Jumat, 27 Desember 2013

Aleksander Agung (7)

9.Peninggalan

A. Kerajaan-kerajaan Hellenistik

Dunia Hellenistik setelah masa Aleksander: peta dunia kuno oleh Eratosthenes (276–194 SM), menggabungkan informasi dari kampanye-kampanye Aleksander dan para penerusnya.[207]

Peninggalan Aleksander yang paling jelas adalah diperkenalkannya kekuaaan Makedonia di Asia. Banyak dari daerah ini yang tetap berada dalam kekluasaan Makedonia atau di bawah pengaruh Yunani untuk 200-300 tahun berikutnya. Negara-negara penerus Aleksander yang muncul, setidaknya pada awalnya, merupakan kekuatan dominan pada epos ini, dan 300 tahun dalam masa tersebut seringkali disebut sebagai periode Hellenistik.[208]

Batas timur kekasisaran Aleksander sudah mulai runtuh bahkan ketika dia masih hidup.[169] Akan tetapi, kekosongan kekuasaan yang dia tinggalkan di barat laut anak benua India secara langsung memberi kesempatan pada munculnya salah satu dinasti India paling kuat sepanjang sejarah. Para penerus Aleksander tidak terlalu memedulikan daerah ini dan cenderung mengabaikannya, sehingga Chandragupta Maurya (dalam sumber-sumber Eropa disebut Sandrokotto) berhasil mengambil kendali atas Punjabi dan menjadikannya sebagai basis kekuatannya. Dari sana dia mampu menaklukkan Kekaisaran Nanda di India utara.[209] Pada tahu 305 SM, Seleukos, salah satu penerus Aleksander, memimpin pasukan ke India untuk merebut wilayah itu. Pada akhirnya Seleukos malah melakukan pertukaran dengan Chandragupta. Seleukos menyerahkan wilayah tersebut dan Chandragupta memberinya 500 ekor gajah perang. Peristiwa ini pada gilirannya ikut memainkan peranan penting dalam Pertempuran Ipsus, yang juga berpengaruh banyak pada pembagian kekaisaran.[209]

B. Hellenisasi

 Koin Aleksander dengan tulisan bahasa Aram.

Hellenisasi adalah istilah yang dikemukakan oleh sejarawan Jerman Johann Gustav Droysen. Istilah ini merujuk pada penyebaran bahasa, budaya, dan penduduk Yunani ke daerah-daerah yang berhasil ditaklukkan oleh Aleksander.[208] Para sejarawan sepakat bahwa penyebaran ini memang terjadi, karena bukti-buktinya dapat dilihat di kota-kota besar Hellenisttik, contohnya Aleksandria (satu dari sekitar dua puluhan kota yang didirikan oleh Aleksander[210]), Antiokia[211] dan Seleukia (di selatan Baghdad modern).[212] Namun, mengenai seberapa luas dan seberapa dalam penyebaran ini, dan sampai sejauh mana proses itu merupakan kebijakan yang disengaja, masih banyak diperdebatkan. Aleksander sudah jelas melakukan langkah-langkah yang disengaja untuk memasukkan unsur-unsur Yunani ke dalam budaya Persa dan dalam beberapa hal ia berusaha menggabungkan budaya Yunani dan Persia, yang berujung pada cita-citanya untuk menyatukan penduduk Asia dan Eropa. Akan tetapi, para penerusnya terang-terangan menolak kebijakan semacam itu setelah kematian Aleksander. Namun dimikian, Hellenisas tetap saja terjadi di seluruh wilayah bekas kekuasaan Aleksander, dan terlebih lagi, diikuti oleh Orientalisasi, proses oleh negara-negara penerus Aleksander yang berbeda dan berlawanan dengan Hellenisasi itu sendiri.[211][213]

Buddha, dalam gaya Buddha-Yunani, abad ke-1 - 2 M, Gandhara (Pakistan modern). Museum nasional Tokyo.

Berdsarkan asal-usulnya, inti dari budaya Hellenistik pada dasarnya adalah Athena.[211][214] Dialek Koine Athena telah diadopsi untuk kePerluan resmi lama sebelum masa Filipus II, dan dengan deimikian telah tersebar ke seluruh penjuru dunia Hellenistik, serta menjadi lingua franca melalui penaklukan Aleksander. Lebih jauh lagi, Perencanaan kota, pendidikan, pemerintahan lokal, dan seni pada periode Hellenistik semuanya diddasarkan pada gagasan-gagasan Yunani Klasik, dan berevolusi menjadi bentuk yang baru dan berbeda, yang secara umum dikelompokkan sebagai Hellenistik.[211] Aspek-aspek budaya Hellenistik tetap ada dalam tradisi Kekaisaran Bizantium sampai pertengahan abad ke-15.[215][216]

Beberapa pengaruh yang tak biasa dari Hellenisasi dapat dilihat dari India, di daerah tempat berdirinya Kerajaan Yunani-India, yang munculnya relatif terlambat.[217] Di sana, di tempat yang jauh dari Eropa, budaya Yunani tampak bercampur dengan budaya India, dan khususnya dengan agama Buddha. Penggambaran pertama Buddha yang realistis muncul pada masa ini. Buddha digambarkan berdasarkan patung-patung dewa Apollo dari Yunani.[217] Beberapa tradisi Buuddha kemungkinan telah terpengaruh oleh agama Yunani kuno, contohnya konsep Bodhisattva merupakan pengenangan terhadap pahlawan-pahlawan dewata Yunani,[218] dan beberapa praktik ritual Mahayana (membakar dupa, memberi bunga, dan menaruh makanan di altar) mirip dengan yang dilakukan oleh orang Yunani kuno. Buddhisme Zen mengambil beberapa gagasan dari orang-orang stoik Yunani, misalnya Zeno.[219] Seorang raja Yunani, Menander I, kemungkinan menjadi penganut Buddha, dan diabadikan dalam literatur Buddha sebaga 'Milinda'.[217]

