Rabu, 25 Desember 2013

Fitnah Duhaima = Demokrasi?

Ustadz Abu Fatiah Al Adnani

Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius tentang akhir zaman adalah Fenomena Fitnah Duhaima’ sebagaimana yang dijanjikan oleh Rosululloh saw. Duhaima’ yang bermakna kelam atau gelap gulita merupakan fitnah terbesar yang akan dilalui dalam salah satu fase perjalanan umat Islam. Riwayat yang menyebutkan akan terjadinya fitnah ini adalah sebagaimana yang dikisahkan dari Abdullah bin ‘Umar bahwasanya ia berkata: “Suatu ketika kami duduk-duduk di hadapan Rosululloh ShallAllohu alaihi wa sallam memperbincangkan soal berbagai fitnah, beliau pun banyak bercerita mengenainya. Sehingga beliau juga menyebut tentang Fitnah Ahlas. Maka, seseorang bertanya: ‘Apa yang dimaksud dengan fitnah Ahlas ?’ Beliau menjawab : 

هِيَ هَرَبٌ وَحَرْبٌ ثُمَّ فِتْنَةُ السَّرَّاءِ دَخَنُهَا مِنْ تَحْتِ قَدَمَيْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَزْعُمُ أَنَّهُ مِنِّي وَلَيْسَ مِنِّي وَإِنَّمَا أَوْلِيَائِي الْمُتَّقُونَ ثُمَّ يَصْطَلِحُ النَّاسُ عَلَى رَجُلٍ كَوَرِكٍ عَلَى ضِلَعٍ ثُمَّ فِتْنَةُ الدُّهَيْمَاءِ لَا تَدَعُ أَحَدًا مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا لَطَمَتْهُ لَطْمَةً فَإِذَا قِيلَ انْقَضَتْ تَمَادَتْ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا حَتَّى يَصِيرَ النَّاسُ إِلَى فُسْطَاطَيْنِ فُسْطَاطِ إِيمَانٍ لَا نِفَاقَ فِيهِ وَفُسْطَاطِ نِفَاقٍ لَا إِيمَانَ فِيهِ فَإِذَا كَانَ ذَاكُمْ فَانْتَظِرُوا الدَّجَّالَ مِنْ يَوْمِهِ أَوْ مِنْ غَدِهِ

'Yaitu fitnah pelarian dan peperangan. Kemudian Fitnah Sarra’, kotoran atau asapnya berasal dari bawah kaki seseorang dari Ahlubaitku, ia mengaku dariku, padahal bukan dariku, karena sesungguhnya waliku hanyalah orang-orang yang bertakwa. Kemudian manusia bersepakat pada seseorang seperti bertemunya pinggul di tulang rusuk, kemudian Fitnah Duhaima’ yang tidak membiarkan ada seseorang dari umat ini kecuali dihantamnya. Jika dikatakan : ‘Ia telah selesai’, maka ia justru berlanjut, di dalamnya seorang pria pada pagi hari beriman, tetapi pada sore hari men­jadi kafir, sehingga manusia terbagi menjadi dua kemah, kemah keimanan yang tidak mengandung kemunafikan dan kemah kemunafikan yang tidak mengandung keimanan. Jika itu sudah terjadi, maka tunggulah kedatangan Dajjal pada hari itu atau besoknya.1

Jika melihat dari teks yang menjelaskan berbagai bentuk fitnah di atas, nampaknya hakikat dan terjadinya fitnah-fitnah tersebut saling berhubungan satu sama lain. Peristiwa yang satu akan menjadi penyebab munculnya fitnah berikutnya. Sebagaimana tersebut dalam nash di atas, beliau mengungkapkan dengan kalimat ‘tsumma’ yang bermakna kemudian. Ini menunjukkan bahwa fitnah-fitnah tersebut akan terjadi dalam beberapa waktu, yang ketika hampir berakhir atau masih terus terjadi hingga puncaknya, maka dilanjutkan dengan fitnah berikutnya. Kalimat “tsumma” menunjukkan jeda waktu yang tidak pasti, namun menunjukkan makna “tartib” (kejadian yang berurutan).

Fitnah pertama yang beliau sebutkan adalah Fitnah Ahlas. Kata Ahlas merupakan bentuk plural dari kata "hilsun " atau "halasun", yaitu alas pelana atau kain di punggung unta yang berada di bawah pelana. Fitnah ini diserupakan dengan alas pelana karena ada persamaan dari sisi terus menerus menempel / terjadi.
Tentang realita fitnah Ahlas ini, sebagian ada yang berpendapat bahwa ia sudah terjadi semenjak zaman para sahabat, dimana Al-Faruq ‘Umar bin Khaththab adalah merupakan dinding pembatas antara kaum Muslim­in dengan fitnah ini, sebagaimana yang diterangkan Nabi ShallAllohu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau berkata kepada ‘Umar: “Sesungguhnya antara kamu dan fitnah itu terdapat pintu yang akan hancur.”2 Dan sabda Rosul ShallAllohu ‘Alaihi wa Sallam ini memang menjadi kenyataan dimana ketika ‘Umar baru saja meninggal dunia, hancurlah pintu tersebut dan terbukalah fitnah ini terhadap kaum Muslimin dan ia tidak pernah berhenti sampai sekarang ini. 

Adapun Fitnatu Sarra’, makaImam Ali Al Qaari menyatakan yang dimaksud dengan fitnah ini adalah nikmat yang menyenangkan manusia, berupa kesehatan, kekayaan, selamat dari musibah dan
bencana. Fitnah ini disambungkan dengan sarra’ karena terjadinya disebabkan timbul / adanya berbagai kemaksiatan karena kehidupan yang mewah, atau karena kekayaan tersebut menyenangkan musuh. Terjadinya fitnah sarra’ ini diawali oleh seorang yang secara nasab bersambung kepada Rosululloh ShallAllohu alaihi wa sallam (Ahlu Bait). Namun perilakunya yang menyebabkan bencana ini menjadikannya tidak bisa dianggap 

Beliau juga mengatakan bahwa boleh jadi yang dimaksud “yaz’umu annahu minni” adalah mengklaim bahwa apa yang dikerjakan adalah datang dari Rosululloh saw, meskipun jika dilihat dzahir nashnya adalah benar-benar mengaku secara nasab.

Jika untuk kedua fitnah di atas Rosululloh saw hanya menjelaskan secara singkat, maka untuk Fitnah Duhaima beliau saw memberikan penjelasan yang lebih rinci. Ada beberapa ciri khusus dari fitnah ini yang tidak dimiliki oleh fitnah sebelumnya.

1.       Fitnah ini akan menghantam semua umat islam (lebih khusus lagi pada bangsa Arab). Tidak seorangpun dari warga muslim yang akan terbebas dari fitnah ini. Beliau menggunakan lafadz “lathama” yang bermakna menghantam, atau memukul bagian wajah dengan telapak tangan (menempeleng/menampar). Kalimat ini merupakan gambaran sebuah fitnah yang sangat keras dan ganas.
2.       Fitnah ini akan terus memanjang, dan tidak diketahui oleh manusia kapan ia akan berakhir. Bahkan ketika manusia ada yang berkata bahwa fitnah itu sudah berhenti, yang terjadi justru sebaliknya; ia akan terus memanjang dan sulit diprediksi kapan berhentinya. Inilah maksud ucapan beliau : Jika dikatakan : ‘Ia telah selesai’, maka ia justru berlanjut.
3.       Efek dahsyat yang ditimbulkan oleh fitnah ini, yaitu munculnya sekelompok manusia yang di waktu pagi masih memiliki iman, namun di sore hari telah menjadi kafir. Ini merupakan sebuah gambaran tentang kerasnya fitnah tersebut.
4.       Terbelahnya manusia (muslim) dalam dua kelompok/kemah besar. Satu kelompok berada di kemah keimanan dan kelompok lainnya berada di kemah kemunafikan..

Menguak Misteri Fitnah Duhaima’

Untuk lebih jelasnya, mudah-mudahan uraian di bahwa ini bisa menyingkap misteri yang masih menyelimuti fitnah ini.

Rosululloh saw menggambarkan bahwa fitnah ini bersifat menghantam seluruh umat ini (hadzihi ummah). Umat yang dimaksudkan oleh Rosululloh saw dalam hadits tersebut sudah pasti bermakna umat Islam. Namun, apakah ia khusus untuk bangsa Arab (dimana yang diajak bicara oleh Rosululloh saw saat itu adalah para sahabat yang merupakan orang Arab) ataukah berlaku umum untuk seluruh manusia?  Jika melihat keumuman lafadz, maka kedua makna tersebut adalah benar adanya. Fitnah tersebut bisa menimpa kepada setiap muslim baik Arab maupun ‘ajam, sebab dalam nash tentang hadits fitnah Duhaima’ Rosululloh saw tidak menyebut lafadz khusus Bangsa Arab. Lalu, fitnah seperti apa yang pernah menimpa seluruh umat Islam dan terkhusus umat Islam dari bangsa Arab ?

Jika melihat ciri-ciri yang dijelaskan oleh Rosululloh saw dalam riwayat di atas, setidaknya ada dua bentuk fitnah yang paling mendekati gambaran dan tafsiran tentang fitnah Duhaima’ tersebut. Keduanya adalah: 

1.    Fitnah demokrasi sekuler liberal yang dipaksakan oleh barat kepada dunia.
Demokrasi sekuler liberal adalah sebuah paham yang didasarkan pada suara terbanyak dari rakyat. Ideologi yang menjadikan keputusan berada di tangan rakyat -tanpa memperhatikan apakah sesuai dengan hukum Islam atau justru bertolakbelakang- jelas merupakan sebuah ideologi kufur yang ditentang oleh para ulama. Tidak sedikit ulama yang telah mengupas akan kekafiran sistem ini, dimana Alloh tidak boleh ‘terlibat’ dalam sebuah keputusan undang-undang. Dan sebagaimana realita yang ada, ideologi ini mulai menjangkiti beberapa negara dengan mayoritas muslim yang sebelumnya menolak untuk dijadikan sebagai landasan bernegara.

