Days, orang-orang Yunani kuno mengamati musim panas dan dingin sehingga mereka memutuskan untuk memasukkan festival drama Yunani kuno di Lenaia, salah satu dari empat perayaan untuk menghormati Dionysus. Tiga dari empat perayaan digabungkan dengan festival dramatis di Kota Dionysian, Rural Dionysian dan Lenaia, yang berhubungan dengan tarian Bacchus.

Konteks dramatis dimasukkan selama bertahun-tahun setelah perayaan dan menunjukkan bahwa pada bulan musim dingin, Gamelion menawarkan dan mengizinkan penduduk kota Athena menonton drama Yunani kuno. Teater drama yang diadakan pada pertengahan musim dingin tanpa ada indikasi pasca-ponement, dan referensi naskah drama Yunani kuno tentang cuaca cerah dan musim dingin ringan di Attica. Lukisan yang ditemukan juga menunjukkan bahwa pakaian yang dikenakan di Lenaia dan pakaian upacara pernikahan tidak dirancang untuk musim hujan pada abad ke-5 SM. 




Sumber

Pemisahan Superbenua Gondwana Tenggelamkan Sahara Samudera Atlantik

Bagaimana bentuk superbenua Gondwana sekitar 130 juta tahun yang lalu? Superbenua Gondwana merupakan daratan luas, selama ratusan juta tahun benua Amerika Selatan, Afrika, Antartika, Australia dan India tergabung menjadi satu daratan. Geoscientists dari University of Sydney dan GFZ German Research Centre for Geosciences telah menunjukkan bukti melalui penggunaan lempeng tektonik dan pemodelan numerik tiga dimensi, Sahara Samudera Atlantik Tenggelam akibat aktifitas tektonik pada saat pemisahan Superbenua Gondwana.

Superbenua Gondwana terbentuk sebelum Pangea, kemudian menjadi bagian Pangea hingga akhirnya terpecah. Gondwana diperkirakan menjadi satu antara 570 hingga 580 juta tahun yang lalu sehingga East Gondwana bergabung dengan West Gondwana. Supebenua ini terpisah dari Laurasia 200 hingga 180 juta tahun yang lalu (Era pertengahan Mesozoikum), selama terpecahnya Pangea bergeser jauh ke selatan.


Aktifitas Tektonik Superbenua Gondwana

Benua besar termasuk Inti Crotons di Amerika Utara (Laurentian), Baltica dan Siberia bergabung menjadi satu membentuk superbenua Pangea pada periode Permian. Ketika memasuki periode Jurassic, superbenua Pangea terpecah menjadi dua bagian yaitu superbenua Gondwana dan Laurasia.

Amerika Selatan mulai terpisah secara perlahan ke arah Barat dan membuka Samudera Atlantik sekitar 110 juta tahun lalu. Gondwana Timur mulai memisahkan daratan sekitar 120 juta tahun lalu, pada saat itu India mulai bergerak perlahan ke Utara. Australia terpisah dari benua Antartika sejak peride Kapur Akhir 80 juta tahun lalu, tetapi pemekaran dasar laut terjadi 40 juta tahun lalu selama Epos Eosen periode Paleogen. Sementara New Zealand mungkin terpisah dari Antartika anatar 130 hingga 85 juta tahun lalu.

Sisa-sia superbenua Gondwana saat ini bisa terlihat pada daratan bumi selatan, termasuk Antartika, Amerika Selatan, Arfika, Madagaskar, dan benua Australia, sementara Semenanjung Arab dan India bergeser ke utara. Beberapa organisme dikenal telah bertahan hidup sejak adanya superbenua Gondwana misalnya tanaman Proteaceae, flora Antartika. Berbagai macam flora fauna hidup selama jutaan tahun, hutan Laurel di Australia, New Caledonia dan New Zealand terpisah oleh pergeseran benua 85 juta tahun lalu tetapi masih mempertahankan tanaman dan hewan peninggalan superbenua Gondwana.

Akibat aktifitas tektonik, retakan sepanjang Equator Atlantik lebih besar daripada retakan Afrika Barat. Hal ini menyebabkan wilayah itu punah (tenggelam) menghindari pecahnya benua Afrika.


Mengapa Sahara Samudera Atlantik Tenggelam?

Sampai saat ini, penyebab fragmentasi superbenua Gondwana masih diperdebatkan, superbenua pertama terpecah sepanjang pantai Afrika Timur dan Barat sebelum terjadinya pemisahan Amerika Selatan dan Afrika. Sekarang, tepi kedua benua sepanjang samudera Atlantik Selatan dan struktur bawah permukaan laut memberikan wawasan penting bagaimana proses terbentuknya Afrika dan Amerika Selatan.

Mengapa Atlantik Selatan membentuk cekungan raksasa dan berbeda dengan bagian Atlantik Utara? Menurut Sascha Brune, perpanjangan disepanjang Atlantik Selatan dan sistem retakan di Afrika Barat telah membagi benua Amerika dan Afrika menjadi dua bagian yang hampir sama, menghasilkan Atlantik Selatan dan Sahara Samudera Atlantik.

Model numerik kompleks memberi penjelasan sederhana yaitu, semakin besar sudut antara tren retakan dan arah ektensional (perpanjangan) maka semakin banyak kekuatan yang diperlukan untuk mempertahankan sistem retakan (Rift). Retakan Afrika Barat menampilkan orientasi hampir Orthogonal sehubungan dengan adanya perpanjangan ke arah barat superbenua Gondwana.

Sisa-sia superbenua Gondwana saat ini bisa terlihat pada daratan bumi selatan, termasuk Antartika, Amerika Selatan, Arfika, Madagaskar, dan benua Australia, sementara Semenanjung Arab dan India bergeser ke utara. Beberapa organisme dikenal telah bertahan hidup sejak adanya superbenua Gondwana misalnya tanaman Proteaceae, flora Antartika. Berbagai macam flora fauna hidup selama jutaan tahun, hutan Laurel di Australia, New Caledonia dan New Zealand terpisah oleh pergeseran benua 85 juta tahun lalu tetapi masih mempertahankan tanaman dan hewan peninggalan superbenua Gondwana. 




Sumber

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.