C. Pengaruh pada Romawi

Aleksander dan semua yang telah dia lakukan dikagumi oleh banyak orang Romawi. Mereka mengasosiasikan diri mereka sendiri dengan prestasi-prestasi Aleksander. Polybius memulai Sejarahnya dengan mengenangkan rakyat Romawi akan tindakan-tindakan Aleksander. Sesudah itu para pemimpin Romawi melihat Aleksander sebagai teladan dan sumber inspirasi bagi mereka. Julius Caesar dilaporkan berurai air mata di Spanyol ketika melihat patung Aleksander, karena dia merasa bahwa pencapaiannya terlalu sedikit jika dibandingkan dengan Aleksander, yang berhasil menaklukkan Persia pada usia yang sama.[220] Pompeius yang Agung menjelajahi daerah-daerah taklukannya di timur dalam rangka mencari jubah Aleksander yang berumur 260 tahun. Pompeius lalu memakai jubah itu sebagai tanda keagungannya. Augustus pernah terlalu semangat menghormati Aleksander sampai-sampai dia mematahkan hidung pada mayat Aleksaner yang telah dimumikan. Augustua melakukannya ketika dia sedang menaruh karangan bunga di makam Aleksander di Aleksandria. Keluarga Macriani, keluarga Romawi yang salah satu anggotnya, yaitu Macrinus, pernah menjadi kaisar, sering menampilkan gambar Aleksander, baik dalam perhiasan, atau dalam sulaman pada pakaian yang mereka kenakan.[221]

Pada musim panas tahun 1995, sebuah patung Aleksander ditemukan dalam penggalian sebuah rumah Romawi di Aleksandria, yang penuh dengan dekorasi dan jalan marmer dan kemungkinan dibangun pada abad pertama M serta ditempati sampai abad ke-3.[222]

D. Legenda

Raja Yunani-Baktria Demetrios (berkuasa c. 200–180 SM), mengenakan hiasan kepala berbentuk kepala gajah. Dia meneruskan pemerintahan Aleksander di timur dengan meninvasi India pada tahun 180 SM, dan mendirikan Kerajaan Yunani-India (180 SM–10 M).

Ada banyak cerita legendaris mengenai kehidupan Aleksander Agung. Banyak dari cerita tersebut muncul pada masa hidupnya, kemungkinan dimunculkan oleh Aleksander sendiri. Sejarawan di istana Aleksander, Kallisthenes, menggambarkan bahwa air laut di Sisilia surut sebagai penghormatan pada Aleksander dengan tata cara proskynesis. Menulis tidak lama setelah kematian Aleksander, penulis lainnya, Onesikritos, bahkan sampai menulis bahwa Aleksander membuat janji untuk bertemu dengan Thalestris, ratua suku Amazon dalam mitoloig. Ketika Onesikritos membacakan cerita itu pada atasannya, salah satu jenderal Aleksander dan kelak menjadi raja, Lysimakhos disebutkan menyindirnya dengan mengatakan, "Aku penasaran saat itu aku ada di mana."[223]

Dalam abad-abad pertama setelah kematian Aleksander, kemungkinan di Aleksandria, sejumlah cerita legenda dikumpulkan menjadi sebuah naskah yang dikenal sebagai Roman Aleksander, yang di kemudian hari secara keliru disebutkan bahwa itu ditulis oleh sejarawan Kallisthenes dan dengan demikian dikenal juga sebagai Pseudo-Kallisthenes. Naskah tersebut mengalami banyak sekali penambahan dan revisi selama Zaman Kuno dan Abad Pertengahan.[224]

Ada juga naskah Iran atau Persia mengenai Aleksander Agung dalam "Shahnameh" atau "Epik Para Raja" oleh Ferdowsi. Nskah terebut berjudul Eskandarnameh.[225] Di situ diceritakan bahwa Aleksander adalah putra Nahid (Lydia) dan dikirim kembali ke Filipus di Makedonia karena ibunya memiliki bau mulut. Lalu diceritakan bahwa nama Eskandar diberikan karena obat yang diberikan untuk ibunya. Para sejarawan Arab kemudian menyebut Aleksander dengan nama Al-Iskandar.

E. Dalam budaya kuno dan modern

Patung kepala Seleukos I Nikator, yang meneruskan penaklukan timur Aleksander.

Prestasi dan peninggalan Aleksander Agung telah dilestarikan dan digambarkan dalam banyak cara. Aleksander muncul dalam banyak karya budaya baik pada masa kuno maupun masa modern. Pada Abad Pertengahan, Aleksander dimasukkan sebagai anggota Sembilan Kesatria, yaitu sekelompok pahlawan yang dianggap memenuhi kualitas nilai-nilai kekesatriaan.

Di Punjabi, tanah terakhir yang ditaklukkan oleh Aleksander, banyak anak yang diberi nama "Sekunder" bahkan hingga saat ini. Ini disebabkan adanya rasa hormat dan kekaguman pada Aleksander, juga sebagai pengingat bahwa pasukan Punjabi kuno bisa membuat pasukan Aleksander kelelahan sampai akhirnya memberontak pada Aleksander.