2.    Fitnah perang melawan terorisme dan kelompok teroris.
Pasca peristiwa 11 September 2001, tidak ada isu yang lebih panas melebihi wacana tentang perang melawan terorisme. Bangsa barat yang dikomandoi oleh Amerika telah menabuh genderang perang untuk melawan terorisme. Banyak pihak yang meyakini bahwa tujuan pengobaran perang melawan kelompok terorisme adalah perang melawan Islam. Bukti-bukti di lapangan menunjukkan akan hal itu. Bush sendiri menyatakan bahwa perang ini adalah perang salib yang bertujuan untuk menghabisi umat Islam. Klaim bahwa barat hanya bermaksud untuk memburu para pelaku teror adalah kedustaan, sebab dalam realitanya korban terbesar dari perang ini adalah para sipil muslim yang kebanyakan adalah wanita dan anak-anak yang tidak berdosa. Fakta lain yang juga sulit dibantah adalah bahwa jumlah kelompok teroris di seluruh dunia ini lebih dari ratusan kelompok, namun barat hanya mendefinisikan kelompok teroris yang wajib dibasmi adalah mereka yang beragama Islam. 

Sebenarnya ada beberapa pendapat lain tentang fitnah duhaima’ ini, namun jika dilihat dari berbagai sudut pandang, dua bentuk fitnah inilah yang paling sesuai dengan keempat ciri yang dijelaskan oleh Rosululloh saw tentang fitnah duhaima’. Untuk lebih jelasnya kami akan memaparkan secara rinci hakikat dari kedua bentuk fitnah ini.

Antara Fitnah Duhaima’ dan Fitnah Demokrasi Sekuler Liberal
Beberapa point berikut akan menjelaskan beberapa korelasi antara fitnah duhaima’ dengan realita fitnah demokrasi:

1.    Fitnah Duhaima’ akan menghantam seluruh umat Islam. Hal yang serupa juga terjadi pada fitnah demokrasi.
Jika melihat pada fase sejarah umat Islam yang merujuk pada hadits tentang periodesasi umat Islam  3, maka pasca runtuhnya Khilafah Turki Utsmani kaum muslimin mulai memasuki periode terburuk dalam sejarahnya. Runtuhnya Daulah Islam telah menyebabkan digantinya sistem khilafah dengan sistem sekuler yang melahirkan para pemimpin diktator. Sejak saat itu, berakhirlah masa kepemimpinan mulkan adhud dan dimulailah periode mulkan jabbar (raja bengis dan diktator). Meski saat itu periode mulkan jabbar hampir merata di seluruh dunia, sebenarnya demokrasi sudah dimulai dari Prancis pada sekitar abad 18. Saat itu ideologi demokrasi dengan pemilu sebagai produk turunannya belum laku dan tidak banyak dilirik banyak manusia. Kejayaan dan kemenangan para pemimpin diktator membuat ideologi demokrasi tidak disukai oleh para diktator. Barulah di abad 20 ideologi itu mulai diterima, bahkan di awal abad 21, negara barat (Amerika) ‘memaksakan’ agar seluruh dunia menggunakan sistem tersebut sebagai ideologi yang harus dipakai oleh setiap negara.

Selanjutnya, dengan desakan-desakan yang semakin memojokkan, mereka lalu memaksa agar negeri-negeri Muslim lainnya menerapkan azas demokrasi ini. Amerika telah mendesak Husni Mubarak, diktator Mesir, guna menyelenggarakan sistem pemilu yang demokratis untuk pertama kalinya. Sebelumnya, Hafez Al-Assad, 

diktator Suriah telah terlebih dahulu pergi ke alam baqa. Pembunuhan mantan Perdana Menteri Lebanon Rafiq Al-Hariri yang dinisbatkan kepada perintah langsung pemimpin Suriah, Bashar Al-Assad, nampaknya akan menjadi alasan bagi Amerika guna menghapus sepenuhnya sistem totaliter di Suriah. Sementara itu Palestina pun telah menerapkan sistem demokrasi secara penuh setelah kematian Yasser Arafat. Di sisi lain, sekutu Amerika di Eropa telah berhasil menjinakkan Khadafy, diktator Arab belahan barat lainnya. Kemudian, Arab Saudi pun akhirnya bersedia memulai sistem demokrasi secara bertahap dimulai dengan menyelenggarakan pemilu untuk memilih anggota Dewan Kota Riyadh, yang sangat boleh jadi akan membuka jalan bagi runtuhnya Kerajaan Arab Saudi itu sendiri. Terakhir, Kuwait telah bergerak lebih jauh dalam menerapkan sistem demokrasi, sekaligus mengijinkan kaum perempuan mengikuti pemilu.
Hal yang sama terjadi di negeri-negeri Muslim di Asia Tengah bekas wilayah Uni Soviet. Rakyat Kirgistan melakukan revolusi menumbangkan rezim diktator pimpinan Askar Akayev pada Maret 2005 dan melakukan pemilu yang demokratis pada Juli 2005. Sebelumnya, pada Mei 2005 terjadi sebuah tragedi ketika sebuah demonstrasi oleh rakyat Uzbekistan dibantai oleh tentara yang menewaskan lebih kurang 500 orang. Kejadian itu serta merta menimbulkan teriakan di negara-negara Barat, khususnya pemerintah Inggris dan Amerika, agar Uzbekistan segera mendemokratisasi negerinya. Barangkali ini merupakan awal dari proses menuju penumbangan Diktator Islam Karimov yang memimpin negeri itu. Agaknya, revolusi menumbangkan rezim-rezim diktator juga akan segera mengimbas ke negara-negara Muslim tetangganya seperti Kazakhastan dan Tajikistan. Kemudian pada 18 September 2005 Afganistan menyelenggarakan Pemilu. Demikian pula di Azerbaijan, terjadi demo menuntut pengulangan pemilu yang dinilai curang oleh pihak oposisi. 

Dari uraian di atas jelaslah bahwa paham kufur ini telah melanda seluruh dunia Islam. Metode penerapannya di negeri-negeri itu dipaksakan oleh barat dengan cara-cara yang amat kasar. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa fitnah demokrasi ini benar-benar telah menampar umat Islam dengan tamparan yang keras, dimana mereka yang menghendaki tegaknya syari’at Islam akan menghadapi tuduhan-tuduhan jahat dan julukan-julukan yang menyakitkan.

2.    Fitnah Duhaima’ tidak diketahui kapan masa berakhirnya. Demikian pula dengan fitnah demokrasi.
Wacana tentang kemunculan Al-Mahdi yang sudah semakin dekat banyak dikaitkan dengan beragam gejala dan fenomena yang ada saat ini. Bagi sebagian peneliti yang meyakini bahwa Al-Mahdi adalah seorang Khalifah yang muncul setelah berakhirnya periode mulkan jabbar, maka keberadaan sistem demokrasi yang telah menggusur sistem mulkan jabbar justru menjadi satu pertanyaan tersendiri. Kemunculan ideologi demokrasi yang menggusur dan menumbangkan ideologi diktator dianggap menjadi tanda dekatnya masa yang dijanjikan oleh Rosululloh saw tentang kemunculan khilafah rasyidah (Al-Mahdi) itu sendiri. Dengan kata lain, kemunculan periode demokrasi liberal merupakan pengantar untuk datangnya masa khilafah rasyidah.

Sebagaimana tanda-tanda kiamat lainnya (yang semuanya kebanyakan merupakan perkara-perkara ghaib), demikian pula dengan kemunculan Imam Mahdi yang merupakan salah satu tanda kiamat. Ahlus Sunnnah meyakini bahwa kemunculan Imam Mahdi dengan khilafah rasyidahnya merupakan masalah ghaib yang tidak seorangpun bisa memastikan kapan kemunculannya secara detil. Dengan demikian, keberadaan fitnah demokrasi yang menggantikan periode mulkan jabbar adalah sebuah masa yang tidak seorangpun mengetahui masa berakhirnya. Meski sudah banyak kalangan yang membuat analisa dan perkiraan tentang kemunculan Al-Mahdi (dan sebagian besar tidak terbukti), nyatanya hingga kini Al-Mahdi belum juga muncul. Pertanyaan tentang kapankah Al-Mahdi akan muncul tidak jauh berbeda dengan pertanyaan ’kapankah masa keemasan demokrasi liberal ini akan berakhir?’. Sebab, sebagaimana analogi di atas, dengan berakhirnya masa keemasan demokrasi –dan demi Alloh!, demokrasi ini pasti akan tumbang- maka akan dimulailah periode khilafah rasyidah. 

3.    Fitnah Duhaima’ akan menimbulkan efek munculnya orang-orang yang beriman di pagi hari dan kufur di sore atau sebaliknya. Yang terjadi pada fitnah demokrasi juga sebagaimana yang terjadi pada fitnah duhaima’.
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa demokrasi merupakan ideologi kufur yang tidak menghendaki campur tangan Alloh dalam urusan manusia dengan dunianya. Keengganan sekelompok masyarakat untuk menjadikan hukum Alloh sebagai aturan hidup dan menjadikan pendapat mayoritas sebagai acuan dalam mengambil setiap aturan hidup merupakan bentuk kesyirikan nyata. Dengan demikian, besar kemungkinan semua pihak yang turut mengambil bagian dalam tegaknya sistem demokrasi ala barat ini akan terjerumus dalam lubang kekafiran. Dan realita seperti inilah yang kebanyakan tidak disadari oleh banyak manusia. Wal iyadz billah.

4.    Fitnah duhaima’ akan membelah manusia menjadi dua kelompok besar; kelompok mukmin yang tidak tercampur dengan kemunafikan dan kelompok munafik yang tidak memiliki keimanan. Hal yang serupa juga bisa terjadi pada fitnah Demokrasi.
Satu hal yang juga lazim terjadi dalam sistem demokrasi adalah pemilu, dimana seorang pemimpin –-yang kelak membuat / mengesahkan undang-undang kufur- dipilih berdasarkan suara mayoritas. Dalam hal ini, setiap rakyat baik yang setuju atau tidak setuju dengan pemimpin yang terpilih, secara konstitusi harus menerima pemimpin tersebut dan menaati putusannya. Semakin melengkapi rusaknya sistem ini adalah bahwa secara mayoritas pemimpin yang terpilih adalah mereka yang paling jauh dari Alloh dan Rosul-Nya, dimana hukum yang akan ditegakkan oleh pemimpin tersebut bukanlah Al-Qur’an dan Sunnah. Pemimpin semacam ini sudah bisa dipastikan lebih dekat kepada kekufuran daripada keimanan, sedang menaati mereka bisa menjerumuskan pada kemunafikan. 

Dalam hal ini, kemunculan Imam Mahdi di akhir zaman sudah dipastikan akan memerangi agama demokrasi dan menegakkan seluruh syari’at Islam tanpa kompromi. Maka sangat tepat jika kita katakan bahwa mereka yang menerima kepemimpinan Imam Mahdi secara total dipastikan akan turut memerangi ideologi demokrasi yang telah menghina Alloh dan menyekutukan-Nya. Kelompok yang bergabung dengan Al-Mahdi akan memerangi para konseptornya, pengusungnya, orang-orang yang dipilihnya, termasuk para pemilihnya. Mereka yang memerangi ideologi setan itulah mukmin sejati, sedang mereka yang merasa berat meninggalkan ideologi kufur ini pastilah seorang munafik. Wallohu a’lam bish showab.     

Antara Fitnah Duhaima’ dan Fitnah Perang Melawan Terorisme
Selanjutnya beberapa point berikut akan menjelaskan beberapa korelasi antara fitnah duhaima’ dengan realita fitnah perang melawan terorisme:

1.    Fitnah Duhaima’ akan menghantam seluruh umat Islam. Hal yang serupa juga terjadi pada fitnah perang melawan terorisme.
Pasca peristiwa runtuhnya WTC, Amerika dengan dibantu negara-negara barat langsung menyatakan perang terhadap terorisme. Untuk lebih mengefektifkan hasil dari perang ini, Amerika menekan seluruh negara dunia untuk turun mengambil bagian dalam perang ini. Pada kenyataannya, perang ini lebih ditujukan untuk menghabisi Islam dan kaum muslimin, hal itu terbukti dari jumlah korban yang ditimbulkan akibat perang ini lebih banyak menimpa kepada sipil dan rakyat yang tak berdosa ketimbang memburu orang-orang yang tertuduh sebagai teroris. Atas kejadian ini, dunia Islam merasakan musibah yang belum pernah dialami sebelumnya. 

Hal yang lebih mengerikan adalah bahwa Bush langsung mengambil tindakan kalap lainnya; Bush tidak mengizinkan manusia manapun di dunia ini (terkhusus dunia Islam) untuk bersikap netral. Salah satu jargon dalam perang ini adalah; BERSAMA KAMI ATAU BERSAMA TERORIS! Terhadap beberapa negara yang menolak untuk bekerjasama, pemerintahan Bush memberikan opsi yang sangat pahit; LAWAN KAMI ATAU BERGABUNG BERSAMA KAMI!.

Demikianlah realita yang terjadi dalam perjalanan perang melawan terorisme ini. Seluruh dunia Islam berkabung. Tidak ada lagi untuk menyatakan kebebasan berpendapat dan HAM kecuali sesuai dengan restu Amerika, dan tidak ada lagi ruang netral untuk memilih sikap.

Dalam hal ini, korelasi antara fitnah duhaima’ dan fitnah terorisme yang dilihat dari sudut pandang meratanya fitnah ini kepada seluruh dunia Islam -terlebih negara-negara Arab- bukanlah hal yang samar. Tidak satupun negara berpenduduk Islam kecuali harus mengambil opsi ini. Mereka yang berani menolak secara terang-terangan dapat dipastikan akan berhadapan dengan Amerika. Maka secara realita, fitnah terorisme ini telah menghantam kaum muslimin, baik mereka yang dianggap teroris maupun bukan. Sebab, dalam praktiknya perang melawan teroris ini hanyalah sekedar kedok bagi Amerika dan Barat untuk bisa melampiaskan dendam mereka terhadap kaum muslimin dengan dukungan seluruh penduduk dunia. Amerika telah memiliki standar baku untuk definisi muslim yang boleh hidup dan muslim yang harus dimusnahkan. Dan setiap pembaca akan mengerti; siapakah muslim yang diperkenankan untuk tetap bernafas oleh Amerika, dan siapa pula umat Islam yang harus dimusnahkan.

2.    Fitnah Duhaima’ tidak diketahui kapan masa berakhirnya. Demikian pula dengan fitnah perang melawan terorisme.
Sebagian pemikir dunia telah memprediksi bahwa peristiwa 11 September 2001 yang meruntuhkan gedung kembar di New York akan merubah jarum sejarah. Dan realita yang kita saksikan hingga detik menunjukkan kebenaran statement tersebut.

Maka, jika benar bahwa fitnah perang melawan anti terorisme ini merupakan bagian dari fitnah Duhaima’, besar kemungkinan fitnah ini akan menggulung manusia (kaum muslimin) dalam jangka waktu yang sangat panjang. Perang ini akan terus berlangsung selama batas waktu yang tidak bisa diprediksi. Sebagaimana yang juga dikatakan oleh George W. Bush sendiri dalam salah satu pidatonya pasca serangan 11 September, bahwa perang melawan terorisme ini akan terus berlangsung dan memakan waktu yang sangat panjang, yang tidak bisa diprediksi kapan akan berakhir. Wal iyadzu billah, wa la Haula wa la Quwwata illa billah.

3.    Fitnah Duhaima’ akan menimbulkan efek munculnya orang-orang yang beriman di pagi hari 
dan kufur di sore atau sebaliknya. Yang terjadi pada fitnah perang melawan terorisme juga sebagaimana yang terjadi pada fitnah duhaima’.
Secara dzahir, kita bisa melihat bahwa fitnah perang melawan terorisme ini telah menyebabkan munculnya sekelompok manusia yang 

dengan sangat mudah menggadaikan keimanan mereka. Hal ini bisa kita saksikan pada kondisi kaum muslimin di berbagai belahan dunia. Amerika telah memaksa setiap negara untuk bergabung bersamanya dalam memerangi umat Islam di Afghanistan dan Iraq, dan mereka yang menolak permintaan ini akan mendapatkan sanksi yang tidak kecil. Sebagian negeri ada langsung mendapat ancaman embargo ekonomi juga senjata, bahkan boikot internasional juga dijatuhkan atas negeri-negeri yang membangkang untuk tunduk kepada Amerika. Sebagian lain mendapat ancaman akan diserang langsung jika tidak tunduk kepada keinginan Amerika. Negeri-negeri itu –karena berangkat untuk mencari wajah Amerika atau karena rasa takutnya yang berlebihan- telah membuat mereka menuruti apapun yang diinginkan oleh Amerika. Mereka berikan apapun yang diinginkan, baik moril maupun materi. Dengan demikian, ketundukan para pemimpin negara –yang tentunya disetujui oleh anggota dewannya- untuk memberikan bantuan dan dukungan kepada Amerika baik dalam bentuk moril maupun materi, dalam rangka memerangi umat islam yang ada di Afghanistan, Iraq maupun Palestina dan negeri-negeri Islam lainnya; termasuk perkara perkara yang 
membatalkan keislaman seseorang. 4

Bagaimana seorang muslim divonis kafir dalam kasus Fitnah Duhaima’ ini? Jika asumsi fitnah perang terhadap terorisme ini benar-benar merupakan fitnah Duhaima’, maka yang paling tampak darinya adalah sikap “tawalli” dan mudzaharah”, yaitu memberikan loyalitas dan memberikan bantuan kepada orang-orang kafir dalam memerangi kaum muslimin. Bentuknya sangat beragam, mulai dari dukungan untuk memerangi kaum muslimin, bergabung sebagai tentara sekutu, ikut ambil bagian dalam penangkapan-penangkapan terhadap para mujahidin dengan tuduhan bahwa mereka adalah teroris maupun sekedar memberikan informasi kepada para thaghut tentang keberadaan mereka, atau sekedar kesanggupan untuk memberikan dukungan moril dan tidak mengecam mereka. Kesimpulannya, bahwa bekerjasama dengan Amerika dalam memerangi umat Islam di belahan bumi manapun, dengan cara apapun, baik sekedar lisan maupun moral dan materi, maka itu semua merupakan salah satu dari yang membatalkan keislaman seseorang. Dalam skala luas yang dilakukan oleh sebuah negara, maka bentuk tawalli dan mudzaharah ini bisa dalam bentuk menyediakan fasilitas dan tempat yang memudahkan bagi para thaghut Amerika dalam memerangi negeri-negeri Islam. Adapun alasan bahwa mereka terpaksa, maka alasan ini adalah tertolak dan tidak akan mendapatkan udzur di sisi Alloh. 