Ada sebuah pepatah dalam bahasa Punjabi yaitu jit jit key jung, secunder jay haar, yang artinya adalah "Aleksander memenangkan begitu banyak petempuran sampai-sampai dia kalah dalam perang". Pepatah ini merujuk pada orang yang sering menang namun tidak pernah memanfaatkan kemenangannya.
(Bersambung)

Aleksander Agung (6)

8. Karakter

A. Keahlian militer


Aleksander memperoleh gelar "yang Agung" karena kesuksesannya yang tak tertandingi sebagai komandan militer.[70] Dia tidak pernah kalah dalam pertempuran, meskipun sering kalah jumlah dalam banyak pertempuran yang dia lakukan.[70] Kesuksesan ini karena keberhasilannya memanfaatkan keadaan medan perang, penguasaan siasat phalanx dan kavaleri, strategi yang berani, dan terutama kemampuannya untuk membangkitkan kesetiaan yang luar biasa di antara para prajuritnya.[173][174] Phalanx Makedonia, yang bersenjatakan sarissa, yaitu tombak sepanjang enam meter, telah dikembangkan dan disempurnakan oleh Filipus II melalui latihan yang keras,[174] dan Aleksander mempergunakan kecepatan dan kemampuan manuvernya untuk efek yang besar melawan pasukan Persia yang lebih banyak namun lebih terpisah.[174] Aleksander juga mampu memahami potensi perpecahan di antara pasukannya, yang memiliki bahasa dan senjata yang berebda-beda, dan dia mengatasi hal itu dengan cara terlibat secara langsung dalam pertempuran,[175] dengan tata cara sebagai raja Makedonia.[173][174]

Dalam pertempuran pertamanya di Asia, yakni di Granikos, Aleksander hanya mengerahkan sedikit pasukannya, kemungkinan 13.000 infantri dengan 5.000 kavaleri. Sementara pasukan Persia yang dihadapinya berjumlah 40.000 prajurit. Aleksander menempatkan pasukan phalanx di bagian tengah dan kavaleri serta pemanah di bagian sayap, dengan demikian barisannya menjadi sama panjang dengan barisan kavaleri Persia yang dia hadapi, yaitu sekitar 3 km (1.86 mil). Pasukan infantri Persia sendiri diposisikan di belakang kavaleri. Dengan siasat tersebut, Aleksander memastikan bahwa pasukannya tidak akan dijepit, sedangkan pasukan phalaxnya, yang bersenjatakan tombak panjang, memiliki keuntungan yang besar terhadap skimitar dan lembing pasukan Persia. Pada akhirnya, kerugian yang dialami pasukan Persia jauh lebih besar daripada kerugian pasukan Makedonia.[176]

Di Issus pada tahun 333 SM, Aleksander pertama kali berhadapan dengan Darius. Ketika itu dia menggunakan metode pemosisian yang sama, dan lagi-lagi phalanx di bagian tengah berhasil mendorong maju karena memiliki keuntungan berupa senjata tombak mereka yang panjang.[176] Ini memungkinkan Aleksander secara langsung memimpin serangan di bagian tengah barisan melawan Darius. Pada akhirnya Darius melarikan diri dan pasukan Persia mundur secara kacau.[173] Dalam pertempuran yang menentukan di Gaugamela, Darius telah melengkapi kereta perang-kereta perangnya dengan sabit pada bagian rodanya untuk memecah barisan phalanx dan kavaleri Aleksander. Menghadapi ini, Aleksander menyusun formasi phalanx ganda, dengan bagian tengahnya membentuk sudut. Ketika kereta perang Persia menyerang, barisan phalanx ini akan memisahkan diri dan kemudian mengelompok kembali. Rencana Aleksander berhasil dan bagian tengah barisan Persia berhasil ditembus. Darius kalah dan dia melarikan diri lagi.[176]

Ketika berhadapan dengan musuh yang bertempur dengan teknik yang tidak dia kenal, seperti misalnya di Asia Tengah dan India, Aleksander dengan cepat mampu menyesuaikan gaya tempur pasukannya. Jadi, di Baktria dan Sogdiana, Aleksander sukses mengerahkan para pelempar lembing dan pemanahnya untuk mencegah kepungan musuh, dan pada saat yang sama dia menumpuk kavaleri di bagian tengah barisan.[173] Di India, ketika berperang melawan korps gajah Raja Puru, pasukan Makedonia bisa menang dengan cara membuka barisan dan mengurung gajah-gajah musuh. Kemudian dengan mengarahkan tombak sarissa mereka ke arah dan menjatuhkan para penunggang gajahnya.[138]

B. Penampilan fisik

Patung tiruan Romawi dari patung asli buatan Lysippos, Museum Louvre. Plutarch merasa bahwa patung ini adalah penggambaran Aleksander yang paling jujur.

Biografer Yunani Plutarch (ca. 45–120 M) menggambarkan penampilan Aleksander sebagai berikut:
Aleksander memiliki kulit terang, rambut pirang, dan mata biru yang mampu melelehkan hati. Bau harum alami keluar dari tubuhnya, begitu kuat sampai-sampai pakainnya juga ikut wangi.
[177]
Sejarawan Yunani lainnya Arrianus (Lucius Flavius Arrianus 'Xenophon' ca. 86 - 160 M) mendeskripsikan Aleksander sebagai:
Komandan yang tampan dan kuat dengan mata yang satu sehitam malam dan mata yang satunya sebiru langit
[178]
Banyak penggambaran dan patung yang menggambarkan Aleksander dalam postur tubuh berbentuk S, dengan padangan ke arah atas. Beberapa sejarawan beranggapan bahwa ini menunjukkan Aleksander memiliki cacat fisik. Namun ini juga merupakan konsep seni tradisional Contrapposto yang sering digunakan oleh para pematung kuno dan modern untuk menunjukkan keindahan, keanggunan, dan dominasi sosial.[179][180][181][182] Para sejarawan itu berpendapat bahwa ayah Aleksander, Filipus II, dan saudaranya Filipus Arrhidaios mungkin juga menderita cacat fisik, yang memunculkan kesimpulan bahwa Aleksander menderita gangguan skoliosis bawaan (leher familial dan cacat tulang belakang).