4.    Fitnah duhaima’ akan membelah manusia menjadi dua kelompok besar; kelompok mukmin yang tidak tercampur dengan kemunafikan dan kelompok munafik yang  keimanan. Hal yang serupa juga bisa terjadi pada fitnah perang melawan terorisme.
Jika melihat fenomena yang terjadi saat ini, maka realita yang ada menunjukkan bahwa apa yang saat ini terjadi merupakan jawaban dari apa yang dijanjikan oleh Rosululloh saw tentang fitnah duhaima’. Kami menduga –dan hakikat yang sesungguhnya kita serahkan kepada Alloh– bahwa peristiwa fitnah Terorisme adalah hakikat dari fitnah Duhaima’ atau setidaknya merupakan bagian dari Fitnah Duhaima’ itu sendiri. Perang anti terorisme yang dikampanyekan oleh Amerika dan sekutunya terus berlangsung hingga kini. Dan, sebagaimana realita yang terjadi, fitnah perang anti terorisme ini telah membelah manusia dalam dua kelompok ; kelompok mukmin sejati yang tanpa sedikit pun dicemari oleh kemunafikan, dan kelompok munafik yang tidak memiliki keimanan.5 Kelompok mukmin sejati adalah mereka yang bersama para mujahidin, membelanya dan memberikan dukungan secara moril dan materi. Sedangkan kelompok munafik adalah umat islam yang memberikan bantuan dan pembelaan kepada para thaghut kuffar dalam memerangi kaum muslimin. 
 
Dengan demikian, wajib bagi setiap mukmin untuk waspada dengan berbagai isu yang menyudutkan kaum muslimin. Sangat mungkin bagi mereka yang tidak menyadarinya akan masuk dalam perangkap yang dibuat oleh musuh-musuh islam. Sesungguhnya efek fitnah Dauhaima’ ini akan memaksa setiap orang untuk memilih salah satu dari dua kubu; kubu keimanan yang tidak tercampuri dengan kemunafikan dan kubu kenifakan yang tidak terdapat keimanan sedikitpun di dalamnya. Kedua pilihan ini memiliki konsekwensi yang sangat berat, sebab kedua kubu tersebut memiliki sifat yang diametral dan akan terus bertarung hingga datangnya kiamat. 

WAllohu A’lam bish shawab, untuk sementara pendapat tentang fitnah Duhaima’ yang bermakna ideologi demokrasi sekuler liberal dan perang melawan umat Islam atas nama pemberantasan terorisme barangkali merupakan pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran dari pada fitnah lainnya. Dan sesungguhnya, pemaksaan ideologi demokrasi sekuler liberal sebenarnya juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan fitnah terorisme ini. Karena pemaksaan demokrasi sekuler liberal dengan sendirinya merupakan perang terhadap konsep khilafah dan kewajiban kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang hari ini menjadi cita-cita kelompok yang tertuduh sebagai teroris itu.
WAllohu A’lam bish shawab.


Catatan Kaki

[1]. HR. Abu Dawud, bab Dzikrul Fitan wa Daliluha, XII/ 354.S
2. HR. Bukhari no. 6567 dan Muslim no. 5150 dari Hudzaifah bin Al-Yaman.
3. Rosululloh saw. bersabda: “Masa kenabian akan berlangsung di tengah kalian selama masa yang dikehendaki Alloh. Kemudian Alloh akan mengangkatnya jika Ia telah menghendakinya. Kemudian akan berlangsung masa kekhilafahan yang sesuai dengan jalan yang dicontohkan oleh Nabi (minhajin nubuwwah), selama masa yang dikehendaki oleh Alloh. Kemudian Alloh akan mengangkatnya jika Ia telah menghendakinya. Kemudian akan berlangsung masa kekuasaan para raja yang menggigit, selama masa yang dikehendaki oleh Alloh.  Kemudian Alloh akan mengangkatnya jika Ia telah menghendakinya. Kemudian akan berlangsung masa kekuasaan para raja yang memaksa (diktator), selama masa yang dikehendaki oleh Alloh. Kemudian Alloh akan mengangkatnya jika Ia telah menghendakinya. Kemudian akan berlangsung masa kekhilafahan yang sesuai dengan jalan yang dicontohkan oleh Nabi.” Nabi kemudian diam. HR. Ahmad no. 17680 dan Ath-Thayalisi no. 433. Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid 5/189 berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bazzar dan At-Thabrani sebagiannya dalam Al-Mu’jam Al-Ausath, dan para perawinya adalah tsiqah.” Dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 5. 
4. Bagi pembaca yang ingin mengetahui masalah ini silakan merujuk kepada tulisan syaikh Nashr bin Hamd Al Fahd dalam kitab beliau yang berjudul “At Tibyan fie Kufri Man A’ana Amrikan” (Penjelasan tentang Kafirnya Orang yang Membantu Amerika).
5. Mengutip apa yang dikatakan oleh presiden George W. Bush dalam kampanye perang anti terorisnya, ia telah membagi manusia di seluruh dunia menjadi dua kelompok ; teroris dan anti teroris ; bersama kami atau bersama teroris. Juga apa yang dinyatakan oleh Syaikh Usamah bin Ladin pasca serangan WTC, beliau mengatakan bahwa perang ini akan membelah manusia menjadi dua kelompok besar; kelompok iman yang tidak ada kenifakan di dalamnya dan kelompok nifak yang tidak memiliki keimanan. (Lihat : Nasihat dan Wasiat kepada Umat Islam – Granada dan “Bukan, tapi perang terhadap Islam” oleh Muhammad Abbas – WIP)



Sumber

Khilafah Utsmani dan Aceh


 Kesultanan  Aceh Darussalam yang berasal dari penggabungan kerajaan-kerajaan Islam kecil seperti Kerajaan Islam Pereulak, Samudra Pasai, Benua, Lingga, Samainra, Jaya, dan Darussalam. Ketika portugiss merebut goa di India, lalu malaka pun akhirnya jatuh ketangan portugis, maka kerajaan-kerajaan Islam yang telah berdiri dipesisir utara Sumatra seperti kerajaan Aceh, Daya, Pidie, Pereulak(Perlak), Pase(Pasai), Teumieng, dan Aru dengan sendirinya merasa terancam oleh armada Salib Portugis. A. Hasjmi mengutip M. Said (Aceh sepanjang abad, hal 92-93). Diikat kesatuan aqidah yang kuat, Aceh Darussalam meningkatkan diri dengan kekhilafahan Islam Turki Utsmaniyyah.

 
Sebuah arsip Utsmani berisi peti Sultan Aladin Riayat Syah kepada Sultan Sulayman Al Qanuni, yang dibawa Husein Effendi, membuktikan jika Aceh mengakui penguasa Utsmani di Turki sebagai kekhilafahan Islam. Dokumen tersebut juga brisi laporan soal armada Salib Portugis yang sering mengganggu dan merampok kapal pedagang Muslim yang tengan berlayar dijalur pelayaran Turki-Aceh dan sebaliknya. Portugis juga sering menghadang jama'ah haji dari Aceh dan sekitarnya yang hendak menunaikan ibadah haji ke Makkah. Sebab itu, Aceh mendesak Turki Utsmaniyah mengirim armada perangnya untuk mengamankan jalur pelayaran tersebut dari gangguan armada kafir Farangi (Portugis). Sultan Sulayman Al Qanuni wafat pada 1566 M digantikan Sultan Selim II yang segera memerintahkan armada perangnya untuk melakukan ekspedisi militer ke Aceh. Sekitar bulan September 1567 M, Laksaman Turki di Suez, Kurtoglu Hizir Reis, diperintahkan berlayar menuju Aceh membawa sejumlah ahli senapan api, tentara, dan perlengkapan artileri.


                 Pasukan ini oleh Sultan diperintahkan berada di Aceh selam masih dibutuhkan oleh Sultan Aceh. Walau berangkat dalm jumlah yang amat besar, yang tiba diAceh hanya sebagiannya saja, karena ditengah perjalanan, sebagian armada Turki dialihkan ke Yaman guna mamadamkan pemberontaknan yang berakhir pada 1571 M. Di Aceh , kehadiran armada Turki disambut meriah. Sultan Aceh menganugerahkan Laksamana Kurtoglu Hizir Reizsebagai gubernur (wali) Nangroe Aceh Darussalam, utusan resmi Sultan Selim II yang ditempatkan diwilayah tersebut. Pasukan Turki tiba di Aceh secara bergelombang (1564-1577) berjumlah sekitar 500 orang, seluruhnya adalah ahli dalam seni bela diri dan mempergunakan senjata, seperti senjata api, penembak jitu, dan mekanik. Dengan bantuan tentarara Turki, Kesultanan Aceh menyerang Portugis di pusatnya, Malaka.
                 Rombongan ekspedisi kapal pasukan Turki Utsmani menuju Aceh agar aman dari gangguan perampok, Turki Utsmani juga mengizinkan kapal-kapal Aceh mengibarkan bendera Turki Utsmani dikapalnya. Laksaman Turk9i untuk wilayah Laut Merah, Selman Reiz, dengan cermat terus memantau tiap pergerakan armada perang Portugi di Samudra Hindia. Hasil pantauannya itu dilaporkan Selman ke pusat pemeritah kekhilafahan di Istanbul, Turki. Salah satu bunyi laporan yang dikutip Saleh Obaza sebagai berikut:
                “(Portugis) juga menguasai pelabuahan (Pasai) dipulau besar yang disebut Syamatirah (Sumatera)… Dikatakan, mereka mempunyai 200 orang kafir disana (Pasai). Dengan 200 orang kafir, mereka juga menguasai pelabuhan Malaka yang berhadapan dengan Sematera… Karena itu, ketika kapal-kapal kita sudah siap dan Insya Alloh, bergerak melawan mereka, maka kehancuran total mereka tidak akan terelakkan lagi, karena satu benteng tidak bisa menyokong yang lain, dan mereka tidak dapat membentuk perlawanan yang bersatu”.