Sebagai contoh, sejarawan Britania modern Peter Green (lahir tahun 1924) mengajukan pendapat mengenai penampilan fisik Aleksander, berdasarkan tinjauannya terhadap patung-patung dan beberapa dokumen kuno:

Secara fisik, Aleksander tidaklah menawan. Bahkan untuk standar Makedonia ia sangat pendek, walaupun gempal dan tangguh. Janggutnya sedikit, dan dia berdiri di hadapan para baron Makedonia dalam keadaan bercukur bersih. Lehernya dalam beberapa cara sedikit memutar, sehingga ia tampak sedang menatap ke arah atas. Matanya (satu biru, satu coklat) memperlihatkan kualitas yang feminin dan berembun. Dia memiliki kulit yang tinggi dan suara yang kasar.
[183]
Bahkan ada pendapat dari ahli bedah Hutan Ashrafian bahwa skoliosis yang dialami Aleksander ikut berperan dalam kematian Aleksander,[155] namun sejarawan Yunani kuno Arrianus dari Nikomedia menyatakan bahwa Aleksander meninggal dunia akibat demam.[184]

Para penulis kuno mencatat bahwa Aleksander Agung sangat sennag dengan penggambaran dirinya oleh Lysippos sehingga di membuat keputusan bahwa para pematung tidak boleh lagi membuat patung dirinya.[185] Lysippos sudah sering menggunakan skema patung Contrapposto untuk menggambarkan Aleksander dan tokoh-tokoh lainnya seperti misalnya Apoxyomenos, Hermes dan Eros.[181][186][187] Patung Lysippos yang terkenal karena naturalismenya yang seperti hidup, yang berkebalikan dengan pose statis yang kaku, dipercaya sebagai penggambaran rupa Aleksander yang paling akurat.[188]

C. Kepribadian

Beberapa sifat Aleksander terbentuk sebagai respon terhadap orang tuanya.[183] Ibunya memiliki ambisi yang besar untuk Aleksander, dan mendorongnya untuk percaya bahwa adalah takdinya untuk menaklukkan Kekaisaran Persia.[183] Dan memang, Olyympias mungkin telah bertindak sampai sejauh meracuni Filipus Arrhidaios dengan tujuan membuatnya cacat, dan mencegahnya menjadi saingan Aleksander.[55] Pengaruh Olympias menanamkan ambisi yang besar dan perasaan akan takdir dalam diri Aleksander,[189] dan Plutarch menceritakan bahwa ambisi Aleksander "menjaga semangatnya tetap serius dan tinggi seiring usianya bertambah".[190] Hubungan Aleksander dengan ayahnya menghasilkan sisi kompetitif dalam kepribadiannya; dia mesti melampaui ayahnya, karena itu kadang-kadang dia bersikap nekat dalam pertempuran.[183] Sementara Aleksander merasa cemas bahwa ayahnya tidak akan mewariskan padanya "pencapaian hebat dan brilian untuk diperlihatkan pada dunia",[13] ia masih berusaha untuk mengecilkan prestasi ayahnya di depan rekan-rekannya.[183]
Patung kepala Aleksander Agung buatan Lysippos, dari Pella, Yunani, abad ke-3 SM.

Sifat Aleksander yang paling jelas adalah sikap pemarah, kasar, dan impulsif,[190][191] yang tak diragukan lagi ikut berpengaruh terhadap beberapa keputusan dalam hidupnya.[183] Plutarch berpendapat bahwa sifat ini yang menjadikan Aleksander kecanduan terhadap alkohol.[190] Meskipun Aleksander keras kepala dan tidak menanggapi dengan baik perintah ayahnya, namun dia mudah dibujuk melalui alasa-alasan yang jelas.[20] Dan memang, di samping memiliki temperamen yang berapi-api, ada juga sisi tenang dalam diri Aleksander. Dia itu cerdik, logis, dan memperhitungkan segala kemungkinan. Dia memiliki hasrat yang besar terhadap pengetahuan, dia cinta filsafat, dan dia adalah pembaca yang setia.[25] Sifat-sifat itu tak diragukan berasal dari masa bimbingannya oleh Aristoteles, yang membuat Aleksander menjadi orang yang cerdas dan cepat belajar.[20][183] Kisah bahwa dia berhasil "menyelesaikan" Simpul Emas menunjukkan kepintarannya. Sisi intelejen dan rasional Aleksander dapat kita lihat dari kemampuan dan keberhasilannya sebagai seorang jenderal.[191] Dia mampu menahan hasratnya untuk memperoleh kenikmatan tubuh, misalnya hubungan seksual, namun dia kurang mampu mengendalikan diri terhadap alkohol.[190][192]

Aleksander tidak diragukan lagi merupakan orang yang terpelajar, dan sangat menyukai seni maupun ilmu pengetahuan.[25][190] Akan tetapi dia kurang tertarik pada olahraga, atau Olimpiade, tak seperti ayahnya. Aleksander hanya mencari kejayaan dan ketenaran berdasarkan gagasan-gagasan Homeros.[189][190] Dia memiliki kharisma yang besar dan kepribadian yang kuat, semua karakteristik itu menjadikannya sebagai pemimpin yang hebat.[169][191] Ini semakin diperkuat dengan ketidakmampuan para jenderalnya untuk menyatukan Makedonia dan mempertahankan kekaisaran setelah kematiannya. Hanya Aleksander yang memiliki kepribadian dan kemampuan untuk melakukan hal tersebut.[169]