                Namun Portugis tetap sombong. Raja Portugis Emanuel I dengan angkuh berkata, “Sesungguhnya tujuan dari pencarian jalan laut ke India adalah untuk menyebarkan agama Kristen, dan merampas kekayaan orang-orangTimur”. Sultan menciptakan bendera kerajaan Islam Aceh Darussalam yang dinamakan “Alam Zulfiqar” (Bendera Pedang) berwarna dasar merah darah dengan bulan sabit dan bintang di tengah serta sebilah pedang yang melintang di bawah berwarna putih.
 
 

FUTUHAT PENDALAMAN SUMATERA.

Sultan Alaidin Riayat Syah Al Qahhar dilantik pada 1537 M dan bertekad untuk membebaskan pendalaman Sumatera dari kaum kafir. Dengan bantuan pasukan Turki, Arab, Malabar,  dan Abesinia, dibawah komando Kekhilafahan Utsmani Aceh masuk kepedalaman Sumatera. Sekitar 160 Mujahidin Turki dan 200 Mujahidin Malaba menjadi tulang punggung pasukan. Mendez Pinto, pengamat perang antara pasukan Aceh dengan Batak, melaporkan komando pasukan seorang Turki bernama Hamid Khan, keponakan Pasya Utsmani dari Kairo. Sejarahwan Universitas Kebangsaan Malaysia, Lukman Thaib, memperkuat Pinto dan menyatakan ini merupakan bentuk nyata Ukhuwah Islamiyyah antara umat Islam yang memungkinkan bagi Turki melakukan serangan langsung terhadap tentara Salib diwilayah sekitar Aceh. Turki Utsmani bahkan diizinkan membangunstu akademi militer, “Askeri Beytul Mukaddas” diwilayah Aceh. Akademi pendidikan militer inilah yang kelak dikemudian hari melahirkan banyak pahlawan Aceh yang memiliki keterampilan dan keuletan tempur yang dalam sejarah perjuangan Indonesia dicatat dalam goresan tinta emas.
                Intelektual Aceh Nurudin Ar Raniri dalam kitab monumentalnya bejudul Bustanul Salathin meriwayatkan, Sultan Alaiddin Riayat Syah Al Qahhar mengirim utusan ke Istanbul untuk menghadap “Sultan Rum”. Utusan ini bernama Huseyn Effendi yang fasih berbahasa Arab. Ia dating ke Turki setelah menunaikan ibadah haji. Pada Juni 1562 M, utusan Aceh tersebut tiba di Istanbul untukmeminta bantuan militer Utsmani guna menghalau Portugi. Diperjalanan, Huseyn Effendi sempat dihadang armada Portugis. Setelah berhasil lolos, ia pun sampai di Istanbul yang segera mengirimkan bala-bantuan yang diperlukan, guna mendukung Kesultanan Aceh membangkitkan izzahnya sehingga mampu membebaskan Aru dan Johor pada 1564 M.

                Dalam peperangna dilaut, armada perang Kesulatanan Aceh terdiri dari kapal perang kecil yang mampu bergerak dengan gesit dan juga kapal berukuran besar. Sejarahwan Court menulis, kapal-kapal ini sangat besar, berukuran 500 sampai 2000 ton. Kapal-kapal besar dari Turki yang dilengkapi meriam dan persenjataan lainnya dipergunakan Aceh untuk menyerang penjajah dari Eropa yang ingin merampok wilayah-wilyah Muslim diseluruh Nusantara. Aceh benar-benar tampil sebagai kekuatan maritime yang besar dan sangat ditakuti Portugis di Nusantara karena mendapat bantuan penuh dari armada Turki Utsmanidengan segenap peralatan perangnya.
                
                Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M), dimana Kerajaan Aceh Darussalam mencapai msa kegemilanga, juga pernah mengirimkan satu armada kecil, terdiri dari 3 kapal, menuju Istanbu. Rombongan ini tiba di Istanbul setelah berlayar selama 12,5 tahun lewat Tanjung Harapan. Ketika misi ini kembali Ke Aceh, mereka diberi bantuan sejumlah senjata, 12 penasehat militer Turki, dan sepucuk surat yang merupakan sikap resmi Kekholifahan Utsmaniyyah yang menegaskan bahwa Aceh merupakan bagian dari Kekholifahan Turki Utsmani. Kedua belas pakar militer itu diterima dengan penuh hormat dan diberi penghargaan sebagai pahlawan Kerajaan Islam Aceh. Mereka tidak saja ahli dalam persenjataan, siasat, dan strategi militer, tetapi juga pandai dalam bidang konstruksi bangunan sehingga mereka bisa membantu Sultan Iskandar Muda dalam membangun benteng tangguh di Banda Aceh dan istana kesultanan.
                
                Dampak keberhasilan Khilafah Utsmaniyyah menghadang armada Salib Portugis di Samudra Hindia tersebut amatlah besar. Di antaranya mampu mempertahankan tempat-tempat suci dan rute ibadah haji dari Asia Tenggara Ke Makkah, memelihara kesinambungan pertukaran perniagaan antara India dengan pedagang Eropa dipasar Aleppo, Kairo, dan Istanbul, dan juga mengamankan jalur perdagangan laut utama Asia Selatan, dari Afrika dan Jazirah Arab-India-Selat Malaka-Jawa-dan ke China. Kesinambungan jalur-jalur perniagaan antara India dan Nusantara dan Timur jauh melalui Teluk Arab dan Laut Merah juga aman dari gangguan.


BUKAN HANYA ACEH

                Selain Aceh, sejumlah kesultanan di Nusantara juga telah bersatu dengan kekholifahan Turki Utsmaniyyah, seperti Kesultanan Buton, Sulawesi Selatan, Salah satu Sultan Buton,  Lakiponto, dilantik menjadi ‘sultan’ dengan gelar Qaim ad-Din yang memilki arti “penegak agama”, yang dilantik langsung oleh Syekh Abdul Wahid dari Makkah. Sejak itu, Sultan Lakiponto dikenal sebagai Sultan Marhum. Penggunaan gelar ‘sultan’ ini terjadi setelah diperoleh persetujuan dari Sultan Turki (ada yang menyebutkan dari penguasa Makkah). Jika kita bisa menelusuri lebih dalam literature klasik dari suber-sumber Islam, maka janganlah kaget bila kita akan menemukan bahwa banyak sekali kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara ini sesungguhnya merupakan bagian dari kekholifahan  Islam di bawah Turki Utsmaniyyah.
                
                Jadi bukan sekedar hubungan diplomatik seperti yang ada di zaman sekarang, namun hubungan diplomatik yang lebih didasari oleh kesamaan Iman dan Ukhuwah Islamiyyah. Jika satu Negara Islam diserang, maka Negara Islam lainnya akan membantu tanpa pamrih, semata-mata karena kecintaan mereka kepada saudara seimannya. Bukan tidak mungkin, konsep “Ukhuwah Islamiyyah” inilah yang kemudian diadopsi oleh Negara-negara Barat-Kristen (Christendom) di adab-20 ini dalam bentuk kerjasama militer (NATO, North Atlantic Treaty Organization), dan bentuk-bentuk kerjasama lainnya seperti Uni-Eropa, Commonwealth, G-7, dan sebagainya.


Sumber

"Lawrence Of Arabia"


Menurut logika yang sehat, seharusnyalah Kerajaan Saudi Arabia menjadi pemimpin bagi Dunia Islam dalam segala hal yang menyangkut keIslaman. Pemimpin dalam menyebarkan dakwah Islam, sekaligus pemimpin Dunia Islam dalam menghadapi serangan kaum kuffar yang terus-menerus melakukan serangan terhadap agama Allah SWT ini dalam berbagai bentuk, baik dalam hal Al-Ghawz Al-Fikri (serangan pemikiran dan kebudayaan) maupun serangan Qital.

Seharusnyalah Saudi Arabia menjadi pelindung bagi Muslim Palestina, Muslim Afghanistan, Muslim Irak, Muslim Pattani, Muslim Rohingya, Muslim Bosnia, Muslim Azebaijan, dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Tapi yang terjadi dalam realitas sesungguhnya, mungkin masih jadi pertanyaan banyak pihak. Karena harapan itu masih jauh dari kenyataan.

Craig Unger, mantan deputi director New York Observer di dalam karyanya yang sangat berani berjudul "Dinasti Bush Dinasti Saud" (2004) memaparkan kelakuan beberapa oknum di dalam tubuh kerajaan negeri itu, bahkan di antaranya termasuk para pangeran dari keluarga kerajaan.

"Pangeran Bandar yang dikenal sebagai ‘Saudi Gatsby' dengan ciri khas janggut dan jas rapih, adalah anggoa kerajaan Dinasti Saudi yang bergaya hidup Barat, berada di kalangan jetset, dan belajar di Barat. Bandar selalu mengadakan jamuan makan mewah di rumahnya yang megah di seluruh dunia. Kapan pun ia bisa pergi dengan aman dari Arab Saudi dan dengan entengnya melabrak batas-batas aturan seorang Muslim. Ia biasa minum Brandy dan menghisap cerutu Cohiba, " tulis Unger.

Bandar, tambah Unger, merupakan contoh perilaku dan gaya hidup sejumlah syaikh yang berada di lingkungan kerajaan Arab Saudi. "Dalam hal gaya hidup Baratnya, ia bisa mengalahkan orang Barat paling fundamentalis sekali pun. "

Bandar adalah putera dari Pangeran Sultan, Menteri Pertahanan Saudi. Dia juga kemenakan dari Raja Fahd dan orang kedua yang berhak mewarisi mahkota kerajaan, sekaligus cucu dari (alm) King Abdul Aziz, pendiri Kerajaan Saudi modern.

Bukan hanya Pangeran Bandar yang begitu, beberapa kebijakan dan sikap kerajaan terakdang juga agak membingungkan. Siapa pun tak kan bisa menyangkal bahwa Kerajaan Saudi amat dekat-jika tidak bisa dikatakan sekutu terdekat-Amerika Serikat. Di mulut, para syaikh-syaikh itu biasa mencaci maki Zionis-Israel dan Amerika, tetapi mata dunia melihat banyak di antara mereka yang berkawan akrab dan bersekutu dengannya.

Barangkali kenyataan inilah yang bisa menjawab mengapa Kerajaan Saudi menyerahkan penjagaan keamanan bagi negerinya-termasuk Makkah dan Madinah-kepada tentara Zionis Amerika.

Bahkan dikabarkan bahwa Saudi pula yang mengontak Vinnel Corporation di tahun 1970-an untuk melatih tentaranya, Saudi Arabian National Guard (SANG) dan mengadakan logistik tempur bagi tentaranya. Vinnel merupakan salah satu Privat Military Company (PMC) terbesar di Amerika Serikat yang bisa disamakan dengan perusahaan penyedia tentara bayaran.

Ketika umat Islam dunia melihat pasukan Amerika Serikat yang hendak mendirikan pangkalan militer utama AS dalam menghadapi invasi Irak atas Kuwait beberapa tahun lalu, maka hal itu tidak lepas dari kebijakan orang-orang yang berada dalam kerajaan tersebut.

Langkah-langkah mengejutkan yang diambil pihak Kerajaan Saudi tersebut sesungguhnya tidak mengejutkan bagi yang tahu latar belakang berdirinya Kerajaan Saudi Arabia itu sendiri. Tidak perlu susah-sudah mencari tahu tentang hal ini dan tidak perlu membaca buku-buku yang tebal atau bertanya kepada profesor yang sangat pakar.

Pergilah ke tempat penyewaan VCD atau DVD, cari sebuah film yang dirilis tahun 1962 berjudul ‘Lawrence of Arabia' dan tontonlah. Di dalam film yang banyak mendapatkan penghargaan internasional tersebut, dikisahkan tentang peranan seorang letnan dari pasukan Inggris bernama lengkap Thomas Edward Lawrence, anak buah dari Jenderal Allenby (jenderal ini ketika merebut Yerusalem menginjakkan kakinya di atas makam Salahuddin Al-Ayyubi dan dengan lantang berkata, "Hai Saladin, hari ini telah kubalaskan dendam kaumku dan telah berakhir Perang Salib dengan kemenangan kami!").

Film ini memang agak kontroversial, ada yang membenarkan namun ada juga yang menampiknya. Namun produser mengaku bahwa film ini diangkat dari kejadian nyata, yang bertutur dengan jujur tentang siapa yang berada di balik berdirinya Kerajaan Saudi Arabia.

Konon kala itu Jazirah Arab merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, sebuah kekhalifahan umat Islam dunia yang wilayahnya sampai ke Aceh. Lalu dengan bantuan Lawrence dan jaringannya, suatu suku atau klan melakukan pemberontakan (bughot) terhadap Kekhalifahan Turki Utsmaniyah dan mendirikan kerajaan yang terpisah, lepas, dari wilayah kekhalifahan Islam itu.

Bahkan di film itu digambarkan bahwa klanSaud dengan bantuan Lawrence mendirikan kerajaan sendiri yang terpisah dari khilfah Turki Utsmani. Sejarahwan Inggris, Martin Gilbert, di dalam tulisannya "Lawrence of Arabia was a Zionist" seperti yang dimuat di Jerusalem Post edisi 22 Februari 2007, menyebut Lawrence sebagai agen Zionisme.

Sejarah pun menyatakan, hancurnya Kekhalifahan Turki Utsmani ini pada tahun 1924 merupakan akibat dari infiltrasi Zonisme setelah Sultan Mahmud II menolak keinginan Theodore Hertzl untuk menyerahkan wilayah Palestina untuk bangsa Zionis-Yahudi. Operasi penghancuran Kekhalifahan Turki Utsmani dilakukan Zionis bersamaan waktunya dengan mendukung pembrontakan Klan Saud terhadap Kekalifahan Utsmaniyah, lewat Lawrence of Arabia.

Entah apa yang terjadi, namunhingga detik ini, Kerajaan Saudi Arabia, walau Makkah al-Mukaramah dan Madinah ada di dalam wilayahnya, tetap menjadi sekutu terdekat Amerika Serikat. Mereka tetap menjadi sahabat yang manis bagi Amerika.

Selain film ‘Lawrence of Arabia', ada beberapa buku yang bisa menggambarkan hal ini yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Antara lain:

Wa'du Kissinger (Belitan Amerika di Tanah Suci, Membongkar Strategi AS Menguasai Timur Tengah, karya DR. Safar Al-Hawali-mantan Dekan Fakultas Akidah Universitas Ummul Quro Makkah, yang dipecat dan ditahan setelah menulis buku ini, yang edisi Indonesianya diterbitkan Jazera, 2005)

Dinasti Bush Dinasti Saud, Hubungan Rahasia Antara Dua Dinasti Terkuat Dunia (Craig Unger, 2004, edisi Indonesianya diterbitkan oleh Diwan, 2006)

Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia (George Lenczowski, 1992)

History oh the Arabs (Philip K. Hitti, 2006)

Sebab itu, banyak kalangan yang berasumsi bawah berdirinya Kerajaan Saudi Arabia adalah akibat "pemberontakan" terhadap Kekhalifahan Islam Turki Utsmani dan diback-up oleh Lawrence, seorang agen Zionis dan bawahan Jenderal Allenby yang sangat Islamofobia. Mungkin realitas ini juga yang sering dijadikan alasan, mengapa Arab Saudi sampai sekarang kurang perannya sebagai pelindung utama bagi kekuatan Dunia Islam, wallahu a'lam.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sanggahan

Orang banyak berkata bahwa kerajaan saudi buatan zionis.Sebenarn ya tuduhan itu salah. inilah bantahannya

[1]. Akar Kerajaan Saudi adalah kekuasaan Emir Muhammad bin Saud di Dir’iyyah, Najd. Inilah pendiri Dinasti Saudi. Beliau menjadi Emir pada periode tahun 1737-1765 M (Lihat buku: Sejarah Islam, Ahmad Al Usairy, hal. 380-381). Lihatlah dengan mata hati, keluarga Dinasti Saud sudah muncul sejak tahun 1737 H, bahkan sejak sebelumnya. Sedangkan, runtuhnya Khilafah Utsmani baru terjadi tahun 1924.

[2]. Sudah merupakan hal biasa ketika dalam Dinasti-dinasti Islam selalu ada perebutan kekuasaan. Secara fakta sejarah, itu sudah terjadi sejak era Muawiyyah Ra, era Dinasti Umayyah, era Dinasti Abbasiyyah, era Andalusia, Dinasti Mamalik, Dinasti Ayyubiyyah, hingga akhirnya Dinasti Turki Utsmani. Bagi yang membaca sejarah, perebutan kekuasaan antar keluarga bangsawan, bukan hal asing dalam sejarah dinasti-dinasti Muslim.

[3]. Keadaan yang terjadi antara Keluarga Dinasti Saud dengan Khilafah Turki Ustmani ada dalam konteks konflik perebutan kekuasaan. Akibat dari konflik ini, Kerajaan Saudi jatuh-bangun sampai ada 3 periode kekuasaan Saudi. Hal-hal demikian jarang diperhatikan oleh pemerhati yang sentimen. Pihak-pihak yang ingin merdeka dari Turki Utsmani, atau ingin memiliki wilayah sendiri, bukan hanya Dinasti Saudi di Najd, tetapi banyak. Ada yang dari wilayah Irak, Mesir, Afrika Utara, Asia Tengah, Eropa, dll. Jadi tidak adil, jika dalam konflik politik ini, hanya Kerajaan Saudi yang dipojokkan. (Ingin tahu fakta lebih banyak, baca tulisan Dr. Ali Muhammad Shalabi, tentang Daulah Ustmaniyyah).

[4]. Dalam literatur sejarah dituliskan fakta Zionisme Internasional: “Pada tahun 1897, diselenggarakan Konferensi Zionisme Pertama di Basel, Swiss, dibawah pimpinan Theodore Hertzl.” Lihatlah fakta ini dengan mata terbuka. Kalau belum terbuka, cobalah membuka mata di ember berisi air penuh, agar hilang rasa kantuk. Wallahi, Zionisme yang sering dituduhkan itu merancang gerakan politiknya di konferensi Basel ini. Nantinya, Theodore Hertzl akan datang ke Sultan Abdul Hamid II untuk meminta tanah Palestina dengan imbalan uang emas jutaan gulden. Sedangkan, Kerajaan Dinasti Saudi sudah muncul sebelum itu, sejak era Muhammad bin Saud (1737-1765). Ia sudah muncul lebih dari 100 tahun sebelumnya.