D. Megalomania

Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, dan terutama setelah kematian Hephaistion, Aleksander mulai menunjukkan gejala-gejala megalomania dan paranoia.[150] Pencapaiannya yang luar biasa, ditambah dengan perasaannya yang tak terlukiskan mengenai takdir serta sanjungan rekan-rekannya, mungkin merupakan penyebabnya.[193] Khayalannya tentang keagungan dapat dilihat dari wasiat-wasiat yang dia suruh Krateros untuk dilaksanakan, juga dapat kita lihat dari hasratnya untuk menaklukkan dunia yang dikenal.[150]
Aleksander tampaknya percaya bahwa dia adalah dewa atau setidaknya ingin dirinya didewakan.[150] Olympias selalu menanamkan dalam dirinya bahwa dia adalah putra Zeus.[2] Aleksander juga semakin merasa sebagai keturunan dewa berkat pernyataan dari orakel Amun di Siwa.[92] Sejak itu dia memandang dirinya sendiri sebagai putra Zeus-Ammon.[92] Aleksander mengadopsi beberapa unsur pakaian dan adat Persia di istananya, yang paling terkenal adalah adat proskynesis, suatu praktik yang tidak disetujui oleh anak buah Makedonianya, yang tidak mau melakukannya.[111][112] Perilaku tersebut membuat Aleksander kehilangan banyak simpati dari para anak buahnya.[112]

E. Hubungan pribadi

Lukisan dinding di Pompeii, menggambarkan pernikahan Aleksander dengan Barsine (Stateira) pada tahun 324 SM. Pasangan ini berpakaian sebagai Ares dan Afrodit.

Hubungan emosional terbesar Aleksander sepanjang hidupnya adalah dengan sahabat, jenderal, sekaligus pengawalnya Hephaistion, putra seorang bangsawan Makedonia.[140][183][194] Kematian Hephaistion sangat menghancurkan mental Aleksander, dan membuat Aleksander amat berduka cita.[140][195] Kejadian itu juga ikut berpengaruh pada penurunan kesehatan Aleksander, dan keadaan mental yang melemah pada bulan-bulan terakhir dari masa hidupnya.[150][154] Aleksander menikah dua kali, pertama dengan Roxane, putra bangsawan Baktria Oxyartes, karena cinta,[196] dan yang kedua dengan Stateira II, seorang putri Persia dan anak perempuan Darius III, alasannya lebih bersifat politis.[197] Aleksander memiliki dua orang putra, Aleksander IV dari Makedonia, dari Roxane, dan kemungkinan Herakles dari Makedonia dari Stateira. Aleksander kehilangan satu orang anak ketika Roxane mengalami keguguran di Babilonia.[198][199]
Seksualitas Aleksander telah menjadi subjek spekulasi dan kontroversi.[200] Tidak disebutkan dalam naskah kuno manapun bahwa Aleksander punya hubungan homoseksual, atau bahwa hubungan Aleksander dengan Hephaistion merupakan hubungan seksual. Akan tetapi, Aelianus, menulis bahwa Aleksander pernah mengunjungi Troya. Di sana Aleksander menaruh karangan bunga di makam Akhilles sedangkan Hephaistion menaruh karangan bunga di makam Patroklos. Ini memunculkan dugaan bahwa mereka adalah sepasang kekasih, seperti halnya Akhilles dan Patroklos.[201] Perlu diingat bahwa kata eromenos (yang tercinta) tidak selalu memiliki makna seksual, Aleksander bisa jadi merupakan seorang biseksual, yang pada masanya tidaklah aneh.[202][203]

Green berpendapat bahwa hanya ada sedikit bukti dalam naskah kuno yang menceritakan bahwa Aleksander memiliki ketertarikan pada perempuan, selain itu Aleksander baru memiliki anak pada akhir msa hidupnya.[183] Namun, Aleksander masih relatif muda ketika meninggal dunia, dan Ogden berpendapat bahwa catatan pernikahan Aleksander lebih mengesankan daripada ayahnya pada usia yang sama.[204] Selain istri, Aleksander juga memiliki banyak selir. Aleksander mengumpulkan harem dengan gaya raja-raja Persia namun dia tidak terlalu sering menikmati haremnya;[205] yang dengan demikian menunjukkan bahwa Aleksander mampu mengendalikan hasrat seksualnya.[192] Ada kemungkinan bahwa Aleksander adalah orang yang tidak terlalu menyukai hubungan seks. Namun demikian, Plutarch menggambarkan bahwa Aleksander tergila-gila pada Roxane sambil memuju dirinya sendiri karena berhasil membatasi nafsunya pada Roxane.[206] Green mengajukan pendapat bahwa, dalam dalam konteks pada masa itu, Aleksander banyak berhubungan dekat dengan sejumlah perempuan, termasuk Ada dari Karia, yang mengadopsi Aleksander, dan bahkan ibu Darius, Sisygambis, yang diduga meninggal akibat berduka cita setelah Aleksander wafat.[183]
(Bersambung)

Aleksander Agung (5)

B. Pemberontakan pasukan

Invasi Aleksander di anak benua India.

Di sebelah timur kerajaan Puru, di dekat Sungai Gangga, berdiri Kekaisaran Nanda di Magadha dan Kekaisaran Ganggaridai di Bengali. Dua kekaisaran itu sangatlah kuat. Pasukan Aleksander kemudian memberontak karena tidak mau lagi menghadapi pasukan India yang kuat. Selain itu mereka juga sudah lelah setelah berperang selama bertahun-tahun. Mereka memberontak di Sungai Hyphasis, menolak untuk maju lebih jauh ke timur. Demikianlah, sungai ini menjadi batas paling timur penaklukan Aleksander.[130][131]

Mereka secara kasar menentang Aleksander ketika dia bersikeras ingin menyeberangi sungai Gangga, yang lebarnya, sesuai yang mereka tahu, adalah tiga puluh dua furlong, kedalamannya mencapai seratus depa, sedangkan bantarannya di sisi seberang telah dipenuhi oleh banyak prajurit dan penunggang kuda dan gajah musuh. Karena mereka sudah diberi tahu bahwa pasukan Ganderites dan Praesii telah menanti kedatangan mereka dengan menyiapkan delapan puluh ribu penunggang kuda, dua ratus ribu pasukan pejalan kaki, delapan ribu kereta perang, dan enam ribu gajah perang.
[130]
Aleksander berbicara kepada pasukannya dan berusaha untuk membujuk mereka supaya mau berjalan lebih jauh ke India namun Koinos, salah satu jenderalnya, memohon pada Aleksander untuk berubah pikiran dan pulang. Koinos berkata, "Para tentara sudah rindu untuk berjumpa kembali dengan orang tua, istri dan anak-anak mereka. Aleksander menyadari keadaan pasukannya dan dia pun akhirnya setuju. Dia dan pasukannya kemudian berbelok ke selatan dan menyusuri Sungai Indus. Dalam perjalanannya, mereka menaklukkan klan-klan Malli (di Multan modern), dan beberapa suku India lainnya.[132]

Aleksander mengirim sejumlah besar pasukannya ke Carmania (Iran selatan modern) beserta jenderalnya Krateros, dan juga mengirim armada laut untuk mengeksplorasi pesisir Teluk Persia di bawah admiral Nearkhos. Sementara dia sendiri memimpin pasukannya untuk mundur ke Persia melalui rute selatan yang lebih sulit di sepanjang Gurun Gedrosia dan Makran (kini bagian dari Iran selatan dan Pakistan selatan).[133] Alekander sampai di Susa pada tahun 324 BC, namun dia kehilangan banyak prajurit akibat kondisi gurun yang keras.[134]

7. Tahun-tahun terakhir di Persia

Mengetahui bahwa banyak satrap dan gubernur militernya yang bertindak melenceng selama dia absen, Aleksander pun menghukum mati beberapa dari mereka dalam perjalanannya ke Susa sebagai contoh bagi yang lainnya.[135][136] Sebagai ungkapan terima kasih kepada pasukannya, Aleksander membayar lunas gaji para tentaranya, dan mengumumkan bahwa dia akan mengirim prajurit yang sudah tua dan cacat kembali ke Makedonia dengan dimpimpin oleh Krateros. Namun, pasukannya salah paham atas niat Aleksander. Mereka pun memberontak di kota Opis, menolak untuk dikirim balik dan secara keras mengkritik usahanya untuk menagdopsi adat dan pakaian Persia, dan upaya masuknya para perwira dan tentara Persia ke dalam unit-unit militer Makedonia.[137] Aleksander mengeksekusi para pemimpin pemberontakan tersebut, namun mengampuni para prajuritnya. Setelah tiga hari, Aleksander sadar dia tidak dapat membujuk pasukannya. Aleksander pun tak lagi memasukkan komando Persia ke dalam pasukan Makedonia, sebaliknya gelar-gelar militer Makedonia kini dapat diberikan untuk unit-unit perang Persia. Maka pasukan Makedonia langsung meminta maaf, dan Aleksander memaafkan mereka. Pada malam harinya, Aleksander menggelar acara makan-makan yang dihadiri oleh beberapa ribu prajuritnya, dan mereka makan bersama.[138] Dalam upaya menciptakan perdamaian yang bertahan antara orang-orang Makedonia dan rakyat Persia, Aleksander mengadakan pernikahan massal di Susa antara para perwiranya dengan wanita bangsawan Persia. Akan tetapi, hanya sedikit dari pernikahan tersebut yang bertahan lebih dari setahun.[136] Sementara itu, setelah tiba di istananya, Aleksander mengetahui bahwa beberapa orang telah menodai makam Koresh yang Agung. Aleksander dengan cepat menghukum mati mereka, karena mereka sebenarnya ditugaskan untuk menjaga makam Koresh tersebut, yang sangat dihormati oleh Aleksander.[139]

Setelah Aleksander pergi ke Ekbatana untuk mengambil bagian terbesar dari harta kekayaan Persia, sahabat terdekat dan mungkin kekasihnya, Hephaistion, meninggal karena suatu penyakit, atau barangkali akibat diracun.[140][141] Arrian menemukan banyak sumber yang meragukan tentang reaksi duka Aleksander atas kematian itu, meskipun hampir semua pendapat setuju bahwa kematian Hephaistion cukup menggucang Aleksander. Dia memerintahkan pelaksananaan pemakaman sahabatnya itu untuk diselenggarakan secara mahal di Babilonia. Selain itu, Aleksander juga memerintahkan dilaksanakannya masa berkabung bersama.[140]

Setelah kembali ke Babilonia, Aleksander merencanakan serengkaian kampanye militer baru, yang akan dimulai dengan invasi ke Jazirah Arab. Namun dia tidak sempat merealisasikan rencana tersebut karena dia meninggal dunia tidak lama setelah kembali ke Babilonia.[142]

A. Kematian

Sebuah diari astronomi Babilonia (c. 323–322 SM) yang berisi tentang kematian Aleksander (Museum Britania, London)