[5]. Kalau membaca buku Road To Mecca karya Ustadz Muhammad Asad (Leopold Weiss), disana dijelaskan kronologi berdirinya Kerajaan Saudi Jilid III di Riyadh. Gerakan itu dipimpin Abdul ‘Aziz bin Abdurrahman bin Faishal Al Saud. Dia bergerak bersama 40 pemuda-pemuda dari suku Badui Najd untuk merebut kekuasaan Ibnu Rasyid di Riyadh. Disini sama sekali tidak ada peranan Lawrence Arabiya. Lawrence baru muncul kemudian, setelah Kerajaan Saudi memiliki fondasi di Riyadh dan Hijaz (Makkah-Madinah).

[6]. Adalah kenyataan tak terbantahkan, bahwa kondisi Khilafah Turki Utsmani semakin melemah di awal abad ke-20. Banyak wilayah-wilayah Turki di Eropa yang melepaskan diri, seperti Rumania, Bulgaria, Polandia, dll. Di sisi lain, gerakan politik Abdul Aziz Al Saud tidak pernah menyentuh wilayah Turki. Bagaimana hal itu bisa dianggap sebagai pemicu kehancuran. Bahkan karena lemahnya Turki Utsmani, mereka tak sanggup menghadapi pasukan Kerajaan Saudi, sehingga harus meminta bantuan Gubernur Mesir, M. Ali Pasha. Kerajaan lemah dimanapun, ia akan kehilangan wibawa dan wilayahnya. Hal ini sudah menjadi RAHASIA SEJARAH yang sangat umum. Jadi kalau wilayah-wilayah itu melepaskan diri, yang disalahkan ialah kekuasaan induknya. Mengapa mereka lemah dan tidak berwibawa?

[7]. Banyak orang begitu senang mengungkap peranan Lawrence Arabiya, tetapi mereka tidak mau mendengar penuturan dari saudara-saudara nya sendiri sesama Muslim. Mengapa mereka begitu nafsu menonjolkan peranan Lawrence, dan mengecilkan peranan kaum Muslimin sendiri?

Singkat kata, Lawrence Arabiya itu muncul belakangan setelah fondasi Kerajaan Saudi di Riyadh dan Hijaz terbentuk. Begitu juga konflik antara Dinasti Saudi dengan Khilafah Turki Utsmani adalah sejenis konflik politik (perebutan kekuasaan) yang sudah biasa terjadi dalam sejarah Islam. Dan hal itu sudah muncul lebih dari 100 tahun sebelum Zionisme internasional membuat konferensi pertama di Basel, Swiss.




Sumber

ZAMAN TIGA KERAJAAN BESAR ISLAM (2-Habis)

C.    KERAJAAN MUGHAL DI INDIA

1.      Latar Belakang Berdirnya Kerajaan Mughol

Kerajaan Mughal patut untuk dimasukkan ke dalam salah satu kerajaan terkuat di India. Latar belakang sejarah berdirinya kerajaan Mughal berawal dari ekspansi yang dilakukan oleh Zahirudin Muhammad dikenal dengan Babur yang berarti singa, salah satu cucu dari timur lank. Kemenangan Babur atas ekspansi di wilayah Samarkand tidak lepas dari adanya dukungan dan bantuan dari kerajaan Safawi. Sehingga dalam beberapa peperangan kerajaan Mughal selalu mendapatkan kemenangan.[28]

Pada saat ayahnya Umar Shekh Mirza meninggal dunia pada Juni 1494 M Babur yang ketika itu baru berumur sebelas tahun langsung diangkat menjadi penguasa Fargana. Walaupun ia masih muda, tapi semangatnya matang, hal ini terbukti pada tahun 1496, dia berusaha menaklukkan Samarkhan walaupun belum berhasil, namun dalam serangan berikutnya pada 1497, Samarkhan dapat ditaklukkan. Pada 1525 M, Babur meneruskan perjalanannya menuju Punjab, dan dalam pertempuran tersebut Punjabpun dapat ditaklukkannya, ini merupakan kesempatan baik bagi Babur untuk mengadakan serangan ke Delhi, dimana pada waktu itu Sultan Ibrahim Lodi sedang berselisih dengan pamannya, Alam pada 21 April 1526 M, terjadilah peperangan yang dahsyat di panipat, Sultan Ibrahim dengan gigih mempertahankan negeri bersama 100.000 orang tentara dan 1000 kendaraan Gajah. Namun Babur mampu memenangkan pertempuran karena ia menggunakan senjata api nerupa Meriam, dan akhirnya Sultan Ibrahim Lodi gugur bersama 25.000 pasukannya.[29]

Dengan ditaklukkannya Sultan Ibrahim, maka ini merupakan kesempatan untuk Babur untuk mendirikan kerajaan Mughal di India. Selain itu anaknya yang bernama Humayun disuruh untuk menaklukkan kota terbesar kedua di India yaitu Agra, serta kota-kota penting lainnya, Babur juga berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan lain yang terdapat di anak benua India, termasuk juga kerajaan-kerajaan Hindu. Dibawah pimpinan Amir Mahmud beserta 100.000 pasukan Islam memporak-porandakan pasukan Hindu di Khanwa. Raja dari kerajaan Hindu yaitu Rana Sangga, mati terbunuh dalam peristiwa yang terjadi pada tahun 1527.

2.      Kesultanan Kerajaan Mughal

Setelah Babur menikmati usahanya membangun kerajaan Mughal selama lima tahun, karena ia wafat pada tahun 1530 M, kemudian pemerintahan diteruskan oleh puteranya yang bernama Humayun. Pada pemerintahannya ia terlibat dalam beberapa peperangan diantaranya pada tahun 1535 M di Baksardekat Barnasmelawan pasukan Sher Khan. Humayun kalah dalam pertempuran tersebut. Pada pertempuran kedua Humayun mengalami kekalahan yang serupa sehingga harta rampasan perang dikuasai oleh Sher Khan, sedangkan pasukan yang mati dalam pertempuran dibuang kesungai.karena kalah akhirnya Humayun melarikan diri. Dalam pelariannya ia sempat menikah dengan putrid Hamidah Banu Begumdan lahirlah puteranya yang bernama Akbar Agung pada 23 November 1542. Ia berusaha mengkonsoloidasi sisa-sisa pasukannya. Humayun menghadap Sultan Syafawiyah yang bernama Sheh Thamasp untuk meminta bantuan. Setelah disetujui, iapun mempu menaklukkan Kandahar dan Kabul.[30]

Sementara itu setelah Shekh Khan (yang berhasil mengalahkan Humayun) meninggal pada tahun 1545 M, anak-anaknya tidak dapat memlihara pusaka kerajaan yang telah diwariskan. Mereka saling berebut kekuasaan sehingga kekuatan Negara menjadi pecah. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh Humayyun untuk merebut kembali kekuasaan yang sempat terampas darinya. Oleh karena itu pada November 1555 M Lahore dapat ditaklukkan. Ia pun melanjutkan perjalanan menuju Delhi. Ditengah perjalanan ia dihadang oleh pasukan Iskandar Shah, akan tetapi Humayyun dan pasukannya dapat melumpuhkannya dan Delhipun dapat direbut kembali. Namun tidak berselang lama Humayun wafat, tepatnya pada tanggal 24 januari 1556 M.

Setelah Humayun wafat, ia digantikan oleh puteranya yang bernama Muhammad, yang diberi gelar Abu Fath Jalaluddin dan yang paling terkenal adalah Sultan Akbar Agung. Ia menjadi raja terbesar diantara raja-raja Mughal di India. Kekuasaannya melingkupi seluruh wilayah anak benua India. Pada awal pemerintahanya, ia diserang oleh sisa-sisa kerajaan Afgan yang masih berkuasa di Bihar, Ayudhiya, dan Bangla dibawah pimpinan Adil Khan. Namun akhirnya ia dapat dikalahkan oleh pasukan Akbar Agung dan mengaku tunduk padanya.[31]

Patut dicatat dalam sejarah, bahwa Sultan Akbar Agung dikenal sebagai pribadi yang Jenius, bijaksana, ahli berperang dan administrator Negara yang ulung, selain itu juga ia dikenal sebagai tokoh Ilmu Perbandingan Agama. Prestasi ini disebabkan karena pemikirannya dalam konsep Dien-e-Ilah yang mengandung berbagai anasir dari berbagai unsure agama, yaitu Hindu, Budha, Jaina, Islam, Parsi, dan Kristen. Inti dari konsep ajaran tersebut adalah, bahwa agama merupakan gejala dari rasa tunduk kepada satu zat yang Maha Kuasa. Menurut Sultan Akbar, agama-agama tersebut pada hakekatnya adlah satu. Oleh karena itu perlu dicari jalan kesatuan inti agama, dan ia membuat agama baru yang disebutnya sebagai Dien-e-Ilah (1582 M). selain itu ia juga mengajarkan ajaran yang disebut Sulh-e-Kul yang memiliki arti perdamaian universal.[32]

Setelah Sultan Akbar wafat, puteranya Sultan Salim diangkat menjadi penggantinya, yang dijuluki dengan gelar Jahanggir. Bersama kematian Sultan Akbar maka ajaran Dien-e-Ilah dihilangkan atau dilarang, karena pada prinsipnya sebagian besar ummat Islam menolak ajaran tersebut. Jahanggir merupakan raja pelukis dari para pelukis karena karya lukisannya sangat bagus dan luar biasa. Jahanggir menikah dengan putri Persia yang bernama Mahruun Nisa’, setelah menjadi permaisuri diberi gelar Nurjannah yang berarti cahaya dunia (250-251). Karena kecintaannya terhadap permaisuri, ia terlena. Sang istri mulai mencampuri urusan kenegaraan, akibatnya kewibawaan dari Sultan Salim mulai luntur. Terjadilah pemberontakan yang dilakukan oleh puteranya sendiri yang bernama Khurram. Ia dipenjarakan sampai menemui ajalnya.