Pada tanggal 10 atau 11 Juni 323 SM, Aleksander meninggal di istana Nebukadnezar II, di Babilonia pada usia 32 tahun.[143] Rincian mengenai kematian tersebut sedikit berbeda-beda. Catatan Plutarch menceritakan bahwa sekitar 14 hari sebelum kematiannya, Aleksander menjamu admiralnya, Nearkhos, dan menghabiskan malam serta hari berikutnya dengan minum-minum bersama Medios dari Larissa.[144] Aleksander lalu mengalami demam, yang semakin lama semakin parah, sampai-sampai dia tak dapat lagi berbicara. Para tentara menjadi sangat cemas ketika Aleksande hanya dapat mengabaikan tangannya pada mereka.[144][145][146] Dua hari kemudian, Aleksander meninggal dunia.[144][145] Sementara Diodoros menceritakan bahwa Aleksander menderita rasa sakit setelah meneggak semangkuk besar angur yang tidak dicampur untuk menghormati Herakles, dan wafat setelah mengalami semacam rasa sakit,[147] yang juga disebutkan sebagai alternatif oleh Arrian, namun Plutarch secara khusus membantah klaim ini.[144]

Mengingat aristokrasi Makedonia punya kecenderungan untuk melakukan pembunuhan,[148] maka muncul dugaan bahwa Aleksander meninggal dunia akibat dibunuh. Diodoros, Plutarch, Arrian dan Yustinus semuanya menyebutkan teori bahwa Aleksander diracun. Plutarch menganggapnya sebagai pemalsuan,[55] sedangkan Diodoros dan Arrian berkata bahwa mereka menyebutkannya hanya demi kelengkapan.[147][149] Meskipun demikian, catatan-catatan mereka cukup konsisten dalam menduga para tersangka di balik pembunuhan Aleksander, di antaranya adalah Antipatros, yang baru saja diberhentikan dari jabatannya sebagai raja muda Makedonia, dan tersangka lainnya anehnya adalah Olympias. Barangkali datang ke Babilonia untuk menanti hukuman mati,[150] dan telah melihat nasib yang menimpa Parmenion dan Philotas,[151] Antipatros pun menyusun rencana supaya Aleksander diracun oleh putranya Iollas, yang merupakan penuang anggur Aleksander.[55][149][151] Bahkan ada dugaan bahwa Aristoteles terlibat dalam konspirasi tersebut.[55][149] Sebaliknya, argumen terkuat melawan teori racun adalah fakta bahwa ada dua belas hari antara awal sakitnya dan kematiannya; di dunia kuno, racun yang bereaksi lama seperti itu kemungkinan tidak tersedia.[152] Akan tetapi pada tahun 2010, sebuah teori diajukan yang mengindikasikan bahwa keadaan kematian Aleksander sesuai dengan peracunan oleh air sungai Styx (Mavroneri) yang mengandung calicheamicin, suatu bahan berbahaya yang dihasilkan oleh bakteri yang ada di airnya.[153]

Beberapa penyebab alami (penyakit) telah diajukan sebagai penyebab kematian Aleksander; malaria atau demam tifoid adalah kandidat yang jelas. Sebuah artikel tpada tahun 1998 dalam New England Journal of Medicine menyebutkan kematian Aleksander disebabkan oleh pelubangan usus dan kelumpuhan menaik,[154] sedangkan analisis terkini lainnya mengajukan spondilitis pirogenis atau meningitis sebagai penyebabnya.[155] Penyakit lainnya dapat juga menjadi penyebabnya, termasuk pankreatitis akut atau Virus West Nile.[156][157] Teori penyebab alami juga cenderung menekankan bahwa kesehatan Aleksander mungkin semakin menurun akibat suka minum-minum dan menderita luka-luka dalam perang (termasuk luka di India yang hampir merenggut nyawanya). Lebih jauh lagi, duka cita yang dirasakan oleh Aleksander setelah kematian Hephaestion mungkin ikut memperburuk kesehatannya.[154]

Penyebab lainnya yang diduga mengakibatkan kematian Aleksander adalah overdosis obat-obatan yang mengandung hellebore, sejenis tanaman yang berbahaya jika dikonsumsi dalam dosis yang banyak.[158][159]

B. Pemakaman

 Relief pada Sarkofagus Aleksander.

Jenazah Aleksander disimpan di sarkofagus emas berbentuk tubuhnya (antropoid) dan diisi dengan madu, yang kemudian dimasukkan lagi ke dalam peti mati emas.[160] Berdasarkan Aelianus, seorang peramal bernama Aristandros meramalkan bahwa tanah tempat Aleksander diistirahatkan "akan bahagia dan tak tertaklukkan selamanya".[161] Yang lebih mungkin, para penerusnya barangkali menganggap kepemilikan atas jenazah Aleksander sebagai suatu lambang legitimasi (adalah hak khusus kerajaan untuk memakamkan raja sebelumnya).[162] Bagaimanapun, Ptolemaios mencuri iring-iringan pemakaman, dan membawanya ke Memphis.[160][161] Penggantinya, Ptolemaios II Philadelphos, memindahkan sarkofagus ke Aleksandria. Sarkofagus itu berada di sana hingga setidaknya Zaman Kuno Akhir. Ptolemaios IX Lathyros, salah satu penerus Ptolemaios I, mengganti sarkofagus emas Aleksander dengan sarkofagus dari kaca. Sarkofagus emasnya dia lelehkan untuk kemudian dibuat menjadi uang koin.[163] Pompeius, Julius Caesar dan Augustus semuanya pernah mengunjungi makam Aleksander di Aleksandria. Augustus diduga mengganggu hidung jenazah Aleksander. Caligula dikatakan mengambil pelindung dada Aleksander dari makam untuk kepentingannya sendiri. Pada tahun 200 M, Kaisar Septimius Severus menutup makam Aleksander untuk umum. Putra dan penggantinya, Caracalla, adalah pengagum berat Aleksander. Dia pernah mengunjungi makam Aleksander pada masa pemerintahannya. Setelah itu, nasib makam tersebut menjadi tidak banyak diketahui.[163]

Sarkofagus yang disebut "Sarkofagus Aleksander" ditemukan di dekat Sidon dan kini berada di Museum Arkeologi Istanbul. Sarkofagus itu dinamai begitu bukan karena di dalamnya ada jenazah Aleksander, tetapi karena di bagian luarnya terdapat relief yang menggambarkan Aleksander dan rekan-rekannya yang sedang berburu dan bertempur melawan pasukan Persia. Awalnya itu dikira sebagai sarkofagus Abdalonymos (meninggal 311 SM), raja Sidon yang diangkat oleh Aleksander segera setelah pertempuran Issus pada tahun 331.[164][165][166] Namun, baru-baru ini diduga bahwa sarkofagus itu berasal dari masa yang lebih awal daripada kematian Abdolymos.

C. Wasiat

Diodoros Sikolos menulis bahwa Aleksander telah memberi instruksi tertulis yang rinci kepada Krateros sebelum meninggal dunia.[167] Meskipun Krateros sudah mulai melaksanakan beberapa perintah Aleksander, namun para penerusnya memilih untuk tidak melaksanakannya lebih lanjut, dengan alasan tidak praktis dan boros..[167] Meskipun demikian, kehendak Aleksander dibacakan kepada pasukannya oleh Perdikkas setelah kematian Aleksander.[71] Wasiat itu menyuruh untuk melakukan ekspansi imiliter ke Mediterania barat dan selatan, membangun monumen, dan pencampuran penduduk Timur dan Barat. Isinya adalah:
  • Membangun makam monumental untuk ayahnya Filipus, "untuk menyamai piramida terbesar di Mesir"[71]
  • Mendirikan kuil di Delos, Delphi, Dodona, Dium, Amphipolis, Kirnos, dan sebuah kuil monumental untuk dewi Athena di Troya[71]
  • Menaklukkan Jazirah Arab dan seluruh Mediterania[71]
  • Berlayar mengelilingi Afrika[71]
  • Mendirikan kota-kota dan "mengirim penduduk dari Asia ke Eropa dan sebaliknya dari Eropa ke Asia, dengan tujuan menyatukan dua benua itu dan persahabatan dengan cara pernikahan antar bangsa dan ikatan keluarga."[168]

D. Pembagian kekaisaran

Setelah Aleksander wafat, kekaisarannya terpecah menjadi empat kerajaan; Kerajaan Ptolemaik (biru tua) , Kekaisaran Seleukia (kuning), Kerajaan Pergamon (jingga), dan Kerajaan Makedonia (hijau).

Kematian Aleksander begitu tiba-tiba sehingga ketika beritanya mencapai Yunani, orang-orang tidak langsung percaya.[71] Aleksander tidak memiliki ahli waris yang sah dan jelas, putranya Aleksander IV dari hubungannya dengan Roxane lahir setelah Aleksander meninggal. Akibatnya muncul pertanyaaan besar mengenai siapa yang akan memimpin kekaisaran yang baru ditaklukkan dan belum tenang ini.[169] Berdasarkan Diodoros, rekan-rekan Aleksander sempat bertanya kepada Aleksander, yang saat itu sedang sekarat, mengenai kepada siapa Aleksander mewarskan kerajaannya. Aleksander menjawab singkat, "tôi kratistôi" ("kepada yang terkuat").[147] Mengingat bahwa Arrianus dan Plutarch menyatakan bahwa ketika itu Aleksander sudah tidak dapat berbicara, cerita tersebut agak diragukan kebenarannya.[170] Diodoros, Curtius dan Yustinus juga punya cerita yang lebih masuk akal bahwa Aleksander meberikan segelnya kepada Perdikkas, salah satu pengawalnya dan pemimpin pasukan kavaleri rekan. Aleksander melakukannya di depan sejumlah saksi, dan dengan demikian mungkin Aleksander mencalonkan Perdikkas sebagai penerusnya.[147][169]

Dalam hal apapun, Perdikkas awalnya secara eksplisit menolak mengklaim kekuasaan. Dia malah menginginkan putra Roxane untuk menjadi raja, jika Roxane melahirkan bayi laki-laki. Sementara dia, Krateros, Leonnatos, dan Antipatros akan menjadi penjaga sang raja. Akan tetapi, pasukan infantri, di bawah komando Meleagros, menolak hal ini dengan alasan mereka tidak diikutsertakan dalam diskusinya. Sebaliknya, mereka mendukung saudara tiri Aleksander, Filipus Arrhidaios. Pada akhirnya, kedua belas pihak berdamai, dan setelah Aleksander IV lahir, dia dan Filipus III diangkat sebagai raja bersama, meskipun itu hanyalah gelar saja.[171]

Tidak lama setelah itu, perselisihan dan persaingan mulai menimpa orang-orang Makedonia. Kesatarapan-kesatrapan yang diserahkan oleh Perdikkas melalui Pembagian Babilonia menjadi basis kekuatan bagi masing-masing jenderal untuk melancarkan tawarannya untuk kekausaan. Setelah Perdikkasn dibunuh oleh pembunuh gelap pada tahun 321 SM, persatuan Makedonia runtuh dan terjadilah perang selama empat puluh tahun antara "Para Penerus" (Diadokhoi). Setelah itu kekaisaran Aleksander terpecah menjadi empat wilayah kekuassaan terpisah yang stabil, yaitu Kerajaan Ptolemaik di Mesir, Kekaisaran Seleukia di Persia, Kerajaan Pergamon di Asia Minor, dan Kerajaan Makedonia di Yunani. Dalam prosesnya, baik Aleksander IV dan Filipus III terbunuh.[172]
(Bersambung)

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.