Prestasi lain yang dicapainya adalah penerapan bahasa Urdu sebagai satu bahasa resmi Negara sebagai akomodasi dari berbagai bahasa termasuk Sanksekerta dan parkit sebagai bahasa masyarakat umum, bahasa Turki untuk kalangan Istana, bahasa Persi untuk pejabat kantor dan bahasa Arab untuk kalangan agamawan.

Setelah Jahanggir wafat, kerajaan diperebutkan oleh kedua puteranya yaitu Shah Jahan dan Asaf Khan. Perselisihan tersebut akhirnya dimenangkan oleh Shah Jahan (1628 M) yang kemudian diberikan gelar Abul Muzaffar Sahabuddin Muhammad Sahib Qiran-e-Sani, sedangkan saudaranya ditangkap dan dipenjarakan, dan matanya dibutakan. Pada waktu ia menjadi raja Shah Jahan telah menikah dengan Mumtaz Mahal, dan dari pernikahannya tersebut, ia dikaruniai enam anak, yaitu 2 orang laki-laki dan 4 orang perempuan.[33]

Shah Jahan mampu menaklukkan Galkon, Bidar dan Baijapur dengan dibantu oleh puteranya. Namun akhirnya terjadi perselisihan diantara putera-puteranya untuk menggantikan kedudukannya. Aurangzeb dapat mengalahkan saudaranya, dia membujuk ayahnya agar diizinkan masuk ke istana dengan membawa bala tentaranya dan berjanji untuk tidak akan mengganggu kedudukan ayahnya, tetapi Aurangzeb mengingkari janjinya, dia melumpuhkan ayahnya dan memenjarakan ayahnya, sebagaimana Shah Jahan memenjarakan Jahanggir (156 M). pada masa pemerintahannya Shah Jahan meninggalkan hasil kebudayaan yang memiliki nilai artistic yang sangat tinggi yaitu Taj Mahal yang ia persembahkan kepada permaisurinya, disana pula akhirnya ia dimakamkan oleh puteranya. Hal ini mengingatkan akan kisah Abdurrahman III di Andalusia yang membangun Qashr Az-Zahra untuk mengabdikan cintanya kepada istrinya Fatimah Az-Zahra.[34]

Aurangzeb termasuk berhasil dalam menjalankan pemerintahan, karena dia mampu memberikan corak keislaman di tengah-tengah masyarkat Hindu. Aurangzeb mengajak rakyatnya untuk masuk Islam. Ia memerintahkan untuk menanam arca-arca Hindu dibawah jalan-jalan menuju Masjid agar orang Islam setiao harinya menginjak arca-arca tersebut. Kebijakan Aurangzeb itu banyak menuai kritik dari kalangan Hindu, diantaranya kerajaan Rajput yang pada awalnya mendukung kerajaan Mughal tapi kemudian menentanganya. Tindakannya yang sewenang-wenang itu pula yang akhirnya membawa kerajaan Mughal mengalami kemunduran.

3.      Kemajuan di Bidang Peradaban.

Kebijakan-kebijakan dalam pengembangan kebudayaan ditampakkan adanya bentuk perpaduan antara unsure Islam dan Hindu. Bentuk perpaduan ini dapat dilihat secara jelas pada arsitektur dan lukisan dan beberapa benteng Istana di Ajmer, Agra, Allahabad, Lahore dan Fathepur Sikri dan juga terlihat pada bentuk motif lonceng dan sejumlah sarana lainnya. Kubah yang lahir dari tradisi arsitektur Muslim dipakai baik untuk Masjid maupun Kuil.[35]

Perekonomian Mughal mengandalkan sector Pertanian dan industry, system pertanian dibangun, dimana petani tigkat bawah bertanggung jawab atas tanah garapan yang disebut Deh. Antara pemerintah dan petani dihubungkan dengan seorang Muqaddam. Hasil pertanian yang melimpah ruah mampu mensuplai kebutuhan bahan baku bagi pabrik-pabrik pengolahan. Kerajinan tenun berkembang menjadi pabrik tekstil di zaman Aurangzeb. Ia mengekspor tenun, rempah-rempah, opium, gula, bubuk sodium dll ke pasar Eropa.[36]

Bidang seni syair dan seni arsitektur berkembang pesat. Terdapat seorang penyair Istana terkenal yang bernama Malik Muhammad Jayazi, yang menulis karya agung yang berjudul Padmavat. Bangunan yang negah dan indah yang merupakan peninggalan Mughal yang sampai sekarang ada yaitu Istana Fathur Sikri, Lahore, Villa, Tajmahal, dan Masjid Agung Delhi. Sedangkan bahasa Urdu meningkat menjadi bahasa literature menggantikan bahasa Persi yang semula dipakai dikalangan Istana sultan-sultan di Delhi. Diantara penulis pertama dalam bahasa Urdu adalah Mazhar, Sauda, Dard dan Mir.

4.      Kemunduran dan Kehancuran.

Setelah Aurangzeb wafat, raja-raja berikutnya mulai lemah. Kerajaan Mughal dan rajanya tidak lebih hanya sebagai symbol dan lambing belaka, bahkan raja digaji oleh colonial Inggris yang datang dan tinggal didalam Istana. Akhirnya raja terakhir Bahadur Shah memimpin pemberotakan melawan Inggris namun gagal, bahkan ia tertangkap dan disiksa secara keji, lalu dibuang ke Rangon (Myanmar) pada tahun 1862. Dengan demikian maka tamatlah riwayat Kerajaan Islam Mughal di India, setelah beraba-abad lamanya mengalami kejayaan. Peninggalannya yang paling berharga adalah bangunan Istana Taj Mahal dan Masjid yang indah. Mereka juga membantu penyebaran ajaran agama Islam di anak benua India.[37]

Banyak factor penyebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Mughol antara lain adalah:
Pertama, perebutan kekuasaan antara keluarga. Hampi semua keturunan Babur umumya mempunyai watak yang keras da ambisius. Semua berebut kekuasaan sehingga terjadi perang saudara.
Kedua, pemberontakan oleh Ummat Hindu yang pada saat itu mayoritas, sedangkan Islam merupakan minoritas karena penguasa yang terakhir memimpin melakukan pendekatan masuknya Islam lebih kepada jalur politik bukan pada jalur dakwah cultural. Sehingga membuat sebagian garis keras orang-orang Hindu tidak senang dan berontak. Sehingga pemberontakan demi pemberontakan tidak dapat dielakkan lagi.[38]
Ketiga, Serangan dari pihak atau kekuatan luar. Serangan dari luar semula dilakukan oleh kerajaan Syafawi di Persia, kemudian dilanjutkan dengan serangan dari Afganishtan. Pangkal perselisihan antara Mughal dan Syafawi adalah karena rebutan daerah Kandahar.
Keempat, kelemahan ekonomi. Kemunduran politik Mughal sangat menguntungkan bangsa-bangsa barat untuk menguasai jalur perdagangan.


Catatan Kaki

[1] Muhammad Nurhakim, Sejarah dan Peradaban Islam, (Malang: Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang, 2003), hal. 1.
[2] Moeflich Hasbullah, Dari Romantisme Historis ke Realitas Kontemporer,
http://www.geocities.com/arsip_nasional/agama/agama1.htm/accessed tanggal 8 Juli 2008.
[3] Ibid.
[4] Sisca Ainun Jariyah, Imperium Islam di India, http://www.mail-archive.com/assunnah_2@yahoogroups.com/msg00190.html/accessed tanggal 8 Juli 2008.
[5] Mansur,  Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah ,(Yogyakarta: Global   Pustaka Utama, 2004), hal. 62.
[7] Abdul Karim M, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), hal. 306.
[8] Ibid.
[9] Ibid., hal. 307.
[10] Kerajaan Safawi di Persia,…
[11] Abdul Karim M, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam…, hal, 308.
[12] Ibid.
[13]  Kerajaan Safawi di Persia,…
[15] Kerajaan Safawi di Persia,…
[16] Muhammad Nurhakim, Sejarah dan Peradaban Islam…,hal. 144.
[17] Syafiq A.Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam di Turki (Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1997), hal. 51.
[18]  Abdul Karim M, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam…, hal, 310.
[19]  Syafiq A.Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam di Turki…, hal. 53.
[20]  Ibid., hal. 312.
[21]  Ibid.
[22] Kerajaan Turki Usmani, file:///D:/DOCUMEN/INTERNET/3%20Kerajaan/Turki%20usmani.htm/accessed tnggal 5 juli 2008.
[23]  Abdul Karim M, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam…, hal, 312.
[24] Ibid., hal. 313.
[25]  Ibid., hal. 314.
[26] Kesultanan Usmaniah, http://wapedia.mobi/id/Kesultanan_Utsmaniyah?t=3./accessed tanggal 8 Juli 2008
[27] Ibid.
[29]  Abdul Karim M, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam…, hal, 315.
[30] Ibid. hal. 316.
[31] Ibid., hal. 317.
[32] Ibid.
[33] Ibid.
[34] Ibid., hal. 318.
[35] Muhammad Nurhakim, Sejarah dan Peradaban Islam…,hal. 149.
[36] Ibid., hal. 150.
[37] Abdul Karim M, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam…, hal, 318.
[38] Muhammad Nurhakim, Sejarah dan Peradaban Islam…,hal. 151.



Sumber

Copyright @ 2013 PEJUANG ISLAM.